[Cerpen] Kehormatan | Pikiran Rakyat | Minggu, 22 Maret 2015

Kehormatan

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Kehormatan_Pikiran Rakyat_22 Maret 2015

1/

Sebuah perayaan sedang berlangsung di hadapan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian licin dan harum. Jemari Matsumoto bergetar.

Seorang pemuda melangkah ke podium kecil, melewati tamu-tamu yang mengangguk hormat padanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah saya. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu saya sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala hal dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang —dengan semua tragedinya— ia berhasil bertahan.”

Di kursi barisan depan, Matsumoto diam mematung. Bibirnya terkunci. Hatinya berbisik —entah apa yang membuatnya ada di tempat ini.

2/

Pulau Wawoni’i diberi bendera matahari terbit dalam peta Dai Nippon. Di depannya terhampar Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan sebagai Prime Naval Base untuk Operasi Selatan dalam misi penaklukan Australia.

Malam ini, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya-cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir —entah berapa banyaknya— meledak beruntun, menyasar barak, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat ini.

Yoshiro Matsumoto merendahkan tubuhnya. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana ia memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

Tetapi sebuah ledakan lain segera menyadarkan Matsumoto. Ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah hancur. Serangan ini sangat mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap, karena sekelilingnya kini mendadak hening —tak ada tembakan dan ledakan lagi.

Matsumoto merayap dalam gelap. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak di kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat —tapi mendadak sadar bahwa posisinya kini sangat berbahaya.

Di lubang itu ada seorang pejuang kemerdekaan. Dari jarak sedekat itu, Matsumoto yakin kaki kanan pria itu hancur. Pasti karena ranjau darat yang mereka tanam sekitar 500 meter dari barak komando. Sosok tubuh itu mengerang lirih. Matsumoto kaget, tak ia sangka bahwa sosok itu masih hidup.

3/

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan di udara. Matsumoto mengendus aroma tajam dari asap suar di udara. Ia sentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat pada sosok dalam lubang bekas ranjau itu. Ia lepas barel kosong dari pinggangnya dan menopang kepala lelaki di depannya itu agar lebih tinggi. Udara kering dari laut bercampur asap mesiu. Matsumoto berjongkok, tangannya bergetar. Ia rapatkan kerah bajunya, mencoba nahan mengusir gigil. Lubang hidungnya membesar saat ia jejalkan udara kering ke dalam paru-parunya, kemudian ia berusaha fokus.

Teriakan rekan-rekannya dari bagian lain pulau sampai ke telinganya. Letusan senjata dan desing mortir di udara sesekali memburai suasana malam. Ia meringkuk di kegelapan, hanya mendengar dan tak bisa berbuat apa-apa saat sebagian rekannya berjibaku menahan serangan para pejuang Indonesia —pasukan lelaki di depannya ini. Ya. Lelaki ini musuhnya.

Matsumoto teringat sumpah prajurit kekaisaran yang rela mati demi kehormatan Kaisar Jepang. Ia kunci rahangnya, mengarahkan pistolnya ke pelipis lelaki itu. Perlahan jemarinya bergerak meremas. Di saat kritis akan keputusannya, lelaki itu mengerang dan menyentuh lengannya —keraguan menyergap Matsumoto.

Itu erangan yang akrab di telinganya sepanjang tugasnya dalam misi okupasi selama ini. Mungkin lelaki malang itu menginginkan sesuatu sebelum nyawanya putus. Matsumoto merendahkan kepalanya, hingga cukup dekat untuk mendengarkan permintaan terakhir lelaki itu. Kepalanya begitu dekat sehingga ia bisa melihat kilatan di mata lelaki itu.

“Air —beri aku air,” suara lelaki itu nyaris habis.

Tetapi kilatan mata itu —kilatan mata lelaki itu mengusik hatinya. Ia seperti melihat dirinya di dalam sana, berdiri gagah dengan kehormatan sebagai seorang lelaki yang setia pada negaranya. Matsumoto teringat sumpahnya, kehormatannya sebagai seorang samurai. Hatinya jeri. Susah payah ia redam sakit di dadanya. Ketegangan telah membuatnya cemas. Tangan Matsumoto bergetar, tapi ia merasa siap untuk kembali menarik picu.

Lelaki di depannya itu tiba-tiba berguling, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistolnya. Perlahan, bibir lelaki itu terbuka, berusaha kembali membisikkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto meleleh. Ia merendahkan kepalanya. “Aku harus membunuhmu. Aku harus menyelesaikan tugasku —sumpahku pada negaraku.”

Lelaki di depannya terbatuk, lalu tersenyum. Tangan lelaki itu terangkat ke arah lengan Matsumoto. “Tak apa-apa. Kau harus lakukan tugasmu—” mata lelaki itu mengatup sesaat, “—tapi beri aku air. Aku haus.”

Lelaki itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakangnya, mencari-cari, lalu teringat pada barel kosong miliknya yang tadi ia gunakan menopang kepala lelaki itu. Ia raih benda itu dan mundur dalam kegelapan di belakangnya. Tak begitu lama Matsumoto kembali dengan barel yang penuh air. Ia angkat kepala lelaki itu seraya menuangkan air ke mulutnya, sedikit demi sedikit. “Pelan-palan biar kau tak tersedak,” ujarnya. Lelaki itu tersenyum dan terus menerima air dari barel milik Matsumoto.

“Terima kasih—sekarang lakukanlah tugasmu.” Lelaki itu tersenyum sambil menatap matanya. Matsumoto tertegun. Ia menatap pistol di tangannya, lalu ke arah wajah lelaki itu. Tatapan mereka bertemu. Sumpah seperti berdengung dalam kepalanya, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Demi kehormatannya —sebagai seorang samurai, sebagai prajurit kekaisaran, ia harus mengambil keputusan ini.

Matsumoto meremas gagang pistolnya. Telunjuknya mengeras di logam picu.

4/

Tiba-tiba, cahaya merah berpendar di sekeliling Matsumoto. Sebuah kilatan sejenak membutakan matanya, disusul teriakan-teriakan ke arahnya, memerintahnya agar diam. Darah Matsumoto mengalir cepat, saat ia dengar suara-suara senjata dikokang bersamaan. Ia dikepung sepasukan pejuang Indonesia.

Seseorang menyuruhnya berdiri. Beberapa tangan merenggut kerah belakang bajunya. Matsumoto patuh —tangannya terangkat ke atas kepala. Sisa sobekan bajunya menggantung keluar dari rim di pinggangnya.

Dua orang pejuang segera memeriksa lelaki di dekat Matsumoto. Sesaat kepanikan tampak di wajah mereka, sebelum menunjuk-nunjuk ke arah Matsumoto. Baginya, alasan atas tindakannya tak penting lagi—bahkan karena itu, ia harus melucuti kehormatannya.

Kepala Matsumoto tertunduk. Saat kepalanya tegak, wajahnya dilelehi air mata. Ya. Samurai itu menangisi kehormatannya. Ia lepaskan kehormatannya dan menerima kehinaan ini. Matsumoto berlutut dan menyorongkan wajahnya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!” Teriaknya.

Para pejuang kemerdekaan terdiam. Mereka hanya menatap Matsumoto.

Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Aku mohon, berikanlah kehormatanku—Utsu!” Teriaknya sekali lagi.

Tapi, tak seorang pun pejuang yang sudi memenuhi permintaannya.

Matsumoto tergugu. Ia meratapi dirinya. Matanya mendapati tubuh semua rekannya yang telah mendapatkan kehormatannya —mati demi negara dan kekaisaran, dan ia tidak seberuntung mereka. Walau mungkin berbeda, namun entah seperti apa nilai dan ukuran kehormatan bagi para pejuang di sekelilingnya saat ini. Mereka tak memahami pentingnya kehormatan —yang tak bisa mereka berikan pada Matsumoto— bagi seorang samurai dan tentara kekaisaran seperti dirinya.

Utsu! Utsuuuuu!” Teriak Matsumoto putus asa.

5/

Matsumoto seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibukota negaranya. Di sekelilingnya bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah malu karena hilangannya kehormatan.

Sebagaimana wajah-wajah itu, Matsumoto pun harus menangisi dirinya. Kehormatan yang juga tak bisa ia tebus. Deraan malu pernah membuat Matsumoto memohon agar ia bisa melakukan seppuku—tradisi samurai. Tapi para pejuang Indonesia tak pernah mau menuruti permintaannya.

Setelah Kaisar Akihito mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih menghukum dirinya sendiri; ia menolak pulang dan memilih berada di antara orang-orang yang tak memahami arti kehormatan.

Matsumoto membangun kehidupannya. Ia menikahi seorang perempuan Indonesia, bekerja di perusahaan teh, dan menabung untuk hari tuanya. Tapi, Parkinson datang tergesa-gesa, melemahkan syaraf-syarafnya. Matsumoto memilih melupakan apapun yang ia alami di bulan Agustus di penghujung tahun 1945. Ia memilih melupakan lelaki yang menjadi sebab hilangnya kehormatannya itu.

Sampai seseorang menemukan jejaknya dan datang menemuinya. Seseorang yang harus membuatnya menangis lagi. Seseorang yang keras memintanya untuk mengingat apapun yang hendak ia lupakan. Seseorang yang mengingatkannya pada wajah lelaki yang baginya sudah mati 69 tahun silam demi sebuah kehormatan.

***

Matsumoto mengguyurkan air dari barel ke kepala lelaki itu, menggunakan sobekan bajunya untuk membersihkan wajahnya. Ia menggunakan sisa sobekan bajunya untuk perban, membebat kaki putus lelaki itu sekencang mungkin. Dengan sisa kain bajunya, ia tutupi tulang yang hancur dari sisa kaki musuhnya itu.

“Serangan kalian rapi sekali. Tak ada yang menyangka kalian akan menyerang malam ini,” ujar Matsumoto sambil mengutuk ketidak-becusan intelijen pasukannya sendiri.

“Namaku Syamsul,” lelaki itu mencengkeram bahu Matsumoto.

“Jangan banyak bergerak. Lukamu banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara terbata-bata, “—aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk. Matsumoto kembali meneteskan air ke mulut Syamsul.

Entah apa yang menghentikannya membunuh lelaki itu.

6/

“Inilah impian ayahku selama ini.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Puluhan tahun, ayahku sangat ingin bertemu orang yang ia hormati, orang yang setiap hari ia sebut namanya dan ceritakan kisahnya pada kami. Seorang samurai yang telah menunjukkan kehormatannya dengan sangat berani.” Suara pemuda itu meninggi saat ia dan keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

Matsumoto tersedak keharuannya sendiri.

“Kami berterima kasih pada Tuan Yoshiro Matsumoto. Dengan kehormatannya ia mempertahankan kemanusiaannya, menyelamatkan ayah kami dan membuat kami setiap saat mensyukurinya. Terimalah hormat kami setinggi-tingginya—” Pemuda itu kembali membungkuk hormat pada Matsumoto. Saat tubuhnya tegak, pemuda itu menoleh pada semua tamu yang hadir di pemakaman ayahnya— “Saudara-saudara, inilah lelaki terhormat yang berjuang di sisi ayah kami dalam perang.”

Matsumoto menggeriap. Di antara orang-orang yang selama ini ia anggap tidak memahami arti kehormatan, untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu, Matsumoto menemukan kehormatannya —dalam kemanusiaan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. (*)

Molenvliet, Oktober 2014

 

Catatan:

- Prime Naval Base = Pangkalan Angkatan Laut Utama; Jibaku = berani mati; Utsu = tembak


[Cerpen] Daun Zaitun | Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

Daun Zaitun

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

padekco-2vMTh

SELALU  ada yang istimewa dalam kata-katamu. Kau pandai melukiskan ketragisan —tentang beberapa cerita di Corsica, misalnya, kau mampu menertawakan cinta yang berakhir menyedihkan.

Menurutmu, kemalangan adalah hal sepele. Di negeriku, hal-hal yang kau anggap sepele itu, aku kenali sebagai Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Juga ribuan jugun ianfu.

Tentu saja, kau tak kenal Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Kau juga tak kenal Sutinah, seorang jugun ianfu yang hidup sendirian di pinggiran kotaku. Cinta itu tragis. Mungkin seperti itu pesan yang kau tangkap, sebagaimana orang-orang seperti Sutinah.

Hal-hal sepele bagimu, terdengar sinis olehku. “Kau sedang bermain-main.”

“Bukan aku,” pelipismu mengeras, “tetapi kita. Kita yang sedang dipermainkan.”

Aku tak paham. “Kita?”

“Ya. Kita.” Kau mengangguk. “Adakah kita melupakan sesuatu?”

Aku coba mengingat-ingat. Barangkali memang ada detail yang aku lewatkan dalam percakapan ini. Tetapi, demi setiap detik yang kita habiskan, aku harus menyerah.

“Zaitun?” Lehermu menekuk rendah. Pelipismu berkerut, dan matamu menyapu wajahku.

**

AKU baru saja mengenalmu. Baru saja. Kau menghampiri saat aku sedang menikmati suasana sore di pelataran Brandenburg. Aku selalu ingat setiap suasana sore yang mampu menimbulkan kesan secara personal.

Di puncak gerbang Brandenburg, tegak patung Quadriga dengan empat kuda yang berderap ke timur. Sosok Viktoria menggenggam tongkat berkepala elang seraya memecut punggung kuda-kuda nan gagah itu. Patina memberi kesan hijau yang magis. Cahaya lembut matahari sore di akhir Desember, berceceran di kota Berlin.

Suhu 15 derajat celcius mampu menyengkeram tengkuk. Mulutku beruap dan bibirku seperti beku. “Ia mirip Dewi Nike,” suara lembutmu masuk ke telingaku.

Kau berdiri di belakangku dengan postman-hat berfuring beludru membungkus rambutmu yang merah. Biru matamu tampak cerlang, berpadan dengan lumen cahaya di sore itu. Kau tampak anggun dalam long winter coat berkerah tinggi bergaya neo-klasik Pier Angelini. “Mau?” Kau sodorkan alkohol gula dari kaleng cekung milikmu. Aku menerimanya dan meneguk isinya dengan senang.

“Ia lebih mirip denganmu,” kataku menganggukan kepala pada fragmen Viktoria di atas gerbang itu, kemudian ke arahmu. Kau tersenyum. Wow, aku tak salah —kau memang cantik. Alkohol gula berhasil membuat dadaku hangat.

“Ia perempuan Jena-Auerstedt juga.”

Aku menyukai gadis ramah ini. “Kau orang Weimar?”

Kau menggeleng. “Kisahnya cukup tua. Tahun 1814, kakek buyutku ikut dalam rombongan besar Jenderal Ernst von Pfuel membawa Quadriga ini dari Prancis.”

Baiklah. Untuk seseorang yang tak segan berbicara pada orang asing, kau tentulah tipe yang tak menyukai omong kosong. Kau menyalami tanganku. “Gaulliare. Jeanice Gaulliare.” Kau sebut namamu.

Franzosisch madchen freundlich,” aku memujimu dan kau tertawa. Geligimu putih. Pipimu pucat tanpa perona. “Pangkawi. Roland Pangkawi.” Aku kenalkan diriku.

**

KAU seorang yang satir. Kau berani menertawakan kedukaan. Bagimu, kematian adalah sesuatu yang ikonik. Tiba-tiba saja semuanya berubah lucu di lidahmu. “Kota ini berubah dengan cepat. Di sini, pembunuhan adalah sesuatu yang sepele.”

“Maksudmu, tragis?”

Kau menunduk, menatap sepatumu. “Kau tahu Corsica? Cinta telah mengutuk kota itu. Tempat yang punya banyak cerita. Tentang perseteruan karena cinta datang merenggut hati setiap orang di sana.”

—Baiklah. Kau ingin kita bercerita tentang cinta.

“Selalu soal cinta,” Jeanice mendongak menatap Quadriga. “Tapi di Corsica, cerita seperti itu punya pesan lain. Andai Quadriga itu simbol dari sesuatu, seharusnya orang-orang bisa memahami keseriusan Gottfried. Quadriga yang ia buat dengan berbagai kerumitan itu, menjadi tak berarti ketika dipajang di kota seperti ini.”

Tiba-tiba udara dingin menyambar tengkukku. Aku naikkan kerah mantelku. Aku mulai menyukaimu. “Itu tetap saja tragis, Jeanice,” timpalku.

“Orang-orang di sini menyebutnya sepele. Itu dua hal yang berbeda.”

Menurutmu, selalu ada kegaduhan seusai sebuah peristiwa. Kegaduhan yang kerap lebih lama daripada peristiwa itu sendiri. Suara-suara mengisi kota, berlompatan, atau mengapung di angkasa tanpa artikulasi. Orang-orang bisa terbunuh dengan sesuatu yang tampak surealis.

Kau tak bergeming. Kedua telapak tanganmu membenam di saku mantelmu. Pelupuk matamu mengatup, merasa syahdu dengan Das Lied der Deutschen —lagu orang-orang Weimar— dari pelantang suara. Mungkin sekarang kau sedang mengkhayalkan si tampan August Heinrich dari Helgoland.

Bagiku, Jeanice lebih baik, ketimbang terbenam sendiri di bar murahan bersama bir yang nyaris basi dengan telinga yang terbekuk berita lonjakan harga akibat krisis ekonomi. Ditemani gadis ini masih jauh lebih baik, daripada mendekut di apartemen, di depan televisi yang menyumpali telinga dengan gosip hubungan gelap kanselir dengan sopir pribadinya. Aku berkemam dalam dingin. Sesuatu tentang Zaitun kini mengusik ingatanku.

**

AKU ingat pada rute dari arah Ebertstrabe memotong Platz Pariser di bagian barat kota ini. Tujuh bulan lalu, di suatu malam, entah bagaimana aku memutuskan merimpang ke wilayah Unter den Linden yang dibarisi pepohonan di dua sisinya hingga ke Reichstag, satu blok ke arah utara. Tak kusangka, melintasi Alexanderplatz malam itu adalah sebuah pilihan buruk.

Seseorang tergopoh-gopoh menembus udara malam, tergesa-gesa menyebrangi Unter den Linden yang tertutupi bayangan pepohonan yang rebah oleh lampu jalan. Dan suasana sepi sekali.

Aneh. Ini kawasan yang selalu ramai. Para manula biasa menghabiskan waktu sore dengan duduk menikmati aliran sungai Spree. Di akhir musim panas, terkadang mereka bergerombol di Alexanderplatz, berbagi memori tentang segala hal sebelum penyatuan Jerman. Saat malam beranjak, para pemuda berkumpul mengelilingi drum-drum besi yang terbakar. Itu pemandangan yang biasa aku saksikan di sepanjang kawasan Berliner Dom. Di malam yang kian larut, mereka kemudian berpencar untuk hiburan malam dan bir paling enak di bar-bar pinggiran kota.

Di penghujung malam, tempat yang seharusnya sudah sepi itu, masih menyisakan dua kelompok yang sedang mengelilingi drum masing-masing. Jarak antara aku dengan mereka hanya 50 meter, saat mereka memergoki seorang gadis. Terlindung di bayangan tiang lampu, aku saksikan mereka memperlakukannya dengan kasar. Mereka tak peduli pada teriakannya, tak peduli saat ia menangis memohon agar mereka melepaskannya. Ia ditampari hingga tak berdaya. Ia meronta saat mereka memasukinya secara bergantian.

Aku belum siap mati untuk sesuatu yang bukan urusanku. Berurusan dengan genk adalah hal yang serius. Setelah puas, mereka menembaknya, lalu meninggalkannya untuk mati. Tetapi ia masih hidup saat kudekati. Wajahnya tersaput darah.

**

“ALEXANDERPLATZ?” Kau menatapku dari tempatmu berdiri.

Aku mengangguk.

“Apa itu masih bukan urusanmu?”

“Ini rumit, Jeanice.” Aku gugup — “Lagi pula, apa urusanmu dengan masalah ini?”

Alismu terangkat. “Tapi kau saksinya. Kau pengecut seperti Gotthard.”

“Bukan begitu.” Aku terpojok. Aku melirikmu dengan jengkel. Aku renggut kaleng alkohol gula dari tanganmu, kuteguk isinya dua kali.

Kau kantongi kembali kalengmu setelah kukembalikan. “Aku menelusuri semua fakta sehingga aku sampai padamu. Aku menyadari sesuatu telah hilang dari tubuhnya saat aku melihatnya di ruang koroner. Veanice tak pernah ke mana-mana tanpa bros daun Zaitun miliknya.”

Persendianku lemas. Mataku menjamah seluruh wajahmu dan menyadari nyaris tak ada yang berbeda dari kalian berdua. “Veanice Gaulliare adalah kakakku. Kami kembar identik.”

—Baiklah.

Kami datang ke kantor polisi. Opsir polisi yang menerima laporanku heran saat kusebutkan tentang bros daun Zaitun dan kehadiranku yang mungkin bisa membantu mereka menangkap pemerkosa Veanice. Polisi hanya perlu mencari mereka yang ciri-cirinya bisa kugambarkan dengan baik.

Kau benar. Kota ini dikendalikan suara-suara. Kota seserius ini selalu berhasil merusak ketertiban, kemudian bersusah payah memerbaikinya. Seperti zombie, orang-orang mati yang berjalan, maka suara-suara bisa membuat kota ini tetap bergerak.

Kau tetap gadis berambut merah yang aku sukai dan Veanice dalam kenanganmu. Seperti Corsica yang kau ceritakan itu, maka setiap orang punya pesan untuk cinta yang mereka miliki —dan kau sejenis orang yang peduli dengan rahasia-rahasia tentang Corsica, tentang Qudriga, mungkin juga tentang Gottfried dan Gotthard. Entahlah.

Kau menemaniku duduk di tepian sungai Spree. Kau begitu ramah, mengizinkanku meneguk alkohol gula dari kaleng cekung yang saling kita sodorkan bergantian. (*)

Desember 2013 – (revisi) 2015

 

Catatan:

- franzosisch madchen freundlich = gadis Prancis yang ramah.

 

Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

 


[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2014

Cover Jawa Pos_blog

Download: klik link di bawah ini

e-BOOK_CERPEN JAWA POS 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Guci Sop | Suara Merdeka | Minggu, 01 Februari 2015

Guci Sop

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Guci Sop_Ilham Q Moehiddin

UDARA panas siang itu seperti hendak melelehkan bola mata setiap orang yang melintasi strada Salvatore, membuat basah ketiak yang menyebarkan bau tak sedap kemana-mana. Pesisir Genoa dibungkam aroma garam.

Aku menyiapkan pertunjukan malam untuk Arrigo Tavern sebelum matahari sore datang ke jendela rumah minum ini. Aku mewarisi bisnis ini dari ayahku, Arrigo Ando. Tempat ini mendadak ramai di enam bulan terakhir.

Enam bulan lalu, seorang gadis berdiri di depan meja bar Arrigo Tavern. Aku tentu saja menerima tawarannya untuk menari. Dialeknya tak seperti kebanyakan perempuan Genoa. Gadis itu dari pesisir utara. “Elda dari Manarola,” katanya.

Seperti kebanyakan perempuan Manarola, Elda mewarisi tulang pipi yang lembut, pucuk hidung yang kecil, dagu sedikit runcing dengan wajah oval, dan rambut hitam bergelombang. Elda punya sesuatu yang diidamkan banyak lelaki—dada dan pinggul yang padat.

“Menarilah mulai besok,” kataku. Seperti harum yang memancar dari tubuh Elda, begitulah kabar baik dan keberuntungan yang mendatangiku siang itu—dan di hari-hari berikutnya.

Para perempuan Manarola pandai melenturkan tubuh. Tarian mereka memikat, lincah meliuk dengan gerakan erotis yang menggoda. Elda segera menjadi primadona Arrigo Tavern dan namanya begitu terkenal di sepanjang pesisir Genoa. Setiap lelaki di pesisir ini bisa menggambarkan kemolekannya, ketimbang kondisi istri mereka sendiri. Wajah Elda segera membayangi pelupuk mata tiap lelaki yang menggumamkan namanya. Tetapi bagiku, Elda tak sekadar mesin uang di taverna ini.

**

Arrigo Ando adalah contoh buruk pebisnis rumah minum. Taverna ini baru ramai setelah 39 tahun dibuka dan 10 tahun kematiannya. Para penggemar bir berduyun-duyun memenuhi tempat ini, bukan karena rasa birnya. Tak ada yang menyukai bir beraroma jerami lembab dengan rasa keju basi. Siapapun pasti memuntahkannya setelah tegukan pertama, kecuali jika mereka sedang mabuk berat. Mereka ke tempat ini semata-mata karena Elda.

Setiap malam, sejak matahari tenggelam dan udara kering menyebarkan aroma garam dari laut, taverna ini sudah sesak. Para lelaki menelan ludah, memukul meja, dan meneriakkan nama Elda. Sebelum gadis itu datang, aku biasa menampilkan pertunjukan berupa sulap yang kuanggap bisa mengocok perut pengunjung. Seringkali itu berhasil. Tetapi para kelasi, tentara, dan buruh pelabuhan lebih suka menganggapnya gagal dan melempari setiap pesulap yang tampil. Kini mereka menginginkan Elda dan mereka tak harus mabuk berat untuk mengacaukan tempat ini.

Beberapa pejabat kota biasa berlindung di keremangan balkon saat menonton tarian Elda. Mereka tak mau terlihat oleh para pemilih. Moral sangat penting bagi reputasi dan karir politik. Tetapi di tempat ini, mereka boleh mengantongi moral mereka, lalu berpura-pura tak kehilangan apapun esok paginya.

Aku hanya butuh uang mereka. Asal mereka membayar, maka habis perkara.

Setiap lelaki yang datang ke taverna ini punya mimpi yang sama; berharap Elda mengakhiri kesepian mereka di sisa malam. Paling tidak, berharap bisa menyentuh kulit pinggul gadis itu saat mereka menyelipkan lembaran uang ke balik celananya. Mereka rela membayar lebih banyak hanya agar Elda bersedia membuka kakinya dalam satu nomor tarian, sembari membayangkan hal-hal cabul tentang gadis itu.

**

Sedikit sekali lelaki yang mampu menghamburkan uang di sebuah taverna hingga pagi. Sedikit lelaki yang ingin ditemani gadis muda saat menyantap scallopine—irisan tipis daging sapi muda segar—dan mengakhiri malam di motel murah. Lebih banyak dari mereka patut dikasihani karena beristri perempuan yang siap menyita setiap uang dari kantongnya. Namun ada alasan lain sehingga para penggemar pescara kerap datang ke Arrigo Tavern.

Lupakan bir basi. Tangguhkan dulu khayalan tentang Elda. Arrigo Tavern punya zuppa yang lezat. Saat menghidangkan Zuppa di Pescara, Carmela selalu menambahkan seporsi scallopine. Carmela tahu cara membuat scallopine dengan kaldu yang lezat. Aku tak mau terang-terangan menyakiti hati istriku dengan mengistimewakan Elda. Carmela akan cemburu dan menolak ikut mengurus dapur tempat ini.

Elda memang menggoda. Lirikannya sanggup membuat siapapun berkeringat.

“Anda tak seharusnya berada di sini,” Elda terdengar ketus.

“Tetaplah menari untuk Arrigo Tavern,” aku berdiri di ambang pintu kamar rias.

Elda berbalik dan mengangkat alisnya. “Maka penuhilah janjimu.”

Aku gelisah. “Taverna ini butuh uang untuk membayar piutang bank.”

“Oya? Apa itu termasuk hutangku pada Hueno?” Elda memajukan wajahnya. “Aku harus membayar lelaki itu agar ia tak mengusirku dari flat,” lanjut gadis itu. Peluh membasahi tengkukku. Aku maju dan menutup pintu. “Kau dapat melakukan sesuatu untuk itu.”

Mendengarku bicara begitu, leher Alda memutar cepat. “Brengsek!” kecamnya, seraya menarik korsetnya lebih tinggi, menutupi dadanya yang putih. “Aku tidak selugu itu.” Desisnya tajam.

Aku angkat bahu dan memiringkan kepala.

“Aku tak sudi menemani para pejabat kota!” Elda nyaris berteriak. Aku panik. Aku meminta Elda memelankan suaranya. “Mereka pernah menipuku. Aku muak mendengar omong kosong Wali Kota keparat itu. Aku tak sudi berkorban lebih banyak untuk tinggal lebih lama di tempat busuk ini.”

Aku mengembangkan tangan, menahan bahu Elda. “Pertimbangkanlah untuk tak meninggalkan taverna ini sampai aku selesai mengurus semua permintaanmu.”

“Sampai semua pemabuk di kota ini puas meraba tubuhku dengan tangan kotor mereka? Sampai Carmela selesai menguras tiap keping tip yang menjadi hakku?”

Aku menurunkan tanganku. Elda benar. “Kau boleh menyimpan semua tip yang kau dapatkan. Gajimu naik satu kali lipat mulai bulan depan.” Aku berjanji.

Gasi itu tersenyum sinis. “Baik. Sekarang keluarlah!”

Seruan itu menahan gerakanku. “Elda, aku…”

“Keluar! Aku harus bersiap sebelum para pemabuk itu merusak tempat ini.”

“Elda…”

Namun gadis itu sudah memutariku, memelintir gagang pintu hingga terbuka, dan berdiri menunggu aku keluar, sebelum membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

Malam itu Elda menggila. Ia menggelorakan panggung Arrigo Tavern. Gerakannya liar, menggoda. Sesekali Elda duduk di pangkuan pengunjung dan menerima apapun yang diselipkan ke balik celananya.

**

Sepekan berikutnya, Elda tak terlihat sejak sore. Seharusnya ia sudah datang dan mempersiapkan diri di kamar rias. Tak ada kabar tentangnya membuatku cemas. Hueno pun tak tahu kemana perginya gadis itu, saat aku menelepon menanyakannya. Elda tak pulang ke flatnya sejak semalam.

Carmela tetap melayani para tamu menikmati Zuppa di Pescara. Aku cukup puas dengan kerakusan pengunjung setengah mabuk yang terusir dari taverna lain. Orang-orang itu sanggup menandaskan dua tong bir basi sebelum sore usai. Namun aku harus mengusir beberapa orang, sebelum mereka terlanjur mabuk berat dan menyusahkanku.

Aku menikahi Carmela saat perempuan itu berusia 16 tahun, saat usia kami terpaut 15 tahun. Ayahku mengadopsi Carmela dari pasangan gipsy yang tewas dalam kebakaran besar di pesisir Genoa, 10 tahun sebelumnya. Seperti umumnya orang gipsy, Carmela setia pada ayahku dan menjadi pelayan di taverna miliknya, sampai aku menikahinya. Pernikahan yang dipaksakan. Aku menikahi Carmela untuk menutupi perbuatan laknat ayahku. Ayah mabuk berat saat memerkosa Carmela dan membuat gadis itu hamil. Bayi Carmela meninggal sehari setelah dilahirkan.

Carmela tak banyak bicara. Ia sepertinya siap menerima nasibnya. Waktunya habis untuk melayani taverna dan mendampingiku. Jika pengunjung taverna ini sepi, ia habiskan waktunya dengan membaca buku resep tua peninggalan ibunya. Ia mengunci diri selama berjam-jam di kamar rajut di lantai tiga. Dari kamar itu tercium aroma harum menyengat, saat Carmela mempraktekkan beberapa resep.

“Aku mau menari,” Carmela bergumam.

Kata-katanya itu mengejutkanku. Aku memiringkan kepala, isyarat agar Carmela mengulangi ucapannya. Aku mungkin sudah salah dengar.

“Aku bisa menari seperti Elda. Bisa lebih baik darinya.”

Aku menggeleng. ”Kau tak sedang—”

“Aku juga bisa mengelola taverna ini sekaligus.” Carmela memotong kalimatku.

“—meracau, kan?” Aku menyelesaikan kalimatmu.

Carmela menyeringai. “Kau seperti semua lelaki yang datang ke sini. Jika bukan hendak mabuk, kalian bermimpi bisa meniduri Elda.”

“Carmela!”

“Aku tahu. Ya. Aku tahu isi kepalamu yang sama busuknya seperti isi kepala lelaki yang mewarisimu tempat terkutuk ini!” Kemarahan Carmela itu tak biasa.

“Tutup mulutmu! Kau tak bisa bicara tentang ayah—”

“—Ayah?!” Carmela berteriak. “Alfie, kau hanya sedikit mujur karena tak mewarisi kedunguan Arrigo. Nasibmu tak lebih menyedihkan dari keparat itu!”

Kata-kata Carmela usai saat tiga orang polisi masuk dan segera menghalangi pintu belakang taverna. Mereka juga menutup pintu dapur dan memblokir lorong kecil menuju kamar rias. Carmela mendengus. Ia tuding mukaku. “Kau! Kau menginginkan Elda, kan? Kau hendak menuntaskan nafsumu dengan mengunjungi flatnya.”

Aku mundur dua langkah. “Aku? Aku tidak—” Terbata-bata aku menolak tuduhan Carmela. “Oh, Carmela. Kau—”

“—Tidak?” Carmela mendelik. “Kenapa kau tak jelaskan ketidakhadiran Elda saat ini? Mana dia? Hanya kau yang pernah terlihat mengunjungi flatnya,” desis Carmela. “Kau membunuhnya!”

Seperti tersengat listrik, rahangku menggelembung mendengar tuduhan itu. Aku sudah akan merenggut lehernya jika saja seorang polisi tak segera memepet tubuhku. Tapi aku tak peduli. “Elda mungkin pulang ke Manarola.”

Sayang sekali. Menurut polisi, tak seorang pun di Manarola melihat kepulangan Elda. Aku ditangkap polisi. Itulah sore terakhir aku melihat kebencian di mata Carmela.

**

Arrigo Tavern tak berubah. Tempat ini tetap ramai pengunjung. Sepertinya, orang-orang itu tak tahu—bahkan tak peduli—pada kejanggalan di taverna ini. Tak tampaknya aku dan Elda, agaknya tak menarik perhatian mereka. Itu aneh, sebab kerapnya mereka memenuhi tempat ini justru karena tarian Elda.

Carmela membelanjakan uang dengan efisien. Ia mengubah tampilan tempat ini menjadi lebih semarak. Ia bahkan mengubah nama Arrigo Tavern dengan nama baru: Taverna de Carmela, dan ia tak lagi menjual bir basi.

Perempuan itu mendapatkan keinginannya. Ia akhirnya bisa menari di hadapan para pengunjung yang juga mengelu-elukan liukan tubuhnya. Para lelaki menyelipkan lembaran uang ke balik celananya, tak peduli bahwa pinggulnya yang besar itu mampu merobohkan panggung. Para lelaki ikut menari dalam tempo musik yang cepat. Beberapa dari mereka meringis, berusaha meredam gelora yang menjilam-jilam saat tubuh tambun Carmela meliuk-liuk.

Mereka tergila-gila pada erotisme Carmela, seperti yang pernah aku saksikan pada Elda. Para lelaki di pesisir Genoa berdatangan untuk menghabiskan uang mereka demi bir dan tarian Cermela.

Carmela tahu cara memperoleh keberuntungannya. Di lantai tiga, di sudut kamar rajut yang berhias manik-manik kaca, di atas pemanas parafin, sebuah guci tembikar bercorak bunga Murbei mendesis-desis mendidihkan sop. Setiap hari, sebelum taverna dibuka, Carmela ke kamar itu untuk mencicipi semangkuk kecil zuppa ramuannya.

Zuppa dan el-Cuerpo membuat Carmela mencapai impiannya. Ia memiliki taverna, menari, merebut perhatian setiap lelaki di pesisir Genoa. Zuppa di Elda telah membuat gadis Manarola itu hidup di tubuh Carmela. (*)

Molenvliet, Januari 2015

 

Catatan:

- Strada = jalan; – Zuppa = sop; – el-cuerpo = sihir hitam gipsy untuk mencuri citra orang lain dengan memasak bagian tubuhnya.


[Buku Baru] Halte Biru | Afrilia Utami | Kumpulan Puisi

Halte Biru

Afrilia Utami

Penerbit Silalatu

Genre Puisi

 

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan….

 

“aku memanggil-Mu,

Tuhanku yang sempurna.”

 

“Afrilia Utami masih muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya puisi, seperti sudah berlangsung lama. Jika pun ada hal-hal yang diperhatikan secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata-kata agar puisi tidak lebihan gula atau kekurangan garam.” Acep Zamzam Noer, sastrawan, budayawan.

“Afrilia Utami menulis soal-soal sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Saya menyimpan keyakinan dan harapan besar kepada Afrilia bahwa satu saat ia akan menjadi penyair (penulis) yang diperhitungkan di Indonesia kalau dua hal terjadi tetap menjadi bagian dari dirinya. Dalam usianya kini Afrilia memiliki modal baik seorang penulis, pikiran yang cerdas dan hati yang peka.” Ashmansyah Timutiah, penyair, budayawan.

Halte Biru 

Judul Buku : Halte Biru

Penulis : Afrilia Utami

Penerbit : Penerbit Silalatu

ISBN : 978-979-16947-7-3

Pengantar : Hudan Hidayat

Harga Penerbit : Rp.35.000 + (Belum termasuk FOB atau Ongkir)

 

Cara Pemesanan:

  1. Via SMS. format Nama(spasi)Alamat Lengkap Rumah(spasi)Kuantiti Pemesanan(spasi)Tanda bukti transfer akumulasi dari harga+FOB disesuaikan wilayahnya. Tanda bukti bisa dikirimkan ke email: haltebiru@yahoo.co.id No. Tlp.: 082240205509 (Rani Ramdani) No. Rek.: BCA 3211019725 a.n. Rani Ramdani
  2. Via email langsung. format sama dengan butir (1).
  3. Kemudian tunggu konfirmasi pengiriman.

[Esai] Monolog Kasim

Monolog Kasim

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Reportase Kematian

SEBUAH ruang, sebuah level, lelampu yang temaram, menanti hening yang pecah. Seorang lelaki terpekur. Kepalanya menunduk takzim pada diam yang cekam. Di sebelahnya, seorang perempuan duduk tenang. Tapi bukan tenang yang lazim. Ia berduka.

Lumen kuning dari lampu di sudut ruang, berpendar. Cahayanya perlahan mencoba menerobos tiga sudut lain dalam ruang itu. Tapi ia berhenti di batas jarak yang mampu jangkau. Seperti ketidak kuasaan pada waktu yang sempit dan pada ruang yang berwarna tunggal—hitam—lumen cahaya itu kemudian menetap.

Kegelisahan kemudian terpancar dari raut wajah lelaki yang tadi terpekur. Wajahnya kini terangkat, tubuhnya perlahan tegak, tangannya mengembang. Kemudian…

Lelaki itu tiba-tiba terhempas di tahun 1969, 45 tahun lampau. Di sebuah rumah kecil di tengah kota pesisir Baubau. Malam yang demam, dipecahkan oleh derap sepatu puluhan orang. Mereka bersenjata dan usai merampungkan kepungan. Dua orang kini di beranda dan mengetuk.

Perempuan tadi terperanjat, mukanya tenang dan bertanya. Ada orang-orang yang tidak sopan datang bertandang di malam buta. Ia bangunkan lelakinya. Pintu depan terbuka, dan lima orang masuk tanpa permisi. Lelakinya harus segera mengikuti mereka dan tidak boleh bertanya lagi. Itulah jawaban pertama dan terakhir dari satu-satunya pertanyaan yang lepas dari bibir si lelaki. Perempuan itu lalu menulis kesaksiaannya: di benak dan airmatanya.

Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di ruang kecil seorang diri. Lantai dan dindingnya keras, sekeras wajah dan tabiat para ular yang berkeliaran di luar sana. Lalu kecemasan melampai di seluruh ruangan itu. Lelaki itu melepaskan cinta pada putrinya dan perempuan yang menangisinya. Kata-kata duka menjilami udara, menggarami air matanya.

 

Berangkat dari Puisi.

LELAKI yang sedih dalam ruang berjeruji dan lelaki yang terhempas ke masa silam itu, tampak bersandingan erat dalam gerakan, bunyi dan kata-kata Stone. Pelakon dan pendiri Teater Sendiri Kendari itu, membuka monolognya dengan apik. Ia mampu mendatangkan keterasingan dan cekam yang ngilu ke dada puluhan orang yang memenuhi ruang utama Rumah Pengetahuan (RUPA) Idea Project Kendari.

Ahmad ‘Stone’ Zain membuka monolog Kesaksian dengan beberapa larik liris dari puisi Reportase Kematian karya Irianto Ibrahim. Naskah Kesaksian itu memang sari-kembang dari puisi Reportase Kematian yang terilhami oleh kesaksian perempuan Ainun, istri tercinta Drs. Muhammad Kasim, Bupati Buton yang diculik, dikurung di RTM Kodim Baubau. Saksi mata menuturkan, di sel itulah Muhammad Kasim ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, tapi jenazahnya tak pernah pulang kepada istri dan putrinya. Kuburannya entah, laporan kematiannya ditutupi dan alasan di balik penculikan itu sengaja dibungkus rapat.

Keseluruhan kesaksian ini juga pernah dituliskan dalam sebuah buku DOM 1969: Buton Basis PKI (cetakan pertama, 1996) yang merangkum hasil investigasi sebuah peristiwa pelanggaran HAM dan memilukan atas sebuah fitnah. Oleh Pangkopkamtib ketika itu, Buton di fitnah menjadi basis Partai Komunis Indonesia di Sulawesi, yang ditandai dengan isu droping senjata dari RRC oleh KRI Pattimura di teluk Sampolawa. Fitnah droping senjata itu sendiri tidak pernah berhasil dibuktikan oleh pihak Pangkopkamtib. Rosihan Anwar yang mula-mula menelusuri jejak KRI Pattimura di Sampolawa juga tidak menemukan secuil pun alasan yang mendasari tuduhan itu.

 

Ruang Kebenaran dalam Sejarah.

MALAM itu, Stone dan Pipin (Sulprina Rahim Putri, pembaca puisi, karakter Ainun) mengantarkan monolog dengan gemilang. Stone bergerak ritmik. Pipin begitu ekspresif. Keduanya memukau puluhan pasang mata yang belum menyadari masalah apa sebenarnya yang sedang mereka saksikan dan dengar dalam pementasaan itu. Pengungkapan fakta dalam puisi Reportase Kematian cukup memadai bagi Stone dan Pipin untuk mendedah dan mengekspresikan sebagian kisah menjadi sebuah Kesaksian yang lain.

Dari sisi estetik pementasan, tata ruang dan lampu yang tak “ramai” ternyata mampu menguatkan naskah serta gerak dan kalimat-kalimat intonatif dalam monolog itu.

Dalam gelanggang diskusi selepas pementasan 20 menit itu, Ahid Hidayat, juga menyatakan ketertarikannya dan kuat mendorong agar pementasan itu digarap dalam durasi yang lebih panjang. “Lakon ini akan sangat berdaya dan kuat apabila ditampilkan dalam durasi yang tepat, dalam bentuk pementasan drama atau teater. Pesan-pesan dalam monolog yang singkat mungkin masih mampu diserap dengan baik oleh penonton, tetapi akan lebih kuat jika fakta itu disajikan dalam pementasan yang lengkap,” demikian Ahid.

Ahid benar. Kekuatan pada puisi Reportase Kematian adalah kemampuan Irianto Ibrahim menghadirkan suasana secara faktual yang terjadi di sepanjang tahun memilukan itu. Fakta yang disajikan secara puitik, juga mampu menularkan kekuatannya pada monolog yang dibawakan secara reportoar oleh Stone. Kesan serupa akan lebih kuat jika ditampilkan secara utuh dalam pertunjukan teater atau sebuah doku-drama.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pertunjukan monolog malam itu, berhasil. Ruangan yang kecil di mana monolog itu dipentaskan mendadak sesak oleh puluhan orang yang menonton. Sepertinya, tinggi atensi menyaksikan pertunjukan itu kurang diantisipasi. Instrumen perkusif —yang berada di tangan sebagian penonton— yang awalnya saya kira akan mengisi plot menolog sebagai ilustrasi, tak saya dengar dibunyikan di sepanjang pementasan.

Bagaimana pun, monolog Kesaksian yang ditampilkan Stone dan Pipin malam itu begitu memukau. Saya memujinya. Sebagai sebuah upaya memelihara ingatan, sebuah upaya agar kekerasan dan ketidak-adilan tak tenggelam sebelum diungkapkan, maka monolog Kesaksian dari Repostase Kematian ini berhasil secara historik, estetik, dan kontekstual. Sebuah upaya mengembalikan ruang kebenaran pada sejarah melalui kesenian. (IQM)

Kendari, Mei 2014


[Cerpen] Pertarungan | #1 Rohto Golden Award 2013

Pertarungan

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

sailing-boat-wave-teeth-rough-sea 

1/

KEPALA Nungku seakan mau pecah, saat darah mengalir cepat dari ribuan pembuluh di tulang belakangnya. Telapak dan jemarinya panas, perih tergesek tali pancing. Bebuku jemarinya pun terasa ngilu. Perutnya geli. Ombak menggulung berlapis, menyeret perahu kecil itu kemana-mana, dihantam air dari segala arah, bikin lambungnya bergolak dan isinya serasa hendak tumpah.

Di tengah deru badai, nelayan muda itu bertahan. Ia membatin: demi Tuhan yang hidup dan matiku di tangan-Nya, sekarang bukan waktunya untuk menyerah.

“Sebaiknya pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Begitu saran Maulida pada Nungku, sebelum ia melaut subuh kemarin. Saran ibunya itu kini terngiang-ngiang lagi di anak telinganya.

Bukannya Nungku tak mau mengindahkan saran itu. Dalam cuaca yang cerah, perahu kecil pun bisa mengarungi laut yang tenang begitu. Sedari kecil hingga jadi pemuda begini, ia diajari untuk percaya diri saat melaut sendirian. Kulitnya legam, juga karena terpanggang teriknya matahari di laut. Segala bengkak, memar, dan retak di belulangnya, juga pengalaman yang membenam di benaknya, tak ia dapat dari sekadar melihat.

Nungku memang harus membuktikan sesuatu.

2/

Sehari berselang, pada bale bambu di pekarangan samping rumah ibunya, Nungku sedang menyesap nikmat kopi hitam buatan Saimah, kakak iparnya. Dingin pagi ini belum benar-benar pergi, tapi telinganya sudah kemasukan bualan Makati bersama dua kawannya. Peruntungan di laut sudah habis, simpul mereka.

“Aneh. Sekarang ini kan bukan musim angin barat, tak ada ombak pula, tapi kenapa laut di depan sana tidur serupa bayi? Tenang sekali. Ikan pun tak ada.” Gerutu Lasindu.

Tamba menimpal. “Keadaan ini sudah nyaris lima bulan. Mobil-mobil pengepul tak mau lagi datang ke desa ini, sebab tak ada ikan yang bisa mereka bawa pergi.”

Mirip kerapu tua, kepala Maulida terangguk-angguk mendengar bualan kawan-kawan Makati, putra tertuanya. Tapi di liang telinga Nungku, omongan itu terdengar putus asa. Seperti orang raib harapannya sama sekali, begitu kata Nungku dalam hati.

Hilang harapan, maka hilang pula peruntungan, serupa tepung yang dibuyarkan angin. Terbang sia-sia. Mereka itu saja yang tak suka mencoba-coba, Nungku membenak lagi.

Ia sesap lagi kopinya. Belum sehari lewat, ia berhasil menjaring dua keranjang ikan kecil di sekitar karang selatan. Memang hanya ikan-ikan kecil, tapi satu keranjang setengah itu oleh juragan dibayari 50 ribu rupiah. Sisa ikan ia bawa pulang dan itulah yang ditanak ibunya untuk lauk.

Berputus harapan seperti itu, seolah mereka tak memikirkan akibatnya pada hidup anak-istri sendiri. Saat dapur mereka sudah tak berasap lagi, barulah mereka kaget serupa ular yang tersedak ranting.

“Buat apa melaut. Toh perut laut tiada mengandung ikan seekor pun.” Terdengar suara Lasindu membangun alasan.

“Buang-buang solar saja,” pedar Tamba pula.

“Sampai layar sobek dan jaring koyak pun, laut tenang seperti itu percuma diarungi.” Kali ini, Makati ikut bicara.

Saimah berjalan keluar dari pintu dapur sambil membawa tiga gelas kopi dan sepiring ketela rebus. “Kami ini lebih suka berharap saat kalian pulang membawa sesuatu yang bisa jadi uang. Tapi melaut di kondisi seperti ini, kalian hanya akan membuat jantung kami berdenyut mencemaskan kalian.”

Wah, Saimah ikut menyahut juga. Menyela bicara kawan-kawan suaminya, sungguh bukan sesuatu yang sopan. Nungku geleng-geleng kepala melihat tingkah iparnya itu.

Makati mendelik. Ia lempar matanya jauh-jauh, menyapu ujung pesisir utara hingga ke tanjung di bagian selatan. Perahu-perahu tertambat rapi di pantai. Drum-drum solar berdiri kosong di bawah bivak beratap pelepah kelapa. Debur ombak selalu asik didengar, walau kini tanpa suara nelayan bersahutan kala menurunkan ikan dari perahu.

Nungku menandaskan kopinya, lalu masuk rumah. Ia harus menyiapkan keperluan untuk melaut subuh esok. Ia rapikan gulungan tali pancing, lalu menegakkan dayung dekat keranjang ikan. Walau masih muda dan belum menikah, malu juga ia hidup menumpang percuma di rumah ibunya.

“Nung, kulihat sudah tegak dayungmu itu. Apa kau hendak melaut sekarang?” Maulida memergoki kesibukan Nungku.

“Besok subuh, Ina.” Nungku menjawab ibunya.

Maulida tertegun. Jika berangkat saat subuh, artinya nelayan akan melaut jauh dari pantai. “Kau yakin, Nung?”

Nungku mengangguk sambil tersenyum pada ibunya yang sepuh itu. Mendiang ayahnya yang mengajarinya melaut. Walau ibunya juga tak melaut lagi karena uzur, tetap saja Nungku kerap butuh pertimbangannya—kendati ia boleh tak perlu menurutinya karena alasan tertentu. “Semoga kali ini aku lebih beruntung dibanding hari-hari sebelumnya.”

Maulida membalas jawaban putra keduanya dengan senyuman.

Saimah yang baru masuk membawa nampan, sempat terlanga di dekat pintu dapur. Ia tersenyum melihat tingkah Nungku.

“Kenapa kau senyum macam itu?”

“Ah, tidak. Semoga beruntung ya, Nung.” Sinis Saimah.

Nungku mendelik. Ya. Oloklah aku sesukamu, Saimah. Kelak kau yang akan susah jika tak punya uang. Suamimu itu tak mau melaut, sebab bertahan dengan sangkaannya.

“Sebaiknya kau pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Saran Maulida pada putra keduanya itu.

“Tak apa-apa, Ina. Perahu kecil itu cukup kuat diajak melaut saat cuaca cerah begini.”

Ibunya mengangguk. “Kau hati-hatilah,” pesannya.

3/

“Kau serius, Nung? Kita sudah jarang melaut jauh dari pantai.” Makati memastikan aduan Saimah. Selepas dua kawan suaminya pergi, Saimah mengadukan tingkah adik iparnya itu pada Makati.

“Tidak terlalu jauh. Aku hanya rindu pada laut saja.” Jawab Nungku.

“Tak ada ikan besar di laut sana, Nung.”

Nungku tersenyum pada kakaknya. “Kalau benar begitu, maka aku bisa pulang lebih cepat, bukan?”

Makati berpaling pada istrinya yang hanya bisa angkat bahu. Ia pantas mencemaskan niat adiknya yang tiba-tiba itu. “Di bagian mana kau melaut nanti?”

“Di laut dalam, 10 kilometer jaraknya dari pesisir utara. Di bagian itu matahari tak begitu terik saat siang. Jadi aku bisa pulang sebelum sore.”

Makati tak mungkin menahan adiknya yang sedang merindui laut seperti itu. Nungku pasti kecewa jika ia halang-halangi. Niatan serupa itu wajar keluar dari benak seorang nelayan muda seperti adiknya. Suhu air di pesisir utara masih hangat di akhir bulan Juli ini, sehingga jika beruntung, adiknya masih bisa mengumpulkan ikan selebar telapak tangan.

Maka saat subuh datang, pergilah Nungku menuju pantai. Makati meminjamkan solar pada adiknya itu. Dayung sudah ia lapisi lilin, agar garam tak memenuhi pori kayu dan membuatnya berat saat dikayuh. Saimah membekalinya dengan ketela rebus dalam rantang plastik dan air minum dalam jerigen kecil.

Ia dorong perahu kecil itu agar melabuh. Udara kering laut menerobos paru-parunya, membuatnya nyaman dan hangat di subuh yang dingin itu. Empat ratus meter selepas pantai, arus balik mendorong perahu ke tengah laut. Bagus sekali. Nungku bisa menghemat bahan bakar. Ini angin timur dan Nungku menuruti nalurinya; ia arahkan perahu ke bagian utara. Mesin perahu menderu-deru saat laju, dan lunas tegak-nya membelah air.

4/

Maulida didera cemas luar biasa. Awan gelap menghalangi cahaya matahari sore yang seharusnya condong ke ufuk. Sebenarnya, cemasnya itu sudah lebih dulu datang saat hadirnya hembusan angin yang terasa aneh sejak siang tadi.

Tak hanya ibunya yang cemas macam itu, tapi Makati juga. Terang saja mereka berdua mencemaskan Nungku. Sesuai janji Nungku, mestinya perahu adiknya itu sudah tampak sejajar dengan horison langit selepas siang tadi. Tapi perahu Nungku tak nampak.

Para nelayan di desa Talaga Besar ini selalu berharap perubahan cuaca adalah pertanda baik berakhirnya paceklik ikan di perairan di depan desa mereka. Tapi bisa jadi itu pertanda lain. Tak sesiapa pun yang dapat menebak cuaca dengan persis.

Maulida mengutarakan cemasnya pada Makati sekali lagi. Makati pun paham kekhawatiran ibunya. Lalu Makati minta pertimbangan pada istrinya: akankah Saimah melarang, jika saat ini hendak ia susul adiknya ke tengah laut?

Terang saja Saimah protes dengan memasamkan muka. Bukannya ia tak sayang pada adik iparnya itu, tapi melepas suaminya ke tengah laut saat angin menderu ganas macam ini, bukanlah hal yang patut ia timbang-timbang lagi.

“Tapi, Imah. Kau lihat sendiri seperti apa cemasnya Ibu. Tak di saat begini pun, Ibu kadang mengkhawatirkan Nungku jika memancing di karang selatan. Aku juga cemas membayangkan Nungku melawan ombak sendirian.”

“Lantas subuh tadi, kenapa Abang izinkan dia?”

“Kita tidak tahu akan begini cuacanya, Imah. Kau kan tahu seperti apa gairah si Nungku itu pada laut. Ia gagal kuliah selepas SMA, maka jadi nelayan ia pikir satu-satunya hal yang pantas ia baktikan pada Ibu. Ia ingin seperti Ayah, katanya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya meninggalkan laut hanyalah mendiang Ayah. Bila gairahnya itu datang, bagaimana mungkin ia hendak kau tahan?”

“Hanya itukah cara Abang membawa Nungku kembali ke darat?”

Makati terdiam. Pertanyaan inilah yang tak mau ia dengar. Makati masygul sekarang. Tak kuasa melakukan apa-apa. Tak mungkin meminta pertimbangan ibunya yang sedang didera cemas. Ibunya pasti mengizinkan, namun Saimah sudah terang tak akan setuju.

5/

“Ayolah, Nung…!” Gumam Nungku menyemangati dirinya sendiri. Persis begitu ucapan ibu setiap kali menyemangatinya. Di tengah kesendiriannya di tengah laut begini, di saat badai sedang mengintai, hanya kata-kata ibunya saja yang membuat ia merasa tak sedang sendirian.

Ia memejamkan mata. Merasakan angin mengenai wajahnya. Liang telinganya seperti pekak saat dipenuhi angin yang berkesiur. Air laut mengayun perahu kecil itu. Nalurinya harus peka saat ini. Awan hitam yang bergulung, terdengar seperti menggelegak di atas sana. Mendiang ayah sering bilang, seorang nelayan harus menyatukan batinnya dengan laut. Ia harus menyatu dengan suasana di sekelilingnya. Telinganya akan berubah peka. Perasaannya akan tajam.

Gelap subuh tadi membuatnya tak awas, dan betapa kaget ia mendapati pagi saat berada di bagian lautan ini. Ada kelabu menutupi ufuk, sedang ia sudah sangat jauh dari pantai. Jauh dari orang-orang yang mungkin sedang mencemaskannya.

Kakinya sampai kebas dan tulang ekornya sakit karena duduk terlalu lama di undakan papan pada buritan perahu. Nungku tak mau berkilah pada dirinya sendiri. Di tengah laut begini, ia merasa seperti tamu. Duduk sendiri di hadapan tuan rumah yang sedang tak ramah. Masih beruntung, arus tak mendorongnya kian masuk ke mulut samudera.

Menjelang siang, belum ada seekor ikan yang menyambar satu umpan pun, dari 20 mata kail yang ia sebar. Sesekali Nungku menarik tali rawai seraya menatap langit di atas kepalanya. Perlahan rawai itu ia gulung kembali. Ia membawang, karena kesal tak ada ikan di ujung setiap mata kail dan kakinya mulai kesemutan.

Perahu kecil itu bagai noktah hitam di tengah laut. Di lazuardi, kelabu segera menjadi hitam yang menakutkan. Saat ini, seharusnya gelombang membuat ikan-ikan aktif bergerak, sehingga lapar dan bikin mereka memakan apa saja yang tampak berkilau.

Kelelahan membuat tubuh Nungku gayang. Di benaknya, terus terulang-ulang tekad untuk menjinjing pulang seekor ikan besar buat ibunya. Cukup seekor saja, dan itu cukup untuk mengakhiri spekulasi para nelayan lain di desanya.

Pantulan awan kelabu di atas sana, membayang hitam di permukaan laut. Lalu rerintik hujan mulai curah dari langit. Tapi tak terlalu lama, rerintik itu berubah seperti panah air yang lesak deras, menusuk daging. Angin menderu-deru. Air laut sudah bergejolak. Laut siap mendulang badai yang sejak tadi menghantui angkasa. Jujur saja, situasi ini membuat Nungku cemas luar biasa.

Lalu badai benar-benar datang. Perahu kecil itu diombang-ambingkan gelombang. Dihantam ombak dari segala arah. Diterpa air hingga dinding perahu terdengar berderak seperti mau lepas. Nungku mengikatkan tali ke pinggangnya pada undakan di buritan perahu. Ia jungkit mesin perahu, lalu memasang kitir. Bersiap-siap menghadapi badai yang mungkin akan menggila. Semua yang pernah diajarkan ayahnya sudah ia lakukan. Perahu kecil itu kini siap menari di sela gelombang.

Berbekal kitir di tangan kanan, cukup lincah Nungku mengikuti ayunan gelombang. Matanya tak mau lepas dari tali rawai yang ia gulung dengan tangan kiri, lalu silih-berganti mengawasi setiap puncak gelombang yang menuju ke arahnya, agar ia bisa lekas belok menghindar. Jangan pernah berada dalam cekungan di antara dua bukit gelombang, sebab salah satunya kemungkinan akan mendorong perahu ke dekat gelombang lainnya, mengurung dan memecahkan perahu dalam himpitan gelombang. Begitu kata ayahnya. Nungku bergidik membayangkan akibatnya.

Ayunan gelombang memainkan perahu kecil itu seperti batang korek api yang diaduk dalam tempayan. Gelora kini berhimpun di dadanya, bercampur cemas dan keberanian yang ia bangkit-bangkitkan. Satu per satu pelajaran dari ayahnya bergegas datang ke kepalanya, seperti saling berebutan memberi saran dalam suara yang ribut dan Nungku harus merukunkan mereka agar bisa mengambil keputusan terbaik sebelum bertindak.

Sedikit demi sedikit perahu kecil itu kemasukan air. Horison langit sudah raib dari matanya. Semuanya tampak hitam belaka, menyembunyikan batas pertemuan langit dan bumi. Nungku terus berharap agar awan gelap menyingkir secepatnya hingga ia bisa melihat ufuk di tengah hujan yang memanahi punggungnya. Mesin tak akan berguna di saat seperti ini. Sebatang kitir itu semoga bisa membawanya keluar menuju tepian badai.

Saat sedang menggulung tali rawai ke-16, sesuatu seperti bergerak-gerak liar di ujungnya. “Kena kau!” Desis Nungku. Tarikan ikan di ujung tali rawai itu seolah hendak menjerumuskan perahu kecilnya ke dasar samudera. Nungku menyangkutkan kitir, lalu ia pisahkan tali kailnya dari himpunan rawai sebelum ia sentak kuat-kuat. Tampaklah di matanya seekor ikan Layar di ujung sana. Ikan itu gelenyar tak henti-henti berusaha melepaskan diri.

Luar biasa besar ikan Layar di ujung tali kail Nungku. Dua meter panjangnya, nyaris sebesar perahunya. Lelaki muda itu berdiri di buritan, mengimbangi perahu dengan dua kakinya. Sesekali ia ulur tali saat ikan itu menjauh. Telapak tangannya panas terkikis tali. Belum apa-apa, ikan itu sudah menguras separuh tenaganya.

6/

Air laut, hujan dan angin tak henti menghantam perahu dan tubuhnya, tapi Nungku tak mau menyerah. Ia mengulur tali, sesekali menyentak seraya menggulung dengan cepat, agar ikan itu segera kehabisan tenaga dan kian dekat ke perahu. Sesekali pula ia harus berjongkok menahan kitir yang bergetar hebat saat perahunya condong memanjati ombak. Nungku nyaris terlempar dari perahu, saat segulung ombak besar menghantam tubuhnya dari sisi kiri. Ia buru-buru merebahkan diri sambil berpegangan erat pada bibir perahu.

Saat duduk kembali, perahu kecil itu tampak aneh. Rupanya, segulung ombak tadi telah mematahkan jarangka di sisi kiri dan menghanyutkannya entah kemana. Kini jarangka perahunya tinggal satu dan ia harus meneruskan pertarungan untuk pulang. Di tengah prahara macam ini, tak mau ia mati percuma. Ia tak sudi melepas nyawa sebelum pertarungan usai.

Menjelang subuh berikut, agaknya pertarungan mereka belum akan usai. Nungku melayani ikan Layar itu sampai di batas tenaganya akan pungkas terkuras. Angin sedikit mereda, namun gelombang masih mengaduk permukaan air. Dua makhluk Tuhan itu gigih saling mengalahkan.

Sebenarnya Nungku sedang menunggu sebuah kesempatan untuk segera mengakhiri perlawanan si ikan Layar. Ia menanti, namun tak jua kesempatan itu datang. Ikan besar itu seperti mengolok-olok kesabarannya dengan berenang cepat mengitari perahu, lalu tiba-tiba melompat saat tali kail mengencang. Serasa hendak patah tungkai lengan Nungku dibuatnya.

Suatu kali, saat peluang itu datang, justru ketika perahunya itu berada di antara dua gelombang yang membentuk bukit. Ia terpaksa mengayun kitir, membelokkan perahu untuk membelah gelombang, sehingga peluang itu lepas begitu saja.

Namun kesabarannya terbayar. Saat peluang datang sekali lagi, mata Nungku membesar melihat permukaan air yang tersibak, menyembulkan tombak di ujung hidung ikan Layar itu. Nungku yakin, ikan itu akan memukul permukaan air kuat-kuat dengan ekornya sebelum melesatkan tubuh ke udara. Ya. Itulah tandanya.

Nungku melilitkan tali kail di telapak tangan kanannya secepat yang ia bisa. Genggamannya harus kokoh, sebelum ia bersiap menyentak tali kail sekuat tenaga. Tangan kirinya juga sigap menahan rentangan tali dengan kuat. Cukup sekali peluang itu datang, maka seterusnya ada tiga kali berturut-turut ikan akan bergerak seperti itu untuk meredakan efek benturan air. Peluang itu dimanfaatkan benar-benar olehnya. Berulang ia sentak tali kailnya dan membuat ikan Layar itu terbanting tiga kali. Semoga saja itu cukup mengakhiri perlawanan si ikan Layar.

Benar saja. Ikan itu terlihat payah saat Nungku menariknya ke sisi perahu. Agak repot ia menjaga ikan itu tetap bersisian dengan perahu kecilnya saat gelombang terus mengayun dan layar besar di punggung ikan tegak mengancam. Jika tak hati-hati, ujung tulang layar ikan yang runcing itu bisa menusuk dadanya.

Nungku menghunus pisau besar dari pinggangnya. “Kau hebat sekali tadi,” bisiknya pada ikan besar itu, “aku menghormatimu di pertarungan ini. Tapi, maafkan aku, kawan. Kita harus memenuhi takdir kita masing-masing.”

Perlahan Nungku menekan pisaunya ke lambung ikan besar itu. Menahannya sejenak agar darah ikan tak banyak keluar dan ikan bisa mati tanpa banyak kesakitan. Akan repot ia nanti jika darah ikan justru mengundang datangnya kawanan hiu.

“Aku janji akan menguburkan jantungmu di pantai.” Nungku menjanjikan ritual Tosangia, sebagai penghormatan bagi makhluk laut yang ia kalahkan dalam pertarungan. Ini penting. Tapi ia harus kembali ke pantai dengan selamat untuk bisa memenuhi janjinya.

Tubuh ikan Layar itu ia ikat di sisi kiri perahu, di bagian jarangka yang patah. Ternyata segelombang ombak terakhir yang menerjang perahunya telah pula mematahkan kitir, membuat mesinnya kemasukan air dan tak bisa lagi dinyalakan. Hanya sebatang dayung saja harapannya untuk pulang.

Langit belum cerah, dan ombak masih cukup tinggi. Hujan sudah selesai dan angin perlahan mereda. Tapi Nungku harus pulang, semoga bisa mencapai pantai sebelum siang. Ikan di sisi perahunya itu akan memupus sangkaan orang tentang laut, tentang peruntungan yang kata mereka sudah habis. Sangkaan-sangkaan yang serupa buih ombak di setiap benak nelayan desa Talaga Besar akan reda saat ia nanti mendaratkan ikan ini di pantai.

Terlintas wajah ibunya, juga wajah ayahnya. Wajah Makati dan istrinya. Wajah-wajah yang menemani kesendiriannya dalam pertarungan di tengah badai tadi. Senyum ibunya masih membekas di pelupuk matanya, seolah memberinya semangat untuk terus mengayuh menuju pantai. Pertarungan yang membuatnya lebih percaya diri. Ia kian yakin pada petatah-petitih yang kerap diucapkan ibunya: Tuhan tak pernah menyembunyikan setitik nikmat pun dari hambanya.

Saatnya pulang.

“Terima kasih, Ibu.” Nungku mengayuh dayung menuju pantai. (*)

Molenvliet, 2013.

Selengkapnya, baca di: LMCR-RayaKultura


[Short Story] Fireflies Party | Jawa Pos | Sunday, April 27, 2014

Fireflies Party

by Ilham Q Moehiddin

translated by Jonas Chapman (Canada)

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos 

1/

NO was tomb here. Only a cavity in a giant Willow tree, trunk upright in the middle of the village. Cavities are caused by lightning blow and often filled with fireflies were partying after the bodies placed, makes it look like a party on New Year’s Eve lanterns.

When the old Willow was found in the northern woods, Ama (father) Huga amazed with its size. Then he set up house 500 meters from the tree. In the first three years, the people come together, then took up a house there. The houses are now surrounded the giant old Willow. Ama Huga astonished at the old Willow was never lost even before his death. He wanted a cavity in the old Willow into his grave and the grave of every person who later died in the village that he calls this Lere’Ea. People obeyed. Because trees absorb Willow stench around him, the tree was also sucking the stench of death from the bodies of the dead.

Funeral tree is an effective solution that does not run out village land for the grave. Cemeteries aren’t cumbersome and inefficient.Willow trees alive and growing giant, as the final home for the dead.

2/

Intina worried about the attitude of some men aren’t attention to the special things that he keeps on Mori. They fascinated to him. Liked she heave black hair,thick eyebrows on the oval face, or solid body. Mori married Intina in 12 years ago, and he still Mori wife until one day the man she loved was home.

“Stop waiting for Mori,” one of them tried to convince Intina. But he answered them with a slamming door. How he needed to do to destroy the hopes of every man in this village.

Intina may fool for still maintaining missed. Mori went when Waipode have eight months old. On the last morning she looked at her husband, was dawn when Mori kissed her daughter forehead, then Mori shut the door from the outside. Intina waiting in each of the next morning, hoping Mori reveals the door and smiled at them both. Small Waipode never smell his father’s body is now a teenager.

Waipode didn’t ask his father. Of course to difficult misses something he had never meet. Mori is a problem of his mother and it was not for Waipode. Mori is not the first time he saw when his eyes began to open.

3/

One night, before he was 13 years, Waipode suddenly get fever. Four days later,the fever rises and nobody Lere’Ea shaman can suppress. They give up so easily, such as shaman beginners learn stirring potions. On the sixth day, Waipode had opened her eyes, before seizures and silent.

Mysterious diseased and sudden death was a shock every person in Lere’Ea. Intina cleaning her daughter body and wrapped it in a clean cloth. Such manners here, it’s Waipode dead body will go into cavity the giant Willow.

From wooden chair on the porch of his house, Intina not move until the night comes. She eyes show cavity that had filled the fireflies. He fainted due to fatigue and woke in his bed on the third night, when the rowdy village.

Fireflies party at the Willow cavity, casting a silvery glow as the emergence of two hands flailing. People are horrified when two hands were gripping the grass, crawling, like trying to drag him-self out of the cavity. Body covered in soil plain girl who surrounded fireflies. People are increasingly rowdy. For the first time they saw the dead rise from the cavity Willow.

Standing on confusion, the girl asked. “Where’s my mother? Where Intina, my mother?”

Yes. The girl’s name and acknowledge Intina as his mother.

“I’m Waipode, his daughter.”

People choked. She was admitted as Waipode, Intina daughter, who died three days ago. Intina removing the sheath and hurried over to —whoever he is— as he sheathed body began to be plain that the eyes of every man’s attention in the crowd.

All the men presented there, except Kalai. The doll maker at living the end of the Lere’Ea village, suddenly ill and fell asleep under the influence of drugs. He did not know the noise that just happened here.

4/

In Lere’Ea no one can make as good a wooden doll. Kalai poured all his feelings when making the dolls. Sculpt female dolls as high as one meter of living. The female doll only. On weekends, his old wagon it creaky to road up the rocky village to the town, to the store where he usually left the doll for sale.

There’s always a doll that is not salable. On some models, for some reason do not want to buy. Maybe they don’t like in shape. The dolls are not sold that he brought back and lined up on a shelf in the living room of his house, as a marker to no longer make such a model. Raw material stuffed it increasingly difficult to get. Willow tree in the middle of the village is difficult to be climbed to a branch of the straight.

Yes. Wicker Willow is a secret advantage Kalai sculptured dolls. Willow wood is heated first before he chisels into head, body,arms and legs for her dolls. Soft wood Texture to make the blade Kalai agile dancing all over the wood.

Willow as it grows to Kalai. Willow’s death smoked aroma of corpsesin their sockets, have to fertilize and cultivate new tree limbs.

But Kalai not make a doll when the girl out of the cavity Willow. He also did not exist among many men who feel lucky to catch the girl’s body. Because sick make Kalai must meet Lere’Ea shaman to buy potions. The effects of the potion made him feel tired and sleepy. He slept all day and did not know anything had happened in the village after dusk.

The shamans in Lere’Ea confirmed that girls who out of the Willow cavity that is Waipode, Intina daughter. The odd thing is they are difficult to explain. The willows have turned Waipode in three days after his death. Waipode out in such a big girl, 10 years older than the teenage girl Intina inserted into the tree cavity.

Intina not want to go about it. The girl came back to life in any form, if he does Waipode, then Intina will admit it. It feels weird, but their can lives as before. As before the death of her daughter went and returned.

5/

Waipode like Kalai made dolls. Dolls and handsome young man, are two things that can always create a story for a mature girl. “I like your dolls,”said Waipode.

Kalai smile. “I heard, you make noise the whole village. What happens on the other side there? So the gods let you go home?” Kalai kidding.

Waipode laugh. “On the other side is more quiet. There was no one to fight for theland. There was no such incident experienced by Adenar families banned prayer and expelled from Laibatara (house of worship). Sheol is more tolerant than the world of the living.”

Kalai was stunned to hear the words Waipode.

“This for you,” Kalai offered Waipode a newly doll he made finished. Waipode nodded happily. The doll has not been colored.

It was just a little conversation. But Waipode is always there if the young man working moment. Intimacy they make other youths jealous. Waipode have chosen, and Kalai it’s a lucky young man.

6/

Kalai realize that strange things often happen at his house late at night. His workshop is a mess when he left, always neatly next morning. Utensils arranged on the same spot. Sharpener timber garbage disappear without trace. All over the house clean. As there is a mysterious hand that has helped clean up the mess.

When Kalai asleep, the homemade doll moves. Yes. Wooden dolls that live on and off the display rack in the middle of the house. They explore each room, acting like a young girl who was busy tidying the house. They return all the objects into place, cooking porridge and coffee heats for Kalai before they go back into place before dawn.

However, the dolls start talk about Waipode. The presence of the girl is a serious problem for them.

Giant Willow in the middle of the village store incongruity since it began to be used as a tomb tree. Trees not only absorb thescent of death, but also save the souls of the dead girl in the adult sap vessels. The spirits that dwell there and wait for the new body. They accidentally life by the love that poured out when he Kalai sculpting dolls.

They hate have often the young man admired Waipode. It only took a little reason for a death plan.

7/

It’s no coincidence when a small collision Kalai get the wheels off and overthrow the old wagon with passengers. Waipode already dead when Kalai issuing his body from the crush of the wagon.

Intina feeling devastated over Waipode back to the death for the second time. He is waiting for a miracle that never came in the thirdday after the body of Waipode he put in Willow cavity. Her daughter is not alive anymore. There was no light silvery, except fireflies crowd still partying.

However, Kalai has a way of overcoming grief. On the third day, when Intina hope Waipode out of the cavity of Willow, Kalai has completed one wooden doll.

One doll that closely resembles Waipode. The dolls are made Kalai crazy. Dolls who live at the end of the night and silence come back before dawn. The dolls are often celebrate passion of Fireflies, ask Kalai enter the ten other doll into the fire, and made the young man swears no longer sculpt doll. (*)

Ubud, October 2013

Twitter: @IlhamQM

 

*) The idea of this short story from tree-holebaby burial tradition in Tana Toraja and the tree-burial traditions in Trunyan, Bali.

**) In the Indonesian version, these stories was publication for first time in the Jawa Pos newspaper, issue on Sunday, April 27th, 2014.


[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 164 pengikut lainnya.