Author Archives: ilhamqmoehiddin

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM

[Buku Baru] 4 Musim Cinta | Novel | Pringadi Abdi Surya

4 Musim Cinta

4 Musim Cinta

(sebuah novel)

Terbit 13 Maret 2015 !

 

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

 

4 Musim Cinta (sebuah novel)

Penulis: Mandewi Gafur Puguh Pringadi (a.k.a Pringadi Abdi Surya)

Penerbit: Exchange

ISBN: 978-602-72024-2-9

Spek Buku: 333 hlm. | 14 x 21 cm | SC | Bookpaper

Harga: Rp 59.500,-

Email: fiksiexchange@gmail.com

Website: http://www.kaurama.com

 

“Inspiratif! Menggetarkan! Menghanyutkan! Tak kusangka bisa lahir sebuah karya hebat dari tangan para abdi negara.”

—Ahmad Fuadi, pengarang Trilogi Negeri 5 Menara.

“Ada banyak hikmah dalam novel ini. Tak hanya melulu soal cinta. Selain menyajikan suka-duka kehidupan para pegawai negara, buku ini pun bisa menjadi sebuah kritik tentang bagaimana mengatur negara seharusnya.”

—Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu RI.

“Novel ini menggambarkan kesenyawaan ragam cerita, pengalaman dan harapan yang berjejal dan lalu-lalang di layar kehidupan para pegawai negara. Sebuah upaya yang ambisius!”

—Ahmad Nurholis, inisiator penulisan 4 Musim Cinta.

“Sensasi membaca novel ini mirip ketika aku mendengarkan deep house music. Di setiap keluk dan tikungan kisahnya menyajikan kejutan atau ungkapan yang tidak bikin bosan.”

—Victor Delvy Tutupary, kandidat doktor filsafat.


[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).


[Pertala] Kamar Merah | H. G. Wells

Kamar Merah

Oleh H. G. Wells

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

TheRedRoom565

KUPIKIR, orang-orang jompo kerap mengoceh untuk mengenyahkan ketakutan mereka. Kupandangi sekeliling tempat ini dan mendapati diriku dalam cermin tua di sudut ruangan. “Ya. Semoga aku tidak bertemu sesuatu malam ini,” ujarku.

“Terserah kau.” Kata lelaki tua berlengan kayu.

Suara menyedihkan terdengar dari engsel pintu yang terbuka saat seorang lelaki tua lain berjalan masuk sambil menyeret kakinya. Tubuhnya lebih bungkuk dan kulitnya lebih keriput. Ia menopang dirinya dengan tongkat. Bibir bawahnya tergantung mengerikan dengan gigi busuk menguning. Sikapnya padaku sungguh aneh—mata kecilnya hanya menatap tajam dari bawah bayangan alisnya. Kemudian ia terbatuk.

“Ya. Ini pilihanku—” kataku. Atavistik telah membawa dampak tidak manusiawi pada orang-orang seperti ini; menurunkan kualitas manusia dari hari ke hari. “Bisakah kalian menunjukkan kamar berhantu itu?”

Aku menunggu, memandang mereka satu per satu.

“Ada lilin di depan pintu,” kata lelaki tua berlengan kayu. “Jika kau akan ke kamar merah malam ini—”

“Inilah malam dari semua malam!” Gumam wanita tua yang duduk di depan perapian.

“—seorang diri.”

“Tunjukkan arahnya.”

“Berjalanlah lurus di koridor bawah,” ia menunjuk, “sampai kau temukan tangga spiral yang menuju lantai dua di balik pintu berlapis baize hijau. Naiklah, susuri koridor atas—kamar merah itu di sebelah kiri di ujung koridor.”

Aku mengulangi petunjuknya dan ia mengangguk.

“Apa kau sungguh akan memeriksa kamar itu?” Lelaki tua bermata kecil itu bertanya sembari berdiri dan memutari meja, bergabung dengan dua kawannya di depan perapian.

“Itulah tujuanku kemari,” aku melangkah ke pintu.

“Inilah malam dari semua malam—” Terdengar gumaman wanita tua itu lagi.

Di pintu aku berhenti, kulihat mereka melalui bahuku. Mereka duduk merapat dengan mata lurus ke perapian. “Selamat malam,” kataku di ambang pintu.

“Terserah kau saja—” kata lelaki tua berlengan kayu.

**

Kususuri koridor bawah dengan lilin di tangan. Langkahku menciptakan gema yang aneh. Bangunan ini dari masa yang lebih tua, masa ketika spiritualitas begitu menakutkan, ketika kemustahilan jadi masuk akal, ketika kutukan, sihir dan hantu-hantu tidak disangkali. Keadaan mereka sangat spektral; karakter yang seharusnya sudah punah—memilih hidup di bangunan tua berhantu. Orang-orang seperti itu selalu ada di setiap waktu.

Koridor ini gelap dan lembab, dindingnya berselaput lumut. Nyala lilin di tanganku membentuk bayangan yang menari di dinding. Gema memantul di koridor dan kegelapan merayap di belakangku—kegelapan di depanku seperti menyingkir setiap kali aku melangkah maju. Lantai tampak melebar di ujung koridor. Aku berhenti, memastikan suara gemerisik—yang kukira dari sesuatu yang merangkak di belakangku. Kutarik gagang pintu berlapis baize hijau dan mendapati diriku berdiri di bawah tangga spiral dari susunan batu padas.

Cahaya bulan menerobos jendela besar di ujung koridor. Pintu kamar merah tampak di sana. Di sinilah para penghuni awal tempat ini ditemukan tewas, dan ingatan pada cerita itu membuatku cemas. Hening yang mencekam. Tergesa kudorong pintu kamar itu sembari sedikit menoleh pada keheningan koridor di belakangku.

Inilah kamar merah Kastil Lorraine, tempat seorang countess muda ditemukan mati. Menaklukkan tempat-tempat berhantu adalah upaya yang baik untuk mengakhiri takhayul. Ada cerita tua terkait kamar ini—balik ke masa di mana semua hal luar biasa ini bermula; kisah seorang istri pemalu dan hidupnya tak sengaja berakhir tragis dalam gurauan menakutkan suaminya.

Aku menengok ke luar melalui jeruji jendela. Hanya samar yang aneh di luar sana. Kegelapan juga meringkuk di relung, cerukan, dan di lipatan dinding kamar ini. Warna merah berubah kecoklatan dan perabotan menjadi kusam karena debu. Kisah-kisah aneh secara keji menenggelamkan semua keindahan ini, membuat legenda gelap tempat ini tumbuh subur di benak setiap orang. Cahaya lilinku gagal mencapai ujung kamar dan justru meninggalkan kesan misterius pada lantai yang kusam.

Kuputuskan memeriksa tempat ini lebih teliti dan berusaha tidak meluputkan sesuatu yang bisa diimajinasikan sebagai takhayul berikutnya. Kukelilingi kamar ini, memeriksa perabotan, menyingkap kelambu, membuka lipatan tirai, membungkuk di perapian, menekan panel-panel kayu untuk membuka pintu rahasia yang mungkin ada. Langkahku menimbulkan gema aneh. Saat mencapai ceruk, aku terkejut menemukan wajahku di sebuah cermin besar. Di cermin itu, wajahku—putih.

Bingkai cermin itu punya sepasang sconce. Aku nyalakan dua lilin yang masih ada di situ. Kini suasana cukup benderang. Kusingkirkan chintz dan mendorong sebuah kursi untuk kujadikan pembatas. Entah kenapa aku merasa sesuatu sedang mengendalikan kegelapan dan kesuraman di kamar ini—gema dari suara derak kayu mengundang imajinasiku. Bayangan pada ceruk di ujung kamar seperti menampilkan kehadiran lain. Sugesti aneh dari sesuatu yang tersembunyi masuk ke benakku begitu saja. Di ceruk itu kunyalakan sebatang lilin.

Lega tidak menemukan sesuatu yang nyata, aku mengisi waktu dengan merangkai sajak mengenai legenda tempat ini. Kadang aku bersajak keras-keras, tapi aneh mendengar gema dari suaraku sendiri—untuk alasan yang sama aku berhenti setelah beberapa saat.

Cahaya lilin di ceruk berkelip, menciptakan penumbra yang terus bergerak seperti menari tanpa suara. Teringat pada lilin yang kulihat di koridor, aku ke sana dan kembali dengan sepuluh lilin di tanganku. Usai kunyalakan, semuanya kutempatkan di area yang samar—menerangi nyaris seluruh bagian kamar ini. Kewaspadaan ini terasa berat. Aku memerhatikan jarum penunjuk menit yang merayap di arlojiku menjelang tengah malam.

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya sesuatu sedang berlangsung. Entah kapan lilin-lilin mulai padam, tapi saat aku menoleh, kudapati kegelapan bermunculan kembali ke tempatnya. Kukeluarkan korek api dari sakuku, berjalan melintasi ruangan dan menyalakan kembali lilin-lilin yang padam. Saat sedang memantik api, sesuatu tampak berkedip pada dinding di sisiku. Aku menoleh dan melihat dua lilin di atas meja kecil baru saja dipadamkan. “Demi Tuhan!” Saat aku berdiri terpana.

Sedetik berikutnya dua lilin di sconce cermin mendadak padam, seperti dipadamkan oleh telunjuk dan ibu jari seseorang. Sebuah lilin lain di sisi ranjang ikut padam dan kegelapan mendekat ke arahku. Berikutnya yang terjadi adalah—satu demi satu lilin padam berurutan. “Hentikan!” Teriakku ketakutan seraya melangkah mundur.

Kegelapan dengan cepat hendak membungkus tubuhku. Aku bergeser ke arah cerukan dan menyalakan sebuah lilin di tempat itu. “Jangan usik lilin-lilin ini—” kataku entah pada siapa.

Wajahku pucat, tanganku gemetar dan berkali-kali gagal memantik api dari kotaknya. Seperti dinaungi jubah kegelapan, dua lilin lagi padam. Tampak sesuatu yang banyak sedang merayapi lantai di dekat pintu. Empat lilin lain menyusul padam sekaligus di berbagai sudut kamar dan dengan tubuh gemetar aku berusaha menjaga lilin di dekat tetap menyala.

Aku berharap bisa pingsan saja saat itu, saat sebuah tangan yang samar baru saja memadamkan dua lilin di dekat perapian. Teror mencengkeram dadaku. Aku berteriak seraya melompat dari cerukan ke arah cahaya bulan di bawah jendela. Sial—tidak sengaja korek api kujatuhkan entah di mana. Sementara satu per satu lilin dipadamkan oleh tangan yang samar, kegelapan merayap ke arahku. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Dengan harga diri yang tersisa, aku berusaha mencari pintu dan sia-sia bertahan melawan teror yang menyerang tanpa belas kasihan.

Satu-satunya lilin yang masih menyala di tanganku, terlepas dan padam, saat udara berhembus tiba-tiba ke sisi tubuhku disusul kursi yang datang menghantam dinding dengan keras. Kini tampaklah cahaya merah merayap, melintasi langit-langit kamar dan berhenti di tengah kegelapan—mengambang. Api!

Api itu menari, memantulkan cahaya merahnya ke permukaan perabotan. Perlahan api itu menjauh dariku sebelum tiba-tiba lenyap, membungkam kemilau cahaya di perabotan. Mungkin ini kesempatanku. Aku merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan. Kegelapan yang pekat, bahkan aku sukar melihat tanganku sendiri dan itu menghancurkan kepercayaan diri terakhir di dadaku.

Itu bukan sekadar ketakutan yang dahsyat. Aku menepiskan tangan sebagai upaya sia-sia mendorong kegelapan menjauh dariku seraya berteriak sekuat-kuatnya—sekali, dua kali, tiga kali. Aku tahu, kesempatanku lepas dari perasaan terkutuk ini adalah menuju koridor. Aku meraba-raba menuju pintu.

Cahaya bulan di koridor tidak membantu. Setiap kali tersandung beberapa perabotan lain, aku segera bangkit dan berlari. Ini sensasi mengerikan yang baru kurasakan seumur hidupku. Dalam kepanikan tak berujung, sebuah pukulan menghantam dahiku, memakan keseimbangan tubuhku, membuatku terhuyung sebelum terguling di tangga batu. Kemudian aku tak ingat apapun lagi.

**

Aku tersadar dengan kepala pusing dan terbalut perban. Hari sudah terang. Lelaki tua berlengan kayu sedang menatapi wajahku. Kucoba mengingat yang terjadi, tapi ada beberapa bagian yang tak bisa kuingat dengan jelas. Aku memutar mata ke sudut ruang dan mendapati wanita tua—tidak lagi tampak pucat dan mengerikan—sedang menuangkan sedikit obat dari tabung biru kecil ke dalam gelas. “Di mana aku?” tanyaku.

“Kami menemukanmu di bawah tangga,” katanya, “ada luka di bibir dan dahimu.”

Saat siang, wajah mereka tampak lebih muda, kecuali lelaki tua bermata kecil yang selalu menunduk seperti mengantuk. Cukup lama bagiku memulihkan ingatan pada kejadian semalam. “Kini kau percaya—” ujar lelaki tua berlengan kayu, “bahwa kamar itu berhantu?” Ia tidak lagi bicara seperti menyambut orang asing, tetapi seperti sedang mengasihani seorang teman.

“Ya—” kataku, “kamar itu berhantu.”

“Kami bahkan tidak pernah ingin melihatnya. Beritahu kami, apakah ia seorang earl.”

“Tidak—ia tidak seperti itu.”

“Sudah kubilang—” sergah wanita tua, “itu countess yang malang.”

“Bukan,” kataku lagi. “Tidak ada hantu earl maupun countess di kamar itu; kecuali sesuatu yang tidak terlihat dan jauh lebih buruk—”

Tatapan mereka berubah.

“Lebih buruk dari sekadar hal yang bisa menghantui setiap orang malang,” kataku, “dan itu adalah—ketakutan! Ketakutan yang menguasai, membuat tuli dan buta—yang mengikutiku di koridor, yang aku lawan di kamar itu.”

Kami terdiam cukup lama.

Lelaki tua bermata kecil menatapku. “Itu kuasa kegelapan yang mengutuk rumah ini! Ia berdiam di kamar itu. Kau bisa merasakannya di siang hari—bahkan di siang hari yang cerah di musim panas. Bergelantungan di mana-mana, merayap di keremangan, mengikutimu walau kau tidak ingin melihatnya. Ketakutan akan bertahan di kamar merah itu—selama dosa ada di rumah ini.” (*)

 

 

Cerpen The Red Room (1894) adalah cerpen gothic karya Herbet George Wells. Cerpen ini pertama kali terbit di majalah The Idler edisi Maret, 1896. H. G. Wells (1866-1946) adalah penulis prolifik terbaik Inggris. Ditahbiskan sebagai “bapak fiksi ilmiah Inggris”. The War of the Worlds, The Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Doctor Moreau, adalah beberapa karyanya yang paling fenomenal dan telah difilmkan.


[Pertala] Wanita Bergaun Hitam | Eleanor H. Porter

Wanita Bergaun Hitam

Oleh Eleanor H. Porter

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

lady-in-black

DI KAMAR kecil di atas beranda, wanita bergaun hitam duduk sendirian. Di dekatnya, gadis kecil bergaun putih terbaring. Di lantai, sepasang sepatu kecil terserak, seperti telah dilemparkan begitu saja. Sebuah boneka tergantung terbalik di sandaran kursi dan mainan prajurit dengan pedang terhunus tegak di sisi ranjang. Suasana hening—keheningan aneh yang datang ke kamar itu tiga bulan lalu.

Ada jam kecil di atas rak yang tegak di kaki ranjang. Jam itu tampak mengerikan baginya—dan tidak masuk akal—bahwa bandul berwarna emas masih berayun di bawahnya, sedang di atas ranjang berlapis linen putih, sesuatu yang lain sudah berhenti berdenyut. Maka wanita bergaun hitam itu mengulurkan tangan dan menghentikan ayunan bandulnya. Saat sesuatu sudah diam, maka jam itu juga harus diam.

Masih perlukah waktu berdetak saat ini? Seolah itu sesuatu yang penting, saat Kathleen kecilnya terbaring di bawah salju dan tanah hitam di luar sana! Hari ini, jam itu pula yang mengingatkan wanita bergaun hitam itu pada gelombang amarah yang meledak saat doanya ditolak pada suatu malam tiga bulan sebelumnya.

“Muvver…!”

Wanita bergaun hitam yang sedang diaduk kegelisahan itu melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang bocah lelaki bermata biru dengan dekik di pipi yang sedang membutuhkannya, tapi ia ingin anak lelaki itu tidak memanggilnya dengan nama itu. Sebutan itu hanya akan mengingatkannya pada sosok cantik berbibir tipis—yang kini sudah tak ada.

“Muvver…!” Desak suara itu.

Wanita bergaun hitam tidak menyahut. Ia pikir, mungkin anak lelaki itu akan segera pergi, jika tidak mendengar sahutannya.

Ada keheningan yang singkat, sebelum gagang pintu berputar turun dan terdengar engsel yang berderit saat pintu perlahan-lahan membuka, menampakkan anak lelaki dalam setelan Rusia.

Ia menceguk sesaat, lalu seketika hening kembali. Di balik gaun hitamnya, wanita itu tak tersenyum dan memanggil anak lelaki itu agar mendekat. Anak itu berdiri diam, ragu-ragu, kemudian berbicara terbata-bata, “aku sudah…di sini, Muvver.”

Kata-kata itu, bagi wanita bergaun hitam, hanya mengingatkannya pada kepahitan lain yang kini tidak ada di sana. Ia menjerit tertahan dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Bobby, Bobby, mengapa kau berolok-olok dengan sebutan itu?” Ia mengerang dengan hati gulana. “Pergi… Pergi! Aku ingin sendiri—sendirian!”

Semua keriangan di wajah bocah lelaki itu lenyap seketika. Dekik di pipinya hilang dan matanya menampakkan kesedihan yang dalam. Perlahan-lahan anak lelaki itu berpaling. Di ujung tangga anak lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. Pintu itu masih terbuka dan wanita bergaun hitam masih duduk dengan tangan di wajahnya. Anak lelaki itu menunggu, tapi wanita itu tak bergeming. Seraya menahan tangis, anak lelaki itu melangkah menuruni tangga.

Beberapa menit setelahnya, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya dan kembali memandang melalui jendela. Anak lelaki itu kini berada di halaman bersama ayahnya, sedang bermain di bawah pohon apel.

Bermain!

Wanita bergaun hitam memandang mereka dengan mata muram. Di halaman tampak Bobby sedang bermain, tertawa dan menari. Akan selalu ada orang yang mengajak Bobby bermain, seseorang yang akan mencintai dan merawatnya; sementara di sana, di lereng bukit, Kathleen sendirian—benar-benar sendirian.

Wanita bergaun hitam itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tangannya gemetar saat mengenakan topi dan menurunkan lipatan cadar menutupi wajahnya. Langkahnya tampak mantap saat menuruni tangga, menyusuri lantai bawah dan melangkah ke luar.

Pria di bawah pohon apel melihatnya dan datang menyongsong. “Helen, Sayang—jangan lakukan ini lagi!” Suaminya memohon. “—Ini tidak ada gunanya, sayang!”

“Tapi ia sendirian. Kenapa kau tidak memikirkannya! Tidak seorang pun yang tahu perasaanku. Kau tidak mengerti. Jika kau paham, kau pasti menemaniku. Jangan memintaku untuk berdiam diri di sini!” Sergah wanita itu.

“Aku bersamamu, sayang,” kata pria itu lembut. “Aku selalu bersamamu hari ini dan setiap hari—sejak Kathleen meninggalkan kita. Tapi tidak baik memperlihatkan kemurungan di makamnya. Kau tahu, sayang, ini hanya menambah kesedihanmu, aku, dan Bobby!”

“Tidak, tidak,” wanita itu terisak lagi. “Kau tidak mengerti—kau tidak mengerti!” Ia membalikkan tubuh dan berjalan terseok-seok menuju bukit, meninggalkan bayangan hitam kesedihan dalam tatapan suaminya dan kebingungan di mata anak lelakinya.

Jalur landai di bawah kanopi pepohonan hanya ditembusi cahaya matahari yang sedikit sampai ke tanah. Walau wanita bergaun hitam itu tahu tujuannya, ia seperti linglung, terhuyung-huyung dan kerap tersandung. Bangkit setelah jatuh, wajahnya tampak lelah. Namun ia berhasil mencapai bagian bukit yang ditandai batu bertulis ‘Kathleen’. Tidak jauh darinya tampak seorang wanita lain sedang menatapnya dengan simpatik, tangannya dipenuhi bebunga mawar merah muda dan putih. Wanita berambut kelabu itu seperti hendak bicara, tapi tampak ragu saat membuka bibirnya, kemudian urung. Ia berbalik perlahan-lahan dan mengatur bunga-bunga yang ia bawa ke sebuah pot di sisi sebuah makam.

Dalam dera kesedihan, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya. Untuk sesaat ia mengamati wanita berambut kelabu, sebelum ia mengangkat cadarnya dan berbicara. “Anda mengunjunginya—” katanya lembut. “Aku yakin pernah melihatmu di sini sebelumnya. Anak itu—seorang gadis kecil juga?”

Wanita berambut kelabu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ia anak lelaki—setidaknya ia seorang anak lelaki 40 tahun yang lalu.”

“Empat puluh tahun—itu waktu yang lama! Bagaimana Anda bisa bertahan selama 40 tahun—tanpanya?”

Lagi, wanita berambut kelabu itu menggelengkan kepalanya.

“Terkadang—kita harus melaluinya. Tapi ia bukan anakku, bahkan bukan kerabatku.”

“Tapi Anda merawat makamnya. Aku melihat Anda kerap ke sini.”

“Ya. Tidak ada yang merawat makam ini. Aku sesekali datang untuknya.”

“Untuk anak lelaki ini?”

“Ibunya.”

“Oh!” Wanita bergaun hitam mengangguk, tapi matanya lurus ke makam Kathleen.

“Aku tidak ingin terdengar bisa memahami ibunya,” gumam wanita berambut kelabu itu setelah usai menata bunganya dan menoleh pada wanita bergaun hitam. “Aku bekerja sebagai perawat anak lelaki ini ketika semua itu terjadi, dan bertahun-tahun setelahnya aku tetap bekerja di keluarga itu—jadi aku tahu. Aku melihat semuanya, sejak awal dan di hari ketika anak laki-laki ini mengalami kecelakaan.”

“Kecelakaan!”

“Ya. Itu peristiwa tabrak lari dan hidupnya tak sampai dua hari.”

“Aku tahu rasanya…!” Wanita bergaun hitam tersedak kepiluannya, namun ia sama sekali tidak sedang memikirkan anak laki-laki itu dan penabraknya.

“Banyak hal yang kemudian sukar aku lupakan,” lanjut wanita kecil berambut kelabu setelah beberapa saat, “…dan itu adalah awal dari segalanya. Ibu anak lelaki ini melepaskan perhatiannya pada suami dan putrinya. Ia tidak memperdulikan mereka, kecuali makam ini. Ia datang ke makam ini menghabiskan waktu berjam-jam—berbicara dan merangkai bunga untuk anak lelakinya.”

Wanita bergaun hitam tiba-tiba mengangkat kepala, memandang sekilas ke wajah wanita berambut kelabu, tetapi wanita itu telah memalingkan wajahnya sebelum beberapa saat kemudian kembali bicara.

“Walau memiliki apapun, tapi ibunya tampak tidak memikirkannya. Bahkan tampak tidak menginginkannya. Ia menutup diri, menyingkirkan banyak foto. Ia membiarkan piano tidak dibuka sama sekali. Ia tidak pernah berada di mana pun di rumah itu kecuali di kamar anak lelakinya dan membiarkan segala sesuatu di kamar itu tetap berada di tempatnya. Aku bertanya, apakah ia tidak menyadari dampak atas tindakannya—tapi ia tidak mau bicara.”

“Dampak…?” Wanita bergaun hitam terkejut.

“Ya. Ia tidak perlu merasa kehilangan suami dan putrinya—ia tidak menyadarinya.”

Wanita bergaun hitam itu tiba-tiba merasakan keheningan yang pekat di sekitarnya.

Wanita berambut kelabu bicara lagi. “Anda kini tahu alasanku datang dan meletakkan bunga-bunga di sini—itu kulakukan untuk ibunya. Setelah ia wafat, tidak ada lagi yang akan melakukannya,” ia mendesah seraya bangkit berdiri.

“Tetapi Anda belum bercerita—apa yang terjadi pada suami dan putrinya.” Wanita bergaun hitam itu bersungut-sungut.

“Aku hanya tahu sedikit tentang mereka. Setelah ia wafat, aku hanya tahu bahwa suaminya banyak melakukan perjalanan—jadi pria itu tak selalu berada di rumah. Ada cerita bahwa pria itu melakukan hal-hal buruk—tapi mungkin itu tidak benar. Bagaimanapun, pria itu jarang pulang dan suatu saat ia kembali ke rumah itu, kondisinya tampak buruk dan sakit. Pria itu wafat dan dimakamkan di sana, di sisi istri dan putranya. Mengenai putrinya—hmm… tidak ada yang tahu di mana gadis itu. Anda tahu—hidup para gadis seperti bunga-bunga dan sinar matahari, dan selalu tentang pesta dan pemuda tampan. Gadis itu merasa tidak akan mendapatkan salah satu dari itu dengan hanya berdiam di rumah. Jadi, gadis ia pergi—kurasa, ke tempat ia bisa mendapatkan semuanya. Tidak ada yang tahu dimana gadis itu. Begitulah—jika aku tidak pergi, Anda pasti akan lelah mengobrol denganku!” Wanita berambut kelabu itu tampak cemas. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menceritakan ini!”

“Tidak—aku senang mendengarkan Anda.” Wanita bergaun hitam buru-buru berdiri.

Wajah wanita berambut kelabu itu berubah pucat. “Tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih.” Ia berbalik dan bergegas pergi.

Rumah itu masih tampak muram ketika wanita bergaun hitam pulang—dan ia seperti menggigil kedinginan. Ia susuri lantai bawah dan terburu-buru menapaki anak tangga dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Di kamar, jemarinya merobek cadar di wajahnya saat keterasingan melintasi benaknya. Pengalamannya hari ini membuatnya menangis—menangis tanpa suara, dan dia masih menangis saat tangannya melucuti gaun hitam yang muram itu.

Beberapa menit kemudian, wanita—kini tanpa gaun hitam—perlahan menuruni anak tangga dengan wajah yang masih membekaskan jejak-jejak air mata. Dagunya bergetar, tetapi bibirnya telah dilengkungi senyuman. Ia mengenakan gaun putih dan setangkai mawar putih terselip di rambutnya. Di kamar kecil di atas beranda, di atas rak yang tegak di kaki ranjang, jam berbandul emas kembali berdetak. Suara kakinya yang berlari memenuhi lantai bawah. Kemudian:

“Muvver!—Itu Muvver telah kembali!” Seorang anak lelaki berteriak gembira.

Sedikit terisak, wanita itu membentangkan lengan untuk putranya. (*)

 

Eleanor Hodgman Porter (1868-1920), novelis dan cerpenis perempuan Amerika. Ketika menulis novel Pollyanna, ia masih bekerja sebagai penyanyi di New England Conservatory of Music di Boston dan menerbitkan cerpen-cerpen terkenalnya di majalah Woman’s Home Companion dan majalah Harper’s Weekly.


Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

 


[Cerpen] Kehormatan | Pikiran Rakyat | Minggu, 22 Maret 2015

Kehormatan

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Kehormatan_Pikiran Rakyat_22 Maret 2015

1/

Sebuah perayaan sedang berlangsung di hadapan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian licin dan harum. Jemari Matsumoto bergetar.

Seorang pemuda melangkah ke podium kecil, melewati tamu-tamu yang mengangguk hormat padanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah saya. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu saya sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala hal dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang —dengan semua tragedinya— ia berhasil bertahan.”

Di kursi barisan depan, Matsumoto diam mematung. Bibirnya terkunci. Hatinya berbisik —entah apa yang membuatnya ada di tempat ini.

2/

Pulau Wawoni’i diberi bendera matahari terbit dalam peta Dai Nippon. Di depannya terhampar Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan sebagai Prime Naval Base untuk Operasi Selatan dalam misi penaklukan Australia.

Malam ini, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya-cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir —entah berapa banyaknya— meledak beruntun, menyasar barak, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat ini.

Yoshiro Matsumoto merendahkan tubuhnya. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana ia memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

Tetapi sebuah ledakan lain segera menyadarkan Matsumoto. Ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah hancur. Serangan ini sangat mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap, karena sekelilingnya kini mendadak hening —tak ada tembakan dan ledakan lagi.

Matsumoto merayap dalam gelap. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak di kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat —tapi mendadak sadar bahwa posisinya kini sangat berbahaya.

Di lubang itu ada seorang pejuang kemerdekaan. Dari jarak sedekat itu, Matsumoto yakin kaki kanan pria itu hancur. Pasti karena ranjau darat yang mereka tanam sekitar 500 meter dari barak komando. Sosok tubuh itu mengerang lirih. Matsumoto kaget, tak ia sangka bahwa sosok itu masih hidup.

3/

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan di udara. Matsumoto mengendus aroma tajam dari asap suar di udara. Ia sentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat pada sosok dalam lubang bekas ranjau itu. Ia lepas barel kosong dari pinggangnya dan menopang kepala lelaki di depannya itu agar lebih tinggi. Udara kering dari laut bercampur asap mesiu. Matsumoto berjongkok, tangannya bergetar. Ia rapatkan kerah bajunya, mencoba nahan mengusir gigil. Lubang hidungnya membesar saat ia jejalkan udara kering ke dalam paru-parunya, kemudian ia berusaha fokus.

Teriakan rekan-rekannya dari bagian lain pulau sampai ke telinganya. Letusan senjata dan desing mortir di udara sesekali memburai suasana malam. Ia meringkuk di kegelapan, hanya mendengar dan tak bisa berbuat apa-apa saat sebagian rekannya berjibaku menahan serangan para pejuang Indonesia —pasukan lelaki di depannya ini. Ya. Lelaki ini musuhnya.

Matsumoto teringat sumpah prajurit kekaisaran yang rela mati demi kehormatan Kaisar Jepang. Ia kunci rahangnya, mengarahkan pistolnya ke pelipis lelaki itu. Perlahan jemarinya bergerak meremas. Di saat kritis akan keputusannya, lelaki itu mengerang dan menyentuh lengannya —keraguan menyergap Matsumoto.

Itu erangan yang akrab di telinganya sepanjang tugasnya dalam misi okupasi selama ini. Mungkin lelaki malang itu menginginkan sesuatu sebelum nyawanya putus. Matsumoto merendahkan kepalanya, hingga cukup dekat untuk mendengarkan permintaan terakhir lelaki itu. Kepalanya begitu dekat sehingga ia bisa melihat kilatan di mata lelaki itu.

“Air —beri aku air,” suara lelaki itu nyaris habis.

Tetapi kilatan mata itu —kilatan mata lelaki itu mengusik hatinya. Ia seperti melihat dirinya di dalam sana, berdiri gagah dengan kehormatan sebagai seorang lelaki yang setia pada negaranya. Matsumoto teringat sumpahnya, kehormatannya sebagai seorang samurai. Hatinya jeri. Susah payah ia redam sakit di dadanya. Ketegangan telah membuatnya cemas. Tangan Matsumoto bergetar, tapi ia merasa siap untuk kembali menarik picu.

Lelaki di depannya itu tiba-tiba berguling, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistolnya. Perlahan, bibir lelaki itu terbuka, berusaha kembali membisikkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto meleleh. Ia merendahkan kepalanya. “Aku harus membunuhmu. Aku harus menyelesaikan tugasku —sumpahku pada negaraku.”

Lelaki di depannya terbatuk, lalu tersenyum. Tangan lelaki itu terangkat ke arah lengan Matsumoto. “Tak apa-apa. Kau harus lakukan tugasmu—” mata lelaki itu mengatup sesaat, “—tapi beri aku air. Aku haus.”

Lelaki itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakangnya, mencari-cari, lalu teringat pada barel kosong miliknya yang tadi ia gunakan menopang kepala lelaki itu. Ia raih benda itu dan mundur dalam kegelapan di belakangnya. Tak begitu lama Matsumoto kembali dengan barel yang penuh air. Ia angkat kepala lelaki itu seraya menuangkan air ke mulutnya, sedikit demi sedikit. “Pelan-palan biar kau tak tersedak,” ujarnya. Lelaki itu tersenyum dan terus menerima air dari barel milik Matsumoto.

“Terima kasih—sekarang lakukanlah tugasmu.” Lelaki itu tersenyum sambil menatap matanya. Matsumoto tertegun. Ia menatap pistol di tangannya, lalu ke arah wajah lelaki itu. Tatapan mereka bertemu. Sumpah seperti berdengung dalam kepalanya, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Demi kehormatannya —sebagai seorang samurai, sebagai prajurit kekaisaran, ia harus mengambil keputusan ini.

Matsumoto meremas gagang pistolnya. Telunjuknya mengeras di logam picu.

4/

Tiba-tiba, cahaya merah berpendar di sekeliling Matsumoto. Sebuah kilatan sejenak membutakan matanya, disusul teriakan-teriakan ke arahnya, memerintahnya agar diam. Darah Matsumoto mengalir cepat, saat ia dengar suara-suara senjata dikokang bersamaan. Ia dikepung sepasukan pejuang Indonesia.

Seseorang menyuruhnya berdiri. Beberapa tangan merenggut kerah belakang bajunya. Matsumoto patuh —tangannya terangkat ke atas kepala. Sisa sobekan bajunya menggantung keluar dari rim di pinggangnya.

Dua orang pejuang segera memeriksa lelaki di dekat Matsumoto. Sesaat kepanikan tampak di wajah mereka, sebelum menunjuk-nunjuk ke arah Matsumoto. Baginya, alasan atas tindakannya tak penting lagi—bahkan karena itu, ia harus melucuti kehormatannya.

Kepala Matsumoto tertunduk. Saat kepalanya tegak, wajahnya dilelehi air mata. Ya. Samurai itu menangisi kehormatannya. Ia lepaskan kehormatannya dan menerima kehinaan ini. Matsumoto berlutut dan menyorongkan wajahnya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!” Teriaknya.

Para pejuang kemerdekaan terdiam. Mereka hanya menatap Matsumoto.

Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Aku mohon, berikanlah kehormatanku—Utsu!” Teriaknya sekali lagi.

Tapi, tak seorang pun pejuang yang sudi memenuhi permintaannya.

Matsumoto tergugu. Ia meratapi dirinya. Matanya mendapati tubuh semua rekannya yang telah mendapatkan kehormatannya —mati demi negara dan kekaisaran, dan ia tidak seberuntung mereka. Walau mungkin berbeda, namun entah seperti apa nilai dan ukuran kehormatan bagi para pejuang di sekelilingnya saat ini. Mereka tak memahami pentingnya kehormatan —yang tak bisa mereka berikan pada Matsumoto— bagi seorang samurai dan tentara kekaisaran seperti dirinya.

Utsu! Utsuuuuu!” Teriak Matsumoto putus asa.

5/

Matsumoto seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibukota negaranya. Di sekelilingnya bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah malu karena hilangannya kehormatan.

Sebagaimana wajah-wajah itu, Matsumoto pun harus menangisi dirinya. Kehormatan yang juga tak bisa ia tebus. Deraan malu pernah membuat Matsumoto memohon agar ia bisa melakukan seppuku—tradisi samurai. Tapi para pejuang Indonesia tak pernah mau menuruti permintaannya.

Setelah Kaisar Akihito mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih menghukum dirinya sendiri; ia menolak pulang dan memilih berada di antara orang-orang yang tak memahami arti kehormatan.

Matsumoto membangun kehidupannya. Ia menikahi seorang perempuan Indonesia, bekerja di perusahaan teh, dan menabung untuk hari tuanya. Tapi, Parkinson datang tergesa-gesa, melemahkan syaraf-syarafnya. Matsumoto memilih melupakan apapun yang ia alami di bulan Agustus di penghujung tahun 1945. Ia memilih melupakan lelaki yang menjadi sebab hilangnya kehormatannya itu.

Sampai seseorang menemukan jejaknya dan datang menemuinya. Seseorang yang harus membuatnya menangis lagi. Seseorang yang keras memintanya untuk mengingat apapun yang hendak ia lupakan. Seseorang yang mengingatkannya pada wajah lelaki yang baginya sudah mati 69 tahun silam demi sebuah kehormatan.

***

Matsumoto mengguyurkan air dari barel ke kepala lelaki itu, menggunakan sobekan bajunya untuk membersihkan wajahnya. Ia menggunakan sisa sobekan bajunya untuk perban, membebat kaki putus lelaki itu sekencang mungkin. Dengan sisa kain bajunya, ia tutupi tulang yang hancur dari sisa kaki musuhnya itu.

“Serangan kalian rapi sekali. Tak ada yang menyangka kalian akan menyerang malam ini,” ujar Matsumoto sambil mengutuk ketidak-becusan intelijen pasukannya sendiri.

“Namaku Syamsul,” lelaki itu mencengkeram bahu Matsumoto.

“Jangan banyak bergerak. Lukamu banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara terbata-bata, “—aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk. Matsumoto kembali meneteskan air ke mulut Syamsul.

Entah apa yang menghentikannya membunuh lelaki itu.

6/

“Inilah impian ayahku selama ini.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Puluhan tahun, ayahku sangat ingin bertemu orang yang ia hormati, orang yang setiap hari ia sebut namanya dan ceritakan kisahnya pada kami. Seorang samurai yang telah menunjukkan kehormatannya dengan sangat berani.” Suara pemuda itu meninggi saat ia dan keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

Matsumoto tersedak keharuannya sendiri.

“Kami berterima kasih pada Tuan Yoshiro Matsumoto. Dengan kehormatannya ia mempertahankan kemanusiaannya, menyelamatkan ayah kami dan membuat kami setiap saat mensyukurinya. Terimalah hormat kami setinggi-tingginya—” Pemuda itu kembali membungkuk hormat pada Matsumoto. Saat tubuhnya tegak, pemuda itu menoleh pada semua tamu yang hadir di pemakaman ayahnya— “Saudara-saudara, inilah lelaki terhormat yang berjuang di sisi ayah kami dalam perang.”

Matsumoto menggeriap. Di antara orang-orang yang selama ini ia anggap tidak memahami arti kehormatan, untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu, Matsumoto menemukan kehormatannya —dalam kemanusiaan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. (*)

Molenvliet, Oktober 2014

 

Catatan:

Prime Naval Base = Pangkalan Angkatan Laut Utama; Jibaku = berani mati; Utsu = tembak


[Cerpen] Daun Zaitun | Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

Daun Zaitun

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

padekco-2vMTh

SELALU  ada yang istimewa dalam kata-katamu. Kau pandai melukiskan ketragisan —tentang beberapa cerita di Corsica, misalnya, kau mampu menertawakan cinta yang berakhir menyedihkan.

Menurutmu, kemalangan adalah hal sepele. Di negeriku, hal-hal yang kau anggap sepele itu, aku kenali sebagai Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Juga ribuan jugun ianfu.

Tentu saja, kau tak kenal Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Kau juga tak kenal Sutinah, seorang jugun ianfu yang hidup sendirian di pinggiran kotaku. Cinta itu tragis. Mungkin seperti itu pesan yang kau tangkap, sebagaimana orang-orang seperti Sutinah.

Hal-hal sepele bagimu, terdengar sinis olehku. “Kau sedang bermain-main.”

“Bukan aku,” pelipismu mengeras, “tetapi kita. Kita yang sedang dipermainkan.”

Aku tak paham. “Kita?”

“Ya. Kita.” Kau mengangguk. “Adakah kita melupakan sesuatu?”

Aku coba mengingat-ingat. Barangkali memang ada detail yang aku lewatkan dalam percakapan ini. Tetapi, demi setiap detik yang kita habiskan, aku harus menyerah.

“Zaitun?” Lehermu menekuk rendah. Pelipismu berkerut, dan matamu menyapu wajahku.

**

AKU baru saja mengenalmu. Baru saja. Kau menghampiri saat aku sedang menikmati suasana sore di pelataran Brandenburg. Aku selalu ingat setiap suasana sore yang mampu menimbulkan kesan secara personal.

Di puncak gerbang Brandenburg, tegak patung Quadriga dengan empat kuda yang berderap ke timur. Sosok Viktoria menggenggam tongkat berkepala elang seraya memecut punggung kuda-kuda nan gagah itu. Patina memberi kesan hijau yang magis. Cahaya lembut matahari sore di akhir Desember, berceceran di kota Berlin.

Suhu 15 derajat celcius mampu menyengkeram tengkuk. Mulutku beruap dan bibirku seperti beku. “Ia mirip Dewi Nike,” suara lembutmu masuk ke telingaku.

Kau berdiri di belakangku dengan postman-hat berfuring beludru membungkus rambutmu yang merah. Biru matamu tampak cerlang, berpadan dengan lumen cahaya di sore itu. Kau tampak anggun dalam long winter coat berkerah tinggi bergaya neo-klasik Pier Angelini. “Mau?” Kau sodorkan alkohol gula dari kaleng cekung milikmu. Aku menerimanya dan meneguk isinya dengan senang.

“Ia lebih mirip denganmu,” kataku menganggukan kepala pada fragmen Viktoria di atas gerbang itu, kemudian ke arahmu. Kau tersenyum. Wow, aku tak salah —kau memang cantik. Alkohol gula berhasil membuat dadaku hangat.

“Ia perempuan Jena-Auerstedt juga.”

Aku menyukai gadis ramah ini. “Kau orang Weimar?”

Kau menggeleng. “Kisahnya cukup tua. Tahun 1814, kakek buyutku ikut dalam rombongan besar Jenderal Ernst von Pfuel membawa Quadriga ini dari Prancis.”

Baiklah. Untuk seseorang yang tak segan berbicara pada orang asing, kau tentulah tipe yang tak menyukai omong kosong. Kau menyalami tanganku. “Gaulliare. Jeanice Gaulliare.” Kau sebut namamu.

Franzosisch madchen freundlich,” aku memujimu dan kau tertawa. Geligimu putih. Pipimu pucat tanpa perona. “Pangkawi. Roland Pangkawi.” Aku kenalkan diriku.

**

KAU seorang yang satir. Kau berani menertawakan kedukaan. Bagimu, kematian adalah sesuatu yang ikonik. Tiba-tiba saja semuanya berubah lucu di lidahmu. “Kota ini berubah dengan cepat. Di sini, pembunuhan adalah sesuatu yang sepele.”

“Maksudmu, tragis?”

Kau menunduk, menatap sepatumu. “Kau tahu Corsica? Cinta telah mengutuk kota itu. Tempat yang punya banyak cerita. Tentang perseteruan karena cinta datang merenggut hati setiap orang di sana.”

—Baiklah. Kau ingin kita bercerita tentang cinta.

“Selalu soal cinta,” Jeanice mendongak menatap Quadriga. “Tapi di Corsica, cerita seperti itu punya pesan lain. Andai Quadriga itu simbol dari sesuatu, seharusnya orang-orang bisa memahami keseriusan Gottfried. Quadriga yang ia buat dengan berbagai kerumitan itu, menjadi tak berarti ketika dipajang di kota seperti ini.”

Tiba-tiba udara dingin menyambar tengkukku. Aku naikkan kerah mantelku. Aku mulai menyukaimu. “Itu tetap saja tragis, Jeanice,” timpalku.

“Orang-orang di sini menyebutnya sepele. Itu dua hal yang berbeda.”

Menurutmu, selalu ada kegaduhan seusai sebuah peristiwa. Kegaduhan yang kerap lebih lama daripada peristiwa itu sendiri. Suara-suara mengisi kota, berlompatan, atau mengapung di angkasa tanpa artikulasi. Orang-orang bisa terbunuh dengan sesuatu yang tampak surealis.

Kau tak bergeming. Kedua telapak tanganmu membenam di saku mantelmu. Pelupuk matamu mengatup, merasa syahdu dengan Das Lied der Deutschen —lagu orang-orang Weimar— dari pelantang suara. Mungkin sekarang kau sedang mengkhayalkan si tampan August Heinrich dari Helgoland.

Bagiku, Jeanice lebih baik, ketimbang terbenam sendiri di bar murahan bersama bir yang nyaris basi dengan telinga yang terbekuk berita lonjakan harga akibat krisis ekonomi. Ditemani gadis ini masih jauh lebih baik, daripada mendekut di apartemen, di depan televisi yang menyumpali telinga dengan gosip hubungan gelap kanselir dengan sopir pribadinya. Aku berkemam dalam dingin. Sesuatu tentang Zaitun kini mengusik ingatanku.

**

AKU ingat pada rute dari arah Ebertstrabe memotong Platz Pariser di bagian barat kota ini. Tujuh bulan lalu, di suatu malam, entah bagaimana aku memutuskan merimpang ke wilayah Unter den Linden yang dibarisi pepohonan di dua sisinya hingga ke Reichstag, satu blok ke arah utara. Tak kusangka, melintasi Alexanderplatz malam itu adalah sebuah pilihan buruk.

Seseorang tergopoh-gopoh menembus udara malam, tergesa-gesa menyebrangi Unter den Linden yang tertutupi bayangan pepohonan yang rebah oleh lampu jalan. Dan suasana sepi sekali.

Aneh. Ini kawasan yang selalu ramai. Para manula biasa menghabiskan waktu sore dengan duduk menikmati aliran sungai Spree. Di akhir musim panas, terkadang mereka bergerombol di Alexanderplatz, berbagi memori tentang segala hal sebelum penyatuan Jerman. Saat malam beranjak, para pemuda berkumpul mengelilingi drum-drum besi yang terbakar. Itu pemandangan yang biasa aku saksikan di sepanjang kawasan Berliner Dom. Di malam yang kian larut, mereka kemudian berpencar untuk hiburan malam dan bir paling enak di bar-bar pinggiran kota.

Di penghujung malam, tempat yang seharusnya sudah sepi itu, masih menyisakan dua kelompok yang sedang mengelilingi drum masing-masing. Jarak antara aku dengan mereka hanya 50 meter, saat mereka memergoki seorang gadis. Terlindung di bayangan tiang lampu, aku saksikan mereka memperlakukannya dengan kasar. Mereka tak peduli pada teriakannya, tak peduli saat ia menangis memohon agar mereka melepaskannya. Ia ditampari hingga tak berdaya. Ia meronta saat mereka memasukinya secara bergantian.

Aku belum siap mati untuk sesuatu yang bukan urusanku. Berurusan dengan genk adalah hal yang serius. Setelah puas, mereka menembaknya, lalu meninggalkannya untuk mati. Tetapi ia masih hidup saat kudekati. Wajahnya tersaput darah.

**

“ALEXANDERPLATZ?” Kau menatapku dari tempatmu berdiri.

Aku mengangguk.

“Apa itu masih bukan urusanmu?”

“Ini rumit, Jeanice.” Aku gugup — “Lagi pula, apa urusanmu dengan masalah ini?”

Alismu terangkat. “Tapi kau saksinya. Kau pengecut seperti Gotthard.”

“Bukan begitu.” Aku terpojok. Aku melirikmu dengan jengkel. Aku renggut kaleng alkohol gula dari tanganmu, kuteguk isinya dua kali.

Kau kantongi kembali kalengmu setelah kukembalikan. “Aku menelusuri semua fakta sehingga aku sampai padamu. Aku menyadari sesuatu telah hilang dari tubuhnya saat aku melihatnya di ruang koroner. Veanice tak pernah ke mana-mana tanpa bros daun Zaitun miliknya.”

Persendianku lemas. Mataku menjamah seluruh wajahmu dan menyadari nyaris tak ada yang berbeda dari kalian berdua. “Veanice Gaulliare adalah kakakku. Kami kembar identik.”

—Baiklah.

Kami datang ke kantor polisi. Opsir polisi yang menerima laporanku heran saat kusebutkan tentang bros daun Zaitun dan kehadiranku yang mungkin bisa membantu mereka menangkap pemerkosa Veanice. Polisi hanya perlu mencari mereka yang ciri-cirinya bisa kugambarkan dengan baik.

Kau benar. Kota ini dikendalikan suara-suara. Kota seserius ini selalu berhasil merusak ketertiban, kemudian bersusah payah memerbaikinya. Seperti zombie, orang-orang mati yang berjalan, maka suara-suara bisa membuat kota ini tetap bergerak.

Kau tetap gadis berambut merah yang aku sukai dan Veanice dalam kenanganmu. Seperti Corsica yang kau ceritakan itu, maka setiap orang punya pesan untuk cinta yang mereka miliki —dan kau sejenis orang yang peduli dengan rahasia-rahasia tentang Corsica, tentang Qudriga, mungkin juga tentang Gottfried dan Gotthard. Entahlah.

Kau menemaniku duduk di tepian sungai Spree. Kau begitu ramah, mengizinkanku meneguk alkohol gula dari kaleng cekung yang saling kita sodorkan bergantian. (*)

Desember 2013 – (revisi) 2015

 

Catatan:

– franzosisch madchen freundlich = gadis Prancis yang ramah.

 

Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

 


[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2014

Cover Jawa Pos_blog

Download: klik link di bawah ini

e-BOOK_CERPEN JAWA POS 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

– Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 176 pengikut lainnya.