[Cerpen] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills | Jawa Pos | Minggu, 2 Agustus 2015

Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[CERPEN] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills - Ilham Q Moehiddin_Ilust2

#1

DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi —dengan kesuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.

“Kau suka buku?” Lavinsky duduk tepat di depannya.

“Tidak!” Ketus jawaban gadis itu —namanya Lalena.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja!”

“Tentu kau punya alasan.”

Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. “Baiklah,” selanya tenang, “bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?”

“Aku juga tak suka bunga!”

“Aneh—” Lavinsky berkemam, “—biasanya perempuan suka pada bunga.”

“Aku bukan perempuan seperti itu!” Lalena menyahutinya.

Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh lengan Lalena. “Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?”

Lavinsky menggeleng cepat. “Tidak. Ceritalah jika kau suka saja.”

Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. “Aku menyukai belati dan gunting kuku.” Suara gadis itu datar sekali.

Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?

Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.

 

#2

LAVINSKY bertemu Lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.

Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.

Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak pernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali —untuk standar Lavinsky— Lalena adalah gadis paling beruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimana Lavinsky berhasil menahan diri dari sikap isengnya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong di depan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.

“Aku penasaran perihal gunting kuku itu,” gumam Lavinsky.

“Itu tentang seorang lelaki—” Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.

“Seorang lelaki?”

“—Lelaki itu mati karena gunting kuku.”

Lavinsky tertegun. Lalena mengawali ceritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film Sleepaway Camp. “Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki —mati?”

Lalena berpaling ke jendela. “Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat,” nafas Lalena memburu. “Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas.”

Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.

Mata gadis itu berkaca-kaca. “Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali,” ujarnya kemudian. “Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya.”

Well —Itu perkenalan yang cukup lancar.”

Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.

“Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor dubuk yang gelisah.”

Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan berangin seperti membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. “Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam itu mengurung ibuku di toilet sebelum menuntaskan urusannya kurang dari satu menit.”

“Heh —” Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengar satir.

“Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada seumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin.”

Jengah. Lavinsky jengah mendengarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.

Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah itu cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?

“Tentang belati itu?” Lavinsky menyodorkan lagi se-sloki Vodka pada Lalena.

“Aku tak suka langsung ke topik itu!” Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.

Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis ini.

 

#3

MENGENAI Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bisa mengubah hidupnya. Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan —sekaligus.

Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya sendiri —dalam kisah Borges.

“Baiklah.” Lavinsky bersabar. “Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu.”

Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.

“Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda.”

Lavinsky mengusap tengkuknya. “Sebentar Lalena—” tahannya, “—apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?”

“Belum,” desis Lalena. “Ini masih tentang diabetes!”

Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.

“Lelaki itu kembali membuntuti seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menutupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan menggoreskan gunting kuku ke selangkangnya sebelum jatuh usai menabrak wastafel.”

“Lelaki itu sukar ditemukan setelah kejadian itu, kan?”

Lalena tak menggubris Lavinsky. “Ibuku tak perlu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya.”

“Ibumu memaafkannya?”

“Seharusnya tidak—” Lalena mengatupkan matanya, “—wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti dubuk kebiri yang akan mengikutimu ke mana pun. ‘Dubuk’ yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku.”

Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah.

“Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?” Lalena menyeringai. “Bukan —bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung.”

“Ibumu memaafkannya?” Ulang Lavinsky.

“Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah.”

Lavinsky bergidik. “Bukankah menyangkali lelaki itu, berarti menyangkali dirimu?”

“Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri.”

Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosong dari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.

“Bagaimana lelaki itu setelahnya?” Lavinsky memecahkan kebisuan.

“Mati!” Tak ada ekspresi di wajah Lalena. “Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati.”

Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.

“Apakah kau masih ingin mendengarkan kisah belati itu?”

Lavinsky menggeleng. “Cukup tentang gunting kuku dan diabetes saja.”

Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut menari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.

 

#4

MATA Lalena menjelajahi sepotong Praha di bawah sana. Jembatan Karluvmost dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara Zizkov dan Jam Astronomi di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.

“Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Lalena tiba-tiba bicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.

“Hah?” Lavinsky gelagapan.

“Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan.”

Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.

Pelipis Lalena mengeras. “Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku.”

Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir The Prague Cemetery. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.

Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. Tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati —itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun.

Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)

 

Molenvliet, Maret 2015


[Cerpen] Kunang-kunang Laut | Koran Tempo | Minggu, 5 Juli 2015

Kunang-kunang Laut

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Koran Tempo Minggu 05 Juli 2015c

 

URASHIMA Yoshi mendapat jawaban atas kecemasannya. “Orang-orang sudah meninggalkan tradisi tua yang tak kau lepaskan. Zaman Edo sudah berakhir dan kebiasaanmu itu membuat mereka cemas,” tukas Jiraiya, lelaki tua penjaga kuil Hachiman.

Jiraiya meminta Yoshi membakar batang hio sebelum mereka larut dalam doa.

Bagi Yoshi, tak terlintas di benaknya untuk melepaskan kebiasaan klan Urashima yang teguh menentang modernisasi sejak era Meiji. Jika pun kecemasan orang-orang Sugashima dapat ia perhitungkan sejak awal, belum tentu ia menuruti kehendak mereka. Harumi, adalah satu-satunya kerumitan yang ingin ia hindari.

Pertama kali Yoshi melihat gadis itu, saat para Ama —perempuan penyelam tradisional— berkumpul di atas bukit Mohimjo sebelum melakukan penyelaman di awal musim. Para Ama menuruni bukit dari sisi barat, menggendong keranjang kayu isooke berisi peralatan selam seraya berbincang dan tertawa. Di bawah bukit, mereka berkumpul dalam kelompok kecil tiga orang, menunggu para lelaki menurunkan perahu ke air. Saat itulah Yoshi bersitatap dengan Harumi. Yoshi buru-buru membuang pandangannya dan pura-pura mengetam bibir perahunya. Merasa telah membuat Yoshi malu, Harumi membungkuk dalam-dalam dari kejauhan untuk menyatakan maafnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Yoshi berbalik menghadapi Jiraiya, setelah berdoa cukup lama. “Tidakkah pendapat mereka akan berubah?”

Jiraiya menekan tubuhnya, membungkuk kecil saat menyodorkan teh dan disambut Yoshi dengan dua tangan. Yoshi meneguk teh pahit itu.

“Lihatlah bagaimana aku berakhir di sini. Mereka menghendakimu menjadi seperti yang mereka inginkan.” Penjaga kuil Hachiman itu pelan mengibaskan kepalanya. “Kayu selalu dapat dibentuk, Urashima San.”

Yoshi memahami Jiraiya. Ia harus menempatkan dirinya seperti batang-batang perdu kacang Miju yang menjalar di atas pasir. Ia harus berusaha keras membuktikan apapun kepada kepala keluarga Hatake. Demi Harumi.

 

YOSHI mengetam bibir perahunya. Bukit Mohimjo berwarna kelabu di kejauhan, menjorok ke laut tertopang kokoh. Beberapa camar kamome mengapung di udara. Sesekali menukik, menyambar ketam kecil hamaguri yang berusaha menyamarkan diri dalam cerukan karang. Matahari serong, mendorong bayangan Mohimjo rebah ke pasir pantai Teluk Ise di pesisir Sugashima.

Tak jauh dari pantai, tegak rumah kecil Yoshi yang dipenuhi perabotan kayu buatan tangan. Yoshi mendirikan rumah di puncak bayangan Mohimjo, di bagian landai sebelah utara, 500 meter dari desa nelayan Sugashima. Impian yang kini tersisa di kepala Yoshi adalah melihat rumah itu dipenuhi lima orang anak. Itulah janjinya pada ibunya, sebelum Mida wafat tujuh tahun silam.

Mida adalah seorang Ama juga di Sugashima. Dinikahi Urashima Daiyo yang wafat saat Yoshi berusia 18 tahun. Menjadi Ama adalah kebanggaan perempuan Sugashima. Para perempuan berani yang hanya mengenakan cawat nelayan perempuan, fundoshi, menembus kedalaman Teluk Ise berbekal tali pengikat pinggang mengumpulkan kerang mutiara.

Dari ibunya, Yoshi menerima sifatnya yang ramah. Tetapi dari Daiyo, Yoshi menetapkan karakter dirinya sebagai pemuda rajin dengan tubuh berhias otot dan berkulit terang. Tidak seperti umumnya nelayan di pesisir timur Honshu, kulit Yoshi tak terbakar matahari. Ia tak menghabiskan semua umurnya di laut. Kemahirannya mengolah kayu adalah alasan separuh waktunya berada di daratan. Entah kenapa para kepala keluarga di Sugashima tak berkenan mengambilnya sebagai menantu.

 

MENGENAI Harumi —ia gadis lincah dan riang. Ia cantik dengan dahi sempit dan anak rambut yang kerap membelah di tepian ikat kepala hachimaki berpola bunga sakura. Matanya sedikit besar dengan kulit muka yang agak gelap. Ia putri kedua kepala keluarga Hatake, seorang berpengaruh besar di Sugashima.

Apa yang Harumi kenali soal laut hanyalah mutiara, dinginnya air teluk Ise dan ketelanjangan. Gadis itu tak kuasa menyatakan penolakannya di hadapan kepala keluarga Hatake. Ia seperti sedang berdiri di ambang pintu, saat satu kakinya berada di seberang pintu rumah ayahnya.

Harumi tak berdaya mengubah pendapat kepala keluarga Hatake. Ia hanya satu dari tiga anak perempuan Hatake yang menyukai dinginnya laut, walau tetap mengikuti cara-cara lama Ama yang tidak menyekat rasa malu di tubuhnya. Ia memang tak pernah berpikir untuk menolak tradisi ini. Harumi menikmati hangatnya cahaya matahari di tubuh yang hanya terbalut fundoshi dan hachimaki. Menikmati perbincangan saat menuruni bukit Mohimjo sambil menjinjing isooke dan berbagi hal yang bisa memancing tawa. Ia menyukai kulitnya yang terbakar matahari.

—Airmata tak pernah lelah merawat rasa malunya sebagai perempuan.

Bahkan seorang nelayan lelaki harus merasa malu saat mendapatinya dalam penampilan Ama. Tetapi tradisi tak akan berubah hanya karena seorang telah terperangkap rasa malu, sekaligus menyadari bahwa itulah sebab dua anak perempuan Hatake menolak tradisi Ama.

Dua saudarinya menolak dengan alasan yang ia temui lewat cara Yoshi menatapnya. Mereka tolak cara-cara lama para Ama di seluruh pesisir timur Honshu dengan cara masing-masing, dan tak mau terjebak pada tradisi kuno Sugashima yang mengatur seperti apa perempuan memandang dirinya sendiri.

Oh, Harumi. Betapa cemas ia membayangkan seperti apa pendapat Yoshi.

“Bulan purnama menandakan waktu bagi kerang mutiara untuk dipanen. Seorang Ama dari keluarga Hatake akan bergabung bersama para Ama lain di pantai Sugashima,” kepala keluarga Hatake memberi maklumat.

“Sampai kapan Harumi menjadi Ama, Ayah?” Entah apa yang membuat Ando berani bertanya seperti itu pada kepala keluarga Hatake.

Merah muka Hatake. “Kehormatan perempuan Sugashima harus dipelihara!”

“Ke mana rasa malu klan Hatake saat Harumi telanjang dan hanya mengenakan fundoshi?”

Mottainai!” Hatake memukul meja dan seketika mengubah warna dalu di pipi Ando menjadi pias. Ibunya menyerukan nama kehormatan Hatake, sebelum lelaki itu bertindak terlalu jauh. “Patuhi ayahmu, Hatake Ando! Bersikaplah seperti gadis lain di Sugashima ini. Jangan membuat kami malu.”

Malu? —Kata itu seperti belati kissaki-moroha.

Tatapan Ando memancarkan kebencian yang membuat ibunya cemas. Ando mengasihani Harumi, adik perempuannya yang bintik kulit dadanya berkilau seperti umi hotaru di kedalaman air.

 

YOSHI memahami setiap kecemasan Harumi. Ia mendengarkan gunjing para Ama tentang keluarga Hatake. Hari kepala keluarga Hatake menelan rasa malunya adalah hari di mana Ando terang-terangan menyatakan penolakannya pada tradisi kuno Ama di Sugashima. Harumi tetap turun menyelam dengan fundoshi menutupi pinggulnya.

Para Ama mencemooh Hatake sebagai lelaki Sugashima yang tak bisa mengendalikan anak-anak perempuannya. Penghinaan menghunjam telinga Hatake. Lelaki itu kini merasa kehormatannya telah dinodai di hadapan penduduk Sugashima.

Yoshi seperti mendengar kabar yang dibawa kamome, bahwa Hatake telah mendera punggung Ando dengan cemeti ekor pari. Hukuman itu diterima Ando tanpa keluh, kecuali mata yang memancarkan kebencian dan amarah. Ia menolak permintaan ibunya agar menjerit untuk mengakhiri tindakan ayahnya. Ando mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Dua hari berikutnya, saat Ama turun melaut, orang-orang dikejutkan dengan kehadiran Ando yang tegak di tepian karang bukit Mohimjo dengan tsumugi (kimono sehari-hari perempuan) berwarna biru berpola putih sakura, memasrahkan rambutnya dipermainkan angin. Di belakangnya, tegak berdiri Harumi dengan fundoshi dan isooke.

Senyum Hatake Ando seperti senyum gadis yang bahagia, saat melepas adiknya melaut di penyelaman terakhir musim ini. Ando seperti telah memahami Harumi. Hanya mata mereka yang bicara. Di bawah Mohimjo, kamome terbang lincah menyisir permukaan air, menukik seketika lalu kembali mengapung di udara dengan ikan kecil atau hamaguri terkepit di paruhnya.

“Maafkan aku, Ando.” Harumi membungkuk kecil pada kakaknya. Kelembutan menyaput di mata Ando. “Kenapa ini kau lakukan?”

“Aku suka umi hotaru. Kunang-kunang laut,” kata Harumi, “Kunang-kunang Laut yang bebas berenang di permukaan air dan menerangi laut. Memandu perahu nelayan dan membiarkan mereka mencintaiku dengan cara yang mereka pahami sebagai Ama.”

“Aku menyayangimu, Harumi—” bibir Ando bergetar, “—aku menghormatimu seperti aku menghormati diriku sendiri.”

Harumi membungkuk lagi, lalu tegak perlahan dengan wajah yang langsung dihadapkan ke laut sebelum turun bergabung bersama Ama lainnya. Mata Ando mengikuti Harumi. Tak ada lagi yang ingin ia cemaskan. “Kita akan baik-baik saja, Harumi.”

Dua hari setelahnya, kepala keluarga Hatake memimpin keluarganya berdoa di puncak Mohimjo. Ando mengundang Yoshi untuk ikut bersama dalam doa bagi Harumi. Memakai tsumugi seperti kemarin, Ando berdiri di sisi Yoshi yang mengenakan kinagashi (kimono sehari-hari lelaki) berwarna senada. Di tengah doa, Yoshi menatap hamparan laut teluk Ise yang teduh. Di tangan kanannya, ada segenggam rumput laut hitam hijiki. Dagunya terangkat saat ia penuhi dadanya dengan udara laut yang kering.

—Oh, Harumi yang malang.

Semoga umi hotaru menyambutnya dengan gembira. Tiga hari lalu, Harumi terseret arus Teluk Ise, memutuskan tali pengikat pinggangnya dan menyeret tubuhnya menuju kedalaman laut. Mungkin ini menjawab impiannya ingin seperti Kunang-kunang laut yang melebur, berpendak kebiruan di antara terumbu teluk Ise untuk merayakan cahaya.

 

untuk Ryotaro Shiba


[Buku Baru] Perempuan Perempuan Liguria | Kumcer – Mei, 2015

PPL-Promo2d2


[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 


[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


[Buku Baru] 4 Musim Cinta | Novel | Pringadi Abdi Surya

4 Musim Cinta

4 Musim Cinta

(sebuah novel)

Terbit 13 Maret 2015 !

 

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.

 

4 Musim Cinta (sebuah novel)

Penulis: Mandewi Gafur Puguh Pringadi (a.k.a Pringadi Abdi Surya)

Penerbit: Exchange

ISBN: 978-602-72024-2-9

Spek Buku: 333 hlm. | 14 x 21 cm | SC | Bookpaper

Harga: Rp 59.500,-

Email: fiksiexchange@gmail.com

Website: http://www.kaurama.com

 

“Inspiratif! Menggetarkan! Menghanyutkan! Tak kusangka bisa lahir sebuah karya hebat dari tangan para abdi negara.”

—Ahmad Fuadi, pengarang Trilogi Negeri 5 Menara.

“Ada banyak hikmah dalam novel ini. Tak hanya melulu soal cinta. Selain menyajikan suka-duka kehidupan para pegawai negara, buku ini pun bisa menjadi sebuah kritik tentang bagaimana mengatur negara seharusnya.”

—Marwanto Harjowiryono, Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu RI.

“Novel ini menggambarkan kesenyawaan ragam cerita, pengalaman dan harapan yang berjejal dan lalu-lalang di layar kehidupan para pegawai negara. Sebuah upaya yang ambisius!”

—Ahmad Nurholis, inisiator penulisan 4 Musim Cinta.

“Sensasi membaca novel ini mirip ketika aku mendengarkan deep house music. Di setiap keluk dan tikungan kisahnya menyajikan kejutan atau ungkapan yang tidak bikin bosan.”

—Victor Delvy Tutupary, kandidat doktor filsafat.


[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).


[Pertala] Kamar Merah | H. G. Wells

Kamar Merah

Oleh H. G. Wells

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

TheRedRoom565

KUPIKIR, orang-orang jompo kerap mengoceh untuk mengenyahkan ketakutan mereka. Kupandangi sekeliling tempat ini dan mendapati diriku dalam cermin tua di sudut ruangan. “Ya. Semoga aku tidak bertemu sesuatu malam ini,” ujarku.

“Terserah kau.” Kata lelaki tua berlengan kayu.

Suara menyedihkan terdengar dari engsel pintu yang terbuka saat seorang lelaki tua lain berjalan masuk sambil menyeret kakinya. Tubuhnya lebih bungkuk dan kulitnya lebih keriput. Ia menopang dirinya dengan tongkat. Bibir bawahnya tergantung mengerikan dengan gigi busuk menguning. Sikapnya padaku sungguh aneh—mata kecilnya hanya menatap tajam dari bawah bayangan alisnya. Kemudian ia terbatuk.

“Ya. Ini pilihanku—” kataku. Atavistik telah membawa dampak tidak manusiawi pada orang-orang seperti ini; menurunkan kualitas manusia dari hari ke hari. “Bisakah kalian menunjukkan kamar berhantu itu?”

Aku menunggu, memandang mereka satu per satu.

“Ada lilin di depan pintu,” kata lelaki tua berlengan kayu. “Jika kau akan ke kamar merah malam ini—”

“Inilah malam dari semua malam!” Gumam wanita tua yang duduk di depan perapian.

“—seorang diri.”

“Tunjukkan arahnya.”

“Berjalanlah lurus di koridor bawah,” ia menunjuk, “sampai kau temukan tangga spiral yang menuju lantai dua di balik pintu berlapis baize hijau. Naiklah, susuri koridor atas—kamar merah itu di sebelah kiri di ujung koridor.”

Aku mengulangi petunjuknya dan ia mengangguk.

“Apa kau sungguh akan memeriksa kamar itu?” Lelaki tua bermata kecil itu bertanya sembari berdiri dan memutari meja, bergabung dengan dua kawannya di depan perapian.

“Itulah tujuanku kemari,” aku melangkah ke pintu.

“Inilah malam dari semua malam—” Terdengar gumaman wanita tua itu lagi.

Di pintu aku berhenti, kulihat mereka melalui bahuku. Mereka duduk merapat dengan mata lurus ke perapian. “Selamat malam,” kataku di ambang pintu.

“Terserah kau saja—” kata lelaki tua berlengan kayu.

**

Kususuri koridor bawah dengan lilin di tangan. Langkahku menciptakan gema yang aneh. Bangunan ini dari masa yang lebih tua, masa ketika spiritualitas begitu menakutkan, ketika kemustahilan jadi masuk akal, ketika kutukan, sihir dan hantu-hantu tidak disangkali. Keadaan mereka sangat spektral; karakter yang seharusnya sudah punah—memilih hidup di bangunan tua berhantu. Orang-orang seperti itu selalu ada di setiap waktu.

Koridor ini gelap dan lembab, dindingnya berselaput lumut. Nyala lilin di tanganku membentuk bayangan yang menari di dinding. Gema memantul di koridor dan kegelapan merayap di belakangku—kegelapan di depanku seperti menyingkir setiap kali aku melangkah maju. Lantai tampak melebar di ujung koridor. Aku berhenti, memastikan suara gemerisik—yang kukira dari sesuatu yang merangkak di belakangku. Kutarik gagang pintu berlapis baize hijau dan mendapati diriku berdiri di bawah tangga spiral dari susunan batu padas.

Cahaya bulan menerobos jendela besar di ujung koridor. Pintu kamar merah tampak di sana. Di sinilah para penghuni awal tempat ini ditemukan tewas, dan ingatan pada cerita itu membuatku cemas. Hening yang mencekam. Tergesa kudorong pintu kamar itu sembari sedikit menoleh pada keheningan koridor di belakangku.

Inilah kamar merah Kastil Lorraine, tempat seorang countess muda ditemukan mati. Menaklukkan tempat-tempat berhantu adalah upaya yang baik untuk mengakhiri takhayul. Ada cerita tua terkait kamar ini—balik ke masa di mana semua hal luar biasa ini bermula; kisah seorang istri pemalu dan hidupnya tak sengaja berakhir tragis dalam gurauan menakutkan suaminya.

Aku menengok ke luar melalui jeruji jendela. Hanya samar yang aneh di luar sana. Kegelapan juga meringkuk di relung, cerukan, dan di lipatan dinding kamar ini. Warna merah berubah kecoklatan dan perabotan menjadi kusam karena debu. Kisah-kisah aneh secara keji menenggelamkan semua keindahan ini, membuat legenda gelap tempat ini tumbuh subur di benak setiap orang. Cahaya lilinku gagal mencapai ujung kamar dan justru meninggalkan kesan misterius pada lantai yang kusam.

Kuputuskan memeriksa tempat ini lebih teliti dan berusaha tidak meluputkan sesuatu yang bisa diimajinasikan sebagai takhayul berikutnya. Kukelilingi kamar ini, memeriksa perabotan, menyingkap kelambu, membuka lipatan tirai, membungkuk di perapian, menekan panel-panel kayu untuk membuka pintu rahasia yang mungkin ada. Langkahku menimbulkan gema aneh. Saat mencapai ceruk, aku terkejut menemukan wajahku di sebuah cermin besar. Di cermin itu, wajahku—putih.

Bingkai cermin itu punya sepasang sconce. Aku nyalakan dua lilin yang masih ada di situ. Kini suasana cukup benderang. Kusingkirkan chintz dan mendorong sebuah kursi untuk kujadikan pembatas. Entah kenapa aku merasa sesuatu sedang mengendalikan kegelapan dan kesuraman di kamar ini—gema dari suara derak kayu mengundang imajinasiku. Bayangan pada ceruk di ujung kamar seperti menampilkan kehadiran lain. Sugesti aneh dari sesuatu yang tersembunyi masuk ke benakku begitu saja. Di ceruk itu kunyalakan sebatang lilin.

Lega tidak menemukan sesuatu yang nyata, aku mengisi waktu dengan merangkai sajak mengenai legenda tempat ini. Kadang aku bersajak keras-keras, tapi aneh mendengar gema dari suaraku sendiri—untuk alasan yang sama aku berhenti setelah beberapa saat.

Cahaya lilin di ceruk berkelip, menciptakan penumbra yang terus bergerak seperti menari tanpa suara. Teringat pada lilin yang kulihat di koridor, aku ke sana dan kembali dengan sepuluh lilin di tanganku. Usai kunyalakan, semuanya kutempatkan di area yang samar—menerangi nyaris seluruh bagian kamar ini. Kewaspadaan ini terasa berat. Aku memerhatikan jarum penunjuk menit yang merayap di arlojiku menjelang tengah malam.

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya sesuatu sedang berlangsung. Entah kapan lilin-lilin mulai padam, tapi saat aku menoleh, kudapati kegelapan bermunculan kembali ke tempatnya. Kukeluarkan korek api dari sakuku, berjalan melintasi ruangan dan menyalakan kembali lilin-lilin yang padam. Saat sedang memantik api, sesuatu tampak berkedip pada dinding di sisiku. Aku menoleh dan melihat dua lilin di atas meja kecil baru saja dipadamkan. “Demi Tuhan!” Saat aku berdiri terpana.

Sedetik berikutnya dua lilin di sconce cermin mendadak padam, seperti dipadamkan oleh telunjuk dan ibu jari seseorang. Sebuah lilin lain di sisi ranjang ikut padam dan kegelapan mendekat ke arahku. Berikutnya yang terjadi adalah—satu demi satu lilin padam berurutan. “Hentikan!” Teriakku ketakutan seraya melangkah mundur.

Kegelapan dengan cepat hendak membungkus tubuhku. Aku bergeser ke arah cerukan dan menyalakan sebuah lilin di tempat itu. “Jangan usik lilin-lilin ini—” kataku entah pada siapa.

Wajahku pucat, tanganku gemetar dan berkali-kali gagal memantik api dari kotaknya. Seperti dinaungi jubah kegelapan, dua lilin lagi padam. Tampak sesuatu yang banyak sedang merayapi lantai di dekat pintu. Empat lilin lain menyusul padam sekaligus di berbagai sudut kamar dan dengan tubuh gemetar aku berusaha menjaga lilin di dekat tetap menyala.

Aku berharap bisa pingsan saja saat itu, saat sebuah tangan yang samar baru saja memadamkan dua lilin di dekat perapian. Teror mencengkeram dadaku. Aku berteriak seraya melompat dari cerukan ke arah cahaya bulan di bawah jendela. Sial—tidak sengaja korek api kujatuhkan entah di mana. Sementara satu per satu lilin dipadamkan oleh tangan yang samar, kegelapan merayap ke arahku. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Dengan harga diri yang tersisa, aku berusaha mencari pintu dan sia-sia bertahan melawan teror yang menyerang tanpa belas kasihan.

Satu-satunya lilin yang masih menyala di tanganku, terlepas dan padam, saat udara berhembus tiba-tiba ke sisi tubuhku disusul kursi yang datang menghantam dinding dengan keras. Kini tampaklah cahaya merah merayap, melintasi langit-langit kamar dan berhenti di tengah kegelapan—mengambang. Api!

Api itu menari, memantulkan cahaya merahnya ke permukaan perabotan. Perlahan api itu menjauh dariku sebelum tiba-tiba lenyap, membungkam kemilau cahaya di perabotan. Mungkin ini kesempatanku. Aku merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan. Kegelapan yang pekat, bahkan aku sukar melihat tanganku sendiri dan itu menghancurkan kepercayaan diri terakhir di dadaku.

Itu bukan sekadar ketakutan yang dahsyat. Aku menepiskan tangan sebagai upaya sia-sia mendorong kegelapan menjauh dariku seraya berteriak sekuat-kuatnya—sekali, dua kali, tiga kali. Aku tahu, kesempatanku lepas dari perasaan terkutuk ini adalah menuju koridor. Aku meraba-raba menuju pintu.

Cahaya bulan di koridor tidak membantu. Setiap kali tersandung beberapa perabotan lain, aku segera bangkit dan berlari. Ini sensasi mengerikan yang baru kurasakan seumur hidupku. Dalam kepanikan tak berujung, sebuah pukulan menghantam dahiku, memakan keseimbangan tubuhku, membuatku terhuyung sebelum terguling di tangga batu. Kemudian aku tak ingat apapun lagi.

**

Aku tersadar dengan kepala pusing dan terbalut perban. Hari sudah terang. Lelaki tua berlengan kayu sedang menatapi wajahku. Kucoba mengingat yang terjadi, tapi ada beberapa bagian yang tak bisa kuingat dengan jelas. Aku memutar mata ke sudut ruang dan mendapati wanita tua—tidak lagi tampak pucat dan mengerikan—sedang menuangkan sedikit obat dari tabung biru kecil ke dalam gelas. “Di mana aku?” tanyaku.

“Kami menemukanmu di bawah tangga,” katanya, “ada luka di bibir dan dahimu.”

Saat siang, wajah mereka tampak lebih muda, kecuali lelaki tua bermata kecil yang selalu menunduk seperti mengantuk. Cukup lama bagiku memulihkan ingatan pada kejadian semalam. “Kini kau percaya—” ujar lelaki tua berlengan kayu, “bahwa kamar itu berhantu?” Ia tidak lagi bicara seperti menyambut orang asing, tetapi seperti sedang mengasihani seorang teman.

“Ya—” kataku, “kamar itu berhantu.”

“Kami bahkan tidak pernah ingin melihatnya. Beritahu kami, apakah ia seorang earl.”

“Tidak—ia tidak seperti itu.”

“Sudah kubilang—” sergah wanita tua, “itu countess yang malang.”

“Bukan,” kataku lagi. “Tidak ada hantu earl maupun countess di kamar itu; kecuali sesuatu yang tidak terlihat dan jauh lebih buruk—”

Tatapan mereka berubah.

“Lebih buruk dari sekadar hal yang bisa menghantui setiap orang malang,” kataku, “dan itu adalah—ketakutan! Ketakutan yang menguasai, membuat tuli dan buta—yang mengikutiku di koridor, yang aku lawan di kamar itu.”

Kami terdiam cukup lama.

Lelaki tua bermata kecil menatapku. “Itu kuasa kegelapan yang mengutuk rumah ini! Ia berdiam di kamar itu. Kau bisa merasakannya di siang hari—bahkan di siang hari yang cerah di musim panas. Bergelantungan di mana-mana, merayap di keremangan, mengikutimu walau kau tidak ingin melihatnya. Ketakutan akan bertahan di kamar merah itu—selama dosa ada di rumah ini.” (*)

 

 

Cerpen The Red Room (1894) adalah cerpen gothic karya Herbet George Wells. Cerpen ini pertama kali terbit di majalah The Idler edisi Maret, 1896. H. G. Wells (1866-1946) adalah penulis prolifik terbaik Inggris. Ditahbiskan sebagai “bapak fiksi ilmiah Inggris”. The War of the Worlds, The Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Doctor Moreau, adalah beberapa karyanya yang paling fenomenal dan telah difilmkan.


[Pertala] Wanita Bergaun Hitam | Eleanor H. Porter

Wanita Bergaun Hitam

Oleh Eleanor H. Porter

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

lady-in-black

DI KAMAR kecil di atas beranda, wanita bergaun hitam duduk sendirian. Di dekatnya, gadis kecil bergaun putih terbaring. Di lantai, sepasang sepatu kecil terserak, seperti telah dilemparkan begitu saja. Sebuah boneka tergantung terbalik di sandaran kursi dan mainan prajurit dengan pedang terhunus tegak di sisi ranjang. Suasana hening—keheningan aneh yang datang ke kamar itu tiga bulan lalu.

Ada jam kecil di atas rak yang tegak di kaki ranjang. Jam itu tampak mengerikan baginya—dan tidak masuk akal—bahwa bandul berwarna emas masih berayun di bawahnya, sedang di atas ranjang berlapis linen putih, sesuatu yang lain sudah berhenti berdenyut. Maka wanita bergaun hitam itu mengulurkan tangan dan menghentikan ayunan bandulnya. Saat sesuatu sudah diam, maka jam itu juga harus diam.

Masih perlukah waktu berdetak saat ini? Seolah itu sesuatu yang penting, saat Kathleen kecilnya terbaring di bawah salju dan tanah hitam di luar sana! Hari ini, jam itu pula yang mengingatkan wanita bergaun hitam itu pada gelombang amarah yang meledak saat doanya ditolak pada suatu malam tiga bulan sebelumnya.

“Muvver…!”

Wanita bergaun hitam yang sedang diaduk kegelisahan itu melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang bocah lelaki bermata biru dengan dekik di pipi yang sedang membutuhkannya, tapi ia ingin anak lelaki itu tidak memanggilnya dengan nama itu. Sebutan itu hanya akan mengingatkannya pada sosok cantik berbibir tipis—yang kini sudah tak ada.

“Muvver…!” Desak suara itu.

Wanita bergaun hitam tidak menyahut. Ia pikir, mungkin anak lelaki itu akan segera pergi, jika tidak mendengar sahutannya.

Ada keheningan yang singkat, sebelum gagang pintu berputar turun dan terdengar engsel yang berderit saat pintu perlahan-lahan membuka, menampakkan anak lelaki dalam setelan Rusia.

Ia menceguk sesaat, lalu seketika hening kembali. Di balik gaun hitamnya, wanita itu tak tersenyum dan memanggil anak lelaki itu agar mendekat. Anak itu berdiri diam, ragu-ragu, kemudian berbicara terbata-bata, “aku sudah…di sini, Muvver.”

Kata-kata itu, bagi wanita bergaun hitam, hanya mengingatkannya pada kepahitan lain yang kini tidak ada di sana. Ia menjerit tertahan dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Bobby, Bobby, mengapa kau berolok-olok dengan sebutan itu?” Ia mengerang dengan hati gulana. “Pergi… Pergi! Aku ingin sendiri—sendirian!”

Semua keriangan di wajah bocah lelaki itu lenyap seketika. Dekik di pipinya hilang dan matanya menampakkan kesedihan yang dalam. Perlahan-lahan anak lelaki itu berpaling. Di ujung tangga anak lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. Pintu itu masih terbuka dan wanita bergaun hitam masih duduk dengan tangan di wajahnya. Anak lelaki itu menunggu, tapi wanita itu tak bergeming. Seraya menahan tangis, anak lelaki itu melangkah menuruni tangga.

Beberapa menit setelahnya, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya dan kembali memandang melalui jendela. Anak lelaki itu kini berada di halaman bersama ayahnya, sedang bermain di bawah pohon apel.

Bermain!

Wanita bergaun hitam memandang mereka dengan mata muram. Di halaman tampak Bobby sedang bermain, tertawa dan menari. Akan selalu ada orang yang mengajak Bobby bermain, seseorang yang akan mencintai dan merawatnya; sementara di sana, di lereng bukit, Kathleen sendirian—benar-benar sendirian.

Wanita bergaun hitam itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tangannya gemetar saat mengenakan topi dan menurunkan lipatan cadar menutupi wajahnya. Langkahnya tampak mantap saat menuruni tangga, menyusuri lantai bawah dan melangkah ke luar.

Pria di bawah pohon apel melihatnya dan datang menyongsong. “Helen, Sayang—jangan lakukan ini lagi!” Suaminya memohon. “—Ini tidak ada gunanya, sayang!”

“Tapi ia sendirian. Kenapa kau tidak memikirkannya! Tidak seorang pun yang tahu perasaanku. Kau tidak mengerti. Jika kau paham, kau pasti menemaniku. Jangan memintaku untuk berdiam diri di sini!” Sergah wanita itu.

“Aku bersamamu, sayang,” kata pria itu lembut. “Aku selalu bersamamu hari ini dan setiap hari—sejak Kathleen meninggalkan kita. Tapi tidak baik memperlihatkan kemurungan di makamnya. Kau tahu, sayang, ini hanya menambah kesedihanmu, aku, dan Bobby!”

“Tidak, tidak,” wanita itu terisak lagi. “Kau tidak mengerti—kau tidak mengerti!” Ia membalikkan tubuh dan berjalan terseok-seok menuju bukit, meninggalkan bayangan hitam kesedihan dalam tatapan suaminya dan kebingungan di mata anak lelakinya.

Jalur landai di bawah kanopi pepohonan hanya ditembusi cahaya matahari yang sedikit sampai ke tanah. Walau wanita bergaun hitam itu tahu tujuannya, ia seperti linglung, terhuyung-huyung dan kerap tersandung. Bangkit setelah jatuh, wajahnya tampak lelah. Namun ia berhasil mencapai bagian bukit yang ditandai batu bertulis ‘Kathleen’. Tidak jauh darinya tampak seorang wanita lain sedang menatapnya dengan simpatik, tangannya dipenuhi bebunga mawar merah muda dan putih. Wanita berambut kelabu itu seperti hendak bicara, tapi tampak ragu saat membuka bibirnya, kemudian urung. Ia berbalik perlahan-lahan dan mengatur bunga-bunga yang ia bawa ke sebuah pot di sisi sebuah makam.

Dalam dera kesedihan, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya. Untuk sesaat ia mengamati wanita berambut kelabu, sebelum ia mengangkat cadarnya dan berbicara. “Anda mengunjunginya—” katanya lembut. “Aku yakin pernah melihatmu di sini sebelumnya. Anak itu—seorang gadis kecil juga?”

Wanita berambut kelabu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ia anak lelaki—setidaknya ia seorang anak lelaki 40 tahun yang lalu.”

“Empat puluh tahun—itu waktu yang lama! Bagaimana Anda bisa bertahan selama 40 tahun—tanpanya?”

Lagi, wanita berambut kelabu itu menggelengkan kepalanya.

“Terkadang—kita harus melaluinya. Tapi ia bukan anakku, bahkan bukan kerabatku.”

“Tapi Anda merawat makamnya. Aku melihat Anda kerap ke sini.”

“Ya. Tidak ada yang merawat makam ini. Aku sesekali datang untuknya.”

“Untuk anak lelaki ini?”

“Ibunya.”

“Oh!” Wanita bergaun hitam mengangguk, tapi matanya lurus ke makam Kathleen.

“Aku tidak ingin terdengar bisa memahami ibunya,” gumam wanita berambut kelabu itu setelah usai menata bunganya dan menoleh pada wanita bergaun hitam. “Aku bekerja sebagai perawat anak lelaki ini ketika semua itu terjadi, dan bertahun-tahun setelahnya aku tetap bekerja di keluarga itu—jadi aku tahu. Aku melihat semuanya, sejak awal dan di hari ketika anak laki-laki ini mengalami kecelakaan.”

“Kecelakaan!”

“Ya. Itu peristiwa tabrak lari dan hidupnya tak sampai dua hari.”

“Aku tahu rasanya…!” Wanita bergaun hitam tersedak kepiluannya, namun ia sama sekali tidak sedang memikirkan anak laki-laki itu dan penabraknya.

“Banyak hal yang kemudian sukar aku lupakan,” lanjut wanita kecil berambut kelabu setelah beberapa saat, “…dan itu adalah awal dari segalanya. Ibu anak lelaki ini melepaskan perhatiannya pada suami dan putrinya. Ia tidak memperdulikan mereka, kecuali makam ini. Ia datang ke makam ini menghabiskan waktu berjam-jam—berbicara dan merangkai bunga untuk anak lelakinya.”

Wanita bergaun hitam tiba-tiba mengangkat kepala, memandang sekilas ke wajah wanita berambut kelabu, tetapi wanita itu telah memalingkan wajahnya sebelum beberapa saat kemudian kembali bicara.

“Walau memiliki apapun, tapi ibunya tampak tidak memikirkannya. Bahkan tampak tidak menginginkannya. Ia menutup diri, menyingkirkan banyak foto. Ia membiarkan piano tidak dibuka sama sekali. Ia tidak pernah berada di mana pun di rumah itu kecuali di kamar anak lelakinya dan membiarkan segala sesuatu di kamar itu tetap berada di tempatnya. Aku bertanya, apakah ia tidak menyadari dampak atas tindakannya—tapi ia tidak mau bicara.”

“Dampak…?” Wanita bergaun hitam terkejut.

“Ya. Ia tidak perlu merasa kehilangan suami dan putrinya—ia tidak menyadarinya.”

Wanita bergaun hitam itu tiba-tiba merasakan keheningan yang pekat di sekitarnya.

Wanita berambut kelabu bicara lagi. “Anda kini tahu alasanku datang dan meletakkan bunga-bunga di sini—itu kulakukan untuk ibunya. Setelah ia wafat, tidak ada lagi yang akan melakukannya,” ia mendesah seraya bangkit berdiri.

“Tetapi Anda belum bercerita—apa yang terjadi pada suami dan putrinya.” Wanita bergaun hitam itu bersungut-sungut.

“Aku hanya tahu sedikit tentang mereka. Setelah ia wafat, aku hanya tahu bahwa suaminya banyak melakukan perjalanan—jadi pria itu tak selalu berada di rumah. Ada cerita bahwa pria itu melakukan hal-hal buruk—tapi mungkin itu tidak benar. Bagaimanapun, pria itu jarang pulang dan suatu saat ia kembali ke rumah itu, kondisinya tampak buruk dan sakit. Pria itu wafat dan dimakamkan di sana, di sisi istri dan putranya. Mengenai putrinya—hmm… tidak ada yang tahu di mana gadis itu. Anda tahu—hidup para gadis seperti bunga-bunga dan sinar matahari, dan selalu tentang pesta dan pemuda tampan. Gadis itu merasa tidak akan mendapatkan salah satu dari itu dengan hanya berdiam di rumah. Jadi, gadis ia pergi—kurasa, ke tempat ia bisa mendapatkan semuanya. Tidak ada yang tahu dimana gadis itu. Begitulah—jika aku tidak pergi, Anda pasti akan lelah mengobrol denganku!” Wanita berambut kelabu itu tampak cemas. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menceritakan ini!”

“Tidak—aku senang mendengarkan Anda.” Wanita bergaun hitam buru-buru berdiri.

Wajah wanita berambut kelabu itu berubah pucat. “Tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih.” Ia berbalik dan bergegas pergi.

Rumah itu masih tampak muram ketika wanita bergaun hitam pulang—dan ia seperti menggigil kedinginan. Ia susuri lantai bawah dan terburu-buru menapaki anak tangga dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Di kamar, jemarinya merobek cadar di wajahnya saat keterasingan melintasi benaknya. Pengalamannya hari ini membuatnya menangis—menangis tanpa suara, dan dia masih menangis saat tangannya melucuti gaun hitam yang muram itu.

Beberapa menit kemudian, wanita—kini tanpa gaun hitam—perlahan menuruni anak tangga dengan wajah yang masih membekaskan jejak-jejak air mata. Dagunya bergetar, tetapi bibirnya telah dilengkungi senyuman. Ia mengenakan gaun putih dan setangkai mawar putih terselip di rambutnya. Di kamar kecil di atas beranda, di atas rak yang tegak di kaki ranjang, jam berbandul emas kembali berdetak. Suara kakinya yang berlari memenuhi lantai bawah. Kemudian:

“Muvver!—Itu Muvver telah kembali!” Seorang anak lelaki berteriak gembira.

Sedikit terisak, wanita itu membentangkan lengan untuk putranya. (*)

 

Eleanor Hodgman Porter (1868-1920), novelis dan cerpenis perempuan Amerika. Ketika menulis novel Pollyanna, ia masih bekerja sebagai penyanyi di New England Conservatory of Music di Boston dan menerbitkan cerpen-cerpen terkenalnya di majalah Woman’s Home Companion dan majalah Harper’s Weekly.


Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 192 pengikut lainnya.