Category Archives: Pertala

[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).

Iklan

[Pertala] Kamar Merah | H. G. Wells

Kamar Merah

Oleh H. G. Wells

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

TheRedRoom565

KUPIKIR, orang-orang jompo kerap mengoceh untuk mengenyahkan ketakutan mereka. Kupandangi sekeliling tempat ini dan mendapati diriku dalam cermin tua di sudut ruangan. “Ya. Semoga aku tidak bertemu sesuatu malam ini,” ujarku.

“Terserah kau.” Kata lelaki tua berlengan kayu.

Suara menyedihkan terdengar dari engsel pintu yang terbuka saat seorang lelaki tua lain berjalan masuk sambil menyeret kakinya. Tubuhnya lebih bungkuk dan kulitnya lebih keriput. Ia menopang dirinya dengan tongkat. Bibir bawahnya tergantung mengerikan dengan gigi busuk menguning. Sikapnya padaku sungguh aneh—mata kecilnya hanya menatap tajam dari bawah bayangan alisnya. Kemudian ia terbatuk.

“Ya. Ini pilihanku—” kataku. Atavistik telah membawa dampak tidak manusiawi pada orang-orang seperti ini; menurunkan kualitas manusia dari hari ke hari. “Bisakah kalian menunjukkan kamar berhantu itu?”

Aku menunggu, memandang mereka satu per satu.

“Ada lilin di depan pintu,” kata lelaki tua berlengan kayu. “Jika kau akan ke kamar merah malam ini—”

“Inilah malam dari semua malam!” Gumam wanita tua yang duduk di depan perapian.

“—seorang diri.”

“Tunjukkan arahnya.”

“Berjalanlah lurus di koridor bawah,” ia menunjuk, “sampai kau temukan tangga spiral yang menuju lantai dua di balik pintu berlapis baize hijau. Naiklah, susuri koridor atas—kamar merah itu di sebelah kiri di ujung koridor.”

Aku mengulangi petunjuknya dan ia mengangguk.

“Apa kau sungguh akan memeriksa kamar itu?” Lelaki tua bermata kecil itu bertanya sembari berdiri dan memutari meja, bergabung dengan dua kawannya di depan perapian.

“Itulah tujuanku kemari,” aku melangkah ke pintu.

“Inilah malam dari semua malam—” Terdengar gumaman wanita tua itu lagi.

Di pintu aku berhenti, kulihat mereka melalui bahuku. Mereka duduk merapat dengan mata lurus ke perapian. “Selamat malam,” kataku di ambang pintu.

“Terserah kau saja—” kata lelaki tua berlengan kayu.

**

Kususuri koridor bawah dengan lilin di tangan. Langkahku menciptakan gema yang aneh. Bangunan ini dari masa yang lebih tua, masa ketika spiritualitas begitu menakutkan, ketika kemustahilan jadi masuk akal, ketika kutukan, sihir dan hantu-hantu tidak disangkali. Keadaan mereka sangat spektral; karakter yang seharusnya sudah punah—memilih hidup di bangunan tua berhantu. Orang-orang seperti itu selalu ada di setiap waktu.

Koridor ini gelap dan lembab, dindingnya berselaput lumut. Nyala lilin di tanganku membentuk bayangan yang menari di dinding. Gema memantul di koridor dan kegelapan merayap di belakangku—kegelapan di depanku seperti menyingkir setiap kali aku melangkah maju. Lantai tampak melebar di ujung koridor. Aku berhenti, memastikan suara gemerisik—yang kukira dari sesuatu yang merangkak di belakangku. Kutarik gagang pintu berlapis baize hijau dan mendapati diriku berdiri di bawah tangga spiral dari susunan batu padas.

Cahaya bulan menerobos jendela besar di ujung koridor. Pintu kamar merah tampak di sana. Di sinilah para penghuni awal tempat ini ditemukan tewas, dan ingatan pada cerita itu membuatku cemas. Hening yang mencekam. Tergesa kudorong pintu kamar itu sembari sedikit menoleh pada keheningan koridor di belakangku.

Inilah kamar merah Kastil Lorraine, tempat seorang countess muda ditemukan mati. Menaklukkan tempat-tempat berhantu adalah upaya yang baik untuk mengakhiri takhayul. Ada cerita tua terkait kamar ini—balik ke masa di mana semua hal luar biasa ini bermula; kisah seorang istri pemalu dan hidupnya tak sengaja berakhir tragis dalam gurauan menakutkan suaminya.

Aku menengok ke luar melalui jeruji jendela. Hanya samar yang aneh di luar sana. Kegelapan juga meringkuk di relung, cerukan, dan di lipatan dinding kamar ini. Warna merah berubah kecoklatan dan perabotan menjadi kusam karena debu. Kisah-kisah aneh secara keji menenggelamkan semua keindahan ini, membuat legenda gelap tempat ini tumbuh subur di benak setiap orang. Cahaya lilinku gagal mencapai ujung kamar dan justru meninggalkan kesan misterius pada lantai yang kusam.

Kuputuskan memeriksa tempat ini lebih teliti dan berusaha tidak meluputkan sesuatu yang bisa diimajinasikan sebagai takhayul berikutnya. Kukelilingi kamar ini, memeriksa perabotan, menyingkap kelambu, membuka lipatan tirai, membungkuk di perapian, menekan panel-panel kayu untuk membuka pintu rahasia yang mungkin ada. Langkahku menimbulkan gema aneh. Saat mencapai ceruk, aku terkejut menemukan wajahku di sebuah cermin besar. Di cermin itu, wajahku—putih.

Bingkai cermin itu punya sepasang sconce. Aku nyalakan dua lilin yang masih ada di situ. Kini suasana cukup benderang. Kusingkirkan chintz dan mendorong sebuah kursi untuk kujadikan pembatas. Entah kenapa aku merasa sesuatu sedang mengendalikan kegelapan dan kesuraman di kamar ini—gema dari suara derak kayu mengundang imajinasiku. Bayangan pada ceruk di ujung kamar seperti menampilkan kehadiran lain. Sugesti aneh dari sesuatu yang tersembunyi masuk ke benakku begitu saja. Di ceruk itu kunyalakan sebatang lilin.

Lega tidak menemukan sesuatu yang nyata, aku mengisi waktu dengan merangkai sajak mengenai legenda tempat ini. Kadang aku bersajak keras-keras, tapi aneh mendengar gema dari suaraku sendiri—untuk alasan yang sama aku berhenti setelah beberapa saat.

Cahaya lilin di ceruk berkelip, menciptakan penumbra yang terus bergerak seperti menari tanpa suara. Teringat pada lilin yang kulihat di koridor, aku ke sana dan kembali dengan sepuluh lilin di tanganku. Usai kunyalakan, semuanya kutempatkan di area yang samar—menerangi nyaris seluruh bagian kamar ini. Kewaspadaan ini terasa berat. Aku memerhatikan jarum penunjuk menit yang merayap di arlojiku menjelang tengah malam.

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya sesuatu sedang berlangsung. Entah kapan lilin-lilin mulai padam, tapi saat aku menoleh, kudapati kegelapan bermunculan kembali ke tempatnya. Kukeluarkan korek api dari sakuku, berjalan melintasi ruangan dan menyalakan kembali lilin-lilin yang padam. Saat sedang memantik api, sesuatu tampak berkedip pada dinding di sisiku. Aku menoleh dan melihat dua lilin di atas meja kecil baru saja dipadamkan. “Demi Tuhan!” Saat aku berdiri terpana.

Sedetik berikutnya dua lilin di sconce cermin mendadak padam, seperti dipadamkan oleh telunjuk dan ibu jari seseorang. Sebuah lilin lain di sisi ranjang ikut padam dan kegelapan mendekat ke arahku. Berikutnya yang terjadi adalah—satu demi satu lilin padam berurutan. “Hentikan!” Teriakku ketakutan seraya melangkah mundur.

Kegelapan dengan cepat hendak membungkus tubuhku. Aku bergeser ke arah cerukan dan menyalakan sebuah lilin di tempat itu. “Jangan usik lilin-lilin ini—” kataku entah pada siapa.

Wajahku pucat, tanganku gemetar dan berkali-kali gagal memantik api dari kotaknya. Seperti dinaungi jubah kegelapan, dua lilin lagi padam. Tampak sesuatu yang banyak sedang merayapi lantai di dekat pintu. Empat lilin lain menyusul padam sekaligus di berbagai sudut kamar dan dengan tubuh gemetar aku berusaha menjaga lilin di dekat tetap menyala.

Aku berharap bisa pingsan saja saat itu, saat sebuah tangan yang samar baru saja memadamkan dua lilin di dekat perapian. Teror mencengkeram dadaku. Aku berteriak seraya melompat dari cerukan ke arah cahaya bulan di bawah jendela. Sial—tidak sengaja korek api kujatuhkan entah di mana. Sementara satu per satu lilin dipadamkan oleh tangan yang samar, kegelapan merayap ke arahku. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Dengan harga diri yang tersisa, aku berusaha mencari pintu dan sia-sia bertahan melawan teror yang menyerang tanpa belas kasihan.

Satu-satunya lilin yang masih menyala di tanganku, terlepas dan padam, saat udara berhembus tiba-tiba ke sisi tubuhku disusul kursi yang datang menghantam dinding dengan keras. Kini tampaklah cahaya merah merayap, melintasi langit-langit kamar dan berhenti di tengah kegelapan—mengambang. Api!

Api itu menari, memantulkan cahaya merahnya ke permukaan perabotan. Perlahan api itu menjauh dariku sebelum tiba-tiba lenyap, membungkam kemilau cahaya di perabotan. Mungkin ini kesempatanku. Aku merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan. Kegelapan yang pekat, bahkan aku sukar melihat tanganku sendiri dan itu menghancurkan kepercayaan diri terakhir di dadaku.

Itu bukan sekadar ketakutan yang dahsyat. Aku menepiskan tangan sebagai upaya sia-sia mendorong kegelapan menjauh dariku seraya berteriak sekuat-kuatnya—sekali, dua kali, tiga kali. Aku tahu, kesempatanku lepas dari perasaan terkutuk ini adalah menuju koridor. Aku meraba-raba menuju pintu.

Cahaya bulan di koridor tidak membantu. Setiap kali tersandung beberapa perabotan lain, aku segera bangkit dan berlari. Ini sensasi mengerikan yang baru kurasakan seumur hidupku. Dalam kepanikan tak berujung, sebuah pukulan menghantam dahiku, memakan keseimbangan tubuhku, membuatku terhuyung sebelum terguling di tangga batu. Kemudian aku tak ingat apapun lagi.

**

Aku tersadar dengan kepala pusing dan terbalut perban. Hari sudah terang. Lelaki tua berlengan kayu sedang menatapi wajahku. Kucoba mengingat yang terjadi, tapi ada beberapa bagian yang tak bisa kuingat dengan jelas. Aku memutar mata ke sudut ruang dan mendapati wanita tua—tidak lagi tampak pucat dan mengerikan—sedang menuangkan sedikit obat dari tabung biru kecil ke dalam gelas. “Di mana aku?” tanyaku.

“Kami menemukanmu di bawah tangga,” katanya, “ada luka di bibir dan dahimu.”

Saat siang, wajah mereka tampak lebih muda, kecuali lelaki tua bermata kecil yang selalu menunduk seperti mengantuk. Cukup lama bagiku memulihkan ingatan pada kejadian semalam. “Kini kau percaya—” ujar lelaki tua berlengan kayu, “bahwa kamar itu berhantu?” Ia tidak lagi bicara seperti menyambut orang asing, tetapi seperti sedang mengasihani seorang teman.

“Ya—” kataku, “kamar itu berhantu.”

“Kami bahkan tidak pernah ingin melihatnya. Beritahu kami, apakah ia seorang earl.”

“Tidak—ia tidak seperti itu.”

“Sudah kubilang—” sergah wanita tua, “itu countess yang malang.”

“Bukan,” kataku lagi. “Tidak ada hantu earl maupun countess di kamar itu; kecuali sesuatu yang tidak terlihat dan jauh lebih buruk—”

Tatapan mereka berubah.

“Lebih buruk dari sekadar hal yang bisa menghantui setiap orang malang,” kataku, “dan itu adalah—ketakutan! Ketakutan yang menguasai, membuat tuli dan buta—yang mengikutiku di koridor, yang aku lawan di kamar itu.”

Kami terdiam cukup lama.

Lelaki tua bermata kecil menatapku. “Itu kuasa kegelapan yang mengutuk rumah ini! Ia berdiam di kamar itu. Kau bisa merasakannya di siang hari—bahkan di siang hari yang cerah di musim panas. Bergelantungan di mana-mana, merayap di keremangan, mengikutimu walau kau tidak ingin melihatnya. Ketakutan akan bertahan di kamar merah itu—selama dosa ada di rumah ini.” (*)

 

 

Cerpen The Red Room (1894) adalah cerpen gothic karya Herbet George Wells. Cerpen ini pertama kali terbit di majalah The Idler edisi Maret, 1896. H. G. Wells (1866-1946) adalah penulis prolifik terbaik Inggris. Ditahbiskan sebagai “bapak fiksi ilmiah Inggris”. The War of the Worlds, The Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Doctor Moreau, adalah beberapa karyanya yang paling fenomenal dan telah difilmkan.


[Pertala] Wanita Bergaun Hitam | Eleanor H. Porter

Wanita Bergaun Hitam

Oleh Eleanor H. Porter

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

lady-in-black

DI KAMAR kecil di atas beranda, wanita bergaun hitam duduk sendirian. Di dekatnya, gadis kecil bergaun putih terbaring. Di lantai, sepasang sepatu kecil terserak, seperti telah dilemparkan begitu saja. Sebuah boneka tergantung terbalik di sandaran kursi dan mainan prajurit dengan pedang terhunus tegak di sisi ranjang. Suasana hening—keheningan aneh yang datang ke kamar itu tiga bulan lalu.

Ada jam kecil di atas rak yang tegak di kaki ranjang. Jam itu tampak mengerikan baginya—dan tidak masuk akal—bahwa bandul berwarna emas masih berayun di bawahnya, sedang di atas ranjang berlapis linen putih, sesuatu yang lain sudah berhenti berdenyut. Maka wanita bergaun hitam itu mengulurkan tangan dan menghentikan ayunan bandulnya. Saat sesuatu sudah diam, maka jam itu juga harus diam.

Masih perlukah waktu berdetak saat ini? Seolah itu sesuatu yang penting, saat Kathleen kecilnya terbaring di bawah salju dan tanah hitam di luar sana! Hari ini, jam itu pula yang mengingatkan wanita bergaun hitam itu pada gelombang amarah yang meledak saat doanya ditolak pada suatu malam tiga bulan sebelumnya.

“Muvver…!”

Wanita bergaun hitam yang sedang diaduk kegelisahan itu melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang bocah lelaki bermata biru dengan dekik di pipi yang sedang membutuhkannya, tapi ia ingin anak lelaki itu tidak memanggilnya dengan nama itu. Sebutan itu hanya akan mengingatkannya pada sosok cantik berbibir tipis—yang kini sudah tak ada.

“Muvver…!” Desak suara itu.

Wanita bergaun hitam tidak menyahut. Ia pikir, mungkin anak lelaki itu akan segera pergi, jika tidak mendengar sahutannya.

Ada keheningan yang singkat, sebelum gagang pintu berputar turun dan terdengar engsel yang berderit saat pintu perlahan-lahan membuka, menampakkan anak lelaki dalam setelan Rusia.

Ia menceguk sesaat, lalu seketika hening kembali. Di balik gaun hitamnya, wanita itu tak tersenyum dan memanggil anak lelaki itu agar mendekat. Anak itu berdiri diam, ragu-ragu, kemudian berbicara terbata-bata, “aku sudah…di sini, Muvver.”

Kata-kata itu, bagi wanita bergaun hitam, hanya mengingatkannya pada kepahitan lain yang kini tidak ada di sana. Ia menjerit tertahan dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Bobby, Bobby, mengapa kau berolok-olok dengan sebutan itu?” Ia mengerang dengan hati gulana. “Pergi… Pergi! Aku ingin sendiri—sendirian!”

Semua keriangan di wajah bocah lelaki itu lenyap seketika. Dekik di pipinya hilang dan matanya menampakkan kesedihan yang dalam. Perlahan-lahan anak lelaki itu berpaling. Di ujung tangga anak lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. Pintu itu masih terbuka dan wanita bergaun hitam masih duduk dengan tangan di wajahnya. Anak lelaki itu menunggu, tapi wanita itu tak bergeming. Seraya menahan tangis, anak lelaki itu melangkah menuruni tangga.

Beberapa menit setelahnya, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya dan kembali memandang melalui jendela. Anak lelaki itu kini berada di halaman bersama ayahnya, sedang bermain di bawah pohon apel.

Bermain!

Wanita bergaun hitam memandang mereka dengan mata muram. Di halaman tampak Bobby sedang bermain, tertawa dan menari. Akan selalu ada orang yang mengajak Bobby bermain, seseorang yang akan mencintai dan merawatnya; sementara di sana, di lereng bukit, Kathleen sendirian—benar-benar sendirian.

Wanita bergaun hitam itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tangannya gemetar saat mengenakan topi dan menurunkan lipatan cadar menutupi wajahnya. Langkahnya tampak mantap saat menuruni tangga, menyusuri lantai bawah dan melangkah ke luar.

Pria di bawah pohon apel melihatnya dan datang menyongsong. “Helen, Sayang—jangan lakukan ini lagi!” Suaminya memohon. “—Ini tidak ada gunanya, sayang!”

“Tapi ia sendirian. Kenapa kau tidak memikirkannya! Tidak seorang pun yang tahu perasaanku. Kau tidak mengerti. Jika kau paham, kau pasti menemaniku. Jangan memintaku untuk berdiam diri di sini!” Sergah wanita itu.

“Aku bersamamu, sayang,” kata pria itu lembut. “Aku selalu bersamamu hari ini dan setiap hari—sejak Kathleen meninggalkan kita. Tapi tidak baik memperlihatkan kemurungan di makamnya. Kau tahu, sayang, ini hanya menambah kesedihanmu, aku, dan Bobby!”

“Tidak, tidak,” wanita itu terisak lagi. “Kau tidak mengerti—kau tidak mengerti!” Ia membalikkan tubuh dan berjalan terseok-seok menuju bukit, meninggalkan bayangan hitam kesedihan dalam tatapan suaminya dan kebingungan di mata anak lelakinya.

Jalur landai di bawah kanopi pepohonan hanya ditembusi cahaya matahari yang sedikit sampai ke tanah. Walau wanita bergaun hitam itu tahu tujuannya, ia seperti linglung, terhuyung-huyung dan kerap tersandung. Bangkit setelah jatuh, wajahnya tampak lelah. Namun ia berhasil mencapai bagian bukit yang ditandai batu bertulis ‘Kathleen’. Tidak jauh darinya tampak seorang wanita lain sedang menatapnya dengan simpatik, tangannya dipenuhi bebunga mawar merah muda dan putih. Wanita berambut kelabu itu seperti hendak bicara, tapi tampak ragu saat membuka bibirnya, kemudian urung. Ia berbalik perlahan-lahan dan mengatur bunga-bunga yang ia bawa ke sebuah pot di sisi sebuah makam.

Dalam dera kesedihan, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya. Untuk sesaat ia mengamati wanita berambut kelabu, sebelum ia mengangkat cadarnya dan berbicara. “Anda mengunjunginya—” katanya lembut. “Aku yakin pernah melihatmu di sini sebelumnya. Anak itu—seorang gadis kecil juga?”

Wanita berambut kelabu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ia anak lelaki—setidaknya ia seorang anak lelaki 40 tahun yang lalu.”

“Empat puluh tahun—itu waktu yang lama! Bagaimana Anda bisa bertahan selama 40 tahun—tanpanya?”

Lagi, wanita berambut kelabu itu menggelengkan kepalanya.

“Terkadang—kita harus melaluinya. Tapi ia bukan anakku, bahkan bukan kerabatku.”

“Tapi Anda merawat makamnya. Aku melihat Anda kerap ke sini.”

“Ya. Tidak ada yang merawat makam ini. Aku sesekali datang untuknya.”

“Untuk anak lelaki ini?”

“Ibunya.”

“Oh!” Wanita bergaun hitam mengangguk, tapi matanya lurus ke makam Kathleen.

“Aku tidak ingin terdengar bisa memahami ibunya,” gumam wanita berambut kelabu itu setelah usai menata bunganya dan menoleh pada wanita bergaun hitam. “Aku bekerja sebagai perawat anak lelaki ini ketika semua itu terjadi, dan bertahun-tahun setelahnya aku tetap bekerja di keluarga itu—jadi aku tahu. Aku melihat semuanya, sejak awal dan di hari ketika anak laki-laki ini mengalami kecelakaan.”

“Kecelakaan!”

“Ya. Itu peristiwa tabrak lari dan hidupnya tak sampai dua hari.”

“Aku tahu rasanya…!” Wanita bergaun hitam tersedak kepiluannya, namun ia sama sekali tidak sedang memikirkan anak laki-laki itu dan penabraknya.

“Banyak hal yang kemudian sukar aku lupakan,” lanjut wanita kecil berambut kelabu setelah beberapa saat, “…dan itu adalah awal dari segalanya. Ibu anak lelaki ini melepaskan perhatiannya pada suami dan putrinya. Ia tidak memperdulikan mereka, kecuali makam ini. Ia datang ke makam ini menghabiskan waktu berjam-jam—berbicara dan merangkai bunga untuk anak lelakinya.”

Wanita bergaun hitam tiba-tiba mengangkat kepala, memandang sekilas ke wajah wanita berambut kelabu, tetapi wanita itu telah memalingkan wajahnya sebelum beberapa saat kemudian kembali bicara.

“Walau memiliki apapun, tapi ibunya tampak tidak memikirkannya. Bahkan tampak tidak menginginkannya. Ia menutup diri, menyingkirkan banyak foto. Ia membiarkan piano tidak dibuka sama sekali. Ia tidak pernah berada di mana pun di rumah itu kecuali di kamar anak lelakinya dan membiarkan segala sesuatu di kamar itu tetap berada di tempatnya. Aku bertanya, apakah ia tidak menyadari dampak atas tindakannya—tapi ia tidak mau bicara.”

“Dampak…?” Wanita bergaun hitam terkejut.

“Ya. Ia tidak perlu merasa kehilangan suami dan putrinya—ia tidak menyadarinya.”

Wanita bergaun hitam itu tiba-tiba merasakan keheningan yang pekat di sekitarnya.

Wanita berambut kelabu bicara lagi. “Anda kini tahu alasanku datang dan meletakkan bunga-bunga di sini—itu kulakukan untuk ibunya. Setelah ia wafat, tidak ada lagi yang akan melakukannya,” ia mendesah seraya bangkit berdiri.

“Tetapi Anda belum bercerita—apa yang terjadi pada suami dan putrinya.” Wanita bergaun hitam itu bersungut-sungut.

“Aku hanya tahu sedikit tentang mereka. Setelah ia wafat, aku hanya tahu bahwa suaminya banyak melakukan perjalanan—jadi pria itu tak selalu berada di rumah. Ada cerita bahwa pria itu melakukan hal-hal buruk—tapi mungkin itu tidak benar. Bagaimanapun, pria itu jarang pulang dan suatu saat ia kembali ke rumah itu, kondisinya tampak buruk dan sakit. Pria itu wafat dan dimakamkan di sana, di sisi istri dan putranya. Mengenai putrinya—hmm… tidak ada yang tahu di mana gadis itu. Anda tahu—hidup para gadis seperti bunga-bunga dan sinar matahari, dan selalu tentang pesta dan pemuda tampan. Gadis itu merasa tidak akan mendapatkan salah satu dari itu dengan hanya berdiam di rumah. Jadi, gadis ia pergi—kurasa, ke tempat ia bisa mendapatkan semuanya. Tidak ada yang tahu dimana gadis itu. Begitulah—jika aku tidak pergi, Anda pasti akan lelah mengobrol denganku!” Wanita berambut kelabu itu tampak cemas. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menceritakan ini!”

“Tidak—aku senang mendengarkan Anda.” Wanita bergaun hitam buru-buru berdiri.

Wajah wanita berambut kelabu itu berubah pucat. “Tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih.” Ia berbalik dan bergegas pergi.

Rumah itu masih tampak muram ketika wanita bergaun hitam pulang—dan ia seperti menggigil kedinginan. Ia susuri lantai bawah dan terburu-buru menapaki anak tangga dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Di kamar, jemarinya merobek cadar di wajahnya saat keterasingan melintasi benaknya. Pengalamannya hari ini membuatnya menangis—menangis tanpa suara, dan dia masih menangis saat tangannya melucuti gaun hitam yang muram itu.

Beberapa menit kemudian, wanita—kini tanpa gaun hitam—perlahan menuruni anak tangga dengan wajah yang masih membekaskan jejak-jejak air mata. Dagunya bergetar, tetapi bibirnya telah dilengkungi senyuman. Ia mengenakan gaun putih dan setangkai mawar putih terselip di rambutnya. Di kamar kecil di atas beranda, di atas rak yang tegak di kaki ranjang, jam berbandul emas kembali berdetak. Suara kakinya yang berlari memenuhi lantai bawah. Kemudian:

“Muvver!—Itu Muvver telah kembali!” Seorang anak lelaki berteriak gembira.

Sedikit terisak, wanita itu membentangkan lengan untuk putranya. (*)

 

Eleanor Hodgman Porter (1868-1920), novelis dan cerpenis perempuan Amerika. Ketika menulis novel Pollyanna, ia masih bekerja sebagai penyanyi di New England Conservatory of Music di Boston dan menerbitkan cerpen-cerpen terkenalnya di majalah Woman’s Home Companion dan majalah Harper’s Weekly.


[Short Story] Fireflies Party | Jawa Pos | Sunday, April 27, 2014

Fireflies Party

by Ilham Q Moehiddin

translated by Jonas Chapman (Canada)

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos 

1/

NO was tomb here. Only a cavity in a giant Willow tree, trunk upright in the middle of the village. Cavities are caused by lightning blow and often filled with fireflies were partying after the bodies placed, makes it look like a party on New Year’s Eve lanterns.

When the old Willow was found in the northern woods, Ama (father) Huga amazed with its size. Then he set up house 500 meters from the tree. In the first three years, the people come together, then took up a house there. The houses are now surrounded the giant old Willow. Ama Huga astonished at the old Willow was never lost even before his death. He wanted a cavity in the old Willow into his grave and the grave of every person who later died in the village that he calls this Lere’Ea. People obeyed. Because trees absorb Willow stench around him, the tree was also sucking the stench of death from the bodies of the dead.

Funeral tree is an effective solution that does not run out village land for the grave. Cemeteries aren’t cumbersome and inefficient.Willow trees alive and growing giant, as the final home for the dead.

2/

Intina worried about the attitude of some men aren’t attention to the special things that he keeps on Mori. They fascinated to him. Liked she heave black hair,thick eyebrows on the oval face, or solid body. Mori married Intina in 12 years ago, and he still Mori wife until one day the man she loved was home.

“Stop waiting for Mori,” one of them tried to convince Intina. But he answered them with a slamming door. How he needed to do to destroy the hopes of every man in this village.

Intina may fool for still maintaining missed. Mori went when Waipode have eight months old. On the last morning she looked at her husband, was dawn when Mori kissed her daughter forehead, then Mori shut the door from the outside. Intina waiting in each of the next morning, hoping Mori reveals the door and smiled at them both. Small Waipode never smell his father’s body is now a teenager.

Waipode didn’t ask his father. Of course to difficult misses something he had never meet. Mori is a problem of his mother and it was not for Waipode. Mori is not the first time he saw when his eyes began to open.

3/

One night, before he was 13 years, Waipode suddenly get fever. Four days later,the fever rises and nobody Lere’Ea shaman can suppress. They give up so easily, such as shaman beginners learn stirring potions. On the sixth day, Waipode had opened her eyes, before seizures and silent.

Mysterious diseased and sudden death was a shock every person in Lere’Ea. Intina cleaning her daughter body and wrapped it in a clean cloth. Such manners here, it’s Waipode dead body will go into cavity the giant Willow.

From wooden chair on the porch of his house, Intina not move until the night comes. She eyes show cavity that had filled the fireflies. He fainted due to fatigue and woke in his bed on the third night, when the rowdy village.

Fireflies party at the Willow cavity, casting a silvery glow as the emergence of two hands flailing. People are horrified when two hands were gripping the grass, crawling, like trying to drag him-self out of the cavity. Body covered in soil plain girl who surrounded fireflies. People are increasingly rowdy. For the first time they saw the dead rise from the cavity Willow.

Standing on confusion, the girl asked. “Where’s my mother? Where Intina, my mother?”

Yes. The girl’s name and acknowledge Intina as his mother.

“I’m Waipode, his daughter.”

People choked. She was admitted as Waipode, Intina daughter, who died three days ago. Intina removing the sheath and hurried over to —whoever he is— as he sheathed body began to be plain that the eyes of every man’s attention in the crowd.

All the men presented there, except Kalai. The doll maker at living the end of the Lere’Ea village, suddenly ill and fell asleep under the influence of drugs. He did not know the noise that just happened here.

4/

In Lere’Ea no one can make as good a wooden doll. Kalai poured all his feelings when making the dolls. Sculpt female dolls as high as one meter of living. The female doll only. On weekends, his old wagon it creaky to road up the rocky village to the town, to the store where he usually left the doll for sale.

There’s always a doll that is not salable. On some models, for some reason do not want to buy. Maybe they don’t like in shape. The dolls are not sold that he brought back and lined up on a shelf in the living room of his house, as a marker to no longer make such a model. Raw material stuffed it increasingly difficult to get. Willow tree in the middle of the village is difficult to be climbed to a branch of the straight.

Yes. Wicker Willow is a secret advantage Kalai sculptured dolls. Willow wood is heated first before he chisels into head, body,arms and legs for her dolls. Soft wood Texture to make the blade Kalai agile dancing all over the wood.

Willow as it grows to Kalai. Willow’s death smoked aroma of corpsesin their sockets, have to fertilize and cultivate new tree limbs.

But Kalai not make a doll when the girl out of the cavity Willow. He also did not exist among many men who feel lucky to catch the girl’s body. Because sick make Kalai must meet Lere’Ea shaman to buy potions. The effects of the potion made him feel tired and sleepy. He slept all day and did not know anything had happened in the village after dusk.

The shamans in Lere’Ea confirmed that girls who out of the Willow cavity that is Waipode, Intina daughter. The odd thing is they are difficult to explain. The willows have turned Waipode in three days after his death. Waipode out in such a big girl, 10 years older than the teenage girl Intina inserted into the tree cavity.

Intina not want to go about it. The girl came back to life in any form, if he does Waipode, then Intina will admit it. It feels weird, but their can lives as before. As before the death of her daughter went and returned.

5/

Waipode like Kalai made dolls. Dolls and handsome young man, are two things that can always create a story for a mature girl. “I like your dolls,”said Waipode.

Kalai smile. “I heard, you make noise the whole village. What happens on the other side there? So the gods let you go home?” Kalai kidding.

Waipode laugh. “On the other side is more quiet. There was no one to fight for theland. There was no such incident experienced by Adenar families banned prayer and expelled from Laibatara (house of worship). Sheol is more tolerant than the world of the living.”

Kalai was stunned to hear the words Waipode.

“This for you,” Kalai offered Waipode a newly doll he made finished. Waipode nodded happily. The doll has not been colored.

It was just a little conversation. But Waipode is always there if the young man working moment. Intimacy they make other youths jealous. Waipode have chosen, and Kalai it’s a lucky young man.

6/

Kalai realize that strange things often happen at his house late at night. His workshop is a mess when he left, always neatly next morning. Utensils arranged on the same spot. Sharpener timber garbage disappear without trace. All over the house clean. As there is a mysterious hand that has helped clean up the mess.

When Kalai asleep, the homemade doll moves. Yes. Wooden dolls that live on and off the display rack in the middle of the house. They explore each room, acting like a young girl who was busy tidying the house. They return all the objects into place, cooking porridge and coffee heats for Kalai before they go back into place before dawn.

However, the dolls start talk about Waipode. The presence of the girl is a serious problem for them.

Giant Willow in the middle of the village store incongruity since it began to be used as a tomb tree. Trees not only absorb thescent of death, but also save the souls of the dead girl in the adult sap vessels. The spirits that dwell there and wait for the new body. They accidentally life by the love that poured out when he Kalai sculpting dolls.

They hate have often the young man admired Waipode. It only took a little reason for a death plan.

7/

It’s no coincidence when a small collision Kalai get the wheels off and overthrow the old wagon with passengers. Waipode already dead when Kalai issuing his body from the crush of the wagon.

Intina feeling devastated over Waipode back to the death for the second time. He is waiting for a miracle that never came in the thirdday after the body of Waipode he put in Willow cavity. Her daughter is not alive anymore. There was no light silvery, except fireflies crowd still partying.

However, Kalai has a way of overcoming grief. On the third day, when Intina hope Waipode out of the cavity of Willow, Kalai has completed one wooden doll.

One doll that closely resembles Waipode. The dolls are made Kalai crazy. Dolls who live at the end of the night and silence come back before dawn. The dolls are often celebrate passion of Fireflies, ask Kalai enter the ten other doll into the fire, and made the young man swears no longer sculpt doll. (*)

Ubud, October 2013

Twitter: @IlhamQM

 

*) The idea of this short story from tree-holebaby burial tradition in Tana Toraja and the tree-burial traditions in Trunyan, Bali.

**) In the Indonesian version, these stories was publication for first time in the Jawa Pos newspaper, issue on Sunday, April 27th, 2014.


[Tula-tula] Dara Perimbui | Pabitara | Desember 2014

Dara Perimbui

Tula-tulano: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kuda-Kuda Terakhir_Femina

METAMPU’U hida unzo ni rako keari kenivehako mpevuni coira dara, maka co ira rarongkeu hela padalere dai lano gunu Sampapolulo na mongio binta hai unino karuno dara da kobuku-buku. Nahinam coira unino kadadi da mealu keda mangada da kobuku-buku tonga oleo. Nahinam coira savi-savino dara hela leheren da menggela hindo pobuku tongalere.

Co vaipode paisa mo’epi kanahi daho nta mosao kandi situasino. Teasa-asa coira dara na isa binta hai padalere danimpoiahido etu-etuno ta’u. Coira kadadi kantou ndona lolako binta poiaha dasadea lau ni ontodo. Te’a bara da mepupu hai pongkeuno co vaipode da tangasa mongkote vavo vatu hai puuno gunu. Mauno coira bara kua nta poko peronga unino karuno coira dara daleu hida co vaipode boboihira, kuasi penda coira bara da pupu’o virino Sikeli hida coira dara nimpaksa mevatako hai bangkano coira miano mporako dara.

Dada te’am suarano co vaipode dakuasaio hai pada lere dai lano gunu. Coira evo namolu’o kanto’u co namosumba da leu kekokodo. Co vaipode na kokou vavo vatu keda mento’a, keari keda molinca binta hai vatu measa keteleu vatu suere. Metarima bolo kasusa keda longko luuno.

Keari ka kokamburu kanahi, ”leum saanu dicena.” Keari ke papahiio luuno dai kombisino mpake pele limano. Co matano damongkaso na dagaiho coira dani ontono telelu hai olo lere dategego, tava coira da moravu hai virino rongkeu.

Keari kekokamburu penda kanahi, “sie kandi dena, sie kandi.”

**

Co vaipode damonehako Loka teasi pantano. Ia kuam tina turunano mperimbui poboboi dara. Ia kuam da ala co katoorioa damonehako puuno-dara binta hai mbue-mbueno. Coira tina da toori mobasa akala moilano coira kadadi-kadadi mangada.

Periouno, co mbueno damonehako Suria kuam da mentade mukano mokole hela kapita, tantangio coira damontoe. Suria nantara taranda’a montarima coira dampokoda coira dara hai pampano istana Laica Ngkoa da molue. Maka himatem coira dara kuam da boliio co poavano. Co mosao larono kuam da’lulumio ateno binta hai momewano da’tekompulu hi toorio nde’e hapa da’ava hamo da’tumpaiho kaasi coira kadadi dani nteteveino.

Mokole na rentaira coira dara hai bolo pe’o’anua mpada suku da molavu. Kuasi koma kanahi kando po’ava yo poiaha da molue. Coira mokole pokotevali’ira kamosaoa peoanua da mobita patea telei hai miano hela hai dara. Onto’om kolalo mopoeno bolokompono Suria hi onto co tongano Sangampuri da poponotio rea hela bangke dara da tesampuru hela vuha mate binta hai lampio’ono mokole. Co peoanuo hela patea kua tonta lindahako binta hai vutoto hela hai miano mealu.

Suria ariom boboiho coira dara, maka coira mokole kua nahandao boboihira coira dara ke tangki ira hai peoanua kando da mate kasonea. Kua tou naau na mate kasonea.

Suria nangkouhu-uhuno keari kekanahi, “coira dara nangkoava-ava hai aku. Leuhom vaktuno dahangku nta melo monunu comiu mokole. Coira dara na metukanako patea daleu mesala vua lima miu!” Co tina naheho aano. Co olui tao ovuno nangkona oleo hai olo vua limano.

Co todono Suria kuam da mpoko tetotodo teposalado coira dara hela miano hai vita-i moronene. Mau kanco, mokole Tontodama nampoko mengkena poiahado coira pauno dara tara-tara kanahi kapantingado dahosi meka asatova. Suria mpolom temo-mo hai mukano Tontodama.

Loka kanahi, ”kuam co temo-mo da merimbui ni ontoku hai hulano mbue ntukoku. Co temo-mo no mbueku paisampiham onto hiku ari onto mentade monkote hai utu vatu’ea dai padano lere hai gunu Sampapolulo.” Aniati na ingatio momoico co tula-tula hida montarangkakono Loka.

“Binta cokena, hela inaku teasi hiku onto mentala torokuno hida mobuku merongakono coira dara. Hela namesavikio measa dara da mangada. Naungkario touo podandino kanahi coira dara ndaam nta da orusano hela coira miano da mollavu.

Cokenam umuruno Loka hapo keda hopulu kaolima tau. Rapano na bobale hai vavo inampuahano inano, keda podeaho coira tula-tulano mbue ntuko tinano. Aniati nampatara’o kanahi nahina tina poboboi dara suere da moroso kana Suria.

“Hapam dani anudo coira mokole hi ari co, ina?”

Aniati na heho vuuno Loka, keari vivino temo-mo. Matano na menggela keda melaro. “Negampa ko uhu-uhudo ke ari ke parentangio coira kapita ke lako lulu ira, hi ari podeaho co mbue ntuko tinado dakanahi: “Akum diie, hai comiu dani ntoehako, akum daa nta metagaliakodi palakara. Comiu danta tanggo, kua apu danta tangkiaku bolonsalano.”

Keari Aniati na molihe lamporere, ke petisutinda co sabara da asa pasa. “Onto roico, roico kua taaovu hela korobi anuno mbue ntuko tina’u, kolalo mosalarono coira mokole hi pokorabu’o co taovu binta hai korobino ke basiako wawo wita. Co mbue ntuko tina’u kua nampiri-pirio coira mokole maka kua nampakeo mincu dahalusu, helam nampoko me’a ira. Maka tinangku na ruru’o keari ke dioho.”

“Nde’e kanaumpe na’ana co mbue ntuko tamaku.”

“Ira kua da totonga kami. Mbue ntuko tama’u, mbue ntama’u hela tamau kuam hela cami. Kuam ira da mototonga hela da moboboi, ira kuam da hedo’o momoico.”

“Na mokoaukono ama…”

Aniati na mena’ea keari ke engkatako badano Loka, keari ke vatako hulano Loka ke totolaiho hulano, keari ke kanahi, “nda’a mohapa, nda’a mohapa. aku naangku mokoau hakono.” Aniati na moau larono. ”…dahosi nta kolako-lako da tama danta totongako kana coira tama daari mebinta cena laica.”

Aniati na renta hulano anantinano, ke ari ke uma’o mengka-mengkau hai kireno Loka.

**

Coira dara kua nampilio tevali puuno dara penda. Mengkena kana coira dara damompili coira poboboi mperiou. Tinado kua da tangki ira teleu rumai pada lere raro dara. Aniati temomo keda sana hi onto co dara da menggela rapano u’umakio hela mpevuha Loka, ke ari ke lungku’o oruano karuno da merio’u. Ke ari ke tihako rapano pasipasi hai hulano anano. Cokena, umuruno Loka hapo keda 23 ta’u.

Aniati na vakono kanahi melaro ke ari ke poita tarimakasi hai muka-mukado coira dara. Dani ingatino Loka, team cokena keari mbule hai padalere da hai gunu Sampapolulo keari tolusangia nde’e na matem co tinano.

“Sie bebera, nda’a mohapa. Sanakum hi piliko coira dara. Kuamo coira danta dagaiko kuam daari te atotoro kanahi kua co’o danta dagaihira. Co’o tesi kiu dagaiho co kaparasaeado teleu hai co’o.”

Dahosi moico poingatino Loka coira da merimbui kinahino inano ta’u da’ari tealo. Di kana-kana, te’am pantano da mentade mongkote hai vitino padalere tarima coira dara da saba hi podeho meboboikoira.

“Holeeei!” Kanam co peboboino Loka kanto’u na lombaa coira raro olobu. Mauno ho co coira dara kua nta mompadere leu hi podeaho meboboi kanco. Coira kadadi mangada nahina dasaba. Sangia da ari tealo, tekompulu coira dara da mompadere binta bolo olobu lanzu leu hai padalere mekompulu hai pampano Loka.

Kua ntada’a nda coira tuka poboboi dara kanahi nta puramo yo kamorosoano? Kua ntada’a coira dara sandoehem le’u hi podeaho coira tapoboboi? Dahira ntada’a nta masusa ki leuho waktuno temo ki o’onto ariano tealo karuno hai padalere Sampapolulo, hai nunu-nunu’o e’e wiri Lakambula, tava namba mba biri podeaho pekialino hai bolo olobu Sangia Wita?

“Dahira nta leu.”Garaka nda tama da leu ko awa-awa hai bungkuno Loka, co waipode lanzu tebibinco. Garaka kua Madara da mentade nda’a mentala binta hai bunkuni Loka, dahom tangasa holilio tine no da ari lako ni hudano hai utu wuarema. “Maapuaku’o, kuna mpoko tebibincoko.”

Loka na lanzu mebubula. Nda’a ia to’orio ki mengkaum Madara le’u bungkuno. Kua tama da mo i’ia hai tinda mata e’e Lakambula. Mosesei kuam pehedoano ole-oleo.

Ke ari ke lanzu kanahi, “nduwa kuna onto co rapa menggela tanki ira perongano ara wiri olobu tinda mata oleo. Keari hi tonga oleomo kuna ontoira mobuku mpadere tinda ara.” Madara na metisu ara tompa mata padalere tinda timuru. Keari co tama na tihako tineno dani holilino, keari ke dioho momoico keseda’asi te’owu, “kua na mola la um leu dirumai ma.”

Loka na kokou. Isamo tebibincono. Hulano na poponotio petukana hapa keda Madara. Keari ke ngke hako rapano ke petukana, “nimpia kau unzo molalu dirumai?” Kanam co kinahino Loka.

“Malingum po’ehengku,” Kanam co teteani Madara dahom te mo-mo. “Arai astova padalere kuam dahano ponahagolaku. Kuna mesala dirumai wirino hiku danta sabe campo, kua nakuda nta toru-torusu molia ataha mata e’e Lakambula.”

“Muda-mudaha kau saudaasi sadea gasai ira.”

Madara na gego-gego rapano. “Tantuom nakuda’a. Osie kanahi laro ‘u kua aku da gasai ira. Teasi aku hiku o’ontoira.”

“O’ontoira?”

Co tama namehuna. “Cokena leu merimbui’u huda’a ba doa ira?”

Loka ntebibinco. “Hapa?”

“Mauno kua hunta moku-mokua measa tula-tulakono rapa menggela.”

“Hapa da…?”

Madara na molihe mokarai. “Sauda’a garaka parhatika’o. Coira dara nangkura orua. Cokena hiu da leu sangia da ari tealo kuraom orua.”

Loka na lanzu tepentoa ke pebulili mokarai. Ke o’onto co tompano padalere da mentala’ea ara keda kogego-gego tende mopoeno oleo dampoko lolahoa wita. Oruano limano nantao hai wiri ngangano. “Holeeei!” Pentolu meboboi.

Nahinpiha kejadia. Nahinampiha coira uni unino karuno dara da okuda.

Ke ari kekanahi, ”Hapam kia dahado? Mauno ira ku nta…” Loka mepusu.

Keari ke ingatio penda hulano tinano. Co tina namentade hai utu watu kana to’u ia di kana-kana, mpotisu’o carano moboboi dara. Kanaumpe hi danta larotouno parasaea’o danta ni anuno hi danta meboboi. Matano tinano na menggela hida tula-tula’o mbueno da mengkaka lulumio sawuno keda mobuku hai olono coira dara da kongkeke-keke.

Ke gogora Madara kanahi, “onto ara!” Tinisuno na metisu ara dahano malompusu wirini olobu, kuananda da ko miu-miu pewuni keda kongusu-ngusu. Kuanda orua pasa mata moito keda menggela da poraira mebinta tinda cokena.

“Kua rapa menggela,” Loka na kokamburu. Hulano nangkosahea. Co yo’nunu moito nangkomiu-miu monia. Co dara na mome.

Madara na me o’o kanahi, “mbo leum cena! Nda’a mohapa!”

Loka na engka tako limano kegora’o Madara kanahi, “kokodo!” Madara na lanzu melo meboboi. Keari Loka ke gau-gau’o kanahi, “petihakom kaasi momoico!”

Co tama na menunu. Mandara na monduru nteponoha, ke pebulili metihako binta hai utu watu. Nangkomiu-miu momoico ke kanatousi seda’a nionto. Keari Madara nangkokou hai asapampano watu dasuere. Matano na o’onto Loka da mentade mongkote takena hai utu watu.

Loka na me o’o. “Holeeei!” Moontoeho co’ia nanteleu ara asatowa padalere da tengke. Mau dara hapa na saba hi peboboi. Kua ndona nto’orio ki nai naim co peboboi’a, kua wainto ira daari pili’o. Kua teasi tana cokena da to’ori hela ke tihako penda hai tina dada penda cokena.

Nda yo nunu da mento’a cokena pu’u keu, keari ke lolako monia okudsahio codahano mentade Loka. “Osie komiu-miu Madara. Ia kua nda tangasa seda’a parsaea miano, mau na’au aku.” Kanam co parentano Loka keda masusa.

Loka na angkatako limano, keda me ‘e’eta co dara lolako mongkote tinda. “Sie mome, aku da boboiko kunta onto kingkanaumpe da‘u. Ruma-rumaimo.”

Kolalo mengkau co dara dangkabula menggela o’onto Loka oruano matano. Rapano na mesoso’e, kanatousi nda dani wuhano. Keari ke okudahio Loka kedaitako hulano hai lantokiano Loka.

Loka nametukanaiho kanahi, “Huna ntehapai ico? Dahano coira peronga’u meha?” Co karuno da meriou na kosepa-sepa wawo wita. Keari ke ko uni-uni ite ponoha. Rapano Loka te engkatako, matano poko onto co dara da osio tangasa mobuku roropeo rapa menggela. Co waipode nangkoko’u ke uma’o co rapano dara da ngkaloba menggela. Keari ke kokamburu kono kanahi, “maapuaku’o kaasi.”

Kanatoum dakanahin Mandara, perongano rapa menggela nangkura orua. Asa ahadi meriou huda a leu ontoira cena padalere, kua huna vehiramo yo coira miano porako dara patinda orusado. (*)

 

(cerita ini dialih-bahasakan ke dalam bahasa Moronene/Tokotua oleh Endang Sasmita. Termuat pada Majalah PABITARA, Edisi Desember 2014. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara)


%d blogger menyukai ini: