[Esai] Shakespeare, The Master of Word

Shakespeare, The Master of Word

William Shakespeare, The Bard of Avon.

William Shakespeare, The Bard of Avon.

WILLIAM Shakespeare, lahir di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris pada 26 April 1564. Di sini ia menghabiskan waktunya berkarya: menulis pertama kali pada tahun 1585 dan berhenti pada tahun 1611. Di rentang waktu itu, ia menghasilkan 43 karya, tersusun dalam 37 naskah sandiwara (12 tragedi; 16 komedi; 10 sejarah), dan 6 kompilasi puisi (154 soneta, 2 naratif, dan puisi umum). Ia tetap di Stratford hingga wafat pada 23 April 1616.

Di akhir abad ke-15 hingga abad ke-17 adalah zaman Renaisance di mana Shakesperae hidup. Britania dan Irlandia diperintah Ratu Elizabeth I. Zaman itu dikenal sebagai zaman damai di Eropa, sebab diplomasi ratu membuat posisi Perancis dan Spanyol seimbang di antara Inggris.

Kota London begitu padat, ramai, dan penuh peluang. Perdagangan dan seni berkembang pesat, gedung-gedung teater dibangun untuk menampung minat masyarakat terhadap seni pertunjukan. Renaisance yang melanda Eropa menjamin bangkitnya pembelajaran klasik, khususnya seni, musik, dan arsitektur.

Bahasa Latin jadi bahasa pengantar di institusi pendidikan. Semua dokumen penting negara, gereja, dan perdagangan, ditulis dalam bahasa tersebut. Shakespeare memelajari karya para penulis dan filsuf Yunani dan Romawi kuno. Ia juga belajar beberapa bahasa lain. Berlatar belakang keluarga pengusaha, Shakespeare mampu membeli buku-buku dalam berbagai bahasa (Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara) yang kelak berperan penting dalam proses kreatifnya.

Shakespeare membaca The Golden Ass, tentang Apuleius—sebuah kisah kuno dari Afrika Utara yang jadi sumber inspirasi utama saat ia menulis A Midsummer Night’s Dream. Ia tak sekadar terpengaruh atau terinspirasi—yang hingga kini masih menjadi perdebatan serius. Bahkan cerita Romeo and Juliet bukan karya asli Shakespeare. Ia diketahui telah meminjam cerita itu dari seorang penulis Inggris lain yang mengaku mendapatkan kisah itu dari seorang penerjemah Perancis yang memertalakan karya-karya Luigi da Porta, seorang penulis Italia abad ke-16. Kisah-kisah yang ia baca, kelak menjadi pondasi utama karya-karyanya.

Sejauh mana Shakespeare dipengaruhi buku-buku yang ia baca, terlihat dari kecenderungan bahasa yang ia digunakan dalam karyanya. Latar belakang masyarakat dan negara di mana ia hidup, patut pula mendapat tempat untuk dicermati.

Ratu Elizabeth I bahkan menyukai karya-karyanya. Di antara pelaku seni di London, kemampuan berbahasa Shakespeare membuatnya sangat populer di kalangan kerajaan dan bangsawan yang kerap datang menonton pertunjukannya di gedung Teater Blackfriars—kebiasaan yang dimulai sejak pemerintahan Ratu Elizabeth I sampai Raja James I.

Ia membawa bahasa Inggris pada tingkatan tertentu dengan kemampuannya menciptakan kosa-kata baru. Saat ia menulis dan kesulitan menemukan kata untuk mengungkapkan maksudnya, maka ia akan menciptakan sebuah kata baru. Tercatat ada 1.700 kata yang ia ciptakan yang hingga kini masih digunakan, antara lain: deafening, hush, hurry, downstairs, gloomy, lonely, embrace, dawn, dll. Ia juga memerkenalkan hampir 3.000 kata baru lainnya, dan menggunakan lebih dari 7.000 kata baru dalam pertunjukan dramanya. Sehingga total Shakespeare telah menciptakan 884.429 kata baru.

Ejaan yang digunakan Shakespeare di zamannya, tentu berbeda dari ejaan zaman sekarang. Orang Inggris terbiasa mengeja kata yang tertulis. Jika menulis me dan ingin menekan kata tersebut, maka kata itu dituliskan sebagai mee atau meee (seolah berteriak). Pada beberapa naskah teaternya sering ditemukan kata stayed yang dieja stay’d. Kata itu diucapkan dalam satu suku kata: steid—sebagaimana ejaan Inggris modern—bukan dua suku kata: stei-ed, seperti adab menulis dan pengucapan Shakespeare.

Bahasa Inggris modern masih kerap memakai metode tulis zaman dulu, tapi menggunakan ejaan baru. Seperti kata knight, dulu dieja seperti tulisannya: k-ni-gh-t, dengan 4 suku kata. Para penulis di zaman itu peka terhadap detail intonasi, nada suara, dan bunyi yang timbul dalam percakapan, sehingga bahasa Inggris lisan dan tulisan yang digunakan pada zaman Renaisance lebih kaya daripada bahasa Inggris modern.

Kata-kata dalam karya Shakespeare masih bertahan bahkan 400 tahun setelah kematiannya. Kata-kata yang ia ciptakan dianggap paling puitis yang pernah ditulis manusia, bahkan ketika dituliskan dalam pengaruh bahasa Inggris modern. Seperti, penggunaan pound of flesh (dalam Merchant Venesia) dan green-eyed monster (dalam Othello) adalah yang paling terkenal. Shakespeare adalah orang yang pertama kali memperkenalkan kata umbrella, mengganti kata umbra untuk menyebut payung, ia gunakan kata sifat misplaced (dalam King Lear), neighbouring (dalam Henry IV, Part 1), obscenely (dalam Love’s Labour’s Lost), atau out of work (dalam Henry V).

Belakangan, para ahli bahasa menyebut derajat bahasa Inggris yang ada sekarang telah turun drastis. Tata bahasa, tanda baca, dan ejaan kini lebih standar ketimbang di abad ke-16 dan ke-17. Namun, bahasa Inggris modern justru menjadi penerang untuk karya-karya sang Bard of Avon itu. (IQM)

Shakespeare, The Master of Word.

Shakespeare, The Master of Word.

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 49 / Th. V / November 2013)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: