[Cerpen] Hanya Fabel yang Kita Punya | Media Indonesia | Minggu, 08 Mei 2016

Hanya Fabel yang Kita Punya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Hanya Fabel yang Kita Punya | Ilustrasi: Pata Areadi

KAU pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. Ibumu menoleh dan bicara. “Ayahmu tak pernah ragu-ragu—” desisnya “—entah dari mana rasa takut itu kau warisi?”

Ibumu baru saja membuka ingatannya tentang mendiang ayahmu. Lihatlah mata ibumu—lihatlah, betapa mata ibumu kehilangan cahayanya. Suram dan sepi seperti kuburan. Seharusnya kau memerhatikan laknat di depanmu itu. Laknat yang sedang bergerak-gerak, ingin terbebas dari sesuatu yang lengket.

“Bekuk dia demi Ibumu ini! Laknat itu telah mengisap semua harapan kita. Bekuk dia demi mendiang Ayahmu!” Ibumu berseru jengkel. Ibumu itu telah melalui semua kengerian yang tak pernah kau saksikan. Ibumu ingin agar kau menjadi harapan terakhirnya untuk menuntut balas.

Kau seharusnya mulai bergerak, membayangi sang laknat yang sedang ceroboh dan berusaha membebaskan diri dari jebakan buatanmu. Tapi, ah, matamu itu membersitkan ketakutan. Aku bisa melihatnya. Ibumu bisa melihatnya.

**

SEINGATKU, ayahmu adalah pemberani yang pernah kita kenal. Seumur hidup kita, baru sekali kita menyaksikan pemberani seperti dirinya. Ia bukan pengecut seperti lainnya—yang memilih lari daripada harus bertarung. Kau tahu, ia juga pecinta. Ayahmu menerima keadaan ini dan tak mengeluhkannya. Betapa tak segan ia menunjukkan cintanya yang besar itu.

Dari ayahmu, kita belajar cara bertarung. Ia sering bilang: pemenang adalah petarung yang cerdik. Menjadi cerdik lebih baik dari sekadar berani dan menjadi berani lebih baik dari sekadar kuat. Tetapi mencintai adalah kenyataan yang membuat pertarungan harus diakhiri.

Saat itulah aku tahu, bahwa cinta adalah hal terkuat yang pernah ada.

Sekali-dua kita gagal mengulang petunjuknya. Tapi ayahmu sabar mengajari kita. Hal-hal yang belum kita percayai selalu saja berhasil membuat kita ngeri, berlari ketakutan, menjerit-jerit. Seringkali kita harus pulang dengan harga diri yang koyak-moyak.

Tetapi dari ibumu, kita belajar cara menguatkan simpul, juga belajar cara menentukan lokasi terbaik untuk memasang perangkap. Ibumu pandai melakukannya. Aku senang melihatnya cekatan menganyam benang dan membentangkannya di bawah matahari.

“Kalian harus mengeratkan simpul-simpulnya—” ujar ibumu suatu ketika “—di situlah kekuatan inti perangkap. Simpul-simpul yang tak terjalin baik, akan membuat perangkap mudah rusak dan melepaskan buruan begitu saja.”

Aku bertanya, “mengapa ketika usai membekuk buruan, kita harus membungkusnya rapat-rapat, sebelum mempersilakan para tetua hadir dalam perjamuan?”

Ibumu tersenyum. “Itulah moral kita,” ujar ibumu. Ayahmu kemudian mendekat, menyentuh bahu kita. “Tuhan tak menakdirkan kita mendapatkan buruan seraya berlari. Kita harus mendapatkannya diam-diam. Kesabaran adalah inti dari semua proses yang harus kita lalui.” Ayahmu mengusap pelipisnya. “Ingat! Buruan kita tak bodoh. Kita hanya perlu tahu kapan mereka lengah dan ceroboh.”

**

ITU percakapan terakhir kita dengan ayahmu. Ia pamit ke suatu tempat tiga hari kemudian seraya berjanji pada ibumu akan pulang sebelum hari sore. Tapi, ketika sore datang, ayahmu belum pulang dan ibumu cemas saat beranjak mencarinya.

Peristiwa hari itu sukar enyah dari ingatan ibumu. Peristiwa yang sebenarnya tak mau ia lupakan. Hari yang ia tandai sebagai permulaan semua kekacauan di tempat ini. Hari saat ketertiban terbunuh dan semata-mata peruntungan yang memegang kendali.

“Mana Paman?” Tanyaku pada ibumu.

“Pamanmu baik-baik saja sekarang,” jawab ibumu. Aku tak tahu, ibumu sedang meredam kesedihannya. Soal bagaimana ayahmu menjadi ‘baik-baik saja’, tak jelas aku ketahui. Sikap ibumu membuat kita menumpuk penasaran.

Betapa cemasku pecah saat ibumu mengakhiri kecanggungan itu. Ia menceritakan apa yang ia saksikan. “Laknat menerjang ayahmu di luar perangkap yang terpasang dan umur yang lapuk membuat gerakan ayahmu melamban—” Ibumu menggantung kalimatnya. Ia diam sejenak sebelum menyiramkan seluruh kesedihan dari matanya ke hadapan kita, “—ayahmu terlambat menghindar, sehingga laknat menerjang tubuhnya. Ayahmu terjatuh dan ayahmu bahkan belum berdiri ketika laknat menyambar tubuhnya.” Ibumu berhenti di situ dan menolak melanjutkan ceritanya lagi.

Aku tahu, itulah ketakutan terbesarmu. Ketakutan yang menjelma sejak ayahmu tiada. Teror segera menjadi kerumitan baru saat laknat bertandang ke semua tempat di negeri ini, menyergap siapapun yang lengah. Hanya kita saja yang tetap bertahan saat yang lainnya memilih menyingkir.

Firasatku buruk sekali tentangmu saat kau muncul di depan ibumu dengan mata kemerah-merahan. Mata majemuk yang dipenuhi kecemasan. Betapa kau ingin seperti ayahmu—menjadi pemberani seperti dirinya. Tapi kau ketakutan.

“Bibi—” aku menatap mata ibumu, “—kita berada di rantai makanan paling kritis. Ketertiban harus tegak untuk memastikan hal-hal buruk tidak terjadi pada kita.”

Aku ingat betul kata-kata itu. Itu adalah kata-kata ayahmu yang aku ulangi.

“Para laknat merusak kenyamanan kita. Mereka mengunyah apapun yang bisa mereka temukan dan merampas semua yang ingin mereka miliki.” Perutku mendadak mual saat mengucapkan kata-kata itu.

Ibumu mengangguk tetapi senyumnya seperti gelatin dalam mangkuk. “Pastikan saja, mereka mendapatkan pembalasan yang setimpal!” Ibumu mendesis. Matanya tepat mengarah pada jejak yang ditinggalkan para laknat.

“Aku cemas, Bu.” Kau tiba-tiba mengejutkan ibumu dengan kata-kata itu. Kau pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. “Mereka akan membunuhku seperti yang mereka lakukan pada Ayah.”

“Tentu saja mereka akan mencobanya,” sahut ibumu.

Kau tahu, saat itu, betapa aku ingin sekali meninju perutmu, menitipkan sikuku ke dadamu sehingga membuat mulutmu berbusa-busa menahan sakit. Ayahmu pasti malu jika mendengar kepengecutan yang keluar dari mulutmu itu.

**

MAKA hari ini, laknat itu terjebak di atas sana. Perangkap kita terlalu kuat untuknya. Jaring kita yang lengket telah membekuk tubuhnya, membuatnya seperti mengapung di udara. Tapi ibumu menahan kita. “Belum sekarang,” bisiknya.

Laknat itu sedang berpura-pura, berusaha memancing kita agar mendekat. Tipuan yang dilakukannya pada ayahmu. Laknat itu akan gembira jika bisa membuat kita celaka.

“Apa yang harus kita lakukan, Bi?” Tanyaku.

“Sama seperti yang sedang dilakukannya,” ibumu menatap tajam ke arah sang laknat. “Menunggu—kita menunggu.”

Lalu kita berdiam diri. Tapi matamu seperti obor yang tak bisa padam, kejam dan tajam. Matamu —dan mata laknat di ujung sana— seperti bersitatap dalam hening. Hening yang melelahkan. Menyedihkan, mengetahui bahwa keheningan seperti inilah yang awalnya menjatuhkan ayahmu dalam penaklukkan.

“Serang!” lengkingan tajam suara ibumu mengejutkanku. Tetapi aku lebih terkejut melihatmu menerjang saat laknat itu menarik kepalanya. Kau berlari seperti ayahmu di usia mudanya, petarung pemberani yang cekatan dan penuh perhitungan. Aku tak menyangka bahwa itu adalah kau yang kemarin diremas kecemasan. Tubuhmu bergerak, seraya menggenggam benang-benang perangkap, maju ke tengah medan pertempuranmu.

Lengah karena mengira kami tak mampu berbuat apa-apa, membuat laknat itu menjadi ceroboh. Sang laknat menarik kepalanya, membuat benang-benang perangkap membelit erat lehernya. Ia ceroboh saat berusaha memutuskan benang-benang lengket itu dengan giginya. Rupanya peluang itulah yang ditunggu ibumu.

Tubuhmu tangkas menyusup ke bawah perangkap, melepaskan empat benang utama yang seperti pegas menghantam perut sang laknat. Ia mengaduh, menggeliat seraya menarik kepalanya. Tetapi itu sia-sia. Kau tak sudi membuang sedikit pun kesempatan yang tak sempat dimiliki ayahmu. Cepat sekali kau sudah berada di belakangnya dan dengan cekatan berusaha membekuk tubuh sang laknat.

Ibumu mengawasi dari tempatnya berdiri dan menunggu seperti apa akhir pertarunganmu. Laknat itu meronta. Tetapi, seutas benang utama yang menahan perangkapmu di ranting Acacia tiba-tiba putus. Saat itulah ibumu dan aku bergerak membantu. Aku harus menahan benang itu saat ibumu berputar mencapai posisimu. Ibumu menarik benang dari kelenjarnya sendiri untuk membekuk kaki-kaki sang laknat.

Tak kau sangka mulut laknat itu berhasil menyambar satu kakimu. Tetapi hanya dengan tujuh kaki tersisa, kau berusaha melumpuhkannya sebelum pertarungan kau tuntaskan. Jika saja ayahmu hadir saat ini, betapa bangganya ia. Laba-laba muda yang ia cintai, telah bertarung atas namanya.

Ibumu membiarkanmu membungkus tubuh laknat itu. Kau bekuk kepala, empat kakinya, sekaligus ekornya. Kita apungkan tubuhnya tinggi-tinggi, untuk memastikan bahwa kita akan selalu bisa mengawasinya.

“Ibu!” Kau berseru penuh kemenangan ke arah ibumu, “mari persiapkan perjamuan untuk mengenang ayah. Apa yang telah ia ajarkan telah melindungi kita dari kadal itu.”

“Kau melakukannya dengan baik,” ibumu tersenyum, “inilah pertarunganmu kelak.”

Tujuh kakimu menekuk rendah dalam hormat. (*)

Molenvliet, November 2015

kepada Abraham Samad.

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Comments are disabled.

%d blogger menyukai ini: