[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover Jawa Pos 2015d

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.


[Cerpen] Tuhan-tuhan yang Dekil | Jawa Pos | Minggu, 18 Oktober 2015

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Tuhan-tuhan yang Dekil

Perjumpaan Pertama.

Tak ada yang sebahagia Groot. Dalam 122 menit ia hanya mengucapkan I’m Groot dan we’re Groot. Ia kemudian melepaskan kunang-kunang dari tubuhnya dan reinkarnasinya menari kecil di sisi Drax yang sedang membersihkan belati besar.

Aku teringat kepada Groot saat aku sampai di seruas jalan di tengah kota Wina. Tubuhnya yang setinggi tiga meter itu tak kulihat sebagai bayangan pada dinding beton di kiri-kanan ruas jalan ini. Groot hanyalah bentuk keinginanku saja saat aku dicekam kecemasan di bawah tiang lampu yang menerangi sepotong jalan sempit di tengah kota ini. Besinya menyebarkan aroma karat yang terpapar air hujan. Kesuraman tampak membekas pada bayangan relung pintu rumah berbentuk lengkung zig-zag. Dua orang tampak berjalan di bawah payung. Bayangan mereka rebah ke belakang saat tubuh mereka terpapar cahaya bulan yang sedikit tinggi dari puncak-puncak bangunan.

Seekor kucing hitam melompat keluar dari dalam tong sampah membuat dua orang itu terkejut. Seorang di antaranya langsung merapat, mendekut ke dada seorang lainnya. Entah bagaimana mereka berdua ada di tengah hujan, di malam yang dingin dan sepi, di sebuah jalan di mana awal mula kabar kematian berkeliaran ke seluruh kota sejak dua pekan ini. Entah bagaimana pula aku harus mendapati mereka di sini, atau mungkin kami bertiga sejenis orang-orang yang menyukai bahaya.

Garis-garis cerobong yang hitam tampak menyeramkan. Jejaring laba-laba yang putus karena diberati jelaga melambai-lambai diterpa angin lembut. Air selokan tumpah dan mengaliri bebatuan padas yang menyusun jalan. Koran-koran sudah biasa menuliskan deskripsi seperti ini untuk meneror setiap pembacanya. Tidak ada imbauan singkat untuk tak keluar malam mulai pukul 06.00. Inilah yang membuat Terto kesal. Marry, sekretarisnya, bahkan bisa merasakan cekam kengerian karena teragitasi tulisan para reporter.

“Hujan sialan! Entah bagaimana cara mereka menyukainya, sedang ini sungguh menyusahkan.” Gerutuku. Ini sebenarnya kekesalan yang kusimpan buat Terto. Dialah yang bertanggung jawab sehingga aku ada di ruas jalan ini, di malam berhujan dan berangin ini.

Permintaan sang Pembunuh jelas tertulis. Aku, ia minta datang ke lokasi ia menghabisi korban pertamanya—sendirian. Kau harus datang sendiri—tulisnya pada baris ke tiga. Aku akan langsung menikammu jika kudapati sepotong pun bayangan manusia mengikutimu—itu ancamannya di baris ke empat. Aku bergidik. Suratnya ada di kantong ponco yang kukenakan saat ini. Namaku jelas tertulis sebagai penerima dan aku harus menyerahkannya kembali sebagai bukti aku menerima pesannya dengan baik.

Aku berjalan perlahan menjauhi tiang lampu dan harus selalu berada di sisi yang diterangi cahaya lampu atau bulan. Itu memang ia intruksikan —aku ingat persis ada di baris ke tujuh. Sepasang manusia berpayung sudah tak kelihatan lagi. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Aku harus berharap seperti itu. Aku menyayangkan keberadaan mereka di ruas jalan ini, di saat seorang pembunuh sedang mendekam entah di mana menunggu kedatanganku. Oh, Tuhan —semoga mereka baik-baik saja.

Aku berbelok, ke suatu sudut di mana ada relung dangkal bagian dari pintu sebuah BARBERSHOP yang huruf “R” pada plang tokonya sudah mengelupas. Lampunya padam dari dalam, sehingga satu-satunya cahaya yang menimpa tubuhku bersumber dari lampu tembok di toko kelontong seberang jalan. Kuusap percikan air hujan dari wajahku. Ini sudah terlalu lama. Seharusnya si Pembunuh sudah menghampiri. Tak ada yang bisa melihat perjumpaan kami selain Tuhan yang Maha Melihat segalanya dan tak pernah tidur itu. Aku benar-benar dikepung kegelisahan.

“Aku bisa langsung menikammu saat ini—” kalimat pendek itu didesiskan dalam jarak kurang dari satu meter dari bagian gelap tembok di sebelah kiriku. “—demi menggantikan nasib malang seseorang yang akan kubunuh besok malam.”

Terus terang, kandung kemihku bergejolak. Dengan kalimat hebat itu dan (jika disertai) kemunculannya bisa seketika membuatku kencing di celana. Namun baru kata-katanya saja yang sampai ke telingaku. “Kenapa tidak kau lakukan?”

“Nasibmu tidak semalang nasibnya dan aku membutuhkanmu untuk mengungkap siapa diriku sebenarnya.”

“Kenapa harus malam ini? Hujan ini, kau tahu, begitu menjengkelkan—”

“—dan menyiksa perasaan delapan orang di atas butik di seberang ruas jalan ini. Kau tidak datang sendirian!” Ia menyambung kalimatku sekaligus menegaskan ketidaksukaannya.

“Apa itu artinya kau akan menikamku sekarang juga?”

Si Pembunuh tak langsung menjawabku. Satu menit lebih pertanyaanku ia gantung, sampai kemudian— “Kau beruntung mereka hanya mengawasimu dari kejauhan. Mereka cukup pintar dengan tak mengikutimu.”

Betapa lega aku mendengarnya. Perasaan tenang menjalar ke tulang belakangku. Tetapi menunggu semua hal yang ingin ia sampaikan padaku tentang dirinya —sambil berdiri seperti ini— sungguh lebih menjengkelkan dibanding hujan, suhu dingin, dan sepinya ruas jalan ini.

 

Wawancara.

Ia bukan seorang yang bahagia. Tapi ia sangat menyukai kuda. Ia juga menyukai mawar dan tempat-tempat yang asing. Seringkali ia mengenakan topi mawar saat memacu kudanya ke tempat-tempat asing itu, seperti Urdun dan Ratcha.

—Itu penjelasan awal yang ia ingin aku dengarkan darinya.

Ia menghabiskan masa muda di hutan belantara di kaki gunung. Ia tak pernah ingin naik lebih jauh dari batas sungai kecil yang mengaliri lembah tak jauh dari belakang rumahnya. Betapa ia kemudian menangguk banyak pujian atas kehadirannya di lembah itu. “Bisakah kau bayangkan nikmatnya, saat mereka memujiku seolah aku usai mengelilingi tujuh gunung dan tujuh lembah,” desisnya.

Saat kekacauan melanda kotanya, ia tahu ke mana harus berkuda. Ia pacu hewan itu menuju Urdun, singgah sebentar ke Ratcha menyampirkan cintanya. Mawar berkerumun di kepalanya. Ia diam di tempat-tempat asing itu, sampai ia yakin kekacauan di kotanya telah usai, dan orang-orang baru selesai menegakkan harapan.

Tapi, dari tempat-tempat asing itu, si Penyuka Mawar ini melepaskan keluhan, “betapa Tuhan-tuhan dekil itu telah memakan separuh isi kepalaku.”

—Itu kata-katanya selepas ia kutanyai mengapa ia lupa pada dirinya sendiri dan mengapa ia merasa penting agar aku mengetahui latar-belakang dirinya.

Ia lupa pada suara burung-burung, lupa pada warna-warna, juga lupa pada wajah-wajah. Betapa hatinya telah ia bentengi dengan tembok bata yang kokoh. Tembok dari bata yang ia susun satu demi satu. Tembok yang melindungi taman-taman mawar kesukaannya. Tembok yang menjaga kuda-kuda kesayangannya tetap berada dalam ranca yang aman, membelenggu sakit pada rasa setia yang tak pernah ia rasakan.

Sebagai anak manusia, sesungguhnya ia sedang mengobati kekalahannya. Mengobati rasa sakit dari karma yang ia terima: harus merasakan kesepian yang larut. Ia meninggalkan kota menuju tempat-tempat yang asing, dan teror sepi itu masih membelenggu sampai semuanya cukup.

“Siapa mereka?”

“Siapa yang kau tanyakan?”

“Mereka yang kau sebut Tuhan-tuhan yang dekil itu?”

Ia diam lagi —tapi tak lama seperti sebelumnya. “Merekalah alasanku memulai semuanya, di sini. Alasan kita bicara malam ini.”

“Kekacauan apa yang mereka timbulkan?”

Pertanyaan ini membuat pembicaraan menjadi pincang. Dari bagian gelap di sisi kiri tembok toko, aku hanya bisa mendengarnya menggeram, kemudian terdengar seperti isakan —yang samar. Suasana suram ini berlangsung kurang dari tiga menit.

Lumen kuning lampu jalan membuat rintik air yang curah dari langit begitu kentara, seperti panah-panah kecil yang datang menghunjam bebatuan padas penyusun ruas jalan ini. Wina masih lelap. Belulang kota ini lesu di sepertiga malam. Aku kedinginan di kepung hujan yang menyebalkan.

“Maria perempuan paling beruntung di muka bumi. Perempuan yang dihinakan setelah kemulian turun padanya. Ia tidak pernah disapa kesuraman dan deritanya berhenti saat orang suci keluar dari rahimnya. Tidak ada lagi perempuan yang seberuntung dirinya.”

—Kami kembali ke topik yang ingin ia bicarakan. “Itukah sebabnya kau menyusun pembalasan di Ratcha?”

“Harus kulakukan. Kotaku telah mereka segel?”

“Disegel?”

“Agar siapapun tak bisa mendengar tangisan dari dalamnya.”

“Tangisan siapa?”

“Jiwa-jiwa yang telah mereka renggut dengan sangkur kebengisan.”

“Kau rencanakan ini sendirian?”

Tidak ada suara yang kutangkap dari sudut gelap di sisi kiri tembok toko.

“Baiklah— Kapan semua ini selesai?”

Desisan tajam itu harus kudengar lagi. “Sekadar dikebiri tak akan menyelesaikan persoalan. Dikebiri, hanya akan membuat kelamin mereka berdarah paling lama tujuh menit. Sampai jantung semua korbanku berhenti berdenyut, aku belum menang.”

Mengerikan! Percuma memintanya berhenti. Pembicaraan ini sudah menggambarkan keseriusan tindakannya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”

Tak ada jawaban. Mungkin ia senang mendiamkanku selama satu, dua, tiga menit. Tapi kali ini sunyi yang aneh itu sudah terlalu lama. “Kau masih bersamaku?”

Keinginanku mendengar desisannya berakhir begitu saja. Bagian gelap di sisi kiri tembok toko ini kembali menjadi bagian gelap tanpa siapapun. Aku bergeser, mengeluarkan kepalaku dari lindungan relung pintu toko, mencari tanda keberadaannya di bagian gelap itu.

Ia sudah pergi —aku benar-benar sendirian. Ia pergi begitu saja. Aku rapatkan ponco dan kembali masuk ke dalam hujan. Kususuri jalan berbatu padas menuju batas yang lebih luas di luar sana, meninggalkan seruas jalan itu dalam kesepiannya. Oh, terima kasih, Tuhan —dua orang berpayung itu ternyata baik-baik saja.

Auf Wiedersehen, Fraulein,” bisikku.

 

Perjumpaan Kedua dan Bukan yang Terakhir.

Apa yang si Pembunuh inginkan dariku mungkin akan membuatnya senang sekarang. Ia tentu tahu bahwa aku bisa meraba jejaknya. Kekacauan telah menyegel Huber sehingga orang-orang harus menuju Urdun —dan Ratcha yang ia datangi adalah satu-satunya kota paling asing, sekaligus aman, bagi seorang gadis yang namanya terekam dalam catatan sipil di Balai Kota. Ia lari ke tempat terjauh dalam perasaannya. Ia mencapai Ratcha setelah insiden pemerkosaan massal di kota yang disegel agar kabar sekecil apapun tak keluar.

Sejak malam itu, lokasi pembunuhan pindah ke beberapa tempat. Seruas jalan kecil di tengah kota Wina, di dekat barbershop yang berhenti beroperasi, tempat kami bertemu itu adalah lokasi terakhir sebelum ia beranjak ke lokasi selanjutnya. Ada delapan pembunuhan lagi yang mencukupkan empat pembunuhan sebelumnya. Duabelas pembunuhan tak terpecahkan yang membuat pusing Inspektur Kepala Polisi, Humbertus Terto.

Koran-koran tetap menuliskan sensasi berlebihan atas 12 kejadian itu. Atas semua peristiwa itu, koran-koran seperti terjangkit panache—naluri kebintangan. Para reporternya masih kerap menuliskan agitasi yang membuat warga kota seperti Marry dicekam ketakutan. Itu karena koran dan para reporternya tak tahu apa-apa. Tetapi itu lumayan efektif mencegah orang-orang keluar malam jika tak ada urusan yang mendadak dan sangat penting.

Terto menimpakan semua kekesalannya padaku. Tentu saja. Aku tak jujur padanya untuk beberapa hal. Sepertinya aku cenderung berpihak pada kerumitan nasib si Pembunuh —cenderung bersikap seperti Groot. Tak peduli pada 12 pembunuhan yang ia lakukan dan membiarkannya menyelesaikan urusan dengan para pemerkosanya.

Di suatu sore, kami berjumpa lagi dalam suasana yang lebih terbuka. Gadis itu berkuda menjauhi matahari. Di kepalanya ada topi bermawar.

Di sakunya, banyak nama-nama. (*)

 

Molenvliet, Juni 2015.

 


Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 


[Cerpen] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills | Jawa Pos | Minggu, 2 Agustus 2015

Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[CERPEN] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills - Ilham Q Moehiddin_Ilust2

#1

DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi —dengan kesuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.

“Kau suka buku?” Lavinsky duduk tepat di depannya.

“Tidak!” Ketus jawaban gadis itu —namanya Lalena.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja!”

“Tentu kau punya alasan.”

Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. “Baiklah,” selanya tenang, “bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?”

“Aku juga tak suka bunga!”

“Aneh—” Lavinsky berkemam, “—biasanya perempuan suka pada bunga.”

“Aku bukan perempuan seperti itu!” Lalena menyahutinya.

Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh lengan Lalena. “Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?”

Lavinsky menggeleng cepat. “Tidak. Ceritalah jika kau suka saja.”

Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. “Aku menyukai belati dan gunting kuku.” Suara gadis itu datar sekali.

Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?

Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.

 

#2

LAVINSKY bertemu Lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.

Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.

Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak pernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali —untuk standar Lavinsky— Lalena adalah gadis paling beruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimana Lavinsky berhasil menahan diri dari sikap isengnya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong di depan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.

“Aku penasaran perihal gunting kuku itu,” gumam Lavinsky.

“Itu tentang seorang lelaki—” Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.

“Seorang lelaki?”

“—Lelaki itu mati karena gunting kuku.”

Lavinsky tertegun. Lalena mengawali ceritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film Sleepaway Camp. “Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki —mati?”

Lalena berpaling ke jendela. “Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat,” nafas Lalena memburu. “Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas.”

Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.

Mata gadis itu berkaca-kaca. “Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali,” ujarnya kemudian. “Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya.”

Well —Itu perkenalan yang cukup lancar.”

Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.

“Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor dubuk yang gelisah.”

Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan berangin seperti membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. “Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam itu mengurung ibuku di toilet sebelum menuntaskan urusannya kurang dari satu menit.”

“Heh —” Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengar satir.

“Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada seumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin.”

Jengah. Lavinsky jengah mendengarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.

Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah itu cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?

“Tentang belati itu?” Lavinsky menyodorkan lagi se-sloki Vodka pada Lalena.

“Aku tak suka langsung ke topik itu!” Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.

Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis ini.

 

#3

MENGENAI Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bisa mengubah hidupnya. Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan —sekaligus.

Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya sendiri —dalam kisah Borges.

“Baiklah.” Lavinsky bersabar. “Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu.”

Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.

“Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda.”

Lavinsky mengusap tengkuknya. “Sebentar Lalena—” tahannya, “—apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?”

“Belum,” desis Lalena. “Ini masih tentang diabetes!”

Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.

“Lelaki itu kembali membuntuti seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menutupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan menggoreskan gunting kuku ke selangkangnya sebelum jatuh usai menabrak wastafel.”

“Lelaki itu sukar ditemukan setelah kejadian itu, kan?”

Lalena tak menggubris Lavinsky. “Ibuku tak perlu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya.”

“Ibumu memaafkannya?”

“Seharusnya tidak—” Lalena mengatupkan matanya, “—wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti dubuk kebiri yang akan mengikutimu ke mana pun. ‘Dubuk’ yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku.”

Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah.

“Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?” Lalena menyeringai. “Bukan —bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung.”

“Ibumu memaafkannya?” Ulang Lavinsky.

“Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah.”

Lavinsky bergidik. “Bukankah menyangkali lelaki itu, berarti menyangkali dirimu?”

“Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri.”

Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosong dari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.

“Bagaimana lelaki itu setelahnya?” Lavinsky memecahkan kebisuan.

“Mati!” Tak ada ekspresi di wajah Lalena. “Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati.”

Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.

“Apakah kau masih ingin mendengarkan kisah belati itu?”

Lavinsky menggeleng. “Cukup tentang gunting kuku dan diabetes saja.”

Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut menari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.

 

#4

MATA Lalena menjelajahi sepotong Praha di bawah sana. Jembatan Karluvmost dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara Zizkov dan Jam Astronomi di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.

“Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Lalena tiba-tiba bicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.

“Hah?” Lavinsky gelagapan.

“Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan.”

Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.

Pelipis Lalena mengeras. “Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku.”

Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir The Prague Cemetery. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.

Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. Tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati —itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun.

Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)

 

Molenvliet, Maret 2015


[Cerpen] Kunang-kunang Laut | Koran Tempo | Minggu, 5 Juli 2015

Kunang-kunang Laut

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Koran Tempo Minggu 05 Juli 2015c

 

URASHIMA Yoshi mendapat jawaban atas kecemasannya. “Orang-orang sudah meninggalkan tradisi tua yang tak kau lepaskan. Zaman Edo sudah berakhir dan kebiasaanmu itu membuat mereka cemas,” tukas Jiraiya, lelaki tua penjaga kuil Hachiman.

Jiraiya meminta Yoshi membakar batang hio sebelum mereka larut dalam doa.

Bagi Yoshi, tak terlintas di benaknya untuk melepaskan kebiasaan klan Urashima yang teguh menentang modernisasi sejak era Meiji. Jika pun kecemasan orang-orang Sugashima dapat ia perhitungkan sejak awal, belum tentu ia menuruti kehendak mereka. Harumi, adalah satu-satunya kerumitan yang ingin ia hindari.

Pertama kali Yoshi melihat gadis itu, saat para Ama —perempuan penyelam tradisional— berkumpul di atas bukit Mohimjo sebelum melakukan penyelaman di awal musim. Para Ama menuruni bukit dari sisi barat, menggendong keranjang kayu isooke berisi peralatan selam seraya berbincang dan tertawa. Di bawah bukit, mereka berkumpul dalam kelompok kecil tiga orang, menunggu para lelaki menurunkan perahu ke air. Saat itulah Yoshi bersitatap dengan Harumi. Yoshi buru-buru membuang pandangannya dan pura-pura mengetam bibir perahunya. Merasa telah membuat Yoshi malu, Harumi membungkuk dalam-dalam dari kejauhan untuk menyatakan maafnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Yoshi berbalik menghadapi Jiraiya, setelah berdoa cukup lama. “Tidakkah pendapat mereka akan berubah?”

Jiraiya menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dua tangan. Yoshi meneguk teh pahit itu.

“Lihatlah bagaimana aku berakhir di sini. Mereka menghendakimu menjadi seperti yang mereka inginkan.” Penjaga kuil Hachiman itu pelan mengibaskan kepalanya. “Kayu selalu dapat dibentuk, Urashima San.”

Yoshi memahami Jiraiya. Ia harus menempatkan dirinya seperti batang-batang perdu kacang Miju yang menjalar di atas pasir. Ia harus berusaha keras membuktikan apapun kepada kepala keluarga Hatake. Demi Harumi.

 

YOSHI mengetam bibir perahunya. Bukit Mohimjo berwarna kelabu di kejauhan, menjorok ke laut tertopang kokoh. Beberapa camar kamome mengapung di udara. Sesekali menukik, menyambar ketam kecil hamaguri yang berusaha menyamarkan diri dalam cerukan karang. Matahari serong, mendorong bayangan Mohimjo rebah ke pasir pantai Teluk Ise di pesisir Sugashima.

Tak jauh dari pantai, tegak rumah kecil Yoshi yang dipenuhi perabotan kayu buatan tangan. Yoshi mendirikan rumah di puncak bayangan Mohimjo, di bagian landai sebelah utara, 500 meter dari desa nelayan Sugashima. Impian yang kini tersisa di kepala Yoshi adalah melihat rumah itu dipenuhi lima orang anak. Itulah janjinya pada ibunya, sebelum Mida wafat tujuh tahun silam.

Mida adalah seorang Ama juga di Sugashima. Dinikahi Urashima Daiyo yang wafat saat Yoshi berusia 18 tahun. Menjadi Ama adalah kebanggaan perempuan Sugashima. Para perempuan berani yang hanya mengenakan cawat nelayan perempuan, fundoshi, menembus kedalaman Teluk Ise berbekal tali pengikat pinggang mengumpulkan kerang mutiara.

Dari ibunya, Yoshi menerima sifatnya yang ramah. Tetapi dari Daiyo, Yoshi menetapkan karakter dirinya sebagai pemuda rajin dengan tubuh berhias otot dan berkulit terang. Tidak seperti umumnya nelayan di pesisir timur Honshu, kulit Yoshi tak terbakar matahari. Ia tak menghabiskan semua umurnya di laut. Kemahirannya mengolah kayu adalah alasan separuh waktunya berada di daratan. Entah kenapa para kepala keluarga di Sugashima tak berkenan mengambilnya sebagai menantu.

 

MENGENAI Harumi —ia gadis lincah dan riang. Ia cantik dengan dahi sempit dan anak rambut yang kerap membelah di tepian ikat kepala hachimaki berpola bunga sakura. Matanya sedikit besar dengan kulit muka yang agak gelap. Ia putri kedua kepala keluarga Hatake, seorang berpengaruh besar di Sugashima.

Apa yang Harumi kenali soal laut hanyalah mutiara, dinginnya air teluk Ise dan ketelanjangan. Gadis itu tak kuasa menyatakan penolakannya di hadapan kepala keluarga Hatake. Ia seperti sedang berdiri di ambang pintu, saat satu kakinya berada di seberang pintu rumah ayahnya.

Harumi tak berdaya mengubah pendapat kepala keluarga Hatake. Ia hanya satu dari tiga anak perempuan Hatake yang menyukai dinginnya laut, walau tetap mengikuti cara-cara lama Ama yang tidak menyekat rasa malu di tubuhnya. Ia memang tak pernah berpikir untuk menolak tradisi ini. Harumi menikmati hangatnya cahaya matahari di tubuh yang hanya terbalut fundoshi dan hachimaki. Menikmati perbincangan saat menuruni bukit Mohimjo sambil menjinjing isooke dan berbagi hal yang bisa memancing tawa. Ia menyukai kulitnya yang terbakar matahari.

—Airmata tak pernah lelah merawat rasa malunya sebagai perempuan.

Bahkan seorang nelayan lelaki harus merasa malu saat mendapatinya dalam penampilan Ama. Tetapi tradisi tak akan berubah hanya karena seorang telah terperangkap rasa malu, sekaligus menyadari bahwa itulah sebab dua anak perempuan Hatake menolak tradisi Ama.

Dua saudarinya menolak dengan alasan yang ia temui lewat cara Yoshi menatapnya. Mereka tolak cara-cara lama para Ama di seluruh pesisir timur Honshu dengan cara masing-masing, dan tak mau terjebak pada tradisi kuno Sugashima yang mengatur seperti apa perempuan memandang dirinya sendiri.

Oh, Harumi. Betapa cemas ia membayangkan seperti apa pendapat Yoshi.

“Bulan purnama menandakan waktu bagi kerang mutiara untuk dipanen. Seorang Ama dari keluarga Hatake akan bergabung bersama para Ama lain di pantai Sugashima,” kepala keluarga Hatake memberi maklumat.

“Sampai kapan Harumi menjadi Ama, Ayah?” Entah apa yang membuat Ando berani bertanya seperti itu pada kepala keluarga Hatake.

Merah muka Hatake. “Kehormatan perempuan Sugashima harus dipelihara!”

“Ke mana rasa malu klan Hatake saat Harumi telanjang dan hanya mengenakan fundoshi?”

Mottainai!” Hatake memukul meja dan seketika mengubah warna dalu di pipi Ando menjadi pias. Ibunya menyerukan nama kehormatan Hatake, sebelum lelaki itu bertindak terlalu jauh. “Patuhi ayahmu, Hatake Ando! Bersikaplah seperti gadis lain di Sugashima ini. Jangan membuat kami malu.”

Malu? —Kata itu seperti belati kissaki-moroha.

Tatapan Ando memancarkan kebencian yang membuat ibunya cemas. Ando mengasihani Harumi, adik perempuannya yang bintik kulit dadanya berkilau seperti umi hotaru di kedalaman air.

 

YOSHI memahami setiap kecemasan Harumi. Ia mendengarkan gunjing para Ama tentang keluarga Hatake. Hari kepala keluarga Hatake menelan rasa malunya adalah hari di mana Ando terang-terangan menyatakan penolakannya pada tradisi kuno Ama di Sugashima. Harumi tetap turun menyelam dengan fundoshi menutupi pinggulnya.

Para Ama mencemooh Hatake sebagai lelaki Sugashima yang tak bisa mengendalikan anak-anak perempuannya. Penghinaan menghunjam telinga Hatake. Lelaki itu kini merasa kehormatannya telah dinodai di hadapan penduduk Sugashima.

Yoshi seperti mendengar kabar yang dibawa kamome, bahwa Hatake telah mendera punggung Ando dengan cemeti ekor pari. Hukuman itu diterima Ando tanpa keluh, kecuali mata yang memancarkan kebencian dan amarah. Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Dua hari berikutnya, saat Ama turun melaut, orang-orang dikejutkan dengan kehadiran Ando yang tegak di tepian karang bukit Mohimjo dengan tsumugi (kimono sehari-hari perempuan) berwarna biru berpola putih sakura, memasrahkan rambutnya dipermainkan angin. Di belakangnya, tegak berdiri Harumi dengan fundoshi dan isooke.

Senyum Hatake Ando seperti senyum gadis yang bahagia, saat melepas adiknya melaut di penyelaman terakhir musim ini. Ando seperti telah memahami Harumi. Hanya mata mereka yang bicara. Di bawah Mohimjo, kamome terbang lincah menyisir permukaan air, menukik seketika lalu kembali mengapung di udara dengan ikan kecil atau hamaguri terkepit di paruhnya.

“Maafkan aku, Ando.” Harumi membungkuk kecil pada kakaknya. Kelembutan menyaput di mata Ando. “Kenapa ini kau lakukan?”

“Aku suka umi hotaru. Kunang-kunang laut,” kata Harumi, “Kunang-kunang Laut yang bebas berenang di permukaan air dan menerangi laut. Memandu perahu nelayan dan membiarkan mereka mencintaiku dengan cara yang mereka pahami sebagai Ama.”

“Aku menyayangimu, Harumi—” bibir Ando bergetar, “—aku menghormatimu seperti aku menghormati diriku sendiri.”

Harumi membungkuk lagi, lalu tegak perlahan dengan wajah yang langsung dihadapkan ke laut sebelum turun bergabung bersama Ama lainnya. Mata Ando mengikuti Harumi. Tak ada lagi yang ingin ia cemaskan. “Kita akan baik-baik saja, Harumi.”

Dua hari setelahnya, kepala keluarga Hatake memimpin keluarganya berdoa di puncak Mohimjo. Ando mengundang Yoshi untuk ikut bersama dalam doa bagi Harumi. Memakai tsumugi seperti kemarin, Ando berdiri di sisi Yoshi yang mengenakan kinagashi (kimono sehari-hari lelaki) berwarna senada. Di tengah doa, Yoshi menatap hamparan laut teluk Ise yang teduh. Di tangan kanannya, ada segenggam rumput laut hitam hijiki. Dagunya terangkat saat ia penuhi dadanya dengan udara laut yang kering.

—Oh, Harumi yang malang.

Semoga umi hotaru menyambutnya dengan gembira. Tiga hari lalu, Harumi terseret arus Teluk Ise, memutuskan tali pengikat pinggangnya dan menyeret tubuhnya menuju kedalaman laut. Mungkin ini menjawab impiannya ingin seperti Kunang-kunang laut yang melebur, berpendak kebiruan di antara terumbu teluk Ise untuk merayakan cahaya.

 

untuk Ryotaro Shiba


[Buku Baru] Perempuan Perempuan Liguria | Kumcer – Mei, 2015

PPL-Promo2d2


[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 


[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


[Buku Baru] 4 Musim Cinta | Novel | Pringadi Abdi Surya

4 Musim Cinta

4 Musim Cinta

(sebuah novel)

Terbit 13 Maret 2015 !

 

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

 

4 Musim Cinta (sebuah novel)

Penulis: Mandewi Gafur Puguh Pringadi (a.k.a Pringadi Abdi Surya)

Penerbit: Exchange

ISBN: 978-602-72024-2-9

Spek Buku: 333 hlm. | 14 x 21 cm | SC | Bookpaper

Harga: Rp 59.500,-

Email: fiksiexchange@gmail.com

Website: http://www.kaurama.com

 

“Inspiratif! Menggetarkan! Menghanyutkan! Tak kusangka bisa lahir sebuah karya hebat dari tangan para abdi negara.”

—Ahmad Fuadi, pengarang Trilogi Negeri 5 Menara.

“Ada banyak hikmah dalam novel ini. Tak hanya melulu soal cinta. Selain menyajikan suka-duka kehidupan para pegawai negara, buku ini pun bisa menjadi sebuah kritik tentang bagaimana mengatur negara seharusnya.”

—Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu RI.

“Novel ini menggambarkan kesenyawaan ragam cerita, pengalaman dan harapan yang berjejal dan lalu-lalang di layar kehidupan para pegawai negara. Sebuah upaya yang ambisius!”

—Ahmad Nurholis, inisiator penulisan 4 Musim Cinta.

“Sensasi membaca novel ini mirip ketika aku mendengarkan deep house music. Di setiap keluk dan tikungan kisahnya menyajikan kejutan atau ungkapan yang tidak bikin bosan.”

—Victor Delvy Tutupary, kandidat doktor filsafat.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 208 pengikut lainnya