Category Archives: Esai

[Esai] Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Esai berikut ini ditulis oleh Mario F. Lawi, seorang penulis dan penyair Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya tentu akrab di telinga para penikmat sastra di NTT. Mario lahir di Kupang, 18 Februari 1991. Ia dinobatkan sebagai Tokoh Seni versi Majalah Tempo, bidang Sastra Puisi tahun 2014. Buku kumpulan puisinya, Ekaristi (2014) dikukuhkan sebagai buku sastra puisi terbaik 2014 dan ia diganjar Academia Award 2014 kategori Literatur. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, pada 19 Februari 2011. Komunitas ini bergerak di bidang penulisan esai, puisi, cerpen, dan resensi buku. Setahun kemudian, pada 12 Mei 2012, komunitas ini menerbitkan Jurnal Sastra Santarang dan Mario menjadi Pemimpin Redaksi pada jurnal yang terbit rutin setiap bulan ini. Tiga buku puisi Mario adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015). Esai Mario F. Lawi yang sedang Anda baca ini telah dipublikasikan di Harian Timor Express, Minggu 9 Maret 2014.

 

Sastra NTT, Nisan Kosong dan Epitaf yang Belum Ditatah

Oleh: Mario F. Lawi

mario lawi_2015Pada terbitan Harian Jawa Pos, 19 Januari 2014, saya membaca cerpen Ilham Q. Moehiddin yang berjudul Nisan Kosong. Hanya dengan melihat ilustrasi yang menyertai cerpen sebelum tenggelam ke dalam cerpen tersebut, saya jadi ingat tradisi perburuan paus di Lamalera.

Saya ingat, jauh sebelum cerpen ini terbit di Jawa Pos, pada 26 September 2013, saya dan beberapa teman dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora diundang untuk menyaksikan sebuah pementasan kecil dimotori oleh sekelompok seniman dari Yogyakarta dan Aceh bekerjasama dengan Museum Daerah Propinsi NTT berjudul Koteklema dan Ksatria Laut Lamalera di kompleks SMA Katolik Giovanni. Salah satu tujuan pementasan ini adalah untuk menarik minat masyarakat—terutama kaum muda—untuk semakin sering mengunjungi museum. Pentas yang menggabungkan story-telling, drama, tarian dan nyanyian ini didukung juga oleh peran beberapa siswa dari SMAK Giovanni, SMA Muhammadiyah, SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Kupang. Pentas ini mengangkat kembali mitologi yang menceritakan situasi awal masyarakat Lamalera berburu paus. Salah satu adegan dalam pementasan menunjukkan kepercayaan awal masyarakat Lamalera bahwa paus merupakan kerbau yang terlepas dan lari ke dalam laut.

Sebagai proyek, saya pesimis tujuan penyadaran dari pementasan ini tercapai. Selain karena digarap dengan waktu yang relatif singkat, pendalaman naskah yang tidak maksimal dari para tokoh yang terlibat membuat pementasan ini hadir ala kadarnya. Kembali ke Nisan Kosong, cerpen ini mengingatkan saya akan tradisi perburuan paus di Lamalera karena pelukisan suasananya.

 

Tentang “Nisan Kosong”

Nisan Kosong merupakan cerita yang dipenggal ke dalam empat fragmen dengan alur yang tidak linear tapi mudah dipahami, mengisahkan tentang dua orang lelaki yang berjuang memenuhi kebutuhan makanan keluarga mereka di musim dingin dengan membunuh ikan paus, yang dagingnya juga dinikmati seisi desa. Di sebuah tempat antah-berantah, di tengah musim dingin yang mengepung, Edgar dan Allan ayahnya memutuskan untuk berburu ikan paus demi mengalahkan lapar dan paceklik bahan makanan yang dihasilkan musim dingin berkepanjangan.

Demi Clara istrinya dan Ilyana sang putri, Allan bersama Edgar putranya bertarung mengalahkan dingin untuk menjebak seekor ikan paus ke mulut teluk. Dalam Nisan Kosong, dua ekor paus berhasil dibunuh. Nyawa paus pertama tumpas di bawah mata belati Allan. Nyawa paus kedua dilenyapkan kelompok nelayan lain. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Edgar menguburkan belulang kedua paus itu di dua buah makam yang ditandai dua buah nisan kosong.

Beberapa pesan dapat dipetik dari Nisan Kosong; dari isu tentang lingkungan, satir terhadap budaya hingga potret simbolik manusia yang berubah dari sosok yang berjuang memenuhi kebutuhan menjadi makhluk yang serakah dan ingat diri. Ucapan Allan kepada Edgar sebelum pembunuhan paus pertama kian mengingatkan saya pada tradisi perburuan paus di Lamalera, “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi.  Minyak dari lemaknya juga sangat baik.” Bagi saya, sejumlah pesan kuat yang dapat dipetik tidak diimbangi dengan penggarapan suspens dan logika cerita yang maksimal, sehingga pada beberapa bagian, cerpen ini nampak tergesa-gesa dan nirlogis. Bagian yang berpotensi diolah menjadi konflik yang lebih dalam—misalnya eksplorasi psikologis Edgar dan Allan menghadapi kepungan musim dingin di tengah laut demi menaklukkan seekor raksasa laut—justru digarap dengan sangat minimal.

Seminggu setelah cerpen ini dipublikasikan di Jawa Pos, saya menerima pesan singkat dari penulisnya bahwa cerpen tersebut terinspirasi dari tradisi perburuan paus di Lamalera yang pernah dikunjunginya pada tahun 2004. Ilham Q. Moehiddin kini berdomisili di Kendari. Ia seorang kontributor tulisan untuk beberapa media di Indonesia, baik cetak maupun online, juga seorang prosais yang produktif dan meraih penghargaan dalam sejumlah sayembara menulis. Saya mengenalnya sejak Ubud Writers and Readers Festival 10-16 Oktober 2013 di Bali. Dalam pesan singkat tersebut, ia sempatkan bertanya, “Bagaimana tanggapan teman-teman komunitasmu tentang cerpen Nisan Kosong?” Saya menjawab dengan malu, “Kami tidak sering mengikuti perkembangan cerpen di Jawa Pos, Bang. Jadi, kami jarang mendiskusikan cerpen-cerpen yang terbit di sana.”

 

Nisan Kosong dan Sastra NTT

Bagi saya, salah satu kiat seorang penulis untuk mengasah kemampuan menulisnya adalah dengan memperluas medan bacaan sekaligus menjadi pembaca yang kritis demi mempertajam visi menulisnya. Pertanyaan Ilham di atas, adalah sebuah peringatan yang juga ditujukan untuk siapa saja yang menulis. Perluasan medan bacaan juga ditandai dengan variasi bacaan yang dicerna. Memberi tanggapan terhadap sebuah bacaan berarti menjadi pembaca yang kritis. Hal ini yang masih belum secara maksimal dilakukan oleh komunitas kami yang ironisnya berlabel ‘Komunitas Sastra’.

Jika pun cerpen Nisan Kosong kami diskusikan, akankah kami mengelompokkannya sebagai bagian dari “sastra NTT”? Saya kembali pada rumusan Yohanes Sehandi tentang “sastra NTT”. Menurut Sehandi, sastra NTT adalah sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan oleh orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia.” Ia kemudian mencontohkan novel Lembata (2008) karya F. Rahardi dan puisi Beri Daku Sumba (1970) karya Taufiq Ismail. Bagi Sehandi, kedua karya tersebut adalah bagian dari “sastra NTT” karena berbicara tentang NTT, tentang masyarakat dan kondisi alam dan geografis NTT, meskipun tidak dihasilkan oleh orang NTT (Sehandi, 2012: 12-13).

Rumusan Sehandi tentang “sastra NTT” sendiri, bagi saya, masih bersifat polemis, terutama jika ditarik ke sejumlah karya yang dijadikannya sebagai contoh. Lembata (2008) yang ditulis oleh F. Rahardi, misalnya, meskipun banyak menyelipkan informasi geografis dan sosiologis tentang Kabupaten Lembata, bagi saya, tetap saja tidak digarap dengan latar-belakang kultur penulis NTT apalagi ketika memasuki bagian dialog antar-tokoh. F. Rahardi menyelipkan beberapa baris kalimat bahasa Jawa di tengah percakapan antara Pater Fransiskus Bagun dan Romo Zebua. Ketika ditanya oleh Pater Fransiskus Ekonom Keuskupan Ruteng, “Romo ini sebenarnya Flores atau Batak?” Romo Zebua yang ditokohkan sebagai pastor berdarah asli Lio malah menjawab dengan bahasa Jawa, “Kulo niki Jowo, Pater. Seminari Menengah wonten Mertoyudan, mlebet Projo Larantuka, Seminari Inggil wonten Kentungan, lajeng dados romo paroki wonten Lembata mriki. Kados pundi Pater?

Jika bahasa Jawa berani diselipkan F. Rahardi dalam percakapan antara dua orang NTT yang ditokohkannya dalam novel, mengapa ia tidak berani menyelipkan dialek Melayu-Lembata pada percakapan tokoh-tokoh yang lain, seperti percakapan antara Pedro dan Romo Zebua, dua orang NTT yang sama-sama hidup di Lembata, dan malah memilih menggunakan format percakapan bahasa Indonesia yang baku? Bagi saya, novel ini tidak secara mendalam melukiskan Lembata dan kelembataan yang salah satu aspeknya termanifestasi dalam dialek. Meskipun pada tataran deskripsi F. Rahardi banyak menuliskan tentang Lembata, hal tersebut tidak mutlak menentukan ihwal Lembata dan ‘kelembataan’ mesti dilibatkan dalam urusan pemaknaan.

Contoh lain adalah puisi Beri Daku Sumba (1970) yang ditulis oleh Taufiq Ismail. Dalam kumpulan puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (cetakan kelima, 2004), Beri Daku Sumbadan 99 puisi lain, bagi saya, adalah pelanjutan tradisi lirih Melayu-Sumatera yang ditinggalkan oleh Amir Hamzah (bandingkan dengan kumpulan puisi Amir Hamzah “Nyanyi Sunyi” dan “Buah Rindu”), meskipun Beri Daku Sumba sendiri ditujukan untuk Umbu Landu Paranggi, seorang penyair asal Sumba. Ketika pertama kali membaca puisi tersebut semasa SMA, yang saya bayangkan justru bukan Sumba, melainkan Uzbekistan—lokasi yang menginspirasi Taufiq untuk menulis puisi tersebut.

Dua contoh karya tersebut, yang dikatakan oleh Yohanes Sehandi, sebagai “sastra NTT” dan “sastra tentang NTT” tidak harus disebut “sastra NTT” apalagi “sastra tentang NTT”. Sebab, menurut saya, pelabelan “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT” dalam dua contoh yang diangkat Sehandi baru bisa terjadi pada medan pemaknaan, dan bukankah otoritas pemaknaan tidak bergantung pada hanya satu pihak? Melabelkan “sastra tentang NTT” pada dua karya tersebut hanya akan mempersempit medan pemaknaan yang pada akhirnya juga berarti melakukan represi pada tataran teks. Bukankah bentuk represi pemaknaan adalah hal yang paling awal ditolak dalam kesusastraan demi membuka kemungkinan tak terduga terhadap eksplorasi kebahasaan?

Maka, meskipun merasakan anasir tradisi perburuan paus Lamalera dalam cerpen Nisan Kosong ditambah pengakuan langsung dari penulisnya, saya tetap enggan menggolongkan cerpen tersebut ke dalam “sastra NTT” atau “sastra tentang NTT”. Pelabelan “sastra NTT” dan “sastrawan NTT”, bagi saya, berpotensi menjebak, ibarat menyiapkan sebuah kubur dengan nisan dan tatahan epitaf untuk menjelaskan riwayat kehidupan yang telah menjadi bagian dari kenangan. “Sastra NTT” atau “sastrawan NTT” tidak boleh ada sebagai monumen yang diam, melainkan sebagai sebuah proses yang hidup dan kerja yang tak kenal lelah. (*)

—————————— sumber: mariolawi.wordpress.com

 

Iklan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan

[Bola Kultural] Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan_Ilustrasi Bagus-JP

“Sepak bola menjadi populer, karena populernya kebodohan.”

~ Jorge Francisco Isidoro Luis Borges (1899-1986)

 

Benar. Jorge Luis Borges menyebut sepak bola sebagai estetisme yang buruk. Penulis Argentina yang dianggap sebagai tokoh kunci kesusasteraan Spanyol itu bahkan melontarkan satir yang keras, “sepak bola adalah satu dari banyak kejahatan terbesar bangsa Inggris.”

Borges sengaja mendorong kebencian pada sepak bola saat membawakan kuliah-kuliahnya. Itu ia lakukan untuk mengolok-olok intensitas politik dari konflik yang menurutnya sengaja diciptakan pada pertandingan perdana Argentina di Piala Dunia tahun 1978.

“Kebodohan membuat sepak bola menjadi olah raga populer,” ulang Borges di setiap kesempatan, bahkan di hadapan fans fanatik timnas Argentina. Menurutnya, untuk sesuatu yang oleh banyak orang dianggap sebagai permainan terhebat di muka bumi —tampaknya juga mencerminkan sikap khas para pembenci sepak bola hari ini— di mana sikap itu telah menjadi sebuah pernyataan utama: Sepakbola membosankan. Terlalu banyak nilai yang terikat di sana. Aku tak menerima kepalsuan semacam itu.

 

Alasan Borges Benci Sepak Bola

Tetapi ketidak sukaan Borges pada olahraga ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar isu estetika. Masalahnya tampak jelas dari popularitas soccer fan culture yang ia kaitkan dengan sejenis dukungan buta yang dibakar oleh para pemimpin gerakan-gerakan politik paling mengerikan di abad ke-20. Sepanjang hidupnya, Borges melihat unsur-unsur fasisme, peronism, dan bahkan anti-semitisme menyatu dalam intrik politik Argentina, sehingga ia mencurigai popularitas itu telah melahirkan bentuk gerakan politik dan budaya massa yang baru dan lebih intens —terkait sebuah apogee: Argentina adalah sepak bola. Inilah yang membuat kecurigaan Borges sangat masuk akal.

“Ada gagasan supremasi dan kekuasaan (dalam sepak bola) yang tampak mengerikan bagi saya,” tulisnya suatu saat. Borges menentang dogmatisme dalam bentuk atau format apapun, sehingga ia secara resmi mencurigai motif umumnya warga negara sebagai ketidak mampuan memenuhi syarat pengabdian kepada doktrin atau agama mana pun — bahkan untuk para albiceleste.

Sepak bola terikat pada nasionalisme, adalah salah satu fanatisme dalam olahraga itu yang membuat Borges keberatan. “Nasionalisme hanya memungkinkan untuk diafirmasi, dan setiap doktrin tentang itu—yang kemudian diragukan dan disangkali—adalah suatu bentuk fanatisme dan kebodohan,” katanya.

Tim nasional menyamaratakan semangat nasionalis, menciptakan kemungkinan bagi pemerintah yang tidak bermoral untuk menggunakan pemain sebagai seorang juru bicara demi melegitimasi tindakan politis mereka. Pada kenyataannya, itulah yang terjadi pada Pele.

“Ketika pemerintahnya sedang menekan para pembangkang politik, dan aksi Pele menyundul bola ke arah gawang, sekaligus menghasilkan sebuah poster raksasa yang menggambarkan tujuan pemerintahnya, disertai slogan Ninguem mais segura este pais: sekarang, tak seorang pun dapat menghentikan negara ini,” tulis Dave Zirin dalam buku Brazil’s Dance with the Devil.

Pemerintahan diktator militer Brasil di mana Pele bermain untuk timnasnya, mengambil keuntungan dari obligasi penggemar timnas untuk memobilisasi dukungan. Inilah yang ditakuti dan dibenci Borges tentang sepak bola.

Saat membaca cerpen Esse Est Percipi (1967), siapapun dapat menemukan dan ikut menyelami kebencian Borges terhadap sepak bola. Di plot tengah cerpen itu, Borges menggulung ungkapan bahwa sepak bola di Argentina telah berhenti sebagai olahraga dan memasuki dunia hiburan. Secara fiksional, ia membuat simulakra bagi memerintahnya: representasi sepak bola telah menggantikan sepak bola yang sebenarnya.

Sepak bola tidak lagi berada di luar studio rekaman dan kantor surat kabar. Sepak bola telah begitu kuat menginspirasi para pendukung fanatik untuk mengikuti sebuah “permainan khayalan” di televisi dan radio tanpa mempertanyakan hal yang diungkap dalam narasi ini:

Stadion sudah lama dikutuk dan hancur berkeping-keping. Sekarang semuanya dipentaskan di televisi dan radio. Membawa kegembiraan palsu —membuat Anda tidak pernah menduga bahwa semua itu adalah omong kosong? Pada tanggal 24 Juni 1937, pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires. Di saat yang tepat, sepak bola dan semua gamut olahraga, serta semua genre drama, mampu ditampilkan oleh seseorang di sebuah bilik atau oleh seorang aktor berkostum pemain sepak bola di belakang kamera televisi.

Esse Est Percipi berpulang pada ketidak nyamanan Borges terhadap budaya pergerakan massa yang ia tuduhkan kepada media yang terlibat secara aktif dan efektif ikut menciptakan budaya massa melalui sepak bola —dan sebagai akibatnya— menjadi bagian dari penghasutan dan manipulasi itu sendiri.

Menurut Borges, seharusnya manusia merasa perlu menjadi bagian dari rencana besar jagat raya, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Agama tidak untuk segelintir orang, sebagaimana sepak bola yang juga boleh menjadi milik semua orang.

Karakter-karakter dalam corpus Borgesian sering bergulat dengan keinginan ini, beralih kepada ideologi atau gerakan yang menjadi efek bencana: narator dalam Deutsches Requiem adalah seorang Nazi, sedangkan sebuah organisasi dalam The Lottery in Babylon atau The Congress yang tampak tidak berbahaya dengan cepat berubah menjadi buas, menjadi birokratis totaliter yang mengobral hukuman dan membakar buku.

Kami ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, tetapi terlalu banyak hal yang membuat kita buta untuk mengikuti perkembangan dalam rencana besar ini —atau kekurangan yang mengikuti mereka semua selama ini…

Sebelumnya, narator dalam The Congress mengingatkan kita, bahwa daya pikat dari wacana besar tersebut sudah kerap membuktikan: “Sebenarnya yang penting adalah menjadi bagian dari rencana kami —di mana kami sering membuat lelucon tentang itu— yang sungguh-sungguh tak tampak pada dunia dan diri kita sendiri.”

 

Messi Est Percipi

Kalimat di atas secara akurat menggambarkan bagaimana perasaan jutaan orang di dunia tentang sepak bola. Saat Borges mengkritik sepak bola yang ditunggangi kepentingan politis peronian, saat itu Lionel Messi belum lahir. Messi lahir 20 tahun kemudian, atau tepat setahun, di bulan yang sama (kurang 10 hari) setelah kematian Borges. Bukan kebetulan jika Messi lahir di tanggal dan bulan yang sama (24 Juni), ketika pertandingan sepak bola dimainkan terakhir kali di Buenos Aires, 50 tahun lalu. Mungkin saja Messi mengenal Borges lewat tulisan-tulisannya. Messi tahu siapa Pele, dan mungkin bisa memahami kekesalan Borges pada ikon sepak bola Brazil itu.

Maradona dan Messi adalah dua generasi sepak bola Argentina yang terjebak dalam budaya massa: industri dan kapitalisasi olahraga. Kendati kita bisa memaklumi bahwa secara pribadi Maradona dan Messi pasti akan mengamini Borges, nyatanya dua pemain terhebat di zamannya itu tidak tenggelam sepenuhnya dalam motif mengerikan yang disebut Borges.

Maradona kerap mendonasikan uangnya untuk rumah yatim-piatu dan rumah sakit di Argentina dan Cuba. Lionel Messi baru saja menolak isu yang muncul usai Piala Dunia 2014 di Brazil tentang jutaan dolar sumbangannya ke Israel. “Saya tak simpati pada negara yang membunuh anak-anak. Israel negara kaya, jadi saya lebih baik menyumbang untuk rumah sakit dan sekolah di Argentina,” kecam Messi melalui laman mtv.com.lb. Paling tidak Maradona dan Messi masih punya nurani.

Sepak bola hari ini, setelah 29 tahun kepergian Borges, tetap tampil sebagai budaya massa yang kian distorsional. Tetap tampil sebagai siaran langsung atau siaran tunda di televisi (setelah edit dan mixing), diulas di radio, di koran-koran, dan di portal berita internet. Keabsahan yang menguatkan pesan dalam ketakutan dan kebencian Borges.

Bagi sebagian orang, tuduhan Borges tidak harus diamini. Argentina telah berubah lebih demokratis —yang kemungkinan besar adalah insinuasi dari kumparan dan lapisan gerakan politik masa lalu yang dibenci Borges. Argentina kini punya Cristina Fernandez de Kirchner, masih punya Maradona yang komunis, dan Lionel Messi yang membenci politik kolonialisme. Dan, sepak bola —dimana pun— masih berkutat dengan kepentingan politik. (*)

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan :

  • Sebagian besar dari esai ini saya alih-bahasakan dari artikel Newrepublic: Why Did Borges Hate Soccer, sebagai fondasi tulisan.

 

Sumber :

Kolom Bola Kultural | Jawa Pos, Minggu 08 Februari 2015

Sepak Bola dan Motif Politik Paling Mengerikan | Jawa Pos | Selalu Ada Yang Baru

 

 


[Esai] Monolog Kasim

Monolog Kasim

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Reportase Kematian

SEBUAH ruang, sebuah level, lelampu yang temaram, menanti hening yang pecah. Seorang lelaki terpekur. Kepalanya menunduk takzim pada diam yang cekam. Di sebelahnya, seorang perempuan duduk tenang. Tapi bukan tenang yang lazim. Ia berduka.

Lumen kuning dari lampu di sudut ruang, berpendar. Cahayanya perlahan mencoba menerobos tiga sudut lain dalam ruang itu. Tapi ia berhenti di batas jarak yang mampu jangkau. Seperti ketidak kuasaan pada waktu yang sempit dan pada ruang yang berwarna tunggal—hitam—lumen cahaya itu kemudian menetap.

Kegelisahan kemudian terpancar dari raut wajah lelaki yang tadi terpekur. Wajahnya kini terangkat, tubuhnya perlahan tegak, tangannya mengembang. Kemudian…

Lelaki itu tiba-tiba terhempas di tahun 1969, 45 tahun lampau. Di sebuah rumah kecil di tengah kota pesisir Baubau. Malam yang demam, dipecahkan oleh derap sepatu puluhan orang. Mereka bersenjata dan usai merampungkan kepungan. Dua orang kini di beranda dan mengetuk.

Perempuan tadi terperanjat, mukanya tenang dan bertanya. Ada orang-orang yang tidak sopan datang bertandang di malam buta. Ia bangunkan lelakinya. Pintu depan terbuka, dan lima orang masuk tanpa permisi. Lelakinya harus segera mengikuti mereka dan tidak boleh bertanya lagi. Itulah jawaban pertama dan terakhir dari satu-satunya pertanyaan yang lepas dari bibir si lelaki. Perempuan itu lalu menulis kesaksiaannya: di benak dan airmatanya.

Lelaki itu terguling dan tiba-tiba saja ia kini berada di ruang kecil seorang diri. Lantai dan dindingnya keras, sekeras wajah dan tabiat para ular yang berkeliaran di luar sana. Lalu kecemasan melampai di seluruh ruangan itu. Lelaki itu melepaskan cinta pada putrinya dan perempuan yang menangisinya. Kata-kata duka menjilami udara, menggarami air matanya.

 

Berangkat dari Puisi.

LELAKI yang sedih dalam ruang berjeruji dan lelaki yang terhempas ke masa silam itu, tampak bersandingan erat dalam gerakan, bunyi dan kata-kata Stone. Pelakon dan pendiri Teater Sendiri Kendari itu, membuka monolognya dengan apik. Ia mampu mendatangkan keterasingan dan cekam yang ngilu ke dada puluhan orang yang memenuhi ruang utama Rumah Pengetahuan (RUPA) Idea Project Kendari.

Ahmad ‘Stone’ Zain membuka monolog Kesaksian dengan beberapa larik liris dari puisi Reportase Kematian karya Irianto Ibrahim. Naskah Kesaksian itu memang sari-kembang dari puisi Reportase Kematian yang terilhami oleh kesaksian perempuan Ainun, istri tercinta Drs. Muhammad Kasim, Bupati Buton yang diculik, dikurung di RTM Kodim Baubau. Saksi mata menuturkan, di sel itulah Muhammad Kasim ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung, tapi jenazahnya tak pernah pulang kepada istri dan putrinya. Kuburannya entah, laporan kematiannya ditutupi dan alasan di balik penculikan itu sengaja dibungkus rapat.

Keseluruhan kesaksian ini juga pernah dituliskan dalam sebuah buku DOM 1969: Buton Basis PKI (cetakan pertama, 1996) yang merangkum hasil investigasi sebuah peristiwa pelanggaran HAM dan memilukan atas sebuah fitnah. Oleh Pangkopkamtib ketika itu, Buton di fitnah menjadi basis Partai Komunis Indonesia di Sulawesi, yang ditandai dengan isu droping senjata dari RRC oleh KRI Pattimura di teluk Sampolawa. Fitnah droping senjata itu sendiri tidak pernah berhasil dibuktikan oleh pihak Pangkopkamtib. Rosihan Anwar yang mula-mula menelusuri jejak KRI Pattimura di Sampolawa juga tidak menemukan secuil pun alasan yang mendasari tuduhan itu.

 

Ruang Kebenaran dalam Sejarah.

MALAM itu, Stone dan Pipin (Sulprina Rahim Putri, pembaca puisi, karakter Ainun) mengantarkan monolog dengan gemilang. Stone bergerak ritmik. Pipin begitu ekspresif. Keduanya memukau puluhan pasang mata yang belum menyadari masalah apa sebenarnya yang sedang mereka saksikan dan dengar dalam pementasaan itu. Pengungkapan fakta dalam puisi Reportase Kematian cukup memadai bagi Stone dan Pipin untuk mendedah dan mengekspresikan sebagian kisah menjadi sebuah Kesaksian yang lain.

Dari sisi estetik pementasan, tata ruang dan lampu yang tak “ramai” ternyata mampu menguatkan naskah serta gerak dan kalimat-kalimat intonatif dalam monolog itu.

Dalam gelanggang diskusi selepas pementasan 20 menit itu, Ahid Hidayat, juga menyatakan ketertarikannya dan kuat mendorong agar pementasan itu digarap dalam durasi yang lebih panjang. “Lakon ini akan sangat berdaya dan kuat apabila ditampilkan dalam durasi yang tepat, dalam bentuk pementasan drama atau teater. Pesan-pesan dalam monolog yang singkat mungkin masih mampu diserap dengan baik oleh penonton, tetapi akan lebih kuat jika fakta itu disajikan dalam pementasan yang lengkap,” demikian Ahid.

Ahid benar. Kekuatan pada puisi Reportase Kematian adalah kemampuan Irianto Ibrahim menghadirkan suasana secara faktual yang terjadi di sepanjang tahun memilukan itu. Fakta yang disajikan secara puitik, juga mampu menularkan kekuatannya pada monolog yang dibawakan secara reportoar oleh Stone. Kesan serupa akan lebih kuat jika ditampilkan secara utuh dalam pertunjukan teater atau sebuah doku-drama.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa pertunjukan monolog malam itu, berhasil. Ruangan yang kecil di mana monolog itu dipentaskan mendadak sesak oleh puluhan orang yang menonton. Sepertinya, tinggi atensi menyaksikan pertunjukan itu kurang diantisipasi. Instrumen perkusif —yang berada di tangan sebagian penonton— yang awalnya saya kira akan mengisi plot menolog sebagai ilustrasi, tak saya dengar dibunyikan di sepanjang pementasan.

Bagaimana pun, monolog Kesaksian yang ditampilkan Stone dan Pipin malam itu begitu memukau. Saya memujinya. Sebagai sebuah upaya memelihara ingatan, sebuah upaya agar kekerasan dan ketidak-adilan tak tenggelam sebelum diungkapkan, maka monolog Kesaksian dari Repostase Kematian ini berhasil secara historik, estetik, dan kontekstual. Sebuah upaya mengembalikan ruang kebenaran pada sejarah melalui kesenian. (IQM)

Kendari, Mei 2014


[Esai] Bogem Jassin di Muka Chairil

Jassin dan Chairil (#2)

Bogem Jassin di Muka Chairil

HB Jassin muda 

“JASSIN, dalam kalangan kita, sifat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.” Begitu isi surat Chairil yang dibaca Jassin dalam kereta ke Jawa Timur, 8 Maret 1944.

Si Kurus itu memang tak punya kerjaan. Hidupnya habis buat seni. “Jassin prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernword kernbeeld,” tulisnya di kartu pos dari Paron, Jawa Timur. Kernword kernbeeld, berarti: putih tulang.

Si Kurus bertahan pada egonya. Tapi, Jassin tetap memuat sajak itu di majalah Panji Pustaka, namun judulnya diganti jadi Semangat, biar tak ditangkap Jepang.

Tingkah Chairil bisa sangat menyebalkan. Kerap keluar-masuk semaunya di rumah atau kantor Jassin. Bila dia datang ke rumah Jassin, dan kebetulan Jassin tak ada, dia akan meminjam buku-buku atau mesin tik Jassin. Kadang kala dikembalikan, kadang juga tidak. Betapa kesal Jassin saat dia tak mengembalikan novel Belenggu. Sebab di pinggiran buku itu ada catatan-catatan Jassin. Kadang si Kurus ke rumah Jassin naik becak, dan begitu tiba, dia minta Jassin membayarnya.

Gara-gara sikap seenaknya itu, pernah Jassin memukul muka Chairil.

Ceritanya, Jassin ikut sandiwara Api karya Usmar Ismail di Gedung Kesenian Jakarta, tahun 1949. Di belakang, Jassin berusaha menghayati perannya sebagai seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker yang diperankan Rosihan Anwar.

Saat Jassin serius meresapi peran, entah kenapa si Kurus itu lalu-lalang di depannya, sambil mencibir. “Kau cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” Teriak si Kurus.

Konsentrasi Jassin pecah. Dia teringat pada esainya Karya Asli, Saduran dan Plagiat di majalah Mimbar Indonesia. Chairil tersindir esai Jassin itu. Walau esai Jassin pernah membela sajak Krawang-Bekasi dari tuduhan plagiat, tapi lagak si Kurus ini membuatnya kesal: hapalan naskahnya tak jadi-jadi sebab si Kurus mondar-mandir melulu.

Jassin pun panas.

“Saya juga bisa lebih dari itu!” Kata Jassin seraya berdiri. Lalu, tiba-tiba…Buk! Jassin meninju muka Chairil. Si Kurus terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” Teriak Usmar Ismail. “Jassin memukul Chairil,” jawab yang lain.

Mereka dilerai, Chairil didorong keluar. Si Kurus kaget, tak sangka Jassin —yang hampir tak pernah marah itu— bisa murka dan memukulnya.

Chairil tersinggung. Dia berputar, masuk lewat pintu depan, lalu duduk di muka panggung. Karena lampu dipadamkan, semula Jassin tak menyadarinya, tapi kemudian Jassin melihat si Kurus itu menunjuk-nunjuknya dari deretan penonton. Chairil mengancam mau bikin perhitungan dengannya.

Waktu berselang, Jassin dengar si Kurus kerap datang ke Taman Siswa, latihan angkat besi. Tubuh kurusnya hendak dia buat berotot. Setiap ditanya apa maksudnya latihan angkat besi. “Aku mau pukul si Jassin itu,” katanya.

Suatu sore, Chairil sudah berdiri di pintu rumah Jassin. Suasana menjadi tegang. Saat Jassin bersiap menghadapinya, tiba-tiba si Kurus bicara, “Jassin, aku lapar,” dengan gayanya yang seenaknya itu. Jassin tertawa, lalu diajaknya Chairil menuju meja makan.

“Setelah ini, aku siap menghadapimu,” kata si Kurus, lahap menyantap makanan yang disajikan Jassin.

“Jangan bicara jika lagi makan, bisa mati kau tersedak. Jika kau mati sekarang, tak akan sempat kau menghadapiku,” timpal Jassin menyodorkan air putih.

Chairil bukan tak butuh uang. Dia kena pukul Jassin karena ketersinggungannya atas esai Jassin terkait caranya menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok, Hsu Chih-Mo, berjudul Datang Dara Hilang Dara, dengan Chairil menerakan namanya. Karena itulah Jassin menyentilnya di esai Mimbar Indonesia.

Tahun 1945, sejak majalah Pantja Raja (pengganti Panji Pustaka) terbit, sajak Chairil mulai bertebaran. Namanya menjulang. Sayangnya, Chairil tak berubah. Si Kurus itu masih suka bertingkah.

Balai Pustaka dibekukan saat Aksi Militer Belanda pertama meletus, bikin Jassin jadi pengangguran. Jassin diajak Anjas Asmara ke Mimbar Indonesia.

Suatu hari, di ruang redaksi Mimbar Indonesia, pelukis Baharuddi datang dan bilang, “menurut Taslim Ali, ada kemiripan antara Krawang-Bekasi karya Chairil dan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeash.”

Jassin kecewa mendengarnya, walau dia mengaku belum membaca sajak MacLeash. Jassin lagi-lagi membela si Kurus. Lahirlah debat di antara para sastrawan. “Ini bahasa Chairil. Tak mungkin sajak ini plagiat. Rasa hidup yang tercermin dalam Krawang-Bekasi adalah rasa hidup Chairil,” bela sastrawan Balfas yang menyenangi karya Chairil.

Di karet/ daerahku yang akan datang/ sampai juga deru angin.

Beraninya si Kurus menulis itu dalam sajaknya. Jassin bahkan tak berani membayangkan daerah di mana dia nanti terbujur mati. Harapan itu dijawab Allah. Pada usia 27 tahun, sahabatnya itu, sudah berbaring tanpa nyawa. Kematian Chairil menyatukan solidaritas kaum Republik. Berbondong mereka mengiringi penyair itu ke TPU Karet Bivak.

Jumat pagi, 26 April 1949. Di atas delman, Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana, ikut iring-iringan pemakaman Chairil menuju Karet. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 43 / Th. IV / April 2013)


[Esai] Si Kurus Egois dan Menyebalkan

Jassin dan Chairil (#1)

Si Kurus Egois dan Menyebalkan

image_t6 

PERNAH ke Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin? Kalau sering ke Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, pasti tahu dong, ya?

PDS HB. Jassin adalah pusat dokumentasi kesusasteraan Indonesia, yang sedikitnya menyimpan 50.000 karya sastra: buku, kliping, surat pribadi, biografi pengarang, naskah film, cerita rakyat, majalah sastra, skripsi, makalah, hingga beragam karya sastra mancanegara. Koleksi disusun dalam map bertanda judul, tahun, dan pengarangnya.

Hasan Bague Jassin (1917-2000), tokoh sastra terkemuka Indonesia dikenal dunia. Paus Sastra Indonesia ini, adalah seorang penulis/sastrawan, dokumentator sastra, penerjemah, kritikus sastra, pembela sastra Indonesia. Di tangannya lahir para penyair dan cerpenis Indonesia. Jassin mengenalkan kepanyairan Chairil Anwar dan WS Rendra.

Banyak kisah unik di balik bersahabatan Jassin dengan Chairil.

Siang yang panas, di tahun 1943, Jassin sedang berada di kantor redaksi Balai Pustaka, saat seorang kurus, berambut masai, matanya merah, memasuki kantor itu. Di pintu, lantang dia teriak, “Hei, ini sajak saya!”

Jassin meminta orang itu mendekat. Darinya, Jassin menerima 10 lembar kertas bertulis tangan, lalu diamatinya sejenak. “Bagus sekali,” kata Jassin.

Nisan untuk Nenekanda: “Bukan kematian benar menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka maha tuan bertakhta.”

“Nisan untuk Nenekanda” itu satu dari 20 sajaknya, pendek-pendek pula. Ditera Oktober 1942. Menurut Jassin, 20 sajak itu cocok dimuat majalah Panji Pustaka, milik Armijn Pane. Tapi Armijn menolak karena sajak-sajak terlalu individualistik ke sosok pengarangnya, dan elemen kebarat-baratan tak tepat di saat Jepang mengampanyekan Asia Timur Raya. Sayang sekali, sajak itu bagus, menurut Jassin.

Pemuda kurus berambut masai, bermata merah yang galak, serta tak sopan itu adalah Chairil Anwar, seorang yang kelak dianggap tonggak kepenyairan modern Indonesia. Pertemuan Jassin dengan Chairil ini adalah awal hubungan selanjutnya. Jassin menyapa Chairil dengan ‘si Kurus’.

Pada sajak si Kurus itu, kentara pengaruh ekspresionisme. Intuitif, mengaum, mengguruh. Sajak yang diendapkan dan sublimatif. Jassin mengetik 20 sajak itu, lalu diberikan pada Sutan Takdir Alisjahbana, Mohammad Said, dan Sutan Sjahrir (paman Chairil). Tapi si Kurus tak rela naskahnya berlama-lama pada Jassin. “Jassin, aku minta sajak-sajak asliku.”

“Buat apa kau minta kembali salinan asli sajak ini?” Jassin mau menyimpannya sebagai dokumentasi. “Kau juga untuk apa menyimpan? Itu sajak aku punya.” Ketus si Kurus.

Jassin mengembalikan 20 naskah sajak Chairil itu. Tapi, hanya salinan itu saja yang pernah diminta Chairil, selanjutnya dia biarkan Jassin menyimpan semua sajaknya. Sajak Chairil bukan letusan semata. Dia tak puas sajak sekali jadi. Dia berkutat pada satu kata berhari-hari, baru dikombinasikan dengan kata lain. Dia pikirkan, rasakan, matangkan.

Pertemuan di kantor Balai Pustaka itu, adalah pertemuan kedua. Pertama mereka bertemu di Medan. Jassin melihat nama Chairil tertera di redaksi Ons MULO Blad. Saat itu, tulisan Chairil masih berbentuk prosa. Umur si Kurus 14 tahun, sedang Jassin 19 tahun.

Chairil jago tenis meja, hingga selalu yakin menang. Bila menang, dia berjingkrak, menjerit-jerit, dan bertepuk tangan.

Si Kurus itu suka bikin masalah. Suka berteriak-teriak semaunya, mengejek, sukar diatur. Menurut Jassin, si Kurus itu cerdas. Betapa lama dia endapkan sajak Aku sampai kemudian si Kurus itu bikin insiden di muka umum. Dia teriakkan dan tulis pertama kali sajak itu di papan tulis.

Pada 1943, terbentuk Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Armijn Pane dan para sastrawan sering bikin diskusi. Pada sebuah diskusi, Jassin giliran berceramah. Waktu itu, bertebaran slogan perang Asia Timur Raya Jepang, sehingga banyak pengarang terpengaruh sloganisme. Pada ceramahnya, Jassin bilang kalangan sastrawan harus memberikan semangat perjuangan melalui sastra. Dicontohkannya pada sajak-sajak Asmara Hadi.

Eh, tiba-tiba si Kurus itu mengejek. “Itu semua cuma teriakan-teriakan. Semua orang juga bisa bikin sajak seperti itu.”

Belum sempat semua orang bereaksi, si Kurus itu melompat ke depan, menghampiri papan tulis. “Inilah contoh sebuah sajak,” teriaknya lantang. Aku: Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang.

Sajak terkenal itu lahir di situ juga, di papan tulis itu.

Meledaklah debat panas. Chairil beranggapan, sajak Asmara Hadi tak keluar dari hati penciptanya. Jassin terdiam karena si Kurus itu benar. Melihat gaya debat Chairil, Rosihan Anwar berkomentar, “tapi kalau Saudara bersikap seperti itu, bisa mati digebuk orang.”

Tingkah si Kurus seenaknya. Bicaranya lantang saat mengkritik orang, sambil mengangkat kaki pula. Datuk Modjoindo dan Tulis Sutan Sati tak suka sikapnya. “Siapa anak muda yang bertingkah itu? Gantung saja dia,” kata Datuk Modjoindo dengan muka sebal.

Siapapun, tak akan mudah menyenangi tingkah Chairil. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 42 / Th. IV / 25 Februari – 24 Maret 2013)


%d blogger menyukai ini: