[Film] Uang Panai: Gugatan Sosio-Kultural yang Dibereskan

APA yang paling mahal dari sebuah realitas sosial? Nalar sebagai mahar sosial, atau pergeseran sosio-kultural itu sendiri? Tetapi ini bukan perbandingan untuk melihat seperti apa masyarakat kita memposisikan diri dan berusaha lepas dari kekolotan tradisi. Betapa majal nalar kita, bahwa upaya melepaskan diri itu sebagai bagian dari premis modernitas yang sementara berkembang. Sama saja. Saya pikir, konsekuensi yang bisa diafirmasi tidak bisa—atau tidak boleh—dilekatkan sembarangan.

Sebagai reviewer, saya duduk di bangku paling belakang hanya agar bisa melihat “film” secara utuh. Film di depan saya bukan hanya apa yang sedang bergerak plot demi plot dalam scene, tetapi juga laku penonton. Hanya ini yang bisa saya tangkap dalam keremangan dan bising tawa di ruang bioskop. Maka selebihnya, saya harus pula menangkap mimik dan komentar mereka setelah pemutaran film usai.

Uang Panai

Meredam Stereotype Kultural

Ada kepuasan di wajah mereka. Beberapa komentar yang sepintas saya tangkap berisi gugatan tentang stereotype yang didorong bersama gagasan dalam film. Juga komentar-komentar yang bisa membuat saya berpikir bahwa ada kebenaran yang harus ditelusuri dari gugatan sosio-kultural yang coba didedah melalui film ini. Wajah-wajah puas itu bukan karena bisa tertawa lepas melihat kekonyolan Tumming, Abu, dan Ancha (diperankan oleh Ikram Noer), atau merasa dihempaskan oleh tangis Risna—diperankan dengan sangat baik oleh Nur Fadillah. Bukan, sama sekali bukan itu.

Puas, sebab kegelisahan mereka berhasil divisualkan dengan baik. Puas, karena gugatan sosio-kultural yang diangkat film ini terkait pergeseran nilai dalam realitas uang panai telah berhasil dipertanyakan, sekaligus dijawab dengan tuntas. Secara personal, saya lumayan sedih saat menyadari ini. Sebagai seorang peneliti, penuntasan premis adalah penanda berakhirnya jalan (baca: perdebatan) yang selalu menyisakan pemikiran dan gagasan baru.

Cukup lama orang dibuat penasaran dengan kehadiran film Uang Panai. Nyaris setahun sejak trailernya pertama kali dirilis. Begitu membaca judulnya, orang-orang langsung menarik garis merah tentang isinya, membuat plot film ini seolah-olah mudah ditebak. Ternyata semua dugaan itu salah. Meleset jauh.

Isu yang diusung film ini kompleks—begitu pendapat saya. Gugatan uang panai yang dijadikan judul sekadar pintu bagi penghadiran banyak masalah lain. Siapapun pasti menyadari hal ini jika menyimak filmnya. Silariang (kawin lari), salah satunya. Ini laku yang disodorkan sebagai bagian isu sosio-kultural Bugis-Makassar yang perlu diluruskan. Bahwa silariang bukan jalan keluar—membuat malu keluarga pihak lelaki, juga mempermalukan keluarga pihak perempuan—selalu berakhir konflik dan mendorong masalah lama antar keluarga mencuat ke permukaan. Film ini menyitir dengan contoh; kesigapan ayah Risna membatalkan rencana Silariang anaknya yang nyaris berhasil itu.

Penonton yang tidak berlatar belakang tradisi Bugis-Makassar jangan berharap banyak bisa melihat aksi Silariang yang berhasil dan bagaimana keluarga yang dipermalukan melakukan penebusan sumpah siri-nya seraya menikam paha sendiri (atau bagian tubuh lainnya) dengan badik—sebagaimana disuguhkan dalam sinema elektronik Badik Titipan Ayah. Di film ini, kau hanya bisa tertawa dan diajak menjadi cerdas, seraya mendorong jauh-jauh frontalitas sikap adat orang Bugis-Makassar dengan kawali-nya yang pantang dimasukkan jika sudah terlanjur terhunus sebelum berbasuh darah manusia. Adegan macam itu tak akan kau temukan di film ini. Maaf saja, saudara.

Perjodohan, status sosial, harga diri, filosofi siri, posisi perempuan, pertanggung jawaban, adalah juga beberapa gugatan lain yang patut disebut dalam film ini. Beberapa gugatan itu mengemuka di sekujur plot film.

Ada yang menarik saat Ancha dan Risna memperdebatkan soal harga diri yang kemudian melompat ke topik price tag. Ungkapan telanjang itu adalah pukulan yang telak terhadap pergeseran tujuan uang panai. Bantuan Risna dianggap upaya mengusik harga diri Ancha sebagai seorang lelaki. Risna justru mempertanyakan ketersinggungan Ancha itu. “Harga diri? Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag!” Risna memekik, membuat Ancha tertegun.

Gugatan sosio-kultural yang dilontarkan melalui tokoh Risna itu, sepenuhnya benar. Pergeseran nilai dalam tradisi uang panai, akhirnya dilihat sebagai nilai jual—label harga atau price tag—pada perempuan Bugis-Makassar. Empirisme yang sungguh menyedihkan. Price tag, perjodohan, mahalnya mahar, kemudian ditemukan sebagai isu sampiran yang menyisik dalam film ini. Kebenaran agamis juga disodorkan, bahwa mahar tidaklah sama dengan uang panai; bahwa mahar tidak boleh disejajarkan dengan uang panai; bahwa uang panai harus dikembalikan sebagai pelengkap belaka dalam tradisi permulaan untuk mengatur rencana pernikahan, dan hal itu tidak lebih penting dari mahar yang wajib dalam tradisi dan tuntunan pernikahan Islami. Selebihnya, menyikapi banyaknya pergeseran nilai, selain uang panai itu sendiri, telah dijalan-tengahi dengan baik oleh film ini.

 

Uang Panai

Film ini membangun gambaran tentang seorang lelaki Bugis-Makassar yang bersusah payah mencari uang mahar demi menyanggupi tantangan kekasih hati yang meminta untuk dilamar. Dalam masyarakat Sulawesi (khususnya Bugis-Makassar) kini, uang panai dianggap sebuah keharusan yang mesti dituntaskan sebelum keluarga pihak lelaki mengambil menantu dari keluarga pihak perempuan.

Masalah mulai mengintai Ancha, saat pemuda itu baru saja kembali dari rantauan. Aksi penjambretan ternyata mempertemukan kembali Ancha dengan mantan kekasihnya, Risna, setelah mereka berpisah lama tanpa kabar. Ternyata benih cinta lama itu tumbuh kembali. Tak ingin terpisah untuk kali kedua, Risna meminta Ancha melamarnya.

Syarat pernikahanlah yang menghadang langkah Ancha mempersunting Risna. Ancha didapuk untuk menyanggupi uang panai dalam jumlah besar. Maka cerita ini pun bergulir. Ancha, dibantu dua sahabatnya (Tumming dan Abu) berusaha memenuhi syarat tersebut.

Di tengah upayanya, masalah lain datang. Farhan (diperankan Cahya Ary Nagara), teman kecil Risna, baru kembali dari Amerika Serikat. Masalah makin berat, saat orangtua Farhan dan Risna sepakat mengatur perjodohan mereka.

Di sisi lain, cinta Risna dan Ancha memang tak terbendung, sehingga mendorong Risna melangkah terlalu jauh. Upaya Risna justru melukai harga diri Ancha. Martabatnya sebagai lelaki Bugis-Makassar dipertaruhkan. Dilematis, Risna khawatir Ancha meninggalkannya lagi.

Apa yang harus dilakukan Ancha? Bagaimana Risna meredam persoalan? Seperti apa peran Tumming dan Abu? Mampukah Ancha tiba tepat waktu sebelum ijab Farhan dikabulkan?

Film ini bergenre komedi-romantik. Jadi tak hanya persoalan percintaan Risna dan Ancha saja yang ditonjolkan sepanjang cerita. Hampir semua plot dalam film besutan sutradara muda Halim Gani Safia dan Asril Sani ini disalut dialog dan gimik lucu oleh para pemerannya. Ikram Noer mampu mengimbangi kekocakan Tumming dan Abu. Para cameo juga berperan pantas. Jane Shalimar muncul beberapa detik dalam frame bersama Tumming dan Abu. Jane nyaris tak bisa menahan tawa dilibas ulah konyol dua pemuda ini. Katon Bagaskara juga tampil baik dengan menghidupkan karakter seorang Barista. Ia menasihati Ancha untuk tetap tegar dan semangat menghadapi masalahnya. “Hari ini adalah besok yang kemarin,” Katon mengutip Kahlil Gibran dan sukses membuat Ancha bingung.

Siapa Tumming dan Abu dalam film ini? Anda pun berhak tahu siapa mereka. Tumming yang jenaka seperti mengembalikan kepada kita cara tertawa era Gepeng—orang-orang yang piawai nan cerdas menghadirkan humor. Jika Tumming bisa mengembalikan ingatan kita pada Gepeng, maka Abu yang kocak itu bisa secerdas The Stoges atau Cak Lontong: tetap bisa memanusiakan orang-orang yang ingin tertawa tanpa harus membuat mereka tampak tolol di mata comedian. Membikin roasting a la standup comedy jaman sekarang segera terbang ke jaman prasejarah.

Anda bisa juga melihat “orisinalitas” mereka di Uang Panai. Referensi istilah original khas Sulawesi berhamburan di sini: anak muda palsu, masih bisa menikung, masih di dunia ji’ ini, SWISS, 4D, sampoi mulutmu, kopi boleh pahit tapi hidupmu jangan, kode keras, dan banyak lainnya.

Film ini memang bagus dan sanggup menyedot animo penonton. Sambutannya luar biasa. Pada pemutaran perdananya—di hari pertama saja—sukses di 21 kota. Antrian panjang di loket jadi pemandangan di setiap bioskop. Tiket habis dan daftar booking penuh sekali. Makkita Cinema Production sebagai pengampu film Uang Panai, memang tidak menargetkan apapun, sekaligus tidak berharap banyak setelah penundaan yang hampir setahun setelah rilis trailer pertama kali. Namun kekuatan cerita dan sinematografi, serta padatnya gagasan—yang tampaknya berhasil mereka urai—menjadikan film ini sangat layak mendapat apresiasi tinggi.

Sejak diputar perdana tanggal 25 Agustus 2016 kemarin, beberapa portal film merespon cepat. Untuk empat situs rujukan (pusatsinopsis, layarfilm, posfilm, jadwal21), film Uang Panai mendapat rangking fantastis, yakni 9,4 bintang dan menempati urutan ke-10 dari 1.307 film yang dirating.

“Cinta hanya kata, sampai kau datang jua dan memberinya makna.” Demikian sepetik syair yang dinyanyikan Katon Bagaskara sebagai soundtrack film yang skenarionya ditulis memikat oleh Halim Gani Safia dan Amirl Nuryan ini. (*)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: