Category Archives: Sosial

Ojek Gabah, Inovasi Pemecah Masalah

Keterbatasan sungguh bisa membuat seseorang atau sekelompok warga menjadi inovatif. Jika Satu Indonesia dengan Inspirasi 60 Tahun Astra mendorong tema Perjalanan Penuh Inspirasi, tentang perjalanan panjang Astra meraih kesuksesan dengan mendedikasikan karyanya untuk menginspirasi negeri dan memajukan Indonesia, maka kunjungan saya ke kawasan persawahan Amohalo, mungkin boleh juga disebut sebuah perjalanan yang sangat menginspirasi.

 

SAYA mendengar cerita tentang ojek gabah dari sahabat saya, Fransiskus Senoaji Patadungan, seorang lelaki Toraja yang sedang gemar-gemarnya fotografi. Bersama dua sahabat lainnya, Intan Rinjaru Hiandra dan Jay Irgie, kami berempat berencana berburu foto, sembari saya menuntaskan penasaran dengan ingin melihat sendiri para Pengojek Gabah.

Dari pusat kota, kami berdua berkendara kurang lebih sejam menuju pinggiran kota Kendari, ke arah Selatan. Amohalo adalah kawasan persawahan yang diplot menjadi lumbung padi kota Kendari. Itu kisahnya kini, setelah kurang lebih 30 tahun menjadi kawasan “berbahaya” bagi siapapun. Amohalo berada persis di pusat area Nangananga yang selama 30 tahun menjadi kawasan konsentrasi militer bagi mantan anggota Partai Komunis Indonesia yang ditangkap di Sulawesi. Awalnya, ada 220 orang tahanan politik (tapol) yang dipindahkan ke tempat ini setelah Rumah Tahanan Militer (RTM) Moncongleo di Makassar, dikosongkan. Area Nangananga yang sepenuhnya berupa hutan dan rawa ini kemudian disulap menjadi kawasan tahanan militer dan sangat terlarang untuk umum. Selain kendaraan militer dan anggota polisi militer, maka tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya, terlebih mendekat. Tetapi itu dulu. Luka lama yang tidak pantas dikorek kembali. Kita seharusnya sudah selesai berdamai dengan masa lalu.

Kini, dari sekitar 220 orang mantan tapol yang dulu dipindahkan tahun 1970 itu, hanya tersisa enam orang saja dan semuanya pun telah sangat uzur. Selama 30 tahun, kawasan Nangananga —termasuk area konsentrasi tapol-nya— itu berubah menjadi kawasan mukim dengan hampir 2.000-an warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka menanam Jambu Mete (ceshew nut), Kelapa, Lada dan beternak unggas (dominan bebek). Sebagian besar warga yang ada kini adalah generasi ketiga. Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut status tapol pada kakek-nenek mereka, mengembalikan mereka ke masyarakat, dan kawasan Nangananga diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kota Kendari pada tahun 2001.

Sebenarnya sebelum terjadi pengambil-alihan kawasan, di Nangananga sudah bermukim hampir 400 kepala keluarga lain yang menggantungkan hidup mereka dari persawahan. Sehingga perubahan statuta kawasan itu pada tahun 1970, otomatis ikut menyulitkan para petani sawah yang telah bermukim lebih awal.

Walau telah terbuka untuk aktifitas pertanian, karena diisolir begitu lama, infrastruktur di sana belum bisa memadai. Berada di pinggiran kota Kendari dan diisolasi begitu lama, praktis masyarakat Nangananga baru menikmati listrik pada 2009 dengan dibangunnya jaringan listrik induk yang melintasi kawasan. Menyadari kenyataan itu, kami sesungguhnya tidak terlalu heran dengan kondisinya. Pembangunan memang lamban di sini, tetapi nadi ekonomi ternyata berdenyut cukup kencang.

 

Revo Ojek Gabah

Tetapi perjalanan kami kali ini bukan untuk mengorek-ngorek “kekelaman” itu. Saya sangat tertarik mengunjungi petani di Amohalo setelah mendengar tentang Ojek Gabah yang diceritakan Frans, dan bagaimana inovasi yang mereka lakukan untuk membuka hambatan geografis dan minimnya fasilitas.

Setelah lepas dari 22 kilometer jalan beraspal, kendaraan kami mulai berguncang di jalanan yang sepenuhnya berlubang. Jalanan rintisan yang selalu menyisakan genangan setelah hujan itu, membentang sejauh 10 kilometer. Tak masalah, saya menggunakan Honda Beat Matic yang berbodi ramping, memudahkan saya bermanuver menghindari lubang demi lubang—terkadang jembatan dengan sepotong-dua kayu belaka. Ruang yang cukup lebar di bawah stang kemudi juga cukup leluasa untuk menempatkan tripod kamera.

Saat kami tiba, orang-orang desa sudah berkumpul di bawah salah satu rumah panggung besar, menikmati suguhan makan siang dan penganan ringan. Mereka tersenyum melihat kami. Pak Pongganti mendatangi kami dan saya langsung berbicara banyak dengannya. Proses panen baru saja selesai 20 menit lalu dan saat ini gabah sedang dimasukkan ke dalam karung-karung besar, disusun rapi di pinggiran pematang untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi transit sebelum diangkut ke atas mobil-mobil pick-up. Itu artinya kami belum terlambat. Motor-motor bebek—yang entah bagaimana bentuknya—tampak berderet rapi dengan para joki yang asik ngopi sembari menunggu sesuatu. Sesekali asap kawung mengepul dari dalam kerumunan mereka. Ya, tak syak lagi, mereka itulah joki ojek gabah yang diceritakan Frans.

Tadi kami memarkir kendaraan tak terlalu jauh dari rumah besar ini. Sembari berbicara dengan Pak Pongganti, saya menyiapkan kamera. Dua pick-up terlihat di seberang jalan bersama seseorang dengan buku catatan kecil di tangannya. Dari Pongganti saya tahu bahwa dua mobil bak terbuka itu adalah kendaraan pengepul. Merekalah yang akan memuat gabah petani. Walau tampak seperti sistem perkulakan, namun sesungguhnya harga beli mereka mengikuti mekanisme pasar. Mereka hanya boleh menebus gabah petani di bawah dua persen dari harga beli Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulawesi Tenggara, jika masih mau mendapatkan “barang”. Petani pun menerima resiko terkikis dua persen itu karena juga memperhitungkan biaya sewa truk jika mereka harus membawa sendiri gabah ke sentra pengeringan dan pergudangan.

Matahari terik sekali di pukul 12 siang itu. Cahaya yang keras seperti itu jelas akan menyulitkan kami mengatur aperture, ISO dan shutter speed pada kamera. Saya menggunakan lensa sudut lebar dengan hoodlens untuk menangkis cahaya keras dari sisi lensa. Kamera saya posisikan pada ISO kecil, dengan aperture besar dan kecepatan di atas 750.

Anggukan kepala dari Pak Pongganti seperti sebuah komando bagi delapan joki yang tiba-tiba bergegas ke motor masing-masing, menyalakan mesinnya dengan cara yang aneh, lalu susul-menyusul meluncur ke tengah persawahan yang baru selesai dipanen itu. Cara mereka menunggangi motor-motor itu tak ubahnya seperti crosser berpengalaman.

Delapan joki itu memecah kelompok menjadi dua —masing-masing empat motor— untuk dua pemilik gabah. Jarak antara dua gundukan karung gabah sekitar 300 meter, dan jarak antara gundukan terdekat menuju jalan hampir 250 meter. Kecekatan mereka mengangkut dan bolak-balik dari gundukan karung gabah menuju tempat menumpukan sementara di pinggiran jalan, sungguh menarik untuk disaksikan.

Setiap motor yang meninggalkan gundukan karung gabah, datang dengan dua karung besar gabah yang ditumpuk di tengah sasis motor dan dengan beban berat dan sebesar itu, tampaknya mereka tetap bisa mengendalikan stang kemudi motor tanpa kesulitan. Para joki mampu bermanuver di sela pematang dengan lincah.

Saya tentu kagum. Hal seperti ini belum tentu saya temukan di tempat lain. Ojek gabah ini memang inovasi yang efektif dan ekonomis. Buruknya kondisi jalanan di kawasan persawahan desa Amohalo sepertinya nyaris mustahil menemukan cara mengangkut karung gabah yang besar dan berat itu dari tengah sawah ke area penumpukan, membuat mereka berpikir keras. Untuk semua kesulitan itu, ojek gabah ini benar-benar jawaban yang cerdas.

Semua pihak dalam proses panen hingga pengangkutan boleh dibilang untung. Dalam sehari, seorang pengojek gabah bisa mendapatkan bayaran minimal 400 ribu hingga 800 ribu rupiah. Sangat tergantung dari jumlah sawah yang ia layani. Nah, bayangkan uang yang mereka dapatkan jika panen padi di kawasan subur ini bisa sampai tiga kali setahun, dengan luasan kurang lebih 3.000 hektar dan semua proses panen itu dapat berlangsung selama 14 hari. Luarbiasa!

Standar bayaran yang mereka terima paling rendah 5.000 rupiah per karung. Jika medan sukar (berlumpur) atau jaraknya jauh, ongkos yang mereka terima naik menjadi 7.000 –10.000 rupiah/karung. Sekali angkut motor mereka mampu dimuati dua karung. Jika setiap pengojek mampu bolak-balik sebanyak 10 kali, itu artinya di satu lokasi sawah saja mereka bisa mengantongi maksimal 200 ribu rupiah. Bayangkan ketika kawasan persawahan Amohalo berada di puncak musim panen. Setiap pengojek gabah bisa melayani pengangkutan di tiga-empat sawah dalam sehari.

Setelah proses pengangkutan selesai, motor-motor pun kembali diparkirkan. Saya mendekat untuk sekadar mengetahui bagaimana modifikasi yang mereka lakukan pada motor-motor itu. Hal pertama yang membuat saya kagum adalah delapan motor yang dimodifikasi menjadi alat angkut gabah itu berjenis Honda Revo dan rata-rata dari generasi pertama dan kedua. Mereka melepas semua penutup bodi bagian atas motor sehingga hanya menyisakan tangki bahan bakar yang memang terletak di bagian belakang. Bahkan jok pun tidak terlihat lagi, termasuk memindahkan tuas rem belakang yang terletak di dekat stand kaki depan, ke stang kemudi —persis mekanisme pengereman pada motor skuter matik.

Knalpot juga dimodifikasi, dibuat lebih panjang agar tidak menghalangi kaki pengojek dan memiliki kemampuan melaju lebih cepat di atas lumpur atau medan berair. Di atas batang sasis, mereka membuat flatform baru dengan papan atau plat besi, dibuat landai agar memudahkan menyusun karung-karung gabah. Semua panel di bagian kepala dilepas sama sekali, menaikkan posisi stang kemudi dan memanjangkan shockbreaker depan. Kaki-kaki depan dan belakang juga tak lepas dari pengubahan. Mereka menggunakan ban bergerigi yang biasa digunakan pada motor jenis trail. Dengan semua modifikasi itu, joki ojek gabah tidak merasa kesulitan bahkan jika posisi mereka nyaris rebah di atas karung-karung yang mereka muat.

Pongganti menuturkan, dahulu sebelum ada pengojek gabah, petani biasa menyewa buruh angkut dengan cara memikul gabah dari sawah ke area penumpukan. Cara ini tentu tidak efisien dan ekonomis. Walau setiap sawah dilayani buruh pikul hingga 10 orang, pekerjaan tetap terasa lamban sebab memerlukan waktu hingga seharian penuh. “Untuk sawah-sawah yang berada jauh di tengah seperti itu,” Pongganti menunjuk deretan sawah yang berada di tengah atau di ujung kawasan persawahan, “butuh waktu sampai dua-tiga hari baru selesai.”

Tentu pula jauh dari nilai ekonomis. Tidak ada buruh pikul yang murah untuk pekerjaan seberat itu. Mereka biasa dibayar hingga Rp30.000/karung, atau Rp.40.000/karung jika jaraknya jauh dari lokasi penumpukan. Itu memangkas hampir separuh dari nilai jual beras setelah melalui semua proses pengolahannya. “Tiga kilogram gabah kering sebanding dengan satu kilogram beras, dan petani sudah mengeluarkan biaya yang nilainya hampir seperempat harga jual beras per karung ukuran 50 kilogram. Sekarang harga jual beras mencapai 400 ribu rupiah per karung. Keluaran biaya itu belum termasuk ongkos angkut ke lokasi penjemuran atau penggilingan,” ujar Pongganti sembari tersenyum kecut.

Namun sejak warga berinovasi menggunakan ojek gabah, pengeluaran petani bisa ditekan sangat besar. “Kami bisa menyelesaikan semua proses panen hingga ke lokasi penumpukan tidak lebih dari satu jam saja,” ujar sembari bertepuk tangan. Saya senang melihatnya gembira seperti itu.

 

Gagasan Ojek Gabah dan Innov Astra

Tetapi mengapa mereka memilih Revo dengan mesin Honda Techno AT dari generasi pertama dan kedua itu? “Bodinya mudah dioprek dan mesinnya agresif tapi irit bahan bakar,” jawaban spontan Sukri, seorang joki ojek gabah, itu membuat kami semua tertawa. Tetapi Sukri benar. Untuk berinovasi dengan melakukan modifikasi seperti itu, awalnya mereka memang memilih-milih merek motor, sekaligus jenis mesin yang diusung. Dari beberapa jenis motor, pilihan mereka berakhir pada Honda Revo. Tetapi bagaimana mereka mendorong ide, itu adalah cerita berbeda. Bahwa Astra hadir sebagai katalis yang secara tidak langsung mendorong keberanian berinovasi oleh masyarakat, adalah cerita utamanya.

Sekarang, Astra mungkin saja belum bergerak untuk secara langsung hadir di tengah petani Indonesia dengan inovasi terbaru yang bisa memberi kemudahan masyarakat menikmati teknologi pertanian, termasuk —yang paling utama, misalnya— menciptakan mesin pemanen dan perontok serbaguna sekaligus memecahkan masalah transportasi gabah.

Fakta tentang petani yang memodifiksi motor menjadi ojek gabah karena terinspirasi pada ketangguhan mesin Honda Revo dalam tulisan ini boleh jadi memang belum pernah sampai ke meja para inovator dan pengambil kebijakan di Astra International Tbk., tetapi saya percaya, satu-dua tahun ke depan tehnologi Astra bisa dengan cepat menjangkau petani di seluruh Nusantara dan menyelesaikan masalah mereka. Boleh jadi pula gagasan inovatif para petani di Amohalo dengan ojek gabahnya itu bakal menjadi salah satu isu utama di ajang tahunan InnovAstra berikutnya.

Maka benarlah, program Satu Indonesia dalam visi-misi Astra, akan sungguh-sungguh menjadi kenyataan besar yang linier dengan Indonesia.

 

Terus Berjuang untuk Keunggulan

Sekadar bercanda, saya bertaruh dengan Frans Patadungan. Karena semua pengojek gabah menggunakan motor yang sama, dengan mengukur standar kelincahan motor di medan seperti itu, kami bertaruh, siapa yang kira-kira menjadi pengangkut terbanyak. Kami lalu memilih calon pemenang masing-masing.

Mari melipir sedikit dari aksi taruhan kami, sebab hasilnya pun tak akan jauh berbeda; yang menang nantinya sudah pasti menggunakan si tangguh Honda Revo.

Enampuluh tahun lalu, Astra hadir dengan satu tujuan utama; senantiasa mendedikasikan karya-karya inovatifnya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tentu saja di usia yang sangat mapan seperti itu Astra tidak saja menjadi raksasa industri dan teknologi yang disegani di luar Indonesia, tetapi menjadi pioner sekaligus inspirasi bagi teknologi di tanah air, khususnya di bidang otomotif.

Enam dekade bukan waktu yang singkat untuk menghitung besarnya pencapaian dan kontribusi Astra bagi Indonesia. Dilandasi falsafah Catur Dharma, Astra sesungguhnya sangat berhasil menginspirasi dan mendorong Indonesia melangkah lebih jauh masuk ke era teknologi tinggi. Produk-produk dan layanan Astra telah mengubah wajah Indonesia melalui karya-karya putra bangsa Indonesia sendiri. Astra terus menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, dan menjadi terdepan dalam upayanya memberi kontribusi sosial bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Astra-lah yang mula-mula menginspirasi para pengambil kebijakan Indonesia untuk mendorong mobil nasional (mobnas). Kijang adalah produk menumental Astra yang ikut membuat banyak negara melihat bahwa Indonesia telah bergerak lebih maju di kawasan regional.

Saya teringat pada “kendaraan tugas” pertama ayah saya. Ayah saya adalah mantan wartawan Harian Umum Pelita, sebelum akhirnya pensiun di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Biro Kendari. Kijang kotak itulah yang kemana-mana mengantar ayah saya liputan di berbagai wilayah terjauh di Sulawesi Tenggara. Asik sekali mendengar beliau berkisah bagaimana mereka menembus beratnya medan di lokasi terisolir untuk mendatangi warga yang lahan pertaniannya diambil paksa oleh oknum pamong praja kabupaten. “Si kuning itu seperti berenang membelah sungai Lasolo,” kenang Ayah, di akhir Juni, setahun lalu. Saat itu kami berdua duduk di teras belakang rumahnya yang diteduhi tiga pohon jambu klutuk.

Itulah kenangan terakhir duduk bercerita bersama ayah, sebab November 2016, ayah harus dilarikan ke rumahsakit karena unfaal jantung dan wafat di sana setelah sepekan perawatan. Ayah saya, Moehiddin Damara, seingat saya adalah jurnalis paling tangguh yang pernah saya kenal. Bersama tiga rekannya (yang juga telah wafat mendahuluinya), Beliau memelopori jurnalisme di Sulawesi Tenggara. Beliaulah yang menginspirasi banyak wartawan muda lainnya, termasuk saya ketika itu, untuk juga menekuni dan lebih serius tentang jurnalisme. Saya juga teringat pada wajah Beliau saat saya datang mengabarinya soal keberangkatan saya ke Australia untuk bekerja di Inside Indonesia Magazine.

Sebagaimana para pelopor —seperti ayah saya, misalnya— Astra sungguh menginspirasi banyak orang, bangsa ini, Indonesia. Kini banyak sekali usaha kecil dan menengah di Indonesia yang bergerak karena terinspirasi kepeloporan Astra, termasuk inspirasi bagi lahirnya mobil nasional. Sebagai pelopor, Astra tentu saja tahu bagaimana memposisikan diri. Sumber daya manusianya yang handal juga diambil dari anak-anak bangsa ini. Astra bergerak di semua lini, bahkan asuransi dan kelembagaan sosial.

Melalui empat pilar tanggungjawab sosialnya, Astra melakukan pendekatan yang sukar ditiru. Astra terjun langsung ke basis-basis usaha perkebunan, ikut mendorong petani dan usaha pertanian, pengrajin usaha kecil dan menengah, dan gerakan-gerakan kreatif pemuda, melalui unit-unit usaha dan jaringan bisnisnya.

Astra hadir untuk mendorong kesehatan masyarakat melalui Astra Untuk Indonesia Sehat dengan program GenerAKSI Sehat Indonesia (GSI) Astra di berbagai tempat di tanah air. Jangan lupa, GSI dalam Astra Untuk Indonesia Sehat, barulah satu bagian dalam banyak hal yang telah dilakukan Astra dengan empat pilar tanggungjawab sosialnya; tiga lainnya adalah, Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra Untuk Indonesia Hijau, Astra Untuk Indonesia Kreatif.

Kendati Astra bergerak di banyak bidang yang menuntut teknologi sebagai core-nya, Astra tentu saja memiliki visi pelestarian lingkungan yang sangat besar. Melalui pilar Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra memberikan beasiswa pendidikan, mengapresiasi para guru berprestasi, termasuk mendorong berkelanjutannya sejumlah sekolah alam, termasuk sekolah alam di Situbondo, Jawa Timur.

Di bidang lingkungan, bersama Perum Perhutani, Astra Forest mengonservasi keanekaragaman hayati kawasan hutan seluas 200 Ha, sebagai Eco Edu Tourism Area (Kawasan Wisata Pendidikan dan Ekosistim) berbasis pemberdayaan masyarakat. Kawasan itu diberi nama Haroto Pusako —dari bahasa Ocu, Kampar, Kepulauan Riau yang bermakna Harta Pusaka Ibu Pertiwi— yang memiliki bentang alam perbukitan hutan sekunder di kawasan Resort Pemangkuan Hutan Babakan Madang, Sentul, di wilayah administrasi kabupaten Bogor, berketinggian sekitar 300-500 mdpl., bertopografi landai hingga bergelombang terjal dengan kemiringan sekitar 15-40 persen. Kawasan-kawasan seperti ini harus dilestarikan keberadaannya.

Realitas apa yang hendak kita lihat dari semua pencapaian Astra sejauh ini. Bahwa Astra berusaha menghapus garis imajiner, yang menciptakan marjinalitas di tengah masyarakat —yang terlanjur tercipta karena kondisi sosial dan politik— dan rupanya Astra berhasil melakukannya.

Selama 60 tahun, dengan slogan To Continually Strive for Excellence (Terus Berjuang untuk Keunggulan) Astra telah berhasil membangun tujuh divisi usaha dan 33 anak perusahaan, belum termasuk jaringan usaha hasil merger dan jaringan distribusi (untuk semua produk Astra) yang meluas ke seluruh Indonesia. Astra International mempekerjakan 214.835 orang karyawan (data tahun 2016) dengan pendapatan Rp.181,1 triliun (data tahun 2016). Hasil ini sungguh luarbiasa untuk sumbangsih dan kerjakeras Astra selama enam dekade.

 

Kesederhanaan yang Berdampak Besar

Apa hubungan sejarah dan pencapaian Astra dengan kehadiran ojek gabah di kawasan persawahan Amohalo, di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang jauh dari pusat kegiatan Astra? Sekilas tampak tidak ada —namun sesungguhnya terasa ada dan dekat.

Tiga pendekatan dalam strategi usaha Astra setelah 50 tahun pra kemunculan Honda Revo di tahun 2007, memperlihatkan dengan jelas preposisi Astra di tengah masyarakat Indonesia di semua tingkatan dan di tengah iklim usaha yang keras. Bahwa Revo memang dirancang sebagai sepada motor untuk low segmented, namun tetap tangguh sebagai kendaraan harian. Dengan desain yang atraktif, Honda Revo dimunculkan sebagai antisipasi ramainya persaingan di segmen sepeda motor berjenis skutik dan sebagai kendaraan komuter dengan harga yang relatif terjangkau, membidik kalangan menengah ke bawah. Bagi mereka yang membutuhkan motor untuk dijadikan kendaraan harian, Revo menyajikan beragam keunggulan dibandingkan para kompetitornya. Tidak hanya kaum pekerja, tapi kalangan remaja dan mahasiswa juga menjadi target pasar penjualan Revo di Indonsia.

Inilah yang menjawab pertanyaan besar itu tadi; mengapa setelah lima dekade hadir dan melayani masyarakat, Astra kemudian meluncurkan produk yang mampu menjawab kebutuhan menengah ke bawah? Riset Astra selama bertahun-tahun dengan pendekatan (langsung dan tidak langsung) ke semua kalangan masyarakat berhasil menemukan celah dan mereduksi keinginan mereka ke dalam sebuah produk. Cara yang tampaknya sederhana namun ternyata berdampak sangat besar.

Para petani sawah di Amohalo bisa saja menggunakan produk lain, alih-alih memilih Honda Revo. Tetapi di persawahan dan medan geografis Amohalo, oleh para petani, Revo menjadi pilihan satu-satunya.

Senja menjelang saat kami meninggalkan Amohalo dengan kesan yang mendalam. Lumen merah senja seperti menjalar di langit, di atas kepala kami. Kami tidak perlu memacu kendaraan sebagaimana ketika kami datang siang tadi. Kami mau melihat aktifitas sore orang-orang di sini, saat kami berada di atas motor dengan kecepatan minimum.

Hari itu saya senang sekali di ajak oleh Frans. Saya senang menemukan orang-orang yang kreatif mengatasi masalah, atau paling tidak, saya menemukan gambaran detail bagaimana Astra menjadi perusahaan multinasional yang bisa menapaki pencapaian dan kesuksesan sebesar itu. Ya, sebab Astra memiliki sumber daya manusia Indonesia —yang menurut saya, rata-rata mampu berpikir inovatif seraya mendorong gagasan-gagasan cemerlang— yang mampu mengubah kualitas hidup di setiap era yang dilaluinya.

Tentu 60 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah kerja keras, bukan pula upaya yang mudah untuk terus memelihara komitmen pada masyarakat. Selamat berulang-tahun ke-60, Astra. Salam SATU Indonesia! [*]

 

*Feature ini diikutkan dalam Anugerah Pewarta Astra 2017 [Kategori Umum & Wartawan]

Iklan

[Buku Baru] 4 Musim Cinta | Novel | Pringadi Abdi Surya

4 Musim Cinta

4 Musim Cinta

(sebuah novel)

Terbit 13 Maret 2015 !

 

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

 

4 Musim Cinta (sebuah novel)

Penulis: Mandewi Gafur Puguh Pringadi (a.k.a Pringadi Abdi Surya)

Penerbit: Exchange

ISBN: 978-602-72024-2-9

Spek Buku: 333 hlm. | 14 x 21 cm | SC | Bookpaper

Harga: Rp 59.500,-

Email: fiksiexchange@gmail.com

Website: http://www.kaurama.com

 

“Inspiratif! Menggetarkan! Menghanyutkan! Tak kusangka bisa lahir sebuah karya hebat dari tangan para abdi negara.”

—Ahmad Fuadi, pengarang Trilogi Negeri 5 Menara.

“Ada banyak hikmah dalam novel ini. Tak hanya melulu soal cinta. Selain menyajikan suka-duka kehidupan para pegawai negara, buku ini pun bisa menjadi sebuah kritik tentang bagaimana mengatur negara seharusnya.”

—Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu RI.

“Novel ini menggambarkan kesenyawaan ragam cerita, pengalaman dan harapan yang berjejal dan lalu-lalang di layar kehidupan para pegawai negara. Sebuah upaya yang ambisius!”

—Ahmad Nurholis, inisiator penulisan 4 Musim Cinta.

“Sensasi membaca novel ini mirip ketika aku mendengarkan deep house music. Di setiap keluk dan tikungan kisahnya menyajikan kejutan atau ungkapan yang tidak bikin bosan.”

—Victor Delvy Tutupary, kandidat doktor filsafat.


[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 


[Feature] Sejarah Besar Perang Dunia ke-II di Balik Sepucuk Meriam

Sejarah Besar Perang Dunia ke-II di Balik Sepucuk Meriam

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

SEJARAH BESAR DARI SEPUCUK MERIAM3

Foto meriam di atas adalah meriam anti-pesawat sisa Perang Dunia ke-II yang ditempatkan di pesisir timur kota Kendari, menghadap tepat ke laut Banda. Tepatnya, saat ini berada di kelurahan Mata. Selama ini, warga kota Kendari menyebutnya sebagai Meriam Jepang atau Bungker Jepang.

Disebut Bungker Jepang dikarenakan bentuk bangunan yang melingkupi meriam ini. Menurut saya, bentuk bangunan ini sendiri sangat aneh. Bangunan —yang juga tak tepat disebut bungker itu— seharusnya tidak bisa menutupi ruang meriam seperti itu.

Meriam ini adalah senjata anti-pesawat dengan sudut elevasi 75 derajat dan maksimum vertikal 26 ribu kaki. Sangat aneh jika ada bangunan yang menutup ruang tembaknya. Posisi atap bangunan yang rendah sangat mustahil bisa membuat laras senjata sepanjang 10 feet itu dibuat tegak vertikal.

meriam ini diambil dari pertahanan sekutu di pulau yap (philipina)

Artinya, pemerintah setempat telah keliru melakukan restorasi pada benda sejarah ini. Kendati kontruksi bangunan itu bertujuan melindungi benda bersejarah ini, namun ada baiknya mereka melakukan riset terkait jenis dan kegunaan benda dimaksud.

Faktanya, di pesisir timur kota Kendari, seharusnya ada sekitar delapan meriam seperti ini (dalam model yang berbeda). Untuk meriam sejenis ini seharusnya berjumlah tiga dan ditempatkan dalam jarak tertentu untuk menghalau pesawat pembom. Sejatinya itu bukan meriam Jepang, tetapi kanon anti pesawat udara milik KNIL-Belanda yang dipampas pasukan Jepang. Menurut warga, jumlahnya kini tersisa dua saja. Saya tak sempat melihat meriam yang satunya lagi, sebab informasi yang saya terima tidak jelas tentang letaknya. Satu meriam lagi, saya duga, telah dipreteli warga dan dijual sebagai besi tua.

Meriam ini adalah AA Guns Model 10 (1921) 3-Inch (Anti-Aircarft Guns Model 10 produksi tahun 1921), kaliber proyektil 76.2 mm (3 inci). Maksimum vertikal 26.000 kaki, maksimum elevasi +75°, maksimum depresi -5°, maksimum lintasan 360°, kecepatan 2240 kaki per detik, panjang laras 10 kaki 8 1/2 inci, kecepatan tembakan 10 – 12 putaran per menit, berat proyektil 12,7 pounds dengan daya ledak tinggi.

Daya ledak tinggi proyektil-nya sekaligus adalah kelemahan senjata ini. Operator harus mewaspadai saat laras senjata menjadi panas akibat tembakan berulang-ulang. Kadangkala, mulut laras pecah karena panas proyektil yang meluncur. Contohnya dapat dilihat pada Model 10 (1921) 3-Inch AA Guns yang ditemukan di Pulau Yap, 1350 kilometer sebelah timur pulau Mindanao, Filipina. Mulut meriam ini pecah dan mekar. Tentu saja, ledakan pada mulut meriam ini mengakibatkan operatornya tewas.

Tentara Jepang menyebut senjata ini sebagai 8-cm, kaliber 40, senjata sudut tinggi. Digunakan untuk anti-pesawat serta pertahanan pesisir. Untuk mengimbangi berat laras dominan, sebuah equiliberator dipasang pada dasarnya. Menggunakan sistem hydropneumatic dengan breechblock yang bisa bergeser. Ada fitur silinder panjang di bagian atas tabung.

Dari label yang saya lihat di bagian belakang meriam, tertera nama Bethlehem Steel Corporation, nama perusahaan yang memproduksi senjata ini. Jadi jelas, artileri ini telah dirampas pasukan Jepang dari tangan pasukan KNIL-Belanda.

Bethlehem Steel Corporation, didirikan pada 1857, perusahaan yang awalnya pabrik baja berbasis di Bethlehem, Pennsylvania, Amerika Serikat. Perusahaan ini pernah menjadi perusahaan baja terbesar kedua di AS setelah US-Steel. Pabrik ini pertama kali mendapat pesanan pembuatan senjata dari pemerintah Amerika Serikat pada Perang Dunia ke-I. Pada masa kejayaannya, Bethlehem Steel juga merupakan salah satu perusahaan pembuat kapal terbesar di dunia dan merupakan salah satu simbol industri Amerika. Pasukan Amerika Serikat yang membawa senjata-senjata produksi BSC melintasi Eropa selama perang berlangsung dan akhirnya digunakan banyak pasukan Eropa. Pada tahun 2001, perusahaan ini menyatakan diri bangkrut akibat lesunya industri baja di AS serta masalah pada pengelolaan perusahaan. Menyusul pengumuman itu, perusahaan dan seluruh asetnya diakuisisi oleh International Steel Group pada tahun 2003.

Sebenarnya ada sejarah besar di balik sosok Meriam Model 10 (1921) 3-Inch AA Guns di kelurahan Mata ini. Sebuah kisah sejarah yang sangat menentukan keberlanjutan kampanye Bala-tentara Kekaisaran Jepang dalam Operasi Selatan-Selatan (invasi dan pendudukan Autralia).

 

Pangkalan Angkatan Laut Utama Kendari (Kendari Naval Base)

Selama Perang Dunia ke-II, Kendari adalah titik yang penting digunakan sebagai pangkalan angkatan laut dan udara oleh kedua belah pihak: Jepang dan Sekutu. Terlebih dalam taktik perang Jepang. Posisi Kendari sangat penting bagi upaya Jepang untuk kampanye Invasi Selatan-Selatan dalam misi menguasai Australia.

appendix11

Dalam strategi perang laut dan udara Jepang, Kendari merupakan titik tumpu bagi kapal dan pesawat tempur Jepang mencegat rute kapal dan pesawat sekutu dari Hindia Belanda menuju Australia, dan sebaliknya. Dari Kendari, Jepang mengisolir Australia dari bantuan sekutu selama Perang Dunia II, sekaligus menjadikan Kendari sebagai basis pesawat pembom Jepang untuk menjangkau pusat-pusat pertahanan sekutu dan tentara pejuang Republik Indonesia di Jawa (seperti Surabaya, dll.) dan Kepulauan Timor (seperti Kupang).

Pada malam tanggal 23-24 Januari 1942, perwira dan tentara dari Unit Infantri Khusus Angkatan Laut Jepang (Sasebo) dari Komando Gabungan Pasukan Pendaratan Angkatan Laut (Naval Landing Force Commands) Jepang, menuju bagian selatan Kendari. Dalam beberapa jam saja, pasukan ini segera mencapai tujuan operasi mereka malam itu; Pangkalan Angkatan Laut Utama Kendari (Kendari Naval Base).

Staring Bay

Detasemen Penjaga Pantai KNIL tidak bisa mengontak sebagian pasukan mereka, karena jalur komunikasi telah disabotase. Kondisi ini membuat panik semua orang di tempat itu, termasuk anggota detasemen dan itu membuatnya pasukan Jepang dengan mudah menguasai lapangan udara. Sedikit perlawanan yang dilakukan sejumlah prajurit Detasemen Penjaga Pantai KNIL segera diredam, walau mampu membuat dua tentara Jepang terluka. Lapangan Udara Kendari tidak dihancurkan sepenuhnya. Pada malam tanggal 24 Januari 1942, adalah awal Bala-Tentara dari Timur (The Eastern Force) Jepang memasuki wilayah Kendari.

Kaigun Tokubetsu Rikusentai yg terdiri dari 1st & 2nd Sasebo SNLF

Tetapi, ada sebuah pesawat Childs (buatan tahun 1920 yang bersenjatakan empat main armament ukuran 2 x 10.2cm) yang segera mengudara saat menyadari datangnya serbuan pasukan Jepang. Pesawat itu mampu menghindari rentetan tembakan dari dua kapal perusak Jepang karena terhalang hujan dan badai ketika itu. Tak ingin pesawat itu lolos sehingga bisa mengabarkan pendaratan pasukannya di Kendari kepada pihak sekutu, Jepang segera menerbangkan 6 pesawat Zero untuk mengejar di ketinggian 800 kaki. Beruntung, kabut dan pekatnya langit malam ternyata menolong pesawat Childs itu melarikan diri ke arah selatan dengan sedikit kerusakan. Malam, menjelang 24 Januari 1942 itu, Kendari dikuasai Jepang.

Esoknya, perwira dan tentara Sasebo berparade di jalan-jalan Kendari.

Sebagian besar perwira pasukan KNIL-Belanda, seperti Kapten F.B. van Straalen ditangkap Jepang. Beberapa perwira yang berhasil meloloskan diri, sempat melakukan perlawanan gerilya dari pegunungan Nipa-Nipa untuk waktu yang singkat, sebelum akhirnya tertangkap. Sedikit sekali dari mereka yang berhasil melarikan diri ke beberapa pulau kecil yang mereka anggap aman. Kendari Naval Base adalah pangkalan udara terbaik di Hindia Belanda (Indonesia) dan langsung dimasukkan sebagai pangkalan udara paling penting dalam 21th Flotilla Air Operation oleh Jepang untuk Invasi Selatan-Selatan.

Pada 25 Januari, 25 pesawat Angkatan Udara Jepang mendarat di Kendari Naval Base, dan esoknya, 26 Januari, 27 pesawat pembom lainnya ikut bergabung.

 

Logistik Tempur Jepang Berikutnya Ikut Hadir.

Pada bulan Maret 1942, dua kapal induk (mother-ship); Hiryu dan Soryu, dari Skuadron ke-2 Angkatan Laut Jepang, berlabuh tak jauh dari Staring Bay, Kendari. Dua kapal induk itu diikuti dua Seaplane dari Divisi ke-11 dan dua kapal patroli jenis P-34 dan P-39.

japanese-aircraft-carrier-hiryu-staring-bay-kendari

Mother-Ship Hiryu mengangkut 64 pesawat tempur (19 pesawat jenis Mitsubishi A6M Zero, 18 pesawat jenis Aichi D3A, 18 pesawat jenis Nakajima B5N, termasuk sembilan Spares Plane). Sedangkan Mother-Ship Soryu juga mengakut 63 pesawat tempur dengan jenis-jenis pesawat yang sama, termasuk sembilan pesawat angkut.

japanese-aircraft-carrier-soryu-staring-bay-kendari

Sedangkan dua Seaplane Chitose dan Mizuho, mengangkut 48 Tenderplane, termasuk pesawat amfibi, 30 aircraft, empat Tenderplane dengan Catapults, dan dua Aircraft Carrier Elevators.

japanese-seaplane-carrier-chitose-kendarijapanese-seaplane-tender-mizuho-kendari

Ini jelas kekuatan yang tak main-main. Jepang sangat serius menjadikan Staring Bay sebagai Pangkalan Angkatan Laut Utama (Naval Base) mereka di Kendari sebagai titik mulai pendudukan atas Australia. Bahkan untuk mendukung serangan itu, dua kapal induk, Hiryu dan Soryu dihadirkan.

Dua kapal induk ini adalah dua kapal yang terlibat langsung dalam serangan Jepang atas Indochina-Prancis di pertengahan 1940. Keduanya beroperasi penuh selama Perang Pasifik, dan menjadi penentu keberhasilan serangan Jepang atas Pearl Harbor dan Wake Island War (Pertempuran Pulau Wake). Kedua kapal juga menjadi penentu penaklukan Jepang atas Hindia Belanda pada Januari 1942.

Para pakar sejarah-militer Indonesia selalu luput menuliskan posisi Kendari dalam peta sejarah okupasi Jepang 1942-1945. Mereka—dan banyak pakar sejarah lainnya—seolah tidak menyadari dan seperti berusaha menutupi kenyataan bahwa Armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pernah menjadikan wilayah ini sebagai Pangkalan Angkatan Laut Utama (Naval Base) dengan Staring Bay sebagai ploting area. Tak ada pakar sejarah-militer Indonesia yang menyadari kehadiran dua kapal induk penting dalam sejarah kemiliteran modern Jepang di tempat itu.

Bertolak dari Kendari Naval Base, dari atas geladak kapal induk masing-masing, pesawat-pesawat pembom Jepang membombardir Darwin, Australia pada 2 Mei 1943. Peristiwa itu sangat dikenal dengan call-sign Raid on Darwin. Serangan atas Australia itu untuk melebarkan jalan bagi misi lanjutan penaklukan Hindia Belanda (Indonesia) dan Pasifik.

Map of the Dutch East Indies 1941-1942

Sebulan sebelumnya, pada April, pesawat-pesawat Zero dari kapal induk Hiryu berhasil menenggelamkan dua kapal penjelajah berat Royal British Army (Pasukan Kerajaan Inggris) dan beberapa kapal dagang sekutu selama serangan di perairan Hindia-Belanda.

Catatan sekutu menyebut: The Kendari Naval Base and airfield was extremly important as the Japanese could now control the important life line from Australia to Java Island and they could also bomb Java Island (Soerabaja Naval Base among others) itself.

aircraft-kendari

Beberapa lapangan udara kecil di pesisir Kendari didirikan untuk mendukung Kendari Naval Base di Staring Bay—perairan bagian selatan kota Kendari saat ini.

Kekuatan pasukan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang ada di Kendari, tentu tak sebanding dengan pasukan Jepang yang datang dengan kekuatan yang lumayan besar. Saat kekuatan Sasebo Jepang menyerang dan menduduki Kendari, pasukan KNIL-Belanda hanya berjumlah kurang dari 400 orang dengan peralatan tempur seadanya. Kekuatan KNIL di Kendari itu sudah termasuk perwakilan Militaire Luchtvaart (Nederlands-Indie Air Force) atau Angkatan Udara Hindia-Belanda, dan Royal Dutch Navy (Angkatan Laut Kerajaan Belanda) yang diperbantukan pada Zeemacht Nederlands-Indie (Angkatan Laut Hindia-Belanda). Saat Jepang menyerang dan menduduki Kendari Naval Base, tidak ada satupun pesawat NIAF yang terparkir dan tak ada kapal perang RDN-ZNI sedang berlabuh.

Garnisun KNIL-Belanda di Kendari saat itu berada di bawah komando Kapten F.B. van Straalen. Garnisun ini terdiri dari unit KNIL-Infantry Company yang berisi 20 regu independen (sudah termasuk perwira dan tentara) dan dilengkapi empat mobil lapis baja di bawah komando Kapten E.G.T. Anthonio. Pasukan ini hanya memiliki dua Anti-Aircraft Battery (40mm guns), tiga Anti-Aircraft Machine-Gun Platoon (AAMG), dan tiga Anti-Aircraft Model 10 (1921) 3-Inch Guns.

SEJARAH BESAR DARI SEPUCUK MERIAM2

Kondisi kekuatan Garnisun KNIL-Belanda terhadap posisi para pejuang rakyat Kendari, ini tampaknya aneh. Dengan lekuatan personel dan persenjataan yang minim seperti itu, entah kenapa para pejuang rakyat Kendari tak mampu mengungguli KNIL. Jawaban yang paling logis adalah KNIL berhasil menerapkan psy-war sehingga kelemahan pasukan mereka tak terdeteksi oleh pejuang rakyat.

Selain Nippon Air Group Force yang berada di bawah komando Laksamana Ryutaro Fujita di atas, berikut tercatat pula sejumlah kekuatan yang mendukung Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) yang ditempatkan di Pangkalan Angkatan Laut Utama Jepang di Staring Bay Kendari :Pasukan Khusus Sasebo (Unit Infantri Khusus Angkatan Laut) di bawah komando Kapten Angkatan Laut Kunizo Mori.

japanese-105mm-antiaircraft-gun-kendari

Bala-Tentara dari Timur (The Eastern Force) di bawah komando Laksamana Takahashi Ibo dengan tujuan pendaratan dan pendudukan di Menado, Kendari, Ambon, Makassar, Timor dan Bali. Konvoi The Eastern Force yang menuju Kendari berjumlah enam kapal transportasi mengangkut pasukan Sasebo. Konvoi pengawalan untuk kapal ini di bawah komando Laksamana Kyuji Kubo di atas kapal penjelajah ringan, Flagship.

Type 92 10cm Cannon

Armada besar The Eastern Force itu dikawal empat kapal perang Destroyer Divisi ke-15 (Natsushio, Kuroshio, Oyashio, Hayashio) dan empat kapal perang Destroyer Divisi ke-16 (Yukikaze, Tokitsukaze, Hatsukaze, Amatsukaze); lima Komando Pasukan Minsweeper ke-21 Divisi ke-1 (Weeper-7, Weeper-8, Weeper-9, Weeper-11, Weeper-12), ditambah dua kapal selam pengejar dari Divisi ke-1 (Chasers-1, Chasers-2).

japanese-type-5-large-escort-boat-kendari

Pasukan Cadangan dari Cruiser Skuadron ke-5 dengan tiga Heavy Cruisers Flagship (Nachi, Haguro, Myoko) dan dua kapal perusak (Ikazuchi dan Inazuma) dari Destroyers Divisi ke-6. Unit Cadangan ini di bawah komando Laksamana Takeo Takagi.

Sejumlah mobil lapis baja beratap terbuka (overvalwagens).

Para operator pesawat tempur jenis Mitsubishi Zero A6M2 Model 21 Type 0 Carrier Fighter dari Skuadron 3rd Air Corps, tidak beroperasi langsung di bawah komando Laksamana Fujita. Mereka mendapat penugasan khusus dengan membom Ambon untuk memberikan perlindungan dari sisi timur selama pendaratan Jepang di Kendari. Kapal-kapal pengangkut pesawat Jepang tiba di perairan timur Pulau Halmahera tepat pada 23 Januari 1942, saat bersamaan ketika Sasebo mendarat di Kendari.

Mitsubishi Zero A6M2 Model 21 Type 0 Carrier Fighter

Heavy Cruisers Flagship Myoko yang mengalami kerusakan selama misi pemboman di Davao City, Filipina pada tanggal 4 Januari 1942, harus kembali ke Kendari Naval Base untuk perbaikan. Myoko kemudian meninggalkan Kendari Naval Base pada tanggal 20 Februari dan tiba di Makassar enam hari kemudian. (IQM)

 

Foto-foto:

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu on Staring Bay (Kendari Naval Base) Januari 1942

Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu on Staring Bay (Kendari Naval Base) Januari 1942

Seaplane Aircarft Carrier Mizuho (CVS 5-7) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Seaplane Aircarft Carrier Chitose (CVS 3-4) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Seaplane Aircarft Carrier Chitose (CVS 3-4) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Anti-Aircraft Battery Gun Type-3 (140mm)

Anti-Aircraft Battery Gun Type-3 (140mm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Marcial Antonio Requelme

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

AKU teringat pada kawan Marcial Antonio Requelme, lelaki asal Paraguay. Marcy sebagai nama yang kukenali. Marcy pernah menuliskan suatu kalimat di balik sampul buku koleksiku:

“Mahasiswa yang bernafas kini adalah di jaman revolusioner. Pada saat rakyat memberontak dan menentang kolonialisme, feodalisme, imperealisme dan diktator dengan tujuan satu kemerdekaan penuh, cukup makan, kemanusiaan, dan pendidikan. Diktator dan kelaparan adalah musuh mahasiswa.”

Goresan pena Marcy itu entah kutipan siapa. Itu mungkin kutipannya, atau barangkali juga kutipan orang lain. Dia tak membubuhkan penanda quote pada bagian akhir kalimat panjang itu. Aku yakini saja bahwa itu memang kutipanmu yang berangkat dari prinsip prinsipmu.

Ah, Marcy…tulisanmu itu masih ada di balik sampul buku Sangkur dan Pena koleksiku, tapi kini engkau entah dimana. Kabarmu tak pernah kudengar lagi, kecuali email terakhirmu yang kau kirimkan padaku awal tahun 2001, bertepat di tanggal kelahiranku; 8 February.

Barangkali sekarang Marcy sudah mati. Aku tak pernah menyesali kematiannya—jika benar benar dia telah mati. Sebab dia dan aku tahu, itulah resiko terkecil dari prinsip dan jalan hidup yang kami pilih. Yang aku sesalkan, sampai tahun 2008, mengapa tak ada yang memberitahuku perihal kabarnya, berterus terang padaku tentang kabar kematiannya.

Ketika itu, kawan kawannya tak pernah mau menjawab pertanyaanku dengan tuntas, selalu dibelokkan dengan basa basi yang tak perlu kuketahui. Begitupun kekasihnya, Erica (Erica Gloria Rosaria) selalu berbelit belit menjawabku saat kutanyakan bagaimana kabar Marcy.

Suatu kali, di tahun 2008, aku merasa harus mengakhiri kepura-puraan Erica. Aku meneleponnya via sambungan international ke nomor telepon yang diberikannya padaku via email. Begitu aku sebut namaku, suara Erica terdengar senang. Dua menit berikutnya suaranya berubah, dan selebihnya aku hanya mendengarkan suara tangisnya yang pilu. Aku langsung tahu, dan aku mulai mengerti. Kuakhiri sambungan telepon itu tanpa pamit padanya. Aku merasa sayang harus mensia-siakan uang untuk mendengar tangisnya saja di dua menit berikutnya.

Sepekan berselang setelah itu, saat membuka email, kutemukan surat Erica. Bertanggal 14 Maret. Itu empat hari setelah aku meneleponnya. Aku melewatkan surat itu tiga hari. Dalam suratnya, Erica meminta maaf atas sikapnya terakhir kali itu.

Dia merasa senang ketika aku menelepon waktu itu. Senang, sebab aku masih ingat padanya, walau kami tak terlalu akrab. Memang, aku mengetahui Erica hanya karena dia kekasih Marcy saja. Selain itu aku tak banyak mengetahui perihal tentangnya. Dia tahu banyak tentangku lewat cerita Marcy. Dan, diakuinya, bahwa sikapku itu cukup membuatnya menangis haru, sebab aku tak pernah melupakan kekasihnya, Marcy dan padanya.

Dan akhirnya, Erica secara terbuka mulai menceritakan mengapa kami kehilangan kontak di beberapa tahun terakhir. Selain hanya mengenalku secara pribadi lewat cerita Marcy, perempuan itu merasa segan harus membuka pembicaraan perihal sesuatu yang akan membuatnya sedih. Erica menduga, aku akan ikut sedih begitu tahu seperti apa nasib Marcy. Barangkali memang akan begitu.

***

Pertama kali bertemu Marcy saat aku berkunjung ke Bali, sekitar pertengahan tahun 1996. Aku datang ke pulau itu disebabkan sebuah undangan, dan Marcy hanya berkunjung biasa, sebagai turis. Kebetulan kami di hotel yang sama. Aku tahu, Marcy banyak memperhatikanku ketika sedang tekun membaca. Beberapa kali dia hendak menghampiriku dan berkenalan, namun ragu…barangkali tindakannya itu akan menggangguku ketika sedang membaca.

Dia salah. Saat membaca…konsentrasiku tentu berpusat pada bacaanku, tetapi aku pun masih peka situasi di sekelilingku. Itulah mengapa aku tetap tahu…Marcy itu rupanya memperhatikanku. Dia sendirian saja. Tak bersama kekasihnya, Erica. Marcy duduk pada set sofa di seberang set sofa yang aku tempati, di lobby Wisma Yani, di jalan yang bersisian dengan pantai Kuta. Kuangkat kepalaku dan aku tersenyum padanya. Aku tutup buku pada batas yang sudah kutandai sebelumnya, mengangkatnya tinggi tinggi ke arahnya, sambil mengirim isyarat padanya dengan kerutan kening dan kedua bahuku yang terangkat; “What wrong with me, brother? Why U look at me like that?”—begitu arti isyarat yang kemudian dia mengerti.

Marcy lantas berdiri dan berjalan menyeberang ke set sofa dimana aku berada, menghampiriku, dan mengangsurkan tangannya bersalaman. Di situlah saat pertama kami bertemu.

Aku tanyakan padanya…apa yang aneh padaku sehingga menarik perhatiannya. Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. Tertawanya renyah, rupanya dia itu mudah akrab. Marcy senang pada gayaku ketika membaca. Duduk santai, melipat kaki sebagai tumpuan buku dan sebelah tangan menggantung sambil memainkan sebuah koin. Ya, sebuah koin. Seperti yang diterangkan Marcy, kerap aku memainkan sebuah koin di tangan kananku saat membaca. Itu koin tiongkok bertera huruf tiongkok di kedua sisinya. Pada satu sisi tertera angka 10 yang dikelilingi bunga, sedang di sisi sebaliknya ada karakter seorang pria plontos, yang aku duga sebagai Dr. Sun Yat Sen. Entahlah. Koin itu sudah ada padaku sejak lama, aku lupa kapan. Selalu ada disakuku. Pernah sekali aku nyaris salah membayarkannya saat belanja.

Kami berdua banyak bertukar kisah saat itu, dan beberapa hari setelahnya. Bahasa Inggrisnya lucu, fasih namun diucapkan dengan langgam Spanyol berdialek Guarani. Aku kemudian mengetahui bahwa dia itu mahasiswa hukum di Universitas National Asuncion, tingkat tiga. Ikut di banyak pergerakan di negaranya untuk memprotes kebijakan presiden Juan Carlos Wasmosy Monti yang dianggap sebagian besar rakyat Paraguay sebagai diktator.

Marcy sangat membenci kelaparan. Itu nasib paling buruk yang bisa dialami manusia. Paling tidak, itu menurut Marcy. Aku pun setuju saja. Marcy berkisah secara terbuka…mengapa mereka (kaum mahasiswa) di Paraguay terlalu peka pada persoalan seperti itu. Ternyata itu pun hanya sebagian kecil dari keadaannya dan keluarganya di masa lalu.

Keluarga besar Marcy hidup di pinggiran Asuncion yang kumuh. Marcy kecil kerap tak makan seharian, dan baru pada esok harinya, dia akan menyantap masakan yang dibuat sederhana oleh ibunya. Makan bagi mereka suatu yang mewah. Tak perlu kenyang, kata Marcy. Yang penting bisa merasakannya saja…itu sudah baik. Untuk sepanci kecil masakan ibunya, Marcy harus berbagi dengan tiga saudaranya yang lain.

Suatu ketika, ibunya jatuh sakit, sehingga tak ada kesempatan memasak buat mereka. Nyaris dua hari Marcy dan tiga saudaranya kelaparan, sampai seorang tetangganya bernama Mohemmed Massud Passula, seorang muslim turunan Paraguay, datang pada malam hari. Massud tertarik menengok mereka sebab sempat mendengar Fontada, adik Marcy, terisak isak kelaparan.

Massud lalu membawa mereka berempat, setelah sebelumnya meminta ijin pada ibu mereka. Massud menenangkan ibu Marcy, untuk tak khawatir. Marcy nyaris tak mau ikut sebab khawatir dengan kondisi ibunya…tapi Massud menenangkannya dengan bilang, bahwa ibunya baik baik saja.

Malam itu juga, Massud memasak banyak sekali. Keempat anak malang itu makan sampai kenyang. Saat hendak kembali pulang, Massud membekali Marcy dan adik adiknya serta ibunya, setempayan besar penuh makanan. Massud tahu ibu Marcy belum terlalu kuat untuk memasak, jadi sebaiknya ibunya istirahat saja. Makanan itu habis dalam tiga hari berikutnya, saat ibu Marcy sudah cukup kuat untuk menjaga keempat anaknya.

“Bapak Massud itu masih hidup. Beliau seorang muslim yang baik. Tak pernah marah pada tetangga. Bersama istrinya, dia sering meringankan beban ibuku. Bahkan karena itulah, ibuku pernah marah besar pada seorang tetangga lain yang mengganggu keluarga Massud.” Kata Marcy. Wajahnya berseri seri ketika bercerita perihal ibunya dan keluarga Massud. Rupanya peristiwa itu begitu membekas padanya.

Ayah Marcy tak ada. Lelaki itu meninggalkan ibunya saat kelahiran adik Marcy yang nomor dua, Manuella. Lelaki itu tak pernah kembali, dan entah sekarang dimana. Marcy dan ibunya yang bekerja bahu membahu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sekeluarga. Apa saja akan dilakukan Marcy agar ibu dan ketiga adiknya bisa makan dan bersekolah. Intensitas kerja serabutan yang dilakukan Marcy mulai agak berkurang sejak dia masuk ke universitas.

Marcy lalu bekerja magang di sebuah firma hukum, dan sedikit demi sedikit menerima penghasilan yang layak. Perubahan mulai terjadi di keluarganya.

Namun soal pembangkangan yang mereka lakukan pada pemerintahan Paraguay yang sedang berkuasa, ingatanku melayang pada perlawanan rakyat Chili pada Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte, dan pada Salvador Allende.

Tapi soal pembangkangan itu, aku awalnya tak mengerti. Sebab berita berita yang aku sering baca soal Paraguay tidak terbetik sedikitpun masalah atau skandal. Marcy menyangkal dengan keras pemberitaan media macam itu. Yang terjadi di Paraguay, menurut Marcy, terbalik sama sekali.

Menurut Marcy, pergerakan mereka didasari atas ketidakstabilan politik yang memicu resesi ekonomi di bawah pemerintahan Juan Carlos Wasmosy Monti—berikutnya dalam surat suratnya, Marcy pun bercerita tentang keburukan pemerintahan baru lainnya, seperti; pemerintahan presiden Raul Cubas Grau (yang mengundurkan diri karena terlibat dalam pembunuhan atas wakil presidennya sendiri), dan presiden Luis Angel Gonzales Macchi.

Akibat dari kericuhan itu banyak aktivis yang dibungkam dengan pemenjaraan dan penghilangan. Tekanan dari kalangan aktivis membuat Partai Liberal Radikal Otentik mengancam akan keluar dari koalisi. Akan ada rencana kudeta, begitu kata Marcy. Aku mendengarkannya dengan saksama.

Kondisi Paraguay saat itu tidak berbeda jauh dengan kondisi Indonesia yang sedang memasuki masa transisi. Gejalanya sudah mencuat, dan bermunculan secara spartan. Kami makin sering bertukar kisah tentang kondisi dan perkembangan terbaru di negara kami masing masing melalui email saat Marcy kembali ke negaranya. Seringkali kisah kisah itu menjadi bahan diskusi seru via email, apalagi saat kawan kawan pergerakannya juga mulai ikut ikutan dalam diskusi.

Diskusi macam itu makin intens ketika gerakan perubahan menyentuh Indonesia sejak tahun 1997-1998. Aku kerap menuliskan padanya berbagai kisah heroik kawan kawan mahasiswa, kisah lucu atau bahkan aneh pada semua entitas pergerakan kami. Kukirimi dia foto kekacauan di Jakarta 17-19 Mei 1998, dan di beberapa kota lainnya.

Bahkan tak lupa aku kirimi dia catatan pergerakan besar yang terjadi di Kendari saat 24 Mei (aku kembali ke Kendari pada 22 Mei 1998). Pergerakan yang melumpuhkan kota itu dalam sehari. Tak ada aktivitas militer. Mahasiswa dan penduduk lainnya memenuhi jalanan. Markas Kodim, markas Korem kosong, hanya dijaga beberapa orang berpakaian sipil tanpa senjata. Kantor gubernuran pun demikian. Sunyi. Saat rombongan besar mahasiswa datang hanya di temui seorang tegas dan masih keturunan Lakilaponto, raja di Tongkuno. Laode Kaimoeddin yang menjabat gubernur Sulawesi Tenggara ketika itu, keluar menemui mahasiswa, dan beliau hanya menurut saja ketika mahasiswa memaksanya menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kacau nyaris terjadi saat seorang Polisi Pamong Praja, merasa sok tahu dan berusaha mencegah. Kami ‘mengamankan’ Pol-PP itu, lalu menurunkan bendera setengah sambil berlagu Indonesia Raya. Gubernur yang baik itu hanya dapat menghormat dengan tegap dan gagah.

Yang lucu, saat rombongan mahasiswa melintas di depan Markas Polisi Daerah Sultra. Tak ada polisi seorang pun yang tampak. Markas Polda itu justru dipenuhi ibu ibu Bhayangkari yang siap dengan puluhan doz besar berisi nasi campur dan puluhan galon air mineral. Ibu ibu itu justru menjamu mahasiswa ketika 26 truk besar melintasi jalan utama di depan kantor suami mereka, saat sedang konvoi menuju bandara untuk tujuan penguasaan.

Ya, kamilah yang menggerakkan demo besar itu. Aku, bersama kawan-kawan Saleh Hanan, Jusuf Tallama, Imam As’roi, Bambang Hendratmo (Alm.), Irianto Ibrahim, Jayadi, Iwan Rompo, Haris Palisuri, Rasman Manafi, Endang SA, Mastri Susilo, Hayani ‘Theo’ Imbu, Ruslan Adijaya, Boy, Deli, Arminus Wuniwasa dan Adi (keduanya dari barisan LMND) dan beberapa kawan lainnya yang tak teringat lagi olehku.

***

Ah, Marcy…aku ingat padamu kembali malam ini. Saat memandangi koleksi bukuku pada rak yang sesak. Mataku tak sengaja melihat kembali buku Sangkur dan Pena yang bersampul merah dan putih itu. Di sanalah aku menemukan kembali jejakmu. Tulisan tanganmu itu.

Lalu, aku temukan semua jawaban atas semua pertanyaanku lewat kekasihmu, Erica itu. Erica membenarkan telah terjadi kudeta yang dilancarkan kelompok oposisi yang diboncengi mahasiswa. Marcy ikut didalamnya. Marcy tak kenal lelah menyuarakan kepentingan “orang kelaparan”. Sekali Marcy ditangkap, lalu dibebaskan. Begitu kisah Erica dalam suratnya.

Kudeta memang akhirnya terjadi pada tahun 2000. Marcy dan kawan kawannya mulai menyerang secara subtantif kepentingan LA Gonzales Macchi. Ikut mendesak Senat dan Majelis Rendah untuk meng-impeachment presiden Macchi. Gerakan kudeta tak berdarah itu, kata Erica, gagal total. Sebab kubu pendukung presiden Macchi sangat kuat di Senat. Benturan dan aksi Marcy dan kawan kawannya yang gagal itu, membuat Erica kehilangan dua kali; aksi itu sendiri dan Marcy yang ditangkap kembali.

Sejak itu, Erica dan kawan kawan Marcy yang sempat lolos dari penangkapan tak pernah lagi mendengar kabar Marcy. Seorang kerabat Erica yang bekerja di kepolisian nasional Paraguay hanya menyebut Marcy “tewas ditahanan oleh sebab yang tidak diketahui”.

Erica sedih bukan main. Kondisi itu diperparah dengan tidak pernah adanya kepastian bagaimana jenazah Marcy bisa dikembalikan kepada keluarganya. “Tak ada. Tak pernah ada informasi atau niat baik pemerintah Macchi untuk membeberkan sejumlah kasus itu”. Demikian di bagian tengah dari surat Erica. Artinya, kawan baikku…Marcy, memang sulit diketemukan lagi.

Tulis Erica di email-nya :

“Kawan Ilo, kami ada harapan menemukan kebenaran perihal nasib Marcy ketika Macchi gagal mempertahankan jabatannya di pemilu 2003. Kami mendesak presiden baru Nicanor Duarte untuk membongkar kebusukan pejabat kepolisian dan siapa saja yang berada dibelakangnya, atas sejumlah kasus kematian aktivis. Aku, dan keluarga Marcy, khususnya ibunya…akan sangat berterima kasih pada pemerintah Duarte jika cukup diberitahu soal makam Marcy dan aktivis lain yang ikut mati bersamanya. Tapi…itu tak pernah terjadi.”

Marcy dan Erica memanggilku dengan nama kecilku; Ilo. Mereka suka menyebutnya begitu, sebab singkat dan mengingatkan mereka dengan ILO (organisasi buruh UN). Aku suka senyum (nyaris tertawa) jika mendengar mereka menyebutku dengan nama itu…pada lidah mereka yang ‘terlipat’.

“Satu satunya harapan Marcy yang terwujud adalah terbongkarnya skandal penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan mantan presiden Macchi. Orang sesat itu dihukum enam tahun penjara dua tahun yang lalu (2006).”

Surat Erica ini bertahun 2008. Jadi dua tahun sebelumnya, saat kubaca email Erica, musuh Marcy sudah dijebloskan ke penjara.

***

Ah, Marcy…kau membuatku ingat padamu lagi, kawan. Sejak kabarmu tak aku dengar atau kerap aku baca lewat surat surat elektronikmu…rupanya kau telah lama hilang. Erica cuman bisa mengenangmu dengan tangisannya. Perempuan itu dipinang teman dekatmu…namun dia jujur bilang dalam suratnya; tak pernah bisa melupakanmu. Calon suaminya, yang juga kawanmu, tahu benar soal derita Erica itu. Makanya, setiap hari dia berusaha keras menemukan dan mengumpulkan setiap informasi soal keberadan kuburanmu atau sedikit saja petunjuk mengenai sejumlah kematian di sel tahanan diktator Macchi.

Menurut Erica, calon suaminya itu merasa tak pernah bisa benar benar dicintai olehnya, jika belum bisa menghapus bayang bayangmu dari fikiran Erica.

Ah, Marcy…telah kutulis pula balasan surat untuk Erica. Intinya aku sudah cukup senang mengetahui semua hal yang mereka sembunyikan selama ini. Tak ada lagi kepura-puraan perihal dirimu, kawan. Aku mengirimkan doa buatmu lewat Erica. Pada perempuan itu, aku minta agar dia mencoba berdamai dengan dirinya, dengan hatinya. Sehingga dia tak terbelenggu semua kenangan tentang kalian. Aku menaruh iba pada lelaki kawanmu, yang meminang dirinya itu… Tak mudah menemukan calon suami yang baik seperti dia. Aku meminta Erica tidak mensia-siakan usahanya. Aku minta Erica melupakan semua kenangan tentangmu dan mulai belajar mempercayai calon suaminya. Tapi aku pun memintanya tak surut untuk terus mencari makammu.

Ah, Marcy…sudah dulu kawan. Aku telah berusaha memelihara kenangan perkawanan kita. Aku tak tahu kini engkau sebahagia apa…tapi aku yakin engkau sekarang lebih tenang dari siapapun.

Marcy…dimana pun engkau…demi semua prinsipmu, aku senang telah mengenalmu.

Demi perkawanan kita; …kini tenanglah. ***

Kendari, 03 Januari 2011

Marcy dan Erica di salah satu sudut cafe di Paraguay, 1997 (foto: dok. Erica & Marcy)

Tunangan Erica dan Ibu Marcy di depan kantor Polisi Paraguay, 2008 (foto: dok. Erica)


%d blogger menyukai ini: