Category Archives: Film

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.


[Film] Uang Panai: Gugatan Sosio-Kultural yang Dibereskan

APA yang paling mahal dari sebuah realitas sosial? Nalar sebagai mahar sosial, atau pergeseran sosio-kultural itu sendiri? Tetapi ini bukan perbandingan untuk melihat seperti apa masyarakat kita memposisikan diri dan berusaha lepas dari kekolotan tradisi. Betapa majal nalar kita, bahwa upaya melepaskan diri itu sebagai bagian dari premis modernitas yang sementara berkembang. Sama saja. Saya pikir, konsekuensi yang bisa diafirmasi tidak bisa—atau tidak boleh—dilekatkan sembarangan.

Sebagai reviewer, saya duduk di bangku paling belakang hanya agar bisa melihat “film” secara utuh. Film di depan saya bukan hanya apa yang sedang bergerak plot demi plot dalam scene, tetapi juga laku penonton. Hanya ini yang bisa saya tangkap dalam keremangan dan bising tawa di ruang bioskop. Maka selebihnya, saya harus pula menangkap mimik dan komentar mereka setelah pemutaran film usai.

Uang Panai

Meredam Stereotype Kultural

Ada kepuasan di wajah mereka. Beberapa komentar yang sepintas saya tangkap berisi gugatan tentang stereotype yang didorong bersama gagasan dalam film. Juga komentar-komentar yang bisa membuat saya berpikir bahwa ada kebenaran yang harus ditelusuri dari gugatan sosio-kultural yang coba didedah melalui film ini. Wajah-wajah puas itu bukan karena bisa tertawa lepas melihat kekonyolan Tumming, Abu, dan Ancha (diperankan oleh Ikram Noer), atau merasa dihempaskan oleh tangis Risna—diperankan dengan sangat baik oleh Nur Fadillah. Bukan, sama sekali bukan itu.

Puas, sebab kegelisahan mereka berhasil divisualkan dengan baik. Puas, karena gugatan sosio-kultural yang diangkat film ini terkait pergeseran nilai dalam realitas uang panai telah berhasil dipertanyakan, sekaligus dijawab dengan tuntas. Secara personal, saya lumayan sedih saat menyadari ini. Sebagai seorang peneliti, penuntasan premis adalah penanda berakhirnya jalan (baca: perdebatan) yang selalu menyisakan pemikiran dan gagasan baru.

Cukup lama orang dibuat penasaran dengan kehadiran film Uang Panai. Nyaris setahun sejak trailernya pertama kali dirilis. Begitu membaca judulnya, orang-orang langsung menarik garis merah tentang isinya, membuat plot film ini seolah-olah mudah ditebak. Ternyata semua dugaan itu salah. Meleset jauh.

Isu yang diusung film ini kompleks—begitu pendapat saya. Gugatan uang panai yang dijadikan judul sekadar pintu bagi penghadiran banyak masalah lain. Siapapun pasti menyadari hal ini jika menyimak filmnya. Silariang (kawin lari), salah satunya. Ini laku yang disodorkan sebagai bagian isu sosio-kultural Bugis-Makassar yang perlu diluruskan. Bahwa silariang bukan jalan keluar—membuat malu keluarga pihak lelaki, juga mempermalukan keluarga pihak perempuan—selalu berakhir konflik dan mendorong masalah lama antar keluarga mencuat ke permukaan. Film ini menyitir dengan contoh; kesigapan ayah Risna membatalkan rencana Silariang anaknya yang nyaris berhasil itu.

Penonton yang tidak berlatar belakang tradisi Bugis-Makassar jangan berharap banyak bisa melihat aksi Silariang yang berhasil dan bagaimana keluarga yang dipermalukan melakukan penebusan sumpah siri-nya seraya menikam paha sendiri (atau bagian tubuh lainnya) dengan badik—sebagaimana disuguhkan dalam sinema elektronik Badik Titipan Ayah. Di film ini, kau hanya bisa tertawa dan diajak menjadi cerdas, seraya mendorong jauh-jauh frontalitas sikap adat orang Bugis-Makassar dengan kawali-nya yang pantang dimasukkan jika sudah terlanjur terhunus sebelum berbasuh darah manusia. Adegan macam itu tak akan kau temukan di film ini. Maaf saja, saudara.

Perjodohan, status sosial, harga diri, filosofi siri, posisi perempuan, pertanggung jawaban, adalah juga beberapa gugatan lain yang patut disebut dalam film ini. Beberapa gugatan itu mengemuka di sekujur plot film.

Ada yang menarik saat Ancha dan Risna memperdebatkan soal harga diri yang kemudian melompat ke topik price tag. Ungkapan telanjang itu adalah pukulan yang telak terhadap pergeseran tujuan uang panai. Bantuan Risna dianggap upaya mengusik harga diri Ancha sebagai seorang lelaki. Risna justru mempertanyakan ketersinggungan Ancha itu. “Harga diri? Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag!” Risna memekik, membuat Ancha tertegun.

Gugatan sosio-kultural yang dilontarkan melalui tokoh Risna itu, sepenuhnya benar. Pergeseran nilai dalam tradisi uang panai, akhirnya dilihat sebagai nilai jual—label harga atau price tag—pada perempuan Bugis-Makassar. Empirisme yang sungguh menyedihkan. Price tag, perjodohan, mahalnya mahar, kemudian ditemukan sebagai isu sampiran yang menyisik dalam film ini. Kebenaran agamis juga disodorkan, bahwa mahar tidaklah sama dengan uang panai; bahwa mahar tidak boleh disejajarkan dengan uang panai; bahwa uang panai harus dikembalikan sebagai pelengkap belaka dalam tradisi permulaan untuk mengatur rencana pernikahan, dan hal itu tidak lebih penting dari mahar yang wajib dalam tradisi dan tuntunan pernikahan Islami. Selebihnya, menyikapi banyaknya pergeseran nilai, selain uang panai itu sendiri, telah dijalan-tengahi dengan baik oleh film ini.

 

Uang Panai

Film ini membangun gambaran tentang seorang lelaki Bugis-Makassar yang bersusah payah mencari uang mahar demi menyanggupi tantangan kekasih hati yang meminta untuk dilamar. Dalam masyarakat Sulawesi (khususnya Bugis-Makassar) kini, uang panai dianggap sebuah keharusan yang mesti dituntaskan sebelum keluarga pihak lelaki mengambil menantu dari keluarga pihak perempuan.

Masalah mulai mengintai Ancha, saat pemuda itu baru saja kembali dari rantauan. Aksi penjambretan ternyata mempertemukan kembali Ancha dengan mantan kekasihnya, Risna, setelah mereka berpisah lama tanpa kabar. Ternyata benih cinta lama itu tumbuh kembali. Tak ingin terpisah untuk kali kedua, Risna meminta Ancha melamarnya.

Syarat pernikahanlah yang menghadang langkah Ancha mempersunting Risna. Ancha didapuk untuk menyanggupi uang panai dalam jumlah besar. Maka cerita ini pun bergulir. Ancha, dibantu dua sahabatnya (Tumming dan Abu) berusaha memenuhi syarat tersebut.

Di tengah upayanya, masalah lain datang. Farhan (diperankan Cahya Ary Nagara), teman kecil Risna, baru kembali dari Amerika Serikat. Masalah makin berat, saat orangtua Farhan dan Risna sepakat mengatur perjodohan mereka.

Di sisi lain, cinta Risna dan Ancha memang tak terbendung, sehingga mendorong Risna melangkah terlalu jauh. Upaya Risna justru melukai harga diri Ancha. Martabatnya sebagai lelaki Bugis-Makassar dipertaruhkan. Dilematis, Risna khawatir Ancha meninggalkannya lagi.

Apa yang harus dilakukan Ancha? Bagaimana Risna meredam persoalan? Seperti apa peran Tumming dan Abu? Mampukah Ancha tiba tepat waktu sebelum ijab Farhan dikabulkan?

Film ini bergenre komedi-romantik. Jadi tak hanya persoalan percintaan Risna dan Ancha saja yang ditonjolkan sepanjang cerita. Hampir semua plot dalam film besutan sutradara muda Halim Gani Safia dan Asril Sani ini disalut dialog dan gimik lucu oleh para pemerannya. Ikram Noer mampu mengimbangi kekocakan Tumming dan Abu. Para cameo juga berperan pantas. Jane Shalimar muncul beberapa detik dalam frame bersama Tumming dan Abu. Jane nyaris tak bisa menahan tawa dilibas ulah konyol dua pemuda ini. Katon Bagaskara juga tampil baik dengan menghidupkan karakter seorang Barista. Ia menasihati Ancha untuk tetap tegar dan semangat menghadapi masalahnya. “Hari ini adalah besok yang kemarin,” Katon mengutip Kahlil Gibran dan sukses membuat Ancha bingung.

Siapa Tumming dan Abu dalam film ini? Anda pun berhak tahu siapa mereka. Tumming yang jenaka seperti mengembalikan kepada kita cara tertawa era Gepeng—orang-orang yang piawai nan cerdas menghadirkan humor. Jika Tumming bisa mengembalikan ingatan kita pada Gepeng, maka Abu yang kocak itu bisa secerdas The Stoges atau Cak Lontong: tetap bisa memanusiakan orang-orang yang ingin tertawa tanpa harus membuat mereka tampak tolol di mata comedian. Membikin roasting a la standup comedy jaman sekarang segera terbang ke jaman prasejarah.

Anda bisa juga melihat “orisinalitas” mereka di Uang Panai. Referensi istilah original khas Sulawesi berhamburan di sini: anak muda palsu, masih bisa menikung, masih di dunia ji’ ini, SWISS, 4D, sampoi mulutmu, kopi boleh pahit tapi hidupmu jangan, kode keras, dan banyak lainnya.

Film ini memang bagus dan sanggup menyedot animo penonton. Sambutannya luar biasa. Pada pemutaran perdananya—di hari pertama saja—sukses di 21 kota. Antrian panjang di loket jadi pemandangan di setiap bioskop. Tiket habis dan daftar booking penuh sekali. Makkita Cinema Production sebagai pengampu film Uang Panai, memang tidak menargetkan apapun, sekaligus tidak berharap banyak setelah penundaan yang hampir setahun setelah rilis trailer pertama kali. Namun kekuatan cerita dan sinematografi, serta padatnya gagasan—yang tampaknya berhasil mereka urai—menjadikan film ini sangat layak mendapat apresiasi tinggi.

Sejak diputar perdana tanggal 25 Agustus 2016 kemarin, beberapa portal film merespon cepat. Untuk empat situs rujukan (pusatsinopsis, layarfilm, posfilm, jadwal21), film Uang Panai mendapat rangking fantastis, yakni 9,4 bintang dan menempati urutan ke-10 dari 1.307 film yang dirating.

“Cinta hanya kata, sampai kau datang jua dan memberinya makna.” Demikian sepetik syair yang dinyanyikan Katon Bagaskara sebagai soundtrack film yang skenarionya ditulis memikat oleh Halim Gani Safia dan Amirl Nuryan ini. (*)


[Filem] Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Karinding dan Berburu Kepala di Warriors of the Rainbow

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Warriors of the Rainbow: Seediq Bale

SAAT melihat scene (sin) sekelompok orang suku Seediq menari-nari diiringi bunyi dari sejenis alat musik serupa Karinding, saya tersenyum. Bagaimana bisa Karinding muncul di sebuah filem berlatar sejarah besutan sineas Taiwan? Sebuah filem yang mengangkat sejarah Insiden Wushe, insiden berdarah yang terjadi di dekat Gunung Qilai Taiwan saat invasi Kekaisaran Jepang di Formosa tahun 1930. Seorang Seediq, Mona Rudao, kepala desa Mahebu, memimpin prajurit sukunya berperang melawan Jepang.

Seediq adalah satu dari 14 suku asli pulau Formosa (Taiwan) yang menempati wilayah Nantou dan Hualien. Sebagaimana nama sukunya, maka bahasa yang mereka gunakan dikenali sebagai bahasa Seediq. Namun begitu, pengakuan atas keberadaan suku ini tergolong lambat dilakukan. Suku Seediq baru resmi diakui pemerintah Taiwan sebagai satu dari 14 kelompok adat Taiwan pada tanggal 23 April 2008. Baru enam tahun terakhir saat tulisan ini dibuat. Sebelumnya, suku Seediq bersama suku Truku yang masih memiliki kekerabatan erat, diklasifikasikan sebagai suku Atayal.

Filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berjudul The Sun Flag, dan bagian kedua berjudul The Rainbow Bridge. Di bagian pertama itulah Karinding dan tradisi perburuan kepala bermunculan dalam sin-sinnya.

 

Insiden Wushe

Pada tahun 1895, Taiwan berada di bawah kontrol pemerintah Kekaisaran Jepang melalui Perjanjian Shimonoseki. Pendudukan Jepang atas Taiwan terjadi setelah Jepang berhasil mengalahkan Dinasti Han China. Pejabat militer Jepang yang ditempatkan di Taiwan berpendapat bahwa penduduk asli adalah hambatan utama bagi mereka untuk menguasai sumber daya alam Taiwan. Pendudukan itu menyebabkan pertempuran tak seimbang antara penduduk asli dan militer Jepang. Perlawanan demi perlawanan meninggalkan cerita panjang pada jejak tebing.

Sementara itu, intrik lain menjadi satu dalam perjuangan suku Seediq melawan tekanan pemerintah militer Jepang. Hubungan baik Mona Rudao dalam hubungan dagang dengan kalangan China Han, mendapat saingan dari Temu Wali, seorang muda suku Bunun dari kelompok Toda. Militer Jepang melarang hubungan dagang itu dan berkolaborasi dengan sekelompok suku Bunun untuk menyergap sekelompok lelaki suku Seediq yang mabuk saat mereka sedang tidur. Pembunuhan itu direspon dengan keras oleh Mona Rudao. Namun setelah beberapa kali pertempuran, Rudao Luhe—ayah Mona Rudao—terluka, sehingga melemahkan perlawanan Mona Rudao dan desa-desa suku Mahebu. Kematian Rudao Luhe membuat persekutuan tiba-tiba berakhir dan suku-suku di Taiwan kembali berada di bawah kendali dan tekanan militer Jepang.

Ketakutan terbesar penguasa militer Jepang adalah aktivitas adat suku Seediq—dan 13 suku lainnya—berburu kepala manusia dari musuh-musuh mereka. Selama 20 tahun penguasa militer Jepang berusaha menghapuskan kebiasaan itu. Para pria dari 14 suku asli Taiwan dibujuk menjadi buruh perusahaan kayu. Walau berupah rendah, mereka menerima tawaran itu karena tekanan kuat militer Jepang. Mereka dilarang memegang senjata api (musket) untuk keperluan berburu hewan secara tradisional.

Sedangkan para wanita suku-suku asli Taiwan bekerja di rumah-rumah orang Jepang dan dilarang menenun kain tradisional. Anak-anak—termasuk anak Pawan Nawi—bersekolah di desa Wushe.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para pria suku Seediq tetap melakukan hubungan dagang dengan orang China Han. Mereka mendapatkan alkohol dan obat-obatan dari toko kelontong seorang China Han yang membolehkan mereka mendapatkan semua barang-barang itu secara kredit. Di atas segalanya, tetap saja, militer Jepang melarang siapapun memakai tato wajah. Padahal tato wajah diyakini oleh suku-suku Taiwan sebagai jalan ke sisi lain di ujung jembatan pelangi setelah kematian.

Setelah 20 tahun berada dalam tekanan militer Jepang, upaya pelemahan itu tampaknya berhasil. Sekelompok orang suku Seediq—seperti Dakis Nomin, Dakis Nawi, Obing Nawi, dan Obing Tadao—bahkan mengadopsi nama, pendidikan, bekerja dan hidup di antara orang-orang Jepang. Merasa berhasil dengan upaya pelemahannya, militer Jepang justru tak menyadari bahwa ada ketegangan yang terpicu dalam kepemimpinan setiap suku di Taiwan.

Pada akhir musim gugur 1930, Mona Rudao melangsungkan sebuah acara pernikahan untuk pasangan muda warga desanya. Untuk memenuhi keperluan upacara, Mona Rudao memimpin sekelompok orang desanya untuk berburu hewan upacara. Di sinilah filem ini dimulai.

Seediq3

Dimulai dengan adegan perburuan hewan di sebuah sungai di gunung Qilai. Dua orang pemburu suku Bunun yang sedang berburu babi hutan, bertemu dengan kelompok pemburu suku Seediq yang dipimpin Mona Rudao.

Temu Wali yang sedang berburu bersama seorang polisi militer Jepang, Kojima Genji dan anaknya, tak sengaja bertemu kelompok pemburu Mona Rudao. Pertemuan tak sengaja ini membuat dua kepala kampung itu berdebat soal batas areal perburuan. Berdebatan itu memanas saat kawan Temu Wali menodongkan senjata yang segera memicu kemarahan Mona Rudao yang langsung menyerang dan membunuhnya. Mona Rudao juga merampas hasil buruan yang diperoleh Temu Wali dari wilayah perburuan suku Seediq. Pertengkaran itu akan berbuntut panjang.

Saat pesta pernikahan warga Mona Rudao, seorang polisi militer Jepang yang baru saja dilantik bernama Yoshimura, berkeliling memeriksa keamanan desa. Tado Mona—anak Mona Rudao—menawari Yoshimura segelas bir millet, sejenis bir tradisional suku Seediq yang difermentasi dengan air liur. Yoshimura yang gugup menyangka niat baik Tado Mona sebagai upaya meracuninya. Yoshimura mendorong Tado Mona hingga terjatuh ke liang berisi darah bekas penyembelihan hewan.

Melihat saudaranya dikasari orang Jepang, Baso Mona memukul Yoshimura dan perkelahian tak bisa dihindari. Mona Rudao menghentikan pertarungan, namun Yoshimura yang cemas akan keselamatannya, mengancam akan menghukum seluruh warga desa. Ancaman ini membuat para pemuda suku Seediq—termasuk Piho Sapo dari desa Hogo—mendesak Mona Rudao untuk memulai perang dengan Jepang. Mona Rudao bilang bahwa mereka tak mungkin menang. Namun Mona Rudao juga melihat perang sangat dibutuhkan untuk memutus tekanan militer Jepang selama ini.

Dalam beberapa hari Mona Rudao menyeru desa-desa Seediq agar masuk dalam pakta, menggabungkan kekuatan untuk sebuah serangan terbuka. Mona Rudao berdemonstrasi dari desa ke desa. Di desa terakhir, desa Hogo, kepala desa Tadao Nogan setuju bergabung dengan Mona Rudao. Mereka berencana menyerang Jepang pada tanggal 27 Oktober 1930, saat Jepang sedang menggelar pertandingan olahraga di halaman sekolah desa Wushe untuk menghormati Pangeran Kitashirakawa Yoshihisa. Para wanita suku Seediq, termasuk Mahung Mona, putri Mona Rudao, tahu rencana perang itu.

Dakis Nomin, seorang pemuda suku Seediq yang telah menjadi polisi militer Jepang—dan berganti nama menjadi Hanaoka Ichiro—mendapat kabar bahwa Mona Rudao sedang bersiap untuk perang. Kendati ia tak mebocorkan rencana itu, ia tetap datang menemui Mona Rudao. Ia datang ke air terjun dan membujuk Mona Rudao agar membatalkan rencananya. Justru Mona Rudao berbalik membujuknya untuk berkolaborasi. Setelah Dakis Nomin pergi, Mona Rudao bernyanyi bersama roh Rudao Luhe (ayahnya) sekaligus memutuskan untuk memulai peperangan.

Pada tanggal 27 Oktober 1930, serangan berlangsung sesuai jadwal dan menggunakan taktik perang Seediq. Orang-orang suku Seediq menyerang pos-pos polisi militer Jepang. Semua laki-laki, wanita dan anak-anak Jepang tewas dalam kondisi terpancung. Rupanya, suku Seediq menggunakan tradisi perburuan kepala dalam perlawanan itu.

Pawan Nawi membunuh seorang guru Jepang beserta seluruh keluarganya. Obing Nawi, seorang wanita suku Seediq yang sedang memakai pakaian Jepang, terhindar dari pembunuhan hanya karena suaminya (Dakis Nomin) membungkus tubuhnya dengan kain tenun tradisional suku Seediq. Obing Tadao, putri kepala desa Tadao Nogan yang juga sedang memakai pakaian Jepang, lolos dari pembunuhan karena bersembunyi di ruang penyimpanan. Orang-orang China Han tak diserang. Orang-orang suku Seediq merampas semua senjata Jepang. Seorang polisi militer Jepang yang lolos memberitahu dunia luar tentang serangan mematikan itu.

Pada sin akhir filem ini, tampak Mona Rudao berdiri di bawah tiang bendera di tengah dewa Wushe yang dipenuhi mayat tanpa kepala dari orang-orang Jepang. Kepala-kepala mereka diambil sebagai tanda kemenangan.

 

Karinding (Mouth Harp)

Karinding

Karinding

Penggarapan filem ini luar biasa. Sutradara berhasil meracik filem sehingga benar-benar persis dengan kejadian sebenarnya. Saat ditampilkan dalam Venice International Film Festival, filem ini mendapat sambutan hangat dari para kritikus. Filem ini terpilih sebagai nominator pada Academy Awards ke-84 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2011—salah satu dari sembilan filem yang dinominasikan untuk maju ke babak berikutnya. Sayang sekali, filem ini gagal menang karena dua bagian filem ini terlalu panjang sehingga harus digabungkan yang justru memangkas beberapa adegan penting.

Anggaran produksi filem ini adalah yang termahal dalam sejarah sinema Taiwan. Para kritikus filem dunia menyandingkan kualitas skenario dan sinamatografi dua bagian filem ini dengan Braveheart dan The Last of the Mohicans.

Mengenai alat musik yang dimainkan suku Seediq—pada sin pesta perkawinan—baik cara memainkan dan suara yang dihasilkannya serupa suara Karinding, membuat saya bertanya-tanya, apakah benar alat musik itu serupa Karinding dari Jawa Barat?

Dari penelusuran referensif, akhirnya saya temukan jawabannya. Beberapa sumber menyatakan bahwa alat musik serupa ini tidak saja ditemukan pada kebudayaan tradisional Sunda, namun juga ada di beberapa kebudayaan tradisional lain di Indonesia, dan di banyak negara dengan nama yang berbeda, baik sejarah keberadaan dan kemunculannya pertama kali.

Di Bali, alat musik ini disebut Genggong. Orang Jawa Tengah punya Rinding, dan orang Kalimantan menyebutnya Karimbi. Di luar Indonesia, ada banyak kebudayaan yang menggunakan alat musik ini. Di Eropa dinamai Zeus Harp. Suara yang diproduksi alat musik ini tak berbeda, hanya saja cara memainkannya yang sedikit berlainan: di getarkan dengan disentir (trim), dipukul (tap), atau di tarik menggunakan benang.

Awalnya alat musik ini disebut Jew’s Harp. Juga dikenali sebagai Jaw Harp, Mouth Harp, Ozark Harp, Trump, atau Juice Harp. Ini sejenis instrumen lamellophone, yang dimasukkan dalam kategori alat musik petik idiophonik. Ditempatkan di mulut pemain dan dipetik dengan jari untuk menghasilkan nada.

Alat musik ini dianggap sebagai salah satu alat musik tertua di dunia. Seorang musisi yang tampak memainkannya, dilihat pertama kali dalam sebuah lukisan Cina dari abad ke-4 SM. Meskipun secara umum nama yang digunakan berbahasa Inggris, tetapi tak ada hubungannya sama sekali dengan orang Yahudi (Yudaisme). Dalam penelitian selanjutnya diketahui bahwa alat musik ini merupakan instrumen asli suku bangsa Turky, yang dalam bahasa setempat disebut dalam beberapa nama: Komuz Temir, Agiz Komuzu, Gubuz, Doromb.

Kyrgyz Musician playing the Temir Komuz

Karena wilayah Turky yang berada di perbatasan Asia dan Eropa, instrumen ini menyebar dan akhirnya dikenal di banyak budaya yang berbeda dengan nama yang berbeda pula di Asia, Eropa, hingga ke Amerika.

Nama awal Jew’s Harp yang digunakan oleh para peneliti kadang dianggap kontroversial atau berpotensi menyesatkan, sehingga dihindari (secara ofensif) oleh beberapa pembicara ilmiah atau kalangan perajin. Belakangan nama ini diganti sebagai Snoopy Harp. Nama lain yang digunakan untuk mengidentifikasi instrumen ini dalam literatur ilmiah adalah Guimbarde, sebuah lemma Perancis yang berarti instrumen.

Instrumen ini memiliki nama berbeda di beberapa kebudayaan: Kouxian (Cina & Taiwan), Dan Moi Tre (Vietnam), Morsing (India Selatan), Tombagl (Papua New Guinea), Honto (Yaguna), Ontoior Ontoima (Auyana), Wege (Dumaka), Susap (Papua), Morchang / Mording / Diruba / Esraj (Indian), Gogona (Assam, India), Mukkuri (Hokkaido, Japan), Kubing (Filipina), Sindhi (Pakistan), Scacciapensieri (Italia), Marranzanu (Sicilia). Alat ini juga ditemukan dalam kebudayaan Hungaria, Nepal, Kyrgyztan, dan Russia sebagai alat musik tradisional.

Di Turky, Temir Komuz pertama kali dibuat dari besi dengan panjang 100-200 mm dan lebar sekitar 2-7 mm. Kisaran nada bervariasi sesuai ukuran instrumen, tetapi umumnya berada di sekitar rentang oktaf. Orang-orang Kyrgyztan sangat mahir mengunakan Temir Komuz dan populer di kalangan anak-anak, meski orang dewasa di wilayah itu terus melestarikan instrumen kuno ini.

Komuz

Dalam aktivitas pengobatan tradisional, kadang kondisi trance difasilitasi suatu droning suara, sehingga mereka umunnya menggunakan instrumen ini. Maka instrumen ini tak pelak sering pula dikaitkan dengan aktivitas sihir dan ritual perdukunan.

Namun ada banyak teori mengenai asal nama Jew’s Harp. Menurut Oxford English Dictionary, nama itu muncul pertama kali di Walter Raleigh Discouerie Guyana pada tahun 1596, dieja sebagai Lewes Harp. Lemma Jaw dipakai setidaknya sejak 1774 dan tahun 1809, sedangkan lemma Juice diperkirakan muncul di akhir abad 19 dan abad ke-20. Kamus Oxford juga menyarankan penggunaan lemma Perancis Jeu-trompe yang berarti trompet mainan.

 

Tradisi Berburu Kepala Manusia

Cannibalism_on_Tanna

Hal menarik lainnya pada filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale itu adalah tradisi berburu kepala manusia oleh suku Seediq. Ada kemungkinan tradisi ini direntang oleh kemiripan tradisi di banyak kebudayaan dan tak hanya berlaku pada kebudayaan proto melayu (melayu tua). Tak bisa pula dipungkiri bahwa kini aktivitas ini telah hilang —kendati di beberapa suku tersiar kabar masih dilakukan sembunyi-sembunyi— tetapi tradisi berburu kepala manusia tersebar dan dilakukan oleh umumnya suku asli di Amerika, orang Yunan di China, suku-suku Taiwan dan oleh beberapa suku di Indonesia.

Di Indonesia, semisal —menyebut beberapa contoh saja— saat Marco Polo tiba di Sumatera, ia melaporkan sempat mengunjungi Perlak, bagian utara Sumatra, pada 1292. Di sana, Marco melihat penduduk yang tinggal di pegunungan memakan daging manusia. Berselang lima bulan kemudian, Marco tiba di Pidie, daerah di utara Sumatra lainnya, dan di tempat ini ia mendapati sebuah keluarga menyantap tubuh seorang anggota keluarganya sendiri yang mati karena sakit.

suku batak toba-natgeo

“Saya yakinkan Anda bahwa mereka bahkan menyantap semua sumsum dalam tulang-tulang orang itu,” tulis Marco Polo dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dimuat pada Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Dalam naskah Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 323, ada disebutkan satu suku Dayak Beaju (Hokkian Selatan: Be-oa-jiu) pemburu kepala di Wulonglidan (Wu-long-li-dan) di pedalaman Banjarmasin, Kalimantan. Orang Beaju berkeliaran di malam hari untuk memenggal dan mengoleksi kepala manusia.

“Kepala ini mereka bawa lari dan dihiasi dengan emas. Para pedagang sangat takut terhadap mereka,” demikian W.P. Groeneveldt dalam Nusantara Dalam Catatan Tionghoa.

image002-1

Pada tahun 1894, dibuatlah sebuah perjanjian antar suku —yang terkenal dengan nama Rapat Damai Tumbang Anoi— untuk menghentikan habunu (saling bunuh), hakayau (memenggal kepala), dan hajipen (memperbudak).

Beberapa suku di Borneo terkenal sebagai pemburu kepala musuh. Citra itu dikukuhkan dalam The Head-Hunters of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1881 oleh Carl Bock, seorang penulis berkebangsaan Norwegia. Ia menuliskan bahwa suku-suku itu berburu kepala dengan mandau, tombak, dan perisai. Setelah seseorang mendapatkan kepala musuh, ia berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan. Kendati suku-suku ini memiliki beragam alasan saat melakukan perburuan kepala musuh seperti; balas dendam, tanda kekuatan dan kebanggaan, pemurnian jiwa musuh, atau bentuk pertahanan diri. Pulau Borneo dihuni oleh beragam suku sehingga tiap suku memiliki cara pandang berbeda mengenai tradisi ngayau (memburu kepala).

Momani_Tarian Perang_Kabaena

Sementara itu, di Sulawesi, tradisi perburuan kepala diketahui telah berlangsung sebelum dan sesudah kedatangan orang Eropa. Ada tradisi mompakoto (memotong kepala) oleh To Moronene di Sulawesi Tenggara. Mereka mengambil kepala musuh dalam setiap peperangan, kemudian dibawa pulang untuk diupacarakan sebelum dimasukan dalam sorongA (peti kayu kecil) dan ditempatkan di lubang-lubang batu atau goa yang dijaga. Tradisi lampau yang sudah ditinggalkan ini masih sempat bertahan bahkan saat kedatangan orang Eropa (Jerman).

Kemiripan dengan tradisi sejenis terdapat pada suku To Riaja Bare’e yang bermukim di perbatasan Sulawesi Tengah, yang juga selalu mengambil kepala musuhnya di setiap peperangan. Mereka membunuh dan dengan cepat memotong kepala agar musuhnya tak menderita terlalu lama. Kepala musuh kemudian mereka bawa ke kampung dan diupacarakan.

goa tengkorak lawolatu_sulawesi tenggara

“Kepala diperlukan sebagai penanda akhir masa berperang dan penahbisan sebagai tanda seseorang telah menjadi dewasa dan berani,” tulis R.E. Downs dalam Head-Hunting in Indonesia (Jurnal KITLV Vol. 111 No. 1—1995). Alasan dan tata-cara yang nyaris sama itu dimungkinkan karena adanya unsur kekerabatan dua suku ini.

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, saat mengunjungi Manado pada 10 Juni 1859, mendapatkan sebuah cerita dari penduduk Minahasa. Kepala manusia dipakai untuk menghiasi makam dan rumah. “Ketika seorang kepala suku meninggal, dua kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makamnya. Tengkorak manusia merupakan hiasan yang paling disukai untuk rumah kepala suku,” tulis Wallace dalam catatannya, dikutip George Miller dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992.

Di Kepulauan Moluccas (Ambon) ada catatan bersejarah yang termuat dalam Jurnal KITLV Vol. 149 No. 2. Catatan itu mengungkapkan kisah sebuah perang antar-kampung yang telah berlangsung berhari-hari di pulau Seram pada tahun 1648. Perang antara orang-orang di wilayah pantai dan orang-orang di gunung (suku Alifuru). Contreuleur VOC, Robert Padtbrugge, Gubernur Ambon saat itu, mengirim satu tim untuk mengusahakan perdamaian, dan saat tim itu kembali, mereka melaporkan penemuan banyak korban tewas dari pihak orang pantai ditemukan tanpa kepala. Robert Padtbrugge lantas meminta tim itu untuk meneliti tradisi berburu kepala pada suku Alifuru. Tetapi perang terus berkobar dan tim itu tak mendapatkan hasil apapun. Mereka tak bisa menjelaskan secara pasti mengapa secara adat orang Alifuru berburu kepala musuhnya.

Dalam The Saniri Tiga Air (Seram), Gerrit J. Knaap menulis, “Tim tak berhasil menjelaskan secara gamblang karena orang Alifuru sangat klenik. Tim sukar memahami mereka,” kecuali bahwa adat berburu kepala musuh merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus hidup suku Alifuru tanpa diketahui kapan mulanya. Berburu kepala musuh menempati posisi penting dalam hidup sosial dan kepercayaan suku Alifuru. Anehnya, orang Alifuru tak melakukan tradisi itu terhadap orang asing, baik kepada orang Eropa atau orang dari wilayah Nusantara lainnya. Orang Alifuru, menerima orang asing dengan sangat baik. Bahkan, mereka bersedia merundingkan perdamaian melalui perantaraan VOC meski usaha itu akhirnya gagal.

Sejarah-Pemburu-Kepala_historia

Namun apa yang ditulis Anthony Reid dalam Para Kanibal dan Raja-Raja: Sumatera Utara dan para penjelajah asing di Nusantara tentang tradisi kanibalisme orang-orang Indonesia lampau, itu tidaklah berdiri sendiri dalam kajian antropologi manusia dunia. Jauh di negeri para penjelajah itu, budaya lampau mereka pun tidak lepas dari tradisi kanibalisme.

Arkeolog asal Natural History Museum dan Universitas London telah menemukan bukti jika manusia gua Eropa yang hidup 14.700 tahun silam adalah kanibal. Para arkelolog menemukan bekas-bekas luka aneh pada beberapa tulang yang digali dari gua Gough di daerah Somerset, Inggris Selatan.

Praktek kanibalisme orang-orang di Nusantara itu tidak cukup mengerikan dari praktek sejenis oleh nenek moyang orang Eropa. Manusia gua Eropa tidak saja memakan tumbuhan atau hewan, tetapi mereka pun memakan sesama alias kanibal.

Dari tulang yang digali tahun 1880-1992, para peneliti menemukan beberapa pecahan tengkorak manusia yang terlihat sengaja dibentuk menjadi mangkuk. Di tengkorak-tengkorak yang sudah terbelah itu juga tampak bekas sayatan untuk menguliti terlebih dahulu sebelum diubah menjadi mangkuk. “Kami menemukan tanda sayatan di seluruh kepala dan wajah. Kami menduga, manusia gua Eropa sengaja membuang semua sisa kulit di tengkorak. Terlihat tanda pemotongan bibir, pencabutan mata, hingga pengangkatan pipi,” ujar Dr. Silvia Bello dari Natural History Museum, sebagaimana yang dikutip oleh Daily Mail pada 17 April 2015.

Hal yang cukup mengerikan, bahwa bukti kanibalisme manusia gua juga ditemukan di situs penggalian di Eropa Tengah dan Barat. Para arkeolog Natural History Museum percaya bila kanibalisme adalah hal yang wajar bagi manusia gua Eropa yang hidup di zaman es terakhir, lebih dari 14.000 tahun lalu.

Kanibalisme manusia Eropa diklaim sebagai salah satu bentuk ritual penguburan manusia gua yang kerap disebut Magdalenian. Nenek moyang manusia Eropa ini diketahui adalah manusia pindahan dari benua Afrika yang masuk melalui daerah Eropa Selatan seperti Spanyol. Mereka mempunyai fisik yang mirip dengan manusia modern, tetapi lebih kuat. Cukup beralasan, sebab kegiatan utama mereka memang berburu, termasuk memakan sesamanya.

Demikian. Dua hal “kecil” yang cenderung identik, yang saya lihat dalam sebuah filem yang digarap dengan latar belakang sejarah Taiwan yang luar biasa. Tentu saja bukan karena entitas Mouth Harp dan tradisi perburuan kepala yang ditampilkannya, namun —lebih jauh masuk ke dalam— simbol-simbol tradisi adalah sesuatu yang mengikat jati-diri dan nilai-nilai tertentu sebuah suku bangsa —kendati sukar dipahami dan tidak bisa dijustifikasi— untuk merdeka dari bentuk tekanan apapun.

Insiden Wushe yang menjadi plot utama filem Warriors of the Rainbow: Seediq Bale, berusaha keras diterjemahkan sebagai jalan damai bagi semua orang di pulau Formosa. Sebuah jalan yang harus diambil untuk melanjutkan hidup seperti pada syair kuno dalam lagu yang dinyanyikan Rudao Luhe saat ia berjalan menuju jembatan pelangi yang membentang di sisi air terjun dalam hutan gunung Qilai. (IQM)

Kendari, Desember 2014

Twitter: @IlhamQM


German-Indonesian Film Award Winner 2003

[Dokumen]

FILM JERMAN :

 Quiero Ser

Der Peruckenmacher

Ein Einfacher Auftrag

Balance

Kleingeld

Quest

Schwarzfahrer

Gregors Grobte Erfindung

FILM INDONESIA :

 Kamar Mandi

Dapupu Project

Mayar

Violance Against Fruits

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Mass Grave

Ketok

Loud Me Loud

Geothe Institute Jakarta

 

Loud Me Loud

Loud Me Loud. Sutradara: Bayu Sulistyo S.

Bayu Sulistyo S (Sutradara), Indonesia, 2002, Animasi, Digital AV, Berwarna, 26’ 49”.

Bercerita tentang Muki, perjaka tulen yang senang berjoget diiringi musik keras kesukaannya yang bertetangga dengan Jowee yang cinta damai dan pemuja ketenangan. Apa yang kemudian dilakukan Jowee, dan bagaimana aksi balas dendam Muki?

Penghargaan : Special Mention Kuldesak Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2002.

***

Ketok

Ketok. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, Eksperimental, DV, Berwarna, 5’ 35”.

Menggambarkan kesaksian sepasang suami-istri tentang ketukan misterius di pintu rumah mereka… atau?

Penghargaan: Best Film SET Award & Best Technical Achievement Kuldesak Award FFVII 2002.

***

Mass Grave

Mass Grave. Sutradara: Lexy Junior Rambadeta

Lexy Junior Rambadeta (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, DV, Berwarna, 26’.

Setelah diktator Soeharto dijatuhkan pada 21 Mei 1998, rakyat Indonesia mulai berani mempertanyakan kembali sejarah bangsanya. Salah satu peristiwa kejam yang ditutup-tutupi adalah pembantaian massal terhadap lebih dari 500 ribu rakyat Indonesia tahun 1965-1968 yang diorganisasikan oleh militer di bawah perintah diktator tersebut. Pada tanggal 16 November 2000, beberapa orang tua yang merupakan keluarga dari korban pembantaian 1965-1968 tersebut, menggali sebidang tanah perkebunan di hutan di pinggiran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka, dengan bantuan beberapa dokter forensik, menemukan 26 kerangka manusia yang ditimbun bertumpuk-tumpuk menjadi satu. Beberapa keluarga korban berhasil mengindentifikasi tulang-belulang yang ditemukan sebagai keluarga yang mereka cari. Ibu Sri Muhayati misalnya, mengenali tulang ayahnya yang dibunuh tentara pada 1966. Keluarga lainnya juga mengenali identitas keluarga mereka. Empat bulan setelah pemugaran kuburan massal di tengah hutan wilayah Wonosobo tersebut, keluarga korban ingin melakukan pemakaman kembali yang layak untuk kerangka-kerangka keluarga mereka. Seorang teman mereka bernama Pak Irawan berbaik hati menyumbangkan sebagian tanahnya di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk tempat penguburan. Namun, rencana pemakaman kembali tersebut digagalkan oleh sekelompok orang. Peristiwa ini tidak dipublikasikan dengan jujur dan terbuka oleh media massa.

Penghargaan : Best Documentary SET Award FFVII 2002.

***

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang. Sutradara: Eddie Cahyono

Eddie Cahyono (Sutradara), Indonesia, 2001, DV, Berwarna, 12’.

Film ini bercerita tentang semangat perjuangan yang tidak pernah luntur dari seorang anak bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Keprihatinan dalam melihat kenyataan bangsa Indonesia pada saat ini, dimana segala cita-cita pada masa perjuangan telah dikotori oleh keserakahan manusia. Film ini juga menyentuh kesadaran sosial tentang pentingnya penghormatan terhadap semangat perjuangan yang tidak pernah luntur.

Penghargaan : Best Short Film SET Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2001.

***

Violance Against Fruits

Violance Against Fruits. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2000, Eksperimental, DV, Berwarna, 3’

Santai saja, nikmati pembantaian Diospyros Kaki di depan mata Anda. Terinspirasi oleh kerusuhan Mei 1998.

Penghargaan : Best Cenceptual Film Kuldesak Award FFVII 2000.

***

Mayar

Mayar. Sutradara: Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah (Sutradara), Indonesia, 2002, Fiksi, MiniDV, Berwarna, 32’.

Mayar adalah seorang penduduk urban di Jakarta Selatan. Pada tanggal 15 sampai 18 Agustus ia pulang ke kampungnya, Yogyakarta, untuk menengok ibunya. Banyak hal yang terjadi dikampungnya ketika ia pulang, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Jakarta Selatan. 

Penghargaan : Best Art Director & Director of Photography SET Award FFVII 2002, Jakarta.

***

Dapupu Project

Dapupu Project. Sutradara: Wahyu Aditya

Wahyu Aditya (Sutradara), Indonesia, 2000, Animasi Komputer, Berwarna, 3’

Menceritakan sebuah robot burung unta yang diburu oleh robot seniman.

Penghargaan : Best Film Animation Film Festival 2001, Best Animation Film SET Award FFVII 2001.

***

Kamar Mandi

Kamar Mandi. Sutradara: Rusli

Rusli (Sutradara), Indonesia, 1999, Fiksi, Betacam, Hitam-Putih, 10’ 11”.

Keluarga… Ayah… Ibu… Anak… Satu hari… Di kamar mandi…

Penghargaan : Best Independen Short Film Garin Nugroho Award & Best Short Film Director Kuldesak Award in 1st Indonesia Independent Film-Video Festival (FFVII) 1999.

***

Gregors Grobte Erfindung

Gregors Grobte Erfindung. Sutradara: Johannes Kiefer

Johannes Kiefer (Sutradara), Jerman, 2001, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 11’.

Dari hari ke hari neneknya Gregor makin susah berjalan. Teman-teman wanitanya mendesak dia untuk pindah ke panti jompo… Tetapi Gregor menyayangi neneknya dan ia adalah seorang penemu yang jenius: ketika ia menyadari, bahwa neneknya bisa berjalan di air tanpa rasa sakit, ia punya ide yang hebat…

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Nomination for Best Short Film 2002, Best Comedy Los Angeles 2002, Audience Award Best Short Austin 2001, Jury Award New York 2001, Best Comedy Burbank 2001, Best Comedy Short Cinequest 2002, Best Short Magnolia 2002.

***

Schwarzfahrer

Schwarzfahrer. Sutradara: Pepe Danquart

Pepe Danquart (Sutradara), Jerman, 1992, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Hitam-Putih, 35mm, 12’.

Ia seorang kulit hitam dalam perjalanan dengan sebuah trem, duduk di tempat pilihannya: hal ini membuat meledaknya kebencian ras seorang nenek Jerman. Namun orang kulit hitam itu tahu bagaimana harus bereaksi.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Film Berlinale 1993, First Audience Award Hamburg Short Film Festival NO BUDGET 1993, Best Short Film in Melbourne 1993, New York 1994, Oscar Best Short Film, 1st Prize, 11th International Odense Film Festival 1995 and many others.

***

Quest

Quest. Sutradara: Thomas Stellmach

Thomas Stellmach (Sutradara), Jerman, 1996, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 11’.

Sebuah figur dari pasir menunggalkan dunia pasir, tempat ia tinggal, untuk mencari air. Ia berkelana ke dunia-dunia lain dari kertas, batu dan besi, selalu mengikuti titik-titik air. Pada akhirnya figur pasir ini berhasil mencapai air… dengan cara tragis. 

Penghargaan / Anerkennung : 1997 Oscar for Best Short Animation Film, Cartoon-d’Or-Preis 1996, Friedrich-Wilhelm Murnau Preis Best Shortfilm 1996, etc. (about 50).

***

Kleingeld

Kleingeld. Sutradara: Marc Andreas Bochert

Marc Andreas Bochert (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Drama Sosial, Berwarna, 35mm, 15’ 32”.

Film karya Bochert mengisahkan tentang hubungan yang luar biasa antara seorang pengemis dengan seorang pengusaha. Suatu hari si pengemis berdiri membisu di trotoar diantara sebuah bangunan kantor dan tempat parkir. Dengan sebuah gelas kertas ia meminta-minta uang. Berawal dari sebuah sumbangan dari seorang berdasi yang kemudian menjadi kebiasaan setiap hari. Keadaannya menjadi rumit ketika suatu hari si pengemis mulai mencuci mobil sang pengusaha… Kisah dari Berlin tahun 90-an yang diceritakan secara tragis, lucu dan profesional.

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Student 1999, Deutscher Kurzfilmpreis in Silber 1999, Oscar Nomination for Best Short Film 1999.

***

Balance

Balance. Sutradara: Wolfgang & Christoph Lauenstein

Wolfgang & Christoph Lauenstein (Sutradara), Jerman, 1989, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 7’ 20”.

Lima figur bergerak di atas sebuah plat. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila ada keseimbangan, dengan cara keseimbangan semua orang/figur dibagi merata. Permainan dimulai, dimana keseimbangan terus-terusan terancam, dan ketergantungan satu figur dengan yang lainnya menjadi jelas terlihat.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Animation Film Oscar 1990.

***

Ein Einfacher Auftrag

Ein Einfacher Auftrag. Sutradara: Raymond Boy

Raymond Boy (Sutradara), Jerman, 1996, Dialog Bahasa Jerman, Kurzpielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 10’ 50”.

Fee Marie, yang sudah sejak bertahun-tahun berhasil memenuhi keinginan-keinginan orang, harus mengunjungi seorang tukang tembok Jakob Brumme di gubuknya yang reot dan memenuhi 3 keinginannya. Sebuah pekerjaan yang mudah, kelihatannya.

Penghargaan / Anerkennung : International Short Film Festival Hamburg 1996, “Premiere-Preis” / Oscar Student 1997.

***

Der Peruckenmacher

Der Peruckenmacher. Sutradara: Steffen Schoffler

Steffen Schoffler (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Bahasa Inggris, Film Animasi, Fantasi, Berwarna, 35mm, 15’.

Kisah seorang pria yang menutupi dirinya sendiri rapat-rapat di Landon yang tercemar pest pada jaman abad pertengahan untuk menghindar dari infeksi. Ketika seorang gadis kecil yang sakit meminta pertolongannya, dunianya seakan mau runtuh.

Penghargaan / Annerkennung : Jury Etudiant, Prix de la mise en scene – Vendome 2000, 2001 Oscar Nomination for Best Short (Animation) Film.

***

Quiero Ser

Quiero Ser. Sutradara: Florian Gallenberger

Florian Gallenberger (Sutradara), Jerman, 1999, 35mm, Berwarna, Dialog Bahasa Spanyol, Fiksi, 34’.

Dua orang kakak beradik yatim piatu berjuang hidup di jalan-jalan kota Mexico. Impian akan masa depan yang lebih baik membuat mereka mampu menyisihkan setiap peso yang mereka dapat untuk ditabung. Tetapi ketika si kakak jatuh cinta, maka semua uang tabungannya dipakai untuk pacaran dengan sang gadis, perbuatannya ini memyebabkan si adik sakit hati. 25 tahun kemudian secara tak sengaja mereka bertemu kembali…

Penghargaan / Anerkennung : (terseleksi)

Academy Award (Oscar) 2001/Student Academy Award, First Steps Award 2001, GWFF – Award for Best Film for Graduation 1999, Prize UNICEF Bilbao, Film Prize from The City of Munich, Best Jury Jeune Best Shortfilm, Best Actors Vendome, Audience Award & Horizont Award Aspen, Best Directing & Audience Award Poitiers, Internationales Festival der Filmhochschulen Munchen, Best Actors & Audience Award Giffoni, Grand Prix Lodz. FBW Pradikat Obesonders Wertvollo. ***


%d blogger menyukai ini: