Category Archives: Debate

[Kristologi] Fakta Seputar Perubahan Bible

Cuyut Kaka menulis pada 28 Oktober 2009

Salah satu prestasi paling penting para ulama Islam masa awal adalah pengembangan ajaran pada titik pandang yang luas, dalam mana masa lampau Yahudi dan Kristen telah mengkorupsi atau mengubah kitab suci mereka.

Pengubahan ini dilakukan tidak lama setelah kitab Taurat dan Injil yang sebenarnya (asli) diterima oleh Nabi Musa dan Nabi Isa secara berturut-turut. Hal ini memudahkan bagi umat Islam untuk menepis berbagai argumen dari umat Kristen yang didasarkan atas kitab Bibel.

Klaim bahwa ajaran Kristen ini telah dikorupsi atau “berubah”—tahrif—diketemukan di dalam Al-Qur’an. Ada empat ayat Al-Qur’an yang memakai kata yuharrifuna yang merupakan bentuk kata kerja dari kata tahrif sebagai masdarnya.

Pengujian ini menunjukkan bahwa keempat ayat itu tidak mengandung pengertian sebagai perubahan ajaran yang universal. Dalam terjemahan “mengubah” atau “mengganti” digunakan untuk mengalih bahasakan kata yuharrifuna itu.

“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS.2:75).

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah (arti kata untuk menambah dan mengurangi) perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah”, sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.” Dan (mereka mengatakan): “Ra’ina” (sudilah kamu memperhatikan kami) dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis” (QS.4:46).

“Tetapi karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dan tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan mereka kecuali sedikit yang tidak berkhianat, maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS.5:13).

“Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekufurannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan juga di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi) itu amat suka mendengarkan berita bohong dan amat suka mendengarkan perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepadamu, maka terimalah dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah.” (QS.5:41).

Frase yang samar-samar “mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya” dengan sengaja digunakan, sebab kata Arab mawadhi dapat berarti “tempat” atau “tujuan.” Akhir dari ayat-ayat di atas kemungkinan memberi preferensi yang agaknya menganggap rendah “tempat-tempat” sebagai suatu perubahan, karena secara literer “mengubah kata-kata dari tempat-tempatnya”, dan ini dapat berarti “ke tempat-tempatnya (tujuan-tujuannya) pada keadaan-keadaannya.”

Akhir dari ayat-ayat di atas juga nyaris bermakna misterius dan tidak meyakini ketentuan “kesimpulan-kesimpulannya” yang diberikan pada komentar-komentar tersebut, namun arti ini tidak relevan digunakan di sini. Penting untuk dicatat bahwa perubahan ini adalah hal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi Madinah yang sezaman dengan Nabi Muhammad dan kesan ini diberikan hingga apa yang mereka rubah itu hanyalah ayat-ayat (surat-surat) tertentu dan bukan Taurat yang sesungguhnya.

Manuskrip-manuskrip Bibel masih tetap ada sebelum Muhammad, namun secara absolut tidak dikatakan di dalam Al-Qur’an hingga di satu waktu seluruh kitab Bibel itu telah dirubah di masa lampau sebelumnya. Maka tidak ada kolusi yang dilakukan antara orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi yang terpenting dalam rangka mengubah kitab Perjanjian Lama.

Perlu juga dicatat bahwa contoh-contoh yang diberikan pada Al-Qur’an 4:46, bukan kutipan dari Bibel melainkan trik-trik verbal yang dimainkan oleh orang-orang Yahudi Madinah atas kaum muslimin.

Contoh pertama di atas itu adalah memperbaiki umat Islam dengan mempergunakan kesamaan pendengaran antara orang Yahudi “kami mendengar dan menuruti” (sami’u wa ‘ashinu) dan bahasa Arab menyebutkan sami’na wa ashayna.

Contoh kedua adalah tidak jelas dan cenderung menyimpang.

Contoh ketiga, Al-Qur’an rupanya hendak menyetop orang-orang Yahudi yang mengatakan: “perhatikanlah kami” (ra’ina), sebab menyerupai perjalanan orang Yahudi kepada “kejahatan” (ra’). Maka di sini jelas tidak ada yang menjelaskan perubahan terhadap kitab suci atau ajaran kitab suci.

Tuduhan lain dilakukan Al-Qur’an untuk menyerang orang-orang Yahudi Madinah karena mereka ini telah merubah teks Taurat pada saat mereka menceritakan ayat-ayat tersebut kepada umat Islam dengan “memutar-mutar lidah mereka.”

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, padahal dia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS.3:78).

“Mereka berkata telah menyalin ayat itu secara benar ketika menyebutkan salinan-salinan itu ternyata untuk menyalahkan: Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS.2:79).

Kemungkinan perubahan-perubahan itu dilakukan dalam penuturan dan salinan yang ditunjukkan pada saat Al-Qur’an menyatakan “membuat kesalahan terhadap Tuhan” pada sejumlah ayat-ayat.

Hal ini menjadi jumlah total materi Al-Qur’an yang relevan dengan persoalan pemalsuan kitab agama Yahudi dan kitab agama Kristen. Ini juga berarti tidak mendukung pandangan mereka yang secara ekstensif telah dirubah di masa lampau sebelum masa manuskrip-manuskrip kita. Bahkan ini hanya menjadi bentuk pandangan yang dapat dipercaya dalam cahaya evidensi manuskrip.

Sejauh tidak ada studi terinci dimana ajaran kitab suci yang diubah ini dielaborasi, maka segeralah sang komentator, Mujahid (meninggal tahun 721 Masehi), sebagaimana yang dikisahkan oleh Thabari, rupanya telah mengambil pandangan bahwa ayat-ayat yang menggunakan kata yusharifuna di atas secara implisit menyatakan perubahan umum terhadap kitab suci taurat.

Petunjuk awal lain yang dilaporkan oleh Catholicos Timothy dalam diskusi-diskusinya tentang Khalifah al Mahdi kira-kira tahun 781 Masehi. Khalifah al Mahdi mengatakan adanya perubahan umum terhadap kitab suci dan khususnya menjelaskan penghilangan ayat-ayat yang meramalkan akan datangnya Muhammad sebagai Nabi. Pernyataan ini secara implisit menjelaskan terjadinya perubahan teks kitab suci secara aktual.

Akhimya ada dua bentuk ajaran pokok dalam perubahan ini. Banyak ilmuwan mempertahankkan pendapat bahwa telah terjadi perubahan besar-besaran atas teks kitab suci. Suatu pandangan yang telah lama dijelaskan secara terinci dan dibela oleh Ibn Hazm (meninggal tahun 1064 Masehi). Kendatipun demikian, ilmuwan-ilmuwan lain mengambil pandangan yang lebih ringan dan berpegang dengan pendirian bahwa bukannya teks melainkan hanya penafsirannya yang telah diubah. Rupanya pandangan terakhir ini adalah pandangan yang diadopsi oleh al-Qasim Ibn Ibrahim (meninggal tahun 860 Masehi) dalam “Sanggahan Umat Kristen.”

Ada pula pandangan-pandangan yang bersifat tengah-tengah. Tidak adanya persetujuan terhadap apa yang tepat, dimaksudkan bukan oleh materi perubahan yang dilakukan. Agaknya cukup untuk mengatakan kepada seorang Kristen “kitab suci anda telah berubah dari aslinya atau palsu” dan itulah argumen yang disangkal.

 

Fungsi Persepsi yang Kurang Memadai

Dari berbagai ayat yang dikutip dan komentar-komentar yang dilakukan atas ayat-ayat tersebut, jelas bahwa bagi seorang modern persepsi Al-Qur’an terhadap Kristen itu secara serius kurang cukup kuat dan dalam beberapa hal malah boleh jadi salah atau keliru. Namun begitu, ada hal yang penting bahwa Kristen hari ini tidak perlu mengambil ini sebagai alasan untuk mengingkari bahwa Muhammad itu diberi petunjuk oleh Allah.

Apa yang menjadi penting adalah pertimbangan ulang tentang hakekat kenabian. Hal ini penting terutama sekali bagi umat Islam, karena menurut pandangan Islam tradisional Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan sulit untuk melihat betapa kesalahan-kesalahan yang terjadi itu dapat dikembalikan kepada Allah. Solusi terbaik dengan adanya problem ini bagi umat Islam yang berfikir dengan gaya tradisional itu kemungkinan hendak mengatakan bahwa Allah berfirman dalam terma-terma yang dipercayai di Madinah.

Menurut para ahli teologi Kristen terkemuka dewasa ini, nabi/rasul adalah seorang yang membawa pesan-pesan risalah dari Tuhan kepada umat manusia pada ruang dan waktu dimana ia hidup. Sejauh tentang persoalan-persoalan manusia universal yang terlibat pada ruang dan waktu yang khusus ini, pesan-pesan tersebut akan relevan dengan sedemikian banyak lingkungan manusia yang lebih luas.

Namun di tempat pertama nabi/rasul hidup ini, mereka adalah orang-orang yang sezaman langsung bagi tiap-tiap nabi. Isa sendiri berkata: “aku dikirim hanya untuk cara hidup yang sesaat dari Bani Israel” (Matius: 15: 24), akan tetapi setelah kebangkitannya kembali pengikut-pengikut Yesus itu segera dikatakan bahwa pesan-pesan Yesus ini adalah pekabaran yang baik bagi orang-orang yang bukan Yahudi (kafir), begitu pula merupakan pekabaran yang baik bagi orang-orang Yahudi. Meramalkan masa depan acapkali dipandang sebagai aspek ramalan, akan tetapi kebanyakan ramalan-ramalan kenabian itu terutama agaknya berada pada titik konsekuensi-konsekuensi sikap kekinian dengan jalan hukuman atau pahala. Masalah ini agaknya akan dibicarakan lebih lengkap lagi pada bab yang akan datang.

Agaknya Al Qur’an menyatakan relevansinya yang paling utama kepada bangsa Arab di masa Nabi. ***

Iklan

[Kristologi] Jackz Michael: Yesus Bukan Tuhan

Seseorang bernama Jackz Michael menulis pada 13 November 2009.

Jackz mengaku sebagai seorang Nasrani, namun sama sekali tidak percaya jika Yesus adalah Tuhan. Jackz tetap pada keyakinannya bahwa Yesus hanyalah nabi/rasul, sama seperti nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya. Jackz memposting tulisan ini, sekadar untuk membantah pemahaman keliru kawan-kawannya. Paling tidak ini pendapat dari sisi Jackz Michael.

Posting berikut dimuat sesuai sejatinya. Saya hanya memperbaiki letak “huruf” yang keliru, dan “spasi” yang berlebih atau hilang. Tidak ada makna dan maksud yang berganti karena perbaikan tersebut. Berikut.

Jackz Michael menulis pada 13 November 2009

Untuk semuanya. Walau saya berkeyakinan dan beriman Nasrani tapi buat saya Yesus adalah nabi/rosul Allah. Sudah banyak buku yang saya baca.

Kristen itu ada sekitar 20.000 sekte/golongan? (Michael Keene, Agama-agama Dunia). Yang mana dalam setiap golongan itu terdapat banyak sekali perbedaan-perbedaannya & pertentangan-pertentangannya yang sering membuat mereka bertikai bahkan saling menyerang?

Sekte terbesar (dalam segi jumlah pemeluk) dalam Kristen adalah : Katolik Roma, Protestan, dan Ortodoks, yang masing-masingnya juga masih dibagi lagi dalam banyak sekte. Misalnya dalam Protestan pemeluk terbesarnya adalah sekte gereja Anglikan. Perbedaan-perbedaan yang ada antara kami juga sangat banyak, dari yang menyangkut tata cara ibadah sehari-hari sampai masalah konsep yang fundamental seperti masalah ketuhanan & kitab suci.

Misalnya dalam penentuan tanggal hari Natalpun kami juga berbeda, misalnya gereja Ortodoks Rusia merayakan natal pada tanggal 6 Januari, ada juga sekte yang berhari natal tanggal 1 Januari. Sementara aliran Katolik Roma & Protestan yang ada di Indonesia umumnya Natalan tanggal 25 Desember. Contoh lain yang juga mudah dilihat misalnya jumlah kitab dalam Bible Katolik (Duoy version) berbeda dengan Bible Protestan (banyak memakai King James version).

Katolik menganggap kitab Tobit s/d Makabe adalah termasuk firman Tuhan dan karenanya disertakan dalam Alkitab. Sedangkan Protestan tidak menggunakan kitab-kitab itu karena dianggap bukan firman Tuhan, dan karenanya kitab-kitab tersebut dikeluarkan dari Alkitab sewaktu revolusi Protestan dulu, dan hingga sekarang tidak dipakai lagi (saya tahu pasti hal ini karena saya juga punya beberapa versi Alkitab dalam bahasa Indonesia & Inggris).

Tahukah bahwa ada sekte-sekte Kristen yang tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan? Beberapa yang kami tahu ada sekte kristen Saksi Yehovah (The King of Pop, Michael Jackson menganut ini) yang sangat terkenal di Amerika, ada sekte Kristen Unitarian yang banyak di Timur Tengah & Eropa, dan bahkan di Indonesia ada Kristen Tauhid & Kristen Ibrahimik yang kami semua tidak menganggap Yesus sebagai Tuhan!

Bahkan dalam sekte Kristen yang menuhankan Yesus seperti Katolik Roma & banyak sekte Protestan, sebenarnya juga banyak pemeluknya yang sesungguhnya tidak benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini terutama terlihat di negara-negara barat yang orang-orangnya lebih terbuka dalam mengemukakan pendapatnya. Ada banyak angket-angket tertutup yang membuktikan hal itu.

Kebanyakan dari kami umumnya memendam saja pertanyaan itu di hati karena takut dibilang kafir atau murtad kalau bertanya ke pendeta/pastur. Beberapa dari kami yang bertanya juga hanya dapat jawaban bahwa mereka cuma harus percaya karena iman, sebab dengan imanlah kami akan diselamatkan (inilah yang saya bilang beragama dengan doktrin, hanya harus percaya saja, tidak boleh berpikir, berpendapat, apalagi membantah!).

Banyak sekali buku-buku dari para ahli teologi yang mengulas tentang bagaimana kekristenan itu sebenarnya, termasuk menyatakan bahwa Yesus memang bukan Tuhan. Hal inilah yang kemudian memunculkan istilah “Yesus sejarah” dan “Yesus dalam iman” untuk dapat mengakomodir dua pendapat kami yang berlawanan itu. Di satu sisi, para ahli teologi, ahli sejarah kristen, dan kami yang mempelajari kekristenan, menyatakan kalau Yesus bukanlah Tuhan, dan kami berupaya menjelaskan sejarah kekristenan yang sebenarnya yang tidak pernah diberikan pada kami di gereja.

Mereka selain mempelajari Alkitab secara obyektif, mempelajari sejarah kristen, dan bagi tingkat-tingkat tertentu, mendapat akses membaca salinan naskah tertua kitab-kitab dalam Bible Kristen (yang tertua berasal dari abad ke 4, abad dimana berlangsung konsili Nicea yang penuh kontroversi itu).

Sedangkan di sisi lain, para pendeta, pastur, dan misionaris gereja mengajarkan kami di gereja bahwa Yesus itu adalah Tuhan, Yesus adalah putra Tuhan…, bahwa yang menulis Bible adalah para murid Yesus yang 12 itu…, bahwa tidak ada kitab-kitab lain selain yang tercantum dalam Bible…, bahwa kitab-kitab itu hanya ada satu versi yang sudah final dan tidak berubah sejak abad pertama…, bahwa tidak pernah ada pemaksaan keji oleh kerajaan & gereja terhadap orang untuk menganut agama kasih ini seperti yang terjadi saat peristiwa Inkuisisi di Eropa…, bahwa tidak pernah ada pembakaran hidup-hidup sekian banyak wanita dengan tuduhan tukang sihir oleh gereja tanpa diadili…, bahwa tidak pernah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang Islam & Yahudi di Yerussalem saat perang salib pertama yang penyerangannya dicetuskan oleh seorang Paus…, dan lain-lain, dan lain-lain… yang semua itu disebutkan berbeda dalam buku-buku resmi sejarah kristen yang juga dijual di toko-toko buku.

Jadi dalam ajaran kami, Kristen, istilah Yesus sejarah & Yesus dalam iman itu adalah untuk menunjukkan kalau sisi sejarah Yesus & kekristenan memang diakui seperti itu, tapi hanya dalam sejarah. Sedangkan dalam iman kami, artinya yang harus diimani, adalah Yesus dalam iman, yaitu segala sesuatu tentang Yesus & kekristenan yang sesuai ajaran gereja yang ironisnya bertentangan dengan Yesus sejarah. Walaupun kedengarannya sangat aneh, tapi hal ini adalah benar terjadi, dan banyak diulas di buku-buku Kristen. Anda bisa buktikan sendiri.

Sebagai sebuah contoh, kalau besok anda berkunjung ke toko buku Gramedia yang cukup besar dideretan buku laris mungkin akan anda temui buku best seller dari Bart D. Ehrman (kepala fakultas kajian agama di University of Carolina di Chapel Hill – Amerika Serikat) yang berjudul Misquoting Jesus, kesalahan penyalinan dalam kitab suci Perjanjian Baru, kisah siapa yang mengubah Alkitab dan apa alasannya (judul buku aslinya : Misquoting Jesus, The Story Behind Who Changed the Bible and Why). Saya juga melengkapi “perpustakaan” saya dengan buku itu.

Buku itu dibuka dengan kisah menyentuh dari si penulis dalam pertarungan batinnya saat melanjutkan kuliah kependetaannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan memasuki sebuah sekolah Evangelist terkenal di Amerika yaitu Wheaton College di Chicago yang adalah juga almamater dari Billy Graham, seorang penginjil terkenal dari Amerika. Konflik batin yang besar telah mengguncangnya saat menemui kenyataan yang sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia terima di gereja & sekolah pendeta tentang kekristenan, dimana ia di sana mendapat akses untuk melihat naskah-naskah tertua (yang sebenarnya hanyalah salinan, sedang yang tulisan asli sudah tidak ada) yang sangat jauh berbeda dengan yang ia baca di Bible yang beredar sekarang ini, termasuk dalam topik ketuhanan Yesus. Di buku itu ia mengungkapkan semua yang ia ketahui yang kini telah mengubah semua persepsinya tentang kekristenan, khususnya berdasarkan sejarah penulisan kitab sucinya. Coba saja anda cari, sekitar 2 minggu yang lalu saya masih melihatnya di toko buku.

Jadi pada kami, umat Kristen ada banyak golongan yg mempunyai pandangan berbeda-beda tentang kekristenan, termasuk tentang ketuhanan Yesus. Saat Dan Brown diwawancarai & ditanya, sebagai orang kristen, kenapa anda menulis buku seperti itu yang banyak dikecam orang kristen lain? Ia menjawab bahwa ketika anda bertanya pada 3 orang kristen tentang apa arti kekristenan, maka anda akan mendapatkan 3 jawaban yang berbeda.

Sepertinya yang ia maksudkan adalah: sah-sah saja kalau ia punya pandangan demikian walaupun berbeda dari pandangan sekte-sekte besar, karena mungkin dalam sekte kristen yang ia anut (banyak yang mengira ia adalah seorang penganut sekte kristen Gnostik yang oleh sekte-sekte besar seperti Katolik Roma dianggap menyimpang) hal yang ia kemukakan dalam bukunya itu adalah bukan hal yang salah. Apalagi Brown menyatakan kalau sebelum menulis buku itu ia telah mengadakan serangkaian riset yang panjang dengan tim-nya & mengadakan perburuan data ke sumber-sumber yang otoritatif sehubungan dengan topik dalam bukunya itu.

Saya sepenuhnya bisa memahami Brown, sebab kami mengikuti ajaran yesus. Tidak merayakan natal, mayat dibungkus kain bersih.Yesus bukan tuhan, dll. []


Eksistensialis Tidak Sama dengan Atheis

Dalam debat dengan Bung Kevin.

Kevin memberi pemahaman penuh kepada peserta diskusi bahwa Atheisme sudah tumbuh dan berkembang sejak lama. Bahkan, eksistensialisme, mendukung pemikiran-pemikiran atheisme.

Saya sepenuhnya tidak sepakat ketika itu, maka lahirlah bantahan ini. Berikut.

Cogito ergo sum… ini ungkapan Descartes, seorang yang dianggap bapak eksistensialis. Cogito ergo sum… atau “aku berpikir maka aku ada” adalah angkapan yang dipetik oleh para etheis untuk menyatakan eksistensi mereka. Padahal, Descartes sendiri, tidak menyatakan hal ini untuk memberi para etheis sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi mereka.

Maka Descartes pun menolak olok-olok para filsuf eropa pada dirinya; “Descartes adalah sosok ambigu, sebelah kakinya berdiri pada kami kaum filsuf, sebelah kakinya yang lain berdiri bersama kaum atheis.”

Descartes pun menulis penolakan keras bahwa eksistensialis bukanlah atheisme. Descartes menulis; Eksistensialis adalah jawaban keberadaan seseorang setelah penciptaan. Sebuah bentuk penegasan bahwa dia ada karena berpikir. Sederhananya, seseorang baru dapat dianggap ada (eksis) jika berpikir, menggunakan otaknya (berpikir = hidup), sedang para atheis bertolak belakang dengan asumsi ini.

Demikian, Descartes menjawab olok-olok terhadap dirinya. Para Atheis, menurutnya, tidak dapat mewakili maksud eksistensialis. Kaum atheis adalah kaum yang malas berfikir, sehingga bisa dianggap tidak eksis. Kaum yang selalu bertanya-tanya tentang keberadaannya, bertanya tentang keberadaan adanya faktor X dibalik keberadaannya, kaum yang selalu bertanya siapa mereka, kaum yang selau bertanya alasan apa dibalik penciptaan manusia. Bagaimana kaum ini bisa mewakili eksistensialisme, jika saat disodori hal-hal yang bersifat eksistensial, mereka mendebat dengan pertanyaan-pertanyaan dasar…

@kawan-kawan…(Khususnya Bung Kevin)

Bagaimana bisa seseorang yang mengaku PhD. (seperti Anda) menanyakan hal-hal dasar yang seharusnya telah dipecahkannya, difikirkannya. Seseorang yang seharusnya berpikir linear dengan jutaan referensi, tanpa menutup diri dari referensi-referensi dasar yang telah ada. Jika Descartes saja dengan lantang menolak upaya para Atheis bersembunyi dibalik pesan Eksistensialis, dengan menganggap para atheis tidak ada (alias tidak eksis) kenapa pula masih ada orang (diantara kita) yang mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan sesuatu yang tidak eksis. Bukankah orang yang “tidak berfikir” equal dengan “tidak eksis” equal dengan “mati”?

Je pense donc je suis…” aku berpikir maka aku ada, kata Descartes.

Tragedi terhebat dalam hidup ini adalah kematian di dalam diri seseorang yang sesungguhnya masih hidup.” quote by Donald Robert.

“Bila bertemu seorang atheis, dan dia mendebat keyakinanmu, ingatlah satu hal; bahwa di tempat lain ada banyak orang yang sudah bosan mendengar ocehannya.” quote by F.S.Shulda.


Menjawab Ke-Atheis-an Bung Kevin

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Artikel berikut, adalah jawaban saya terhadap keraguan Bung Kevin akan agama-agama yang dia manifestasikan dengan membuka diskusi berjudul “Penganut Islam dan Kristen adalah Orang Bodoh”. Dalam forum diskusi itu, secara terang-terangan, Kevin menyebut dirinya sebagai Atheis Sejati.

Ketika memenuhi undangan Kevin—entahlah ini nama aslinya atau hanya samaran—saya benar-benar “terganggu” dengan pernyataannya, bahwa para penganut agama-agama adalah sekumpulan orang-orang bodoh dan dungu. Tidak sedikit kawan-kawan yang berdiskusi ketika itu, sangat marah dan mulai mengutuki Kevin. Reaksi yang wajar.

Ketika tiba giliran saya menanggapinya, maka saya menulis sanggahan berupa artikel ini. Sanggahan saya akan pemahaman Atheisme saudara Kevin, meng-inti pada, bagaimana melihat posisi agama bagi para pemeluknya; bagaimana keutamaan/keunggulan agama terhadap atheisme; keutamaan orang yang beragama dari pada yang atheis; dan bagaimana posisi agama di sisi ilmu pengetahuan; serta apa keunggulan orang yang melandaskan fikir keilmuwanannya pada fundamen agama, ketimbang yang tidak sama sekali.

Berikut sanggahan saya dalam diskusi tersebut.

=========================

Memang sukar menerima pesan agama dalam hidup. Terlebih bagi orang-orang apatis yang merasa segala sesuatu yang tampak di depan matanya, lebih memiliki nilai ketimbang hal-hal unik dibaliknya. Orang apatis seperti Anda, selalu merasa bahwa segala sesuatu dapat didudukan dan dijelaskan dengan nalar, walau sadar atau tidak, penjelasannya kadang meleset atau bahkan keliru sama sekali.

Saya tidak ingin menghakimi siapapun, terlebih bung Kevin yang saya anggap saat ini belum mengerti (atau sukar mengerti).

Bung…tidak selalu segala sesuatu bisa dijelaskan dengan nalar yang tepat. Kemarin, saya baru menanggapi tentang balancing dalam hidup, sekarang mari kita berdiskusi (menurut Anda ini berdebat? Menurut saya kita belum berdebat!) tentang lahirnya pemikiran nalariah.

Bagaimana sesuatu yang konkrit sangat dipengaruhi hal-hal yang absurt, atau bahkan pemikiran empirik dilandasi dari hal-hal yang absurdisitasnya masih belum terpecahkan sama sekali hingga saat ini. Bahkan oleh orang-orang yang lebih cerdas dari kita-kita sekarang ini.

Mari bung…

Pernahkah kisah lama ini mampir ditelinga Anda. Bagaimana seorang Galileo kebingungan setelah membaca apa-apa yang tertulis dalam bibel tentang alam semesta. Sementara saat itu fakta-fakta empirik tak satupun yang bisa menjelaskan kondisi atau bentuk alam semesta di luar dunia yang kita pijak.

Informasi dan ilmu dasar dalam bibel-lah yang mendorong Galileo menciptakan monoculer (teleskop sederhana), yang kemudian digunakannya sekadar untuk meneropong bulan, yang kemudian melahirkan teori bahwa bumi ini bulat. Pemikirannya itu oleh kalangan gereja dianggap bi’dah/menyesatkan, yang memaksa gereja mengambil tindakan atas dirinya berupa hukuman. Kelak kemudian hari, gereja memulihkan nama baiknya karena kesalahan ini, dan memberi pengakuan penuh atas usaha Galileo.

Mari kita bedah kisah ini. Ilmu pengetahuan yang dibaca Galileo dalam bibel-nya (atau kitab manapun) sesungguhnya adalah manifestasi dari ilmu yang sangat luas. Manusia Galileo telah menggenapkan pertanyaannya dengan jawaban yang telah ada dalam bibel. Penjelasan ringkas dalam bibel menyebabkan kalangan gereja terpaku dalam pakem yang sukar mereka jabarkan hingga kemudian Galileo menemukan metode untuk menjabarkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak orang gereja.

Apakah yang termaktub dalam bibel tentang penciptaan, alam semesta dan sang pencipta adalah bohong? Tentu tidak. Sebab itu wahyu dalam Taurat (Islam menghormati ini).

Ketika orang gereja memanifestasi tentang apa yang mereka baca, maka mereka memanifestasikannya dengan iman. Bahwa “Allah menciptakan alam semesta dan menumbuhkan kehidupan diatasnya dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya”, dimanifestasikan secara imaniah bahwa bumi (alam semesta) adalah datar, namun Galileo memanifestasikan kalimat yang sama dengan pertanyaan besar: Benarkah demikian? Bukankah jika sebuah ujung yang satu dipertemukan dengan ujung yang lain, maka akan membentuk sebuah sirkular? Maka dengan tingkat imaniah yang sama Galileo berupaya keras membuktikan apa yang dia pahami dalam bibel sebagai bentuk jawaban yang lain. Dengan monoculer ciptaannya, dia menemukan kebenaran bahwa bumi sama seperti bulan. Bulat.

(Ini linear dengan penjelasan ilmiah: bahwa dalam kondisi hampa semua benda cair akan membentuk bulatan, equal dengan massa air raksa di udara terbuka, equal dengan air di atas daun talas.) Tapi bumi bukan air semata, bagaimana bisa dalam kondisi hampa sebentuk benda solid bisa tiba-tiba berbentuk bulat? Apakah sebelumnya bumi itu kotak?

Dalam kitab-kitab (khususnya Al Quran) dikatakan bahwa Allah dalam periodik penciptaan sebelum manusia lebih dulu menciptakan planet-planet dan menetapkan kedudukan benda-benda tersebut dalam lintasannya masing-masing. Itu artinya, planet-planet dan benda-benda langit lainnya memang tidak dalam bentuk lain ketika diciptakan. Maka ketika diciptakan sampai ditemukan fakta tentangnya dan sampai hari ini, planet-planet telah bulat, tidak pernah berubah-ubah.

Ini searah dengan teori-teori para ilmuwan yang menyebut alam semesta tercipta dari berbagai elemen yang terdapat dalam cosmis yang berkumpul, menyatu. Pemicunya, menurut mereka, adalah big bang, black hole, kematian matahari, dan lain sebagainya.

Periodik selanjutnya adalah penciptaan mahluk (manusia, tumbuhan, dan hewan). Pertanyaannya; Lalu bagaimana manusia, tumbuhan, dan hewan ada di bumi sebagai mahluk?

Dalam kitab-kitab, ayat genesis dalam injil, dan banyak ayat dalam Al Quran, telah dengan konkrit dijelaskan bagaimana proses penciptaan manusia lelaki pertama Adam dan manusia perempuan pertama Hawa. Tentang bagaimana mereka diciptakan, tidak perlu saya jelaskan kembali (Silahkan bung kevin membacanya sendiri).

Namun, dijelaskan pula dalam Al Quran bahwa Allah membentuk tubuh adam dari tujuh jenis tanah yang ada di tujuh tempat berlainan di bumi, yang sebagian besarnya adalah berjenis lempung (tanah liat). Tidakkah proses ini mirip dengan proses pembentukan alam semesta beserta planet-planet, tentang menyatunya berbagai elemen membentuk sebuah benda dalam ruang hampa.

Setelah Allah membentuk Adam, lalu ditiupkan padanya ruh (nyawa) agar Adam bisa hidup dan bergerak. Lihat kembali. Tidakkah proses peniupan ruh ini, mirip dengan proses ketika Allah menciptakan manusia, tumbuhan dan hewan dan menempatkannya di bumi? Bukankah manusia, tumbuhan dan hewan adalah ruh bagi bumi, yang tanpa ketiganya bumi hanyalah seonggok benda langit yang mati. Bung Kevin bisa membayangkan tanpa ketiganya, bagaimana kondisi bumi. Gersang, tak ada aktivitas alias mati.

Lebih lanjut kitab menjelaskan; Lalu Allah mengajarkan pada manusia Adam dengan berbagai ilmu dengan perantaraan kalam (alat tulis). Pada tingkat selanjutnya, bukankah dengan ilmu yang dimiliki manusia menjadikan bumi lebih hidup. Silahkan membayangkan, bagaimana jadinya bumi jika manusia yang ada di dalamnya tidak menggunakan ilmu untuk membuat peralatan yang dapat memudahkan pekerjaan mereka. Mungkin jika tanpa ilmu, bumi hanya berisi sekumpulan daging yang bergerak kesana-kemari, tanpa busana, tidak bicara, tidak melakukan apapun, kelaparan lalu mati.

Kalangan atheis, macam Charles Darwin (dan Anda), justru melontarkan hal-hal yang tak masuk akal (teori gagal), semisal bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Hal ini justru sangat sulit dinalar. Bagaimana bisa seekor kera berubah menjadi seorang manusia. Bagaimana bisa seekor hewan yang berjalan jongkok (karena bentuk tulang belakang dan tungkai paha yang pendek) bisa menjadi manusia yang berjalan tegak kerena memiliki tulang belakang dan tungkai paha yang panjang (hingga tak perlu menekuk dan membungkuk-bungkuk).

Lalu bagaimana C. Darwin dan kalangan atheis lainnya (atau mungkin juga Bung Kevin) bisa menjelaskan mengapa setelah manusia ada dalam bentuknya yang sekarang ini, si kera masih saja ada berkeliaran di hutan-hutan? Bukankah mereka seharusnya segera melaksanakan tugasnya; segera berubah menjadi manusia? (Hehehe…kok saya jadi geli sendiri…)

C.Darwin saja yang memulai teori gila ini, gagal menemukan jawaban (sebagai efek samping dari pernyataannya sendiri) tentang terputusnya jalinan evolusi hingga kera menjadi manusia. Dunia mengolok-olok Darwin dengan menyebut kehilangan itu sebagai missing link (mata rantai yang hilang). Bukankah kegagalan ini membuat Darwin belum tuntas menyelesaikan teorinya? Apa pantas dia disebut penemu teori ini dan itu? Darwin belum pantas disebut penemu teori apapun; karena tidak pernah penyelesaikan apa-apa.

Menurut saya, sesungguhnya segala sesuatu yang disebut—si atheis masonis—Darwin itu tentang pohon kekerabatan, rantai evolusi adalah ilusi belaka. Sebab Allah telah menciptakan mahkluk dalam wujudnya dan sifatnya masing-masing. Artinya, manusia ya manusia, kera ya kera, yang satu berbeda dari yang lain, dan yang satu tidak pernah berubah menjadi yang lain.

Menurut saya, Allah telah menciptakan semua jenis mahkluk yang kita kenal sekarang (baik yang sudah punah atau yang belum). Selain manusia (homo sapiens), Allah juga menciptakan kera, monyet, simpanse (dan ribuan golongan macaca lainnya). Allah juga menciptakan mahkluk-mahkluk yang dikenal dunia ilmu pengetahuan sebagai homo wajakensis, homo africanus, homo cromagnon, homo soloensis, dan banyak jenis lainnya. Semua mahkluk ini pernah hidup dalam satu waktu secara bersamaan. Alamlah yang menyeleksi jenis-jenis mana saja yang mampu bertahan hidup.

Saya lebih sepakat dengan Lamarck yang melandaskan teorinya dari alkitab, tentang yang kuat akan terus hidup dan yang lemah akan mati (seleksi alam). Ah…ternyata Lamarck lebih cerdas dari Darwin…

Berbagai peristiwa alam yang terjadi dalam jutaan tahun memunahkan banyak jenis, hingga menyisakan mahkluk-mahkluk terseleksi yang bisa kita temui saat ini. Lalu bagaimana mahkluk-mahkluk yang ada sekarang bisa bisa lolos dari seleksi alam? Jawabannya gampang sekali; mereka menggunakan akalnya untuk bertahan hidup, menghindar dari bahaya.

Saat ini pun dengan mata kepala sendiri kita bisa dengan jelas melihat bagaimana seleksi alam bekerja. Di depan hidung kita sendiri, puluhan species hewan telah punah hingga menyisakan hewan tertentu saja. Jutaan species tanaman telah punah. Bahkan puluhan etnis (manusia dalam golongan berlainan) punah diberbagai belahan dunia karena tidak mampu bersaing dengan etnis manusia lainnya (dikenal sebagai genosida).

Dari jutaan tahun ini, species manusia yang berhasil bertahan hidup dari gempuran seleksi alam, hanyalah dari jenis mongoloid (ras kuning), africanus (ras hitam), cromagnon (ras putih), kaukasian (ras pegunungan), arabian dan israelian (ras gurun). Ah…ternyata Darwin tidak lebih cerdas dari saya…hahahaha.

Kalangan atheis (dalam puluhan tahun ini) baru tiba pada pemahaman bahwa bentuk kelahiran dari manusia adalah manifestasi dari percampuran dua jenis manusia lain, lelaki dan perempuan (sperma dan indung telur), yang melahirkan sebuah bentuk kelahiran baru. Cuma itu, dan hanya itu. Kalangan ini tidak mau meluaskan pemahamannya, bahwa dari entitas lelaki dan perempuan, ada entitas yang mengawali, yakni Adam dan Hawa.

Ini hal yang ironis…sebab apa yang berusaha dipahami dan dipegang teguh kalangan atheis, telah tersedia jawabannya dalam agama (kitab-kitab). Dalam ayat yang berbeda, Allah juga telah menjelaskan menciptaan manusia setelah Adam dan Hawa. Manusia setelah kedua manusia pertama Adam dan Hawa, diterangkan proses keberadaannya berbeda. “Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah”.

Ayat inilah yang mendasari ilmu pengetahuan tentang proses kelahiran manusia (ginekologis), bahwa manusia baru akan lahir jika sperma bapak dan telur ibu bertemu dalam rahim, hingga menjadi segumpal darah. Dari gumpalan darah ini membentuk sebuah tubuh yang belum bernyawa (dalam Islam ruh/nyawa baru ditiupkan ke tubuh bayi setelah gumpalan darah berusia 90 hari). Dan seterusnya, …hingga si bayi lahir.

Kenyataan ini membuka mata kita, betapa kaum atheis hanya sekumpulan kaum yang berpikiran dangkal, yang malas membedah kenyataan disekelilingnya. Nyatalah sudah, bahwa kaum atheis ini telah gagal memberi pemaknaan awal dari ilmu pengetahuan, yang sesungguhnya telah termaktub dengan jelas dalam kitab-kitab terdahulu (sebelum buku modern dikenal). Kaum atheis adalah kaum yang gagal menangkap jawaban-jawaban yang ada dalam kalam Ilahi atas pertanyaan mereka sendiri. Tidakkah mereka harus belajar; bahwa sebagaimana bayi, manusia belum akan tahu apa-apa sebelum belajar atau disuguhi ilmu.

Apa yang bisa kita kaitkan dalam kisah ini dengan keraguan Bung Kevin tentang agama? Sederhana sekali.

Kitabullah (Taurat, Injil dan Al Quran) tidak pernah salah memberi isyarat kepada manusia tentang siapa sesungguhnya manusia itu, seperti apa alam sekitarnya, dan Siapa yang ada diantara keduanya sebagai indikator. Karena sebagai bentuk pemahaman dasar, maka manusia harus bisa memilah dari ribuan bahkan jutaan jawaban yang telah ada, untuk digunakan dan dikembangkan menjadi sebuah pernyataan/konkrisitas. Jika kalangan gereja ketika itu memetik jawaban yang ada kemudian tidak mengembangkannya dengan akal mereka, maka berbeda halnya dengan Galileo yang memetik jawaban dengan sudut pandang berbeda atau dengan pendekatan berbeda.

Apa yang menarik disini? Kendati Galileo “menolak” metode pengetahuan dengan dasar keimanan (atau dalam Islam dikenal sebagai tauhid), dengan metode yang lebih empirik, namun Galileo tidak seberuntung generasi setelahnya bahkan Huble sekalipun.

Masih dengan pengetahuan dasar yang sama, generasi setelah Galileo mengembangkan jawaban yang ada secara lebih terperinci. Mereka memetik jawaban yang telah ada (dalam kitab-kitab) dengan pemahaman yang lebih baru (dan beragam) tentang alam semesta; bahwa alam semesta terbentuk dari gas paling murni; bahwa alam semesta terbentuk dari lubang hitam; bahwa alam semesta diawali dari big bang (dentuman besar); bahwa alam semesta terbentuk dari unsur cosmis yang lebih murni dari yang pernah diketahui. Jawaban-jawaban ini telah ada secara instan (termaktub) dalam semua Alkitab (terlebih Al Quran yang memberi banyak pilihan dalam jawabannya secara lebih terperinci dan detil).

Secara manusiawi, semua jawaban dan pemahaman baru tersebut tentulah benar. Karena para professor itu melakukan serangkain penelitian selama bertahun-tahun yang kemudian disarikan menjadi sekadar satu kesimpulan masing-masing. Maka, secara manusiawi pula, barang siapa yang hendak membantah hasil penelitian mereka, ada baiknya melakukan penelitian baru dan meng-expose hasilnya di kalangan ilmuwan untuk diakui. Inilah yang dimaksud Bung Kevin, hasil empirik harus dibantah dengan hasil empirik pula (Anda haruslah seorang doktor juga jika ingin membantah hasil apa yang diperoleh seorang doktor). Iya kan? Sayangnya, landas pijak diskusi ini bukan disini. Lebih jauh lagi.

Maksudnya; penjelasan sederhana sebuah teori empirik akan sukar ketemu dengan penjelasan sederhana dari sisi agama. “Sukar ketemu” bukan berarti tidak bisa disatukan, bukan? Saya telah menjelaskan berbagai contoh di atas, bahwa ilmu pengetahuan agama bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan (pasal empirik). Karena keduanya awalnya adalah satu kesatuan. Yang satu menjadi dasar bagi yang lain.

Mari kita lanjutkan…

Galileo tidak seberuntung generasi berikutnya, yang dengan setia mengembangkan jawaban dalam teori-teori mereka. Semua generasi ilmuwan setelah Galileo, akhirnya menerima bentuk kesadaran baru tentang keilmuwan, berupa pertanyaan penting; Jika semua kejadian itu sebagai energi awal pembentukan alam semesta (baik gas paling murni; lubang hitam; big bang; unsur cosmis yang lebih murni), lalu siapa yang bertanggungjawab atas “adanya” energi-energi ini? Sementara para ilmuwan hingga saat ini masih tetap melekat pada pakem teori aksi-reaksi (sebab-akibat) yang belum berubah sama sekali.

Maka para ilmuwan saat ini harus kembali membuat “dugaan sementara/hipotesa” bahwa energi yang menjadi penyebab atau bertanggungjawab terhadap semua kejadian luar biasa dalam teori mereka adalah suatu “energi yang sangat murni”, “sangat cosmis”, “misterius”, dan “sulit dijangkau”.

Hipotesa yang lahir setelah kesimpulan dalam sebuah penelitian hingga saat ini pun dianggap sebuah anomali. Para ilmuwan menyadari bahwa mereka harus kembali mencari metode-metode penelitian baru terhadap kenyataan dari munculnya pertanyaan baru tersebut. Mereka seolah-olah kembali ke titik dimana mereka memulai. Para ilmuwan ini lebih beruntung dari Galileo.

Bahkan ilmuwan sekaliber Albert Einstein—yang konon IQ-nya setingkat dibawah Nabi Besar Muhammad SAW—harus menerima kenyataan bahwa teorinya tentang relativitas (E=mc2) terbentur dengan pertanyaan; entitas apa yang mendorong terbentuknya massa dan kecepatan cahaya sehingga melahirkan sebuah energi (E). Einstein harus menerima kenyataan bahwa sampai akhir hayatnya pertanyaan yang lahir dari teorinya tidak dapat dijawabnya sama sekali. Bahkan fisikawan sekaliber DR. Hawkings menemui jalan buntu dalam tekadnya meneruskan mencari jawaban atas pertanyaan Einstein.

Bagi saya, mereka berdua juga telah tiba pada bentuk kesadaran baru dalam hidup keilmuwanannya, bahwa segala sesuatu yang mengawali tersebut, ada dikarenakan sebuah entitas yang superior, cosmis yang sangat unggul, yang sulit dijangkau fikir manusia. Apakah entitas dahsyat ini? Kami, muslim, menyebutnya sebagai Allah SWT. Para ahli kitab; Nasrani menyebutnya Allah, dan Yahudi menyebutnya sebagai Yehova/Yahweh/Mesiah.

Aneh kan? Bagi orang-orang yang memiliki agama telah tersedia jawaban yang tepat atas pertanyaan para ilmuwan kaliber manapun dimuka bumi ini, yang pernah lahir atau yang masih eksis saat ini.

Aneh kan? Jawaban yang masih dicari-cari dan membuat puyeng para ahli fikir/ilmuwan manapun (atau atheis manapun), dengan begitu mudahnya ditemukan jawabannya oleh orang yang teguh memegang agamanya.

Dalam Islam, orang Muslim diajari sebuah pengetahuan dasar yang merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan baik yang telah ada maupun yang akan ditemukan. Pengetahuan dasar itu melekat di kehidupan orang Muslim bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di antara langit dan bumi dengan sebaik-baik ciptaan sebagai pertanda kekuasaan-Nya, dan semua tanda-tanda kekuasaan Allah SWT tersebut hanya bagi orang yang berfikir.

Bagi orang yang memegang teguh agamanya, tidak ada baginya pertentangan antara kenyataan empirik dan absuriditas, sebab keduanya saling menjelaskan satu dengan lainnya.

Bung Kevin…Ingatlah selalu, bahwa seorang ilmuwan (atau siapapun yang terbiasa berfikir) di belahan manapun di dunia ini tidak satupun yang meninggal dalam keadaan atheis (tidak mengakui entitas ketuhanan), namun sebaliknya para atheis (baik yang atheis terang-terangan atau atheis yang menyembunyikan identitas ke-atheis-annya) yang mati dibelahan manapun didunia ini, tidak pernah dikenal/diakui sebagai seorang pemikir.

Jika seseorang tidak membiasakan dirinya berfikir tentang segala sesuatu yang terjadi disekitarnya dan menjadikan pengetahuan keagamaan sebagai pencerahannya (pangkal tolak pemikirannya), maka orang tersebut cenderung berada dalam keadaan sirkular. Jika dia membaca buku, maka dia hanya seorang pengutip. Jika dia sering berdiskusi, maka dia hanya sebagai pelengkap, tidak ada hal yang baru yang dia ungkapkan.

Bung Kevin, walau tidak terlampau banyak orang seperti Anda, tetapi Anda tidak sendiri. Orang-orang seperti Anda, yang saya temui, baik keraguan dan pertanyaannya (atau pernyataannya) sama persis dengan Anda. Berulang-ulang, dan tidak ada yang baru dalam caranya berfikir. Padahal jika saja Anda mau meluangkan sedikit waktu membaca tafsir kitab-kitab (kemudian mulai berfikir tentang apa saja yang Anda temui didalamnya), mungkin kelak dalam diskusi seperti ini banyak hal-hal dan pemikiran-pemikiran baru dari Anda.

Agama bagi manusia adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Karena agama merupakan bentuk pengakuan religiusitas individual mahkluk terhadap penciptanya. Apakah karena beragama orang lantas akan dianggap bersalah? Padahal orang tidak perlu tahu urusan seseorang dengan Tuhannya. Atau, apa karena beragama (memeluk suatu agama) seseorang lantas dicap orang tolol, bodoh, atau tidak berotak? Seseorang yang beragama tidak pantas memamerkan agamanya—cukup dianutnya dan disampaikannya. Sama halnya seseorang yang atheis—seperti Anda, Bung Kevin—tidak pantas memamerkan ke-atheis-annya.

Konseptual religiusitas keimanan hanya sekadar memastikan hubungan vertikal seorang manusia dengan Tuhannya terjadi atau tidak, selebihnya bukan urusan manusia yang lain. Sebab intisarinya adalah, seorang manusia, apabila dia mampu menggunakan akalnya maka hal itu lebih baik.

 

Laa Kum Din Nukum Wa Lia Din. Bagiku, agamaku dan bagimu, agamamu. Orang bebas memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing. Orang bebas memeluk agama atau tidak sama sekali. Boleh saja. Sebab, kelak, urusan dunia setiap orang akan menentukan di mana dia di akhirat nanti.

Yang tidak boleh dan tidak terpuji (konyol dan bodoh) adalah orang yang menjelek-jelekan agama dan kepercayaan orang lain, menghina, menghujat, meremehkan, menistakan agama dan kepercayaan orang lain (sedang dia tidak tahu sesuatu apapun tentang hal yang dijelek-jelekannya dan dihujatnya).

Bagi saya, sepandir-pandirnya orang yang tahu tentang sesuatu, lebih bodoh lagi orang yang tidak tahu tentang sesuatu tapi sok tahu. Itu konyol namanya.

Bung Kevin…ini diskusi…kita belum lagi berdebat…belum.

Seandainya Anda mau berfikir…seandainya Anda mau berfikir.

Catatan kaki:

Bung Kevin, mohon Anda jangan keliru membahas tentang kejadian yang menandai mukjizat Nabiullah Muhammad SAW. Tentang kejadian Rasullullah Muhammad SAW membelah bulan. Bisa dipastikan bahwa kejadian tersebut bukan sekadar tumbukan asteroid di permukaan bulan (Anda menyebutnya sebagai meteor, yang benar Asteroid).

Nabi Muhammad benar-benar membelah bulan menjadi dua bagian, dan meletakkan masing-masing bagiannya dalam jarak yang sangat jauh menurut penglihatan manusia dari bumi. Kejadian ini benar-benar terjadi dan dapat disaksikan semua orang di Mekkah pada saat itu, bahkan semua orang yang kebetulan sedang melihat bulan (atau wilayahnya terkena waktu malam) pada saat itu. Bahkan orang romawi pun membenarkan penglihatan mereka atas peristiwa itu. Nabi Muhammad bahkan kembali menyatukan bulan setelah cukup lama memisahkannya, seperti sediakala, seolah-olah tidak pernah terbelah. Maha Besar Allah yang semua kejadian atas kehendak-Nya.

Meteor atau komet atau bintang berpindah atau bintang berekor adalah benda langit yang beredar dalam lintasannya, pada dasarnya sama seperti planet lainnya. Yang membedakannya hanya kecepatan lintasannya atau periode edarnya. Sedangkan asteroid adalah benda langit yang melayang (tidak beredar). Karena sifatnya yang melayang, maka di angkasa asteroid dapat berpindah tempat karena pengaruh dari benda langit lain. Saya perlu luruskan, yang menabrak bulan bukan meteor tetapi asteroid yang kemudian membentuk kawah di bulan sebesar benua amerika. Sebuah asteroid, sebesar apapun bentuknya, tidak akan membuat retakan di bulan, sebab gaya grafitasi bulan lebih rendah (jika dibandingkan grafitasi bumi).

Jika Anda masih mau menerima fakta empirik terhadap kejadian yang berkenaan dengan mukjizat Nabi Besar Muhammad SAW, maka akan saya sebutkan sebuah kejadian yang dicatat dunia (dalam perkamen romawi), yakni; peristiwa keluarnya air dari sela-sela jari Rasulullah SAW dalam perang Badar.

Saat itu, perang berlangsung dalam musim panas yang panjang. Perang pada masa itu tidak seperti perang saat ini yang berlangsung terus-menerus. Perang pada jaman dahulu memiliki aturan yang ketat, tidak seperti jaman sekarang. Jika seseorang ksatria menantang duel pedang seorang ksatria musuh, maka tidak seorang pun—dilarang—menambaknya dengan panah.

Perang jaman Rasulullah Muhammad SAW hanya berlangsung pada siang hari, dan istirahat pada waktu malam. Maka ketika waktu malam tiba, banyak orang dari kedua pasukan yang membutuhkan air sekadar untuk minum dan berwudhu bagi yang muslim, sedangkan sumur-sumur kafilah kering karena musim panas yang panjang.

Saat itulah, dengan ijin Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW berdoa dan setelahnya air keluar dengan derasnya dari sela-sela jari Beliau, sehingga semua orang dari kedua belah pasukan dapat menuntaskan dahaganya. Bahkan kedua pasukan menampung air tersebut dalam wadah-wadah dan bejana perang mereka yang bahkan cukup bila digunakan selama berminggu-minggu lamanya. Para pencatat dari pasukan romawi mencatat kejadian ini, dan hingga saat ini catatan romawi tersebut menjadi hal istimewa yang diketahui dunia tentang sosok Rasulullah Muhammad SAW.

Bung Kevin… Semoga Anda tidak lekas puas dengan penjelasan-penjelasan ini. Karena saya memang tidak berniat sedikit pun untuk memuaskan Anda. Puas atau tidaknya Anda bukan urusan saya, sebab saya tidak bertanggungjawab terhadap ke-atheis-an seseorang.

Pelurusan-pelurusan ini saya lakukan bukan untuk Anda, tapi buat kawan-kawan yang ada dalam jaringan diskusi ini, agar imannya bertambah teguh, agar mereka selalu bersyukur telah diberi nikmat agama sebagai penerang jalannya ilmu yang mereka miliki.

Saya masih akan bersyukur jika kemudian, setelah ini, Anda masih mau berada dalam jaringan ini dan bertanya tentang hal-hal yang mungkin saja Anda tidak pahami, dan kami dengan senang hati dan terbuka akan membagi pengetahuan ini kepada Anda. Jika saja kemudian kami tak bisa menjawab seketika itu, maka bolehlah kami membantu mencarikan jawabannya untuk Anda. Jika Anda berniat mencari jawabannya sendiri, maka itu baik bagi Anda.

Bung…cuma satu obat penyakit “ketidaktahuan”, yakni “belajar”. Bagi saya, semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Sebaiknya ketidakpuasan Anda bisa Anda tuntaskan dengan terus belajar dan menggali kalam Ilahi.

Salam


Diproteksi: Menjawab Ustad Abdul Nur Hidayat (Bagian Ketiga)

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


%d blogger menyukai ini: