Category Archives: Lingkungan

Ojek Gabah, Inovasi Pemecah Masalah

Keterbatasan sungguh bisa membuat seseorang atau sekelompok warga menjadi inovatif. Jika Satu Indonesia dengan Inspirasi 60 Tahun Astra mendorong tema Perjalanan Penuh Inspirasi, tentang perjalanan panjang Astra meraih kesuksesan dengan mendedikasikan karyanya untuk menginspirasi negeri dan memajukan Indonesia, maka kunjungan saya ke kawasan persawahan Amohalo, mungkin boleh juga disebut sebuah perjalanan yang sangat menginspirasi.

 

SAYA mendengar cerita tentang ojek gabah dari sahabat saya, Fransiskus Senoaji Patadungan, seorang lelaki Toraja yang sedang gemar-gemarnya fotografi. Bersama dua sahabat lainnya, Intan Rinjaru Hiandra dan Jay Irgie, kami berempat berencana berburu foto, sembari saya menuntaskan penasaran dengan ingin melihat sendiri para Pengojek Gabah.

Dari pusat kota, kami berdua berkendara kurang lebih sejam menuju pinggiran kota Kendari, ke arah Selatan. Amohalo adalah kawasan persawahan yang diplot menjadi lumbung padi kota Kendari. Itu kisahnya kini, setelah kurang lebih 30 tahun menjadi kawasan “berbahaya” bagi siapapun. Amohalo berada persis di pusat area Nangananga yang selama 30 tahun menjadi kawasan konsentrasi militer bagi mantan anggota Partai Komunis Indonesia yang ditangkap di Sulawesi. Awalnya, ada 220 orang tahanan politik (tapol) yang dipindahkan ke tempat ini setelah Rumah Tahanan Militer (RTM) Moncongleo di Makassar, dikosongkan. Area Nangananga yang sepenuhnya berupa hutan dan rawa ini kemudian disulap menjadi kawasan tahanan militer dan sangat terlarang untuk umum. Selain kendaraan militer dan anggota polisi militer, maka tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya, terlebih mendekat. Tetapi itu dulu. Luka lama yang tidak pantas dikorek kembali. Kita seharusnya sudah selesai berdamai dengan masa lalu.

Kini, dari sekitar 220 orang mantan tapol yang dulu dipindahkan tahun 1970 itu, hanya tersisa enam orang saja dan semuanya pun telah sangat uzur. Selama 30 tahun, kawasan Nangananga —termasuk area konsentrasi tapol-nya— itu berubah menjadi kawasan mukim dengan hampir 2.000-an warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka menanam Jambu Mete (ceshew nut), Kelapa, Lada dan beternak unggas (dominan bebek). Sebagian besar warga yang ada kini adalah generasi ketiga. Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut status tapol pada kakek-nenek mereka, mengembalikan mereka ke masyarakat, dan kawasan Nangananga diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kota Kendari pada tahun 2001.

Sebenarnya sebelum terjadi pengambil-alihan kawasan, di Nangananga sudah bermukim hampir 400 kepala keluarga lain yang menggantungkan hidup mereka dari persawahan. Sehingga perubahan statuta kawasan itu pada tahun 1970, otomatis ikut menyulitkan para petani sawah yang telah bermukim lebih awal.

Walau telah terbuka untuk aktifitas pertanian, karena diisolir begitu lama, infrastruktur di sana belum bisa memadai. Berada di pinggiran kota Kendari dan diisolasi begitu lama, praktis masyarakat Nangananga baru menikmati listrik pada 2009 dengan dibangunnya jaringan listrik induk yang melintasi kawasan. Menyadari kenyataan itu, kami sesungguhnya tidak terlalu heran dengan kondisinya. Pembangunan memang lamban di sini, tetapi nadi ekonomi ternyata berdenyut cukup kencang.

 

Revo Ojek Gabah

Tetapi perjalanan kami kali ini bukan untuk mengorek-ngorek “kekelaman” itu. Saya sangat tertarik mengunjungi petani di Amohalo setelah mendengar tentang Ojek Gabah yang diceritakan Frans, dan bagaimana inovasi yang mereka lakukan untuk membuka hambatan geografis dan minimnya fasilitas.

Setelah lepas dari 22 kilometer jalan beraspal, kendaraan kami mulai berguncang di jalanan yang sepenuhnya berlubang. Jalanan rintisan yang selalu menyisakan genangan setelah hujan itu, membentang sejauh 10 kilometer. Tak masalah, saya menggunakan Honda Beat Matic yang berbodi ramping, memudahkan saya bermanuver menghindari lubang demi lubang—terkadang jembatan dengan sepotong-dua kayu belaka. Ruang yang cukup lebar di bawah stang kemudi juga cukup leluasa untuk menempatkan tripod kamera.

Saat kami tiba, orang-orang desa sudah berkumpul di bawah salah satu rumah panggung besar, menikmati suguhan makan siang dan penganan ringan. Mereka tersenyum melihat kami. Pak Pongganti mendatangi kami dan saya langsung berbicara banyak dengannya. Proses panen baru saja selesai 20 menit lalu dan saat ini gabah sedang dimasukkan ke dalam karung-karung besar, disusun rapi di pinggiran pematang untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi transit sebelum diangkut ke atas mobil-mobil pick-up. Itu artinya kami belum terlambat. Motor-motor bebek—yang entah bagaimana bentuknya—tampak berderet rapi dengan para joki yang asik ngopi sembari menunggu sesuatu. Sesekali asap kawung mengepul dari dalam kerumunan mereka. Ya, tak syak lagi, mereka itulah joki ojek gabah yang diceritakan Frans.

Tadi kami memarkir kendaraan tak terlalu jauh dari rumah besar ini. Sembari berbicara dengan Pak Pongganti, saya menyiapkan kamera. Dua pick-up terlihat di seberang jalan bersama seseorang dengan buku catatan kecil di tangannya. Dari Pongganti saya tahu bahwa dua mobil bak terbuka itu adalah kendaraan pengepul. Merekalah yang akan memuat gabah petani. Walau tampak seperti sistem perkulakan, namun sesungguhnya harga beli mereka mengikuti mekanisme pasar. Mereka hanya boleh menebus gabah petani di bawah dua persen dari harga beli Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulawesi Tenggara, jika masih mau mendapatkan “barang”. Petani pun menerima resiko terkikis dua persen itu karena juga memperhitungkan biaya sewa truk jika mereka harus membawa sendiri gabah ke sentra pengeringan dan pergudangan.

Matahari terik sekali di pukul 12 siang itu. Cahaya yang keras seperti itu jelas akan menyulitkan kami mengatur aperture, ISO dan shutter speed pada kamera. Saya menggunakan lensa sudut lebar dengan hoodlens untuk menangkis cahaya keras dari sisi lensa. Kamera saya posisikan pada ISO kecil, dengan aperture besar dan kecepatan di atas 750.

Anggukan kepala dari Pak Pongganti seperti sebuah komando bagi delapan joki yang tiba-tiba bergegas ke motor masing-masing, menyalakan mesinnya dengan cara yang aneh, lalu susul-menyusul meluncur ke tengah persawahan yang baru selesai dipanen itu. Cara mereka menunggangi motor-motor itu tak ubahnya seperti crosser berpengalaman.

Delapan joki itu memecah kelompok menjadi dua —masing-masing empat motor— untuk dua pemilik gabah. Jarak antara dua gundukan karung gabah sekitar 300 meter, dan jarak antara gundukan terdekat menuju jalan hampir 250 meter. Kecekatan mereka mengangkut dan bolak-balik dari gundukan karung gabah menuju tempat menumpukan sementara di pinggiran jalan, sungguh menarik untuk disaksikan.

Setiap motor yang meninggalkan gundukan karung gabah, datang dengan dua karung besar gabah yang ditumpuk di tengah sasis motor dan dengan beban berat dan sebesar itu, tampaknya mereka tetap bisa mengendalikan stang kemudi motor tanpa kesulitan. Para joki mampu bermanuver di sela pematang dengan lincah.

Saya tentu kagum. Hal seperti ini belum tentu saya temukan di tempat lain. Ojek gabah ini memang inovasi yang efektif dan ekonomis. Buruknya kondisi jalanan di kawasan persawahan desa Amohalo sepertinya nyaris mustahil menemukan cara mengangkut karung gabah yang besar dan berat itu dari tengah sawah ke area penumpukan, membuat mereka berpikir keras. Untuk semua kesulitan itu, ojek gabah ini benar-benar jawaban yang cerdas.

Semua pihak dalam proses panen hingga pengangkutan boleh dibilang untung. Dalam sehari, seorang pengojek gabah bisa mendapatkan bayaran minimal 400 ribu hingga 800 ribu rupiah. Sangat tergantung dari jumlah sawah yang ia layani. Nah, bayangkan uang yang mereka dapatkan jika panen padi di kawasan subur ini bisa sampai tiga kali setahun, dengan luasan kurang lebih 3.000 hektar dan semua proses panen itu dapat berlangsung selama 14 hari. Luarbiasa!

Standar bayaran yang mereka terima paling rendah 5.000 rupiah per karung. Jika medan sukar (berlumpur) atau jaraknya jauh, ongkos yang mereka terima naik menjadi 7.000 –10.000 rupiah/karung. Sekali angkut motor mereka mampu dimuati dua karung. Jika setiap pengojek mampu bolak-balik sebanyak 10 kali, itu artinya di satu lokasi sawah saja mereka bisa mengantongi maksimal 200 ribu rupiah. Bayangkan ketika kawasan persawahan Amohalo berada di puncak musim panen. Setiap pengojek gabah bisa melayani pengangkutan di tiga-empat sawah dalam sehari.

Setelah proses pengangkutan selesai, motor-motor pun kembali diparkirkan. Saya mendekat untuk sekadar mengetahui bagaimana modifikasi yang mereka lakukan pada motor-motor itu. Hal pertama yang membuat saya kagum adalah delapan motor yang dimodifikasi menjadi alat angkut gabah itu berjenis Honda Revo dan rata-rata dari generasi pertama dan kedua. Mereka melepas semua penutup bodi bagian atas motor sehingga hanya menyisakan tangki bahan bakar yang memang terletak di bagian belakang. Bahkan jok pun tidak terlihat lagi, termasuk memindahkan tuas rem belakang yang terletak di dekat stand kaki depan, ke stang kemudi —persis mekanisme pengereman pada motor skuter matik.

Knalpot juga dimodifikasi, dibuat lebih panjang agar tidak menghalangi kaki pengojek dan memiliki kemampuan melaju lebih cepat di atas lumpur atau medan berair. Di atas batang sasis, mereka membuat flatform baru dengan papan atau plat besi, dibuat landai agar memudahkan menyusun karung-karung gabah. Semua panel di bagian kepala dilepas sama sekali, menaikkan posisi stang kemudi dan memanjangkan shockbreaker depan. Kaki-kaki depan dan belakang juga tak lepas dari pengubahan. Mereka menggunakan ban bergerigi yang biasa digunakan pada motor jenis trail. Dengan semua modifikasi itu, joki ojek gabah tidak merasa kesulitan bahkan jika posisi mereka nyaris rebah di atas karung-karung yang mereka muat.

Pongganti menuturkan, dahulu sebelum ada pengojek gabah, petani biasa menyewa buruh angkut dengan cara memikul gabah dari sawah ke area penumpukan. Cara ini tentu tidak efisien dan ekonomis. Walau setiap sawah dilayani buruh pikul hingga 10 orang, pekerjaan tetap terasa lamban sebab memerlukan waktu hingga seharian penuh. “Untuk sawah-sawah yang berada jauh di tengah seperti itu,” Pongganti menunjuk deretan sawah yang berada di tengah atau di ujung kawasan persawahan, “butuh waktu sampai dua-tiga hari baru selesai.”

Tentu pula jauh dari nilai ekonomis. Tidak ada buruh pikul yang murah untuk pekerjaan seberat itu. Mereka biasa dibayar hingga Rp30.000/karung, atau Rp.40.000/karung jika jaraknya jauh dari lokasi penumpukan. Itu memangkas hampir separuh dari nilai jual beras setelah melalui semua proses pengolahannya. “Tiga kilogram gabah kering sebanding dengan satu kilogram beras, dan petani sudah mengeluarkan biaya yang nilainya hampir seperempat harga jual beras per karung ukuran 50 kilogram. Sekarang harga jual beras mencapai 400 ribu rupiah per karung. Keluaran biaya itu belum termasuk ongkos angkut ke lokasi penjemuran atau penggilingan,” ujar Pongganti sembari tersenyum kecut.

Namun sejak warga berinovasi menggunakan ojek gabah, pengeluaran petani bisa ditekan sangat besar. “Kami bisa menyelesaikan semua proses panen hingga ke lokasi penumpukan tidak lebih dari satu jam saja,” ujar sembari bertepuk tangan. Saya senang melihatnya gembira seperti itu.

 

Gagasan Ojek Gabah dan Innov Astra

Tetapi mengapa mereka memilih Revo dengan mesin Honda Techno AT dari generasi pertama dan kedua itu? “Bodinya mudah dioprek dan mesinnya agresif tapi irit bahan bakar,” jawaban spontan Sukri, seorang joki ojek gabah, itu membuat kami semua tertawa. Tetapi Sukri benar. Untuk berinovasi dengan melakukan modifikasi seperti itu, awalnya mereka memang memilih-milih merek motor, sekaligus jenis mesin yang diusung. Dari beberapa jenis motor, pilihan mereka berakhir pada Honda Revo. Tetapi bagaimana mereka mendorong ide, itu adalah cerita berbeda. Bahwa Astra hadir sebagai katalis yang secara tidak langsung mendorong keberanian berinovasi oleh masyarakat, adalah cerita utamanya.

Sekarang, Astra mungkin saja belum bergerak untuk secara langsung hadir di tengah petani Indonesia dengan inovasi terbaru yang bisa memberi kemudahan masyarakat menikmati teknologi pertanian, termasuk —yang paling utama, misalnya— menciptakan mesin pemanen dan perontok serbaguna sekaligus memecahkan masalah transportasi gabah.

Fakta tentang petani yang memodifiksi motor menjadi ojek gabah karena terinspirasi pada ketangguhan mesin Honda Revo dalam tulisan ini boleh jadi memang belum pernah sampai ke meja para inovator dan pengambil kebijakan di Astra International Tbk., tetapi saya percaya, satu-dua tahun ke depan tehnologi Astra bisa dengan cepat menjangkau petani di seluruh Nusantara dan menyelesaikan masalah mereka. Boleh jadi pula gagasan inovatif para petani di Amohalo dengan ojek gabahnya itu bakal menjadi salah satu isu utama di ajang tahunan InnovAstra berikutnya.

Maka benarlah, program Satu Indonesia dalam visi-misi Astra, akan sungguh-sungguh menjadi kenyataan besar yang linier dengan Indonesia.

 

Terus Berjuang untuk Keunggulan

Sekadar bercanda, saya bertaruh dengan Frans Patadungan. Karena semua pengojek gabah menggunakan motor yang sama, dengan mengukur standar kelincahan motor di medan seperti itu, kami bertaruh, siapa yang kira-kira menjadi pengangkut terbanyak. Kami lalu memilih calon pemenang masing-masing.

Mari melipir sedikit dari aksi taruhan kami, sebab hasilnya pun tak akan jauh berbeda; yang menang nantinya sudah pasti menggunakan si tangguh Honda Revo.

Enampuluh tahun lalu, Astra hadir dengan satu tujuan utama; senantiasa mendedikasikan karya-karya inovatifnya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tentu saja di usia yang sangat mapan seperti itu Astra tidak saja menjadi raksasa industri dan teknologi yang disegani di luar Indonesia, tetapi menjadi pioner sekaligus inspirasi bagi teknologi di tanah air, khususnya di bidang otomotif.

Enam dekade bukan waktu yang singkat untuk menghitung besarnya pencapaian dan kontribusi Astra bagi Indonesia. Dilandasi falsafah Catur Dharma, Astra sesungguhnya sangat berhasil menginspirasi dan mendorong Indonesia melangkah lebih jauh masuk ke era teknologi tinggi. Produk-produk dan layanan Astra telah mengubah wajah Indonesia melalui karya-karya putra bangsa Indonesia sendiri. Astra terus menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, dan menjadi terdepan dalam upayanya memberi kontribusi sosial bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Astra-lah yang mula-mula menginspirasi para pengambil kebijakan Indonesia untuk mendorong mobil nasional (mobnas). Kijang adalah produk menumental Astra yang ikut membuat banyak negara melihat bahwa Indonesia telah bergerak lebih maju di kawasan regional.

Saya teringat pada “kendaraan tugas” pertama ayah saya. Ayah saya adalah mantan wartawan Harian Umum Pelita, sebelum akhirnya pensiun di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Biro Kendari. Kijang kotak itulah yang kemana-mana mengantar ayah saya liputan di berbagai wilayah terjauh di Sulawesi Tenggara. Asik sekali mendengar beliau berkisah bagaimana mereka menembus beratnya medan di lokasi terisolir untuk mendatangi warga yang lahan pertaniannya diambil paksa oleh oknum pamong praja kabupaten. “Si kuning itu seperti berenang membelah sungai Lasolo,” kenang Ayah, di akhir Juni, setahun lalu. Saat itu kami berdua duduk di teras belakang rumahnya yang diteduhi tiga pohon jambu klutuk.

Itulah kenangan terakhir duduk bercerita bersama ayah, sebab November 2016, ayah harus dilarikan ke rumahsakit karena unfaal jantung dan wafat di sana setelah sepekan perawatan. Ayah saya, Moehiddin Damara, seingat saya adalah jurnalis paling tangguh yang pernah saya kenal. Bersama tiga rekannya (yang juga telah wafat mendahuluinya), Beliau memelopori jurnalisme di Sulawesi Tenggara. Beliaulah yang menginspirasi banyak wartawan muda lainnya, termasuk saya ketika itu, untuk juga menekuni dan lebih serius tentang jurnalisme. Saya juga teringat pada wajah Beliau saat saya datang mengabarinya soal keberangkatan saya ke Australia untuk bekerja di Inside Indonesia Magazine.

Sebagaimana para pelopor —seperti ayah saya, misalnya— Astra sungguh menginspirasi banyak orang, bangsa ini, Indonesia. Kini banyak sekali usaha kecil dan menengah di Indonesia yang bergerak karena terinspirasi kepeloporan Astra, termasuk inspirasi bagi lahirnya mobil nasional. Sebagai pelopor, Astra tentu saja tahu bagaimana memposisikan diri. Sumber daya manusianya yang handal juga diambil dari anak-anak bangsa ini. Astra bergerak di semua lini, bahkan asuransi dan kelembagaan sosial.

Melalui empat pilar tanggungjawab sosialnya, Astra melakukan pendekatan yang sukar ditiru. Astra terjun langsung ke basis-basis usaha perkebunan, ikut mendorong petani dan usaha pertanian, pengrajin usaha kecil dan menengah, dan gerakan-gerakan kreatif pemuda, melalui unit-unit usaha dan jaringan bisnisnya.

Astra hadir untuk mendorong kesehatan masyarakat melalui Astra Untuk Indonesia Sehat dengan program GenerAKSI Sehat Indonesia (GSI) Astra di berbagai tempat di tanah air. Jangan lupa, GSI dalam Astra Untuk Indonesia Sehat, barulah satu bagian dalam banyak hal yang telah dilakukan Astra dengan empat pilar tanggungjawab sosialnya; tiga lainnya adalah, Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra Untuk Indonesia Hijau, Astra Untuk Indonesia Kreatif.

Kendati Astra bergerak di banyak bidang yang menuntut teknologi sebagai core-nya, Astra tentu saja memiliki visi pelestarian lingkungan yang sangat besar. Melalui pilar Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra memberikan beasiswa pendidikan, mengapresiasi para guru berprestasi, termasuk mendorong berkelanjutannya sejumlah sekolah alam, termasuk sekolah alam di Situbondo, Jawa Timur.

Di bidang lingkungan, bersama Perum Perhutani, Astra Forest mengonservasi keanekaragaman hayati kawasan hutan seluas 200 Ha, sebagai Eco Edu Tourism Area (Kawasan Wisata Pendidikan dan Ekosistim) berbasis pemberdayaan masyarakat. Kawasan itu diberi nama Haroto Pusako —dari bahasa Ocu, Kampar, Kepulauan Riau yang bermakna Harta Pusaka Ibu Pertiwi— yang memiliki bentang alam perbukitan hutan sekunder di kawasan Resort Pemangkuan Hutan Babakan Madang, Sentul, di wilayah administrasi kabupaten Bogor, berketinggian sekitar 300-500 mdpl., bertopografi landai hingga bergelombang terjal dengan kemiringan sekitar 15-40 persen. Kawasan-kawasan seperti ini harus dilestarikan keberadaannya.

Realitas apa yang hendak kita lihat dari semua pencapaian Astra sejauh ini. Bahwa Astra berusaha menghapus garis imajiner, yang menciptakan marjinalitas di tengah masyarakat —yang terlanjur tercipta karena kondisi sosial dan politik— dan rupanya Astra berhasil melakukannya.

Selama 60 tahun, dengan slogan To Continually Strive for Excellence (Terus Berjuang untuk Keunggulan) Astra telah berhasil membangun tujuh divisi usaha dan 33 anak perusahaan, belum termasuk jaringan usaha hasil merger dan jaringan distribusi (untuk semua produk Astra) yang meluas ke seluruh Indonesia. Astra International mempekerjakan 214.835 orang karyawan (data tahun 2016) dengan pendapatan Rp.181,1 triliun (data tahun 2016). Hasil ini sungguh luarbiasa untuk sumbangsih dan kerjakeras Astra selama enam dekade.

 

Kesederhanaan yang Berdampak Besar

Apa hubungan sejarah dan pencapaian Astra dengan kehadiran ojek gabah di kawasan persawahan Amohalo, di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang jauh dari pusat kegiatan Astra? Sekilas tampak tidak ada —namun sesungguhnya terasa ada dan dekat.

Tiga pendekatan dalam strategi usaha Astra setelah 50 tahun pra kemunculan Honda Revo di tahun 2007, memperlihatkan dengan jelas preposisi Astra di tengah masyarakat Indonesia di semua tingkatan dan di tengah iklim usaha yang keras. Bahwa Revo memang dirancang sebagai sepada motor untuk low segmented, namun tetap tangguh sebagai kendaraan harian. Dengan desain yang atraktif, Honda Revo dimunculkan sebagai antisipasi ramainya persaingan di segmen sepeda motor berjenis skutik dan sebagai kendaraan komuter dengan harga yang relatif terjangkau, membidik kalangan menengah ke bawah. Bagi mereka yang membutuhkan motor untuk dijadikan kendaraan harian, Revo menyajikan beragam keunggulan dibandingkan para kompetitornya. Tidak hanya kaum pekerja, tapi kalangan remaja dan mahasiswa juga menjadi target pasar penjualan Revo di Indonsia.

Inilah yang menjawab pertanyaan besar itu tadi; mengapa setelah lima dekade hadir dan melayani masyarakat, Astra kemudian meluncurkan produk yang mampu menjawab kebutuhan menengah ke bawah? Riset Astra selama bertahun-tahun dengan pendekatan (langsung dan tidak langsung) ke semua kalangan masyarakat berhasil menemukan celah dan mereduksi keinginan mereka ke dalam sebuah produk. Cara yang tampaknya sederhana namun ternyata berdampak sangat besar.

Para petani sawah di Amohalo bisa saja menggunakan produk lain, alih-alih memilih Honda Revo. Tetapi di persawahan dan medan geografis Amohalo, oleh para petani, Revo menjadi pilihan satu-satunya.

Senja menjelang saat kami meninggalkan Amohalo dengan kesan yang mendalam. Lumen merah senja seperti menjalar di langit, di atas kepala kami. Kami tidak perlu memacu kendaraan sebagaimana ketika kami datang siang tadi. Kami mau melihat aktifitas sore orang-orang di sini, saat kami berada di atas motor dengan kecepatan minimum.

Hari itu saya senang sekali di ajak oleh Frans. Saya senang menemukan orang-orang yang kreatif mengatasi masalah, atau paling tidak, saya menemukan gambaran detail bagaimana Astra menjadi perusahaan multinasional yang bisa menapaki pencapaian dan kesuksesan sebesar itu. Ya, sebab Astra memiliki sumber daya manusia Indonesia —yang menurut saya, rata-rata mampu berpikir inovatif seraya mendorong gagasan-gagasan cemerlang— yang mampu mengubah kualitas hidup di setiap era yang dilaluinya.

Tentu 60 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah kerja keras, bukan pula upaya yang mudah untuk terus memelihara komitmen pada masyarakat. Selamat berulang-tahun ke-60, Astra. Salam SATU Indonesia! [*]

 

*Feature ini diikutkan dalam Anugerah Pewarta Astra 2017 [Kategori Umum & Wartawan]

Iklan

Pidato Anak 12 Tahun yang Mmembungkam Para Pemimpin Dunia di PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yang bernama Severn Suzuki, seorang anak yang pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization (ECO).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan Hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yang berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yang berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

 

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O—Enviromental Children Organization.

Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya—hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Di sini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi—tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi—dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama—perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan—kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang”.

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini, mengapa anda melakukan hal ini—kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja, kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

***

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konferensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya: “Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya…tidak…kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun”.

***

Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia. (Copyright from: Moe Joe Free) []


Krisis Teluk Kendari

LINGKUNGAN HIDUP

Oleh : M Djufri Rachim | 29-Aug-2009

Teluk Kendari saat ini mengalami krisis. Saatnya penyelamatan dengan cara ekstrim, jika tidak, maka sisa cairan teluk hari ini pun akan menjadi daratan.

KabarIndonesia – Teluk Kendari tak dapat dipisahkan dengan awal keberadaan Kota Kendari yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini. Di teluk inilah semuanya berawal. Tradisi lisan menyebutkan, nama Kendari berasal dari bahasa Tolaki, yakni kandai (tukong), artinya alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk mendorong perahu di tempat yang airnya dangkal. Di teluk Kendari inilah aktivitas transportasi laut penduduk menggunakan alat kandai, selain menggunakan dayung dan layar. Kandai kemudian diabadikan menjadi nama kampung, kini sudah menjadi Kelurahan Kandai yang berada di awal pusat Kota Kendari yang terletak di wilayah Kecamatan Kendari (Kota Lama).

Letak geografis Kota Kendari ibarat wajan – tempat penggorengan. Di tengah-tengah terdapat teluk, sementara di sisi utara, barat, selatan terdapat ketinggian. Di sisi utara ada pegunungan Nipa Nipa, sementara di sisi selatan ada pegunungan Nanga Nanga. Demikian pula di sebelah barat, Mandonga dan Wua Wua adalah pemukiman yang posisinya lebih tinggi. Sebutlah contoh posisi Rumah Jabatan Gubernur Sultra di jalan La Ute, karena posisinya berada di ketinggian, maka dapat melihat ke bawah, teluk, dengan jelas. Demikian pula dari sisi ketinggian di sebelah utara dan selatan teluk tentunya. Karena posisi demikianlah sehingga erosi yang terjadi dari sisi utara, barat dan selatan semuanya bermuara pada pusat teluk yang pada gilirannya menyebabkan pendakangkalan Teluk Kendari. Laju pendakalan di Teluk Kendari semakin memprihatinkan seiring pertambahan aktivitas manusia yang bermukim di sekitarnya.

Dulu, waktu Teluk Kendari belum mengalami degradasi seperti sekarang, keberadaan ditinjau dari sisi sosial ekonomi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan dan biota laut lainnya. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi. Sayangnya, kondisi itu telah berubah fungsi, dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis, selain erosi yang terjadi secara alamiah. Hal ini sebagai konsekensi perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari.

Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara menyebutkan, dalam kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan di Teluk Kendari seluas 101,8 hektar dan kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter. Luasan wilayah teluk ini menyusut dari semula 1.186,2 hektar menjadi 1.084,4 hektar pada tahun 2000.

Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 152,08 hektar merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 357.810,59 ton/ tahun. Selain itu, menurut dokumentasi institusi teknis Dinas Kehutanan Provinsi Sultra, terdapat 10 hingga 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari. Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi, misalnya DAS Benu Benua 21,00 Km2, DAS Lahundape 16,00 Km2, DAS Mandonga 18,00 Km2, DAS Sodoha 20,00 Km2, DAS Sungai Tipulu 12,00 Km2 serta DAS Wua Wua, Kemaraya, Anggoeya, dan DAS Kampungsalo.

Sumbangsi sedimentasi juga datang dari aktivitas di dermaga yang ada dalam kawasan teluk. Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan kapal pada teluk Kendari. yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapal-kapal berskala besar setiap saat, termasuk persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila yang melayani kawasan timur Pulau Sulawesi. Ada pula Pelabuhan Ferry penyeberangan dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal perikanan laut swasta. Dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogianya bisa membaik, namun Teluk Kendari tak lepas dari masalah.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Haluoleo (PPLH-Unhalu) telah memprediksi sedimentasi itu sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/ tahun dengan laju pendangkalan 0,207 m/ tahun. Hal itu yang membuat kondisi Teluk Kendari semakin memprihatinkan. Lembaga ini juga memperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang, kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar.

Aktivitas di sekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung maupun tidak langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti penebangan kayu maupun anakan kayu di hutan, pertambangan pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak maupun industri dan pertokoan. Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal mangrove yang dulu masih luas kini semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara lain pembukaan tambak, pembangunan galangan kapal, pembangunan SPBU dan pembangunan kawasan pertokoan.

Setiap tahun terjadi pengurangan vegetasi mangrove secara drastis. Pada tahun 1960-an luas vegetasi mangrove di sekitar Teluk Kendari mencapai 543,58 ha, tahun 1995 menurun hingga tersisa 69,8 ha, dan tahun 2005 menurun lagi hingga tersisa tinggal 40%.

Pemerintah Provinsi Sultra tengah merancang sebuah program untuk menjadikan Teluk Kendari sebagai tempat olah raga air kelas dunia. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sultra ditunjuk untuk merancang program ini. Kepala Dinas PU Sultra Dody Djalante menjelaskan program ini dilakukan bersamaan dengan dibangunnya dua mega proyek pada Teluk Kendari, yakni jembatan penghubung (Kota Lama dengan Lapulu) dan masjid terapung di atas permukaan laut.

“Program ini akan kami wujudkan, demi menjadikan Teluk Kendari sebagai icon Sulawesi Tenggara ke depan,” ujarnya kepada wartawan belum lama.

Dody menjelaskan, sejak dimulainya pembangunan Pelabuhan Kontainer Bungkutoko, maka rancangan menjadikan teluk Kendari sebagai tempat olah raga air kelas dunia mulai digaungkan. Jika Pelabuhan Kontainer Bungkutoko rampung, maka lalu lintas kapal barang sudah pasti tidak akan masuk Teluk Kendari.

“Inilah alasan mengapa Teluk Kendari bakal dijadikan olah raga air kelas dunia,” jelasnya seraya menambahkan, program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kendari.

Di luar itu Pemerintah Kota Kendari mempunyai kebijakan sendiri berupa pengerukan endapan teluk dengan menyediakan anggaran sebesar Rp. 5 miliar lebih. Sayangnya hingga kini belum ada aksi memadai, padahal sudah dianggarkan sejak setahun lalu. Hal ini menambah kecurigaan pihak-pihak yang meragukan sejak awal akan program tersebut, seperti diungkapkan Direktur Eksekutif LEpMIL –Sultra, M. Alim Nur bahwa proyek Pemkot itu tidak akan optimal.

Pemicu bertambahnya pendangkalan karena konversi kawasan hutan mangrove menjadi lahan tambak. Selain itu, perkembangan pemukiman di sekitar teluk tidak terkontrol, serta belum adanya kejelasan tata ruang dan rencana pengembangan wilayah pesisir Teluk Kendari. Akibatnya, terjadinya tumpang tindih pemanfaatan kawasan pesisir untuk berbagai kegiatan pembangunan. Masalah lain, adanya temuan pencemaran logam berat seperti Merkuri (Hg) dan Cadmium (Cd) di sekitar Teluk Kendari dengan kadar tinggi sehingga mengganggu kelangsungan biota laut, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Sesungguhnya perairan teluk memiliki luas sekitar 17,75 km2 dengan total panjang garis pantai kurang lebih 85,85 km, berbentuk hampir seperti segitiga. Alur sempitnya tadi berada di bagian timur, dan makin ke barat alurnya makin melebar. Pantai utara Teluk Kendari merupakan kaki Gunung Nipa Nipa sehingga agak terjal. Sebaliknya di bagian barat dan selatan teluk merupakan dataran rendah yang garis pantainya ditutup hutan bakau (mangrove), sehingga, kondisi perairan Teluk Kendari yang terlindung oleh penyempitan alur masuk itu, relatif tenang. Pergerakan arus bersifat lokal dan hanya sedikit dipengaruhi arus luar teluk. Arus yang bergerak dari mulut dan ke dalam teluk dan sebaliknya pada saat terjadi pasang dan surut berkecepatan sekitar 13 km/ jam.

Gelombang laut yang terjadi di kawasan Teluk Kendari umumnya bersumber dari tiupan angin di kawasan perairan teluk itu. Gelombang besar terjadi di sekitar Pulau Bungkutoko dengan ketinggian antara 1-1,5 meter pada bulan Juni-Agustus (musim timur) dan 0,5-1 meter pada periode Desember-Januari (musim barat). Gelombang besar itu berasal dari Laut Banda dan Samudra Pasifik. Sedangkan ketinggian gelombang di dalam teluk sendiri hanya berkisar rata-rata 0,3 meter di segala cuaca.

Secara geologi, pada musim hujan warna air teluk agak keruh, terutama di muara-muara sungai. Paling sedikit ada 12 sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk, antara lain yang agak besar adalah Sungai Sadohoa, Wanggu, Kambu, dan Sungai Anggoeya. Jaringan sungai dan anak sungai tersebut puluhan tahun silam masih berfungsi sebagai sarana transportasi hingga ke pedalaman (pinggiran) kota.

Kebijakan pemerintah dan perilaku warga kota cenderung tidak memihak pada upaya pelestarian Teluk Kendari. Penggunaan lahan yang tak terkendali, baik untuk permukiman dan pertokoan maupun untuk pertanian menjadi sumber pendangkalan dan pencemaran teluk.

Warga kota yang berdiam di lereng gunung, baik penduduk lama maupun pendatang baru dibiarkan merambah hutan untuk lokasi perumahan dan kebutuhan hidup lainnya. Secara semena-mena juga para pemilik modal menggusur perbukitan di beberapa ruas jalan utama, masih di kaki pegunungan Nipa Nipa, untuk kepentingan investasi di bidang properti yaitu bisnis rumah toko (Ruko).

Tindakan tersebut merupakan salah satu penyebab pendangkalan teluk. Kerusakan hutan di pegunungan Nipanipa sehingga menyebabkan terjadinya erosi yang membawa lumpur, pasir, sampah dan limbah rumah tangga, serta berbagai material lainnya ke Teluk Kendari. Sisa-sisa lumpur dan pasir dari kegiatan penggusuran bukit juga segera dihanyutkan banjir ke teluk pada musim hujan. Selain itu kegiatan pemerintah sendiri yang mempercepat lajunya sedimentasi adalah pembangunan jaringan jalan, terutama ruas-ruas jalan yang berlokasi di bibir pantai teluk. Pembangunan jalan tersebut di awal dengan pengerukan rawa-rawa dan empang milik penduduk. Lahan tersebut sebelumnya merupakan hutan bakau.

Sedangkan ekosistem mangrove untuk kepentingan permukiman, pertambakan, dan pembangunan prasarana jalan lebih mempercepat proses pendangkalan Teluk Kendari. Luas hutan bakau di pantai teluk pada tahun 1995 tercatat tinggal sekitar 69,85 hektar. Ini menunjukkan, kesewenang-wenangan manusia terhadap alam memang tak terbendung, sebab berdasarkan hasil penelitian tahun 1960 luas hutan bakau di teluk ini masih sekitar 543,58 hektar.

Sisa hutan bakau tersebut makin habis pula, akibat perluasan lahan tambak oleh warga kota. Kawasan sabuk hijau (green belt) pun yang berfungsi sebagai penyangga telah berangsur lenyap dan menjadi lahan tambak. Padahal sabuk hijau mutlak disediakan sebagai kawasan lindung dalam rangka mempertahankan hutan mangrove.

Jalur lain yang menjadi kontributor penyusutan Teluk Kendari menjadi daratan adalah jaringan sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk itu. Jaringan sungai tersebut membawa lumpur, pasir, dan material lainnya ke teluk pada saat banjir di musim hujan.

Sebagian sungai di Kota Kendari telah menjadi sungai mati, dan baru berair serta banjir bila musim hujan datang. Hal itu membuktikan parahnya kerusakan hutan di daerah tangkapan hujan (catchment area) dalam ekosistem DAS (daerah aliran sungai). DAS terbesar di kawasan teluk adalah DAS Wanggu dengan luas wilayah 32.389 hektar. Wilayah DAS ini membentang dari pegunungan Boro Boro, Wolasi hingga Teluk Kendari yang mencakup tiga kecamatan dalam wilayah Kabupaten Konawe serta dua kecamatan di Kota Kendari sendiri. Karena itu dibutuhkan kebijakan terpadu pemerintah kabupaten dan kota untuk memulihkan kerusakan DAS tersebut.

Melihat krisis Teluk Kendari yang memprihatinkan sekarang sudah saatnya pemerintah daerah, baik Pemkot maupun Pemprov, mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melakukan pengerukan, tak kalah penting adalah penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak, maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita. Sepakat! []



%d blogger menyukai ini: