Tag Archives: HB. Jassin

[Esai] Si Kurus Egois dan Menyebalkan

Jassin dan Chairil (#1)

Si Kurus Egois dan Menyebalkan

image_t6 

PERNAH ke Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin? Kalau sering ke Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, pasti tahu dong, ya?

PDS HB. Jassin adalah pusat dokumentasi kesusasteraan Indonesia, yang sedikitnya menyimpan 50.000 karya sastra: buku, kliping, surat pribadi, biografi pengarang, naskah film, cerita rakyat, majalah sastra, skripsi, makalah, hingga beragam karya sastra mancanegara. Koleksi disusun dalam map bertanda judul, tahun, dan pengarangnya.

Hasan Bague Jassin (1917-2000), tokoh sastra terkemuka Indonesia dikenal dunia. Paus Sastra Indonesia ini, adalah seorang penulis/sastrawan, dokumentator sastra, penerjemah, kritikus sastra, pembela sastra Indonesia. Di tangannya lahir para penyair dan cerpenis Indonesia. Jassin mengenalkan kepanyairan Chairil Anwar dan WS Rendra.

Banyak kisah unik di balik bersahabatan Jassin dengan Chairil.

Siang yang panas, di tahun 1943, Jassin sedang berada di kantor redaksi Balai Pustaka, saat seorang kurus, berambut masai, matanya merah, memasuki kantor itu. Di pintu, lantang dia teriak, “Hei, ini sajak saya!”

Jassin meminta orang itu mendekat. Darinya, Jassin menerima 10 lembar kertas bertulis tangan, lalu diamatinya sejenak. “Bagus sekali,” kata Jassin.

Nisan untuk Nenekanda: “Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertakhta.”

“Nisan untuk Nenekanda” itu satu dari 20 sajaknya, pendek-pendek pula. Ditera Oktober 1942. Menurut Jassin, 20 sajak itu cocok dimuat majalah Panji Pustaka, milik Armijn Pane. Tapi Armijn menolak karena sajak-sajak terlalu individualistik ke sosok pengarangnya, dan elemen kebarat-baratan tak tepat di saat Jepang mengampanyekan Asia Timur Raya. Sayang sekali, sajak itu bagus, menurut Jassin.

Pemuda kurus berambut masai, bermata merah yang galak, serta tak sopan itu adalah Chairil Anwar, seorang yang kelak dianggap tonggak kepenyairan modern Indonesia. Pertemuan Jassin dengan Chairil ini adalah awal hubungan selanjutnya. Jassin menyapa Chairil dengan ‘si Kurus’.

Pada sajak si Kurus itu, kentara pengaruh ekspresionisme. Intuitif, mengaum, mengguruh. Sajak yang diendapkan dan sublimatif. Jassin mengetik 20 sajak itu, lalu diberikan pada Sutan Takdir Alisjahbana, Mohammad Said, dan Sutan Sjahrir (paman Chairil). Tapi si Kurus tak rela naskahnya berlama-lama pada Jassin. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku.”

“Buat apa kau minta kembali salinan asli sajak ini?” Jassin mau menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan? Itu sajak aku punya.” Ketus si Kurus.

Jassin mengembalikan 20 naskah sajak Chairil itu. Tapi, hanya salinan itu saja yang pernah diminta Chairil, selanjutnya dia biarkan Jassin menyimpan semua sajaknya. Sajak Chairil bukan letusan semata. Dia tak puas sajak sekali jadi. Dia berkutat pada satu kata berhari-hari, baru dikombinasikan dengan kata lain. Dia pikirkan, rasakan, matangkan.

Pertemuan di kantor Balai Pustaka itu, adalah pertemuan kedua. Pertama mereka bertemu di Medan. Jassin melihat nama Chairil tertera di redaksi Ons MULO Blad. Saat itu, tulisan Chairil masih berbentuk prosa. Umur si Kurus 14 tahun, sedang Jassin 19 tahun.

Chairil jago tenis meja, hingga selalu yakin menang. Bila menang, dia berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan.

Si Kurus itu suka bikin masalah. Suka berteriak-teriak semaunya, mengejek, sukar diatur. Menurut Jassin, si Kurus itu cerdas. Betapa lama dia endapkan sajak Aku sampai kemudian si Kurus itu bikin insiden di muka umum. Dia teriakkan dan tulis pertama kali sajak itu di papan tulis.

Pada 1943, terbentuk Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Armijn Pane dan para sastrawan sering bikin diskusi. Pada sebuah diskusi, Jassin giliran berceramah. Waktu itu, bertebaran slogan perang Asia Timur Raya Jepang, sehingga banyak pengarang terpengaruh sloganisme. Pada ceramahnya, Jassin bilang kalangan sastrawan harus memberikan semangat perjuangan melalui sastra. Dicontohkannya pada sajak-sajak Asmara Hadi.

Eh, tiba-tiba si Kurus itu mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.”

Belum sempat semua orang bereaksi, si Kurus itu melompat ke depan, menghampiri papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” teriaknya lantang. Aku: Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang.

Sajak terkenal itu lahir di situ juga, di papan tulis itu.

Meledaklah debat panas. Chairil beranggapan, sajak Asmara Hadi tak keluar dari hati penciptanya. Jassin terdiam karena si Kurus itu benar. Melihat gaya debat Chairil, Rosihan Anwar berkomentar, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang.”

Tingkah si Kurus seenaknya. Bicaranya lantang saat mengkritik orang, sambil mengangkat kaki pula. Datuk Modjoindo dan Tulis Sutan Sati tak suka sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah itu? Gantung saja dia,” kata Datuk Modjoindo dengan muka sebal.

Siapapun, tak akan mudah menyenangi tingkah Chairil. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 42 / Th. IV / 25 Februari – 24 Maret 2013)


[Esai] Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium

Merari, Maurik, dan Opium2 

ADA loh sastrawan terkemuka Indonesia yang umurnya 100 tahun lebih. Namanya Merari Siregar. Merari adalah pelopor prosa Indonesia modern. Saat wafat pada 23 April 1941, Merari berusia 116 tahun. HB. Jassin, memasukkan Merari dalam Angkatan Balai Pustaka.

Siang yang teduh, pada Senin 13 Juli 1896, di sebuah Bagas Godang (rumah besar khas Batak Siporok), lahirlah anak lelaki yang kelak menjadi penonggak zaman sastra Indonesia modern: zamannya prosa modern Indonesia. Tak begitu jauh dari rumah ayahnya, Danau Marsabut tampak tenang airnya, tak bergolak seperti biasanya, saat angin bertiup membawa aroma belerang dari aek milas di sekitar Parandolok. Bayi lelaki itu diberi nama Merari.

Merari memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Masa kecil yang ia habiskan di kampungnya, mau tak mau membentuk sikap, perbuatan, dan jiwanya yang kental pada budaya masyarakat Sipirok. Kepincangan sosial yang ia jumpai, dibawanya ke atas kertas. Azab dan Sengsara menjadi karyanya yang paling tersohor. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar mengkampanyekan politik etis, berupa penyebaran bacaan, seperti terjemahan, saduran, dan karangan asing kepada rakyat dan para pelajar sekolah bumi putera, lewat Commissie Voor Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 1908.

Di komisi inilah Merari bersentuhan dengan karya Justus van Maurik, penulis kenamaan Belanda, dan sebagaimana kakeknya, dia ahli membuat cerutu. Persinggungan Merari dan Maurik itu lewat cerpen Jan Smees yang disadur Merari menjadi Si Jamin dan Si Johan. Merari memang terlibat menerjemahkan kumpulan cerpen Lift het Volk yang terbit pada 1879.

Nasib dua orang ini bertalian benar. Maurik menghabiskan 58 tahun hidupnya dalam tradisi masyarakat Amsterdam. Demikian pula permulaan hidup Merari di Siporok. Gagasan dalam karya Maurik (maupun Merari) orisinal berangkat dari lingkungan di sekitarnya.

Maurik adalah editor di majalah Amsterdammer (media perdagangan, industri dan seni, berdiri 1877, dan kini menjadi mingguan De Groene Amsterdammer). Maurik mulai dikenal lewat karya Kluchten en Blijspelen. Pada tahun 1878, novel pertamanya muncul. Maurik tahu cara membuat pembacanya senyum, menangis, dan tertawa dengan kecerdasannya bercerita, dan sangat kental dengan spritualisme. Ilustrasi novelnya digambar oleh seniman grafis Johan Braakensiek.

 

Merari, Maurik, dan Opium3
Senafas dengan hidup Maurik dan gagasan dalam Si Jamin dan Si Johan, tak disangka, hidup Merari pun bersinggungan dengan candu. Merari tak menggunakan candu, tetapi justru aktif melawan peredarannya yang dijual bebas di daerah Glodok. Namun, di episode akhir hidupnya, Merari tak menyangka akan bersinggungan dengan barang yang dibencinya itu.

Merari menemui hambatan memindahkan suasana Eropa dalam suasana Indonesia, saat menyadur Si Jamin dan Si Johan, karena ukuran kemiskinan di Eropa berbeda dari Indonesia, begitu pula dengan konsep hidup spiritualnya.

Seiring waktu, sastra modern Indonesia kian berkembang karena pergaulan sastrawan dengan karya sastra barat, terutama Belanda, lewat penerjemahan dan penyaduran. Perkembangan itu terasa saat Commissie Voor de VoLfcslectuur (Balai Poestaka) melaksanakan kampanye baru; melatih pengarang dalam gaya bahasa dan bentuk baru.

Bobot prosa modern menjadi lebih baik, dengan nampaknya kemandirian pada karakter dalam cerita: karakter-karakter itu menentukan nasibnya sendiri dan tidak tergantung pada lingkungan dan ikatan masyarakat. Itu tercermin dalam prosa-roman Azab dan Sengsara, di mana tokoh utamanya bernama Mariamin, mengakhiri penderitaannya akibat kawin paksa lewat pengajuan cerai. Namun begitu, Merari tetap menonjolkan kesadaran susila yang tinggi sebagai bentuk spiritualisme.

Selepas sekolah, Merari bekerja sebagai guru bantu di Medan. Dia kemudian pindah ke Jakarta, dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang RS. Cipto Mangunkusumo). Persinggungannya dengan candu terjadi saat Merari pindah bekerja di Opium end Zouregie (Badan Manajemen Garam dan Opium) di Kalianget, Madura.

 

COLLECTIE TROPENMUSEUM_Litho naar een oorspronkelijke tekening die opium roken_Auguste Van Pers_1854
Pada Statistiek Beschrijving van Semarang, tahun 1836, dijelaskan bagaimana Opium end Zouregie mengatur tata niaga opium dan garam sepanjang periode tahun 1742-1865. Statistiek administratief Overzigt van Nederlandsch Indië, 8 November 1823, menerangkan isi koleksi mikrofilm perihal perdagangan opium di Surabaya, di mana der Chijs ‘Inventaris van’ s Lands Archief te Batavia (1602-1816) melepaskan rincian pacht opium atau sistem pertaniannya disertai catatan pendapatan perusahaan dalam Buku Persediaan Nomor 6. Di Indonesia, selain Madura (Surabaya) Belanda menanam bunga Poppy (bunga opium) di kawasan pegunungan Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen. Bahkan Auguste van Pers melukiskannya dalam sebuah litografi penduduk Jawa yang sedang memakai candu pada tahun 1854.

Merari bekerja di perusahaan itu hingga akhir hayatnya, pada 23 April 1941, di Kalianget, Madura, dalam keadaan sangat sepuh. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 44 / Th. IV / Mei 2013)


%d blogger menyukai ini: