Tag Archives: Api

[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


[Cerpen] Pesta Kunang-Kunang | Jawa Pos | Minggu, 27 April 2014

Pesta Kunang-Kunang

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos

1/

TIDAK ada makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.

Pemakaman pohon adalah solusi efektif agar lahan kampung tak habis untuk makam. Pemakaman yang tak merepotkan dan efisien. Pohon Dedalu tetap hidup dan tumbuh gergasi, sebagai rumah terakhir bagi orang-orang mati.

2/

Intina mencemaskan sikap beberapa lelaki yang tak hirau pada hal-hal istimewa yang ia simpan tentang Mori. Para lelaki menyukai Intina. Menyukai rambut hitam berombaknya, alis tebal di wajahnya yang oval, atau tubuhnya yang padat. Intina dinikahi Mori 12 tahun silam, dan ia masih istri Mori sampai kelak lelaki yang ia cintai itu pulang.

“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.

Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.

3/

Suatu malam, sebelum usianya genap 13 tahun, Waipode mendadak demam. Empat hari berikutnya, demamnya meninggi dan tak ada dukun Lere’Ea yang bisa meredakannya. Mereka menyerah begitu saja, serupa dukun pemula yang baru belajar mengaduk ramuan obat. Di hari ke enam, Waipode sempat membuka mata, sebelum kejang dan diam.

Sakit misterius dan kematian yang mendadak itu mengejutkan setiap orang di Lere’Ea. Intina membersihkan tubuh putrinya dan membungkusnya dengan kain bersih. Seperti adab di sini, maka jasad Waipode akan masuk ke rongga Dedalu raksasa.

Dari kursi kayu di beranda rumahnya, Intina tak beranjak hingga malam datang. Ia tatapi rongga yang telah dipenuhi kunang-kunang itu. Ia pingsan karena lelah dan tersadar di pembaringan pada malam ketiga, saat orang-orang kampung gaduh.

Pesta Kunang-kunang di rongga Dedalu itu, memendarkan cahaya keperakan seiring munculnya dua tangan yang menggapai-gapai. Orang-orang ngeri saat dua tangan itu mencengkeram rerumputan, merangkak, seperti berusaha menyeret tubuhnya keluar dari rongga. Tubuh polos berlumur tanah seorang gadis yang dirubung kunang-kunang. Orang-orang kian gaduh. Baru kali ini mereka melihat bangkitnya orang mati dari dalam rongga Dedalu.

Berdiri kebingungan, gadis itu bertanya. “Mana ibuku? Mana Intina, ibuku?”

Ya. Gadis itu menyebut nama dan mengakui Intina sebagai ibunya.

“Aku Waipode, putrinya.”

Orang-orang tercekat. Gadis itu mengaku sebagai Waipode putri Intina yang mati tiga hari lalu. Intina melepas sarungnya dan gegas menghampiri —siapapun ia— seraya ia selubungi tubuh polos yang mulai jadi perhatian mata tiap lelaki dalam kerumunan itu.

Semua lelaki, kecuali Kalai. Si pembuat boneka di ujung kampung Lere’Ea itu mendadak sakit dan tertidur akibat pengaruh obat. Ia tak tahu kegaduhan yang baru saja terjadi di sini.

4/

Di Lere’Ea tak ada yang bisa membuat boneka kayu sebaik Kalai. Ia curahkan segenap perasaannya saat membuat boneka-bonekanya. Memahat boneka-boneka perempuan setinggi satu meter yang seolah hidup. Hanya boneka perempuan. Di akhir pekan, kereta tuanya berderit-derit menapaki jalan kampung berbatu menuju kota, ke toko tempat ia biasa menitipkan boneka untuk dijual.

Selalu saja ada boneka yang tak laku. Beberapa model tertentu entah kenapa tak mau dibeli orang. Mungkin mereka tak suka pada bentuknya. Boneka-boneka yang tak laku itu ia bawa pulang dan dijejerkan di sebuah rak khusus di ruang tengah rumahnya, sebagai penanda untuk tak lagi membuat model seperti itu. Bahan baku boneka kian sukar ia dapatkan. Pohon Dedalu di tengah kampung sukar dipanjati untuk sebatang dahan yang lurus.

Ya. Dahan Dedalu adalah rahasia keunggulan boneka pahatan Kalai. Kayu Dedalu dipanasi lebih dulu sebelum ia pahat menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki bagi boneka-bonekanya. Tekstur kayu yang lunak membuat pisau Kalai lincah menari-nari di sekujur kayu.

Dedalu seperti tumbuh untuk Kalai. Aroma kematian yang dihisap Dedalu dari jejasad di rongganya, telah menyuburkan dan menumbuhkan dedahan baru.

Tetapi Kalai tak membuat boneka pada hari seorang gadis keluar dari rongga Dedalu. Ia juga tak ada di antara banyak lelaki yang merasa beruntung karena memergoki tubuh gadis itu. Sakit membuat Kalai harus menemui dukun Lere’Ea untuk membeli ramuan obat. Efek ramuan itu membuatnya lelah dan merasa mengantuk. Ia tidur seharian dan tak tahu sesuatu telah terjadi di kampung itu selepas petang.

Para dukun di Lere’Ea membenarkan, bahwa gadis dewasa yang keluar dari rongga Dedalu itu adalah Waipode, putri Intina. Hal aneh yang sukar mereka jelaskan. Dedalu itu telah menghidupkan Waipode pada tiga hari setelah kematiannya. Waipode keluar dalam rupa gadis dewasa, 10 tahun lebih tua dari umur gadis remaja yang dimasukkan Intina ke rongga pohon itu.

Intina tak mau mempersoalkannya. Gadis itu hidup kembali dalam bentuk apapun, jika ia memang Waipode, maka Intina akan mengakuinya. Akan terasa aneh, mereka menjalani hidup seperti semula. Seperti sebelum kematian mendatangi putrinya lalu mengembalikannya.

5/

Bagi Waipode, dari si pemahat boneka itu. Waipode menyukai boneka-boneka buatan Kalai. Boneka dan pemuda tampan, adalah dua hal yang selalu bisa menciptakan cerita bagi seorang gadis dewasa. “Aku suka bonekamu,” ujar Waipode.

Kalai tersenyum. “Kudengar, kau membuat gaduh seisi kampung. Apa yang terjadi di sebrang sana? Sehingga para dewa mengizinkanmu pulang?” Kalai bercanda.

Waipode tertawa. “Di sebrang sana lebih tenang. Tak ada orang berkelahi karena tanah. Tak ada kejadian seperti yang dialami keluarga Adenar yang dilarang sembahyang dan terusir dari Laibatara (rumah ibadat). Dunia orang mati lebih toleran daripada dunia orang-orang hidup.”

Kalai tertegun mendengar kata-kata Waipode.

“Ini buatmu,” Kalai menawari Waipode sebuah boneka yang baru selesai ia buat. Waipode mengangguk gembira. Kendati boneka itu belum diwarnai.

Itu hanya perbincangan kecil. Tetapi Waipode selalu ada saat pemuda itu bekerja. Keintiman mereka membuat pemuda lainnya cemburu. Waipode telah memilih, dan pemuda beruntung itu adalah Kalai.

6/

Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.

Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka.

Dedalu raksasa di tengah kampung menyimpan keganjilan sejak pohon itu mulai dijadikan makam. Pohon itu tak saja menyerap aroma kematian, tetapi juga menyimpan arwah para gadis dewasa yang mati dalam pembuluh getahnya. Arwah-arwah itu berdiam di sana dan menunggu untuk tubuh baru. Mereka tak sengaja hidup oleh cinta yang dicurahkan Kalai saat ia memahat boneka-bonekanya.

Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.

7/

Bukan kebetulan saat sebuah benturan kecil membuat roda kereta Kalai lepas dan menggulingkan kereta tua itu bersama penumpangnya. Waipode sudah mati saat Kalai mengeluarkan tubuhnya dari himpitan kereta.

Perasaan Intina kembali hancur atas kematian Waipode untuk kedua kalinya itu. Ia menunggu keajaiban yang tak datang di hari ketiga setelah jasad Waipode ia masukkan ke rongga Dedalu. Putrinya tak hidup lagi. Tak ada cahaya keperakan, kecuali kerumunan kunang-kunang yang tetap berpesta.

Tetapi, Kalai punya cara mengatasi dukanya. Pada hari ketiga, di saat Intina berharap Waipode keluar dari rongga Dedalu, Kalai telah menyelesaikan sebuah boneka kayu.

Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)

Ubud, Oktober 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*) cerpen ini meminjam tradisi penguburan bayi pada liang pohon di Tana Toraja dan tradisi penguburan pohon di Trunyan, Bali.


[Esai] Bogem Jassin di Muka Chairil

Jassin dan Chairil (#2)

Bogem Jassin di Muka Chairil

HB Jassin muda 

“JASSIN, dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.” Begitu isi surat Chairil yang dibaca Jassin dalam kereta ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.

Si Kurus itu memang tak punya kerjaan. Hidupnya habis buat seni. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld,” tulisnya di kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Kernword kernbeeld, berarti: putih tulang.

Si Kurus bertahan pada egonya. Tapi, Jassin tetap memuat sajak itu di majalah Panji Pustaka, namun judulnya diganti jadi Semangat, biar tak ditangkap Jepang.

Tingkah Chairil bisa sangat menyebalkan. Kerap keluar-masuk semaunya di rumah atau kantor Jassin. Bila dia datang ke rumah Jassin, dan kebetulan Jassin tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin tik Jassin. Kadang kala dikembalikan, kadang juga tidak. Betapa kesal Jassin saat dia tak mengembalikan novel Belenggu. Sebab di pinggiran buku itu ada catatan-catatan Jassin. Kadang si Kurus ke rumah Jassin naik becak, dan begitu tiba, dia minta Jassin membayarnya.

Gara-gara sikap seenaknya itu, pernah Jassin memukul muka Chairil.

Ceritanya, Jassin ikut sandiwara Api karya Usmar Ismail di Gedung Kesenian Jakarta, tahun 1949. Di belakang, Jassin berusaha menghayati perannya sebagai seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker yang diperankan Rosihan Anwar.

Saat Jassin serius meresapi peran, entah kenapa si Kurus itu lalu-lalang di depannya, sambil mencibir. “Kau cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” Teriak si Kurus.

Konsentrasi Jassin pecah. Dia teringat pada esainya Karya Asli, Saduran dan Plagiat di majalah Mimbar Indonesia. Chairil tersindir esai Jassin itu. Walau esai Jassin pernah membela sajak Krawang-Bekasi dari tuduhan plagiat, tapi lagak si Kurus ini membuatnya kesal: hapalan naskahnya tak jadi-jadi sebab si Kurus mondar-mandir melulu.

Jassin pun panas.

“Saya juga bisa lebih dari itu!” Kata Jassin seraya berdiri. Lalu, tiba-tiba…Buk! Jassin meninju muka Chairil. Si Kurus terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” Teriak Usmar Ismail. “Jassin memukul Chairil,” jawab yang lain.

Mereka dilerai, Chairil didorong keluar. Si Kurus kaget, tak sangka Jassin —yang hampir tak pernah marah itu— bisa murka dan memukulnya.

Chairil tersinggung. Dia berputar, masuk lewat pintu depan, lalu duduk di muka panggung. Karena lampu dipadamkan, semula Jassin tak menyadarinya, tapi kemudian Jassin melihat si Kurus itu menunjuk-nunjuknya dari deretan penonton. Chairil mengancam mau bikin perhitungan dengannya.

Waktu berselang, Jassin dengar si Kurus kerap datang ke Taman Siswa, latihan angkat besi. Tubuh kurusnya hendak dia buat berotot. Setiap ditanya apa maksudnya latihan angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin itu,” katanya.

Suatu sore, Chairil sudah berdiri di pintu rumah Jassin. Suasana menjadi tegang. Saat Jassin bersiap menghadapinya, tiba-tiba si Kurus bicara, “Jassin, aku lapar,” dengan gayanya yang seenaknya itu. Jassin tertawa, lalu diajaknya Chairil menuju meja makan.

“Setelah ini, aku siap menghadapimu,” kata si Kurus, lahap menyantap makanan yang disajikan Jassin.

“Jangan bicara jika lagi makan, bisa mati kau tersedak. Jika kau mati sekarang, tak akan sempat kau menghadapiku,” timpal Jassin menyodorkan air putih.

Chairil bukan tak butuh uang. Dia kena pukul Jassin karena ketersinggungannya atas esai Jassin terkait caranya menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok, Hsu Chih-Mo, berjudul Datang Dara Hilang Dara, dengan Chairil menerakan namanya. Karena itulah Jassin menyentilnya di esai Mimbar Indonesia.

Tahun 1945, sejak majalah Pantja Raja (pengganti Panji Pustaka) terbit, sajak Chairil mulai bertebaran. Namanya menjulang. Sayangnya, Chairil tak berubah. Si Kurus itu masih suka bertingkah.

Balai Pustaka dibekukan saat Aksi Militer Belanda pertama meletus, bikin Jassin jadi pengangguran. Jassin diajak Anjas Asmara ke Mimbar Indonesia.

Suatu hari, di ruang redaksi Mimbar Indonesia, pelukis Baharuddi datang dan bilang, “menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeash.”

Jassin kecewa mendengarnya, walau dia mengaku belum membaca sajak MacLeash. Jassin lagi-lagi membela si Kurus. Lahirlah debat di antara para sastrawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” bela sastrawan Balfas yang menyenangi karya Chairil.

Di karet/ daerahku yang akan datang/ sampai juga deru angin.

Beraninya si Kurus menulis itu dalam sajaknya. Jassin bahkan tak berani membayangkan daerah di mana dia nanti terbujur mati. Harapan itu dijawab Allah. Pada usia 27 tahun, sahabatnya itu, sudah berbaring tanpa nyawa. Kematian Chairil menyatukan solidaritas kaum Republik. Berbondong mereka mengiringi penyair itu ke TPU Karet Bivak.

Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman, Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana, ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 43 / Th. IV / April 2013)


%d blogger menyukai ini: