Category Archives: Resensi

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

[Resensi] Perempuan dalam Jejak Kesejatian

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

 

Judul : Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan

Penulis : Tina K, Ami Wahyu, Ami Verita, Lely Aprilia, Ayudya Prameswari, Nita Tjindarbumi, Julia Napitupulu

Penerbit : Langit Kata, Jakarta

Terbit : Cetakan Pertama, 1 April 2011

Halaman : 168 halaman

Harga : Rp. 50.000,-

 

ADA tujuh perempuan professional berlatar belakang berbeda, ada 10 cerita pendek, ada satu prosa, dan ada 10 puisi.

Ada yang terukir dalam jejak-jejak cinta mereka. Mereka disatukan dalam ikatan sejatinya keperempuanan.

Jelas sekali buku ini lain dari kebanyakan buku kumpulan cerpen dan puisi. Secara prosedural, buku ini hampir pasti digarap dengan cara yang sama; berkumpul, menyatukan ide dan gagasan, merumuskan tujuan penulisan, dan diterbitkan.

Namun, ada yang unik tentunya. Bahwa ke-10 cerita pendek di dalamnya berlatar belakang kisah yang romantis, dramatis, bahagia, dan ketegaran. Bersetting berbagai tempat dan situasi, pelibatan sejumlah karakter, tingkatan emosi yang berlapis, dan humanisme yang kental sekali.

Ke tujuh perempuan yang masing-masing mengkisahkan ‘jejaknya’ di sini berhasil meramu semuanya itu menjadi satu sajian utuh. Bumbu 10 puisi dan satu prosa tak saja menyegarkan, sekaligus membantu pembaca memahami apa dan sejauh mana ‘pengalaman cinta’ ke tujuh penulisnya.

Kisah cinta masa lalu yang tergali kembali lewat ingatan. Tina K., menyajikan stereotype cinta wanita paruh baya pada seorang lelaki yang jauh lebih muda darinya. Ami Wahyu yang menyodorkan realitas wanita karir beranak dua yang berusaha keluar dari lubang cinta masa lalunya. Ami Verita, yang menghadirkan keteguhan hati seorang wanita karir, lepas dari jerat penghianatan dalam sebuah perselingkuhan yang nyaris. Lely Aprilia yang menuangkan jerit pilu seorang wanita single parent yang bergulat dengan kenyataan bahwa dia harus menerima dua jalan cinta yang sepi. Lely, dalam jejak cinta yang lain, mencurahkan tangis seorang istri yang mendapati suaminya dalam perselingkuhan namun ragu membuka diri pada hubungan baru. Lely juga memotret seorang wanita dalam jejak perasaan hati sahabat suaminya sendiri, yang menyembul saat suaminya mencintai wanita lain.

Tidak saja jejak cinta dari sisi keperempuanan yang dihadirkan, tetapi juga dari sisi lelaki. Ayudya Prameswari misalnya, yang menyorongkan kisah cinta terpendam seorang lelaki pada istri mantan sahabatnya sendiri. Ayudya juga mencurahkan jejak cinta seorang wanita dewasa yang tak jua menemukan tambatan hatinya, kisah cinta yang timbul-hilang di tengah perjalanan karirnya. Atau, mengutarakan ketakutan seorang wanita yang secara psikologis trauma akibat kegagalan pernikahannya terdahulu, dalam kisah yang lain.

Nita Tjindarbumi, menceritakan pergulatan hati seorang wanita jurnalis muda tomboy yang dibalut prasangka pada sejumlah rekan lelaki sekantornya. Julia Napitupulu, menuangkan gairah cinta dalam prosanya. Dengan gaya deiktik, percintaan dalam gairah yang disusupkannya dalam melody sebuah lagu.

Sepintas, berbagai jejak itu terbaca terlalu jujur. Tetapi yang sungguh membuat buku kumpulan ini ‘beraroma wangi’ adalah langgam (corak/gaya) pengisahan ketujuh penulis ini dalam menuliskan kisahnya. Tujuh perempuan dengan tujuh langgam penulisan yang khas dan berbeda antara satu dengan lainnya. Di sinilah terlihat kematangan mereka dalam menggarap ide dan gagasan buku ini.

Para penulis ini tidak mengambil keuntungan dari pengisahan ‘jejak-jejak cinta mereka’. Mereka berangkat dengan satu tujuan yang telah dirumuskan sedari awal, bahwa keseluruhan hasil dari penjualan buku ini akan didonasikan untuk perkumpulan-perkumpulan perempuan yang selama ini bergerak memajukan kemandirian perempuan Indonesia.

Sebagaimana nafas dari buku ini; dipersembahkan para perempuan kepada perempuan yang positif, cerdas, mandiri, tangguh, tidak cengeng, dan berjiwa romantis. Selaku cermin tarsah; cermin yang mewujudkan semua impian, sekiranya buku ini pun sangat pantas dibaca kaum lelaki untuk memberi garis bawah pada posisi positif keperempuanan Indonesia yang sungguh berjiwa. ***


[Resensi] Bercermin pada Badik

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Judul : Badik

Penulis : Aspar Paturusi

Penerbit : Garis Warna Indonesia, Jakarta

Terbit : I, Maret 2011

Halaman : 372 halaman

Harga : Rp. 100.000

 

SAMBIL memegang buku pada kedua tangannya, seorang perempuan tua berjalan lurus ke arah Aspar Paturusi dan istrinya. Perempuan itu barusan dari meja counter penjualan. Begitu bermuka-muka dengan sastrawan dan aktor Aspar Paturusi, perempuan tua itu meminta Aspar menandatangani buku Badik, seraya bilang, ”duit cepat hilang, tapi buku akan tersimpan lama.” Katanya sambil tersenyum. Terharu, nyaris saja, Aspar meminta panitia mengembalikan uang perempuan itu, jika tak ingat bahwa perempuan itu pasti akan sangat tersinggung.

Kejadian barusan itu seusai Aspar Paturusi bersama istri berduet dalam sebuah pembacaan puisi, yang menandai soft launching buku Badik, untuk kalangan terbatas. Nama Aspar Paturusi memang tak asing lagi bagi penikmat sastra dan seni pementasan era 60-an hingga kini. Aktor yang pernah meraih Piala Vidia untuk Aktor Pemeran Utama Pria Terbaik 1992 dalam sinetron Anak Hilang, ini rasanya telah lengkap menjalani semua bentuk berkesenian.

Tapi yang juga sama pentingnya adalah peran Aspar dalam kesusasteraan Indonesia. Jejak kesusasteraan Aspar dapat dirujuk sejak tahun 1959 hingga saat ini. Dalam pada itu, Aspar terlanjur dikenal sebagai sastrawan asal Makassar yang menonjol. Buku Badik inilah puncak pencapaian kepenyairannya (poeta legalization).

Puisi LakekomaE (hal.345) juga menarik perhatian saya. Puisi ini termasuk karya yang berhasil mereduksi segala persoalan sosial berupa pertanyaan inti yang kritis. Ya, akan kemana engkau? Begitulah Aspar bertanya. LakekomaE, seolah sedang mempertanyakan secara langsung langkah kita dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mencuat di sekitar kita.

Puisi LakekomaE adalah sebuah puisi unik yang tidak hanya berpijak pada teks semata, tetapi juga di luar teks. Pengulangan bunyi dan tekstur kata LakekomaE dapat memberi efek pada pembacaan (tergantung suasana emosi pembacanya pada tiap baitnya).

Pada puisi Badik (2010), yang diangkat sebagai judul buku ini, Aspar berhasil membentuk ulang filosofi (re-building philosophy) sebuah Badik.

Kebanyakan orang, Badik seringkali diidentikkan pada sesuatu yang penuh kekerasan. Ini tentu anggapan yang keliru. Dalam kebudayaan dan peradatan Bugis-Makassar, dikenal tiga filosofi yang melekat pada Badik (Tellu Cappa; tiga ujung); setiap orang harus menjaga ujung lidahnya (Cappa Lila/ujung lidah), agar tidak mudah mempermalukan orang lain. Harus menjaga ujung martabatnya (Cappa Buto), agar tidak melakukan hal-hal yang memalukan baginya. Dan, menjaga ujung badiknya (Cappa Badi’), agar tidak direndahkan, dipermalukan, yang akan berujung pada pertentangan.

 

badik itu tidak terselip di pinggang

tapi harus kukuh tegak di hati

badik itu bernama badik iman

pamornya berukir takwa

(Badik, 2010, hal.161)

 

Bahwa secara peristiadatan, pada Badik masih melekat makna Tellu Cappa. Namun, prakondisi dan jaman akan memberi kita ruang yang luas pada pemaknaan Badik. Makna senjata itu tidak lagi sekadar artifisial, tetapi pemaknaannya lebih pada soal keimanan, logika dan ketakwaan.

Buku Badik ini amat menarik. Penyair Aspar Paturusi berhasil memadukan puisi-puisi lama dengan yang baru. Penggabungan ini akhirnya menciptakan ramuan yang asyik sekali. Karya puisi lama Aspar dalam buku ini berangka tahun 1964 hingga yang terbaru, tahun 2011.

Puisi-puisi Aspar memang melegitimasi semua kondisi yang sedang terjadi. Dengan penyampaian yang santun, metafora yang terang, dan diksi yang terpilih, Aspar bukan saja berhasil meletakkan segel pengesahan terhadap kondisi sekitar kita, tetapi juga membangun perlambang baru terhadap jaman yang sedang mengemuka. Maka tidak keliru, apabila Maman S. Mahayana, pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, menyebut puisi-puisi Aspar telah sampai pada apa yang dikatakan Chairil Anwar sebagai; menggali kata hingga ke putih tulang.

Aspar tidak saja dianggap sebagai salah satu penyair terkemuka saat ini, namun konsistensinya pada proses kepenyairan dengan tetap berada pada ‘jalur tengah’.

Menurut Maman S. Mahayana dalam kata pengantarnya pada buku Badik, ada tiga jalur penciptaan puisi pada para penyair Indonesia. Ada golongan penyair yang mewakili jalur puisi gelap, jalur tengah, dan jalur puisi terang. Bentuk pembaitan dan penciptaan metafora yang lebih berbagai adalah bagian dari usaha capaian estetik mereka. Para penyair yang mencoba mengikuti jalur ini, tidak sedikit yang terjerembab masuk pada model epigonisme Afrizal Malna.

Pada jalur puisi terang, masih menurut Maman, kecenderungan penyair memanfaatkan kelugasan bahasa Chairil Anwar yang membangun metafora dalam larik-larik melalui frasa atau kalimat lengkap; usaha menjaga persajakan dan rima akhir, menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan.

Aspar justru sangat tenang memilih jalur tengah; berjaya dalam merayakan metafora dengan frasa atau kalimat yang sengaja diciptakan dengan memberi ruang kosong bagi interpretasi pembaca.

Dari yang saya lihat, jejak Aspar telah mematangkan jalur tengah dalam khazanah kepenyairan Indonesia. Puisi-puisinya yang orisinil, tidak terjebak kata yang diindah-indahkan, mampu membahasakan kondisi di sekitarnya dengan tendensi yang tak berlebihan namun membangun pengaruh kuat pada setiap pembacanya.

Satu hal lainnya, Aspar pun tidak memilih mengasingkan diri dari perkembangan medium literasi, seperti yang sangat mempengaruhi kebanyakan penyair mapan. Dia mampu meninggalkan zona nyamannya dan memberi pencerahan serta edukasi pada berbagai lapisan penikmat karyanya dengan ikut membaginya dalam jejaring sosial. ***

Buku Kumpulan Puisi BADIK (foto: garis warna indonesia)


[Resensi] Cahaya Ka’bah Memendar Memanggil Sazkia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Judul: Pendar Jingga di Langit Ka’bah
Penulis: Naimah Herawati Hizboel
Harga : Rp50.000,00
ISBN 976-602-96610-0-2
Penerbit: Langit Kata

Jl. Penjernihan 1 No.14 Jakarta Pusat 10210
Telp/Fax. 021 5711034

***

“Tapi apa bedanya? Tidakkah ujung selalu kembali menemukan pangkal, dan pangkal menemukan ujung?”

(halaman 28, baris 32 sampai baris 33,
Pendar Jingga di Langit Ka’bah, Naimah Herawati Hizboel,
Langit Kata, Jakarta).

***

Buku Pendari Jingga di Langit Ka’bah bersampul cantik itu, oleh Hera, dikirimkannya padaku tak lama berselang setelah diluncurkan di BONDIES Café & Lounge di Kemang, Jakarta. Dia memintaku datang pada peluncuran bukunya, tapi aku tidak bisa. Ada urusan yang mendesakku untuk diselesaikan di bagian timur paling jauh Indonesia. Aku meminta maafnya, dan diberikannya.

Hati penulis perempuan ini sungguh baik. Kami belum pernah sekali pun bermuka muka secara langsung pada satu forum atau meja diskusi, belum sama sekali. Tetapi dia dengan cepat menganggapku teman baiknya, padahal kami berkenalan baru saja, melalui jejaring Facebook, pula. Aku mengundangnya menjadi bagian dari panel penulis tetap di The Indonesia Freedom Writers, sebuah perhimpunan penulis yang aku gagas sejak satu setengah tahun lalu. Sebuah perhimpunan yang bertujuan saling membagi pengalaman, ide dan gagasan dengan para penulis pemula. Dia langsung setuju, tanpa ada alasan sedikit pun.

***

Aku tak pernah menyangka isi buku itu sampai aku usai membaca bab keempat. Tadinya, aku mengira akan menemukan kisah Sazkia mengharu biru sepanjang bab hingga buku usai tuntas terbaca. Hera tiba tiba mengayun kisah Sazkia; dari flashback masa lampau gadis itu kepada hidupnya yang sekarang. Walau sempat terkejut, aku segera senang dengan gaya mengayun penulis ini pada plot. Pandai dia menyemat sambung setting, sehingga kita tak perlu gagap melihat batasnya.

Sazkia, nama gadis dalam buku itu, berkisah pedih sejak bab satu dimulai. Menjadi gadis tunggal dalam keluarganya, segera dirasakannya sebagai ujian tersendiri. Beruntung dia, dimilikinya dua orangtua yang telaten dan penuh tanggung jawab. Tak sadar dia, pada awalnya, wejangan wejangan, didikan orang tuanya itu, akhirnya menjadi dasar pijakannya ketika hidupnya berlanjut pada tangga nasib berikutnya.

Tetapi, bagaimana Sazkia menempuh pedih hidupnya tak bisa lama kau “nikmati”. Sebab, kisahnya pungkas—dan menurutku—menggantung seketika saat Anda meninggalkan bab keempat itu. Nanti akan saya beritahu apa yang aku maksud dengan kisah yang menggantung itu. Benarkah itu adalah kelalaian Hera? Atau justru disengaja olehnya, juga akan terjawab sendiri pada bab-bab selanjutnya selepas bab keempat itu.

Biar mudah bagimu, maka aku beritahu; buku ini mulai berkisah pada bab kelima.

***

Pada halaman tujuh baris ketiga, para pembaca buku ini, oleh Sazkia, akan dibawa pada stereotype kekerasan dalam keluarga yang tak berujung hukum. Apa penyiksa istri—kendati dia masih bersuamikan si lelaki itu secara sah—tidak bisa disentuh hukum?

Bagaimana posisi hukum negara bagi perempuan dalam hal ini?

Hukum normatif semestinya berlaku pada sang mantan suami. Tidak ada ruang bagi tukang siksa pada undang undang pidana kekerasan dalam rumah tangga. Jika alasannya, karena Sazkia masih istri sahnya, maka pertanyaannya; apa ada ruang dalam hukum Islam perihal kekerasan seperti itu? Tidakkah dengan jelas hukum Islam menyebut soal aniaya—terlebih terhadap kekasih hidup, sang istri—adalah juga dosa besar? Keras dan terang, Islam menyimpul hukumnya pada kasus macam itu.

Lantas, mengapa Sazkia seperti “membiarkan” kedua hukum itu berada di luar pintu rumahnya, saat aniaya berlangsung didalamnya? Sazkia ini, terasa, terlalu menerima nasib.

Lalu, di bagian mana pada kisah Sazkia itu yang menggantung? Keingintahuanku pada nasib sang mantan suami ketika berhadapan dengan hukum normatif pupus, saat tak kutemukan sedikit pun perihal itu hingga bab empat usai. Penasaran aku dibuatnya. Gemas juga mengetahui sungguh “baik” nasib lelaki tukang aniaya itu.

Rupanya Sazkia “masih tak enak hati” hendak membuka ujung nasib mantan suaminya selepas perceraiannya. Sazkia, atau Hera, menggantung tulisannya hingga tak pungkas kisah ini untuk para pembacanya. Sehingga, engkau yang membaca ini akan diliputi tanya penuh dalam benak; mengapa hakim (peradilan) hanya memutus perpisahan Sazkia saja? Tidak sekaligus mengusulkan perkara perempuan itu dilanjutkan untuk memproses tindakan biadab mantan suami Sazkia? Bukankah lebam dan siksa batin pada Sazkia terbaca pedih bukan main, maka memungkinkan bagi Sazkia, dan pemakluman dari pembaca menuntut Sazkia bertindak lebih jauh; menuntut hukum pada mantan suaminya, misalnya?

Sazkia ini, sebenarnya, hendak menegaskan stereotype macam itu. Sazkia ini hendak memperlihatkan lewat sebuah contoh, bahwa perempuan Indonesia kebanyakan—akan selalu—seperti itu. Mungkin akan mengobati rasa marah kesumat, hati remuk redam para pembaca, jika saja Sazkia membalas tindak amarah membabi buta sang mantan suami dengan hukum negara yang setimpal.

Membaca sang sang suami terpenjara, misalnya, akan bisa mengobati gejolak amarah pembaca ketika “merasakan derita” Sazkia ini. Tapi, rupanya Sazkia, tidak. Sazkia tidak membalas, Sazkia memilih bersikap syuhud.

Tetapi, mungkin akan baik jika Hera mengantar sikap Sazkia pada tulisan, tidak dengan lepas begitu saja; sepertinya Sazkia, melepas posisi perwakilannya terhadap para pembacanya. Oh, Hera… Oh, Sazkia…

Tetapi, aku keras menduga; ini disengaja oleh sang penulis. Sejak awal aku katakan perempuan ini memang piawai menyulam plot, menjalin setting. Aku mengira itu memang disengaja, sebab novel ini bergenre memoar. Mungkin dengan menelanjangi nasib si mantan suami, terasa akan terlalu vulgar. Mungkin ini caranya memancing emosi pembaca untuk lanjut ke bab berikutnya, pada bab bab perjalanan spiritualnya.

Seolah Hera ingin menegaskan kisahnya dalam buku itu; beginilah aku pada awalnya, dan demikianlah aku pada pertengahan ini. Itu membuatku bisa mengatur dan menjaga seperti apa aku akhirnya, kelak. Oh, Hera… Oh, Sazkia…

***

“Sudah kau baca Pendar Jingga di Langit Ka’bah?”

Begitulah aku menyapa sahabatku, yang dosen sastra, penggemar sanad ketauhidan itu, di suatu sore, dari balik telepon genggamku. Dia tertawa, renyah suaranya. Syukurlah, berarti dia masih sehat sehat saja.

“Waktu kau datang membawakanku sajaknya, namanya segera aku ingat. Saat di toko buku aku lihat buku itu tertera namanya, lantas aku beli. Sudah aku baca.” Sahutnya dari seberang telepon. Tak perlu kutanya dia ada di mana. Sore itu, aku tahu, dia menerima teleponku dari rumahnya; sebab suara anak kecil berteriak teriak terdengar jelas olehku. Itu anak lelakinya, usianya masih empat tahun.

“Tadinya aku hendak merekomendasikannya padamu. Tetapi karena kau sudah memilikinya, maka aku hendak meminta pendapatmu saja. Bagaimana?” Kataku lagi.

“Kau sekarang di rumah ya?” Tak langsung dijawabnya pertanyaanku. Justru aku benarkan lebih dulu pertanyaan baliknya itu. “Mirip panduan perjalanan, namun lengkap. Kalaupun ini sebuah panduan perjalanan umroh, sangat layak aku miliki. Membacanya serasa sedang ikut umroh bersamanya…hehehehe.”

“Jangan terkekeh. Bagaimana menurutmu buku itu sebagai sebuah memoar?”

“Layak. Pantas. Manusiawi. Membacanya, membagi pada kita gambaran besar hidup seorang hamba, yang benar benar menghamba. Kedekatan macam itu terhadap entitas Ilahiyah, cukup jarang ditemui. Aku justru hendak bertanya padamu; apakah rutinitas dan kesengajaan merendah hakikat sedemikian rupa itu, akan mengantarmu sedemikian dekat pada spiritualitas yang paripurna?” Kawanku itu balik bertanya.

“Itulah pintunya, sahabatku. Tidakkah kau merasakan dahsyatnya tutur buku itu ketika perempuan itu dihampiri berturut turut pengalaman spiritual yang hebat? Padanya, eksistensi ketuhanan menjadi sebuah keniscayaan. Jika dia berontak, rebelitasnya terbaca terlalu santun, menurutku. Aku mengira, Hera ini, tak menyadari ketika rindunya menjelma cinta. Cinta yang datar namun keras, pada entitas maha dahsyat. Makanya, dia dihampiri-Nya, beruntun, berulang ulang.” Jelasku padanya.

“Thasawuf-sufistik? Nyaris, menurutku.” Kata kawanku itu, “seandainya, jika dia mau menyerahkan seluruh dunianya untuk akhiratnya. Maksudku, seluruhnya.”

Tegas dan kentara telaah kawanku itu. Hebat, kali ini dia tak punya selera mendebat pendapatku. Padahal, aku tahu persis kegemarannya; lebih dulu mematahkan asumsiku sebagai jalan masuk pada perdebatan yang bernas. Biar lebih liat, katanya. Pusing kepalanya kalau tidak berbantahan denganku, barangkali.

“Dare alle luce…buku yang bagus.” Katanya padaku diakhir percakapan itu.

Demikianlah bahasan kami perihal Hera dan buku Pendar Jingga di Langit Ka’bah, karya memoarnya itu. Seperti kata kawanku tadi; dare alle luce (berarti; membawa terang, dalam bahasa Italia), begitulah nilai buku itu.

Kuucapkan salam padanya dan kutitipkan salam-cium buat anak lelakinya. Aku sayang pada anaknya itu, tetapi kadang jika tak awas, jarimu akan direnggutnya, lalu digigitnya. Aku berjanji akan mengunjunginya tak lama lagi.

***

Sesungguhnya buku ini mulai bercerita pada Bab 5. Perjalanan Jiwa. Sesungguhnya penulis mulai melepas jejak pengalamannya pada kisah di bab ini. Pada bab sebelum bab 5, pesan terkait yang timbul hanyalah bahwa penulis, atas nama Sazkia ini, membuhul niatnya pada perjumpaan spiritualis; antara dia, dengan tanah suci; dengan Tuhan pemilik tanah suci; dengan Tuhan pemilik semesta; dengan Allah SWT saja.

Anda bisa membuktikan prasangka saya pada paragraf awal bab tersebut.

Mari menikmati konflik spritualis: Sazkia mulai bergulat pada konflik internal dirinya, terbaca pada bab 6, di penuturan penuturannya, doa doanya.

“Gusti Allah yang Agung, ampuni aku wahai pemeliharaku. Aku ingin menghapusnya. Menyudahi peperangan yang menyandera batin dan hatiku. Semua harus segera aku anggap tamat dan berlalu setelah aku menanggung rasa sakit yang mengiris-iris, yang telah mengubah semua persepsiku kepadanya yang selama ini menghantui benakku. Tujuh tahun yang melelahkan, cukuplah sudah. Aku ingin mendirikan sholat dan berzikir di depan pintu Ka’bah-Mu. Bersimpuh hanya untuk-Mu. Menyerahkan segalanya hanya kepada-Mu.”

Demikianlah. Doanya kecil saja, tetapi harapan untuk perwujudannya demikian besar, melampaui batas mitsal.

Permintaannya pun latif saja, tetapi harapannya selalu ma’ad jua pada Allah SWT, sang Qahhar, maha perkasa itu.

***

Buku ini beralur pendek; berkisah soal Sazkia pra remaja kemudian remaja; pernikahan pertama Sazkia; pekerjaan dan karir Sazkia; pernikahan kedua Sazkia; berakhir pada pengalaman spiritual Sazkia. Aku suka cara penulis ini mengayun plot, demikian halus.

Plotnya melompat lompat namun berkait mengikat ; plot ini diantar oleh Sazkia melalui ingatan-ingatannya pada peristiwa lampau dan kondisi terkini yang ditemuinya. Plotnya berputar pada; kehidupan Sazkia lalu pada keinginan mendekati Allah lewat Haji, pada kehidupan Sazkia lagi; kemudian pada “percintaan” dan kerinduan Sazkia pada Allah yang termanifestasi melalui pengalaman-pengalaman spiritual Sazkia.

Ini terekam pada kalimat yang terkutip di halaman 28, baris 32 sampai 33. “Tapi apa bedanya? Tidakkah ujung selalu kembali menemukan pangkal, dan pangkal menemukan ujung?”

Demikian itu intinya, ibadah itu, hidup manusia itu; berputar melingkar, berulang, mirip tawaf pada prosesi haji. Ini yang hendak disampaikan Hera, lewat Sazkia.

 

Dua Hal Lainnya Dalam Catatanku

Buku ini hendak berkisah tentang dua perjalanan pada satu kisah; perjalanan spiritual, dan perjalanan jism mitsali (jasmaniah). Alur kisah yang terbangun menceritakan kedua perjalanan ini sekaligus pada satu plot dan setting, dengan piawai dijalin penulisnya.

Saat sedang melakukan perjalanan umroh secara jasmaniah, pada saat yang sama Sazkia pun melakukan perjalanan rohani yang dikisahkan menakjubkan dan penuh keberuntungan yang serba kebetulan. Membaca perjumpaan demi perjumpaan Sazkia dengan aura spiritualisme, sungguh, kita akan segera berguman, “sungguh beruntungnya perempuan ini.”

Sepertinya; nasibnya yang penuh dengan pedih pada masa lalu itu, terbayar lunas dengan semua kebetulan dan keberuntungan yang menghampirinya dalam perjalanan itu.

Settingnya pun terjalin indah. Hera dengan piawai mampu melompat ringan dan indah dari penuturan soal perasaan melankolisnya ketika berada di masjid Quba, Madinah, seketika Anda dibawanya di desa Tambi, Sliyeg, Indramayu; pada sosok penari topeng Mimi Rasinah.

Demikian pula tatkala Sazkia sedang diombang ambing rasa, dimabok estetika, saat sebuah aura maha dahsyat, energi murni menghampirinya saat sholat di mesjid Nabawi, Anda akan dijalin pada pengalaman yang nyaris mirip saat Sazkia berada di sebuah mesjid Atta’awun, Puncak, Jawa Barat. Sungguh ringan lompatannya, lembut sulaman kisahnya, sehingga dua kisah pada dua setting berbeda terayun dan terbuhul cantik.

Salutku pula pada editornya; kawan Rusdi Amrullah Mathari, cemerlang dia menyunting kisah pada naskah.

***

Membaca pengalaman trance Sazkia pada saat dia dihampiri Lailatul Qadr di mesjid Atta’awun itu membuat saya teringat pada pengalaman serupa yang saya alami.

Jika Sazkia berjumpa dengan rombongan malaikat yang shalat berjamaah tepat dihadapannya, maka aku sulit menyebut mahkluk apa yang aku jumpai saat trance macam itu. Warna dan penampakannya saja berbeda, seingatku.

Tapi nanti, aku kisah pengalaman itu di lain tulisan. Silahkan Anda “nikmati” Hera ini dulu ya?

Novel memoar ini hendak mendekati tasawuf, dan ketaudihan pada Allah SWT, lewat seorang manusia perempuan bernama Sazkia. Lewat dirinya, Sazkia hendak bilang bahwa merindui, “bercinta” dengan Allah itu bisa dilakukan oleh siapa saja, setiap kalian orang Muslim.

Mendekati-Nya, sebaiknya menjadi sebuah cita-cita utama dalam konsep spiritualitas setiap orang, tetapi bahwa berakhir jatuhnya pilihan Sang Khalik pada siapa? Tentu tergantung Sang Maha Suci. Engkau bahkan tidak boleh menggugat. Engkau bahkan tidak boleh bertanya. Pungkas hakmu bahkan sebelum engkau bersedekap dalam liang tanah.

***

Banyak hal yang bisa Anda petik usai membaca Pendar Jingga di Langit Ka’bah ini. Hera membagikan banyak kisah dalam perjalanan itu; tentang kota kota suci megah, suasana masyarakat arabian, sifat lekat komunalnya, beragam pantangan ketika berada di sejumlah tempat itu. Khususnya, bagi pembaca non-wahabi, perbedaan tuntunan dan tuntutan peribadatan yang teramat kentara dengan tata cara pengikut faham Ahlul Sunnah Wal-Jamaah, Muhammadiyah, dan bahkan Syiah.

Kita akhirnya menjadi tahu, apa yang tidak boleh dilakukan saat berada di salah satu dari tempat tempat itu; masjid Quba, misalnya. Walau pun engkau Sunni, Syiah, Muhammadiyah, atau Syalafi, tidak boleh melanggar hukum Wahabi. Jika tak hirau, niscaya tongkat para Asykar barang sebentar akan mampir dipunggungmu. Minimal, engkau akan dihalau, menjauh keluar dari lokasi ibadah itu.

Mata Sazkia, atau Hera, serasa mewakili mata kita. Menerima penjelasannya soal bentuk arsitektur masjid Quba, arsitektur masjid Nabawi, dan masjidil Harram, benak kita bisa langsung membayangkan. Anda, kita, akan merasa ikut serta dalam perjalanan umroh perempuan Sazkia itu.

Lezatnya Kurma Nabi, sekaligus berjalan jalan di kebunnya; dan keajaiban Medan Magnet, seperti tak mau kita lepas kisah di penghabisan bab.

Ada nuansa lain ketika membaca buku ini, dan membuat aku mengira bahwa buku ini selain sebuah novel, include pula, mirip travel guide umroh. Semua hal yang layak berada dalam sebuah travel guide, Anda akan temui ketika membacanya; bagaimana mengurus umroh, siapa yang Anda mesti hubungi pada paket umroh plus, seperti apa akomodasi yang bakal Anda dapatkan, suasana Jeddah, Madinah, dan Mekkah; tarif beberapa hotel, toko cinderamata murah, harga dan jenis makanan di tempat tempat tertentu, bahkan siapa yang mesti Anda temui, hingga siapa yang menemani Anda sebagai pemandu, ada dalam buku ini.

Mirip sebuah paket hemat, cukup beli satu buah buku, Anda akan memperoleh sebuah novel memoar, dan sebuah travel guide. Beruntungnya Anda, bukan?

Tetapi selebihnya, bahwa buku ini memang layak adalah keseriusan penulisnya mempersiapkannya. Bahasanya rancak, padanan katanya terpilih, plot, dan setting-nya mengayun indah dan tak nampak berbekas batas pada dua bagiannya. Baik sekali.

Sejumlah nama pada endorsment buku ini terasa mewakili kualitasnya. Ada Kurnia Effendi, penulis terkenal itu. Ada Arief Joko Wicaksono, jurnalis yang juga penyair itu. Dan, ada Hadi M Djunaid, seorang wartawan kawakan yang luas relasinya.

Selebihnya, buku ini memang sangat layak untuk dibaca. Pantas pula terselip berjejer di rak buku koleksi Anda.

Tapi apa bedanya? Kau bertanya, Sazkia?

Benar Sazkia…Apa Bedanya? Bukan begitu, Hera?

Begitulah, aku telah jujur padamu. ***


%d blogger menyukai ini: