Category Archives: Redaksional Hari Ini

[Arsip] Catatan Redaksional (25 April – 16 Mei 2011)

Senin, Apr. 25, 2011

Partai dan Bendera

Partai adalah bentuk verba dari Partition (membagi, memisahkan, menyekat). Jika demikian, maka tepatlah jika setiap perilaku partai selalu dalam kerangka keterpisahan dari entitas lain, atau di luar darinya. Disadari atau tidak, partai memang ditujukan untuk kepentingan kelompok dengan cara-cara politis dan apolitis. Semua tindakan partai belum tentu mewakili rakyat, atau paling tidak itulah yang terlihat di Indonesia kini. Partai menjelma menjadi sebuah mahkluk yang ‘seram’. Tidak ada satupun yang benar-benar terlihat sedang memperjuangkan rakyat. Maka ketika sebuah partai menggelar pentas seni yang dalam geraknya ‘menginjak’ bendera sebagai simbol negara, seketika kita pun terkejut. Bantahan atas tindakan itu tentu muncul. Tapi jelas tak menjawab apapun. Banyak cara lain dalam media ungkap teatrikal. Dan, ini tak dilakukan. Partai, sesuai namanya, memang tak mungkin bercampur dengan entitas di luarnya. Sulit berpihak, lebih tepat.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Selasa, Apr. 26, 2011

Bualan Studi Banding dan Kemiskinan

Jamak terdengar studi banding anggota perlemen RI adalah agenda terpenting dalam kerja legislasi. Semua orang beranggapan begitu, kini. Sebab untuk mengukur ‘kadar kemiskinan’ sebuah negara Australia barangkali sukar dijadikan contoh. Lihat saja, data terakhir menyebut, secara sosio-ekonomi, Sekitar 50% pria dan wanita berusia 45–64 tahun yang memiliki pendapatan tergolong 20% termiskin melaporkan kesehatan mereka buruk. Data organisasi Nasional Kesehatan Australia, tak menyebut sekian penyebabnya, namun dapat dipastikan bahwa prasyarat utama warga masuk dalam kategori miskin sangat tinggi. Australia tidak layak dijadikan negara contoh untuk penanggulangan kemiskinan, baik dari sisi implementasi dan kebijakan perundangan. Dari studi banding yang hampir dipastikan mubazir itu, serapan penggunaan dana dari pajak rakyat, tentulah tinggi sekali. Sebaiknya sekali waktu reses-lah di daerah, melihat kantong-kantong kemiskinan di pelosok itu.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Rabu, Apr. 27, 2011

Pajak dan Derivasi Kebijakannya

Pajak. Siapa yang tak kenal kata ini. Kata ini biasa saja, lalu menjadi aneh luar biasa, ketika kata skandal bertaut di depannya. Pajak adalah salah satu instrumen pendapatan negara. Konon, dari sinilah semua infrastruktur diadakan. Tetapi, bagaimana dengan turunan kebijakan ini yang diberlakukan pada rakyat? Tidak adil. Sampai hari ini masih ada sejumlah korporasi raksasa yang menungga pajak, juga ada legislator dan pengusaha (pribadi), dan terakhir pemasok film juga kadung ngemplang senilai fantastis; 31 Triliun. Jadi berapa totalnya, silahkan diperkirakan sendiri. Tentu ini harus dibayar. Kebijakan yang mendasari perlakuan ini juga masalah klasik. Rakyat seringkali mesti “terkencing-kecing” jika pajak bumi/bangunan ditagihkan. Segala aturan dihadangkan, agar rakyat keok. Padahal masih ada yang jumlahnya lebih besar, tapi pura-pura diabaikan. Lihai sungguh aparat negara ini. Pajak dan derivasi kebijakannya mestinya tak pilih-pilih.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Kamis, Apr. 28, 2011

Pernikahan dan Politisasi

Sejauh ini tanggapan umum soal parpol memang makin menurun. Parpol makin tidak populer sebagai solusi kebangunan Indonesia. Afirmatifnya, kebanyakan orang mengambil jarak dan cenderung resinten jika bicara soal pemilu 2014. Parpol telah berganti “paradigma” bukan lagi sebagai solusi penting keinginan rakyat yang dijalankan secara parsial, tetapi menjelma sebagai ‘kantong manipulasi’ dan jalan pintas menuju kekuasaan. Paling tidak, itulah yang dilihat khalayak kini. Mampukah parpol kembali ke khitahnya? Yang paling baru dan banyak dibincangkan adalah rencana pernikahan Ibas (anak Presiden SBY) dan Aliya (anak Menko Perekonomian Hatta Rajasa). Perkawinan ini selain dalam niatan mulia, juga dicemooh banyak kalangan sebagai pernikahan politis PAN-Demokrat. Sah-sah saja, dan tak perlu terusik dengan itu. Tetapi apakah satunya PAN-Demokrat nanti akan mengubah peta politik, sejak Nasdem resmi mendaftar sebagai parpol untuk pesta 2014 nanti?

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Sabtu, Apr. 30, 2011

Histeria dan Dunia Lupa

Sore waktu Indonesia, semua disuguhi kesibukan kerabat kerajaan Inggris melaksanakan pesta pernikahan Willy-Kate. Seusai prosesi, televisi ikut menyorot penampilan keduanya di balkon Buckingham. Teriakan histeris dan cucuran air mata haru-gemas, berbaur bersama euforia. Untuk ukuran televisi Indonesia, mungkin yang agak berlebihan ketika sebuah televisi menyebutnya sebagai “pernikahan abad ini”. Ini juga histeria yang lain: media. Namun disaat bersamaan, tangisan histeria itu tidak untuk bencana kelaparan di Somalia dan Ethiopia, anak dan perempuan korban serangan NATO di Libya, Palestina, Jepang, Uigur dan banyak kesengsaraan di tempat lain. Dunia lupa, dan lebih memilih pesona Willy-Kate tinimbang sekian sengkarut dunia lainnya. Dikabarkan lebih dari 3.500 media memilih pesona itu dan mempertontonkan dongeng basa-basi. Dan, memang dunia sedang lupa sore kemarin itu. Semoga keterlupaan ini tak berlanjut, dan menjadi lupa yang permanen.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Minggu, May. 01, 2011

MayDay : Buruh di Kantong Belakang

Apa kabar buruh hari ini? Jika ini pertanyaannya, Anda dipastikan mendapat jawaban yang memiriskan hati. Sebab nasib buruh hari ini, di Indonesia, belum lebih baik; gaji rendah, pemberlakuan sistim outsourching, perlindungan hukum rendah, dan persaingan SDM sepihak. Buruh menjadi isu international, berbeda dari hampir empat dekade di belakang. Di tengah isu investasi dan kemunduran ekonomi di beberapa kawasan, khususnya Indonesia, buruh justru berada di posisi terendah dari mata rantai industri dunia. Yang mengejutkan di tengah keprihatinan kehidupan buruh, DPR RI belum juga mengesahkan RUU Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, yang kelak diannggap mampu menembus inti masalah perburuhan di Indonesia. DPR lebih asik berpolemik dalam sengkarut gedung baru, dan pemerintah yang sibuk me-renegosiasi gas tangguh. Bagaimana kedua hal itu bisa terjawab, jika masalah dasarnya tak bersolusi. Saat rakyat (buruh) masih disisipkan di “kantong belakang”.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Senin, May. 02, 2011

HPN 2011 : Masih Soal Pemotongan Hak

Jika tiba Hari Pendidikan Nasional (PHN) ingatan kita seketika kepada guru. Kalangan pendidik ini, rupanya masih belum bebas dari jerat culas oknum-oknum di lembaganya. Ketika kebijakan sertifikasi bergulir, sedikit harapan cerah menyeruak. Guru sedikit bisa bernafas lega dari jepitan kebutuhan sehari-hari yang terus meninggi. Namun, ternyata tidak demikian, kini. Bahkan masih ada guru yang mengeluhkan pemotongan hak mereka dari tunjangan sertifikasi ini. Jumlahnya bervariasi, dan tentu saja sangat merugikan. Apa maksud dari pemotongan ini tidak pernah jelas, kendati terus ditanyakan. Pertanyaannya kemudian; dikemanakan uang hasil pemotongan itu? Apa bendahara sertifikasi tidak diberi gaji oleh negara? Atau, adakah kepala dinas setempat juga ikut ‘makan’ dari uang-uang ini. Sistem dan SDM di Indonesia agaknya makin sukar keluar dari rimba korupsi. Mereka selalu punya alasan untuk tindakan culas. Seperti ular; teman makan teman.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Selasa, May. 03, 2011

Perang Memuakkan dan Usamah

Dunia dikagetkan dengan sebuah pidato Presiden AS, Barack Husein Obama Jr. Pidato yang menyatakan bahwa satuan tempur laut AS sukses menembak mati buronan yang paling dicari negara itu, Usamah bin Laden. Tayangan pidato itu disertai gambar kepala sesosok mayat yang diklaim sebagai mayat Usamah. Benarkah Usamah tewas? Pertanyaan itu yang memenuhi kepala banyak orang kemarin. Banyak yang menyangsikan, namun tak sedikit yang percaya, khususnya warga AS yang seketika euforia menyambut pidato itu. Beberapa jam kemudian, koreksi bermunculan. Foto itu dinyatakan palsu dan jaringan televisi yang memuatnya segera mencabutnya. Para hacker mendapati bawah foto itu adalah Hoax, alias rekayasa dari foto yang sama pada 2009. Siapa yang berbohong? Akan sungguh memalukan dan memuakkan apabila kabar kebohongan itu keluar dari mulut Presiden AS lewat jaringan TV nasional dan dilihat dunia. Perang memuakkan ini semakin tak enak ditonton. AS kian teledor.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Rabu, May. 04, 2011

NII Itu Gerakan Makar !

Beberapa pihak secara terang-terangan bilang bahwa Negara Islam Indonesia (NII) bukan gerakan makar. Alasannya; NII belum sampai pada gerakan bersenjata. Hei, bung, NII itu gerakan makar! Mari lihat indikator utamanya. NII itu dalam pergerakannya melakukan metode yang sukar diterima akal sehat. Secara terbuka NII menghujat Islam lainnya dengan dalil-dalil yang sukar dipahami. Dan, yang paling memcolok adalah struktur organisasi NII, yang menetapkan pengurus dalam susunan ala negara; memiliki menteri-menteri yang membawahi urusan tertentu dan hierarkis. Maka ini bisa disimpulkan sebagai sebuah gerakan makar, atau paling tidak menjurus ke arah sana. Gerakan makar tidak sekadar bisa diidentifikasi ketika gerakan itu melakukan perlawanan bersenjata. Sebisanya-lah gerakan NII ini segera diamputasi, dengan langkah konfrehensif, sehingga tak perlu menunggu semua terlambat. Negara ini lebih suka sebuah aksi berakhir kerusuhan, rupanya, ya?

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Kamis, May. 05, 2011

Insiden E-mail dan Kebodohan Personal

Kabar lucu dan lumayan menerbitkan rasa malu datang dari Australia. Kebodohan personal (atau juga barangkali kebodohan lembaga) terekam jelas dari Komisi VIII DPR-RI. Kunjungan yang berinti mempelajari soal (penanganan) kemiskinan di Australia itu, berujung debat yang akhirnya membuka kualitas intelektual anggota Komisi VIII. Sebagai lembaga rakyat dan pengguna APBN paling besar, semestinya DPR mampu menyediakan situs resmi. Biar uang itu ada gunanya. Situs dan kontak email (termasuk telepon/PO.BOX) adalah penting untuk komunikasi dan feedback. Entah bagaimana membayangkan lembaga itu tak punya situs resmi, dan (parahnya) tak mengerti sama sekali dengan tehnologi saat ini. Menjadi anggota DPR, rasanya tidak cukup hanya skill bicara dihadapan publik saat kampanye, berbohong demi jabatan. Tapi, mereka juga mesti pandai memanfaatkan tehnologi, agar wajah mereka tak pias dan leher mereka tak masai saat ditanya soal email dan situs resmi.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Jumat, May. 06, 2011

Legislator: Kebohongan Masif dan Akut

Entah apa yang terbenam dalam benak para legislator di negara ini. Membohongi publik, sepertinya telah jadi hal biasa, dan dilakukan tanpa sesal. Belakangan ini terungkap lagi sejumlah kebohongan yang sekian lama berusaha disembunyikan. Sejumlah legilastor “tertangkap mata” di beberapa negara, sedang tak bekerja sebagaimana mestinya. Mereka terlihat santai. Di Spanyol, mereka tak ber-studi banding, sebagai rencana sebelumnya. Mereka datang saat parlemen Spanyol sedang reses. Akal-akalan jadwal? Di Australia, lebih memalukan lagi. Berdebat dan tampak bodoh di hadapan mahasiswa Indonesia di sana. Dari dua contoh itu saja, membuktikan bahwa mental legislator Indonesia begitu mudah diukur. Perilaku mereka sudah sedemikian buruk serta kebohongan mereka demikian masif dan akut. Sikap macam ini akan membawa pesan pada rakyat, agar tidak lagi meletakkan kepercayaannya pada mereka. Memilih mereka saja sudah buruk, apalagi mempercayai mereka.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Sabtu, May. 07, 2011

ASEAN dan Kawasan Bebas

Akhirnya, kawasan bebas ASEAN ikut dibahas dalam 18th ASEAN Summit tahun ini. Kendati beberapa panel yang semula dirancang tak menjadi opsi multak, tetapi kawasan bebas ASEAN sepertinya akan terwujud. Opsi pemberlakuan mata uang tunggal ASEAN tidak antusias lagi dibicarakan, setelah Presiden SBY memunculkan opsi tentang lebih perlunya perdagangan bebas kawasan dengan mata uang sendiri. Namun, sejatinya, ASEAN Summit tahun ini adalah pematangan rencana untuk mendorong keterlibatan ASEAN secara lebih luas pada Konferensi Asian Timur kelak. Ada kawasan bebas perdagangan dengan sentimen yang lebih luas dan dalam. Asia Timur adalah ikon baru, setelah Australia memajukan diri bergabung. Kendati masuknya Australia dalam ASEAN masih dipertimbangkan, rupanya negara itu tak menyerah menetrasikan usulan-usulan kawasan bebas yang akan diusungnya pada KTT Asian Timur. Malaysia adalah hadangan satu-satunya bagi Australia untuk eksis di ASEAN.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Minggu, May. 09, 2011

Cannabis dan Ancaman Pada Anak Indonesia

Ada seruan yang menggema. Tentang Cannabis, tentang kebebasan, tentang hal yang mengundang tanya. Ada ulah aneh yang coba dipertontonkan. Cannabis, atau lazim orang mengenalnya sebagai ganja atau mariyuana (dari sekian banyak jenisnya), adalah sejenis tanaman yang dapat menghasilkan zat halusinatif. Pada dunia kedokteran, cannabis adalah salah satu alternatif bahan anastesi. Tanaman itu sendiri berhabitat asli dari anak benua Asia atau Afganistan. Apapun anggapan LGN (kelompok yang berunjukrasa kemarin ini) cannabis tidak tepat jika dibebaskan sebagaimana rokok, walau kedua benda ini sama berbahayanya. Perlindungan pada generasi muda (khususnya anak dan remaja) harus lebih diutamakan. Pada remaja, kebiasaan merokok saja sukar diawasi, apalagi kelak jika cannabis ini menjadi legal. Tak perlu rasanya membangun premis berlebihan tentang keutamaan benda ini, sebab selalu saja pemanfaatan yang berlebihan atasnya, sangat tidak berguna.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Selasa, May. 10, 2011

Ketika Anggota DPR Dimaki “Goblok” oleh Professor Prancis

Studi Banding yang membungkus prosesi wisata anggota DPR-RI bukan terjadi sekarang saja. Terbaru, ulah Komisi X DPR yang berfoto & membeli tiket pertandingan Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu, Spanyol. Komisi VIII ke Australia, saat parlemen negeri itu reses, dan berbohong soal email Komisi VIII. Pada 2005, PPI Belanda memergoki anggota DPR belanja merek Bally & Gucci. Mereka usai menonton laga final Piala Dunia di Jerman antara Italia vs Perancis. Di Perancis, mereka berbelanja Louis Vitton & Pierre Cardin. Mereka minta dicarikan pelacur, atau ke pusat tarian striptis. Bagaimana rasanya Anda dimaki seorang profesor? Pada 2007, anggota DPR dimaki “Kalian semua Goblok!” oleh Guru Besar Ilmu Tata Negara Universitas Sorbon Perancis, Prof. Edmond Jouve. “Indonesia bukanlah negara kaya dan masih berada di dalam kategori negara berkembang, kenapa malah menghamburkan uang jika tidak ada hasilnya!” kata Edmund Jouve melanjutkan makiannya.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Rabu, May. 11, 2011

PTDI : Dikooptasi Negeri Sendiri

PTDI kembali dikangkangi. Produk PTDI, tidak dipilih maskapai BUMN negeri sendiri. Pendiri IPTN, Prof. BJ. Habibie, pernah mengestimasi biaya total untuk “menyegarkan” kembali perusahaan itu. Habibie hanya membutuhkan Rp 5 Triliun saja. Nilai yang sangat kecil dari cadangan devisa Indonesia yang mencapai lebih dari Rp 2.000 Triliun itu. Ironis, sebab harga 10 pesawat MA-60 berkisar Rp 2,2 Triliun. Artinya, RI tinggal menambal sisanya untuk bisa membuat PT.DI bergerak. Dari pengalaman dan tehnologi aeronotika Indonesia yang mampu memproduksi pesawat Jet N2130, menyembulkan janggal jika BUMN sekelas Merpati justru menjatuhkan pilihannya pada MA-60 yang belum disertifikasi badan penerbangan dunia. Apakah karena harganya yang murah? Atau adakah permainan guna mengeruk untung dalam pengadaannya? Sepertinya KPK harus bertindak. Sebab ulah culas dalam pengadaan pesawat “abal-abal” itu telah membunuh 21 warga negara Indonesia.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Kamis, May. 12, 2011

12 Mei dan Luka Kolektif Orang Indonesia

Di hari ini, 13 tahun lalu, Indonesia dicacah peristiwa. Indonesia dilukai dalam artinya sebenarnya. Kita belum lupa, pada hari itu, 13 tahun lampau, Indonesia dibelah hina yang tiada bertepi. Rumah di bakar, toko dijarah, keperempuanan dirampas paksa, negeri ini diinjak karma. Lalu derita menggema di mana-mana, diceritakan kembali pada kesaksian yang berat. Kita memang tidak lupa, kita memang sukar lupa. Barangkali rentetan kejadian hari itu akan selalu sama dengan kejadian-kejadian sebelumnya yang telah menimpa negeri ini, tetapi tragedi Mei menjadi multi-tragedi yang menjelma momok. Kasus Angke berulang di tahun 1998. Mari saling menghormati, mari saling menjaga. Hargailah manusia sebagaimana manusia. Tidak menjadikan “perbedaan” bak tameng. Ada makna transenden dalam perbedaan, bukan bhineka yang kau bungkuskan pada caci-maki. Kita sudah bablas, sebablas kita memaknai bhineka dalam term yang sempit. Bhineka bukan alat untuk melukai.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

 ***

Jumat, May. 13, 2011

Negara Israel dan Kegelapan Kemanusiaan

Israel. Benak kita tertuju pada sebuah negara yang lahir dari konspirasi penindasan dan politik bayar utang. Kita barangkali tak akan bicara mengenal bani yang satu ini, sebab tidak sedikit dari mereka yang juga menyokong kemanusiaan dan keadilan. Tetapi berbicara Israel, kita seperti menggugat sebuah sikap politis dan penindasan yang tak berkesudahan. Negara yang didirikan Theodor Herzl, lewat organisasi Zion, sejujurnya, berdiri di atas kebohongan. Memanipulasi Talmud dan Taurat tentang “tanah perjanjian” yang sesungguhnya tak pernah ada. Semuanya dilakukan secara sistematis oleh Zion. Jadi bicara Israel adalah bicara tentang Zion, tetapi tidak tentang Judais. Sehingga, aneh sekali untuk bisa menghormati konsep Israel ini, termasuk pola-pola pemerintahannya, jika negara ini sendiri tidak berusaha menghormati kemanusiaan dan hak ekspresif-hidup bangsa lain. Maka, SANGAT SULIT MELETAKKAN PENGAKUAN TERHADAP ISRAEL SEBAGAI SEBUAH NEGARA.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

 ***

Sabtu, May. 14, 2011

Menteri Hukum yang Terintimidasi Tugasnya Sendiri

Kabar miring dari ranah penegakan hukum terus mengalir. Seperti rakyat ini belum cukup menerima kabar miring serupa dari beberapa institusi lainnya. Begitu terasa, jika sistem hukum dan kepenegakannya sedang rusak akut dan sepertinya tak ada yang benar-benar serius memperbaikinya. Di lain sisi, agaknya, penanggungjawab di kementerian yang membidangi hukum pun tak bisa menjalankan tugasnya. Semakin hari, pada ranah yang dipimpinnya, kerusakan ini semakin sukar di atasi. Terakhir, seorang kepala lapas terlibat pesta seks & narkoba bersama dua pelacur. Selang beberapa waktu sebelumnya, si menteri justru mengeluhkan kurangnya fasiltas rumah tahanan. Keluhan yang satir. Tak mampu memegang kendali terhadap anakbuah sendiri, mengeluhkan fasilitas, dan seperti mencari celah agar uang negara jeluar dalam bentuk proyek. Seharusnya presiden memberhentikan menteri macam ini. Tak berguna dan lebih banyak bersikap nyaman.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

***

Sabtu, May. 16, 2011

Korupsi : Candu Buat Pejabat Indonesia

Sungguh hebat para koruptor di negara ini. Sepertinya, mereka benar-benar memanfaatkan berbagai celah yang sepertinya ‘sengaja’ disediakan. Hukum yang tak tegas, aparat hukum yang ikut tersaput atmosfer korup, legislator yang enggan merevisi undang-undang anti-korupsi, dan juga legislator dan eksekutif yang sama-sama memanfaatkan peluang. Sebuah lembaga independen pemerhati transparansi anggaran, FITRA, mencium sebuah modus baru dalam tindakan korupsi. Menurut lembaga itu, saat ini para pelaku korupsi, untuk dapat mengelabui PPATK, mereka menggunakan emas sebagai pengganti ‘uang tunai keras’. Penggunaan emas ini dimaksudkan agar jejak transaksi mereka tak terendus. Walau sebenarnya, jejak emas lebih mudah ditelusuri dengan melihat pola trading dan mendeteksi sertifikatnya. Apapun, para koruptor itu selalu punya cara. Memperkaya diri sendiri dengan dana publik dan melanggar hak orang lain telah menjadi candu buat pejabat Indonesia.

Teruslah kritis dan berpikir merdeka!

Salam.

Iklan

Kampanye Prematur

Kendaraan roda dua dan empat berbaur dalam arak-arakan panjang sebuah partai. Pemandangan serupa ini, tak hanya hari ini kita saksikan. Dalam sepekan ini, tiga kali partai politik menggelar arak-arakan di seputar kota.

Partai Persatuan Pembangunan, menggelar arak-arakan keliling kota, hendak memperlihatkan kepada masyarakat kota Kendari bahwa partai ini masih eksis di bumi Indonesia. Counter politik buru-buru dilayangkan Partai Persatuan Pembangunan-Reformasi.

Walau berbasis massa sama, kedua partai sekaligus elitnya ini, masih juga berupaya menjadi undakan politik pada tataran isu dan kepentingan yang tak jauh berbeda. Tidakkah ini dilihat sebagai simbol pembodohan politik rakyat? Masyarakat dipaksa menjadi bagian dari pertarungan dua kepentingan dan ambisi politik yang tadinya tak
terakomodasi dalam satu wadah.

Siapapun berhak berbeda. Siapa saja berhak berkumpul. Namun esensi sebuah cerita politik, terletak pada bagaimana meramu banyak kepentingan dan tujuan tanpa harus merugikan sebagian yang justru lebih besar. Namun esensi ini sering dilupakan dan semua kepentingan menjadi raksasa yang siap memakan siapa saja yang mencoba menjadi penghalang jalan menuju tujuan utamanya.

Seperti tidak mau ketinggalan, Partai Amanat Nasional juga melakukan kampanye prematur. Lapangan Edy Sabara disesaki ratusan orang. Ada yang hanya hendak melihat raut wajah Amien Rais, ada yang hanya menghendaki sedikit duit dari koordinator mobilisasi, ada yang hanya senang mendapat selembar baju kaos, bahkan ada yang sekadar
menganggap keramaian itu tak lebih dari sebuah pasar malam. Dimana badut-badut politik berkeliaran, komitmen kacang goreng dibangun, dan partisipasi untung-rugi dinyatakan.

Gerbong-gerbong politik mulai dilangsir. Lokomotif-lokomotif politik mulai ditarik, tanpa bunyi pluit masinis. Parpol-parpol ini mendahului start yang baru akan di rentang dua tahun ke depan, dengan kebohongan-kebohongan dan strategi-strategi jitu.

Pernah ada yang mengatakan, bahwa berpartai politik nyaris sama masuk komplotan penyamun. Penuh intrik, kepentingan sepihak, kebohongan dan muslihat. Jadi, sebaiknya bebaskan siapapun untuk menentukan keinginan dan maksudnya. Jargon dan propaganda hanya akan menggiring kita pada kepentingan yang menyesatkan. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumenilham q. moehiddin]


Kesaktian Pancasila

Satu Oktober, seperti yang sudah-sudah, rakyat Indonesia mengenang hari yang disebut Kesaktian Pancasila. Pada tanggal yang sama, 37 tahun lalu, tujuh orang jenderal di bunuh secara keji dan diluar batas perikemanusiaan oleh Partai Komunis Indonesia.

Kita tak mungkin tak mau tahu, bagaimana kejadian itu dapat di redam. Namun, yang jelas suasana yang tak pasti yang tercipta karena kejadian itu, berangsur pulih dan tenang kembali.

Kita mungkin bertanya-tanya, apa hubungan kejadian itu dengan lima sila yang menjadi dasar negara Indonesia? Pembunuhan keji yang kemudian dikenang dan dilabel dengan kata-kata Kesaktian Pancasila. Apa hikmah dan pelajaran dari kejadian ini? Yang paling tepat menilai dan mengambil inti pelajaran penting dari kejadian tersebut hanya kita sendiri.

Sampai dimana Pancasila membuktikan kesaktiannya sebagai dasar negara? Kita mungkin akan mengambil contoh dari peristiwa G 30 S PKI. Tapi, apa hanya itu?

37 Tahun berikutnya, Pancasila rupanya kurang beruntung menjadi lambang dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila mungkin sudah tua hingga kesaktiannya memudar. Ini dibuktikan dengan berseminya benih disintegrasi di bumi pertiwi ini. Bahkan benih itu
sudah tumbuh dan berbuah negara Timor Leste. Lalu dimana letak kesaktian sila ketiga Persatuan Indonesia.

Benih disintegrasi lainnya yang bisa saja tumbuh dan menjadi buah negara baru, jika pemerintah dan pemimpin kita masih tamak dan serakah. Korupsi merajalela, hingga rakyat terus hidup melarat dan miskin. Lantas dimana letak kesatian sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pelanggaran hak asasi manusia berupa penganiayaan, intimidasi dan penyiksaan oleh aparat keamanan, baik secara struktural dan moral, ternyata ikut menghilangkan kesaktian sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Para elit politik saling adu kekuatan yang berimbas pada masyarakat, juga menjadi soal lain di bumi Indonesia. Dalam perang politik, para elit pemimpinnya sering memanfaatkan nama rakyat untuk memuluskan tujuan-tujuan tersembunyi mereka. Pemimpin kita tidak hikmah, tak bijaksana, tak bermusyawarah dan tak menjadi wakil yang adil dalam setiap pengambilan keputusan. Rakyat sering dilangkahi dan disepelekan. Bertanyalah kita, seperti apa kesaktian sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan.

Masih ada harapan untuk Pancasila membuktikan kesaktiannya pada sila ketuhanan yang maha esa. Konflik agama yang terjadi di beberapa daerah menjadi semacam ancaman bagi Pancasila membuktikan kesaktian sila pertamanya.

Masih adakah harapan untuk mempertahankan Pancasila? Seperti apa harapan-harapan itu? Sebab kelima sila itu benar-benar tak dijadikan patokan dalam peri kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang. Atau dasar negara ini sebaiknya diganti saja? Silahkan Anda mentelaah dan menjawabnya sendiri. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


Suksesi dan Dukungan

Nyaris tiga bulan ini kita menyaksikan suasana penuh dengan nuansa politik. Suasana itu terlihat jelas dengan mengalirnya dukungan kelompok yang mengatasnamakan masyarakat terhadap figur gubernur atau wakil gubernur. Lalu, kantor dewan propinsi dipenuhi kesibukan orang-orang yang hendak mengundi nasib menjadi gubernur atau calon gubernur.

Di tengah suasana itu, para pengundi nasib ini berupaya menarik perhatian masyarakat dengan sumbangan-sumbangan sampai ke pelosok kampung. Belum usai, gerilya duit para bakal calon gubernur, sekelompok orang mencatut nama rakyat Sultra mengumandangkan
wacana putra daerah. Lantas metode pemilihan langsung diusung ke kantor dewan, dengan sasaran menghindari permainan politik uang para wakil rakyat dalam bursa nantinya.

Kesibukan lain, terlihat di hotel-hotel atau ruang tunggu bandara. Para balon berkumpul dan membicarakan penyatuan kekuatan. Tak ketinggalan para pengikut setia menggelar seminar di hotel-hotel seraya bertanda-tangan menyatakan dukungan terhadap salah satu calon.

Para tim sukses mulai pula bergerilya. Tim-tim ini yang merupakan kalaborasi pelaku politik praktis, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan bahkan jurnalis, ramai-ramai mulai mengkampayekan jagoan mereka demi serupiah-dua “uang kaget”. Mereka ramai-ramai
mengumandangkan kebaikan, kelebihan atau bahkan menenggelamkan keburukan para bakal calon yang mereka dukung, sekadar untuk membohongi khalayak awam.

Pentas politik ini makin ramai setelah kalangan parpol mulai menyodorkan pilihan masing-masing. Partai-partai ini ramai pula mengundang para petinggi mereka dari Jakarta untuk mampir ke Sulawesi Tenggara ikut melihat dan memberi dukungan moral dalam persiapan berlaga memperebutkan kursi gubernur. Hamzah Haz yang bertopeng peresmian pesantren, Zainuddin MZ berlindung dibalik tablig akbar, atau Amien Rais yang beralasan melihat kantor cabang partai berlambang matahari terbit itu. Topeng-topeng mereka mulai terbuka, saat para pendukung mengarak panji-panji partai dan berkampanye
keliling kota.

Kecenderungan politik daerah kita yang masih centang-perenang. Jarang sekali kita menemui maksud baik di balik pergerakan politik yang berbau intrik, macam menghancurkan kredibiltas orang lain, membohongi masyarakat dengan janji-janji politik, atau berpura-pura visioner untuk kemajuan Sulawesi Tenggara.

Parade politik semu ini masih akan berlanjut sampai pemilihan dan proses pelantikan. Namun, yang tersisa dari semua kejadian ini, dapatkah semua dibuktikan semanis janji di mulut belaka? Mampukah para balon ini mempertahankan kepura-puraan? Siapa yang kelak jadi pecundang belaka? Atau, sudah adakah rencana besar mereka untuk daerah ini?

Mungkin sebaiknya kita tunggu saja hasilnya dan lihat apa sisi positif ramai-ramai politik lokal ini. Terus kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


Tata Kota

Ruang adalah dimensi dalam kehidupan. Dalam berbagai kepentingan, ruang selalu ditafsirkan berbeda-beda. Dalam bidang militer, ruang sangat penting artinya. Menguasai ruang adalah target inti dalam suatu operasi. Tapi di bidang pemerintahan dan kemasyarakatan, ruang dapat ditafsirkan sebagai akses yang tak terbatas atas akumulasi kepentingan, kewajiban dan tanggungjawab.

Di wilayah kemasyarakatan pun, ruang memiliki arti harfiah dan bahkan sakral. Ruang bagi orang kampung mengandung arti sebuah harapan, kesempatan dan tanggungjawab.

Lalu bagaimana dengan konsep ruang dalam pemerintahan yang paralel dengan pembangunan kota? Konsep ruang disini diartikan, sampai dimana pemerintah kota menerapkan konsep ruang dengan pola terbatas terhadap konstruktivitas yang berkelanjutan, terarah, lestari dan tertata.

Kota Kendari jika dibawa pada konsep ini, sangatlah tak memadai. Pembangunan yang memang terasa tidak diiringi konsep tata ruang yang baik. Jika Anda berjalan-jalan keliling kota, Anda akan segera memahami kenapa konsep tata ruang pemerintah kota tak teratur.

Wilayah pemukiman bercampur baur dengan pusat-pusat perdagangan. Di sepanjang garis jalan utama, puluhan ruko berdiri tinggi berbaur dengan rumah tinggal. Areal perkantoran pemerintahan juga sama buruknya. Tak tertata rapi.

Sempadan jalan pun tak dibenahi. Padahal sejak pemerintahan Mansyur Pamadeng sampai A. Rasyid Hamzah (1978 sampai 1995) dalam struktur kota administrative, hingga periode Lasjkar Koedoes, Masyhur Masie Abunawas dan Andi Kaharuddin, kesulitan memperbaiki
sempadan jalan masih menjadi kendala.

Misalkan, di jalan Sam Ratulangi depan kantor pos hingga simpang tiga Saranani, sempadan jalan belum pernah diluruskan. Padahal, sempadan yang tak lurus dapat memicu kecelakaan lalulintas dan pejalan kaki. Sampai kapan ruang-ruang di kota Kendari dapat tertata rapi, hingga kesan sebuah kota yang sedang berbenah benar-benar terlihat. Sampai kapan pemerintah kota kita merasa bahwa konsep ruang sangat diperlukan dalam mekanisme pemerintahan mereka. Atau sampai dimana dana yang kita bayarkan lewat pajak digunakan sebagaimana mestinya untuk memperindah kota dan memperlengkap fasilitas didalamnya.

Hari ini, kota Kendari sudah memasuki usianya yang ketujuh. Mungkin sudah saatnya, jika kesadaran terhadap pentingnya ruang yang layak bagi kita, mulai dibangkitkan.

Sebuah kota harus nyaman untuk warganya. Dan suatu komunitas masyarakat harus paham pula bagaimana ruang dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Teruslah kritis dan berpikir merdeka. Sekian. [arsip/dokumen ilham q. moehiddin]


%d blogger menyukai ini: