Category Archives: Berita-Berita

Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (2)

Oleh Iwan Piliang

 

Nazaruddin terindikasi berbohong untuk kebohongan dan kini kekeh ingin membongkar kebohongan.

SETELAH penayangan wawancara via Skype dengan Nazaruddin, aplikasi online berbicara tatap muka, ditayangkan oleh Metro TV pada 22 Juli 2011malam, telepon genggam saya seakan tiada henti bergetar. Miss call banyak. Ada telepon masuk dari sahabat lama, hingga pesan misterius tak beridentitas.

Maka tidak berlebihan bila Sabtu 23 Juli itu hari terasa panjang. Perasaan was-was menghadang. Ada ancaman baik-baik. Masuk pula telepon berkata-kata kasar. Di rembang petang menjelang, di saat saya masih berada di atas taksi di bilangan Cik Ditiro, Jakarta Pusat, seorang menelepon dari hand phone yang tiga nomor akhirnya 626.

“Halo apa kabar?”

Suara terkesan muda bernada gaul.

Maaf nih, HP gue hilang, data banyak lenyap, siapa ni? Saya menjawab.

Ahh masa lupa…saya Djoko, itu lho yang kontak waktu masalah David?”

Mendadak sontak saya berujar, nuwun sewu, waah orang besar menelepon, terima kasih, maaf banget ya Pak.

“He he tak apa …”

Saya mempersingkat obrolan dengan menyampaikan bahwa saya meminta waktu akan menghadap ke kantor Menko Polhukam.

Benar. Sosok itu adalah: Djoko Suyanto, Menteri Kordinator Politik dan Keamanan (Menko Polhukam), yang mengkordinasi 10 kementrian, termasuk Polri, dan lima badan seperti Badan Intelijen Negara (BIN).

Pada saat kasus David Haryanto, mahasiswa Indonesia yang “dibunuh” di Singapura di saat persidangan coroner terakhirnya, Wapres Boediono, bersamaan waktunya meresmikan kerjasama program S2 Rajaratnam-Nanyang Technological University (NTU) dengan Indonesia, di Singapura.

NTU adalah kampus di mana David “dibunuh”. Sehingga peresmian kerjasama dengan sekolah itu di akhir persidangan coroner kasus David, saya rasakan sebagai “penghinaan” kepada keluarga David, kepada anak dan bangsa Indonesia umumnya.

Maka sehari sebelum hal itu terjadi, saya berbicara keras di TVONE. Saya sampaikan ke pemirsa, bahwa saya bertemu dan berbicara dengan seorang warga Singapura. Saya Tanya opininya menyimak kasus seperti David. Dia bilang kalau warga Singapura satu saja kalimatnya, “Are you patriot or not?” Apalagi di tingkat penyidik, sebagai polisi. Pastilah yang diutamakannya kepatriotannya sebagai bangsa Singapura.

Pertanyaan yang sama seakan saya tujkukan di TVONE kepada Boediono, “Are you patriot or not?”

Jawabannya?

Di saat saya hendak menutup pintu rumah menuju bandara, sosok Djoko Suyanto menelepon. Ia bertanya apa sebaiknya dilakukan terhadap David? Saya katakan kerjasama antar negara karena memang sudah direncanakan lama silakan saja. Namun paling tidak negara harus menunjukkan empati.

Saya lempar ide, bagaimana bila keluarga David diterima oleh Bapak Boediono di Singapura. Djoko Suyanto lalu meminta waktu. Sekitar 10 menit ia balik menelepon saya kembali. Djoko mengatakan silakan pukul 14 hari itu juga Boediono berkenan menerima keluarga David di Hotel Shangrilla, Singapura. Pertemuan itu pun terjadilah. Adalah Menko Polhukam di belakang layar mengatur pertemuan itu.

Begitulah seorang Djoko Suyanto, yang saya kenal. Sosok rendah hati. Di luar kasus David itu, saya tak pernah lagi menjalin kontak. Pernah sekali waktu sebelum nomor HP-nya raib dari file saya, pernah mengirim SMS sekadar mengirim salam, tapi tak berbalas. Anda paham, sebagai Menko, pastilah ia sangat sibuk sekali.

Barulah setelah Metro TV menayangkan wawancara Skype saya dengan Nazaruddin, untuk kedua kalinya, Djoko Suyanto menjalin kontak kembali..

Senin, 25 Juli 2011, karena kesibukan sehari-hari, saya belum berkunjung ke kantor Menko Polhukam. Barulah Selasa esoknya setelah tampil di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, dengan meminta diantar oleh mobil TVOne, saya langsung menuju ke kantor di kawasan Merdeka Barat itu.

Tentulah saya tak membuat janji. Saya langung menuju area belakang di mana ada warung kecil di pinggir parkir yang bersebelahan dengan kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan.

Sambil minum teh panas, saya mencoba menghubungi staf Djoko. Hari itu dapat kabar jadwal padat sang Menko. Saya melamun di warung yang masih sepi. Membayangkan apa gerangan yang hendak disampaikan. Saya berusaha berpikir positif.

Setelah lebih tiga puluh menit berlalu, kaki seakan menggerakkan saya untuk melangkah pulang. Namun di luar dugaan, sebelum melewati bangunan rumah bak pendopo di mana Menko berkantor, tampak keluar beberapa ajudan. Tak lama kemudian tampak Djoko Suyanto berjalan, menuju ke arah saya. Ia berpantalon hitam, berbaju batik bercorak coklat tua. Rambutnya diberi jeli, ditegakkan, bagaikan gaya anak muda. Segar.

Tentu dengan mudah saya dapat menyalaminya. Saya menjabat tangannya. Saya tanyakan kapan bisa mengahadap. Kepada stafnya Djoko bertanya apakah nanti sore setelah dengan Presiden ada jeda waktu untuk saya bisa jumpa. Stafnya mengatakan akan dicoba. Saya pun menyampaikan kesiapan kembali. Lalu kami berpisah.

Belum tiga langkah berjalan, Djoko memanggil, ia mengajak saya turut ke lantai 6. “Ada kegiatan media, sekalian saja ikut,” ujarnya.

Maka saya pun berjalan bersamanya menuju lantai 6 di Gedung Dewan Ketahanan Nasional. Rupanya di lantai 6 itu sudah banyak hadirin. Dominan yang hadir para tokoh media, pimpinan PWI, KPI dan lainnya. Di podium saya lihat bertuliskan: Peran Media Massa dalam Pengelolaan Masalah-Masalah Nasional. Rupanya ada seminar terbatas.

Begitu Menko Polhukam datang, acara langsung dibuka. Ia mengutarakan seluruh konten media setidaknya harus menganut tiga hal, yakni informasi, pendidikan, dan hiburan. Walaupun tidak lepas bahwa media ada unsur komoditas, tapi seyogianya roh jurnalisme harus menjadi topangan utama dibandingkan dengan roh bisnis.

Djoko juga mensitir bahwa media sosial yang berkembang saat ini, sebagai sesuatu yang positif. Agak tak “nyaman” saya, ketika di pengantar seminar ia menyebut saya sebagai tokoh media sosial yang hadir di ruangan itu. Kikuk rasanya , sebagai sosok tak diundang, mendadak datang. Apalagi di ruangan itu ada senior di jurnalisme Indonesia seperti Sabam Siagian.

Djoko Suyanto mengingatkan bahwa salah satu tanggung jawab media agar memiliki jiwa nasionalisme. Pola pikir besar media juga harus berpihak kepada negara. ”Pers harus ada keberpihakan terhadap negara,” tuturnya.

Sebelumnya F.H.B. Soelistyo, Deputi VII Menko Polhukam, di pengantarnya mengatakan desain silaturahmi iti ditujukan bukan untuk mempengaruhi peran dan fungsi masing-masing kelembagaan maupun institusi khususnya media massa, namun lebih pada upaya mencari titik temu simbol profesionalitas diantara fungsi dan peran masing-masing kelembagaan.

Pertemuan itu juga dihadiri J. Kristiadi Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Margiono Ketua PWI Pusat. Mereka berdua Pembicara. Moderator Tarman Azam Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Margiono mengutip hasil riset Kompas, bagaimana saat ini lembaga yang dipercaya publik adalah TNI dan Pers. “Itu artinya kalau pers dan TNI bersatu, bikin apapun saat ini dukung rakyat,” ujar Margiono tertawa. Lembaga terendah mendapat kepercayaan rakyat kini adalah DPR, hanya 16%. Dalam hati saya bertanya berapa persen pula kalau dirinci kepercayaan publik terhadap pers mainstream dibanding media alternatif, media sosial?Saya mengikuti hingga acara tuntas di jam makan siang.

Hingga hari ini pertemuan khusus saya dengan Menko Polhukam belum terjadi. Agendanya padat sekali. Saya belum bisa menduga apa gerangan yang akan ia sampaikan berkait dengan kasus Skyping saya dengan Nazaruddin.

Bagi saya jika ditanyakan apa premis berwawancara dengan Nazaruddin?

Jawabnya sederhana, verifikasi. Tidak ada niat menjadi corongnya Nazar. Tanpa saya berwawancara pun jagad jurnalis sudah pasti mencari sosoknya untuk konfirmasi. Bukan media di Indonesia saja. Saya tahu pasti lembaga kantor berita asingpun mencari akses untuk bisa mewawancarainya.

Logikanya, bagaimana kita menilai sesuatu itu benar atau salah jika informasi saja tak ada. Dalam kerangka inilah menjadi penting mewawacarai Nazaruddin, tersangka kongkalingkong di kasus Wisma Atlit. Dari paparan Nazar pula, kita semua paham, bahwa ada indikasi tajam pemakaian uang, anggaran APBN, yang dominan dihimpun dari pajak rakyat, digunakan untuk kepentingan pribadi, di mana melibat beberapa nama mulai Anas Urbaningrum, Machfud Suroso, Andi Muchayat, dan kalangan anggota DPR, sebagaimana sudah banyak diberitakan media massa.

Dari wawancara melalui Skype dengan Nazar pula kita dapat informasi bahwa ada indikasi pertemuan anggota KPK di kediaman Nazar. Ia menyebut nama-nama anggota KPK Ade Raharja dan Chandra Hamzah. Sesesorang menuding saya, karena wawancara Skype saya telah membuat tokoh seperti mereka plus Johan Budi tidak lulus seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Begitukah?

Menanggapi tudingan itu, saya hanya menjawab, bahwa saya sudah lama juga memverifikasi KPK, karenanya saya tidak mendukung salah satu pihak di era gencar-gencarnya dualisme Cicak-Buaya. Namun jika saya diminta beropini, saya tentu juga tak akan mengamini kalimat Marzuki Alie yang bikin kontroversi mengusulkan KPK dibubarkan saja.

Bagi saya institusi KPK penting. Ia menjadi tidak bergigi dan kredibel, karena orang-orang di dalamnya terindikasi melanggar komitmen pemeberantasan korupsi. Jika insannya bermasalah, mengapa institusinya kita lebur? Di lain sisi tak dipungkiri dengan banyak lembaga add-hoc kini, telah membenahi anggaran negara, namun hasil dicapai tak sesuai dengan harapan.

Selasa malam 27 Juli itu sebagaimana telah disimak publik, saya hadir di acara Jakarta Lawyer Club, TVOne, yang dipandu Karni Ilyas, dengan topik “Salahkah Media Menyiarkan Kasus Nazaruddin”, tentu termasuk di dalam topik utama ihwal ber-skype-ria saya dan Nazaruddin. Kuat dugaan saya Anda tentu telah menyimaknya apalagi Minggu, 31 Juli malam program itu telah disiarkan ulang.

Satu catatan saya, bahwa pada Kamis, 28 Juli, 2011, usai bertemu berberapa kawan dari TVOne di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, saya menemui seorang kenalan di Mood Café. Saat itu pengunjung café sedang berkonsentrasi ke televisi, menyimak pertandingan bola Indonesia-Turkmenistan. Pada kesempatan bola masih 2-0 untuk Indonesia seuntaian kalimat itu disampaikan ke saya, “Bisa tidak seluruh data Nazar Anda minta dan ia tak usah pulang ke Indonesia?” Kalimat itu diikuti dengan tawaran ini dan itu.

Saya menjadi teringat akan serial film The Godfather. Bagaimana sebuah deal mafia dilangusngkan. Saya sangat kagum denagn orang-orang yang memainkan peran demikian, di banding dengan sosok yang mengaku “jagoan” mengancam-ancam lewat telepon.

Dulu ketika saya menulis soal sebuah restrukturisasi yang dilakukan BPPN, kini PRT Pengelola Asset, oknum pejabat di sana mengancam saya. Karena beraninya hanya melalui telepon saya berikan alamat lengkap saya dan saya tunggu ia kala itu juga.

Sehingga berbeda sekali langgam dulu dengan yang saya hadapi kini. Rada ngeri-ngeri sedap.

Saya akan menceritakan lagi ihwal ini di Sketsa berikutnya, sembari saat ini berfokus menjalin komunikasi dengan Nazaruddin menuntut janjinya untuk ber-skype lagi. Komunikasi dengannya, bagi akan juga terus berjalan dengan wartawan lain, terus terjalin melalui BackBerry Messenger.

Di balik hari-hari sejak wawancara ditayangkan Skype dengan Nazaruddin di Metro TV, hingga tulisan ini saya buat, keseharian saya tentulah tidak lagi sebagaimana biasanya.

Sekarang setiap saya keluar rumah, saya harus membuat janji dengan tek-tok; maksudnya dengan mengubah tempat pertemuan mendadak. Handphone disadap sudah biasa. Tetapi ancaman aneh-aneh tampaknya memang harus diantisipasi.

Akan halnya “serangan” terhadap tulisan dan momen mendapatkan Skype eksklusif itu, saya cukupkan ke haribaan publik yang menilainya.

Saya hanya sangat percaya satu: kerja jurnalisme itu kerja hati nurani. Muaranya kebenaran. Verifikasi tiada henti dengan kejernihan hati, saya yakini mengantarkan ke kebenaran sejati. (bersambung)

 

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger, blog-presstalk.com

Baca artikel sebelumnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #1

Nazaruddin memegang flashdisk berisi bukti yang diklaimnya, dalam rekaman percakapan Skype dengan jurnalis Iwan Piliang (sumber foto: iwan piliang/istimewa)

Iklan

Sketsa: Behind the Scene Skype Nazaruddin (1)

Oleh Iwan Piliang

Semangat menjalankan elemen jurnalisme. Lain tidak.

Minggu, 24 Juli siang di pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya menyerahkan surat keterangan kematian ayah saya kepada petugas, yang belum sempat kami berikan di saat berpulangnya mendiang, 16 Juli lalu. Makam-makam lain, dijejali peziarah. Rasa Ramadan sudah.

Menatap pusara ayah, tanah masih merah. Saya terpana berdiri. Di makam sama sudah terlebih dahulu ibu mendiami. Seorang bapak menghentikan langkah lalu menyapa.

“Ketemu di mana ya?” katanya sambil menunjuk wajah saya.

“Saya dari Depok, kita pernah ketemu di mana ya?”

Saya perhatikan bapak itu berpikir lama. Kian serius menduga-duga, hingga keningnya mengkerut. Demi menghentikannya berpikir jua saya jawab: ketemu di televisi ya Pak? Bapak itu langsung menarik keras tangan, menjabat sangat erat, lalu berujar “Iya, Iwan Piliang.”

Ketika bangun di pukul  04.30 pagi, isteri saya menepuk badan, “Eh selebriti bangun, jemputan Metro bentar lagi datang.” Pagi itu saya memang akan tampil lagi di Metro pagi .

Di dalam buku The Element of Journalism, disebutkan esensi jurnalisme adalah verfikasi, bermuara ke kebenaran, keberpihakan kepada publik. Jadi kalau ada ledekan selebriti dari orang rumah sendiri, jauhlah yauw dari tujuan jurnalisme.

Dan bila ada tudingan di media online Iwan Piliang sebagai pahlawan atau bayaran? Jauh pula dari dada dan benak saya. Sebagai salah satu sosok yang menemani Biill Kovach, ketika berkunjungan ke Jakarta pada 2003, penulis buku yang sebutkan tadi –kini dianggap simbol hati nurani jurnalisme Amerika Serikat— ajaran professionalnya saya camkan tajam mendalam.

Saya memang menerima bayaran menulis untuk opini yang dimuat koran. Juga menerima bayaran menulis untuk advertorial. Termasuk ketika pemilihan Capres 2009 lalu, saya diminta Edelman PR sebagai blogger menuliskan ketika ikut dalam kampanye Jusuf Kalla, sebanyak dua kali.

Kala itu rate card menulis saya Rp 1.200 per kata. Dan Edelman membayar lebih untuk tulisan Semangkok Soto Dalam Kampanye, di tulisan lebih dari 1.200 kata. Malahan karena saya senang dengan pemikiran Prabowo, beberapa kali saya menulis sebagai Ghost Writer untuknya di blog, tanpa dibayar. Kalau pun ada imbalan, itu terjadi  karena saya mengenalnya setelah saya menjadi pemenang menulis di blog yang diadakan Prabowo, mendapatkan hadiah satu laptop dan modem internet. Itulah pengertian bayaran yang saya maksudkan.

Sedangkan dalam banyak tulisan jurnalistik, tentulah jauh dari bayar-bayar. Memverifikasi kasus David, kasus penggelapan pajak, dan banyak hal lain, secara faktual karena saya bergerak di media alternatif, malah selalu devisit membiayai liputan sendiri. Di dalam ranah kejurnalistikan dari dulu hingga kapan pun saya melarang wartawan menerima amplop.

Karena pemahaman itulah misi utama mewawancarai Nazaruddin jelas berpegang kepada elemen jurnalisme. Misi utama berikutnya adalah semua data yang dia perlihatkan di wawancara sebelumnya, dapat dibuka. Saya menyarankan kepadanya untuk data itu ditempatkan di Rapidshare, sehingga linknya dapat diberikan ke semua media dan publik.

Wawancara ekslusif saya melalui jaringan Skype di internet dengan bendera Presstalk, sebuah nama untuk talkshow sejam di Qtv dulu, juga jaringan indie untuk pembelajaran menulis literair  –pernah disponsori Bank BNI— serta sebuah account Presstalktv di youtube.com, Presstalk di yahoogroups, juga blog-presstalk.com, bukanlah produk instan di lingkup jurnalisme.

Bendera presstalk-lah yang saya ajukan ke Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang keberadaannya hingga kini belum diketahui, untuk memuat wawancara dengannya. Di prestalktv di youtube dalam rekaman jejak merk ini, pernah saya pakai mengisi ruang bagi tampilnya Anas Urbaningrum maju menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, sebelum Kongres pada Mei 2010 lalu.

Saya sampaikan ke Nazaruddin: Ingat dulu Presstalk memuat wawancara untuk Anas di youtube. Kini jika ada yang tak benar, adalah layak Presstalk memverifikasi lagi?

Begitu selalu saya yakinkan Nazaruddin.

Dalam dunia jurnalisme, saya sampaikan juga kepada Nazar, kesemua pihak harus didengar keterangannya. Keterangan di internal Partai Demokrat, dan personal yang disebutkannya sudah banyak beredar, tetapi Nazar tak bisa ditemui?

Tak lama setelah Nazaruddin kabur ke Singapura, melalui BlackBerry Messenger (BBM), acap kali saya menyapanya.

Kapan bisa saya wawancarai?

Saya pernah tawarkan apakah berkenan kalau saya datang ke Singapura dan atau di mana Nazar ada, saya rekam wawancara, lalu saya “buang” ke Presstalk di Youtube?

Dalam satu kesempatan berbalas BBM, Nazar pernah menyetujui. Namun ada sepekan komunikasi terputus dengannya.

Fakta ini terus berulang. Saya tak bosan-bosan menanyakan, kapan bisa wawancara, sambil sesekali bertanya kesehatannya. Kemudian malah duluan dua teve nasional yang mendapatkan wawancara Nazar melalui telepon. Saya terus-terusan meyakinkannya, kalau BBM dan SMS-nya bisa dituding palsu. Bahkan faktanya ia dicap berhalusinasi oleh beberapa orang dari Partai Demokrat.

Sampai Minggu pertama Juli 2011, Nazar mengangetkan saya. Ia menawarkan mewawancarainya pakai Skype saja di internet?

Skype?

Saya agak terperanjat kala itu.

Mengingat setahu saya sebelumnya Nazar tidak terlalu biasa dan tahu dengan teknologi online.

Saya sampaikan pada Nazar untuk menunggu dulu. Sementara itu saya mempelajari landasan hukum, teknologi yang dapat dipertanggung-jawabkan secara digital forensik, jika dibutuhkan pembuktian bahwa wawancara itu bukanlah barang palsu. Termasuk untuk menghindari tudingan lainnya.

Maka demi menjaga keotentikan wawancara itu saya membeli aplikasi untuk merekam di komputer di youtube seharga US $ 39. Setelah itu saya mencari tempat yang memiliki akses internet broadband. Dan barulah saya pede menyampaikan kepada Nazar melalui BBM kepadanya untuk setuju ber-skype-ria.

Dari tanggal 12 Juli kepastian itu sudah saya dapat, lalu belum dipastikan waktunya. Tanggal 14 begitu lagi, pasti, tapi tak jadi lagi. Pada 16 Juli pas di hari ulangtahun saya ke-47, sesuai janji, akan kami lakukan Skype. Dan jika hari itu terjadi, wawancara menjadi kado ulang tahun buat saya, tanpa Nazar paham kalau saya hari itu ulang tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, kado hari itu ternyata ayah saya berpulang di pukul 10 pagi. Dan saya otomatis tak jadi mengontak Nazar.

Singkatnya komunikasi terus saya jalin. Wawancara melalui Skype dapat saya lakukan dengan meminjam tempat di kediaman kawan yang akses internetnya broadband. Waktu diberi tahu mendadak oleh Nazar, di saat saya masih di atas taksi di jalan, di bilangan Jakarta Pusat. Saya meminta waktu lebih sejam agar  bisa online. Barulah pada tanggal 21 Juli pukul 23.12 kami bisa sama-sama melihat wajah di internet.

Saya melihat wajah Nazar segar. Ia tak turun berat badan hingga 18 kg seperti yang pernah disampaikan pengurus Partai Demokrat.

Saya mengajaknya berbicara rileks santai, lebih dari setengah jam. Barulah saya kemudian serius memulai wawancara yang sebagian besar sudah ditayangkan Metro TV.

Ketika Metro TV menayangkan rekaman itu, Jumat, 22 Juli malam, Indra Maulana, pembawa acara, membuka twitternya, mendapatkan kabar di beberapa kota jalanan sepi, dominan publik menyimak program itu. Di internal Metrotv sendiri, siaran breaking news itu telah menunda jam tayang Kick Andy. Tak lazim.

Saya benar-benar tak menduga perhatian demikian tinggi. Dan sekali lagi saya juga tak berpikir menjadi selebriti apalagi pahlawan, mengingat sejatinya verifikasi saya masih belum selesai, karena misi utama mendapatkan kebenaran dan siapa data di flash disk dan video yang ingin disampaikan Nazar, memang merujuk ke kebenaran sejati yang hingga hari ini masih saya tunggu.

Satu hal catatan pendek saya, yang akan saya urai di Sketsa berikutnya, terjadi keanehan menimpa kolega saya Oka, menetap di Bali, yang hari itu baru pulang menerima hadih sebagai pemenang animasi yang diadakan oleh MNC Group, di Bandung. Oka saya ajak ke Metro TV. Ketika saya dalam siaran live, HP dan BB saya mati. Anehnya ke HP Oka masuk telepon seseorang.

Suara menyapa Oka bilang begini, “Lagi bersama Iwan Piliang ya?”

Oka gemetar.

Ia lapor ke keamanan Metro TV.

Setelah handphone saya nyala, ancaman lisan dan sms mulai masuk.

Ada juga telepon baik-baik dari Denny Kailimang, Divisi Hukum Partai Demokrat yang memang saya kenal. Ia bilang, “Hai fren, yu bilang apa di Metro TV?”

Saya jawab apa Abang menonton semua?

“Tidak nonton semua, kawan-kawan bilang, you ngomong apa?”

Saya katakan saya menjalankan misi jurnalistik. Abang simak saja utuh.

“Iya hati-hatilah, ini kan ranah hukum,“ katanya ramah.

Masuknya telepon asing ke Oka, sudah membuat saya tak langsung pulang ke rumah malam itu. Kami pun ke luar dari Metro teve melalui jalan berliku, menuju parkir dan diantar oleh mobil tanpa merk Metro TV. Tentulah masih panjang kisah ini. (bersambung)

Iwan Piliang, literary citizen reporter, blogger.

Baca artikel selanjutnya, Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin #2

 

Dapat dibaca juga di:

Kompasiana : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)

The Indonesian Freedom Writers : Sketsa: Behind The Scene Skype Nazaruddin (1)


Police Underaresting Seven Malaysian Citizen

–Terorism Suspect Identification

Reporting by Ilham Q. Moehiddin

Kendari, Indonesia.

After  failing to tackdown Noordin M Top, the most wanted terorism in Indonesia, The Republic of Indonesian Police Headquarter, get a high warning again. However, even Dr. Ashary and Noordin it is a Malaysian citizen right now, make out the police to get over more survailance for any Malaysian citizen activity in Indonesia region.

Konawe Resort Police Officer, in Sulawesi Tenggara provence, Indonesia, on Friday, 14th, to take aresting seven Malaysia Citizen, after they’re to make out of permision activity in they’re visa & passport card. Peoples give information about this seven person to the police station. The people get suspected they’re activity on the mosque in Tetemotaha village, Wonggeduku district.

The seven Malaysian Citizen, named are; Hujin bin Haji Ismail, Yusuf bin Abdulrahman, Muh Fauzi bin Arsad, Tengku Ahmad Kamal Al Riffin, Zul Khairi Amin bin Zakaria, Mohd Phaudzi bin Samsuddin, and Hanafi bin Wahhid. They’re age be on 40th and 70th year old.

With turban and white Ghamish, this seven Malaysian citizen make placed on police officer city hall with high guarding by police. For identification, police taking out they’re equipment; seven big carrier, sleeping bag, books, and cooking gears. However, police give them permition to do the religion activity like a prayers (zikir) and reading the Al Quran.

To the police officers, Mohd Phaudzi bin Samsuddin, the chief of this group, says about their activity in Indonesia just for presenting the World Tabliq Jamaah Conference, on Bogor, July 17th.

Bay the way, Mohd Phaudzi said, their comes in Indonesia one day after the conference is ofer, July 18th. To change the schedulle in their visas, their go to Sulawesi Tenggara. In Kendari, their go to do gospel (dakwah) in Haluoleo University.

To the Head of Konawe Police Officer, AKBP Yuyun Yudhantara SIK Msi, the seven Malaysian citizen to get explanation about their mision in Konawe juridiction, their just come to gospel, nothing at all. “We come just to dakwah. Nothing at all. We not have conection with the networking terorism likes the police expectation with us,” said Mohd Phaudzi.

Even about the explanation, Konawe Police Headquarter still carefully and beware to take handle with this seven Malaysian citizen. In the examination on police, Mohd Phaudzi say get good service and good handling with all police officer. Their get good acomodation, and more important, Mohd Phaudzi say, their can still do practicing their believed.

After a week, the police still a tempting the seven Malaysian under high monitoring, until the police get more information and extending identification from the Republik of Indonesia Police Headquarters and Malaysian emmbassy in Jakarta, or consulat general in Makassar, Sulawesi Selatan.

Was Visit to Philipine

AKBP Yuyun Yudhantara, Head of Konawe Police District give explanation about seven Malaysia citizen underaresting in him juridiction. “We take over the reporting of the peoples. And that’s true. We finding out the seven Malaysian citizen, and their do another activity just more out from their permision on the passport,” AKBP Yuyun Yudhantara explain.

Because broken the visas permit, and trespassing of the Indonesia Imigration Law Number 9/1992, article 50 The Indonesian Right, the seven Malaysian citizen can be sure get maximum 5 years prison detention and must be paying 25 milion rupiah.

The Konawe Police Officer still be more investigation about what the seven Malaysia citizen the true activity in Sulawesi Tenggara, Indonesia. This case is being report to the 88 Police Special Force and Anti-Terorism, and Departement of Foreigh Minister.

“We reporting spacially about one of them named Yusuf bin Abdulrahman. This is a temporary interview result and investigation with the passport. Yusuf  bin Abdulrahman was have records to visit in Philipine. So, we take over the investigation about this men, to 88 Police Special Force and Anti-Terorsm,” said Yuyun, get ending the him explanation. ***


Kejaksaan Periksa Massal Anggota DPRD Kota Kendari

-Buntut Penyimpangan Anggaran Sekretariat DPRD

Kendari, (24/07/2009)

Tanpa terendus sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari rupanya tengah mengusut dugaan penyimpangan anggaran di sekretariat DPRD Kota Kendari. Jumlahnya tidak main-main. Kejari Kendari menyebut angka puluhan milyar rupiah. Kebocoran itu sendiri terjadi dari tahun anggaran 2005 sampai 2009.

Menurut Kejari Kendari, Dedy Siswandi SH., Msi., tindak perugian uang negara yang dilakukan sekretariat DPRD Kota Kendari itu telah mereka selidiki sejak tahun 2004. Lamanya upaya kejaksaan menelisik penyalahgunaan uang negara itu, menurut Dedy Siswandi, dikarenakan validitas data yang dibutuhkan pihaknya. Kejari khususnya memantau, tambah Dedy, alur kas yang menyangkut biaya telepon, listrik dan sewa rumah para anggota dewan yang telah dianggarkan selama periode 2005-2009. Upaya pengungkapan itu berujung temuan Kejari Kendari perihal kekosongan kas sekretariat pada tahun anggaran 2008 yang mencapai dua miliar rupiah lebih.

“Sejumlah item yang sedang kami periksa tidak akan lama lagi ditingkatkan statusnya ke penyidikan. Seingat saya, ada anggaran untuk telepon, listrik dan sewa rumah yang dibebankan dalam APBD khusus untuk unsur pimpinan dewan. Padahal mereka telah menerima tunjangan perumahan dari APBD. Kami menduga telah terjadi penerimaan ganda yang berakibat pada kerugian uang negara. Benarkah mereka menerima atau hanya akal-akalan sekretariat dewan, inilah yang terus kami kejar,” kata Kajari Kendari, Dedy Siswandi.

Tetapi ada pula yang melibatkan mayoritas anggota dewan kota Kendari, yakni mencangkut kekosongan kas dewan senilai Rp2 miliar. Tepatnya, adanya praktek pinjam-meminjam uang negara yang bersumber dari dana sekretariat DPRD Kota Kendari yang terang-terangan melanggar ketentuan.

Dugaan itu telah diperkuat dengan diperiksanya empat saksi kunci, yakni mantan sekretaris dewan (sekwan), Drs. Kidewan; dan mantan bendahara dewan, Nur Maia; Abdul Madjid, sekwan saat ini; serta bendahara dewan saat ini, Jusrin. “Ikut juga akan kami panggil Kepala Bawasda Kota Kendari, Nahwa Umar, yang kami harapkan keterangannya akan mempermulus penyelidikan kasus yang sudah lima tahun kami usut ini,” jelas mantan Kajari Cianjur ini. ***


%d blogger menyukai ini: