Category Archives: Artikel-Artikel

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

[Film] Uang Panai: Gugatan Sosio-Kultural yang Dibereskan

APA yang paling mahal dari sebuah realitas sosial? Nalar sebagai mahar sosial, atau pergeseran sosio-kultural itu sendiri? Tetapi ini bukan perbandingan untuk melihat seperti apa masyarakat kita memposisikan diri dan berusaha lepas dari kekolotan tradisi. Betapa majal nalar kita, bahwa upaya melepaskan diri itu sebagai bagian dari premis modernitas yang sementara berkembang. Sama saja. Saya pikir, konsekuensi yang bisa diafirmasi tidak bisa—atau tidak boleh—dilekatkan sembarangan.

Sebagai reviewer, saya duduk di bangku paling belakang hanya agar bisa melihat “film” secara utuh. Film di depan saya bukan hanya apa yang sedang bergerak plot demi plot dalam scene, tetapi juga laku penonton. Hanya ini yang bisa saya tangkap dalam keremangan dan bising tawa di ruang bioskop. Maka selebihnya, saya harus pula menangkap mimik dan komentar mereka setelah pemutaran film usai.

Uang Panai

Meredam Stereotype Kultural

Ada kepuasan di wajah mereka. Beberapa komentar yang sepintas saya tangkap berisi gugatan tentang stereotype yang didorong bersama gagasan dalam film. Juga komentar-komentar yang bisa membuat saya berpikir bahwa ada kebenaran yang harus ditelusuri dari gugatan sosio-kultural yang coba didedah melalui film ini. Wajah-wajah puas itu bukan karena bisa tertawa lepas melihat kekonyolan Tumming, Abu, dan Ancha (diperankan oleh Ikram Noer), atau merasa dihempaskan oleh tangis Risna—diperankan dengan sangat baik oleh Nur Fadillah. Bukan, sama sekali bukan itu.

Puas, sebab kegelisahan mereka berhasil divisualkan dengan baik. Puas, karena gugatan sosio-kultural yang diangkat film ini terkait pergeseran nilai dalam realitas uang panai telah berhasil dipertanyakan, sekaligus dijawab dengan tuntas. Secara personal, saya lumayan sedih saat menyadari ini. Sebagai seorang peneliti, penuntasan premis adalah penanda berakhirnya jalan (baca: perdebatan) yang selalu menyisakan pemikiran dan gagasan baru.

Cukup lama orang dibuat penasaran dengan kehadiran film Uang Panai. Nyaris setahun sejak trailernya pertama kali dirilis. Begitu membaca judulnya, orang-orang langsung menarik garis merah tentang isinya, membuat plot film ini seolah-olah mudah ditebak. Ternyata semua dugaan itu salah. Meleset jauh.

Isu yang diusung film ini kompleks—begitu pendapat saya. Gugatan uang panai yang dijadikan judul sekadar pintu bagi penghadiran banyak masalah lain. Siapapun pasti menyadari hal ini jika menyimak filmnya. Silariang (kawin lari), salah satunya. Ini laku yang disodorkan sebagai bagian isu sosio-kultural Bugis-Makassar yang perlu diluruskan. Bahwa silariang bukan jalan keluar—membuat malu keluarga pihak lelaki, juga mempermalukan keluarga pihak perempuan—selalu berakhir konflik dan mendorong masalah lama antar keluarga mencuat ke permukaan. Film ini menyitir dengan contoh; kesigapan ayah Risna membatalkan rencana Silariang anaknya yang nyaris berhasil itu.

Penonton yang tidak berlatar belakang tradisi Bugis-Makassar jangan berharap banyak bisa melihat aksi Silariang yang berhasil dan bagaimana keluarga yang dipermalukan melakukan penebusan sumpah siri-nya seraya menikam paha sendiri (atau bagian tubuh lainnya) dengan badik—sebagaimana disuguhkan dalam sinema elektronik Badik Titipan Ayah. Di film ini, kau hanya bisa tertawa dan diajak menjadi cerdas, seraya mendorong jauh-jauh frontalitas sikap adat orang Bugis-Makassar dengan kawali-nya yang pantang dimasukkan jika sudah terlanjur terhunus sebelum berbasuh darah manusia. Adegan macam itu tak akan kau temukan di film ini. Maaf saja, saudara.

Perjodohan, status sosial, harga diri, filosofi siri, posisi perempuan, pertanggung jawaban, adalah juga beberapa gugatan lain yang patut disebut dalam film ini. Beberapa gugatan itu mengemuka di sekujur plot film.

Ada yang menarik saat Ancha dan Risna memperdebatkan soal harga diri yang kemudian melompat ke topik price tag. Ungkapan telanjang itu adalah pukulan yang telak terhadap pergeseran tujuan uang panai. Bantuan Risna dianggap upaya mengusik harga diri Ancha sebagai seorang lelaki. Risna justru mempertanyakan ketersinggungan Ancha itu. “Harga diri? Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag!” Risna memekik, membuat Ancha tertegun.

Gugatan sosio-kultural yang dilontarkan melalui tokoh Risna itu, sepenuhnya benar. Pergeseran nilai dalam tradisi uang panai, akhirnya dilihat sebagai nilai jual—label harga atau price tag—pada perempuan Bugis-Makassar. Empirisme yang sungguh menyedihkan. Price tag, perjodohan, mahalnya mahar, kemudian ditemukan sebagai isu sampiran yang menyisik dalam film ini. Kebenaran agamis juga disodorkan, bahwa mahar tidaklah sama dengan uang panai; bahwa mahar tidak boleh disejajarkan dengan uang panai; bahwa uang panai harus dikembalikan sebagai pelengkap belaka dalam tradisi permulaan untuk mengatur rencana pernikahan, dan hal itu tidak lebih penting dari mahar yang wajib dalam tradisi dan tuntunan pernikahan Islami. Selebihnya, menyikapi banyaknya pergeseran nilai, selain uang panai itu sendiri, telah dijalan-tengahi dengan baik oleh film ini.

 

Uang Panai

Film ini membangun gambaran tentang seorang lelaki Bugis-Makassar yang bersusah payah mencari uang mahar demi menyanggupi tantangan kekasih hati yang meminta untuk dilamar. Dalam masyarakat Sulawesi (khususnya Bugis-Makassar) kini, uang panai dianggap sebuah keharusan yang mesti dituntaskan sebelum keluarga pihak lelaki mengambil menantu dari keluarga pihak perempuan.

Masalah mulai mengintai Ancha, saat pemuda itu baru saja kembali dari rantauan. Aksi penjambretan ternyata mempertemukan kembali Ancha dengan mantan kekasihnya, Risna, setelah mereka berpisah lama tanpa kabar. Ternyata benih cinta lama itu tumbuh kembali. Tak ingin terpisah untuk kali kedua, Risna meminta Ancha melamarnya.

Syarat pernikahanlah yang menghadang langkah Ancha mempersunting Risna. Ancha didapuk untuk menyanggupi uang panai dalam jumlah besar. Maka cerita ini pun bergulir. Ancha, dibantu dua sahabatnya (Tumming dan Abu) berusaha memenuhi syarat tersebut.

Di tengah upayanya, masalah lain datang. Farhan (diperankan Cahya Ary Nagara), teman kecil Risna, baru kembali dari Amerika Serikat. Masalah makin berat, saat orangtua Farhan dan Risna sepakat mengatur perjodohan mereka.

Di sisi lain, cinta Risna dan Ancha memang tak terbendung, sehingga mendorong Risna melangkah terlalu jauh. Upaya Risna justru melukai harga diri Ancha. Martabatnya sebagai lelaki Bugis-Makassar dipertaruhkan. Dilematis, Risna khawatir Ancha meninggalkannya lagi.

Apa yang harus dilakukan Ancha? Bagaimana Risna meredam persoalan? Seperti apa peran Tumming dan Abu? Mampukah Ancha tiba tepat waktu sebelum ijab Farhan dikabulkan?

Film ini bergenre komedi-romantik. Jadi tak hanya persoalan percintaan Risna dan Ancha saja yang ditonjolkan sepanjang cerita. Hampir semua plot dalam film besutan sutradara muda Halim Gani Safia dan Asril Sani ini disalut dialog dan gimik lucu oleh para pemerannya. Ikram Noer mampu mengimbangi kekocakan Tumming dan Abu. Para cameo juga berperan pantas. Jane Shalimar muncul beberapa detik dalam frame bersama Tumming dan Abu. Jane nyaris tak bisa menahan tawa dilibas ulah konyol dua pemuda ini. Katon Bagaskara juga tampil baik dengan menghidupkan karakter seorang Barista. Ia menasihati Ancha untuk tetap tegar dan semangat menghadapi masalahnya. “Hari ini adalah besok yang kemarin,” Katon mengutip Kahlil Gibran dan sukses membuat Ancha bingung.

Siapa Tumming dan Abu dalam film ini? Anda pun berhak tahu siapa mereka. Tumming yang jenaka seperti mengembalikan kepada kita cara tertawa era Gepeng—orang-orang yang piawai nan cerdas menghadirkan humor. Jika Tumming bisa mengembalikan ingatan kita pada Gepeng, maka Abu yang kocak itu bisa secerdas The Stoges atau Cak Lontong: tetap bisa memanusiakan orang-orang yang ingin tertawa tanpa harus membuat mereka tampak tolol di mata comedian. Membikin roasting a la standup comedy jaman sekarang segera terbang ke jaman prasejarah.

Anda bisa juga melihat “orisinalitas” mereka di Uang Panai. Referensi istilah original khas Sulawesi berhamburan di sini: anak muda palsu, masih bisa menikung, masih di dunia ji’ ini, SWISS, 4D, sampoi mulutmu, kopi boleh pahit tapi hidupmu jangan, kode keras, dan banyak lainnya.

Film ini memang bagus dan sanggup menyedot animo penonton. Sambutannya luar biasa. Pada pemutaran perdananya—di hari pertama saja—sukses di 21 kota. Antrian panjang di loket jadi pemandangan di setiap bioskop. Tiket habis dan daftar booking penuh sekali. Makkita Cinema Production sebagai pengampu film Uang Panai, memang tidak menargetkan apapun, sekaligus tidak berharap banyak setelah penundaan yang hampir setahun setelah rilis trailer pertama kali. Namun kekuatan cerita dan sinematografi, serta padatnya gagasan—yang tampaknya berhasil mereka urai—menjadikan film ini sangat layak mendapat apresiasi tinggi.

Sejak diputar perdana tanggal 25 Agustus 2016 kemarin, beberapa portal film merespon cepat. Untuk empat situs rujukan (pusatsinopsis, layarfilm, posfilm, jadwal21), film Uang Panai mendapat rangking fantastis, yakni 9,4 bintang dan menempati urutan ke-10 dari 1.307 film yang dirating.

“Cinta hanya kata, sampai kau datang jua dan memberinya makna.” Demikian sepetik syair yang dinyanyikan Katon Bagaskara sebagai soundtrack film yang skenarionya ditulis memikat oleh Halim Gani Safia dan Amirl Nuryan ini. (*)


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Media Indonesia 2015

Cover Media Indonesia

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK KUMCER MEDIA INDONESIA 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Suara Merdeka 2015

Cover Suara Merdeka

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK KUMCER SUARA MERDEKA 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2015

Cover tempo 2015_depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KORAN TEMPO 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


%d blogger menyukai ini: