Tag Archives: jepang

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2015

Cover tempo 2015_depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KORAN TEMPO 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Kehormatan | Pikiran Rakyat | Minggu, 22 Maret 2015

Kehormatan

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Kehormatan_Pikiran Rakyat_22 Maret 2015

1/

Sebuah perayaan sedang berlangsung di hadapan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian licin dan harum. Jemari Matsumoto bergetar.

Seorang pemuda melangkah ke podium kecil, melewati tamu-tamu yang mengangguk hormat padanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah saya. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu saya sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala hal dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang —dengan semua tragedinya— ia berhasil bertahan.”

Di kursi barisan depan, Matsumoto diam mematung. Bibirnya terkunci. Hatinya berbisik —entah apa yang membuatnya ada di tempat ini.

2/

Pulau Wawoni’i diberi bendera matahari terbit dalam peta Dai Nippon. Di depannya terhampar Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan sebagai Prime Naval Base untuk Operasi Selatan dalam misi penaklukan Australia.

Malam ini, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya-cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir —entah berapa banyaknya— meledak beruntun, menyasar barak, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat ini.

Yoshiro Matsumoto merendahkan tubuhnya. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana ia memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

Tetapi sebuah ledakan lain segera menyadarkan Matsumoto. Ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah hancur. Serangan ini sangat mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap, karena sekelilingnya kini mendadak hening —tak ada tembakan dan ledakan lagi.

Matsumoto merayap dalam gelap. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak di kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat —tapi mendadak sadar bahwa posisinya kini sangat berbahaya.

Di lubang itu ada seorang pejuang kemerdekaan. Dari jarak sedekat itu, Matsumoto yakin kaki kanan pria itu hancur. Pasti karena ranjau darat yang mereka tanam sekitar 500 meter dari barak komando. Sosok tubuh itu mengerang lirih. Matsumoto kaget, tak ia sangka bahwa sosok itu masih hidup.

3/

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan di udara. Matsumoto mengendus aroma tajam dari asap suar di udara. Ia sentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat pada sosok dalam lubang bekas ranjau itu. Ia lepas barel kosong dari pinggangnya dan menopang kepala lelaki di depannya itu agar lebih tinggi. Udara kering dari laut bercampur asap mesiu. Matsumoto berjongkok, tangannya bergetar. Ia rapatkan kerah bajunya, mencoba nahan mengusir gigil. Lubang hidungnya membesar saat ia jejalkan udara kering ke dalam paru-parunya, kemudian ia berusaha fokus.

Teriakan rekan-rekannya dari bagian lain pulau sampai ke telinganya. Letusan senjata dan desing mortir di udara sesekali memburai suasana malam. Ia meringkuk di kegelapan, hanya mendengar dan tak bisa berbuat apa-apa saat sebagian rekannya berjibaku menahan serangan para pejuang Indonesia —pasukan lelaki di depannya ini. Ya. Lelaki ini musuhnya.

Matsumoto teringat sumpah prajurit kekaisaran yang rela mati demi kehormatan Kaisar Jepang. Ia kunci rahangnya, mengarahkan pistolnya ke pelipis lelaki itu. Perlahan jemarinya bergerak meremas. Di saat kritis akan keputusannya, lelaki itu mengerang dan menyentuh lengannya —keraguan menyergap Matsumoto.

Itu erangan yang akrab di telinganya sepanjang tugasnya dalam misi okupasi selama ini. Mungkin lelaki malang itu menginginkan sesuatu sebelum nyawanya putus. Matsumoto merendahkan kepalanya, hingga cukup dekat untuk mendengarkan permintaan terakhir lelaki itu. Kepalanya begitu dekat sehingga ia bisa melihat kilatan di mata lelaki itu.

“Air —beri aku air,” suara lelaki itu nyaris habis.

Tetapi kilatan mata itu —kilatan mata lelaki itu mengusik hatinya. Ia seperti melihat dirinya di dalam sana, berdiri gagah dengan kehormatan sebagai seorang lelaki yang setia pada negaranya. Matsumoto teringat sumpahnya, kehormatannya sebagai seorang samurai. Hatinya jeri. Susah payah ia redam sakit di dadanya. Ketegangan telah membuatnya cemas. Tangan Matsumoto bergetar, tapi ia merasa siap untuk kembali menarik picu.

Lelaki di depannya itu tiba-tiba berguling, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistolnya. Perlahan, bibir lelaki itu terbuka, berusaha kembali membisikkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto meleleh. Ia merendahkan kepalanya. “Aku harus membunuhmu. Aku harus menyelesaikan tugasku —sumpahku pada negaraku.”

Lelaki di depannya terbatuk, lalu tersenyum. Tangan lelaki itu terangkat ke arah lengan Matsumoto. “Tak apa-apa. Kau harus lakukan tugasmu—” mata lelaki itu mengatup sesaat, “—tapi beri aku air. Aku haus.”

Lelaki itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakangnya, mencari-cari, lalu teringat pada barel kosong miliknya yang tadi ia gunakan menopang kepala lelaki itu. Ia raih benda itu dan mundur dalam kegelapan di belakangnya. Tak begitu lama Matsumoto kembali dengan barel yang penuh air. Ia angkat kepala lelaki itu seraya menuangkan air ke mulutnya, sedikit demi sedikit. “Pelan-palan biar kau tak tersedak,” ujarnya. Lelaki itu tersenyum dan terus menerima air dari barel milik Matsumoto.

“Terima kasih—sekarang lakukanlah tugasmu.” Lelaki itu tersenyum sambil menatap matanya. Matsumoto tertegun. Ia menatap pistol di tangannya, lalu ke arah wajah lelaki itu. Tatapan mereka bertemu. Sumpah seperti berdengung dalam kepalanya, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Demi kehormatannya —sebagai seorang samurai, sebagai prajurit kekaisaran, ia harus mengambil keputusan ini.

Matsumoto meremas gagang pistolnya. Telunjuknya mengeras di logam picu.

4/

Tiba-tiba, cahaya merah berpendar di sekeliling Matsumoto. Sebuah kilatan sejenak membutakan matanya, disusul teriakan-teriakan ke arahnya, memerintahnya agar diam. Darah Matsumoto mengalir cepat, saat ia dengar suara-suara senjata dikokang bersamaan. Ia dikepung sepasukan pejuang Indonesia.

Seseorang menyuruhnya berdiri. Beberapa tangan merenggut kerah belakang bajunya. Matsumoto patuh —tangannya terangkat ke atas kepala. Sisa sobekan bajunya menggantung keluar dari rim di pinggangnya.

Dua orang pejuang segera memeriksa lelaki di dekat Matsumoto. Sesaat kepanikan tampak di wajah mereka, sebelum menunjuk-nunjuk ke arah Matsumoto. Baginya, alasan atas tindakannya tak penting lagi—bahkan karena itu, ia harus melucuti kehormatannya.

Kepala Matsumoto tertunduk. Saat kepalanya tegak, wajahnya dilelehi air mata. Ya. Samurai itu menangisi kehormatannya. Ia lepaskan kehormatannya dan menerima kehinaan ini. Matsumoto berlutut dan menyorongkan wajahnya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!” Teriaknya.

Para pejuang kemerdekaan terdiam. Mereka hanya menatap Matsumoto.

Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Aku mohon, berikanlah kehormatanku—Utsu!” Teriaknya sekali lagi.

Tapi, tak seorang pun pejuang yang sudi memenuhi permintaannya.

Matsumoto tergugu. Ia meratapi dirinya. Matanya mendapati tubuh semua rekannya yang telah mendapatkan kehormatannya —mati demi negara dan kekaisaran, dan ia tidak seberuntung mereka. Walau mungkin berbeda, namun entah seperti apa nilai dan ukuran kehormatan bagi para pejuang di sekelilingnya saat ini. Mereka tak memahami pentingnya kehormatan —yang tak bisa mereka berikan pada Matsumoto— bagi seorang samurai dan tentara kekaisaran seperti dirinya.

Utsu! Utsuuuuu!” Teriak Matsumoto putus asa.

5/

Matsumoto seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibukota negaranya. Di sekelilingnya bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah malu karena hilangannya kehormatan.

Sebagaimana wajah-wajah itu, Matsumoto pun harus menangisi dirinya. Kehormatan yang juga tak bisa ia tebus. Deraan malu pernah membuat Matsumoto memohon agar ia bisa melakukan seppuku—tradisi samurai. Tapi para pejuang Indonesia tak pernah mau menuruti permintaannya.

Setelah Kaisar Akihito mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih menghukum dirinya sendiri; ia menolak pulang dan memilih berada di antara orang-orang yang tak memahami arti kehormatan.

Matsumoto membangun kehidupannya. Ia menikahi seorang perempuan Indonesia, bekerja di perusahaan teh, dan menabung untuk hari tuanya. Tapi, Parkinson datang tergesa-gesa, melemahkan syaraf-syarafnya. Matsumoto memilih melupakan apapun yang ia alami di bulan Agustus di penghujung tahun 1945. Ia memilih melupakan lelaki yang menjadi sebab hilangnya kehormatannya itu.

Sampai seseorang menemukan jejaknya dan datang menemuinya. Seseorang yang harus membuatnya menangis lagi. Seseorang yang keras memintanya untuk mengingat apapun yang hendak ia lupakan. Seseorang yang mengingatkannya pada wajah lelaki yang baginya sudah mati 69 tahun silam demi sebuah kehormatan.

***

Matsumoto mengguyurkan air dari barel ke kepala lelaki itu, menggunakan sobekan bajunya untuk membersihkan wajahnya. Ia menggunakan sisa sobekan bajunya untuk perban, membebat kaki putus lelaki itu sekencang mungkin. Dengan sisa kain bajunya, ia tutupi tulang yang hancur dari sisa kaki musuhnya itu.

“Serangan kalian rapi sekali. Tak ada yang menyangka kalian akan menyerang malam ini,” ujar Matsumoto sambil mengutuk ketidak-becusan intelijen pasukannya sendiri.

“Namaku Syamsul,” lelaki itu mencengkeram bahu Matsumoto.

“Jangan banyak bergerak. Lukamu banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara terbata-bata, “—aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk. Matsumoto kembali meneteskan air ke mulut Syamsul.

Entah apa yang menghentikannya membunuh lelaki itu.

6/

“Inilah impian ayahku selama ini.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Puluhan tahun, ayahku sangat ingin bertemu orang yang ia hormati, orang yang setiap hari ia sebut namanya dan ceritakan kisahnya pada kami. Seorang samurai yang telah menunjukkan kehormatannya dengan sangat berani.” Suara pemuda itu meninggi saat ia dan keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

Matsumoto tersedak keharuannya sendiri.

“Kami berterima kasih pada Tuan Yoshiro Matsumoto. Dengan kehormatannya ia mempertahankan kemanusiaannya, menyelamatkan ayah kami dan membuat kami setiap saat mensyukurinya. Terimalah hormat kami setinggi-tingginya—” Pemuda itu kembali membungkuk hormat pada Matsumoto. Saat tubuhnya tegak, pemuda itu menoleh pada semua tamu yang hadir di pemakaman ayahnya— “Saudara-saudara, inilah lelaki terhormat yang berjuang di sisi ayah kami dalam perang.”

Matsumoto menggeriap. Di antara orang-orang yang selama ini ia anggap tidak memahami arti kehormatan, untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu, Matsumoto menemukan kehormatannya —dalam kemanusiaan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. (*)

Molenvliet, Oktober 2014

 

Catatan:

Prime Naval Base = Pangkalan Angkatan Laut Utama; Jibaku = berani mati; Utsu = tembak


[Esai] Bogem Jassin di Muka Chairil

Jassin dan Chairil (#2)

Bogem Jassin di Muka Chairil

HB Jassin muda 

“JASSIN, dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.” Begitu isi surat Chairil yang dibaca Jassin dalam kereta ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.

Si Kurus itu memang tak punya kerjaan. Hidupnya habis buat seni. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld,” tulisnya di kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Kernword kernbeeld, berarti: putih tulang.

Si Kurus bertahan pada egonya. Tapi, Jassin tetap memuat sajak itu di majalah Panji Pustaka, namun judulnya diganti jadi Semangat, biar tak ditangkap Jepang.

Tingkah Chairil bisa sangat menyebalkan. Kerap keluar-masuk semaunya di rumah atau kantor Jassin. Bila dia datang ke rumah Jassin, dan kebetulan Jassin tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin tik Jassin. Kadang kala dikembalikan, kadang juga tidak. Betapa kesal Jassin saat dia tak mengembalikan novel Belenggu. Sebab di pinggiran buku itu ada catatan-catatan Jassin. Kadang si Kurus ke rumah Jassin naik becak, dan begitu tiba, dia minta Jassin membayarnya.

Gara-gara sikap seenaknya itu, pernah Jassin memukul muka Chairil.

Ceritanya, Jassin ikut sandiwara Api karya Usmar Ismail di Gedung Kesenian Jakarta, tahun 1949. Di belakang, Jassin berusaha menghayati perannya sebagai seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker yang diperankan Rosihan Anwar.

Saat Jassin serius meresapi peran, entah kenapa si Kurus itu lalu-lalang di depannya, sambil mencibir. “Kau cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” Teriak si Kurus.

Konsentrasi Jassin pecah. Dia teringat pada esainya Karya Asli, Saduran dan Plagiat di majalah Mimbar Indonesia. Chairil tersindir esai Jassin itu. Walau esai Jassin pernah membela sajak Krawang-Bekasi dari tuduhan plagiat, tapi lagak si Kurus ini membuatnya kesal: hapalan naskahnya tak jadi-jadi sebab si Kurus mondar-mandir melulu.

Jassin pun panas.

“Saya juga bisa lebih dari itu!” Kata Jassin seraya berdiri. Lalu, tiba-tiba…Buk! Jassin meninju muka Chairil. Si Kurus terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” Teriak Usmar Ismail. “Jassin memukul Chairil,” jawab yang lain.

Mereka dilerai, Chairil didorong keluar. Si Kurus kaget, tak sangka Jassin —yang hampir tak pernah marah itu— bisa murka dan memukulnya.

Chairil tersinggung. Dia berputar, masuk lewat pintu depan, lalu duduk di muka panggung. Karena lampu dipadamkan, semula Jassin tak menyadarinya, tapi kemudian Jassin melihat si Kurus itu menunjuk-nunjuknya dari deretan penonton. Chairil mengancam mau bikin perhitungan dengannya.

Waktu berselang, Jassin dengar si Kurus kerap datang ke Taman Siswa, latihan angkat besi. Tubuh kurusnya hendak dia buat berotot. Setiap ditanya apa maksudnya latihan angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin itu,” katanya.

Suatu sore, Chairil sudah berdiri di pintu rumah Jassin. Suasana menjadi tegang. Saat Jassin bersiap menghadapinya, tiba-tiba si Kurus bicara, “Jassin, aku lapar,” dengan gayanya yang seenaknya itu. Jassin tertawa, lalu diajaknya Chairil menuju meja makan.

“Setelah ini, aku siap menghadapimu,” kata si Kurus, lahap menyantap makanan yang disajikan Jassin.

“Jangan bicara jika lagi makan, bisa mati kau tersedak. Jika kau mati sekarang, tak akan sempat kau menghadapiku,” timpal Jassin menyodorkan air putih.

Chairil bukan tak butuh uang. Dia kena pukul Jassin karena ketersinggungannya atas esai Jassin terkait caranya menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok, Hsu Chih-Mo, berjudul Datang Dara Hilang Dara, dengan Chairil menerakan namanya. Karena itulah Jassin menyentilnya di esai Mimbar Indonesia.

Tahun 1945, sejak majalah Pantja Raja (pengganti Panji Pustaka) terbit, sajak Chairil mulai bertebaran. Namanya menjulang. Sayangnya, Chairil tak berubah. Si Kurus itu masih suka bertingkah.

Balai Pustaka dibekukan saat Aksi Militer Belanda pertama meletus, bikin Jassin jadi pengangguran. Jassin diajak Anjas Asmara ke Mimbar Indonesia.

Suatu hari, di ruang redaksi Mimbar Indonesia, pelukis Baharuddi datang dan bilang, “menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeash.”

Jassin kecewa mendengarnya, walau dia mengaku belum membaca sajak MacLeash. Jassin lagi-lagi membela si Kurus. Lahirlah debat di antara para sastrawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” bela sastrawan Balfas yang menyenangi karya Chairil.

Di karet/ daerahku yang akan datang/ sampai juga deru angin.

Beraninya si Kurus menulis itu dalam sajaknya. Jassin bahkan tak berani membayangkan daerah di mana dia nanti terbujur mati. Harapan itu dijawab Allah. Pada usia 27 tahun, sahabatnya itu, sudah berbaring tanpa nyawa. Kematian Chairil menyatukan solidaritas kaum Republik. Berbondong mereka mengiringi penyair itu ke TPU Karet Bivak.

Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman, Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana, ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 43 / Th. IV / April 2013)


[Filem] Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Warriors of the Rainbow: Seediq Bale

SAAT melihat scene (sin) sekelompok orang suku Seediq menari-nari diiringi bunyi dari sejenis alat musik serupa Karinding, saya tersenyum. Bagaimana bisa Karinding muncul di sebuah filem berlatar sejarah besutan sineas Taiwan? Sebuah filem yang mengangkat sejarah Insiden Wushe, insiden berdarah yang terjadi di dekat Gunung Qilai Taiwan saat invasi Kekaisaran Jepang di Formosa tahun 1930. Seorang Seediq, Mona Rudao, kepala desa Mahebu, memimpin prajurit sukunya berperang melawan Jepang.

Seediq adalah satu dari 14 suku asli pulau Formosa (Taiwan) yang menempati wilayah Nantou dan Hualien. Sebagaimana nama sukunya, maka bahasa yang mereka gunakan dikenali sebagai bahasa Seediq. Namun begitu, pengakuan atas keberadaan suku ini tergolong lambat dilakukan. Suku Seediq baru resmi diakui pemerintah Taiwan sebagai satu dari 14 kelompok adat Taiwan pada tanggal 23 April 2008. Baru enam tahun terakhir saat tulisan ini dibuat. Sebelumnya, suku Seediq bersama suku Truku yang masih memiliki kekerabatan erat, diklasifikasikan sebagai suku Atayal.

Filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berjudul The Sun Flag, dan bagian kedua berjudul The Rainbow Bridge. Di bagian pertama itulah Karinding dan tradisi perburuan kepala bermunculan dalam sin-sinnya.

 

Insiden Wushe

Pada tahun 1895, Taiwan berada di bawah kontrol pemerintah Kekaisaran Jepang melalui Perjanjian Shimonoseki. Pendudukan Jepang atas Taiwan terjadi setelah Jepang berhasil mengalahkan Dinasti Han China. Pejabat militer Jepang yang ditempatkan di Taiwan berpendapat bahwa penduduk asli adalah hambatan utama bagi mereka untuk menguasai sumber daya alam Taiwan. Pendudukan itu menyebabkan pertempuran tak seimbang antara penduduk asli dan militer Jepang. Perlawanan demi perlawanan meninggalkan cerita panjang pada jejak tebing.

Sementara itu, intrik lain menjadi satu dalam perjuangan suku Seediq melawan tekanan pemerintah militer Jepang. Hubungan baik Mona Rudao dalam hubungan dagang dengan kalangan China Han, mendapat saingan dari Temu Wali, seorang muda suku Bunun dari kelompok Toda. Militer Jepang melarang hubungan dagang itu dan berkolaborasi dengan sekelompok suku Bunun untuk menyergap sekelompok lelaki suku Seediq yang mabuk saat mereka sedang tidur. Pembunuhan itu direspon dengan keras oleh Mona Rudao. Namun setelah beberapa kali pertempuran, Rudao Luhe—ayah Mona Rudao—terluka, sehingga melemahkan perlawanan Mona Rudao dan desa-desa suku Mahebu. Kematian Rudao Luhe membuat persekutuan tiba-tiba berakhir dan suku-suku di Taiwan kembali berada di bawah kendali dan tekanan militer Jepang.

Ketakutan terbesar penguasa militer Jepang adalah aktivitas adat suku Seediq—dan 13 suku lainnya—berburu kepala manusia dari musuh-musuh mereka. Selama 20 tahun penguasa militer Jepang berusaha menghapuskan kebiasaan itu. Para pria dari 14 suku asli Taiwan dibujuk menjadi buruh perusahaan kayu. Walau berupah rendah, mereka menerima tawaran itu karena tekanan kuat militer Jepang. Mereka dilarang memegang senjata api (musket) untuk keperluan berburu hewan secara tradisional.

Sedangkan para wanita suku-suku asli Taiwan bekerja di rumah-rumah orang Jepang dan dilarang menenun kain tradisional. Anak-anak—termasuk anak Pawan Nawi—bersekolah di desa Wushe.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para pria suku Seediq tetap melakukan hubungan dagang dengan orang China Han. Mereka mendapatkan alkohol dan obat-obatan dari toko kelontong seorang China Han yang membolehkan mereka mendapatkan semua barang-barang itu secara kredit. Di atas segalanya, tetap saja, militer Jepang melarang siapapun memakai tato wajah. Padahal tato wajah diyakini oleh suku-suku Taiwan sebagai jalan ke sisi lain di ujung jembatan pelangi setelah kematian.

Setelah 20 tahun berada dalam tekanan militer Jepang, upaya pelemahan itu tampaknya berhasil. Sekelompok orang suku Seediq—seperti Dakis Nomin, Dakis Nawi, Obing Nawi, dan Obing Tadao—bahkan mengadopsi nama, pendidikan, bekerja dan hidup di antara orang-orang Jepang. Merasa berhasil dengan upaya pelemahannya, militer Jepang justru tak menyadari bahwa ada ketegangan yang terpicu dalam kepemimpinan setiap suku di Taiwan.

Pada akhir musim gugur 1930, Mona Rudao melangsungkan sebuah acara pernikahan untuk pasangan muda warga desanya. Untuk memenuhi keperluan upacara, Mona Rudao memimpin sekelompok orang desanya untuk berburu hewan upacara. Di sinilah filem ini dimulai.

Seediq3

Dimulai dengan adegan perburuan hewan di sebuah sungai di gunung Qilai. Dua orang pemburu suku Bunun yang sedang berburu babi hutan, bertemu dengan kelompok pemburu suku Seediq yang dipimpin Mona Rudao.

Temu Wali yang sedang berburu bersama seorang polisi militer Jepang, Kojima Genji dan anaknya, tak sengaja bertemu kelompok pemburu Mona Rudao. Pertemuan tak sengaja ini membuat dua kepala kampung itu berdebat soal batas areal perburuan. Berdebatan itu memanas saat kawan Temu Wali menodongkan senjata yang segera memicu kemarahan Mona Rudao yang langsung menyerang dan membunuhnya. Mona Rudao juga merampas hasil buruan yang diperoleh Temu Wali dari wilayah perburuan suku Seediq. Pertengkaran itu akan berbuntut panjang.

Saat pesta pernikahan warga Mona Rudao, seorang polisi militer Jepang yang baru saja dilantik bernama Yoshimura, berkeliling memeriksa keamanan desa. Tado Mona—anak Mona Rudao—menawari Yoshimura segelas bir millet, sejenis bir tradisional suku Seediq yang difermentasi dengan air liur. Yoshimura yang gugup menyangka niat baik Tado Mona sebagai upaya meracuninya. Yoshimura mendorong Tado Mona hingga terjatuh ke liang berisi darah bekas penyembelihan hewan.

Melihat saudaranya dikasari orang Jepang, Baso Mona memukul Yoshimura dan perkelahian tak bisa dihindari. Mona Rudao menghentikan pertarungan, namun Yoshimura yang cemas akan keselamatannya, mengancam akan menghukum seluruh warga desa. Ancaman ini membuat para pemuda suku Seediq—termasuk Piho Sapo dari desa Hogo—mendesak Mona Rudao untuk memulai perang dengan Jepang. Mona Rudao bilang bahwa mereka tak mungkin menang. Namun Mona Rudao juga melihat perang sangat dibutuhkan untuk memutus tekanan militer Jepang selama ini.

Dalam beberapa hari Mona Rudao menyeru desa-desa Seediq agar masuk dalam pakta, menggabungkan kekuatan untuk sebuah serangan terbuka. Mona Rudao berdemonstrasi dari desa ke desa. Di desa terakhir, desa Hogo, kepala desa Tadao Nogan setuju bergabung dengan Mona Rudao. Mereka berencana menyerang Jepang pada tanggal 27 Oktober 1930, saat Jepang sedang menggelar pertandingan olahraga di halaman sekolah desa Wushe untuk menghormati Pangeran Kitashirakawa Yoshihisa. Para wanita suku Seediq, termasuk Mahung Mona, putri Mona Rudao, tahu rencana perang itu.

Dakis Nomin, seorang pemuda suku Seediq yang telah menjadi polisi militer Jepang—dan berganti nama menjadi Hanaoka Ichiro—mendapat kabar bahwa Mona Rudao sedang bersiap untuk perang. Kendati ia tak mebocorkan rencana itu, ia tetap datang menemui Mona Rudao. Ia datang ke air terjun dan membujuk Mona Rudao agar membatalkan rencananya. Justru Mona Rudao berbalik membujuknya untuk berkolaborasi. Setelah Dakis Nomin pergi, Mona Rudao bernyanyi bersama roh Rudao Luhe (ayahnya) sekaligus memutuskan untuk memulai peperangan.

Pada tanggal 27 Oktober 1930, serangan berlangsung sesuai jadwal dan menggunakan taktik perang Seediq. Orang-orang suku Seediq menyerang pos-pos polisi militer Jepang. Semua laki-laki, wanita dan anak-anak Jepang tewas dalam kondisi terpancung. Rupanya, suku Seediq menggunakan tradisi perburuan kepala dalam perlawanan itu.

Pawan Nawi membunuh seorang guru Jepang beserta seluruh keluarganya. Obing Nawi, seorang wanita suku Seediq yang sedang memakai pakaian Jepang, terhindar dari pembunuhan hanya karena suaminya (Dakis Nomin) membungkus tubuhnya dengan kain tenun tradisional suku Seediq. Obing Tadao, putri kepala desa Tadao Nogan yang juga sedang memakai pakaian Jepang, lolos dari pembunuhan karena bersembunyi di ruang penyimpanan. Orang-orang China Han tak diserang. Orang-orang suku Seediq merampas semua senjata Jepang. Seorang polisi militer Jepang yang lolos memberitahu dunia luar tentang serangan mematikan itu.

Pada sin akhir filem ini, tampak Mona Rudao berdiri di bawah tiang bendera di tengah dewa Wushe yang dipenuhi mayat tanpa kepala dari orang-orang Jepang. Kepala-kepala mereka diambil sebagai tanda kemenangan.

 

Karinding (Mouth Harp)

Karinding

Karinding

Penggarapan filem ini luar biasa. Sutradara berhasil meracik filem sehingga benar-benar persis dengan kejadian sebenarnya. Saat ditampilkan dalam Venice International Film Festival, filem ini mendapat sambutan hangat dari para kritikus. Filem ini terpilih sebagai nominator pada Academy Awards ke-84 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2011—salah satu dari sembilan filem yang dinominasikan untuk maju ke babak berikutnya. Sayang sekali, filem ini gagal menang karena dua bagian filem ini terlalu panjang sehingga harus digabungkan yang justru memangkas beberapa adegan penting.

Anggaran produksi filem ini adalah yang termahal dalam sejarah sinema Taiwan. Para kritikus filem dunia menyandingkan kualitas skenario dan sinamatografi dua bagian filem ini dengan Braveheart dan The Last of the Mohicans.

Mengenai alat musik yang dimainkan suku Seediq—pada sin pesta perkawinan—baik cara memainkan dan suara yang dihasilkannya serupa suara Karinding, membuat saya bertanya-tanya, apakah benar alat musik itu serupa Karinding dari Jawa Barat?

Dari penelusuran referensif, akhirnya saya temukan jawabannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa alat musik serupa ini tidak saja ditemukan pada kebudayaan tradisional Sunda, namun juga ada di beberapa kebudayaan tradisional lain di Indonesia, dan di banyak negara dengan nama yang berbeda, baik sejarah keberadaan dan kemunculannya pertama kali.

Di Bali, alat musik ini disebut Genggong. Orang Jawa Tengah punya Rinding, dan orang Kalimantan menyebutnya Karimbi. Di luar Indonesia, ada banyak kebudayaan yang menggunakan alat musik ini. Di Eropa dinamai Zeus Harp. Suara yang diproduksi alat musik ini tak berbeda, hanya saja cara memainkannya yang sedikit berlainan: di getarkan dengan disentir (trim), dipukul (tap), atau di tarik menggunakan benang.

Awalnya alat musik ini disebut Jew’s Harp. Juga dikenali sebagai Jaw Harp, Mouth Harp, Ozark Harp, Trump, atau Juice Harp. Ini sejenis instrumen lamellophone, yang dimasukkan dalam kategori alat musik petik idiophonik. Ditempatkan di mulut pemain dan dipetik dengan jari untuk menghasilkan nada.

Alat musik ini dianggap sebagai salah satu alat musik tertua di dunia. Seorang musisi yang tampak memainkannya, dilihat pertama kali dalam sebuah lukisan Cina dari abad ke-4 SM. Meskipun secara umum nama yang digunakan berbahasa Inggris, tetapi tak ada hubungannya sama sekali dengan orang Yahudi (Yudaisme). Dalam penelitian selanjutnya diketahui bahwa alat musik ini merupakan instrumen asli suku bangsa Turky, yang dalam bahasa setempat disebut dalam beberapa nama: Komuz Temir, Agiz Komuzu, Gubuz, Doromb.

Kyrgyz Musician playing the Temir Komuz

Karena wilayah Turky yang berada di perbatasan Asia dan Eropa, instrumen ini menyebar dan akhirnya dikenal di banyak budaya yang berbeda dengan nama yang berbeda pula di Asia, Eropa, hingga ke Amerika.

Nama awal Jew’s Harp yang digunakan oleh para peneliti kadang dianggap kontroversial atau berpotensi menyesatkan, sehingga dihindari (secara ofensif) oleh beberapa pembicara ilmiah atau kalangan perajin. Belakangan nama ini diganti sebagai Snoopy Harp. Nama lain yang digunakan untuk mengidentifikasi instrumen ini dalam literatur ilmiah adalah Guimbarde, sebuah lemma Perancis yang berarti instrumen.

Instrumen ini memiliki nama berbeda di beberapa kebudayaan: Kouxian (Cina & Taiwan), Dan Moi Tre (Vietnam), Morsing (India Selatan), Tombagl (Papua New Guinea), Honto (Yaguna), Ontoior Ontoima (Auyana), Wege (Dumaka), Susap (Papua), Morchang / Mording / Diruba / Esraj (Indian), Gogona (Assam, India), Mukkuri (Hokkaido, Japan), Kubing (Filipina), Sindhi (Pakistan), Scacciapensieri (Italia), Marranzanu (Sicilia). Alat ini juga ditemukan dalam kebudayaan Hungaria, Nepal, Kyrgyztan, dan Russia sebagai alat musik tradisional.

Di Turky, Temir Komuz pertama kali dibuat dari besi dengan panjang 100-200 mm dan lebar sekitar 2-7 mm. Kisaran nada bervariasi sesuai ukuran instrumen, tetapi umumnya berada di sekitar rentang oktaf. Orang-orang Kyrgyztan sangat mahir mengunakan Temir Komuz dan populer di kalangan anak-anak, meski orang dewasa di wilayah itu terus melestarikan instrumen kuno ini.

Komuz

Dalam aktivitas pengobatan tradisional, kadang kondisi trance difasilitasi suatu droning suara, sehingga mereka umunnya menggunakan instrumen ini. Maka instrumen ini tak pelak sering pula dikaitkan dengan aktivitas sihir dan ritual perdukunan.

Namun ada banyak teori mengenai asal nama Jew’s Harp. Menurut Oxford English Dictionary, nama itu muncul pertama kali di Walter Raleigh Discouerie Guyana pada tahun 1596, dieja sebagai Lewes Harp. Lemma Jaw dipakai setidaknya sejak 1774 dan tahun 1809, sedangkan lemma Juice diperkirakan muncul di akhir abad 19 dan abad ke-20. Kamus Oxford juga menyarankan penggunaan lemma Perancis Jeu-trompe yang berarti trompet mainan.

 

Tradisi Berburu Kepala Manusia

Cannibalism_on_Tanna

Hal menarik lainnya pada filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale itu adalah tradisi berburu kepala manusia oleh suku Seediq. Ada kemungkinan tradisi ini direntang oleh kemiripan tradisi di banyak kebudayaan dan tak hanya berlaku pada kebudayaan proto melayu (melayu tua). Tak bisa pula dipungkiri bahwa kini aktivitas ini telah hilang —kendati di beberapa suku tersiar kabar masih dilakukan sembunyi-sembunyi— tetapi tradisi berburu kepala manusia tersebar dan dilakukan oleh umumnya suku asli di Amerika, orang Yunan di China, suku-suku Taiwan dan oleh beberapa suku di Indonesia.

Di Indonesia, semisal —menyebut beberapa contoh saja— saat Marco Polo tiba di Sumatera, ia melaporkan sempat mengunjungi Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, Marco melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Berselang lima bulan kemudian, Marco tiba di Pidie, daerah di utara Sumatra lainnya, dan di tempat ini ia mendapati sebuah keluarga menyantap tubuh seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit.

suku batak toba-natgeo

“Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dimuat pada Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, ada disebutkan satu suku Dayak Beaju (Hokkian Selatan: Be-oa-jiu) pemburu kepala di Wulonglidan (Wu-long-li-dan) di pedalaman Banjarmasin, Kalimantan. Orang Beaju berkeliaran di malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia.

“Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.

image002-1

Pada tahun 1894, dibuatlah sebuah perjanjian antar suku —yang terkenal dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi— untuk menghentikan habunu (saling bunuh), hakayau (memenggal kepala), dan hajipen (memperbudak).

Beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Citra itu dikukuhkan dalam The Head-Hunters of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1881 oleh Carl Bock, seorang penulis berkebangsaan Norwegia. Ia menuliskan bahwa suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah seseorang mendapatkan kepala musuh, ia berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan. Kendati suku-suku ini memiliki beragam alasan saat melakukan perburuan kepala musuh seperti; balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Pulau Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki cara pandang berbeda mengenai tradisi ngayau (memburu kepala).

Momani_Tarian Perang_Kabaena

Sementara itu, di Sulawesi, tradisi perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum dan sesudah kedatangan orang Eropa. Ada tradisi mompakoto (memotong kepala) oleh To Moronene di Sulawesi Tenggara. Mereka mengambil kepala musuh dalam setiap peperangan, kemudian dibawa pulang untuk diupacarakan sebelum dimasukan dalam sorongA (peti kayu kecil) dan ditempatkan di lubang-lubang batu atau goa yang dijaga. Tradisi lampau yang sudah ditinggalkan ini masih sempat bertahan bahkan saat kedatangan orang Eropa (Jerman).

Kemiripan dengan tradisi sejenis terdapat pada suku To Riaja Bare’e yang bermukim di perbatasan Sulawesi Tengah, yang juga selalu mengambil kepala musuhnya di setiap peperangan. Mereka membunuh dan dengan cepat memotong kepala agar musuhnya tak menderita terlalu lama. Kepala musuh kemudian mereka bawa ke kampung dan diupacarakan.

goa tengkorak lawolatu_sulawesi tenggara

“Kepala diperlukan sebagai penanda akhir masa berperang dan penahbisan sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam Head-Hunting in Indonesia (Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1—1995). Alasan dan tata-cara yang nyaris sama itu dimungkinkan karena adanya unsur kekerabatan dua suku ini.

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, saat mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan sebuah cerita dari penduduk Minahasa. Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah. “Ketika seorang kepala suku meninggal, dua kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya. Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dikutip George Miller dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992.

Di Kepulauan Moluccas (Ambon) ada catatan bersejarah yang termuat dalam Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2. Catatan itu mengungkapkan kisah sebuah perang antar-kampung yang telah berlangsung berhari-hari di pulau Seram pada tahun 1648. Perang antara orang-orang di wilayah pantai dan orang-orang di gunung (suku Alifuru). Contreuleur VOC, Robert Padtbrugge, Gubernur Ambon saat itu, mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian, dan saat tim itu kembali, mereka melaporkan penemuan banyak korban tewas dari pihak orang pantai ditemukan tanpa kepala. Robert Padtbrugge lantas meminta tim itu untuk meneliti tradisi berburu kepala pada suku Alifuru. Tetapi perang terus berkobar dan tim itu tak mendapatkan hasil apapun. Mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa secara adat orang Alifuru berburu kepala musuhnya.

Dalam The Saniri Tiga Air (Seram), Gerrit J. Knaap menulis, “Tim tak berhasil menjelaskan secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Tim sukar memahami mereka,” kecuali bahwa adat berburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup suku Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Berburu kepala musuh menempati posisi penting dalam hidup sosial dan kepercayaan suku Alifuru. Anehnya, orang Alifuru tak melakukan tradisi itu terhadap orang asing, baik kepada orang Eropa atau orang dari wilayah Nusantara lainnya. Orang Alifuru, menerima orang asing dengan sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantaraan VOC meski usaha itu akhirnya gagal.

Sejarah-Pemburu-Kepala_historia

Namun apa yang ditulis Anthony Reid dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dan para penjelajah asing di Nusantara tentang tradisi kanibalisme orang-orang Indonesia lampau, itu tidaklah berdiri sendiri dalam kajian antropologi manusia dunia. Jauh di negeri para penjelajah itu, budaya lampau mereka pun tidak lepas dari tradisi kanibalisme.

Arkeolog asal Natural History Museum dan Universitas London telah menemukan bukti jika manusia gua Eropa yang hidup 14.700 tahun silam adalah kanibal. Para arkelolog menemukan bekas-bekas luka aneh pada beberapa tulang yang digali dari gua Gough di daerah Somerset, Inggris Selatan.

Praktek kanibalisme orang-orang di Nusantara itu tidak cukup mengerikan dari praktek sejenis oleh nenek moyang orang Eropa. Manusia gua Eropa tidak saja memakan tumbuhan atau hewan, tetapi mereka pun memakan sesama alias kanibal.

Dari tulang yang digali tahun 1880-1992, para peneliti menemukan beberapa pecahan tengkorak manusia yang terlihat sengaja dibentuk menjadi mangkuk. Di tengkorak-tengkorak yang sudah terbelah itu juga tampak bekas sayatan untuk menguliti terlebih dahulu sebelum diubah menjadi mangkuk. “Kami menemukan tanda sayatan di seluruh kepala dan wajah. Kami menduga, manusia gua Eropa sengaja membuang semua sisa kulit di tengkorak. Terlihat tanda pemotongan bibir, pencabutan mata, hingga pengangkatan pipi,” ujar Dr. Silvia Bello dari Natural History Museum, sebagaimana yang dikutip oleh Daily Mail pada 17 April 2015.

Hal yang cukup mengerikan, bahwa bukti kanibalisme manusia gua juga ditemukan di situs penggalian di Eropa Tengah dan Barat. Para arkeolog Natural History Museum percaya bila kanibalisme adalah hal yang wajar bagi manusia gua Eropa yang hidup di zaman es terakhir, lebih dari 14.000 tahun lalu.

Kanibalisme manusia Eropa diklaim sebagai salah satu bentuk ritual penguburan manusia gua yang kerap disebut Magdalenian. Nenek moyang manusia Eropa ini diketahui adalah manusia pindahan dari benua Afrika yang masuk melalui daerah Eropa Selatan seperti Spanyol. Mereka mempunyai fisik yang mirip dengan manusia modern, tetapi lebih kuat. Cukup beralasan, sebab kegiatan utama mereka memang berburu, termasuk memakan sesamanya.

Demikian. Dua hal “kecil” yang cenderung identik, yang saya lihat dalam sebuah filem yang digarap dengan latar belakang sejarah Taiwan yang luar biasa. Tentu saja bukan karena entitas Mouth Harp dan tradisi perburuan kepala yang ditampilkannya, namun —lebih jauh masuk ke dalam— simbol-simbol tradisi adalah sesuatu yang mengikat jati-diri dan nilai-nilai tertentu sebuah suku bangsa —kendati sukar dipahami dan tidak bisa dijustifikasi— untuk merdeka dari bentuk tekanan apapun.

Insiden Wushe yang menjadi plot utama filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale, berusaha keras diterjemahkan sebagai jalan damai bagi semua orang di pulau Formosa. Sebuah jalan yang harus diambil untuk melanjutkan hidup seperti pada syair kuno dalam lagu yang dinyanyikan Rudao Luhe saat ia berjalan menuju jembatan pelangi yang membentang di sisi air terjun dalam hutan gunung Qilai. (IQM)

Kendari, Desember 2014

Twitter: @IlhamQM


%d blogger menyukai ini: