[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2014

Cover Jawa Pos_blog

Download: klik link di bawah ini

e-BOOK_CERPEN JAWA POS 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Buku Baru] Halte Biru | Afrilia Utami | Kumpulan Puisi

Halte Biru

Afrilia Utami

Penerbit Silalatu

Genre Puisi

 

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan….

 

“aku memanggil-Mu,

Tuhanku yang sempurna.”

 

“Afrilia Utami masih muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya puisi, seperti sudah berlangsung lama. Jika pun ada hal-hal yang diperhatikan secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata-kata agar puisi tidak lebihan gula atau kekurangan garam.” Acep Zamzam Noer, sastrawan, budayawan.

“Afrilia Utami menulis soal-soal sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Saya menyimpan keyakinan dan harapan besar kepada Afrilia bahwa satu saat ia akan menjadi penyair (penulis) yang diperhitungkan di Indonesia kalau dua hal terjadi tetap menjadi bagian dari dirinya. Dalam usianya kini Afrilia memiliki modal baik seorang penulis, pikiran yang cerdas dan hati yang peka.” Ashmansyah Timutiah, penyair, budayawan.

Halte Biru 

Judul Buku : Halte Biru

Penulis : Afrilia Utami

Penerbit : Penerbit Silalatu

ISBN : 978-979-16947-7-3

Pengantar : Hudan Hidayat

Harga Penerbit : Rp.35.000 + (Belum termasuk FOB atau Ongkir)

 

Cara Pemesanan:

  1. Via SMS. format Nama(spasi)Alamat Lengkap Rumah(spasi)Kuantiti Pemesanan(spasi)Tanda bukti transfer akumulasi dari harga+FOB disesuaikan wilayahnya. Tanda bukti bisa dikirimkan ke email: haltebiru@yahoo.co.id No. Tlp.: 082240205509 (Rani Ramdani) No. Rek.: BCA 3211019725 a.n. Rani Ramdani
  2. Via email langsung. format sama dengan butir (1).
  3. Kemudian tunggu konfirmasi pengiriman.

[Esai] Monolog Kasim

Monolog Kasim

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Reportase Kematian

SEBUAH ruang, sebuah level, lelampu yang temaram, menanti hening yang pecah. Seorang lelaki terpekur. Kepalanya menunduk takzim pada diam yang cekam. Di sebelahnya, seorang perempuan duduk tenang. Tapi bukan tenang yang lazim. Ia berduka.

Lumen kuning dari lampu di sudut ruang, berpendar. Cahayanya perlahan mencoba menerobos tiga sudut lain dalam ruang itu. Tapi ia berhenti di batas jarak yang mampu jangkau. Seperti ketidak kuasaan pada waktu yang sempit dan pada ruang yang berwarna tunggal—hitam—lumen cahaya itu kemudian menetap.

Kegelisahan kemudian terpancar dari raut wajah lelaki yang tadi terpekur. Wajahnya kini terangkat, tubuhnya perlahan tegak, tangannya mengembang. Kemudian…

Lelaki itu tiba-tiba terhempas di tahun 1969, 45 tahun lampau. Di sebuah rumah kecil di tengah kota pesisir Baubau. Malam yang demam, dipecahkan oleh derap sepatu puluhan orang. Mereka bersenjata dan usai merampungkan kepungan. Dua orang kini di beranda dan mengetuk.

Perempuan tadi terperanjat, mukanya tenang dan bertanya. Ada orang-orang yang tidak sopan datang bertandang di malam buta. Ia bangunkan lelakinya. Pintu depan terbuka, dan lima orang masuk tanpa permisi. Lelakinya harus segera mengikuti mereka dan tidak boleh bertanya lagi. Itulah jawaban pertama dan terakhir dari satu-satunya pertanyaan yang lepas dari bibir si lelaki. Perempuan itu lalu menulis kesaksiaannya: di benak dan airmatanya.

Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di ruang kecil seorang diri. Lantai dan dindingnya keras, sekeras wajah dan tabiat para ular yang berkeliaran di luar sana. Lalu kecemasan melampai di seluruh ruangan itu. Lelaki itu melepaskan cinta pada putrinya dan perempuan yang menangisinya. Kata-kata duka menjilami udara, menggarami air matanya.

 

Berangkat dari Puisi.

LELAKI yang sedih dalam ruang berjeruji dan lelaki yang terhempas ke masa silam itu, tampak bersandingan erat dalam gerakan, bunyi dan kata-kata Stone. Pelakon dan pendiri Teater Sendiri Kendari itu, membuka monolognya dengan apik. Ia mampu mendatangkan keterasingan dan cekam yang ngilu ke dada puluhan orang yang memenuhi ruang utama Rumah Pengetahuan (RUPA) Idea Project Kendari.

Ahmad ‘Stone’ Zain membuka monolog Kesaksian dengan beberapa larik liris dari puisi Reportase Kematian karya Irianto Ibrahim. Naskah Kesaksian itu memang sari-kembang dari puisi Reportase Kematian yang terilhami oleh kesaksian perempuan Ainun, istri tercinta Drs. Muhammad Kasim, Bupati Buton yang diculik, dikurung di RTM Kodim Baubau. Saksi mata menuturkan, di sel itulah Muhammad Kasim ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, tapi jenazahnya tak pernah pulang kepada istri dan putrinya. Kuburannya entah, laporan kematiannya ditutupi dan alasan di balik penculikan itu sengaja dibungkus rapat.

Keseluruhan kesaksian ini juga pernah dituliskan dalam sebuah buku DOM 1969: Buton Basis PKI (cetakan pertama, 1996) yang merangkum hasil investigasi sebuah peristiwa pelanggaran HAM dan memilukan atas sebuah fitnah. Oleh Pangkopkamtib ketika itu, Buton di fitnah menjadi basis Partai Komunis Indonesia di Sulawesi, yang ditandai dengan isu droping senjata dari RRC oleh KRI Pattimura di teluk Sampolawa. Fitnah droping senjata itu sendiri tidak pernah berhasil dibuktikan oleh pihak Pangkopkamtib. Rosihan Anwar yang mula-mula menelusuri jejak KRI Pattimura di Sampolawa juga tidak menemukan secuil pun alasan yang mendasari tuduhan itu.

 

Ruang Kebenaran dalam Sejarah.

MALAM itu, Stone dan Pipin (Sulprina Rahim Putri, pembaca puisi, karakter Ainun) mengantarkan monolog dengan gemilang. Stone bergerak ritmik. Pipin begitu ekspresif. Keduanya memukau puluhan pasang mata yang belum menyadari masalah apa sebenarnya yang sedang mereka saksikan dan dengar dalam pementasaan itu. Pengungkapan fakta dalam puisi Reportase Kematian cukup memadai bagi Stone dan Pipin untuk mendedah dan mengekspresikan sebagian kisah menjadi sebuah Kesaksian yang lain.

Dari sisi estetik pementasan, tata ruang dan lampu yang tak “ramai” ternyata mampu menguatkan naskah serta gerak dan kalimat-kalimat intonatif dalam monolog itu.

Dalam gelanggang diskusi selepas pementasan 20 menit itu, Ahid Hidayat, juga menyatakan ketertarikannya dan kuat mendorong agar pementasan itu digarap dalam durasi yang lebih panjang. “Lakon ini akan sangat berdaya dan kuat apabila ditampilkan dalam durasi yang tepat, dalam bentuk pementasan drama atau teater. Pesan-pesan dalam monolog yang singkat mungkin masih mampu diserap dengan baik oleh penonton, tetapi akan lebih kuat jika fakta itu disajikan dalam pementasan yang lengkap,” demikian Ahid.

Ahid benar. Kekuatan pada puisi Reportase Kematian adalah kemampuan Irianto Ibrahim menghadirkan suasana secara faktual yang terjadi di sepanjang tahun memilukan itu. Fakta yang disajikan secara puitik, juga mampu menularkan kekuatannya pada monolog yang dibawakan secara reportoar oleh Stone. Kesan serupa akan lebih kuat jika ditampilkan secara utuh dalam pertunjukan teater atau sebuah doku-drama.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pertunjukan monolog malam itu, berhasil. Ruangan yang kecil di mana monolog itu dipentaskan mendadak sesak oleh puluhan orang yang menonton. Sepertinya, tinggi atensi menyaksikan pertunjukan itu kurang diantisipasi. Instrumen perkusif —yang berada di tangan sebagian penonton— yang awalnya saya kira akan mengisi plot menolog sebagai ilustrasi, tak saya dengar dibunyikan di sepanjang pementasan.

Bagaimana pun, monolog Kesaksian yang ditampilkan Stone dan Pipin malam itu begitu memukau. Saya memujinya. Sebagai sebuah upaya memelihara ingatan, sebuah upaya agar kekerasan dan ketidak-adilan tak tenggelam sebelum diungkapkan, maka monolog Kesaksian dari Repostase Kematian ini berhasil secara historik, estetik, dan kontekstual. Sebuah upaya mengembalikan ruang kebenaran pada sejarah melalui kesenian. (IQM)

Kendari, Mei 2014


[Cerpen] Pertarungan | #1 Rohto Golden Award 2013

Pertarungan

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

sailing-boat-wave-teeth-rough-sea 

1/

KEPALA Nungku seakan mau pecah, saat darah mengalir cepat dari ribuan pembuluh di tulang belakangnya. Telapak dan jemarinya panas, perih tergesek tali pancing. Bebuku jemarinya pun terasa ngilu. Perutnya geli. Ombak menggulung berlapis, menyeret perahu kecil itu kemana-mana, dihantam air dari segala arah, bikin lambungnya bergolak dan isinya serasa hendak tumpah.

Di tengah deru badai, nelayan muda itu bertahan. Ia membatin: demi Tuhan yang hidup dan matiku di tangan-Nya, sekarang bukan waktunya untuk menyerah.

“Sebaiknya pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Begitu saran Maulida pada Nungku, sebelum ia melaut subuh kemarin. Saran ibunya itu kini terngiang-ngiang lagi di anak telinganya.

Bukannya Nungku tak mau mengindahkan saran itu. Dalam cuaca yang cerah, perahu kecil pun bisa mengarungi laut yang tenang begitu. Sedari kecil hingga jadi pemuda begini, ia diajari untuk percaya diri saat melaut sendirian. Kulitnya legam, juga karena terpanggang teriknya matahari di laut. Segala bengkak, memar, dan retak di belulangnya, juga pengalaman yang membenam di benaknya, tak ia dapat dari sekadar melihat.

Nungku memang harus membuktikan sesuatu.

2/

Sehari berselang, pada bale bambu di pekarangan samping rumah ibunya, Nungku sedang menyesap nikmat kopi hitam buatan Saimah, kakak iparnya. Dingin pagi ini belum benar-benar pergi, tapi telinganya sudah kemasukan bualan Makati bersama dua kawannya. Peruntungan di laut sudah habis, simpul mereka.

“Aneh. Sekarang ini kan bukan musim angin barat, tak ada ombak pula, tapi kenapa laut di depan sana tidur serupa bayi? Tenang sekali. Ikan pun tak ada.” Gerutu Lasindu.

Tamba menimpal. “Keadaan ini sudah nyaris lima bulan. Mobil-mobil pengepul tak mau lagi datang ke desa ini, sebab tak ada ikan yang bisa mereka bawa pergi.”

Mirip kerapu tua, kepala Maulida terangguk-angguk mendengar bualan kawan-kawan Makati, putra tertuanya. Tapi di liang telinga Nungku, omongan itu terdengar putus asa. Seperti orang raib harapannya sama sekali, begitu kata Nungku dalam hati.

Hilang harapan, maka hilang pula peruntungan, serupa tepung yang dibuyarkan angin. Terbang sia-sia. Mereka itu saja yang tak suka mencoba-coba, Nungku membenak lagi.

Ia sesap lagi kopinya. Belum sehari lewat, ia berhasil menjaring dua keranjang ikan kecil di sekitar karang selatan. Memang hanya ikan-ikan kecil, tapi satu keranjang setengah itu oleh juragan dibayari 50 ribu rupiah. Sisa ikan ia bawa pulang dan itulah yang ditanak ibunya untuk lauk.

Berputus harapan seperti itu, seolah mereka tak memikirkan akibatnya pada hidup anak-istri sendiri. Saat dapur mereka sudah tak berasap lagi, barulah mereka kaget serupa ular yang tersedak ranting.

“Buat apa melaut. Toh perut laut tiada mengandung ikan seekor pun.” Terdengar suara Lasindu membangun alasan.

“Buang-buang solar saja,” pedar Tamba pula.

“Sampai layar sobek dan jaring koyak pun, laut tenang seperti itu percuma diarungi.” Kali ini, Makati ikut bicara.

Saimah berjalan keluar dari pintu dapur sambil membawa tiga gelas kopi dan sepiring ketela rebus. “Kami ini lebih suka berharap saat kalian pulang membawa sesuatu yang bisa jadi uang. Tapi melaut di kondisi seperti ini, kalian hanya akan membuat jantung kami berdenyut mencemaskan kalian.”

Wah, Saimah ikut menyahut juga. Menyela bicara kawan-kawan suaminya, sungguh bukan sesuatu yang sopan. Nungku geleng-geleng kepala melihat tingkah iparnya itu.

Makati mendelik. Ia lempar matanya jauh-jauh, menyapu ujung pesisir utara hingga ke tanjung di bagian selatan. Perahu-perahu tertambat rapi di pantai. Drum-drum solar berdiri kosong di bawah bivak beratap pelepah kelapa. Debur ombak selalu asik didengar, walau kini tanpa suara nelayan bersahutan kala menurunkan ikan dari perahu.

Nungku menandaskan kopinya, lalu masuk rumah. Ia harus menyiapkan keperluan untuk melaut subuh esok. Ia rapikan gulungan tali pancing, lalu menegakkan dayung dekat keranjang ikan. Walau masih muda dan belum menikah, malu juga ia hidup menumpang percuma di rumah ibunya.

“Nung, kulihat sudah tegak dayungmu itu. Apa kau hendak melaut sekarang?” Maulida memergoki kesibukan Nungku.

“Besok subuh, Ina.” Nungku menjawab ibunya.

Maulida tertegun. Jika berangkat saat subuh, artinya nelayan akan melaut jauh dari pantai. “Kau yakin, Nung?”

Nungku mengangguk sambil tersenyum pada ibunya yang sepuh itu. Mendiang ayahnya yang mengajarinya melaut. Walau ibunya juga tak melaut lagi karena uzur, tetap saja Nungku kerap butuh pertimbangannya—kendati ia boleh tak perlu menurutinya karena alasan tertentu. “Semoga kali ini aku lebih beruntung dibanding hari-hari sebelumnya.”

Maulida membalas jawaban putra keduanya dengan senyuman.

Saimah yang baru masuk membawa nampan, sempat terlanga di dekat pintu dapur. Ia tersenyum melihat tingkah Nungku.

“Kenapa kau senyum macam itu?”

“Ah, tidak. Semoga beruntung ya, Nung.” Sinis Saimah.

Nungku mendelik. Ya. Oloklah aku sesukamu, Saimah. Kelak kau yang akan susah jika tak punya uang. Suamimu itu tak mau melaut, sebab bertahan dengan sangkaannya.

“Sebaiknya kau pakai perahu kakakmu saja, Nung. Mesinnya lebih besar dan kuat.” Saran Maulida pada putra keduanya itu.

“Tak apa-apa, Ina. Perahu kecil itu cukup kuat diajak melaut saat cuaca cerah begini.”

Ibunya mengangguk. “Kau hati-hatilah,” pesannya.

3/

“Kau serius, Nung? Kita sudah jarang melaut jauh dari pantai.” Makati memastikan aduan Saimah. Selepas dua kawan suaminya pergi, Saimah mengadukan tingkah adik iparnya itu pada Makati.

“Tidak terlalu jauh. Aku hanya rindu pada laut saja.” Jawab Nungku.

“Tak ada ikan besar di laut sana, Nung.”

Nungku tersenyum pada kakaknya. “Kalau benar begitu, maka aku bisa pulang lebih cepat, bukan?”

Makati berpaling pada istrinya yang hanya bisa angkat bahu. Ia pantas mencemaskan niat adiknya yang tiba-tiba itu. “Di bagian mana kau melaut nanti?”

“Di laut dalam, 10 kilometer jaraknya dari pesisir utara. Di bagian itu matahari tak begitu terik saat siang. Jadi aku bisa pulang sebelum sore.”

Makati tak mungkin menahan adiknya yang sedang merindui laut seperti itu. Nungku pasti kecewa jika ia halang-halangi. Niatan serupa itu wajar keluar dari benak seorang nelayan muda seperti adiknya. Suhu air di pesisir utara masih hangat di akhir bulan Juli ini, sehingga jika beruntung, adiknya masih bisa mengumpulkan ikan selebar telapak tangan.

Maka saat subuh datang, pergilah Nungku menuju pantai. Makati meminjamkan solar pada adiknya itu. Dayung sudah ia lapisi lilin, agar garam tak memenuhi pori kayu dan membuatnya berat saat dikayuh. Saimah membekalinya dengan ketela rebus dalam rantang plastik dan air minum dalam jerigen kecil.

Ia dorong perahu kecil itu agar melabuh. Udara kering laut menerobos paru-parunya, membuatnya nyaman dan hangat di subuh yang dingin itu. Empat ratus meter selepas pantai, arus balik mendorong perahu ke tengah laut. Bagus sekali. Nungku bisa menghemat bahan bakar. Ini angin timur dan Nungku menuruti nalurinya; ia arahkan perahu ke bagian utara. Mesin perahu menderu-deru saat laju, dan lunas tegak-nya membelah air.

4/

Maulida didera cemas luar biasa. Awan gelap menghalangi cahaya matahari sore yang seharusnya condong ke ufuk. Sebenarnya, cemasnya itu sudah lebih dulu datang saat hadirnya hembusan angin yang terasa aneh sejak siang tadi.

Tak hanya ibunya yang cemas macam itu, tapi Makati juga. Terang saja mereka berdua mencemaskan Nungku. Sesuai janji Nungku, mestinya perahu adiknya itu sudah tampak sejajar dengan horison langit selepas siang tadi. Tapi perahu Nungku tak nampak.

Para nelayan di desa Talaga Besar ini selalu berharap perubahan cuaca adalah pertanda baik berakhirnya paceklik ikan di perairan di depan desa mereka. Tapi bisa jadi itu pertanda lain. Tak sesiapa pun yang dapat menebak cuaca dengan persis.

Maulida mengutarakan cemasnya pada Makati sekali lagi. Makati pun paham kekhawatiran ibunya. Lalu Makati minta pertimbangan pada istrinya: akankah Saimah melarang, jika saat ini hendak ia susul adiknya ke tengah laut?

Terang saja Saimah protes dengan memasamkan muka. Bukannya ia tak sayang pada adik iparnya itu, tapi melepas suaminya ke tengah laut saat angin menderu ganas macam ini, bukanlah hal yang patut ia timbang-timbang lagi.

“Tapi, Imah. Kau lihat sendiri seperti apa cemasnya Ibu. Tak di saat begini pun, Ibu kadang mengkhawatirkan Nungku jika memancing di karang selatan. Aku juga cemas membayangkan Nungku melawan ombak sendirian.”

“Lantas subuh tadi, kenapa Abang izinkan dia?”

“Kita tidak tahu akan begini cuacanya, Imah. Kau kan tahu seperti apa gairah si Nungku itu pada laut. Ia gagal kuliah selepas SMA, maka jadi nelayan ia pikir satu-satunya hal yang pantas ia baktikan pada Ibu. Ia ingin seperti Ayah, katanya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya meninggalkan laut hanyalah mendiang Ayah. Bila gairahnya itu datang, bagaimana mungkin ia hendak kau tahan?”

“Hanya itukah cara Abang membawa Nungku kembali ke darat?”

Makati terdiam. Pertanyaan inilah yang tak mau ia dengar. Makati masygul sekarang. Tak kuasa melakukan apa-apa. Tak mungkin meminta pertimbangan ibunya yang sedang didera cemas. Ibunya pasti mengizinkan, namun Saimah sudah terang tak akan setuju.

5/

“Ayolah, Nung…!” Gumam Nungku menyemangati dirinya sendiri. Persis begitu ucapan ibu setiap kali menyemangatinya. Di tengah kesendiriannya di tengah laut begini, di saat badai sedang mengintai, hanya kata-kata ibunya saja yang membuat ia merasa tak sedang sendirian.

Ia memejamkan mata. Merasakan angin mengenai wajahnya. Liang telinganya seperti pekak saat dipenuhi angin yang berkesiur. Air laut mengayun perahu kecil itu. Nalurinya harus peka saat ini. Awan hitam yang bergulung, terdengar seperti menggelegak di atas sana. Mendiang ayah sering bilang, seorang nelayan harus menyatukan batinnya dengan laut. Ia harus menyatu dengan suasana di sekelilingnya. Telinganya akan berubah peka. Perasaannya akan tajam.

Gelap subuh tadi membuatnya tak awas, dan betapa kaget ia mendapati pagi saat berada di bagian lautan ini. Ada kelabu menutupi ufuk, sedang ia sudah sangat jauh dari pantai. Jauh dari orang-orang yang mungkin sedang mencemaskannya.

Kakinya sampai kebas dan tulang ekornya sakit karena duduk terlalu lama di undakan papan pada buritan perahu. Nungku tak mau berkilah pada dirinya sendiri. Di tengah laut begini, ia merasa seperti tamu. Duduk sendiri di hadapan tuan rumah yang sedang tak ramah. Masih beruntung, arus tak mendorongnya kian masuk ke mulut samudera.

Menjelang siang, belum ada seekor ikan yang menyambar satu umpan pun, dari 20 mata kail yang ia sebar. Sesekali Nungku menarik tali rawai seraya menatap langit di atas kepalanya. Perlahan rawai itu ia gulung kembali. Ia membawang, karena kesal tak ada ikan di ujung setiap mata kail dan kakinya mulai kesemutan.

Perahu kecil itu bagai noktah hitam di tengah laut. Di lazuardi, kelabu segera menjadi hitam yang menakutkan. Saat ini, seharusnya gelombang membuat ikan-ikan aktif bergerak, sehingga lapar dan bikin mereka memakan apa saja yang tampak berkilau.

Kelelahan membuat tubuh Nungku gayang. Di benaknya, terus terulang-ulang tekad untuk menjinjing pulang seekor ikan besar buat ibunya. Cukup seekor saja, dan itu cukup untuk mengakhiri spekulasi para nelayan lain di desanya.

Pantulan awan kelabu di atas sana, membayang hitam di permukaan laut. Lalu rerintik hujan mulai curah dari langit. Tapi tak terlalu lama, rerintik itu berubah seperti panah air yang lesak deras, menusuk daging. Angin menderu-deru. Air laut sudah bergejolak. Laut siap mendulang badai yang sejak tadi menghantui angkasa. Jujur saja, situasi ini membuat Nungku cemas luar biasa.

Lalu badai benar-benar datang. Perahu kecil itu diombang-ambingkan gelombang. Dihantam ombak dari segala arah. Diterpa air hingga dinding perahu terdengar berderak seperti mau lepas. Nungku mengikatkan tali ke pinggangnya pada undakan di buritan perahu. Ia jungkit mesin perahu, lalu memasang kitir. Bersiap-siap menghadapi badai yang mungkin akan menggila. Semua yang pernah diajarkan ayahnya sudah ia lakukan. Perahu kecil itu kini siap menari di sela gelombang.

Berbekal kitir di tangan kanan, cukup lincah Nungku mengikuti ayunan gelombang. Matanya tak mau lepas dari tali rawai yang ia gulung dengan tangan kiri, lalu silih-berganti mengawasi setiap puncak gelombang yang menuju ke arahnya, agar ia bisa lekas belok menghindar. Jangan pernah berada dalam cekungan di antara dua bukit gelombang, sebab salah satunya kemungkinan akan mendorong perahu ke dekat gelombang lainnya, mengurung dan memecahkan perahu dalam himpitan gelombang. Begitu kata ayahnya. Nungku bergidik membayangkan akibatnya.

Ayunan gelombang memainkan perahu kecil itu seperti batang korek api yang diaduk dalam tempayan. Gelora kini berhimpun di dadanya, bercampur cemas dan keberanian yang ia bangkit-bangkitkan. Satu per satu pelajaran dari ayahnya bergegas datang ke kepalanya, seperti saling berebutan memberi saran dalam suara yang ribut dan Nungku harus merukunkan mereka agar bisa mengambil keputusan terbaik sebelum bertindak.

Sedikit demi sedikit perahu kecil itu kemasukan air. Horison langit sudah raib dari matanya. Semuanya tampak hitam belaka, menyembunyikan batas pertemuan langit dan bumi. Nungku terus berharap agar awan gelap menyingkir secepatnya hingga ia bisa melihat ufuk di tengah hujan yang memanahi punggungnya. Mesin tak akan berguna di saat seperti ini. Sebatang kitir itu semoga bisa membawanya keluar menuju tepian badai.

Saat sedang menggulung tali rawai ke-16, sesuatu seperti bergerak-gerak liar di ujungnya. “Kena kau!” Desis Nungku. Tarikan ikan di ujung tali rawai itu seolah hendak menjerumuskan perahu kecilnya ke dasar samudera. Nungku menyangkutkan kitir, lalu ia pisahkan tali kailnya dari himpunan rawai sebelum ia sentak kuat-kuat. Tampaklah di matanya seekor ikan Layar di ujung sana. Ikan itu gelenyar tak henti-henti berusaha melepaskan diri.

Luar biasa besar ikan Layar di ujung tali kail Nungku. Dua meter panjangnya, nyaris sebesar perahunya. Lelaki muda itu berdiri di buritan, mengimbangi perahu dengan dua kakinya. Sesekali ia ulur tali saat ikan itu menjauh. Telapak tangannya panas terkikis tali. Belum apa-apa, ikan itu sudah menguras separuh tenaganya.

6/

Air laut, hujan dan angin tak henti menghantam perahu dan tubuhnya, tapi Nungku tak mau menyerah. Ia mengulur tali, sesekali menyentak seraya menggulung dengan cepat, agar ikan itu segera kehabisan tenaga dan kian dekat ke perahu. Sesekali pula ia harus berjongkok menahan kitir yang bergetar hebat saat perahunya condong memanjati ombak. Nungku nyaris terlempar dari perahu, saat segulung ombak besar menghantam tubuhnya dari sisi kiri. Ia buru-buru merebahkan diri sambil berpegangan erat pada bibir perahu.

Saat duduk kembali, perahu kecil itu tampak aneh. Rupanya, segulung ombak tadi telah mematahkan jarangka di sisi kiri dan menghanyutkannya entah kemana. Kini jarangka perahunya tinggal satu dan ia harus meneruskan pertarungan untuk pulang. Di tengah prahara macam ini, tak mau ia mati percuma. Ia tak sudi melepas nyawa sebelum pertarungan usai.

Menjelang subuh berikut, agaknya pertarungan mereka belum akan usai. Nungku melayani ikan Layar itu sampai di batas tenaganya akan pungkas terkuras. Angin sedikit mereda, namun gelombang masih mengaduk permukaan air. Dua makhluk Tuhan itu gigih saling mengalahkan.

Sebenarnya Nungku sedang menunggu sebuah kesempatan untuk segera mengakhiri perlawanan si ikan Layar. Ia menanti, namun tak jua kesempatan itu datang. Ikan besar itu seperti mengolok-olok kesabarannya dengan berenang cepat mengitari perahu, lalu tiba-tiba melompat saat tali kail mengencang. Serasa hendak patah tungkai lengan Nungku dibuatnya.

Suatu kali, saat peluang itu datang, justru ketika perahunya itu berada di antara dua gelombang yang membentuk bukit. Ia terpaksa mengayun kitir, membelokkan perahu untuk membelah gelombang, sehingga peluang itu lepas begitu saja.

Namun kesabarannya terbayar. Saat peluang datang sekali lagi, mata Nungku membesar melihat permukaan air yang tersibak, menyembulkan tombak di ujung hidung ikan Layar itu. Nungku yakin, ikan itu akan memukul permukaan air kuat-kuat dengan ekornya sebelum melesatkan tubuh ke udara. Ya. Itulah tandanya.

Nungku melilitkan tali kail di telapak tangan kanannya secepat yang ia bisa. Genggamannya harus kokoh, sebelum ia bersiap menyentak tali kail sekuat tenaga. Tangan kirinya juga sigap menahan rentangan tali dengan kuat. Cukup sekali peluang itu datang, maka seterusnya ada tiga kali berturut-turut ikan akan bergerak seperti itu untuk meredakan efek benturan air. Peluang itu dimanfaatkan benar-benar olehnya. Berulang ia sentak tali kailnya dan membuat ikan Layar itu terbanting tiga kali. Semoga saja itu cukup mengakhiri perlawanan si ikan Layar.

Benar saja. Ikan itu terlihat payah saat Nungku menariknya ke sisi perahu. Agak repot ia menjaga ikan itu tetap bersisian dengan perahu kecilnya saat gelombang terus mengayun dan layar besar di punggung ikan tegak mengancam. Jika tak hati-hati, ujung tulang layar ikan yang runcing itu bisa menusuk dadanya.

Nungku menghunus pisau besar dari pinggangnya. “Kau hebat sekali tadi,” bisiknya pada ikan besar itu, “aku menghormatimu di pertarungan ini. Tapi, maafkan aku, kawan. Kita harus memenuhi takdir kita masing-masing.”

Perlahan Nungku menekan pisaunya ke lambung ikan besar itu. Menahannya sejenak agar darah ikan tak banyak keluar dan ikan bisa mati tanpa banyak kesakitan. Akan repot ia nanti jika darah ikan justru mengundang datangnya kawanan hiu.

“Aku janji akan menguburkan jantungmu di pantai.” Nungku menjanjikan ritual Tosangia, sebagai penghormatan bagi makhluk laut yang ia kalahkan dalam pertarungan. Ini penting. Tapi ia harus kembali ke pantai dengan selamat untuk bisa memenuhi janjinya.

Tubuh ikan Layar itu ia ikat di sisi kiri perahu, di bagian jarangka yang patah. Ternyata segelombang ombak terakhir yang menerjang perahunya telah pula mematahkan kitir, membuat mesinnya kemasukan air dan tak bisa lagi dinyalakan. Hanya sebatang dayung saja harapannya untuk pulang.

Langit belum cerah, dan ombak masih cukup tinggi. Hujan sudah selesai dan angin perlahan mereda. Tapi Nungku harus pulang, semoga bisa mencapai pantai sebelum siang. Ikan di sisi perahunya itu akan memupus sangkaan orang tentang laut, tentang peruntungan yang kata mereka sudah habis. Sangkaan-sangkaan yang serupa buih ombak di setiap benak nelayan desa Talaga Besar akan reda saat ia nanti mendaratkan ikan ini di pantai.

Terlintas wajah ibunya, juga wajah ayahnya. Wajah Makati dan istrinya. Wajah-wajah yang menemani kesendiriannya dalam pertarungan di tengah badai tadi. Senyum ibunya masih membekas di pelupuk matanya, seolah memberinya semangat untuk terus mengayuh menuju pantai. Pertarungan yang membuatnya lebih percaya diri. Ia kian yakin pada petatah-petitih yang kerap diucapkan ibunya: Tuhan tak pernah menyembunyikan setitik nikmat pun dari hambanya.

Saatnya pulang.

“Terima kasih, Ibu.” Nungku mengayuh dayung menuju pantai. (*)

Molenvliet, 2013.

Selengkapnya, baca di: LMCR-RayaKultura


[Short Story] Fireflies Party | Jawa Pos | Sunday, April 27, 2014

Fireflies Party

by Ilham Q Moehiddin

translated by Jonas Chapman (Canada)

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos 

1/

NO was tomb here. Only a cavity in a giant Willow tree, trunk upright in the middle of the village. Cavities are caused by lightning blow and often filled with fireflies were partying after the bodies placed, makes it look like a party on New Year’s Eve lanterns.

When the old Willow was found in the northern woods, Ama (father) Huga amazed with its size. Then he set up house 500 meters from the tree. In the first three years, the people come together, then took up a house there. The houses are now surrounded the giant old Willow. Ama Huga astonished at the old Willow was never lost even before his death. He wanted a cavity in the old Willow into his grave and the grave of every person who later died in the village that he calls this Lere’Ea. People obeyed. Because trees absorb Willow stench around him, the tree was also sucking the stench of death from the bodies of the dead.

Funeral tree is an effective solution that does not run out village land for the grave. Cemeteries aren’t cumbersome and inefficient.Willow trees alive and growing giant, as the final home for the dead.

2/

Intina worried about the attitude of some men aren’t attention to the special things that he keeps on Mori. They fascinated to him. Liked she heave black hair,thick eyebrows on the oval face, or solid body. Mori married Intina in 12 years ago, and he still Mori wife until one day the man she loved was home.

“Stop waiting for Mori,” one of them tried to convince Intina. But he answered them with a slamming door. How he needed to do to destroy the hopes of every man in this village.

Intina may fool for still maintaining missed. Mori went when Waipode have eight months old. On the last morning she looked at her husband, was dawn when Mori kissed her daughter forehead, then Mori shut the door from the outside. Intina waiting in each of the next morning, hoping Mori reveals the door and smiled at them both. Small Waipode never smell his father’s body is now a teenager.

Waipode didn’t ask his father. Of course to difficult misses something he had never meet. Mori is a problem of his mother and it was not for Waipode. Mori is not the first time he saw when his eyes began to open.

3/

One night, before he was 13 years, Waipode suddenly get fever. Four days later,the fever rises and nobody Lere’Ea shaman can suppress. They give up so easily, such as shaman beginners learn stirring potions. On the sixth day, Waipode had opened her eyes, before seizures and silent.

Mysterious diseased and sudden death was a shock every person in Lere’Ea. Intina cleaning her daughter body and wrapped it in a clean cloth. Such manners here, it’s Waipode dead body will go into cavity the giant Willow.

From wooden chair on the porch of his house, Intina not move until the night comes. She eyes show cavity that had filled the fireflies. He fainted due to fatigue and woke in his bed on the third night, when the rowdy village.

Fireflies party at the Willow cavity, casting a silvery glow as the emergence of two hands flailing. People are horrified when two hands were gripping the grass, crawling, like trying to drag him-self out of the cavity. Body covered in soil plain girl who surrounded fireflies. People are increasingly rowdy. For the first time they saw the dead rise from the cavity Willow.

Standing on confusion, the girl asked. “Where’s my mother? Where Intina, my mother?”

Yes. The girl’s name and acknowledge Intina as his mother.

“I’m Waipode, his daughter.”

People choked. She was admitted as Waipode, Intina daughter, who died three days ago. Intina removing the sheath and hurried over to —whoever he is— as he sheathed body began to be plain that the eyes of every man’s attention in the crowd.

All the men presented there, except Kalai. The doll maker at living the end of the Lere’Ea village, suddenly ill and fell asleep under the influence of drugs. He did not know the noise that just happened here.

4/

In Lere’Ea no one can make as good a wooden doll. Kalai poured all his feelings when making the dolls. Sculpt female dolls as high as one meter of living. The female doll only. On weekends, his old wagon it creaky to road up the rocky village to the town, to the store where he usually left the doll for sale.

There’s always a doll that is not salable. On some models, for some reason do not want to buy. Maybe they don’t like in shape. The dolls are not sold that he brought back and lined up on a shelf in the living room of his house, as a marker to no longer make such a model. Raw material stuffed it increasingly difficult to get. Willow tree in the middle of the village is difficult to be climbed to a branch of the straight.

Yes. Wicker Willow is a secret advantage Kalai sculptured dolls. Willow wood is heated first before he chisels into head, body,arms and legs for her dolls. Soft wood Texture to make the blade Kalai agile dancing all over the wood.

Willow as it grows to Kalai. Willow’s death smoked aroma of corpsesin their sockets, have to fertilize and cultivate new tree limbs.

But Kalai not make a doll when the girl out of the cavity Willow. He also did not exist among many men who feel lucky to catch the girl’s body. Because sick make Kalai must meet Lere’Ea shaman to buy potions. The effects of the potion made him feel tired and sleepy. He slept all day and did not know anything had happened in the village after dusk.

The shamans in Lere’Ea confirmed that girls who out of the Willow cavity that is Waipode, Intina daughter. The odd thing is they are difficult to explain. The willows have turned Waipode in three days after his death. Waipode out in such a big girl, 10 years older than the teenage girl Intina inserted into the tree cavity.

Intina not want to go about it. The girl came back to life in any form, if he does Waipode, then Intina will admit it. It feels weird, but their can lives as before. As before the death of her daughter went and returned.

5/

Waipode like Kalai made dolls. Dolls and handsome young man, are two things that can always create a story for a mature girl. “I like your dolls,”said Waipode.

Kalai smile. “I heard, you make noise the whole village. What happens on the other side there? So the gods let you go home?” Kalai kidding.

Waipode laugh. “On the other side is more quiet. There was no one to fight for theland. There was no such incident experienced by Adenar families banned prayer and expelled from Laibatara (house of worship). Sheol is more tolerant than the world of the living.”

Kalai was stunned to hear the words Waipode.

“This for you,” Kalai offered Waipode a newly doll he made finished. Waipode nodded happily. The doll has not been colored.

It was just a little conversation. But Waipode is always there if the young man working moment. Intimacy they make other youths jealous. Waipode have chosen, and Kalai it’s a lucky young man.

6/

Kalai realize that strange things often happen at his house late at night. His workshop is a mess when he left, always neatly next morning. Utensils arranged on the same spot. Sharpener timber garbage disappear without trace. All over the house clean. As there is a mysterious hand that has helped clean up the mess.

When Kalai asleep, the homemade doll moves. Yes. Wooden dolls that live on and off the display rack in the middle of the house. They explore each room, acting like a young girl who was busy tidying the house. They return all the objects into place, cooking porridge and coffee heats for Kalai before they go back into place before dawn.

However, the dolls start talk about Waipode. The presence of the girl is a serious problem for them.

Giant Willow in the middle of the village store incongruity since it began to be used as a tomb tree. Trees not only absorb thescent of death, but also save the souls of the dead girl in the adult sap vessels. The spirits that dwell there and wait for the new body. They accidentally life by the love that poured out when he Kalai sculpting dolls.

They hate have often the young man admired Waipode. It only took a little reason for a death plan.

7/

It’s no coincidence when a small collision Kalai get the wheels off and overthrow the old wagon with passengers. Waipode already dead when Kalai issuing his body from the crush of the wagon.

Intina feeling devastated over Waipode back to the death for the second time. He is waiting for a miracle that never came in the thirdday after the body of Waipode he put in Willow cavity. Her daughter is not alive anymore. There was no light silvery, except fireflies crowd still partying.

However, Kalai has a way of overcoming grief. On the third day, when Intina hope Waipode out of the cavity of Willow, Kalai has completed one wooden doll.

One doll that closely resembles Waipode. The dolls are made Kalai crazy. Dolls who live at the end of the night and silence come back before dawn. The dolls are often celebrate passion of Fireflies, ask Kalai enter the ten other doll into the fire, and made the young man swears no longer sculpt doll. (*)

Ubud, October 2013

Twitter: @IlhamQM

 

*) The idea of this short story from tree-holebaby burial tradition in Tana Toraja and the tree-burial traditions in Trunyan, Bali.

**) In the Indonesian version, these stories was publication for first time in the Jawa Pos newspaper, issue on Sunday, April 27th, 2014.


[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


[Cerpen] Perempuan di Jendela Equilla | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Perempuan di Jendela Equilla

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

the pretty fishing village of equilla pretoria - southafrica

HARI-HARI berjalan biasa di tanah hitam yang cantik ini. Leola bekerja di pagi hari, menyapa dua jenis orang yang berbeda: orang-orang yang menyukai kerendahan hatinya, dan orang-orang yang iri pada warna kulitnya yang berkilat cokelat dengan rambut kemerahan.

Leola tinggal bersama kakak lelakinya, di pesisir Balley Bay. Buyutnya, Lugatti, seorang juru masak hebat di armada dagang Dutch yang tiba di Pretoria, Afrika Selatan, tahun 1652.

Orang-orang seperti itulah yang lebih banyak menyita waktunya dari pada duduk berdua kakaknya menonton Rugby, atau sepakbola di akhir pekan. Leola menyukai sepakbola, selain ada hal lain yang lebih suka dikerjakannya —bersama kaum oposan menolak Aparteid— selepas jam kantor, di balik tugas-tugas rutin melelahkan.

Begitulah hidup Leola. Ia bak kuda betina yang lepas merumput di padang, siap beranak pinak, tak peduli pada cap pemilik kuda di punggungnya. Ia dapat dicari sewaktu-waktu karena cap itu, digiring ke ranca, disatukan bersama kuda-kuda lainnya saat orang-orang asik bicara tentang harga kemanusiaan.

Pretoria tak pernah lebih panas dari perkirakan orang. Cuaca kering karena paparan matahari masih lebih sejuk dari gunjingan serta rencana-rencana yang keluar dari kantor de Klerk. Seperti kelaparan yang menyusup ke setiap rumah —dihampir separuh kawasan Pretoria— mengantarkan kecemasan ke kantor-kantor South Africa Police (SAP) yang siap membekuk leher kaum pro-Mandela.

Leola dan kakaknya, juga banyak imigran Italia lain seperti mereka, hidup dalam jepitan situasi. Senjata dan nafsu membunuh seperti gantungan kunci yang selalu ada menemani anak kunci. Anak-anak, perempuan dan lelaki dewasa, di tanah ini selalu punya tujuan dan maksud berbeda, kecuali tetap setia pada kaum mereka sendiri.

Tujuan-tujuan itu hampir pasti selalu berusaha diraih dengan letupan senjata atas nama cinta tanah air dan kebencian pada kolonialisme yang regresif.

Politik apartheid membelah negeri itu. Politik pemisahan yang diterapkan dalam kebijakan buruh pertambangan menjadi satu isu besar di Afrika Selatan. Sistem produksi sekunder memunculkan industri yang butuh banyak buruh murah. Politik segregasi sengaja dimunculkan sebagai strategi pengusaha kulit putih untuk menekan biaya produksi. Penanda formal bagi politik pemisahan berdasarkan ras yang melegitimasi dominasi kulit putih di Afrika Selatan dimulai tahun 1948, pasca kemenangan Partai National.

Leola pernah mendengar kisah seorang korban selamat dari tragedi Sharpville pada 1960-an. Polisi merepresi, mengarahkan senjata, menembaki para demonstran. Senjata-senjata SAP menewaskan 69 orang dan ratusan orang lainnya luka parah. Akibatnya, pemerintah melarang aktivitas African National Congress (ANC) dan Pan African Congress (PAC) yang mewakili perjuangan politik kulit hitam di negeri itu.

Cinta dan benci seperti tak ada bedanya saat orang memegang senjata. Senjata bisa berbahaya pada orang yang dirapun kebencian, tetapi senjata jauh lebih berbahaya di tangan orang yang mencintai. Filosofi orang Joseon di semenanjung Hankuk itu lebih nyata di tanah hitam bergelora ini.

**

Langit di atas dermaga Equilla masih samar saat nelayan mulai mengatur dan memisahkan ikan sesuai jenisnya. Cuaca April yang berangin, menggiring ikan-ikan dari tanjung ke bagian hangat di perairan Balley Bay.

Menurut cerita, teluk ini tak banyak berubah semenjak orang-orang Boer datang dan mendirikan kemah di tahun-tahun awal. Mereka menyisir pesisir selatan, lalu menusuk ke jantung sahara ke arah tenggara untuk mendirikan peternakan dan kebun-kebun jagung.

“Ikan kecil ini merana di jendela. Panas di sini melelehkan bola mata.” Desah Leola seraya memandu matanya menyusuri pesisir yang memberinya fatamorgana.

Ternak dan hasil pertanian adalah hal baik yang diberikan orang-orang Boer. Kecuali itu, orang-orang lokal lebih kerap melihat mereka sebagai kumpulan bersenjata yang merampas tanah-tanah dan menjauhkan Antelop dan Wild The Beast tanpa perlu menunggu musim migrasi.

Ketegangan tak pernah lama antara para Boer dan orang lokal. Tanah Afrika Selatan masih terlalu luas untuk dimiliki sendiri oleh suku-suku lokal, begitu yang sengit orang Boer katakan dalam setiap pertengkaran. Entah bagaimana dan seperti apa para suku lokal memahaminya, sehingga mereka mampu menurunkan panah dan tombak, sekaligus membagi kearifan hidup mereka pada para pendatang.

Leola juga begitu. Ia terkejut saat mendapati hidupnya jauh dari harapannya. Ia seperti orang bingung yang tersadar seusai pingsan begitu lama di ruang perawatan. Masa kecilnya tak terekam dengan baik, termasuk bagaimana ia menjadi yatim di usia satu tahun.

Saat kecil, Leola tak punya banyak kawan hitam di lingkungan ini. Ia tak pernah membayangkan bahwa warna kulit, dialek, dan kemampuan berpikir, akan menjadikan dirinya berbeda dari ‘kawan-kawan hitamnya’, dan itu kerap membuatnya dijauhi. Saat Leola menyadarinya, ia nyaris terlambat. Namun, kehilangan kabar tentang kawan-kawan masa kecilnya itu masih jauh lebih menyakitkan.

Entah di mana mereka kini. Politik regresif dan kekerasan yang menimpa orang-orang lokal, sangat mungkin sudah mengikis kepribadian mereka, membuat mereka jauh lebih keras. Mungkin beberapa dari mereka kini memilih berjuang bersama kelompok bersenjata, menukar hal-hal prinsipil yang telah dirampas dari hidup mereka.

“Sehingga itulah ini menjadi urusanku. Aku lahir di tanah ini, meminum airnya dan merasakan anginnya. Politik telah memisahkan akar kami dari tanah ini.” Kemam Leola.

Tiba-tiba saja, derau angin utara memilin kegundahan Leola. Matanya memburu sisa pelaut yang mendarat terakhir, sebelum telinganya menyongsong suara ombak menghempas di pantai Balley Bay.

Josef, terlihat baru saja mendaratkan perahunya.

**

Bergegaslah setelah jam kantormu usai. Nyonya tua mau bicara. Begitu tera pesan pada secarik kertas yang diselipkan Mafuzu di antara kadas buku yang kini tergeletak di mejanya. Lelaki itu tadi ada di sini, dan entah bagaimana cara ia menyusup ke kantor de Klerk. Tak setiap orang bisa leluasa keluar masuk ke kantor ini, tanpa lepas dari pengawasan ketat para agen SAP. Mereka punya daftar setiap orang yang diburu di negeri ini. Entah, apakah Mafuzu sudah masuk daftar itu atau belum.

Aroma perlawanan membumbung ke angkasa Pretoria sejak muncul desas-desus bahwa de Klerk akan mundur dari pencalonan Presiden. Orang-orang yang awalnya memilih friksi pada kekuatan Kongres Nasional Afrika, kini berbalik mendukung Mandela, dan mengajak Singa Tua itu duduk semeja dalam perundingan.

Ketakutan rezim de Clerk memicu gelombang tekanan yang setiap hari meracuni atmosfer Pretoria. Pergerakan yang simultan membuat gerakan pribumi mendapat angin. Desakan dunia internasional ikut memicu kekhawatiran akan kecamuk perang saudara.

Mereka mungkin mengira bahwa Mandela tak mengetahui maksud mereka memotong jalan secara politis, saat sadar beberapa faktor utama kebangunan Afrika Selatan telah condong kepada Mandela. Orang-orang itu sedang mengincar jabatan untuk tampuk kekuasaan yang hampir pasti datang sebentar lagi.

Namun semua ini sedang terasimilasi.

Pertemuan sore ini bisa menjawab semua keraguan para pengikut di garis depan perjuangan anti-Apartheid. Sudah terlalu banyak kehilangan, tak perlu ditambah dengan duduknya para culas demi kata “pengakomodiran” kekuasaan. Persetan dengan itu, rutuk Leola.

“Bergegaslah. Mafuzu menunggumu bersama Kakari,” desak Manuti di pintu masuk.

Hampir berlari Leola menuju ruang yang ditunjuk Manuti. Ia langsung duduk di sebelah Mafuzu, di depan. Ia bisa mendapat intisari pertemuan, tapi tak tahu sudah sejauh apa isu yang mereka bahas.

“Kau terlambat, Leola,” Mafuzu berbisik lewat tengkuknya.

Senyum tipis tertarik dari sudut bibir Leola. “Maafkan aku. Aku batal menonton Spring Show di Pierneefteater, hanya untuk bisa ke sini selekas mungkin,” tukas Leola.

Lelaki di sisinya mengangguk, sepertinya maklum. Selanjutnya, Leola bisa dengan jelas mendengar apa saja yang dikatakan Mafuzu. Pergerakan kelompok perlawanan tidak lagi berada pada level yang bisa dianggap biasa.

“Ini sudah mengkhawatirkan. Para pejuang Zimbabwe dan para militer Cuba kiriman Castro yang selama ini membantu Mandela, sudah bertemu dan menyetujui adanya plot rahasia pengiriman senjata di perbatasan. Ini mungkin baik, tetapi tetap harus dipantau. ANC tak mau terlalu banyak senjata yang beredar. Akan berbahaya jika jatuh ke pihak oposisi.” Maklumat Mafuzu mengakhiri sesi pertama rapat di permulaan malam itu.

Lelaki itu melirik Leola, menetak mata gadis itu dengan pandangan heran. Leola disergap cemas. Tangannya membuka buku yang dibawanya, lalu mengeluarkan secarik kertas di antara lembarannya.

Semacam puisi, tetapi bukan. Itu jelas sandi rahasia berisi informasi penting dari kantor de Klerk. Intelijen de Klerk terlalu ceroboh memercayai para SAP yang tak pernah becus bekerja. Selalu saja ada hal penting yang entah bagaimana caranya bisa keluar melalui dinas-dinas terpisah di kantor itu.

Leola memberikan kertas itu pada Mafuzu, yang lalu menyerahkannya pada juru sandi untuk ditranskrip. Si juru sandi memisahan suku kata dalam puisi itu kemudian menarik huruf kedua dari setiap kata dan melekatkannya pada huruf terakhir di setiap kata berikutnya. Padanan huruf-huruf itu kemudian dilokalisir dan diterjemahkan. Tak tiga menit lebih lama, secarik kertas kecil lain sudah ada di tangan Mafuzu.

“Bahkan dinding pun bertelinga,” gumamnya cemas. “Intelijen sudah tahu dalam dua hari ini ada kiriman senjata masuk ke Pretoria dari gerilyawan Zimbabwe,” tukas Mafuzu.

Semua yang hadir tercekat.

Kini organisasi itu dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika mereka menggagalkan sergapan SAP terhadap kiriman senjata, ada kemungkinan gerakan mereka segera diidentifikasi sebagai faksi bersenjata ANC. Tetapi jika tidak, maka komando perlawanan yang seharusnya menerima kiriman itu akan ditangkap, dan itu melemahkan posisi mereka.

“Ini berbahaya. Mandela tidak aman.” Dengus Mafuzu.

**

“Mereka harus keluar dari distrik ini. Tidak seharusnya orang-orang kulit putih meracuni permukiman kami. Mereka merusak masa depan anak-anak kami!” Ubotu berteriak dari ujung jembatan. Teriakannya disambut gempita ratusan orang di belakangnya. Dua orang SAP waspada. Senjata di tangan mereka serentak berbunyi saat dikokang.

Seharusnya kejadian pagi ini bisa diantisipasi Mafuzu.

Semalam, Leola bersikeras bertemu dengannya untuk menyampaikan sesuatu yang berkenaan dengan nota rahasia yang diberikannya saat rapat. Mereka memang bertemu, hanya saja Mafuzu cenderung meremehkan secuplik infomasi yang menyebutkan bahwa sebuah gerakan masif sedang terbangun di distrik Equilla.

Ini di luar ekspektasi sayap Sosialis Demokratik. Secara de facto, lingkungan Equilla berada dalam pembagian wilayah yang mereka klaim. Namun secara faksional, terlalu banyak elemen inti dari kelompok bertikai yang bermukim di wilayah pesisir itu, dan yang tak diduga Mafuzu, elemen-elemen ini telah membangun friksi yang keras dalam waktu singkat.

Leola merasakan panasnya suasana di Equilla sejak isu pembebasan Mandela, dan faksi-faksi pendukung de Klerk mulai melemah.

“Itu tak beralasan, Leola,” Mafuzu mendelik pada gadis itu.

Sukar mendebat Mafuzu jika asumsi yang diberikannya lemah.

“Josef bilang, persekutuan nelayan Boli sudah menekan warga pendatang untuk tidak ikut campur. Transisi akan membuat mereka berpihak. Itu membahayakan. Mazinha tidak bisa menjamin keselamatan warga keturunan Italia dan Polandia.”

“Bagaimana dengan posisi orang Boer?”

“Kecuali mereka, Mazinha tak bisa memastikan apakah akan berdiri berseberangan dengan orang Boer atau justru menyuarakan perlawanan.”

Mafuzu gegas berdiri, menuju meja kerjanya, mengangkat telepon dan segera memutar sebuah nomor. Begitu tersambung, suara Mafuzu terdengar mengancam seseorang di sebrang telepon —yang belakangan diketahui Leola adalah Clarkeman, pimpinan Faksi Pertahanan Wilayah Utara. Clarkeman tertawa-tawa, berusaha mencairkan kecemasan Mafuzu dengan jaminannya tentang perkembangan keamanan di sepanjang wilayah utara.

Pembicaraan telepon seperti itu beresiko disadap intel SAP. Tapi, orang-orang pergerakan selalu punya cara mengelabui mereka dalam pembicaraan.

Sesaat kemudian, Mafuzu menutup telepon dan berbalik ke Leola, mengangkat bahunya dan tersenyum. “Pulanglah, Leola,” katanya tenang, “ketegangan ini terlalu memengaruhimu. Istirahatlah. Kita ada tugas di plaza Pretoria dua hari lagi. Sampaikan salamku buat Josef, dan…” Mafuzu menaikkan telunjuknya, “mintalah ia untuk tenang sambil mengawasi infiltrasi orang-orang Boer di kalangan nelayan Italia dan Polandia.”

Leola mengangkat wajahnya dan menatap mata Mafuzu. Gadis itu tersenyum. Entah itu senyum untuk apa. Leola bahkan tak bisa menenangkan hatinya setiap kali bertemu dengan mata lelaki itu. Mafuzu membalas tersenyum.

Infomasi yang diperolehnya tak jelas sumbernya, tapi entah bagaimana Leola sangat yakin bahwa sesuatu akan terjadi. Matanya mengumpulkan bias aurora yang membersitkan sisa visual cantik di atas langit Pretoria. Gadis itu tiba-tiba rindu semua orang yang pernah dikenalnya.

Bias aurora di langit itu pertanda musim akan segera berganti, mengantar kelembapan ke pesisir Balley Bay. Malam yang memang selalu dingin, kini mendadak lebih dingin saat terdengar sorak-sorai di kejauhan sana, entah di rumah siapa. Bergegas Leola masuk dan mengunci semua pintu, merapatkan jendela. Dari sela tirai jendela, Leola memandang keluar dengan cemas.

Sampai pagi, Leola duduk di situ.

**

“Usir mereka pergi dari lingkungan ini!” Teriak Ubotu lewat pelantang suara.

Leola tergagap karena kaget. Gadis itu sempat tertidur sedikit. Ia berdiri dan mengintip lewat jendela. Seakan tak percaya, mata kepalanya melihat ratusan orang melintasi jalan-jalan permukiman. Mungkin aksi ini sudah bermula sejak pagi. Orang berduyun-duyun, mengular, berteriak penuh amarah.

Leola gugup, sebab apa yang semalam begitu dicemaskannya pada Mafuzu, kini menjadi nyata di luar sana. Bagaimana caranya menghubungi Mafuzu, atau Mazinha? Orasi Ubotu yang ditingkahi teriakan-teriakan provokatif pendukungnya sudah sangat mengkhawatirkan. Namun itu tak lebih mengerikan, daripada melihat beberapa orang di antara massa yang marah itu, sedang memegang senjata tajam dan beberapa di antaranya berusaha menyembunyikan senjata api di balik kain yang membungkus tubuh mereka.

Lutut Leola goyah. Bayangan masa lalu berkelabat cepat di kepalanya.

Gadis itu lari ke kamar Josef, berniat membangunkan kakaknya. Namun setibanya ia di sana, Josef rupanya sedang berdiri di sisi jendela, mengintip keluar. Di tangannya ada senapan terkokang.

“Josef, apa yang kau lakukan?” Leola berbisik gusar.

Josef tak menoleh, matanya menatap lurus pada kumpulan orang di luar sana. Wajahnya merah karena tegang. “Kau tak menyampaikan kabar itu pada Mafuzu?”

Leola sudah mengira Josef akan menanyakan itu. “Sudah kusampaikan. Tapi Mafuzu tak percaya,” elak Leola, lalu bergerak menghampiri telepon.

“Percuma. Mereka sudah memutuskan aliran telepon dan listrik.”

Leola terperangah. Diletakkannya kembali gagang telepon pada posisinya. Aksi di luar itu tak main-main. Sabotase yang sudah mereka lakukan lebih dulu menunjukkan bahwa gerakan itu benar-benar direncanakan. Melumpuhkan jalur komunikasi, memutus aliran listrik, memblokir lalu lintas, dan berkumpul di jalan-jalan, adalah umumnya trik untuk mendahului setiap keributan di kota ini.

“Josef…” Leola berbisik. Disentuhnya lengan kakaknya itu.

“Ya, mereka sudah menutup semua jalan keluar tiga blok dari sini.”

“Apa yang akan kita lakukan?”

Yosef belum menjawab. Wajahnya tegang di balik tirai jendela. “Entahlah…” bisiknya ragu. Suara Josef bergetar, “mungkin aku harus menembak siapa pun yang melewati pintu rumah ini.”

Leola gemetar mendengar itu. Kakaknya itu cukup gentar untuk melakukannya. Kegugupan Josef bisa membuat mereka berdua mati percuma. Leola mengeratkan cengkeraman di lengan kakaknya. Matanya sesaat terpejam, sebelum kemudian terbuka, dan nanar.

“Ya. Tembak. Tembak saja setiap orang yang melewati pintu itu!” Desis Leola.

“Leola…” Josef berkedip, tak percaya baru saja mendengar kengerian dari bibir adiknya. “Biar kukatakan pada Ubotu dan orang-orangnya, bahwa kita adalah anggota kelompok Mafuzu.”

Leola menggeleng. “Aku tidak mau lantai rumah ini dibasahi darah turunan Lugatti lagi.”

Kemungkinan itu sudah dicemaskan Josef. Ia membenarkan Leola untuk alasannya. “Mereka tak akan percaya, sampai Mafuzu berdiri di antara kita dan mengatakannya.”

Josef tercenung. “Tapi, kau yakin kita akan melakukan ini?”

Leola mengangguk yakin. Bayangan masa lalu berkelebat lagi di kepalanya.

**

Kakeknya, Luzandro Lugatti, langsung terkapar saat sebuah dayung menetak kepalanya. Darah dari ubun-ubunnya meleleh, menutupi pelipisnya lalu menetes meresapi pasir. Kemarahan seorang Zulu, kawannya sendiri, tak tertahan lagi setelah SAP mendobrak hampir sepuluh rumah nelayan di pesisir Balley Bay dan menembak mati delapan orang yang mereka prasangkai sebagai pengikut Mandela dan Mbeki.

Tak ada hubungan antara imigran Italia dengan politik represif de Klerk. Tapi, orang-orang Zulu tak peduli. Mereka dibutakan oleh kenyataan bahwa warna kulit Luzandro berbeda. Putih tetaplah putih, dan tentu banyak bedanya jika bercampur dengan orang-orang hitam.

Tubuh Luzandro masih bernyawa ketika mereka seret ke rumah ini. Di ruang depan, mereka campakkan tubuh Luzandro, membuat luka di ubun-ubunnya kian membanjirkan darah. Orang-orang itu berteriak-teriak, memaki dalam bahasa Zulu. Kemarahan yang sebenarnya tidak perlu lagi.

Luzandro yang sudah mandi darah tak sedikit pun menerbitkan belas kasihan di hati mereka, saat sebilah panga menetak punggung Luzandro yang tertelungkup, Leola tak kuasa menjerit lagi. Darah kakeknya seperti menghitam di mata Leola —tujuh tahun umurnya ketika itu. Gadis kecil itu histeris, tercekat dalam ketakutan, sampai-sampai ia tak lagi sadar mengencingi celananya sendiri.

Demi Tuhan —jika Dia memang ada—sepertinya kemarahan orang-orang itu telah membunuh semua kebaikan di muka bumi.

Mungkin itu akan menjadi ketakutan yang sama jika saja Leola juga melihat bagaimana ayahnya ditembaki di luar rumah ini, setelah keributan massal di wilayah barat Pretoria menjalar hingga ke pesisir. Ibunya, menyerahkan bayi Leola ke tangan Josef, lalu berusaha menahan kemarahan orang-orang itu sambil berlutut memohon.

Para penyerang tak peduli. Senjata tetap menyalak, membuat tubuh ibunya tersentak, melayang sebelum berhenti di bawah jendela. Josef melihat semuanya. Josef tak pernah sudi menceritakan kejadian itu pada Leola, hingga detik ini.

“Ya, Josef. Tembak siapa pun yang melewati pintu itu.” Sekali lagi, Leola mengingatkan kakaknya. Gadis itu menghunus kecemasannya.

**

Mafuzu terkejut setengah mati, saat ditemui Saima, yang datang tergopoh-gopoh mengabarkan adanya keributan di Equilla. Mafuzu langsung teringat apa yang dicemaskan Leola padanya semalam itu.

“Siapa?!”

“U…botu!” Saima masih berusaha bernapas dengan benar.

Mafuzu kini menyalahkan dirinya. Dia kenal tabiat Ubotu, tapi entah kenapa orang nomor satu di faksi Hutu itu berhasil membuatnya percaya. Entah kenapa pula ia tak begitu peka bahwa kecemasan Leola punya alasan.

“Kumpulkan orang-orang!” Teriak Mafuzu. Darah menjalar cepat di semua pipa darahnya. “Kita harus menghubungi Mazinha dan Fufu, agar mereka tidak terpancing provokasi Ubotu.”

“Percuma. Orang-orang Ubotu telah menyabot sambungan telepon, juga mematikan pasokan listrik di sepanjang pesisir Balley Bay dan bagian timur Pretoria.”

“Brengsek!” Mata Mombaza menyala. Dia marah sekali.

“Sampaikan pada Rake dan Frank untuk menemuiku di Equilla bersama semua orang-orangnya. Katakan juga, aku sedang menuju ke sana!”

Saima yang belum usai mengatur napasnya, harus kembali berlari ke rumah Rake. Di sana ada radio yang bisa ia gunakan untuk memberitahu Frank perihal permintaan Mafuzu. Di kejauhan tampak asap hitam pekat dari ban yang dibakar, membumbung ke angkasa.

Mafuzu melompat ke Jeep tuanya, lalu memacu mobil itu menembus jalanan Pretoria yang berdebu. Ia harus sampai ke Equilla, segera ke rumah keluarga Lugatti. Ia harus menemui Leola.

Tak sampai tiga menit, matanya sudah melihat kumpulan orang-orang di persimpangan empat jalan Balley Bay. Ruas jalan di bagian kiri akan merimpang pada enam jalur kecil yang memisahkan enam blok perumahan di sektor Equilla. Mafuzu menekan kuat-kuat klakson mobilnya, menyibak kumpulan orang-orang yang langsung meneriakinya penuh amarah.

Sepanjang jalan ini, orang berduyun-duyun ke arah perpotongan enam jalan kecil. Rupanya, di situlah Ubotu memusatkan aksinya. Taktik Ubotu itu memang jitu. Menguasai jalan itu, tak hanya akan memblokir semua ruas jalan di sektor Equilla, tetapi juga seketika melumpuhkan semua akses ke pesisir Balley Bay dan bagian timur Pretoria.

“Apa sebenarnya yang kau rencanakan Ubotu,” Mafuzu bergumam dari belakang kemudi. Matanya liar mencari-cari sosok Ubotu. Tak ada. Hanya terlihat olehnya Bakele dan tiga orang suruhan Ubotu lainnya.

Mafuzu mengerem mobilnya lima meter dari empat kaki-tangan Ubotu itu. Ia berteriak memanggil Bakele, dan orang itu segera menghampirinya.

“Kegilaan macam apa ini?!” Desak Mafuzu. Wajahnya penuh peluh.

Bakele menatap sinis padanya. “Ini perintah Ubotu!”

“Aku tahu. Tapi kenapa Equilla?!”

“Tanyalah sendiri padanya.”

Mafuzu menatap tajam pada Bakele, yang segera paham arti tatapan itu. Bakele menyerah. “Ia di ujung lain jembatan Manuzi,” ujarnya kemudian.

Ubotu tak pernah jauh-jauh dari markas kelompoknya. Di ruas jalan Bleekend, 200 meter dari ujung lain jembatan Manuzi, berdiri markas kelompok Ubotu yang selalu dijaga ketat orang bersenjata.

Perasaan Mafuzu kian cemas saat menyadari tak seorang pun anggota SAP di sekitar tempat ini. Dari belakang kemudi Jeep-nya, Mafuzu kini bingung pada pilihan, apakah lebih dulu menyinggahi Leola, atau menemui Ubotu untuk meredakan situasi ini.

Orang-orang hanya berkerumun di jalan, dan belum sampai merusak properti warga Equilla. Mungkin saja mereka pun sedang menunggu perintah. Leola aman. Ubotu harus ia temui agar blokade ini diakhiri.

**

Ubotu tegak berdiri di halaman markasnya saat Jeep Mafuzu berhenti tepat di dekat pohon Jacaranda. Mafuzu menunjuk muka Ubotu, dengan sinar mata menyala.

“Kau gila! Ini bisa membuat SAP segera memenuhi tempat ini.”

Ubotu tersenyum. “Begitu, ya?”

Kesinisan Ubotu menyadarkan Mafuzu bahwa ternyata gerakan ini sudah sepengetahuan SAP. Pantas saja, hanya ada dua personil SAP terlihat di sektor ini.

“Hentikan ini, Zaili!” Mafuzu menyebut nama kehormatan asal suku Ubotu.

Ubotu menggeleng. Tampak sekali Ubotu senang membuat Mafuzu terpojok. “Kami sudah dengar kabar soal rencana masuknya senjata dari Cuba lewat perbatasan Zimbabwe. Kami tak tahu apakah SAP mengetahui juga kabar itu. Tapi aku bisa jamin, mereka tak mendapatkan informasi soal itu dariku.”

“Kau tidak…?”

Ubotu menepiskan tangannya. “Tenanglah. Namamu tak ada dalam daftar SAP. Apa yang kaulihat hari ini adalah bayaran dari sedikit informasi yang kuberikan.”

“Kau berusaha memerasku dengan aksi hari ini.”

“Secara politis aku harus menggunakan peluang,” Ubotu memiringkan kepalanya. “Ya. Tapi ini lebih tepat disebut…pertukaran.”

Mafuzu ingin segera memukul mata orang di depannya ini. Pertukaran?

“Dengar Ubotu!” Geram Mafuzu, “kau berikan saja namaku pada SAP. Aku tak peduli, jika itu memang hendak kau lakukan. Kami sudah hitung semua resiko, termasuk jika SAP hendak menangkap kami.”

Mendadak Mafuzu sadar betapa dungunya Ubotu. “Kami lebih solid dari kelompok mana pun, Ubotu. Orang-orang Zulu tak pernah melanggar janji.”

Ubotu, lelaki pendek di depan Mafuzu itu bahkan tak memperhitungkan kemungkinan bahwa Mafuzu akan menolak. “Aku tahu setiap anggotamu di sektor Equilla.” Gertak Ubotu.

“Justru itu. Kau masih berdiri di hadapanku sekarang ini karena jaminan dan perlindungan mereka. Orang-orang Italia dan Polandia tak seperti dugaan kalian. Mereka tak pernah setuju dengan regresi ini. Sepenuhnya sadar bahwa apa yang diperjuangkan Mandela dan Mbeki adalah hal yang penting untuk Afrika Selatan.”

“Aku tak percaya!”

“Kau pikir dari siapa semua informasi intelijen SAP keluar dari kantor de Klerk? Itu kerja mereka bertahun-tahun. Mereka membantu Madiba seolah-olah dialah bapak mereka.”

Ubotu tercenung. Lalu mukanya mendadak pias, saat sebuah letusan terdengar dari sektor Equilla, sedetik kemudian. “Sialan. Apa saja kerja si Bakele itu. Aku belum memerintahkan apa pun.”

Mafuzu mundur, mengambil ancang-ancang naik ke mobilnya. Ditunjuknya muka Ubotu. “Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Leola, maka kau tanggung akibatnya. Orang Zulu akan mencabut persekutuannya dengan Zaili.”

Itu ancaman serius. Mafuzu tidak main-main jika sudah mengancamkan hal seperti itu. Di Pretoria, ucapan seperti itu dampaknya lebih berdarah-darah tinimbang saling melempar kursi di perundingan, atau tembakan pistol SAP di siang hari. Ubotu panik mendengarnya. Sungguh, tak ia perhitungkan Mafuzu akan bilang begitu.

Mobil Mafuzu dipacu kembali ke sisi lain jembatan Manuzi. Ubotu menyusul dengan tiga kendaraan yang dimuati orang-orang bersenjata. Saat ketiga mobil ini tiba di perpotongan jalan, tampak oleh Mafuzu, orang-orang sudah berlarian panik.

Leola. Hanya gadis itu yang seketika melintas di benaknya.

Jeep tua itu ia paksa menerobos kerumunan manusia yang memenuhi jalan Equilla dari arah timur. Klaksonnya berteriak-teriak, berusaha membelah arus orang-orang. Kepanikan tergambar jelas di wajah Mafuzu, saat dilihatnya sejumlah orang bersenjata sedang merangsek, berusaha memasuki rumah keluarga Lugatti.

**

Josef menyeringai jeri, mendengar luapan provokasi dari kerumunan orang di ujung jalan yang merimpang ke jalan dua jalur di sepanjang Balley Bay. Matanya tajam mengawasi dari balik tirai jendela. Tak ada yang lebih penting baginya kini, kecuali keselamatan Leola. Ia sudah berjanji pada kakeknya, akan menjaga adiknya itu dengan taruhan nyawa sekali pun.

Selain sepucuk senapan shootgun, ia masih punya sebuah revolver otomatis 9mm di laci pada sisi ranjangnya. Kini pistol itu dalam genggaman Leola. Ia tatap raut wajah tegang adiknya. Ibanya timbul. Semua ini tak seharusnya ada dalam hidup Leola. Bukan, bukan seperti ini seharusnya.

Gagang senapan di tangannya mendadak licin. Tegang membuat telapak tangannya berkeringat. Tapi kerumunan orang-orang marah di luar sana makin tak terkendali. Seseorang sedang berorasi dalam bahasa Hutu menggunakan pelantang suara. Setiap kali seruannya berakhir, akan serentak disambut teriakan kerumunan di sekitarnya.

Apa yang sebenarnya sudah mereka rencanakan?

Josef tak berani menduga-duga. Ia hanya tahu, mereka berdua akan menembak siapa pun yang melewati pintu jika keadaan tak terkendali, saat orang-orang itu mulai menjarah rumah-rumah di sepanjang jalan ini.

“Fokuslah, Josef. Fokus,” gumam Josef untuk dirinya sendiri.

Leola berdiri tegang di balik pintu yang memisahkan ruang tengah dan dapur. Revolver otomatis di tangannya sudah ia kokang. Kengerian tergambar di wajahnya.

Di mana kau, Mafuzu, jerit hati Leola.

Hanya lelaki yang disayanginya itu yang bisa meredam kegilaan Ubotu. Sukar ia bayangkan kejadian hari ini, padahal ini sudah diperkirakannya sejak semalam, saat Ubotu menolak berbicara dengan dua faksi bersenjata di utara Pretoria.

Terdengar benturan benda keras di pintu depan. Batu-batu beterbangan, menghantam kaca, membuatnya pecah berderai. Leola mengarahkan pistolnya lurus ke depan. Diliriknya Josef yang bersandar didinding ruang tengah, menopang punggungnya dari hentakan senapan jika sewaktu-waktu ia terpaksa menembak.

“Keluar kalian!” Seru beberapa suara sekaligus. Mereka sudah mulai merusak tanaman, membalikkan pot, dan menjungkir-balikkan ayunan besi di beranda depan. Tirai dari jendela yang tak lagi berkaca, melambai-lambai diterpa angin.

Tiba-tiba pintu depan pentang terbuka, terbanting dengan suara keras. Dua orang lelaki menerobos masuk. Mata mereka liar. Wajah dan dada mereka berpeluh.

Josef berinisiatif menembakkan senapan di tangannya ke plafon, memberi peringatan agar orang-orang itu tak berusaha melewati ruang tengah. Benar saja. Dua orang yang sudah menjejak ruang tamu, kembali melompat keluar. Sebagian orang-orang di luar rumah buru-buru mencari perlindungan.

Tapi sebagian lagi justru siaga. Seolah-olah mereka menemukan lawan sepadan bagi senjata-senjata di tangan mereka. Sepucuk AK-47 menyalak keras, saat disapukan ke dinding beranda depan.

Josef merapatkan punggungnya. Pertahanannya terlalu terbuka karena posisi jendela di sisi ruang tengah tepat mengarah padanya. Jika ada penyerang yang memasukkan moncong senapan otomatis ke jendela itu, peluangnya sangat tipis untuk selamat.

Ia minta agar Leola merunduk, lalu merapatkan tubuh ke dekat bingkai jendela. Itu artinya, Leola harus menembak siapapun yang tampak dari posisinya sekarang.

Apa yang diperhitungkan Josef memang terbukti. Seorang bersenjata melihat jendela itu, menghampirinya, mencoba mengintip ke dalam. Saat didapatinya Josef sedang berdiri siaga, dan mengarahkan senjata ke pintu belakang dari posisinya di ruang tengah, orang itu langsung bersiap membidik Josef. Ia meraba pelatuknya.

DOR!!

Lelaki bersenjata itu terjengkang, menimpa perdu pagar, membuat senjata otomatis di tangannya ikut terlepas. Sebuah lubang di bagian bawah lehernya langsung membuatnya mati. Kawannya-kawannya kini lebih awas, lebih siaga dan waspada.

Leola terpana. Gadis ini hampir-hampir tak percaya bahwa ia baru saja membunuh seorang penyerang yang nyaris saya menembak Josef. Ia menangkap bayangan yang menghalau sinar matahari, sebelum mengintip dan melihat orang itu siap membidik. Buru-buru Leola mendahuluinya. Pistolnya meledak, seketika membuat liang di pangkal leher orang itu.

Josef melirik adiknya. Ia tersenyum kecut. Telinganya juga menangkap teriakan dari luar rumah. Seperti perintah agar berhenti menembak dalam bahasa Hutu. Wajah Josef dan Leola kian tegang.

Josef meninggalkan posisinya, dan beralih ke ambang pintu dapur. Niatnya cuma satu; ia tak ingin para penyerang menerobos pintu dapur dan mendapati mereka berdua di ruang tengah. Leola, ia tinggalkan di sana, tetap menjaga jendela, membelakangi pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Posisi Josef sekarang cukup bagus untuk mengawasi dua pintu sekaligus.

Terdengar langkah-langkah kaki seperti sibuk di lantai beranda. Tak ada lagi pintu yang bisa menghalangi siapa pun masuk ke ruang tamu. Terdengar juga suara orang-orang dari arah belakang rumahnya. Kelebatan orang-orang yang bergegas mengepung membayang lewat tirai. Josef waspada. Senjata di tangannya terarah ke pintu dapur. Matanya awas sekali.

Konsentrasinya pada orang-orang di belakang rumah, membuatnya lalai pada seseorang yang kini nyaris melewati pintu ke ruang tengah. Itu pula yang membuat Leola terkejut, seketika membalikkan tubuh sambil melepaskan tembakan berikutnya.

Sekali lagi, tembakan Leola membuat sasarannya terjengkang, jatuh berdebam ke lantai ruang tamu.

**

Amarah Mafuzu menjilam. Jeep-nya belum berhenti benar, saat ia melompat sigap dan berteriak, memberi perintah dalam bahasa Hutu agar orang-orang bersenjata di halaman rumah Leola berhenti menembak. Hampir bersamaan, Ubotu pun sampai di sisinya. Ikut marah-marah, bahkan menempeleng beberapa orang anak buahnya yang dekat dari posisinya.

Mafuzu melompat ke beranda. Wajahnya cemas. Ia harus menemukan Leola, membawa pergi gadis itu, sebelum Ubotu membereskan urusan yang dimulainya sendiri: membubarkan orang-orang ini.

Tergesa-gesa Mafuzu melewati pintu dan masuk ke ruang tamu. Pecahan kaca dari jendela yang terkena batu terserak, mengotori lantai dan sofa. Ia harus menemukan Leola. Kakinya melangkah ke ruang tengah. Saat itulah, sesuatu meledak, membuat dada kirinya panas. Panas yang menyengat, perih luar biasa. Membikin tubuhnya terlempar, terbanting keras ke lantai. Ekor matanya sempat mendapati sosok orang yang dicintainya, Leola, sedang berjongkok takut di sisi jendela.

Ketakutan di wajah gadis itu seketika berganti kejut yang sangat. Demi melihat tubuh yang terkapar di lantai ruang tamu adalah Mafuzu, histerislah gadis itu. Ia memburu, menjatuhkan dirinya ke sisi Mafuzu, meraba wajah dan leher lelaki itu.

Leola terkejut saat menyadari ada orang yang hendak melewati ambang pintu menuju ruang tengah. Refleks, Leola melepaskan tembakan dan membuat orang itu terjengkang. Peluru pistolnya mengenai sasaran dengan telak. Leola tak menyangka orang itu adalah Mafuzu.

“Kau selamat Leola. Kau selamat.” Kata lelaki itu seraya tersenyum. Mafuzu datang menjemputnya, seperti janjinya.

Setelah mengatakan itu, Mafuzu tak bergerak lagi. Lelaki yang dicintainya itu kini terbaring tak bernyawa di lantai ruang tamu, tepat di posisi Luzandro Lugatti dulu, yang tertelungkup mati dalam kenangan di kepala Leola. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


[Cerpen] Kuda-Kuda Terakhir | Femina | No.04/XLII ~ 25–31 Januari 2014

Kuda-Kuda Terakhir

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kuda-Kuda Terakhir_Femina

LEMBAH-lembah dan padang ilalang di punggung bukit Saba Mpolulu kian sepi dari derap kaki kuda yang berlarian bebas. Sejak kuda-kuda ditangkapi secara liar untuk diperdagangkan, tidak ada lagi gemuruh saat kawanan hewan cantik itu berlari menembus cahaya matahari. Surai kuda-kuda yang direbahkan angin, leher yang berkilat saat mereka berpacu membelah ilalang di padang miring ini lenyap.

Gadis itu tidak pernah memimpikan buruknya situasi ini. Satu per satu kuda lenyap dari padang yang telah mereka huni ratusan tahun. Hewan-hewan menawan itu seakan pergi dari tempat-tempat yang sering ia datangi. Hanya angin yang berkelana saat tubuh gadis itu tegak di atas bebatuan di kaki bukit. Angin yang seharusnya menemani derap para kuda yang datang saat gadis itu memanggil mereka adalah juga angin yang menyapu pesisir Sikeli saat kuda-kuda itu dinaikkan paksa ke kapal-kapal para penangkap kuda liar.

Tinggallah senandung gadis itu saja yang merajai punggungan bukit miring berilalang ini. Rerumputan tak bergairah, seperti muram yang datang dan berdiam. Gadis itu berjongkok di atas bebatuan, pindah dari satu batu ke batu lainnya, menunggu dalam cemas yang terkadang menerbitkan air matanya.

“Datanglah ke hadapanku…,” bisiknya. Telapak tangannya mengusap pipinya yang sudah basah. Matanya tajam mengawasi tiap gerakan yang mungkin terlihat di antara ilalang yang menari, atau dari keremangan di bibir hutan.

“Tidak boleh begini. Jangan seperti ini,” gadis itu berbisik lagi.

**

Gadis bernama Loka itu sendirian. Ia generasi terakhir dari para perempuan pemanggil kuda. Ia mewarisi kemampuan langka sebagai pauno-dara dari moyangnya, para perempuan yang dapat membaca hasrat paling liar hewan-hewan cantik itu.

Dahulu, Suria, buyutnya berdiri di hadapan Mokole dan Kapita, menentang orang-orang berderajat tinggi itu. Suria tegas menolak menghadirkan kuda-kuda ke halaman istana Laica Ngkoa yang luas itu. Kematian para kuda telah mengubah keputusannya. Kecewa dan kemarahan menggulung hatinya dari kengerian yang menggumpal saat mengetahui nasib macam apa yang akan menimpa hewan-hewan cantik yang ia lindungi.

Mokole telah menyeret para kuda dalam perang suku yang ambisius. Demi hasrat kuasa dan perluasan wilayah, para mokole mengobarkan perang yang menyisakan kematian pada rakyatnya, tak terkecuali para kuda. Bisa dibayangkan, betapa remuk perasaan Suria saat memandang padang Sangampuri yang dipenuhi darah dan bangkai kuda yang bercampur dengan aroma kematian dari prajurit kemokolean. Perang dan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Suria telah memanggil para kuda, tetapi para Mokole justru mengirim mereka ke medan perang untuk mati sia-sia. Ya. Kematian yang sungguh sia-sia.

“Para kuda telah berbicara padaku. Maka, telah sampai masanya aku tak akan menuruti kalian lagi, wahai Mokole. Para kuda mempertanyakan kematian yang datang melalui tanganmu!” Suria meradang. Perempuan itu meraba pinggangnya. Hulu Taa memantulkan cahaya mentari dari sela jemarinya.

Perlawanan Suria telah mengakhiri persinggungan para kuda dengan manusia di tanah Moronene ini. Meski karenanya, Mokole Tontodama menyamakan posisi para pemanggil dan tegas menyatakan kepentingan mereka yang berseberangan.

Tapi, Suria hanya tersenyum di hadapan Tontodama.

“Itulah senyum terakhir yang aku lihat dari wajah buyut perempuanmu. Senyum nenekku itu tak pernah kulihat lagi saat terakhir ia tegak di sebuah batu besar di padang ilalang Saba Mpolulu.” Aniati mengenang neneknya dalam cerita yang disimak Loka dengan saksama.

“Semenjak itu, aku dan ibuku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan. Saat ia berlari bersama kuda-kuda, atau menunggangi salah satu dari hewan cantik itu. Beliau memegang teguh janjinya agar para kuda tidak lagi berurusan dengan ambisi manusia.”

Ketika itu Loka masih berusia 15 tahun. Kepalanya rebah di pangkuan ibunya, mendengarkan kisah-kisah tentang buyut perempuannya. Aniati memastikan, tidak ada perempuan pemanggil kuda lainnya yang sekuat Suria.

“Apa yang dilakukan para mokole setelah itu, Ibu?”

Aniati membelai rambut Loka dengan sayang. Bibirnya disaput senyum. Matanya berbinar bangga. “Mereka marah besar dan memerintahkan para Kapita untuk memburunya, setelah mendengar buyut perempuanmu itu berkata: “Inilah aku, wahai yang ditinggikan. Aku tidak akan memperdebakan perkara ini. Engkau yang akan menanggungnya. Biar Tuhan yang menuntun jalanku.”

Lalu, Aniati menoleh ke dinding. “Lihatlah itu,” tunjuknya pada dua benda yang tampaknya berpasangan. “Itu Taa dan Korobi milik buyut perempuanmu. Bukan main marahnya para Mokole, saat ia meloloskan Taa dari Korobi-nya dan melemparkannya ke tanah. Buyutmu telah menghina para raja dengan cara yang halus, sekaligus mempermalukan mereka. Tapi, ibuku memungutnya untuk ia simpan.”

“Bagaimana dengan buyut lelakiku?”

“Merekalah pelindung kami. Buyut lelakimu, kakekmu, dan ayahmu, adalah bagian keberadaan kami. Mereka pelindung para pemanggil, dan mereka melakukan tugasnya dengan baik.”

“Aku merindukan Ayah…”

Aniati beringsut , menegakkan tubuh Loka, membuat wajah putrinya menghadap ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu juga merindukannya.” Aniati tercekat keharuannya sendiri, “…kelak, akan datang lelaki yang akan melindungimu seperti para lelaki hebat dari rumah ini.”

Aniati menarik wajah putrinya itu, memberikan kecupan sayang yang lama di kening Loka.

**

Kuda-kuda telah memilihnya sebagai Pauno-dara berikutnya. Sama seperti saat para kuda memilih para pemanggil terdahulu, ibunya telah pula mengantarkannya ke padang ilalang ini, ke hadapan para kuda. Aniati tersenyum bangga saat si Kepala Berlian mengendus tubuh Loka, sebelum merendahkan dua kaki depannya, dan menundukkan kepala di hadapan putrinya itu. Usia Loka persis 23 tahun ketika itu.

Aniati menyatakan kelegaannya dan berterima kasih di hadapan para kuda. Seingat Loka, itu juga kesempatan terakhir ibunya mengunjungi padang ilalang Saba Mpolulu. Ibunya wafat tiga bulan berikutnya.

“Jangan menangis, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu senang para kuda telah memilihmu. Mereka akan menjagamu sebagaimana takdirmu sebagai penjaga mereka. Kau hanya butuh kepercayaan mereka, Sayang.”

Loka masih ingat dengan jelas kata-kata terakhir ibunya setahun lalu itu. Kini, ia tegak sendiri di tepian padang ilalang ini, menanti para kuda datang memenuhi panggilannya.

“Holeeei!” Seruan Loka berkumandang seperti hendak menembus tiap sekat alam. Seharusnya kuda-kuda berderap datang saat ia memanggil. Tapi, hewan-hewan cantik itu tak muncul. Sepekan lalu, kawanan kuda berderap dari sisi hutan, memasuki padang dan membelah ilalang untuk datang menghampirinya.

Adakah masanya tiap pemanggil kuda akan kehilangan kekuatannya? Pakah para kuda juga akan menolak datang memenuhi seruan para pemanggil? Apakah ia akan sedih jika suatu saat hanya bisa memandangi bekas kaki para kuda yang tertinggal di padang ilalang Saba Mpolulu, di aliran sungai Laa Kambula, atau seolah mendengar ringkikan mereka di sela pepohonan hutan Sangia Wita?

“Mereka pasti datang.” Suara berat seorang lelaki datang dari belakang Loka. Gadis itu terkejut. Madara berdiri tak jauh darinya, bersandang tali pengikat tula nira enau. “Maaf, mengejutkanmu.”

Mata Loka menggeriap. Ia tidak tahu sejak kapan Madara berdiri di situ. Ia lelaki yang tinggal di selatan sungai Laa Kambula. Meramu pohon Enau adalah pekerjaannya sehari-hari.

“Kemarin kulihat si Kepala Berlian memimpin kawanan di pinggiran hutan di utara padang ini. Saat matahari beranjak naik, mereka akan berlarian melintasi hutan ke arah sana.” Madara menunjuk ujung padang yang berbatasan langsung dengan hutan di bagian timur. Lalu lelaki itu menurunkan tabung tula dari bahunya, meletakkannya hati-hati agar isinya tak tumpah. “Kau jarang ke sini lagi,” sambungnya.

Loka berjongkok. Kagetnya sudah hilang. Kini wajahnya tampak dipenuhi pertanyaan akan kehadiran Madara. Kepalanya dimiringkan. “Sejak kapan kau mulai berkeliaran di dekat sini?” Tanya Loka.

“Kapan pun aku mau,” jawab Madara, tersenyum. “Wilayah peramuanku di sebrang padang ini. Aku melintasi sisinya jika hendak pulang ke desa. Aku tak harus selalu melintas di sisi air terjun Wataroda, bukan?”

“Kuharap kau tidak mengganggu mereka.”

Madara menggeleng cepat. “Oh, tentu tidak. Jangan mengira aku akan melakukannya. Aku hanya mengawasi mereka.”

“Mengawasi?”

Lelaki itu mengangguk. “Apa sudah kau hitung jumlah mereka terakhir kali?”

Loka terpana. “Apa?”

“Seharusnya kau lebih sering bicara pada si Kepala Berlian.”

“Apa yang…?”

Madara menoleh cepat. “Kau tidak memperhatikan rupanya. Kuda berkurang dua, bahkan saat kau mengunjungi mereka sepekan lalu.”

Loka sontak berdiri, membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dipandanginya batas padang nun jauh di sana yang tampak bergerak-gerak akibat panas yang menguapkan tanah. Kedua tangannya membentuk corong. “Holeeeii!” serunya, tiga kali.

Tidak terjadi apa pun. Tidak ada derap kaki kuda mendekat.

“Ke mana mereka? Seharusnya mereka…,” gumamnya. Mata Loka memejam.

Selarik bayangan wajah ibunya melintasi kenangannya sekali lagi. Perempuan itu berdiri di atas batu seperti dirinya sekarang ini, mengajarinya cara memanggil kuda. Bagaimana ia berkosentrasi dan menyakini sesuatu, sebelum ia berseru memanggil. Mata ibunya berbinar-binar saat bercerita tentang neneknya yang tangkas menggulung kain dan berlari di antara kawanan kuda seraya tertawa-tawa.

“Lihat itu!” Seru Madara. Telunjuknya mengarah ke bagian remang di tepian hutan, pada sesuatu yang bergerak senyap dan mendengus. Ada sepasang mata hitam berkilat yang mengawasi mereka berdua dari arah itu.

“Si Kepala Berlian,” desis Loka. Wajahnya berseri-seri. Bayangan hitam itu bergerak ragu-ragu. Kuda itu cemas dan gugup.

“Ayo, ke sini! Tak apa-apa!” Teriak Madara.

“Diam!” Tangan Loka terangkat, membuat Madara menahan teriakannya. “Turun! Turunlah perlahan!” Pinta Loka.

Lelaki itu menurut. Madara mundur perlahan, membalikkan tubuh, lalu meluncur turun dari batu. Bergerak pelan, seolah tak ingin terlihat, lalu Madara jongkok di balik batu lainnya. Matanya tajam menatap Loka yang tegak di atas sana.

“Holeeei!” Loka berseru. Suaranya melengking, memantul di sisi bukit dan merambah padang ilalang miring itu. Kuda mana pun seharusnya datang saat ia memanggil. Mereka mengenali suara setiap pemanggil, sebab merekalah yang telah memilihnya. Kemampuan yang hanya dimiliki kaum perempuan di tempat ini dan hanya diwariskan kepada perempuan berikutnya.

Sosok gugup di remang bayangan pepohonan itu bangkit, lalu perlahan berjalan mendekati tempat Loka berdiri. “Jangan bergerak, Madara. Ia sedang tak memercayai siapa pun saat ini. Bahkan aku!” Nada sedih terdengar di ujung perintahnya.

Tangan Loka terangkat, meminta kuda itu berjalan lurus ke arahnya. “Jangan takut. Aku memanggilmu untuk melihat keadaanmu. Mendekatlah.”

Cukup lama kuda bercorak berlian di antara kedua matanya itu memperhatikan Loka. Kepalanya mendongak, seperti membaui sesuatu dari udara. Lalu ia mendekati Loka dan menempelkan kepalanya ke kulit lengan gadis itu.

“Ada apa denganmu? Mana anggota kawanan lainnya?” Tanya Loka. Kaki depan kuda itu menyepak-nyepak tanah. Lalu meringkik pelan. Kepala Loka terangkat, saat matanya menangkap sembilan sosok kuda lagi berlari ke arah si Kepala Berlian. Gadis itu menunduk sedih. Ia mencium kening Kepala Berlian, lalu berbisik, “maafkan aku.”

Seperti kata Madara, kawanan Kepala Berlian berkurang dua ekor. Sepekan saja ia tidak datang menjenguk mereka di padang ilalang ini, cukup memberi kesempatan para penangkap kuda liar menyelesaikan urusan mereka. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

* Pauno-dara: pemanggil kuda/pelindung kuda.

* Mokole: raja Moronene.

* Kapita: panglima, di struktur peristiadatan pemerintahan Kerajaan Moronene.

* Laica Ngkoa: rumah adat/istana Kerajaan Moronene.

* Taa: parang pendek. Senjata tradisional Moronene. Bentuk parang yang lebih panjang disebut Taa’Owu.

* Korobi: sarung senjata Taa dan Taa’owu.

* Moronene: etnis tertua di Sulawesi Tenggara. Mendiami daratan besar (Rumbia, Poleang, Huka’Ea, La’Ea, Lanowulu, dan Langgosipi) di selatan Sulawasi Tenggara dan di empat pulau (Kabaena, Talaga Besar, Talaga Kecil, dan Koko’E).

* Tula: bambu betung.

* Saba Mpolulo, Sikeli, Sangampuri, Laa Kambula, Wataroda, Sangia Wita: adalah nama-nama tempat di pulau Kabaena (Bombana, Sulawesi Tenggara).

 


[Cerpen] Perempuan Kretek | Padang Ekspres | Minggu, 02 Maret 2014

Perempuan Kretek

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Perempuan Kretek_Padang Ekspres

1/

SIANG ini, kudapati ibu sedang membanting cucian di lantai sumur, di samping rumah. Tiga hari lalu, ibu bolos kerja, begitu juga hari ini. Jika ditambah dua pekan sebelumnya, ibu terhitung sudah delapan kali mangkir.

“Tak ke pabrik, Bu?” Kusapa beliau dari ambang pintu samping. Ibu menoleh, lalu menggeleng pelan. “Ibu sakit, ya?” Tanyaku cemas, “senin kemarin, Ibu tak masuk kerja juga. Jangan-jangan, ibu memang sakit, ya?”

“Tidak. Ibu ingin di rumah saja.”

Kalau ibu sudah maunya begitu, ya biarkan saja. Aku sebenarnya tak suka ibu masih bekerja di pabrik, di saat ibu seharusnya tenang di rumah, di usia tuanya. Tetapi, ibu selalu bilang, bahwa ia masih tahan duduk seharian melinting tembakau yang baunya tajam itu pada kertas kretek. Bila tak biasa, pinggang memang bisa kram, serasa mau patah bila tegak berdiri tiba-tiba.

Tapi itulah maunya ibu. Tak pernah perempuan yang kusayangi itu membuang percuma waktunya. Saat tak ke pabrik pun, jika tak mencuci di sumur, ibu kadang sibuk di sepetak kebun kecil di belakang rumah kami.

“Bayaran kuliahmu makin dekat, ya Fi?”

Ibu ternyata sudah berdiri di belakangku saat aku hendak menyendok nasi. “Eh…iya, Bu. Dua minggu lagi kalau tak salah.”

“Tapi ibu belum terima gaji loh, Fi.”

“Bayarannya seminggu lagi kok, Bu,” aku tersenyum, “pasti keburu jika pabrik membayari gaji ibu pekan depan.”

Ibu mengangguk pelan. Tapi beliau tak bicara lagi. Ibu selalu mencemaskan kuliahku. Jika bukan soal bayaran, beliau akan bertanya soal diktat kuliah yang mungkin perlu kutebus. Ibu masuk kamar, lalu keluar lagi sesaat kemudian.

“Ini pegang saja, Fi.” Ibu menyorongkan sesuatu dari tangannya, “jaga-jaga saja buat bayaran kuliahmu nanti, andai gaji ibu belum ada sampai pekan depan.”

Eh, itu kan kalung emas peninggalan almarhum bapak. “Ibu kenapa sih!” Aku protes seraya menjauhkan tangan ibu, “simpan saja kalung ini. Kalau ibu butuh, biar ibu saja yang menjualnya dan memakai uangnya. Aku tak mau sepeser pun uang dari penjualan kalung kenang-kenangan bapak buat ibu. Dosa.”

Kalung itu, memang tak pernah keluar dari wadahnya, sebuah kotak dari kayu eboni berukir bunga melati. Bapak membelinya di Dubai, saat transit menuju Indonesia selepas mengakhiri kontraknya sebagai tenaga kerja Indonesia di Mekkah. Betapa gembira ibu saat menerima kalung itu dari bapak. Liontinnya bergambar bunga melati juga. Berat liontin berikut rantainya, 25 gram.

“Tapi, kuliahmu perlu bayaran toh?”

“Fiah nunggu gaji ibu dari pabrik saja. Kalau waktunya sampai pun, Fiah bisa kok minta penangguhan.”

“Apa kampusmu tak apa-apa jika telat membayar?”

Aku sentuh pundak ibu. “Telat sebulan tak apa-apa, Bu.”

Selama ini, ibu tak pernah berwajah murung di depan kami, kecuali di hari bapak wafat. Ibu selalu tenang, tak pernah mengeluh. Pabrik kretek tempat ibu bekerja tak jauh dari rumah kami. Butuh 15 menit bersepeda. Ibu mengayuh sendiri sepeda tua peninggalan bapak, bolak-balik dari rumah ke pabrik setiap hari. Urusan rumah jadi bagian kami, kedua anaknya.

2/

Aku tak paham cara kerja manajemen pabrik kretek tempat ibu bekerja. Mereka belum juga membayarkan dua bulan gaji ibu. Apa pabrik itu sudah mau bangkrut, sehingga harus menunda gaji buruhnya? Kasihan nasib ibu dan para buruh lain jika gaji mereka sering ditunggak.

Mbak Suti, teman ibu awalnya tak mau bicara soal kelakuan manajemen pabrik tempat mereka bekerja. “Gimana ya, Fi. Aku orangnya tak suka mengungkit masalah yang bukan urusanku. Apa ibumu belum cerita?” Tanyanya balik, saat kumintai keterangan soal gaji ibu yang belum terbayar.

“Ibu bilang gajinya belum dibayarkan dua bulan. Makanya ibu tak masuk kerja. Mandornya itu loh, si Pitono itu gimana?”

Suti tertunduk seraya memilin-milin ujung bajunya. “Eng…begini loh, Fi. Ibu itu terlalu tua untuk bekerja di pabrik. Jadi…”

“Jadi karena umur, mereka seenaknya menunggak hak ibu? Tidak boleh begitu!” Aku tidak terima alasan yang kuanggap sepele itu, “kasihan semua buruh di pabrik jika umur mereka dipersoalkan.”

“Ya, tak seperti juga, Fi. Ibu termasuk salah satu buruh yang paling senior di pabrik. Aku hanya tak paham apa pertimbangan manajemen pabrik.”

“Pertimbangan apa lagi? Ya, bayari saja gaji ibu.”

“Ibu itu loh, Fi…” Suti geragapan, “sudah ah, aku tak enak membicarakan yang aku tak mengerti.”

Gantian aku yang kini bingung dibuatnya. Suti bergegas pergi.

“Mbak Suti mau ke mana?”

“Aku ada urusan sedikit.” Pedar Suti seraya menggegaskan langkahnya.

3/

Kasihan ibu jika memang begitu ceritanya. Kenapa justru umur para buruh senior yang mereka persoalkan? Ibu buruh yang tekun, puluhan tahun bekerja pada mereka, sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga setua itu. Mereka tak menghitung 48 tahun pengabdian yang dihabiskan ibu bekerja di pabrik kretek mereka.

Bapak bertemu ibu di pabrik itu. Bapak ingin agar hidup kami berkecukupan, maka bapak pergi merantau ke Saudi Arabia, jadi TKI. Umur bapak tak panjang, tapi beliau tak meninggalkan beban pada ibu. Peninggalan bapak cukup buat kami.

Aku mematung di bibir jendela, memerhatikan jalanan yang ramai di luar pagar sana. Sudah kuniatkan, besok bakal ke pabrik menemui pihak menajemen dan bertanya soal laku diskriminatif mereka pada para buruh seniornya.

“Tak usah toh, Fi. Tak usah bikin urusan jadi kian ruwet. Ibu baik-baik saja.”

“Tapi mereka tak boleh begitu,” dengusku, “pengabdian ibu bertahun-tahun itu tak mereka hitung. Puluhan tahun ibu memburuh pada mereka, dan baru naik upah tiga kali, itu pun tak seberapa besar.”

“Ibu memang sudah uzur, Fi. Sudah cepat capek. Ibu suka kok di rumah saja.”

Kata-kata seperti inilah yang kadang segera menuntaskan obrolan kami.

“Tapi, ibu senang bekerja. Ibu menikmati hidup saat bekerja, juga sangat bersyukur dengan hasilnya. Fiah tak mau mereka renggut itu dari ibu begitu saja.”

“Kau ini mirip bapakmu. Bapakmu itu kalau bicara soal hak, suka berapi-api. Itulah mengapa rumah ini sering didatangi banyak orang minta bantuannya,” Ibu tersenyum, lalu sendu menggayuti matanya. “No, Tarno, umurmu kok ya pendek begitu to, No.”

Angin dingin berkesiur masuk rumah, menabrak wajahku. Kutarik daun jendela agar menutup, lalu duduk di sebrang ibu. Tomo kudengar sedang sibuk memasukkan ayam-ayam ke kandang persis di belakang rumah. “Kalau masih hidup, tentu bapak tak suka mendengar ulah para pemilik pabrik itu. Bapak pasti marah-marah jika mereka seenaknya begitu.”

“Elfiah…” Ibu menyebut namaku seraya memandang foto bapak di atas bufet, “dulu bapakmu juga kerap ibu larang. Tak baik, nanti ia dibenci orang. Ibu tak mau perangaimu ikut-ikutan galak macam bapakmu.”

“Galak macam ini baik maksudnya, Bu. Tak asal galak belaka. Apa pernah ibu lalai selama 48 tahun bekerja pada mereka? Tidak kan?” Aku terus meyakinkan beliau, “ibu berangkat ke pabrik paling pagi. Bahkan sebelum Tomo bangun, ibu sudah mengayuh sepeda menuju pabrik.”

“Entahlah, Fi. Katanya ini soal pro..pitas apa itu?”

“Produktifitas, Bu.”

“Ya, itu…” Ibu tersenyum, “mana ngerti ibu soal begituan.”

Aku membatin. Produktifitas apalagi yang mereka persoalkan pada buruh yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya bekerja dengan bayaran kecil. “Mereka cari-cari alasan, Bu!” Kubanting punggungku ke sandaran kursi.

4/

Aku meluangkan waktu selepas kuliah untuk singgah sebentar ke pabrik tempat ibu bekerja. Hendak kutemui si Pitono, mandor ibu itu. Jika bisa, sekalian bertemu dengan penanggung jawab pabrik. Hendak kutanyakan soal keterlambatan dua bulan gaji ibu, juga soal umur ibu yang mereka singgungkan itu.

Walau lapar, tapi demi memberesi urusan ibu, sepiring nasi boleh menunggu. Cukup 30 menit, sampailah aku di halaman pabrik tempat ibu bekerja. Halamannya luas dan sering dipakai menjemur tembakau dan cengkeh untuk ramuan kretek. Harum cengkeh bahkan sudah kucium dari depan gerbang.

Suti memergokiku dari kaca jendela dan buru-buru mendatangiku. Ia bersama si Pitono itu. Bagus. Aku bisa langsung menyampaikan maksud kedatanganku ke mari.

“Fiah, ada apa singgah ke mari?” Suti menyapaku.

“Aku ada urusan sama Pitono ini, soal ibu.”

Pitono berusaha memaniskan senyumnya. “Biar kujelaskan. Ayo, ke kantor dulu.”

“Di sini saja,” aku menolak, “aku mau tanya, kenapa pabrik menunda gaji ibu.”

Pitono melirik Suti, lalu beralih padaku. “Begini, Fi. Ibumu itu…”

“Ibu kenapa? Aku ke sini hanya mau nanya itu. Dijawab saja.”

“Iya, ini hendak kusampaikan, bahwa ibumu itu bukan tak terima gaji lagi. Seharusnya beliau menerima pesangon enam bulan gaji.”

“Pesangon? Ibu dipecat, maksudmu?”

“Bukan begitu.” Pitono salah tingkah, “ibu sudah melampaui batas maksimal umur buruh di sini. Pabrik punya aturan baru soal produktifitas.”

“Kalian sudah sampaikan pada ibu tentang keputusan itu?”

Pitono tak menyahut, tapi Suti kulihat menggeleng kecil.

“Kenapa belum?” Aku mulai jengkel, “apa ibu pernah tak mencapai target kerja yang kalian tentukan? Atau, kalian sengaja pasang target tinggi hingga buruh senior tak mampu mencapainya?”

“Itu putusan pabrik loh, Fi. Saya hanya mandor, cuma menuruti.” Kilah Pitono.

“Hei, Tono. Justru karena kau mandor maka kau mestinya melindungi hak buruh senior macam ibu. Apa pabrik tak menghitung pengabdian ibu pada mereka?”

“Akan kupastikan hak ibumu diterima dengan utuh.”

Aduh, Tono, intinya bukan itu. Pantas saja pangkatmu tak pernah naik.

“Bukan soal utuhnya hak yang bakal diterima ibu. Ini soal bagaimana pabrik menghargai pengabdian para buruh kretek yang puluhan tahun bekerja hingga pabrik ini bisa bernafas sampai hari ini.” Aku nyaris tersedak amarahku sendiri. “Ibu sudah tua menurut kalian, tapi separuh hidup ibuku, habis di tempat ini.”

Rupanya ini rahasia ibu. Manajemen pabrik telah memecatnya.

“Seberapa banyak jumlah pesangon enam bulan gaji yang hanya tiga kali naik selama 48 tahun itu?” Desisku. “Beritahu aku, bagaimana cara menghilangkan aroma kretek dari telapak tangan ibuku?”

Pitono terdiam. Mata Suti berkaca-kaca. (*)

Molenvliet, Januari 2014.

Twitter: @IlhamQM


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 154 pengikut lainnya.