Category Archives: Artikel-Artikel

Ojek Gabah, Inovasi Pemecah Masalah

Keterbatasan sungguh bisa membuat seseorang atau sekelompok warga menjadi inovatif. Jika Satu Indonesia dengan Inspirasi 60 Tahun Astra mendorong tema Perjalanan Penuh Inspirasi, tentang perjalanan panjang Astra meraih kesuksesan dengan mendedikasikan karyanya untuk menginspirasi negeri dan memajukan Indonesia, maka kunjungan saya ke kawasan persawahan Amohalo, mungkin boleh juga disebut sebuah perjalanan yang sangat menginspirasi.

 

SAYA mendengar cerita tentang ojek gabah dari sahabat saya, Fransiskus Senoaji Patadungan, seorang lelaki Toraja yang sedang gemar-gemarnya fotografi. Bersama dua sahabat lainnya, Intan Rinjaru Hiandra dan Jay Irgie, kami berempat berencana berburu foto, sembari saya menuntaskan penasaran dengan ingin melihat sendiri para Pengojek Gabah.

Dari pusat kota, kami berdua berkendara kurang lebih sejam menuju pinggiran kota Kendari, ke arah Selatan. Amohalo adalah kawasan persawahan yang diplot menjadi lumbung padi kota Kendari. Itu kisahnya kini, setelah kurang lebih 30 tahun menjadi kawasan “berbahaya” bagi siapapun. Amohalo berada persis di pusat area Nangananga yang selama 30 tahun menjadi kawasan konsentrasi militer bagi mantan anggota Partai Komunis Indonesia yang ditangkap di Sulawesi. Awalnya, ada 220 orang tahanan politik (tapol) yang dipindahkan ke tempat ini setelah Rumah Tahanan Militer (RTM) Moncongleo di Makassar, dikosongkan. Area Nangananga yang sepenuhnya berupa hutan dan rawa ini kemudian disulap menjadi kawasan tahanan militer dan sangat terlarang untuk umum. Selain kendaraan militer dan anggota polisi militer, maka tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya, terlebih mendekat. Tetapi itu dulu. Luka lama yang tidak pantas dikorek kembali. Kita seharusnya sudah selesai berdamai dengan masa lalu.

Kini, dari sekitar 220 orang mantan tapol yang dulu dipindahkan tahun 1970 itu, hanya tersisa enam orang saja dan semuanya pun telah sangat uzur. Selama 30 tahun, kawasan Nangananga —termasuk area konsentrasi tapol-nya— itu berubah menjadi kawasan mukim dengan hampir 2.000-an warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka menanam Jambu Mete (ceshew nut), Kelapa, Lada dan beternak unggas (dominan bebek). Sebagian besar warga yang ada kini adalah generasi ketiga. Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut status tapol pada kakek-nenek mereka, mengembalikan mereka ke masyarakat, dan kawasan Nangananga diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kota Kendari pada tahun 2001.

Sebenarnya sebelum terjadi pengambil-alihan kawasan, di Nangananga sudah bermukim hampir 400 kepala keluarga lain yang menggantungkan hidup mereka dari persawahan. Sehingga perubahan statuta kawasan itu pada tahun 1970, otomatis ikut menyulitkan para petani sawah yang telah bermukim lebih awal.

Walau telah terbuka untuk aktifitas pertanian, karena diisolir begitu lama, infrastruktur di sana belum bisa memadai. Berada di pinggiran kota Kendari dan diisolasi begitu lama, praktis masyarakat Nangananga baru menikmati listrik pada 2009 dengan dibangunnya jaringan listrik induk yang melintasi kawasan. Menyadari kenyataan itu, kami sesungguhnya tidak terlalu heran dengan kondisinya. Pembangunan memang lamban di sini, tetapi nadi ekonomi ternyata berdenyut cukup kencang.

 

Revo Ojek Gabah

Tetapi perjalanan kami kali ini bukan untuk mengorek-ngorek “kekelaman” itu. Saya sangat tertarik mengunjungi petani di Amohalo setelah mendengar tentang Ojek Gabah yang diceritakan Frans, dan bagaimana inovasi yang mereka lakukan untuk membuka hambatan geografis dan minimnya fasilitas.

Setelah lepas dari 22 kilometer jalan beraspal, kendaraan kami mulai berguncang di jalanan yang sepenuhnya berlubang. Jalanan rintisan yang selalu menyisakan genangan setelah hujan itu, membentang sejauh 10 kilometer. Tak masalah, saya menggunakan Honda Beat Matic yang berbodi ramping, memudahkan saya bermanuver menghindari lubang demi lubang—terkadang jembatan dengan sepotong-dua kayu belaka. Ruang yang cukup lebar di bawah stang kemudi juga cukup leluasa untuk menempatkan tripod kamera.

Saat kami tiba, orang-orang desa sudah berkumpul di bawah salah satu rumah panggung besar, menikmati suguhan makan siang dan penganan ringan. Mereka tersenyum melihat kami. Pak Pongganti mendatangi kami dan saya langsung berbicara banyak dengannya. Proses panen baru saja selesai 20 menit lalu dan saat ini gabah sedang dimasukkan ke dalam karung-karung besar, disusun rapi di pinggiran pematang untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi transit sebelum diangkut ke atas mobil-mobil pick-up. Itu artinya kami belum terlambat. Motor-motor bebek—yang entah bagaimana bentuknya—tampak berderet rapi dengan para joki yang asik ngopi sembari menunggu sesuatu. Sesekali asap kawung mengepul dari dalam kerumunan mereka. Ya, tak syak lagi, mereka itulah joki ojek gabah yang diceritakan Frans.

Tadi kami memarkir kendaraan tak terlalu jauh dari rumah besar ini. Sembari berbicara dengan Pak Pongganti, saya menyiapkan kamera. Dua pick-up terlihat di seberang jalan bersama seseorang dengan buku catatan kecil di tangannya. Dari Pongganti saya tahu bahwa dua mobil bak terbuka itu adalah kendaraan pengepul. Merekalah yang akan memuat gabah petani. Walau tampak seperti sistem perkulakan, namun sesungguhnya harga beli mereka mengikuti mekanisme pasar. Mereka hanya boleh menebus gabah petani di bawah dua persen dari harga beli Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulawesi Tenggara, jika masih mau mendapatkan “barang”. Petani pun menerima resiko terkikis dua persen itu karena juga memperhitungkan biaya sewa truk jika mereka harus membawa sendiri gabah ke sentra pengeringan dan pergudangan.

Matahari terik sekali di pukul 12 siang itu. Cahaya yang keras seperti itu jelas akan menyulitkan kami mengatur aperture, ISO dan shutter speed pada kamera. Saya menggunakan lensa sudut lebar dengan hoodlens untuk menangkis cahaya keras dari sisi lensa. Kamera saya posisikan pada ISO kecil, dengan aperture besar dan kecepatan di atas 750.

Anggukan kepala dari Pak Pongganti seperti sebuah komando bagi delapan joki yang tiba-tiba bergegas ke motor masing-masing, menyalakan mesinnya dengan cara yang aneh, lalu susul-menyusul meluncur ke tengah persawahan yang baru selesai dipanen itu. Cara mereka menunggangi motor-motor itu tak ubahnya seperti crosser berpengalaman.

Delapan joki itu memecah kelompok menjadi dua —masing-masing empat motor— untuk dua pemilik gabah. Jarak antara dua gundukan karung gabah sekitar 300 meter, dan jarak antara gundukan terdekat menuju jalan hampir 250 meter. Kecekatan mereka mengangkut dan bolak-balik dari gundukan karung gabah menuju tempat menumpukan sementara di pinggiran jalan, sungguh menarik untuk disaksikan.

Setiap motor yang meninggalkan gundukan karung gabah, datang dengan dua karung besar gabah yang ditumpuk di tengah sasis motor dan dengan beban berat dan sebesar itu, tampaknya mereka tetap bisa mengendalikan stang kemudi motor tanpa kesulitan. Para joki mampu bermanuver di sela pematang dengan lincah.

Saya tentu kagum. Hal seperti ini belum tentu saya temukan di tempat lain. Ojek gabah ini memang inovasi yang efektif dan ekonomis. Buruknya kondisi jalanan di kawasan persawahan desa Amohalo sepertinya nyaris mustahil menemukan cara mengangkut karung gabah yang besar dan berat itu dari tengah sawah ke area penumpukan, membuat mereka berpikir keras. Untuk semua kesulitan itu, ojek gabah ini benar-benar jawaban yang cerdas.

Semua pihak dalam proses panen hingga pengangkutan boleh dibilang untung. Dalam sehari, seorang pengojek gabah bisa mendapatkan bayaran minimal 400 ribu hingga 800 ribu rupiah. Sangat tergantung dari jumlah sawah yang ia layani. Nah, bayangkan uang yang mereka dapatkan jika panen padi di kawasan subur ini bisa sampai tiga kali setahun, dengan luasan kurang lebih 3.000 hektar dan semua proses panen itu dapat berlangsung selama 14 hari. Luarbiasa!

Standar bayaran yang mereka terima paling rendah 5.000 rupiah per karung. Jika medan sukar (berlumpur) atau jaraknya jauh, ongkos yang mereka terima naik menjadi 7.000 –10.000 rupiah/karung. Sekali angkut motor mereka mampu dimuati dua karung. Jika setiap pengojek mampu bolak-balik sebanyak 10 kali, itu artinya di satu lokasi sawah saja mereka bisa mengantongi maksimal 200 ribu rupiah. Bayangkan ketika kawasan persawahan Amohalo berada di puncak musim panen. Setiap pengojek gabah bisa melayani pengangkutan di tiga-empat sawah dalam sehari.

Setelah proses pengangkutan selesai, motor-motor pun kembali diparkirkan. Saya mendekat untuk sekadar mengetahui bagaimana modifikasi yang mereka lakukan pada motor-motor itu. Hal pertama yang membuat saya kagum adalah delapan motor yang dimodifikasi menjadi alat angkut gabah itu berjenis Honda Revo dan rata-rata dari generasi pertama dan kedua. Mereka melepas semua penutup bodi bagian atas motor sehingga hanya menyisakan tangki bahan bakar yang memang terletak di bagian belakang. Bahkan jok pun tidak terlihat lagi, termasuk memindahkan tuas rem belakang yang terletak di dekat stand kaki depan, ke stang kemudi —persis mekanisme pengereman pada motor skuter matik.

Knalpot juga dimodifikasi, dibuat lebih panjang agar tidak menghalangi kaki pengojek dan memiliki kemampuan melaju lebih cepat di atas lumpur atau medan berair. Di atas batang sasis, mereka membuat flatform baru dengan papan atau plat besi, dibuat landai agar memudahkan menyusun karung-karung gabah. Semua panel di bagian kepala dilepas sama sekali, menaikkan posisi stang kemudi dan memanjangkan shockbreaker depan. Kaki-kaki depan dan belakang juga tak lepas dari pengubahan. Mereka menggunakan ban bergerigi yang biasa digunakan pada motor jenis trail. Dengan semua modifikasi itu, joki ojek gabah tidak merasa kesulitan bahkan jika posisi mereka nyaris rebah di atas karung-karung yang mereka muat.

Pongganti menuturkan, dahulu sebelum ada pengojek gabah, petani biasa menyewa buruh angkut dengan cara memikul gabah dari sawah ke area penumpukan. Cara ini tentu tidak efisien dan ekonomis. Walau setiap sawah dilayani buruh pikul hingga 10 orang, pekerjaan tetap terasa lamban sebab memerlukan waktu hingga seharian penuh. “Untuk sawah-sawah yang berada jauh di tengah seperti itu,” Pongganti menunjuk deretan sawah yang berada di tengah atau di ujung kawasan persawahan, “butuh waktu sampai dua-tiga hari baru selesai.”

Tentu pula jauh dari nilai ekonomis. Tidak ada buruh pikul yang murah untuk pekerjaan seberat itu. Mereka biasa dibayar hingga Rp30.000/karung, atau Rp.40.000/karung jika jaraknya jauh dari lokasi penumpukan. Itu memangkas hampir separuh dari nilai jual beras setelah melalui semua proses pengolahannya. “Tiga kilogram gabah kering sebanding dengan satu kilogram beras, dan petani sudah mengeluarkan biaya yang nilainya hampir seperempat harga jual beras per karung ukuran 50 kilogram. Sekarang harga jual beras mencapai 400 ribu rupiah per karung. Keluaran biaya itu belum termasuk ongkos angkut ke lokasi penjemuran atau penggilingan,” ujar Pongganti sembari tersenyum kecut.

Namun sejak warga berinovasi menggunakan ojek gabah, pengeluaran petani bisa ditekan sangat besar. “Kami bisa menyelesaikan semua proses panen hingga ke lokasi penumpukan tidak lebih dari satu jam saja,” ujar sembari bertepuk tangan. Saya senang melihatnya gembira seperti itu.

 

Gagasan Ojek Gabah dan Innov Astra

Tetapi mengapa mereka memilih Revo dengan mesin Honda Techno AT dari generasi pertama dan kedua itu? “Bodinya mudah dioprek dan mesinnya agresif tapi irit bahan bakar,” jawaban spontan Sukri, seorang joki ojek gabah, itu membuat kami semua tertawa. Tetapi Sukri benar. Untuk berinovasi dengan melakukan modifikasi seperti itu, awalnya mereka memang memilih-milih merek motor, sekaligus jenis mesin yang diusung. Dari beberapa jenis motor, pilihan mereka berakhir pada Honda Revo. Tetapi bagaimana mereka mendorong ide, itu adalah cerita berbeda. Bahwa Astra hadir sebagai katalis yang secara tidak langsung mendorong keberanian berinovasi oleh masyarakat, adalah cerita utamanya.

Sekarang, Astra mungkin saja belum bergerak untuk secara langsung hadir di tengah petani Indonesia dengan inovasi terbaru yang bisa memberi kemudahan masyarakat menikmati teknologi pertanian, termasuk —yang paling utama, misalnya— menciptakan mesin pemanen dan perontok serbaguna sekaligus memecahkan masalah transportasi gabah.

Fakta tentang petani yang memodifiksi motor menjadi ojek gabah karena terinspirasi pada ketangguhan mesin Honda Revo dalam tulisan ini boleh jadi memang belum pernah sampai ke meja para inovator dan pengambil kebijakan di Astra International Tbk., tetapi saya percaya, satu-dua tahun ke depan tehnologi Astra bisa dengan cepat menjangkau petani di seluruh Nusantara dan menyelesaikan masalah mereka. Boleh jadi pula gagasan inovatif para petani di Amohalo dengan ojek gabahnya itu bakal menjadi salah satu isu utama di ajang tahunan InnovAstra berikutnya.

Maka benarlah, program Satu Indonesia dalam visi-misi Astra, akan sungguh-sungguh menjadi kenyataan besar yang linier dengan Indonesia.

 

Terus Berjuang untuk Keunggulan

Sekadar bercanda, saya bertaruh dengan Frans Patadungan. Karena semua pengojek gabah menggunakan motor yang sama, dengan mengukur standar kelincahan motor di medan seperti itu, kami bertaruh, siapa yang kira-kira menjadi pengangkut terbanyak. Kami lalu memilih calon pemenang masing-masing.

Mari melipir sedikit dari aksi taruhan kami, sebab hasilnya pun tak akan jauh berbeda; yang menang nantinya sudah pasti menggunakan si tangguh Honda Revo.

Enampuluh tahun lalu, Astra hadir dengan satu tujuan utama; senantiasa mendedikasikan karya-karya inovatifnya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tentu saja di usia yang sangat mapan seperti itu Astra tidak saja menjadi raksasa industri dan teknologi yang disegani di luar Indonesia, tetapi menjadi pioner sekaligus inspirasi bagi teknologi di tanah air, khususnya di bidang otomotif.

Enam dekade bukan waktu yang singkat untuk menghitung besarnya pencapaian dan kontribusi Astra bagi Indonesia. Dilandasi falsafah Catur Dharma, Astra sesungguhnya sangat berhasil menginspirasi dan mendorong Indonesia melangkah lebih jauh masuk ke era teknologi tinggi. Produk-produk dan layanan Astra telah mengubah wajah Indonesia melalui karya-karya putra bangsa Indonesia sendiri. Astra terus menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, dan menjadi terdepan dalam upayanya memberi kontribusi sosial bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Astra-lah yang mula-mula menginspirasi para pengambil kebijakan Indonesia untuk mendorong mobil nasional (mobnas). Kijang adalah produk menumental Astra yang ikut membuat banyak negara melihat bahwa Indonesia telah bergerak lebih maju di kawasan regional.

Saya teringat pada “kendaraan tugas” pertama ayah saya. Ayah saya adalah mantan wartawan Harian Umum Pelita, sebelum akhirnya pensiun di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Biro Kendari. Kijang kotak itulah yang kemana-mana mengantar ayah saya liputan di berbagai wilayah terjauh di Sulawesi Tenggara. Asik sekali mendengar beliau berkisah bagaimana mereka menembus beratnya medan di lokasi terisolir untuk mendatangi warga yang lahan pertaniannya diambil paksa oleh oknum pamong praja kabupaten. “Si kuning itu seperti berenang membelah sungai Lasolo,” kenang Ayah, di akhir Juni, setahun lalu. Saat itu kami berdua duduk di teras belakang rumahnya yang diteduhi tiga pohon jambu klutuk.

Itulah kenangan terakhir duduk bercerita bersama ayah, sebab November 2016, ayah harus dilarikan ke rumahsakit karena unfaal jantung dan wafat di sana setelah sepekan perawatan. Ayah saya, Moehiddin Damara, seingat saya adalah jurnalis paling tangguh yang pernah saya kenal. Bersama tiga rekannya (yang juga telah wafat mendahuluinya), Beliau memelopori jurnalisme di Sulawesi Tenggara. Beliaulah yang menginspirasi banyak wartawan muda lainnya, termasuk saya ketika itu, untuk juga menekuni dan lebih serius tentang jurnalisme. Saya juga teringat pada wajah Beliau saat saya datang mengabarinya soal keberangkatan saya ke Australia untuk bekerja di Inside Indonesia Magazine.

Sebagaimana para pelopor —seperti ayah saya, misalnya— Astra sungguh menginspirasi banyak orang, bangsa ini, Indonesia. Kini banyak sekali usaha kecil dan menengah di Indonesia yang bergerak karena terinspirasi kepeloporan Astra, termasuk inspirasi bagi lahirnya mobil nasional. Sebagai pelopor, Astra tentu saja tahu bagaimana memposisikan diri. Sumber daya manusianya yang handal juga diambil dari anak-anak bangsa ini. Astra bergerak di semua lini, bahkan asuransi dan kelembagaan sosial.

Melalui empat pilar tanggungjawab sosialnya, Astra melakukan pendekatan yang sukar ditiru. Astra terjun langsung ke basis-basis usaha perkebunan, ikut mendorong petani dan usaha pertanian, pengrajin usaha kecil dan menengah, dan gerakan-gerakan kreatif pemuda, melalui unit-unit usaha dan jaringan bisnisnya.

Astra hadir untuk mendorong kesehatan masyarakat melalui Astra Untuk Indonesia Sehat dengan program GenerAKSI Sehat Indonesia (GSI) Astra di berbagai tempat di tanah air. Jangan lupa, GSI dalam Astra Untuk Indonesia Sehat, barulah satu bagian dalam banyak hal yang telah dilakukan Astra dengan empat pilar tanggungjawab sosialnya; tiga lainnya adalah, Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra Untuk Indonesia Hijau, Astra Untuk Indonesia Kreatif.

Kendati Astra bergerak di banyak bidang yang menuntut teknologi sebagai core-nya, Astra tentu saja memiliki visi pelestarian lingkungan yang sangat besar. Melalui pilar Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra memberikan beasiswa pendidikan, mengapresiasi para guru berprestasi, termasuk mendorong berkelanjutannya sejumlah sekolah alam, termasuk sekolah alam di Situbondo, Jawa Timur.

Di bidang lingkungan, bersama Perum Perhutani, Astra Forest mengonservasi keanekaragaman hayati kawasan hutan seluas 200 Ha, sebagai Eco Edu Tourism Area (Kawasan Wisata Pendidikan dan Ekosistim) berbasis pemberdayaan masyarakat. Kawasan itu diberi nama Haroto Pusako —dari bahasa Ocu, Kampar, Kepulauan Riau yang bermakna Harta Pusaka Ibu Pertiwi— yang memiliki bentang alam perbukitan hutan sekunder di kawasan Resort Pemangkuan Hutan Babakan Madang, Sentul, di wilayah administrasi kabupaten Bogor, berketinggian sekitar 300-500 mdpl., bertopografi landai hingga bergelombang terjal dengan kemiringan sekitar 15-40 persen. Kawasan-kawasan seperti ini harus dilestarikan keberadaannya.

Realitas apa yang hendak kita lihat dari semua pencapaian Astra sejauh ini. Bahwa Astra berusaha menghapus garis imajiner, yang menciptakan marjinalitas di tengah masyarakat —yang terlanjur tercipta karena kondisi sosial dan politik— dan rupanya Astra berhasil melakukannya.

Selama 60 tahun, dengan slogan To Continually Strive for Excellence (Terus Berjuang untuk Keunggulan) Astra telah berhasil membangun tujuh divisi usaha dan 33 anak perusahaan, belum termasuk jaringan usaha hasil merger dan jaringan distribusi (untuk semua produk Astra) yang meluas ke seluruh Indonesia. Astra International mempekerjakan 214.835 orang karyawan (data tahun 2016) dengan pendapatan Rp.181,1 triliun (data tahun 2016). Hasil ini sungguh luarbiasa untuk sumbangsih dan kerjakeras Astra selama enam dekade.

 

Kesederhanaan yang Berdampak Besar

Apa hubungan sejarah dan pencapaian Astra dengan kehadiran ojek gabah di kawasan persawahan Amohalo, di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang jauh dari pusat kegiatan Astra? Sekilas tampak tidak ada —namun sesungguhnya terasa ada dan dekat.

Tiga pendekatan dalam strategi usaha Astra setelah 50 tahun pra kemunculan Honda Revo di tahun 2007, memperlihatkan dengan jelas preposisi Astra di tengah masyarakat Indonesia di semua tingkatan dan di tengah iklim usaha yang keras. Bahwa Revo memang dirancang sebagai sepada motor untuk low segmented, namun tetap tangguh sebagai kendaraan harian. Dengan desain yang atraktif, Honda Revo dimunculkan sebagai antisipasi ramainya persaingan di segmen sepeda motor berjenis skutik dan sebagai kendaraan komuter dengan harga yang relatif terjangkau, membidik kalangan menengah ke bawah. Bagi mereka yang membutuhkan motor untuk dijadikan kendaraan harian, Revo menyajikan beragam keunggulan dibandingkan para kompetitornya. Tidak hanya kaum pekerja, tapi kalangan remaja dan mahasiswa juga menjadi target pasar penjualan Revo di Indonsia.

Inilah yang menjawab pertanyaan besar itu tadi; mengapa setelah lima dekade hadir dan melayani masyarakat, Astra kemudian meluncurkan produk yang mampu menjawab kebutuhan menengah ke bawah? Riset Astra selama bertahun-tahun dengan pendekatan (langsung dan tidak langsung) ke semua kalangan masyarakat berhasil menemukan celah dan mereduksi keinginan mereka ke dalam sebuah produk. Cara yang tampaknya sederhana namun ternyata berdampak sangat besar.

Para petani sawah di Amohalo bisa saja menggunakan produk lain, alih-alih memilih Honda Revo. Tetapi di persawahan dan medan geografis Amohalo, oleh para petani, Revo menjadi pilihan satu-satunya.

Senja menjelang saat kami meninggalkan Amohalo dengan kesan yang mendalam. Lumen merah senja seperti menjalar di langit, di atas kepala kami. Kami tidak perlu memacu kendaraan sebagaimana ketika kami datang siang tadi. Kami mau melihat aktifitas sore orang-orang di sini, saat kami berada di atas motor dengan kecepatan minimum.

Hari itu saya senang sekali di ajak oleh Frans. Saya senang menemukan orang-orang yang kreatif mengatasi masalah, atau paling tidak, saya menemukan gambaran detail bagaimana Astra menjadi perusahaan multinasional yang bisa menapaki pencapaian dan kesuksesan sebesar itu. Ya, sebab Astra memiliki sumber daya manusia Indonesia —yang menurut saya, rata-rata mampu berpikir inovatif seraya mendorong gagasan-gagasan cemerlang— yang mampu mengubah kualitas hidup di setiap era yang dilaluinya.

Tentu 60 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah kerja keras, bukan pula upaya yang mudah untuk terus memelihara komitmen pada masyarakat. Selamat berulang-tahun ke-60, Astra. Salam SATU Indonesia! [*]

 

*Feature ini diikutkan dalam Anugerah Pewarta Astra 2017 [Kategori Umum & Wartawan]

Iklan

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.


[Film] Uang Panai: Gugatan Sosio-Kultural yang Dibereskan

APA yang paling mahal dari sebuah realitas sosial? Nalar sebagai mahar sosial, atau pergeseran sosio-kultural itu sendiri? Tetapi ini bukan perbandingan untuk melihat seperti apa masyarakat kita memposisikan diri dan berusaha lepas dari kekolotan tradisi. Betapa majal nalar kita, bahwa upaya melepaskan diri itu sebagai bagian dari premis modernitas yang sementara berkembang. Sama saja. Saya pikir, konsekuensi yang bisa diafirmasi tidak bisa—atau tidak boleh—dilekatkan sembarangan.

Sebagai reviewer, saya duduk di bangku paling belakang hanya agar bisa melihat “film” secara utuh. Film di depan saya bukan hanya apa yang sedang bergerak plot demi plot dalam scene, tetapi juga laku penonton. Hanya ini yang bisa saya tangkap dalam keremangan dan bising tawa di ruang bioskop. Maka selebihnya, saya harus pula menangkap mimik dan komentar mereka setelah pemutaran film usai.

Uang Panai

Meredam Stereotype Kultural

Ada kepuasan di wajah mereka. Beberapa komentar yang sepintas saya tangkap berisi gugatan tentang stereotype yang didorong bersama gagasan dalam film. Juga komentar-komentar yang bisa membuat saya berpikir bahwa ada kebenaran yang harus ditelusuri dari gugatan sosio-kultural yang coba didedah melalui film ini. Wajah-wajah puas itu bukan karena bisa tertawa lepas melihat kekonyolan Tumming, Abu, dan Ancha (diperankan oleh Ikram Noer), atau merasa dihempaskan oleh tangis Risna—diperankan dengan sangat baik oleh Nur Fadillah. Bukan, sama sekali bukan itu.

Puas, sebab kegelisahan mereka berhasil divisualkan dengan baik. Puas, karena gugatan sosio-kultural yang diangkat film ini terkait pergeseran nilai dalam realitas uang panai telah berhasil dipertanyakan, sekaligus dijawab dengan tuntas. Secara personal, saya lumayan sedih saat menyadari ini. Sebagai seorang peneliti, penuntasan premis adalah penanda berakhirnya jalan (baca: perdebatan) yang selalu menyisakan pemikiran dan gagasan baru.

Cukup lama orang dibuat penasaran dengan kehadiran film Uang Panai. Nyaris setahun sejak trailernya pertama kali dirilis. Begitu membaca judulnya, orang-orang langsung menarik garis merah tentang isinya, membuat plot film ini seolah-olah mudah ditebak. Ternyata semua dugaan itu salah. Meleset jauh.

Isu yang diusung film ini kompleks—begitu pendapat saya. Gugatan uang panai yang dijadikan judul sekadar pintu bagi penghadiran banyak masalah lain. Siapapun pasti menyadari hal ini jika menyimak filmnya. Silariang (kawin lari), salah satunya. Ini laku yang disodorkan sebagai bagian isu sosio-kultural Bugis-Makassar yang perlu diluruskan. Bahwa silariang bukan jalan keluar—membuat malu keluarga pihak lelaki, juga mempermalukan keluarga pihak perempuan—selalu berakhir konflik dan mendorong masalah lama antar keluarga mencuat ke permukaan. Film ini menyitir dengan contoh; kesigapan ayah Risna membatalkan rencana Silariang anaknya yang nyaris berhasil itu.

Penonton yang tidak berlatar belakang tradisi Bugis-Makassar jangan berharap banyak bisa melihat aksi Silariang yang berhasil dan bagaimana keluarga yang dipermalukan melakukan penebusan sumpah siri-nya seraya menikam paha sendiri (atau bagian tubuh lainnya) dengan badik—sebagaimana disuguhkan dalam sinema elektronik Badik Titipan Ayah. Di film ini, kau hanya bisa tertawa dan diajak menjadi cerdas, seraya mendorong jauh-jauh frontalitas sikap adat orang Bugis-Makassar dengan kawali-nya yang pantang dimasukkan jika sudah terlanjur terhunus sebelum berbasuh darah manusia. Adegan macam itu tak akan kau temukan di film ini. Maaf saja, saudara.

Perjodohan, status sosial, harga diri, filosofi siri, posisi perempuan, pertanggung jawaban, adalah juga beberapa gugatan lain yang patut disebut dalam film ini. Beberapa gugatan itu mengemuka di sekujur plot film.

Ada yang menarik saat Ancha dan Risna memperdebatkan soal harga diri yang kemudian melompat ke topik price tag. Ungkapan telanjang itu adalah pukulan yang telak terhadap pergeseran tujuan uang panai. Bantuan Risna dianggap upaya mengusik harga diri Ancha sebagai seorang lelaki. Risna justru mempertanyakan ketersinggungan Ancha itu. “Harga diri? Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag!” Risna memekik, membuat Ancha tertegun.

Gugatan sosio-kultural yang dilontarkan melalui tokoh Risna itu, sepenuhnya benar. Pergeseran nilai dalam tradisi uang panai, akhirnya dilihat sebagai nilai jual—label harga atau price tag—pada perempuan Bugis-Makassar. Empirisme yang sungguh menyedihkan. Price tag, perjodohan, mahalnya mahar, kemudian ditemukan sebagai isu sampiran yang menyisik dalam film ini. Kebenaran agamis juga disodorkan, bahwa mahar tidaklah sama dengan uang panai; bahwa mahar tidak boleh disejajarkan dengan uang panai; bahwa uang panai harus dikembalikan sebagai pelengkap belaka dalam tradisi permulaan untuk mengatur rencana pernikahan, dan hal itu tidak lebih penting dari mahar yang wajib dalam tradisi dan tuntunan pernikahan Islami. Selebihnya, menyikapi banyaknya pergeseran nilai, selain uang panai itu sendiri, telah dijalan-tengahi dengan baik oleh film ini.

 

Uang Panai

Film ini membangun gambaran tentang seorang lelaki Bugis-Makassar yang bersusah payah mencari uang mahar demi menyanggupi tantangan kekasih hati yang meminta untuk dilamar. Dalam masyarakat Sulawesi (khususnya Bugis-Makassar) kini, uang panai dianggap sebuah keharusan yang mesti dituntaskan sebelum keluarga pihak lelaki mengambil menantu dari keluarga pihak perempuan.

Masalah mulai mengintai Ancha, saat pemuda itu baru saja kembali dari rantauan. Aksi penjambretan ternyata mempertemukan kembali Ancha dengan mantan kekasihnya, Risna, setelah mereka berpisah lama tanpa kabar. Ternyata benih cinta lama itu tumbuh kembali. Tak ingin terpisah untuk kali kedua, Risna meminta Ancha melamarnya.

Syarat pernikahanlah yang menghadang langkah Ancha mempersunting Risna. Ancha didapuk untuk menyanggupi uang panai dalam jumlah besar. Maka cerita ini pun bergulir. Ancha, dibantu dua sahabatnya (Tumming dan Abu) berusaha memenuhi syarat tersebut.

Di tengah upayanya, masalah lain datang. Farhan (diperankan Cahya Ary Nagara), teman kecil Risna, baru kembali dari Amerika Serikat. Masalah makin berat, saat orangtua Farhan dan Risna sepakat mengatur perjodohan mereka.

Di sisi lain, cinta Risna dan Ancha memang tak terbendung, sehingga mendorong Risna melangkah terlalu jauh. Upaya Risna justru melukai harga diri Ancha. Martabatnya sebagai lelaki Bugis-Makassar dipertaruhkan. Dilematis, Risna khawatir Ancha meninggalkannya lagi.

Apa yang harus dilakukan Ancha? Bagaimana Risna meredam persoalan? Seperti apa peran Tumming dan Abu? Mampukah Ancha tiba tepat waktu sebelum ijab Farhan dikabulkan?

Film ini bergenre komedi-romantik. Jadi tak hanya persoalan percintaan Risna dan Ancha saja yang ditonjolkan sepanjang cerita. Hampir semua plot dalam film besutan sutradara muda Halim Gani Safia dan Asril Sani ini disalut dialog dan gimik lucu oleh para pemerannya. Ikram Noer mampu mengimbangi kekocakan Tumming dan Abu. Para cameo juga berperan pantas. Jane Shalimar muncul beberapa detik dalam frame bersama Tumming dan Abu. Jane nyaris tak bisa menahan tawa dilibas ulah konyol dua pemuda ini. Katon Bagaskara juga tampil baik dengan menghidupkan karakter seorang Barista. Ia menasihati Ancha untuk tetap tegar dan semangat menghadapi masalahnya. “Hari ini adalah besok yang kemarin,” Katon mengutip Kahlil Gibran dan sukses membuat Ancha bingung.

Siapa Tumming dan Abu dalam film ini? Anda pun berhak tahu siapa mereka. Tumming yang jenaka seperti mengembalikan kepada kita cara tertawa era Gepeng—orang-orang yang piawai nan cerdas menghadirkan humor. Jika Tumming bisa mengembalikan ingatan kita pada Gepeng, maka Abu yang kocak itu bisa secerdas The Stoges atau Cak Lontong: tetap bisa memanusiakan orang-orang yang ingin tertawa tanpa harus membuat mereka tampak tolol di mata comedian. Membikin roasting a la standup comedy jaman sekarang segera terbang ke jaman prasejarah.

Anda bisa juga melihat “orisinalitas” mereka di Uang Panai. Referensi istilah original khas Sulawesi berhamburan di sini: anak muda palsu, masih bisa menikung, masih di dunia ji’ ini, SWISS, 4D, sampoi mulutmu, kopi boleh pahit tapi hidupmu jangan, kode keras, dan banyak lainnya.

Film ini memang bagus dan sanggup menyedot animo penonton. Sambutannya luar biasa. Pada pemutaran perdananya—di hari pertama saja—sukses di 21 kota. Antrian panjang di loket jadi pemandangan di setiap bioskop. Tiket habis dan daftar booking penuh sekali. Makkita Cinema Production sebagai pengampu film Uang Panai, memang tidak menargetkan apapun, sekaligus tidak berharap banyak setelah penundaan yang hampir setahun setelah rilis trailer pertama kali. Namun kekuatan cerita dan sinematografi, serta padatnya gagasan—yang tampaknya berhasil mereka urai—menjadikan film ini sangat layak mendapat apresiasi tinggi.

Sejak diputar perdana tanggal 25 Agustus 2016 kemarin, beberapa portal film merespon cepat. Untuk empat situs rujukan (pusatsinopsis, layarfilm, posfilm, jadwal21), film Uang Panai mendapat rangking fantastis, yakni 9,4 bintang dan menempati urutan ke-10 dari 1.307 film yang dirating.

“Cinta hanya kata, sampai kau datang jua dan memberinya makna.” Demikian sepetik syair yang dinyanyikan Katon Bagaskara sebagai soundtrack film yang skenarionya ditulis memikat oleh Halim Gani Safia dan Amirl Nuryan ini. (*)


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Media Indonesia 2015

Cover Media Indonesia

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK KUMCER MEDIA INDONESIA 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Suara Merdeka 2015

Cover Suara Merdeka

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK KUMCER SUARA MERDEKA 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


%d blogger menyukai ini: