Category Archives: Jendela

[Esai] Bogem Jassin di Muka Chairil

Jassin dan Chairil (#2)

Bogem Jassin di Muka Chairil

HB Jassin muda 

“JASSIN, dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.” Begitu isi surat Chairil yang dibaca Jassin dalam kereta ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.

Si Kurus itu memang tak punya kerjaan. Hidupnya habis buat seni. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld,” tulisnya di kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Kernword kernbeeld, berarti: putih tulang.

Si Kurus bertahan pada egonya. Tapi, Jassin tetap memuat sajak itu di majalah Panji Pustaka, namun judulnya diganti jadi Semangat, biar tak ditangkap Jepang.

Tingkah Chairil bisa sangat menyebalkan. Kerap keluar-masuk semaunya di rumah atau kantor Jassin. Bila dia datang ke rumah Jassin, dan kebetulan Jassin tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin tik Jassin. Kadang kala dikembalikan, kadang juga tidak. Betapa kesal Jassin saat dia tak mengembalikan novel Belenggu. Sebab di pinggiran buku itu ada catatan-catatan Jassin. Kadang si Kurus ke rumah Jassin naik becak, dan begitu tiba, dia minta Jassin membayarnya.

Gara-gara sikap seenaknya itu, pernah Jassin memukul muka Chairil.

Ceritanya, Jassin ikut sandiwara Api karya Usmar Ismail di Gedung Kesenian Jakarta, tahun 1949. Di belakang, Jassin berusaha menghayati perannya sebagai seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker yang diperankan Rosihan Anwar.

Saat Jassin serius meresapi peran, entah kenapa si Kurus itu lalu-lalang di depannya, sambil mencibir. “Kau cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” Teriak si Kurus.

Konsentrasi Jassin pecah. Dia teringat pada esainya Karya Asli, Saduran dan Plagiat di majalah Mimbar Indonesia. Chairil tersindir esai Jassin itu. Walau esai Jassin pernah membela sajak Krawang-Bekasi dari tuduhan plagiat, tapi lagak si Kurus ini membuatnya kesal: hapalan naskahnya tak jadi-jadi sebab si Kurus mondar-mandir melulu.

Jassin pun panas.

“Saya juga bisa lebih dari itu!” Kata Jassin seraya berdiri. Lalu, tiba-tiba…Buk! Jassin meninju muka Chairil. Si Kurus terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” Teriak Usmar Ismail. “Jassin memukul Chairil,” jawab yang lain.

Mereka dilerai, Chairil didorong keluar. Si Kurus kaget, tak sangka Jassin —yang hampir tak pernah marah itu— bisa murka dan memukulnya.

Chairil tersinggung. Dia berputar, masuk lewat pintu depan, lalu duduk di muka panggung. Karena lampu dipadamkan, semula Jassin tak menyadarinya, tapi kemudian Jassin melihat si Kurus itu menunjuk-nunjuknya dari deretan penonton. Chairil mengancam mau bikin perhitungan dengannya.

Waktu berselang, Jassin dengar si Kurus kerap datang ke Taman Siswa, latihan angkat besi. Tubuh kurusnya hendak dia buat berotot. Setiap ditanya apa maksudnya latihan angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin itu,” katanya.

Suatu sore, Chairil sudah berdiri di pintu rumah Jassin. Suasana menjadi tegang. Saat Jassin bersiap menghadapinya, tiba-tiba si Kurus bicara, “Jassin, aku lapar,” dengan gayanya yang seenaknya itu. Jassin tertawa, lalu diajaknya Chairil menuju meja makan.

“Setelah ini, aku siap menghadapimu,” kata si Kurus, lahap menyantap makanan yang disajikan Jassin.

“Jangan bicara jika lagi makan, bisa mati kau tersedak. Jika kau mati sekarang, tak akan sempat kau menghadapiku,” timpal Jassin menyodorkan air putih.

Chairil bukan tak butuh uang. Dia kena pukul Jassin karena ketersinggungannya atas esai Jassin terkait caranya menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok, Hsu Chih-Mo, berjudul Datang Dara Hilang Dara, dengan Chairil menerakan namanya. Karena itulah Jassin menyentilnya di esai Mimbar Indonesia.

Tahun 1945, sejak majalah Pantja Raja (pengganti Panji Pustaka) terbit, sajak Chairil mulai bertebaran. Namanya menjulang. Sayangnya, Chairil tak berubah. Si Kurus itu masih suka bertingkah.

Balai Pustaka dibekukan saat Aksi Militer Belanda pertama meletus, bikin Jassin jadi pengangguran. Jassin diajak Anjas Asmara ke Mimbar Indonesia.

Suatu hari, di ruang redaksi Mimbar Indonesia, pelukis Baharuddi datang dan bilang, “menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeash.”

Jassin kecewa mendengarnya, walau dia mengaku belum membaca sajak MacLeash. Jassin lagi-lagi membela si Kurus. Lahirlah debat di antara para sastrawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” bela sastrawan Balfas yang menyenangi karya Chairil.

Di karet/ daerahku yang akan datang/ sampai juga deru angin.

Beraninya si Kurus menulis itu dalam sajaknya. Jassin bahkan tak berani membayangkan daerah di mana dia nanti terbujur mati. Harapan itu dijawab Allah. Pada usia 27 tahun, sahabatnya itu, sudah berbaring tanpa nyawa. Kematian Chairil menyatukan solidaritas kaum Republik. Berbondong mereka mengiringi penyair itu ke TPU Karet Bivak.

Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman, Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana, ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 43 / Th. IV / April 2013)

Iklan

[Esai] Si Kurus Egois dan Menyebalkan

Jassin dan Chairil (#1)

Si Kurus Egois dan Menyebalkan

image_t6 

PERNAH ke Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin? Kalau sering ke Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, pasti tahu dong, ya?

PDS HB. Jassin adalah pusat dokumentasi kesusasteraan Indonesia, yang sedikitnya menyimpan 50.000 karya sastra: buku, kliping, surat pribadi, biografi pengarang, naskah film, cerita rakyat, majalah sastra, skripsi, makalah, hingga beragam karya sastra mancanegara. Koleksi disusun dalam map bertanda judul, tahun, dan pengarangnya.

Hasan Bague Jassin (1917-2000), tokoh sastra terkemuka Indonesia dikenal dunia. Paus Sastra Indonesia ini, adalah seorang penulis/sastrawan, dokumentator sastra, penerjemah, kritikus sastra, pembela sastra Indonesia. Di tangannya lahir para penyair dan cerpenis Indonesia. Jassin mengenalkan kepanyairan Chairil Anwar dan WS Rendra.

Banyak kisah unik di balik bersahabatan Jassin dengan Chairil.

Siang yang panas, di tahun 1943, Jassin sedang berada di kantor redaksi Balai Pustaka, saat seorang kurus, berambut masai, matanya merah, memasuki kantor itu. Di pintu, lantang dia teriak, “Hei, ini sajak saya!”

Jassin meminta orang itu mendekat. Darinya, Jassin menerima 10 lembar kertas bertulis tangan, lalu diamatinya sejenak. “Bagus sekali,” kata Jassin.

Nisan untuk Nenekanda: “Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertakhta.”

“Nisan untuk Nenekanda” itu satu dari 20 sajaknya, pendek-pendek pula. Ditera Oktober 1942. Menurut Jassin, 20 sajak itu cocok dimuat majalah Panji Pustaka, milik Armijn Pane. Tapi Armijn menolak karena sajak-sajak terlalu individualistik ke sosok pengarangnya, dan elemen kebarat-baratan tak tepat di saat Jepang mengampanyekan Asia Timur Raya. Sayang sekali, sajak itu bagus, menurut Jassin.

Pemuda kurus berambut masai, bermata merah yang galak, serta tak sopan itu adalah Chairil Anwar, seorang yang kelak dianggap tonggak kepenyairan modern Indonesia. Pertemuan Jassin dengan Chairil ini adalah awal hubungan selanjutnya. Jassin menyapa Chairil dengan ‘si Kurus’.

Pada sajak si Kurus itu, kentara pengaruh ekspresionisme. Intuitif, mengaum, mengguruh. Sajak yang diendapkan dan sublimatif. Jassin mengetik 20 sajak itu, lalu diberikan pada Sutan Takdir Alisjahbana, Mohammad Said, dan Sutan Sjahrir (paman Chairil). Tapi si Kurus tak rela naskahnya berlama-lama pada Jassin. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku.”

“Buat apa kau minta kembali salinan asli sajak ini?” Jassin mau menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan? Itu sajak aku punya.” Ketus si Kurus.

Jassin mengembalikan 20 naskah sajak Chairil itu. Tapi, hanya salinan itu saja yang pernah diminta Chairil, selanjutnya dia biarkan Jassin menyimpan semua sajaknya. Sajak Chairil bukan letusan semata. Dia tak puas sajak sekali jadi. Dia berkutat pada satu kata berhari-hari, baru dikombinasikan dengan kata lain. Dia pikirkan, rasakan, matangkan.

Pertemuan di kantor Balai Pustaka itu, adalah pertemuan kedua. Pertama mereka bertemu di Medan. Jassin melihat nama Chairil tertera di redaksi Ons MULO Blad. Saat itu, tulisan Chairil masih berbentuk prosa. Umur si Kurus 14 tahun, sedang Jassin 19 tahun.

Chairil jago tenis meja, hingga selalu yakin menang. Bila menang, dia berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan.

Si Kurus itu suka bikin masalah. Suka berteriak-teriak semaunya, mengejek, sukar diatur. Menurut Jassin, si Kurus itu cerdas. Betapa lama dia endapkan sajak Aku sampai kemudian si Kurus itu bikin insiden di muka umum. Dia teriakkan dan tulis pertama kali sajak itu di papan tulis.

Pada 1943, terbentuk Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Armijn Pane dan para sastrawan sering bikin diskusi. Pada sebuah diskusi, Jassin giliran berceramah. Waktu itu, bertebaran slogan perang Asia Timur Raya Jepang, sehingga banyak pengarang terpengaruh sloganisme. Pada ceramahnya, Jassin bilang kalangan sastrawan harus memberikan semangat perjuangan melalui sastra. Dicontohkannya pada sajak-sajak Asmara Hadi.

Eh, tiba-tiba si Kurus itu mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.”

Belum sempat semua orang bereaksi, si Kurus itu melompat ke depan, menghampiri papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” teriaknya lantang. Aku: Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang.

Sajak terkenal itu lahir di situ juga, di papan tulis itu.

Meledaklah debat panas. Chairil beranggapan, sajak Asmara Hadi tak keluar dari hati penciptanya. Jassin terdiam karena si Kurus itu benar. Melihat gaya debat Chairil, Rosihan Anwar berkomentar, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang.”

Tingkah si Kurus seenaknya. Bicaranya lantang saat mengkritik orang, sambil mengangkat kaki pula. Datuk Modjoindo dan Tulis Sutan Sati tak suka sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah itu? Gantung saja dia,” kata Datuk Modjoindo dengan muka sebal.

Siapapun, tak akan mudah menyenangi tingkah Chairil. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 42 / Th. IV / 25 Februari – 24 Maret 2013)


[Esai] Korpus Awal Cerita Remaja

Korpus Awal Cerita Remaja

Student_Hidjo 

SEBENARNYA, ada pertanyaan yang menggelitik saya selama ini: sejak kapan sih kesusastraan populer dan cerita-cerita remaja mulai di kenal di tanah air? Nah, ini pertanyaan yang rumit, yang tidak semua orang bisa menjawabnya.

Ada yang menyebut sastra populer tumbuh dan menempati kurun waktu tertentu dan setiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri tertentu pula. Sastra populer telah tumbuh sejak abad ke-19, terutama pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sastra populer pada masa ini ditulis, baik oleh kaum Indo-Belanda, peranakan Cina, maupun kaum pribumi, dengan menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Kendati rujukan ini masih mungkin ditelusuri lebih jauh. Sebab zaman Hindia Belanda, teks sastra populer, selain yang dikaryakan kalangan yang tersebut di atas, kebanyakan karya merupakan terjemahan novel atau cerita pendek dari Belanda dan Eropa. Sukar pula dirujuk apakah karya-karya itu bisa digolongkan karya bergagasan remaja—untuk memberi ia penyebutan lain sebagai sastra populer.

Kesukaran merujuk juga diakibatkan tidak adanya peneliti sastra Indonesia yang sudi memasukkan kekaryaan sastra populer ke dalam Periodisasi Sastra Indonesia. Tetapi, bukan karena tidak ada atau belum pernah diperiodisasikan hingga lantas kekaryaan sastra populer tidak terlihat mengambil tempat dalam khazanah literasi Indonesia.

Nenden Lilis A., seorang pengajar Universitas Indonesia bilang, bahwa penggolongan karya sastra Indonesia juga sukar lepas dari kecenderungan pijak pemikiran modernisme grand narrative (narasi besar) dalam arus pikir Jean Francois Lyotard. Narasi besar modernisme bukan tidak menimbulkan korban: bagi yang tidak bersinggungan dengan isu pusat, ia akan dianggap tidak ada dan marjinal.

Cara pandang modernisme tidak membuka ruang yang cukup bagi lahirnya jenis sastra baru. Ruang sastra hanya untuk sastra tinggi dan sastra-sastra yang sebelumnya telah ditahbiskan sebagai sastra utama. Cara pandang ini menyebabkan sastra populer dan sastra lokal, dianggap bukan sastra dan diabaikan dalam penulisan sejarah sastra.

Perumusan periodisasi sastra ini korpusnya selalu sama dan dilakukan berdasarkan perkembangan sastra dalam kurun waktu yang diisi oleh konvensi, norma, standar, dan tema sastra tertentu yang dominan. Sastra populer tidak ditilik kehadirannya dalam setiap periode itu sehingga karakteristik dan kekhasan yang ia miliki tidak tertelaah, terjelaskan dan tidak dirangkum.

Baiklah, kita sederhanakan saja seperti ini: tulisan populer belum dapat tempat di wilayah sastra Indonesia. Nah, mari kembali pada pertanyaan di awal esai ini: Sejak kapan tulisan populer lahir dan tumbuh (termasuk medianya) di Indonesia?

Sastra populer yang ditulis pada masa ini meliputi cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita kriminal yang diangkat dari kisah nyata di pengadilan, cerita silat, cerita hantu (gaib), dan cerita percintaan (yang tak jarang dibumbui seks). Cerita-cerita seperti ini biasa ditulis oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo, untuk menyebut nama dua pengarang.

Di zaman Jepang (1942-1949), sastra populer harus tiarap. Hal ini, bilang Jakob Sumardjo, dikarenakan zaman itu penuh pergolakan politik-sosial. Menulis dan membaca butuh ketenangan khusus yang sukar diperoleh.

Sastra populer kembali marak di awal kemerdekaan (1950 -1968-an). Bermunculan novel dan cerpen remaja dengan tema-tema percintaan dan detektif yang dibumbui sensualitas. Marga Tjoa berkibar di genre ini. Tahun 1970-an, tema sastra populer kembali bergeser, karena sastra populer masa itu banyak ditulis perempuan yang didominasi tema-tema rumah tangga.

Sajian dan tema bergeser cepat di akhir tahun 70-an. Tema remaja berkembang baik (berupa cerita petualangan maupun percintaan). Reduksi tema dari penulis asing juga sukar dielak, sebab usaha penerbitan buku dan kegemaran membaca makin meningkat. Di picu novel serial Lima Sekawan dan Sapta Siaga (Enid Blyton) dan Trio Detektif (Alfred Hitchcock), maka bermunculan pula tema serupa di Indonesia.

Majalah Anita (berubah jadi Anita Cemerlang), majalah remaja yang memuat cerpen dan cerber populer lahir pada tahun 1979. Untuk tidak menyebut semuanya—beberapa pengarang cerita remaja saat itu antara lain Gus Tf. Sakai, Agus Noor, Sujiwo Tejo, Donatus A. Nugroho, Leila Chudori, Ana Mustamim, Bambang Sukma Wijaya, Tina Kardjono, Putra Gara, dan Rina Erina sebagai salah satu penulis cerita remaja paling produktif saat itu.

Tema dan motif karya sastra populer berkembang pesat. Muncul juga novel dan cerpen bertema keagamaan Ispolit (Islam Popular Literature), juga bertema perempuan kosmopolitan dalam hidup keseharian perkotaan pada genre chicklit dan teenlit yang lebih mengusung gagasan feminisme lunak, meminjam istilah Aquarini Prabasmoro.

Karya-karya itu memperlihatkan pergeseran bobot tema dalam gagasan ceritanya, dengan menonjolkan muatan intelektual namun ditulis secara ringan. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 51 / Th. V / Januari 2014)


[Esai] Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia2 ANDA pasti ingat beberapa lomba kepenulisan yang digagas oleh Majalah Story? Salah satunya Lomba Menulis Cerdak Majalah Story yang diadakan beberapa kali sepanjang 2013. Juga ada Lomba Menulis Cerpen Ultah Story 2011. Bahkan majalah ini pernah membuat Lomba Puisi Cinta pada tahun 2010.

Sebenarnya, sejak kapan lomba atau sayembara kepenulisan itu diadakan pertama kali? Ini dia pertanyaan besarnya. Catatan perjalanan sejarah sastra Indonesia itu sangat kurang sehingga agak rumit mengetahui persisnya kapan.

Semua bentuk lomba atau sayembara kepenulisan itu maksudnya memang untuk mengasah bakat kepenulisan dalam bentuk kompetisi yang selektif (menggunakan panel juri). Terbukti, setiap kompetisi macam ini ternyata mampu memunculkan banyak bakat penulis muda yang siap di medan sastra murni bahkan sastra-pop.

Perlumbaan (maksudnya: perlombaan) Karang-mengarang pertama kali hadir di zaman Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19. Berbagai sayembara kepenulisan di zaman itu memang dipicu keinginan Belanda memajukan bidang penerbitan di Hindia.

Awal penerbitan di Hindia-Belanda dimulai saat datangnya sebuah mesin cetak dari Belanda pada tahun 1624. Ketiadaan ahli cetak untuk menjalankan mesin menyebabkan mesin itu mangkrak begitu saja. Pada tahun 1659, Cornelis Pijl memrakarsai produksi Tijtboek (semacam almanak). Selepas itu, mesin cetak kembali tak beroperasi. Percetakan itu kembali bekerja saat mencetak dokumen resmi Perjanjian Bongaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hasanuddin, 15 Maret 1668. Sejak itulah, Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) mulai rutin mencetak berbagai kontrak dan dokumen perjanjian dagang, hingga kemudian buku-buku sastra terjemahan.

Pemerintah kolonial lewat Commissie Voor de VoLfrcslectuur (CVVL) membuat Literaire Schrijfwedstrijd Nederlands-Indie pertama kali pada tahun 1879 dalam format karya saduran. Lomba itu menghasilkan dua pemenang: novel Si Jamin dan Si Johan karya Merari Siregar sebagai pemenang pertama, dan Pengibur Hati karya J. Paimin sebagai pemenang kedua. Saat hendak dicetak, diketahui bahwa nama J. Paimin adalah nama samaran Merari Siregar sendiri.

Tetapi, karangan kecil yang berjudul Penghibur Hati itu menurut A. Teeuw, dikarang oleh J. Paimin dari Slakas, Tasikmalaya. Pada sampul buku tersebut tertulis “Soewatoe karangan yang beroleh hadijah dan diploma dalam perloembaan karangan dan hal madat”.

Karena judul dua karangan itu mempunyai tujuan yang sama, maka keduanya disatukan menjadi sebuah buku. Dalam saduran itu Merari Siregar menciptakan lingkungan cerita yang baik sehingga tanpa membaca cerita aslinya kita seolah-olah membaca sebuah cerita baru. Daerah-daerah seperti Prinsenlaan di Taman Sari dan Glodok serta suasana Betawi tahun 20-an dilukiskan sehingga menimbulkan kerawanan di hati pembacanya. CVVL terus mengadakan lomba sejenis sampai tahun 1918.

Setelah CVVL berganti nama menjadi Balai Poestaka, lembaga itu dipercayai memegang peran dalam penerbitan novel sastra dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah, seperti sastra Jawa dan Sunda. Balai Poestaka membentuk jaringan perpustakaan rakyat dan sekolah, serta toko buku yang tertata, sehingga membantu penyebaran buku-buku terbitannya. Bangkitnya minat baca menyebabkan Balai Pustaka harus aktif mencari naskah-naskah baru agar buku terbitannya kian banyak.

Itulah yang mendorong lembaga itu kembali membuat sayembara mengarang pada tahun 1937 dengan tajuk Perlumbaan Mengarang Novel yang disertakan dalam Pedoman Pembaca 1937. Belakangan, pedoman tersebut ternyata menjadi bahan penting untuk mengetahui apa sebenarnya pandangan penerbit pemerintah itu terhadap kesusastraan.

Hikayat Sayembara Menulis di Indonesia3

Balai Pustaka masih rutin melaksanakan sayembara, sampai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) juga menggelar sayembara pertamanya pada 1974. Awalnya juga DKJ memberlakukan syarat-syarat umum untuk semua pengarang Indonesia yang ikut serta dengan tema karangan bebas, ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik dua spasi setebal 100 halaman, belum pernah diumumkan dalam majalah atau surat kabar, dan dirangkap tiga.

Saat itu ada 64 naskah yang masuk tetapi hanya 59 yang layak administrasi. Juri pertama mereka adalah Umar Kayam, Boen S. Oemarjati, Sapardi Djoko Damono, S. Effendi, dan Mh. Rustandi Kartakusuma. Uniknya, sayembara menulis pertama DKJ itu tidak menghasilkan seorang pemenang pun. Tiga tempat juara, kosong melompong. Namun juri tetap memilih lima pemenang penghargaan dengan masing-masing memperoleh hadiah Rp 75.000.

Novel-novel yang dicatat dalam sejarah persayembaraan penulisan DKJ pertama kali itu adalah, Astiti Rahayu karya Iskasiah Sumarto dari Yogyakarta, Dari Hari Ke Hari karya Mahbub Djunaidi dari Jakarta, Arus karya Aspar Paturusi dari Ujung Pandang, Sisa-sisa Hari Kemarin karya Suparto Brata dari Surabaya, dan Qisas karya C.M. Nas dari Jakarta. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 50 / Th. V / Desember 2013)


[Esai] Shakespeare, The Master of Word

Shakespeare, The Master of Word

William Shakespeare, The Bard of Avon.

William Shakespeare, The Bard of Avon.

WILLIAM Shakespeare, lahir di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris pada 26 April 1564. Di sini ia menghabiskan waktunya berkarya: menulis pertama kali pada tahun 1585 dan berhenti pada tahun 1611. Di rentang waktu itu, ia menghasilkan 43 karya, tersusun dalam 37 naskah sandiwara (12 tragedi; 16 komedi; 10 sejarah), dan 6 kompilasi puisi (154 soneta, 2 naratif, dan puisi umum). Ia tetap di Stratford hingga wafat pada 23 April 1616.

Di akhir abad ke-15 hingga abad ke-17 adalah zaman Renaisance di mana Shakesperae hidup. Britania dan Irlandia diperintah Ratu Elizabeth I. Zaman itu dikenal sebagai zaman damai di Eropa, sebab diplomasi ratu membuat posisi Perancis dan Spanyol seimbang di antara Inggris.

Kota London begitu padat, ramai, dan penuh peluang. Perdagangan dan seni berkembang pesat, gedung-gedung teater dibangun untuk menampung minat masyarakat terhadap seni pertunjukan. Renaisance yang melanda Eropa menjamin bangkitnya pembelajaran klasik, khususnya seni, musik, dan arsitektur.

Bahasa Latin jadi bahasa pengantar di institusi pendidikan. Semua dokumen penting negara, gereja, dan perdagangan, ditulis dalam bahasa tersebut. Shakespeare memelajari karya para penulis dan filsuf Yunani dan Romawi kuno. Ia juga belajar beberapa bahasa lain. Berlatar belakang keluarga pengusaha, Shakespeare mampu membeli buku-buku dalam berbagai bahasa (Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara) yang kelak berperan penting dalam proses kreatifnya.

Shakespeare membaca The Golden Ass, tentang Apuleius—sebuah kisah kuno dari Afrika Utara yang jadi sumber inspirasi utama saat ia menulis A Midsummer Night’s Dream. Ia tak sekadar terpengaruh atau terinspirasi—yang hingga kini masih menjadi perdebatan serius. Bahkan cerita Romeo and Juliet bukan karya asli Shakespeare. Ia diketahui telah meminjam cerita itu dari seorang penulis Inggris lain yang mengaku mendapatkan kisah itu dari seorang penerjemah Perancis yang memertalakan karya-karya Luigi da Porta, seorang penulis Italia abad ke-16. Kisah-kisah yang ia baca, kelak menjadi pondasi utama karya-karyanya.

Sejauh mana Shakespeare dipengaruhi buku-buku yang ia baca, terlihat dari kecenderungan bahasa yang ia digunakan dalam karyanya. Latar belakang masyarakat dan negara di mana ia hidup, patut pula mendapat tempat untuk dicermati.

Ratu Elizabeth I bahkan menyukai karya-karyanya. Di antara pelaku seni di London, kemampuan berbahasa Shakespeare membuatnya sangat populer di kalangan kerajaan dan bangsawan yang kerap datang menonton pertunjukannya di gedung Teater Blackfriars—kebiasaan yang dimulai sejak pemerintahan Ratu Elizabeth I sampai Raja James I.

Ia membawa bahasa Inggris pada tingkatan tertentu dengan kemampuannya menciptakan kosa-kata baru. Saat ia menulis dan kesulitan menemukan kata untuk mengungkapkan maksudnya, maka ia akan menciptakan sebuah kata baru. Tercatat ada 1.700 kata yang ia ciptakan yang hingga kini masih digunakan, antara lain: deafening, hush, hurry, downstairs, gloomy, lonely, embrace, dawn, dll. Ia juga memerkenalkan hampir 3.000 kata baru lainnya, dan menggunakan lebih dari 7.000 kata baru dalam pertunjukan dramanya. Sehingga total Shakespeare telah menciptakan 884.429 kata baru.

Ejaan yang digunakan Shakespeare di zamannya, tentu berbeda dari ejaan zaman sekarang. Orang Inggris terbiasa mengeja kata yang tertulis. Jika menulis me dan ingin menekan kata tersebut, maka kata itu dituliskan sebagai mee atau meee (seolah berteriak). Pada beberapa naskah teaternya sering ditemukan kata stayed yang dieja stay’d. Kata itu diucapkan dalam satu suku kata: steid—sebagaimana ejaan Inggris modern—bukan dua suku kata: stei-ed, seperti adab menulis dan pengucapan Shakespeare.

Bahasa Inggris modern masih kerap memakai metode tulis zaman dulu, tapi menggunakan ejaan baru. Seperti kata knight, dulu dieja seperti tulisannya: k-ni-gh-t, dengan 4 suku kata. Para penulis di zaman itu peka terhadap detail intonasi, nada suara, dan bunyi yang timbul dalam percakapan, sehingga bahasa Inggris lisan dan tulisan yang digunakan pada zaman Renaisance lebih kaya daripada bahasa Inggris modern.

Kata-kata dalam karya Shakespeare masih bertahan bahkan 400 tahun setelah kematiannya. Kata-kata yang ia ciptakan dianggap paling puitis yang pernah ditulis manusia, bahkan ketika dituliskan dalam pengaruh bahasa Inggris modern. Seperti, penggunaan pound of flesh (dalam Merchant Venesia) dan green-eyed monster (dalam Othello) adalah yang paling terkenal. Shakespeare adalah orang yang pertama kali memperkenalkan kata umbrella, mengganti kata umbra untuk menyebut payung, ia gunakan kata sifat misplaced (dalam King Lear), neighbouring (dalam Henry IV, Part 1), obscenely (dalam Love’s Labour’s Lost), atau out of work (dalam Henry V).

Belakangan, para ahli bahasa menyebut derajat bahasa Inggris yang ada sekarang telah turun drastis. Tata bahasa, tanda baca, dan ejaan kini lebih standar ketimbang di abad ke-16 dan ke-17. Namun, bahasa Inggris modern justru menjadi penerang untuk karya-karya sang Bard of Avon itu. (IQM)

Shakespeare, The Master of Word.

Shakespeare, The Master of Word.

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 49 / Th. V / November 2013)


%d blogger menyukai ini: