Tag Archives: cerpenis

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 

Iklan

[Esai] Si Kurus Egois dan Menyebalkan

Jassin dan Chairil (#1)

Si Kurus Egois dan Menyebalkan

image_t6 

PERNAH ke Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin? Kalau sering ke Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, pasti tahu dong, ya?

PDS HB. Jassin adalah pusat dokumentasi kesusasteraan Indonesia, yang sedikitnya menyimpan 50.000 karya sastra: buku, kliping, surat pribadi, biografi pengarang, naskah film, cerita rakyat, majalah sastra, skripsi, makalah, hingga beragam karya sastra mancanegara. Koleksi disusun dalam map bertanda judul, tahun, dan pengarangnya.

Hasan Bague Jassin (1917-2000), tokoh sastra terkemuka Indonesia dikenal dunia. Paus Sastra Indonesia ini, adalah seorang penulis/sastrawan, dokumentator sastra, penerjemah, kritikus sastra, pembela sastra Indonesia. Di tangannya lahir para penyair dan cerpenis Indonesia. Jassin mengenalkan kepanyairan Chairil Anwar dan WS Rendra.

Banyak kisah unik di balik bersahabatan Jassin dengan Chairil.

Siang yang panas, di tahun 1943, Jassin sedang berada di kantor redaksi Balai Pustaka, saat seorang kurus, berambut masai, matanya merah, memasuki kantor itu. Di pintu, lantang dia teriak, “Hei, ini sajak saya!”

Jassin meminta orang itu mendekat. Darinya, Jassin menerima 10 lembar kertas bertulis tangan, lalu diamatinya sejenak. “Bagus sekali,” kata Jassin.

Nisan untuk Nenekanda: “Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertakhta.”

“Nisan untuk Nenekanda” itu satu dari 20 sajaknya, pendek-pendek pula. Ditera Oktober 1942. Menurut Jassin, 20 sajak itu cocok dimuat majalah Panji Pustaka, milik Armijn Pane. Tapi Armijn menolak karena sajak-sajak terlalu individualistik ke sosok pengarangnya, dan elemen kebarat-baratan tak tepat di saat Jepang mengampanyekan Asia Timur Raya. Sayang sekali, sajak itu bagus, menurut Jassin.

Pemuda kurus berambut masai, bermata merah yang galak, serta tak sopan itu adalah Chairil Anwar, seorang yang kelak dianggap tonggak kepenyairan modern Indonesia. Pertemuan Jassin dengan Chairil ini adalah awal hubungan selanjutnya. Jassin menyapa Chairil dengan ‘si Kurus’.

Pada sajak si Kurus itu, kentara pengaruh ekspresionisme. Intuitif, mengaum, mengguruh. Sajak yang diendapkan dan sublimatif. Jassin mengetik 20 sajak itu, lalu diberikan pada Sutan Takdir Alisjahbana, Mohammad Said, dan Sutan Sjahrir (paman Chairil). Tapi si Kurus tak rela naskahnya berlama-lama pada Jassin. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku.”

“Buat apa kau minta kembali salinan asli sajak ini?” Jassin mau menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan? Itu sajak aku punya.” Ketus si Kurus.

Jassin mengembalikan 20 naskah sajak Chairil itu. Tapi, hanya salinan itu saja yang pernah diminta Chairil, selanjutnya dia biarkan Jassin menyimpan semua sajaknya. Sajak Chairil bukan letusan semata. Dia tak puas sajak sekali jadi. Dia berkutat pada satu kata berhari-hari, baru dikombinasikan dengan kata lain. Dia pikirkan, rasakan, matangkan.

Pertemuan di kantor Balai Pustaka itu, adalah pertemuan kedua. Pertama mereka bertemu di Medan. Jassin melihat nama Chairil tertera di redaksi Ons MULO Blad. Saat itu, tulisan Chairil masih berbentuk prosa. Umur si Kurus 14 tahun, sedang Jassin 19 tahun.

Chairil jago tenis meja, hingga selalu yakin menang. Bila menang, dia berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan.

Si Kurus itu suka bikin masalah. Suka berteriak-teriak semaunya, mengejek, sukar diatur. Menurut Jassin, si Kurus itu cerdas. Betapa lama dia endapkan sajak Aku sampai kemudian si Kurus itu bikin insiden di muka umum. Dia teriakkan dan tulis pertama kali sajak itu di papan tulis.

Pada 1943, terbentuk Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Armijn Pane dan para sastrawan sering bikin diskusi. Pada sebuah diskusi, Jassin giliran berceramah. Waktu itu, bertebaran slogan perang Asia Timur Raya Jepang, sehingga banyak pengarang terpengaruh sloganisme. Pada ceramahnya, Jassin bilang kalangan sastrawan harus memberikan semangat perjuangan melalui sastra. Dicontohkannya pada sajak-sajak Asmara Hadi.

Eh, tiba-tiba si Kurus itu mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.”

Belum sempat semua orang bereaksi, si Kurus itu melompat ke depan, menghampiri papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” teriaknya lantang. Aku: Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang.

Sajak terkenal itu lahir di situ juga, di papan tulis itu.

Meledaklah debat panas. Chairil beranggapan, sajak Asmara Hadi tak keluar dari hati penciptanya. Jassin terdiam karena si Kurus itu benar. Melihat gaya debat Chairil, Rosihan Anwar berkomentar, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang.”

Tingkah si Kurus seenaknya. Bicaranya lantang saat mengkritik orang, sambil mengangkat kaki pula. Datuk Modjoindo dan Tulis Sutan Sati tak suka sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah itu? Gantung saja dia,” kata Datuk Modjoindo dengan muka sebal.

Siapapun, tak akan mudah menyenangi tingkah Chairil. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 42 / Th. IV / 25 Februari – 24 Maret 2013)


Plagitarisme Harus Dilawan!

Di Facebook, banyak kecemasan, kemarahan dan kekecewaan akibat temuan atas dugaan plagitarisme oleh Dadang Ari Murtono pada cerpen “Perempuan Tua dalam Rashomon” yang terbit pada Harian Kompas Edisi Minggu, 30 Januari 2011.

Halaman Cerpen Kompas yang memuat cerpen plagiat "Perempuan Tua dalam Rashomon" karya Dadang Ari Murtono (sumber foto: print screen system request Kompas.com-Cetak)

Harian Kompas diminta secara terbuka oleh rekan cerpenis Bamby Cahyadi, untuk mencabut cerpen itu dan melakukan klarifikasi terhadap penulisnya, saudara Dadang Ari Murtono. Kecemasan itu disampaikan Bamby Cahyadi, yang termuat dalam catatan akun Facebook-nya. Bamby Cahyadi menemukan banyak kejanggalan dalam cerpen ini, yang mirip dengan karya asli Cerpenis Terkenal Jepang, Ryunosuke Akutagawa pada buku Rashomon.

Karena menyangkut kredibilitas koran besar macam Harian Kompas dan dunia sastra Indonesia, sebaiknya pihak-pihak terkait melakukan klarfikasi tuntas terhadap praktek plagitarisme tersebut. Berikut saya tampilkan surat kawan Bamby Cahyadi perihal kecemasannya : 

Surat Pembaca [untuk Redaktur Desk Non Berita KOMPAS]

oleh Bamby Cahyadi pada 30 Januari 2011 jam 9:06

Jakarta, 30 Januari 2011 

Kepada Yth.

Redaktur Surat Pembaca KOMPAS

u.p. Redaktur Desk Non Berita Kompas

Salam Sejahtera,

Saya sangat kecewa dengan cerpen yang dimuat di Kompas, 30 Januari 2011. Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon, yang ditulis oleh Saudara Dadang Ari Murtono, adalah cerpen PLAGIAT  dari cerpen berjudul RASHOMON karya Akutagawa Ryunosuke.

Cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke (cerpenis terbaik Jepang) ini, terhimpun dalam kumpulan cerita yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), pada Januari 2008 berjudul Rashomon.

Saya tak perlu menyebutkan di mana letak Saudara Dadang memplagiat cerpen Rashomon, seharusnya Saudara Redaktur Desk Non Berita (Sastra/Cerpen), sangat tahu bahwa cerpen Saudara Dadang (Perempuan Tua dalam Rashomon), isinya sama dengan cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke, hanya paragraf dalam cerpen itu yang dipindah-pindah oleh Saudara Dadang.

Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.

Saya minta Kompas menarik cerpen Saudara Dadang dan mengumumkan bahwa cerpen tersebut tak pernah dimuat, karena kredibilitas Kompas dipertaruhkan dalam peristiwa ini. Kalau Saudara Redaktur Kompas keberatan, saya bersedia menemui Saudara Redaktur untuk membuktikan bahwa cerpen tersebut PLAGIAT.

Demikian surat pembaca saya sampaikan, tanpa bermaksud menjatuhkan nama Dadang Ari Murtono sebagai cerpenis produktif yang karya-karyanya sering dimuat di media (koran nasional dan lokal), atau memang KOMPAS sudah tak memperhatikan dan tak membaca karya cerpen yang masuk ke meja redaksi. Padahal begitu banyak karya cerpen yang bagus dan berkualitas dari para cerpenis yang mengantri untuk dimuat di Kompas.

Terima kasih.

Salam Saya,

Bamby Cahyadi (Cerpenis)

Berikut beberapa fakta yang disampaikan untuk merunut praktek plagiat saudara Dadang Ari Murtono (bukti-bukti plagiat yang disari oleh Sungging Raga) :

saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya memint…a teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:

“maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa.”

berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG

Oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books.

+++

Cerpen Dadang: 

Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat. 

Halaman 2, Akutagawa: 

Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.

+++

Cerpen Dadang: 

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. 

Halaman 7, Akutagawa: 

Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.

+++

Cerpen Dadang: 

Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.

Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. 

Halaman 8, Akutagawa:

Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.

Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,

+++

Cerpen Dadang: 

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. 

Halaman 8, Akutagawa:

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,

+++

Cerpen Dadang: 

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.” 

Halaman 9, Akutagawa:

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

+++

Terakhir, yang sudah sempat di-paste Bung Bamby: 

Cerpen Dadang:

Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua…n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.” 

Halaman 9-10, Akutagawa:

“Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it…u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini.”

+++

Karena terburu-buru, cukup sekian yg bisa ditampilkan 🙂

***

Ryunosuke Akutagawa. Cerpenis terbaik Jepang. Akutagawa mendapat predikat sebagai sastrawan yang mewakili zaman Taisho (1912-1926) dan dianggap sebagai pencerah dan mewakili kaum neo-realis (sumber foto: flickr)

Ryunosuke Akutagawa – Rashomon

Penulis: Ryunosuke Akutagawa

Judul: Rashomon (Kumpulan Cerita Akutagawa Ryunosuke)

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Tahun: Cetakan I, Jakarta 2008, vi + 167 hal

Sastrawan yang baik bukan sekedar penyampai cerita yang baik. Ia adalah pemikir yang brillian. Pemikir yang selalu mencari cara-cara penulisan yang baru, menemukan plot dan menggali tema-tema segar. Ia pun perenung agung. Perenung yang merenungkan tentang manusia berikut kesadaran-kesadarannya. Bisa diduga tokoh-tokoh semacam ini sangat langka. Salah satunya adalah Ryunosuke Akutawaga.

Tentang Ryunosuka Akutawaga, lebih baik saya kutipkan apa yang tertulis di halaman-halaman akhir buku kumpulan cerita pendek Ryunosuka Akutagawa, Rashomon, yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, tahun 2008. Ryunosuka Akutagawa, lahir di Tokyo, 1 Maret 1892, adalah cerpenis terbaik yang pernah dimiliki Jepang. Akutagawa mendapat predikat sebagai sastrawan yang mewakili zaman Taisho (1912-1926) dan dianggap sebagai pencerah dan mewakili kaum neo-realis. Selama sekitar 12 tahun masa kepengarangannya, ia lebih banyak menulis cerita pendek, jumlahnya mencapai ratusan. Sebagian besar telah diailhbahasakan, termasuk bahasa Indonesia. Buku kumpulan cerita pendek Ryunosuka Akutagawa, Rashomon, ini memuat beberapa cerita pendek terpentingnya, seperti Rashomon, Benang Laba-laba (Kumo no Ito), Di Dalam Belukar (Yabu no Naka), Hidung (Hana) dan cerita agak panjang Kappa.

Keterangan yang disampaikan penerbit buku Rashomon ini cukup standar untuk memperkenalkan sosok Akutagawa, namun tidak tentang karya-karyanya. Saya sendiri baru mengenal Akutagawa melalui cerita-cerita di kumpulan cerpen ini, ditambah beberapa cerita pendek lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang terserak di internet. Setelah membaca cerita-cerita pentingnya, saya menangkap bahwa Akutagawa bukan sekedar cerpenis, ia adalah perenung yang cukup tajam mengulik sisi-sisi dalam manusia. Ia berbicara tentang moralitas yang ternyata tidak mutlak, melainkan relatif bahkan peragu (Rashomon). Ia menulis tentang betapa rapuhnya pandangan manusia tentang dunia ini. Bahkan, ia juga tak segan menertawakan kesaksian langit sekaligus mempertanyakan netralitas pengadilan akhirat (Di Dalam Belukar). Ia bisa membaca apa arti dan apa yang ada di balik sebuah kepuasan yang selama ini diangan-angankan (Bubur Ubi).

Saya menyambut gembira buku kumpulan cerpen Rashomon yang memuat karya-karya penting Ryunosuka Akutagawa. Ini buku serius, meski penerbit memperkenalkannya sebagai bacaan alternatif selain komik Jepang. 

Rashomon. Di tengah Kyoto yang runtuh dan mencekam, moralitas dipertaruhkan. Seorang samurai kasta rendah baru saja dipecat. Ia kelaparan, dan sedikit lagi dekat dengan maut. Ia tak sendiri. Seorang wanita tua juga. Bedanya, wanita tua itu mencabuti rambut-rambut orang yang sudah mati untuk dijual sebagai sanggul, sehingga punya sedikit harapan untuk bertahan hidup. Bagi si wanita tua tindakannya adalah pantas, karena mayat-mayat itu sebenarnya milik perempuan penipu. Si samurai tak ingin mati kelaparan, “kalau begitu jangan salahkan jika aku…” 

Di Dalam Belukar. Seorang mayat samurai ditemukan di semak-semak bambu pinggiran Kyoto. Lima kesaksian di depan penyidik. Satu pengakuan dosa di kuil Kiyomizo. Satu petunjuk roh melalui mulut biksuni kuil Shinto. Adalah tujuh persepsi yang berbeda. Cerita yang menakjubkan tentang betapa nisbinya pandangan manusia terhadap realita, bahkan arwah pun merasa berhak mempunyai penafsirannya sendiri. Sebuah cerita yang luar biasa dan brillian. Menghantam keyakinan. Mempertanyakan kemampuan manusia dalam mencerna dunia. 

Kappa. Lagi-lagi cerita yang brillian. Kali ini Akutagawa-san menggunakan lakon makhluk aneh dalam khazanah cerita-cerita rakyat Jepang, Kappa, untuk menertawakan berbagai hal dalam kehidupan manusia. Puncaknya ada pada puisi yang sangat satiris: “Di antara rumpun bunga dan bambu. Buddha sudah lama tertidur. Agaknya Kristus pun telah mati. Bersama batang ara yang layu sepanjang jalan. Tapi kita semua harus beristirahat, meski di bawah kelir belakang panggung sandiwara.” Kalau di lihat, di balik kelir itu hanyalah kanvas yang penuh sambungan compang-samping. 

Bubur Ubi. Cita-cita seorang goi, pelayan kelas rendah, ini sederhana saja, yaitu bisa menyantap bubur ubi sepuasnya. Ia rela mendapat perlakuan terhina sekali pun demi menjaga api impian bubur ubinya tetap menyala. Penulis berbaik hati: impian itu menjadi kenyataan. Tuan si goi mengajaknya melakukan perjalanan jauh yang penuh keajaiban. Dan tentu saja keajaiban tertingginya adalah pesta bubur ubi. Kepiawaian Akutagawa-san dalam mengorek pikiran-pikiran terkelam manusia kembali ditunjukkan di sini. Cerita ini diakhiri dengan kepuasan si goi dengan menyantap semangkuk bubur ubi, sekaligus melegakan karena ia tak perlu lagi makan bubur ubi lainnya. Ada apa dengan bubur ubi? Silakan simak cerita mengagumkan ini dengan penuh refleksi. 

Benang Laba-laba. Saya menduga, Akutagawa-san mengadaptasi cerita ini dari kisah-kisah Buddha. Ini tentang sang Buddha yang berusaha menyelamatkan Kandata dari lantai  neraka. Meski pendosa besar, semasa hidupnya Kandata pernah melakukan kebaikan, yaitu menyelamatkan nyawa seekor laba-laba. Kini saatnya laba-laba membalas budi dengan mengulurkan benang ke neraka agar bisa diraih dan dipanjat Kandata keluar dari neraka. Bagi mereka yang telah banyak membaca cerita-cerita Buddha, mungkin cerita ini tidak terlalu istimewa. Bagi saya, bagian yang dahsyat adalah penutup cerita. Meski nilai-nilai moral kisah upaya penyelamatan Kandata ini adalah peristiwa besar, namun bunga-bunga teratai tidak menghiraukan sedikit pun. 

Si Putih. Superman, eh superdog itu bernama Shiro yang berarti putih. Namun putih adalah dulu, sebelum ia melakukan tindakan pengecut, yaitu tidak menolong temannya dari pemburu anjing. Penyesalannya mengubah wujudnya menjadi seekor anjing hitam. Penyelasan pulalah yang membuatnya menjadi anjing pahlawan. Namun meski telah menjadi superhero, anjing tetaplah anjing yang ingin kembali pada tuannya. Sayang tuannya tidak lagi mengenali si Shiro yang hitam, karena Shiro adalah putih. Lagi-lagi sebuah cerita sarat ambiguitas moralitas dalam sebuah plot yang menarik. 

Hidung. Biksu Naigu berusia 50 tahun. Semua orang mengenalnya sebagai biksu dengan hidung yang menjuntai sepanjang 16 sentimeter sampai ke bawah mulutnya. Seorang biksu pun bisa tak puas pada penampilannya. Ia merasa ditertawakan banyak orang karena hidungnya. Upaya pengobatan pun dilakoninya. Hidungnya menjadi pendek. Namun orang tetap menertawakannya. Ia ingin hidungnya kembali panjang. Sebuah cerita menarik, disajikan secara unik, tentang manusia yang terombang-ambing oleh keinginannya.

Hidup Akutagawa pun seolah menjadi cerita kelam tersendiri. Ia bunuh diri di usia sangat muda, 35 tahun, pada 24 Juli 1927, dengan menegak obat tidur secara berlebihan, setelah mengalami berbagai kelelahan mental dan keterguncangan mental. Kini nama Akutagawa digunakan sebagai award bagi kesusastraan yang paling bergengsi bagi penulis-penulis baru di Jepang. Saya berharap ada penerbit yang berkenan menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya Akutagawa pilihan lainnya sebagai bahan bacaan, pemikiran dan perenungan yang tak kunjung terselesaikan.

Sumber: Ryunosuke Akutagawa

Beberapa versi Rashomon dalam beberapa terbitan:

***

Telaah lainnya dari sastrawan A.S. Laksana, yang juga sebagian memuat pembelaaan dari Dadang Ari Murtono

Tentang Perempuan Tua dalam Rashomon

Oleh A.S. Laksana

31 JANUARY 2011

LABELS: SURAT SENIN PAGI

Nama “Surat Senin Pagi” saya pilih karena terdengar enak. Meski surat pertama ini baru muncul pada Senin sore, untuk kesempatan berikutnya, saya akan berusaha ia muncul tiap Senin pagi. Dan ini surat pertama.

Teman-teman,

Untuk melatih diri bermental baja, anda mungkin bisa mencontoh Dadang Ari Murtono. Pada 5 Desember 2010, cerpennya yang berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon dimuat oleh Lampung Post. Sejumlah orang menyatakan bahwa cerpen tersebut melulu jiplakan dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke. Perdebatan sengit berlangsung di jejaring sosial facebook dan twitter. Sungging Raga berusaha membuktikan plagiarisme Dadang dengan menjajarkan paragraf-paragraf yang identik dalam dua cerpen Rashomon tersebut.

Mengaku mendapatkan desakan dari kawan-kawannya untuk menanggapi suara-suara sengit itu, Dadang menulis pembelaan terhadap Rashomon versinya–meski sebenarnya ia “ingin membiarkannya saja sebenarnya”. Dalam pembelaannya ia menulis antara lain sebagai berikut:

Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.

(Kesalahan penulisan “merubah” yang seharusnya “mengubah” dalam kutipan di atas adalah dari Dadang sendiri. Namun, karena ia orang Jepang, saya agak maklum jika ia tidak tahu bahwa kata itu dibentuk dari kata dasar ubah dan bukan rubah atau cerpelai.)

Saya tidak ingin menjajarkan lagi paragraf-paragraf dalam kedua Rashomon itu, yang memang hampir sepenuhnya identik. Pekerjaan itu sudah dilakukan oleh Sungging Raga. Karena itu, saya pikir kita bisa membicarakan hal lain, dan saya akan berangkat dari pembelaan di atas.

Apa yang dimaksudkan oleh Dadang dengan “merubah sudut pandang” adalah mengganti siapa yang diceritakan masuk ke gerbang Rashomon pada awal cerita. Dalam cerpen Akutagawa, ia adalah seorang lelaki, pelayan samurai yang baru dipecat majikannya dan menjumpai di ruangan atas gerbang tersebut seorang perempuan tua sedang mencabuti rambut mayat seorang perempuan. Dalam versi Dadang, ia adalah seorang perempuan tua, juga pelayan samurai yang baru dipecat majikannya. Menjumpai tumpukan mayat di sana, perempuan itu memutuskan mencabuti rambut orang-orang mati itu untuk dijadikan cemara. Jadi, yang dilakukan Dadang adalah menggabungkan karakter Genin atau pelayan samurai dengan si perempuan tua, seperti seorang pawang mengawinkan tapir dengan musang.

Hasilnya, selain satu paragraf penutup, semuanya sama persis, baik plot, setting, maupun nada tuturan cerita tersebut dengan cerita Akutagawa. Saya kira ini sebuah ikhtiar yang agak imbisil untuk melahirkan sebuah cerita yang bersandar dari karya orang lain untuk kemudian dinyatakan sebagai karya sendiri.

Alasan pengubahan sudut pandang saya kira menjadi terlampau lemah dalam kasus ini. Kita bisa memaafkan bahwa Dadang tidak bisa membedakan ubah dengan rubah atau burung onta. Banyak orang lain mengidap gejala seperti itu. Dalam hal ini kekeliruan Dadang bukan kasus unik. Namun yang tidak termaafkan adalah kegagalannya memahami bahwa setiap individu adalah unik. Tiap-tiap orang akan melihat kenyataan dari pandangan dunianya masing-masing. Karena itu, di tangan seribu penulis kita akan mendapatkan seribu cerita, seribu cara pandang, seribu suara tuturan, pada saat mereka diminta menggarap satu tema. Dari sudut pandang satu karakter kita bisa mendapati satu cerita dan realitas yang hanya milik karakter tersebut. Sementara dari sudut pandang karakter lain, kita akan mendapati cerita dan realitas lain, kendati peristiwanya sama. Itu karena isi kepala masing-masing dari mereka berbeda, dan realitas adalah representasi pandangan dunia masing-masing orang.

Dadang memang memiliki kalimat yang patriotik untuk menjelaskan dirinya. Simaklah kalimat berikut:

Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalamPerempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.

Ia benar bahwa ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Dan ia boleh sepatriotik mungkin menjelaskan dirinya. Namun, saya akan lebih sepele melihatnya, ini adalah perkara bagaimana seorang penulis memahami sudut pandang. Setiap orang memiliki kesaksiannya sendiri atas realitas, setiap orang memiliki versi yang berbeda meski mereka ditempatkan dalam setting dan situasi yang sama.

Akutagawa memahami hal tersebut. Karena itulah dalam cerpennya yang lain, “Di sebuah Hutan kecil”, ia membuat empat “realitas” berbeda atas satu peristiwa pembunuhan. Realitas pertama dari sudut pandang orang-orang yang mendapati mayat tersebut, mereka memberikan kesaksian di kantor polisi, termasuk kesaksian polisi yang menangkap pembunuhnya. Realitas kedua dari sudut pandang Tajomaru, si pembunuh, yang mengakui bahwa memang dialah yang membunuh korban. Realitas ketiga dari istri korban, yang mengakui bahwa dialah yang membunuh suaminya, bukan penyamun Tajomaru yang telah memerkosanya. Realitas keempat dari korban pembunuhan itu, melalui seorang cenayang.

Dadang tidak memiliki pemahaman sebaik Akutagawa dalam hal memaknai realitas. Maka, kendati ia mengakui membuat perubahan sudut pandang, kita masih mendapati segalanya sama saja. Ia mencoba menyodori kita sebuah versi lain, namun ada yang fatal dalam versinya: tak ada perbedaan realitas yang diwakili oleh perubahan sudut pandang. Maka, kita menjumpai bahwa isi kepala seorang lelaki pelayan samurai sama belaka dengan isi kepala perempuan tua pemulung rambut mayat, kecuali pada ending yang menurut saya justru terasa lebih klise dan mandek: perempuan tua itu memandangi tumpukan mayat dan berpikir alangkah enaknya menjadi mayat, tidak ada lagi persoalan. Selesai.

Dalam versi Akutagawa, ketika cerita berakhir, kita masih diajak melihat kegelapan. Dan kita masih diberi kesempatan “menulis” sendiri kelanjutan cerita tersebut, apakah perempuan tua itu akan terus mencabuti rambut si mayat untuk dijadikan cemara setelah si pelayan samurai merampok dirinya, atau kemungkinan apa pun. Sementara pada diri lelaki pelayan samurai, kita disodori kegelisahan apakah orang harus menjadi penjahat untuk bertahan hidup–dan kemudian sebuah ironi. Itu bagian sangat kuat pada cerita Rashomon yang justru hilang oleh ikhtiar Dadang.

Kehadiran perempuan tua yang mencabuti rambut mayat demi bertahan hidup membuat si pelayan samurai muak pada kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan nyawa. Ia, yang beberapa waktu sebelumnya berpikir untuk menjadi pencuri demi bertahan hidup, kemudian mendapatkan kesadaran berikut bahwa baginya lebih baik kehilangan nyawa ketimbang melakukan kebejatan sebagaimana yang dilakukan perempuan itu. Namun, sesaat kemudian, perempuan tua itu jugalah yang memberinya alasan, dalam percakapan singkat, bahwa dengan cara apa pun nyawa harus dipertahankan. Lagipula, menurut perempuan itu, “Mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu.”

Pada saat itulah, Akugawa menyodori kita ironi. Ketika perempuan tua itu menjelaskan “apa yang pantas didapat oleh mayat-mayat itu”, ia sesungguhnya sedang menjelaskan juga apa yang pantas didapat olehnya. Maka, pelayan samurai itu menjadikan si perempuan tua korban pertamanya. Atas persetujuan si tua itu sendiri.

Apa boleh buat, secara patriotik demi “perlawanan dan keberpihakan“, Dadang telah membantai bagian yang paling memikat dari cerpen Akutagawa.

Itu masalah pertama dengan cerpen Rashomon versi Dadang. Masalah berikutnya, cerpen yang sama dimuat lagi tujuh pekan kemudian di Kompasminggu kemarin (30/1/2011). Raudal Tanjung Banua mengirimkan sms kepada saya pada sore harinya. Bunyinya: “Mas, baca cerpen Kompas hari ini, karya Dadang Ari Murtono? Lha, itu kan jiplakan bulat-bulat dari cerpen Ryunosuke Akutagawa berjudul Rashomon yang pernah diterbitkan akubaca. Kok redakturKompas tidak ingat cerpen terkenal itu ya? Demikian sekadar info. Salam.”

Sebelumnya, siang hari, di Milis Bengkel Penulisan Novel DKJ 2009, Apendi, salah seorang anggota milis, menulis surat yang mempertanyakan cerpen itu juga. Seperti membuat kuis, ia mengajukan pertanyaan: Kompas sengaja atau kecolongan?

Cerpenis Bamby Cahyadi menulis surat untuk Kompas, yang dimuat di situshttp://indonesiabuku.com pada hari yang sama dengan pemuatan cerpen tersebut. Ia menulis antara lain:

“Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.”

Akhirnya, setelah cukup berpanjang lebar, saran saya untuk kasus ini tetap saja: Untuk melatih diri bermental baja, tirulah Dadang Ari Murtono. Saya mendapatkan komentar juga bahwa cerpennya yang berjudul Lelaki Sepi, yang juga dimuat di Kompas, mengingatkan kita pada cerita Perempuan Berwajah Penyok karya Ratih Komala.

Salam saya,

A.S. Laksana

N.B. Menurut saya akan lebih baik jika Dadang Ari Murtono membiarkan sajaRashomon seperti aslinya, jika upayanya untuk mengubah sudut pandang tidak bisa meyakinkan, dan caranya mengakhiri cerita justru menjadikan cerita itu berakhir klise. Dengan membiarkan Rashomon apa adanya, Dadang juga bisa mencantumkan namanya sebagai pengarang–kalau ia mau.

***

Akhirnya, harian Kompas pada Edisi Minggu, 6 Februari 2011, telah mengeluarkan pengumuman sehubungan dengan pencabutan/pembatalan pemuatan Cerpen “Perempuan Tua dalam  Rashomon” yang ditulis oleh Dadang Ari Murtono.

Pemberitahuan Redaksi Kompas Minggu (6/2/2011), halaman Cerpen.

 

Pemberitahuan:

Setelah melakukan pengkajian dan menimbang berbagai masukan, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon tulisan Dadang Ari Murtono, yang dimuat Kompas Minggu (30/1), dinyatakan dicabut dan tidak pernah termuat dengan berbagai alasan.

 

Redaksi.

Pencabutan publish atas cerpen itu dilakukan tepat sepekan setelah terbit dan menuai kecaman dari para sastrais Indonesia. Sayangnya, pencabutan ini tidak sekaligus memupus label “teledor” yang terlanjur dicap-kan pada redaksi halaman sastra minggu Kompas.

Dengan pencabutan tersebut, diharapkan polemik atas kasus Dadang Ari Murtono telah berakhir, walau masih menyisakan kejengkelan panjang pada pelaku.

[]



%d blogger menyukai ini: