[Esai] Korpus Awal Cerita Remaja

Korpus Awal Cerita Remaja

Student_Hidjo 

SEBENARNYA, ada pertanyaan yang menggelitik saya selama ini: sejak kapan sih kesusastraan populer dan cerita-cerita remaja mulai di kenal di tanah air? Nah, ini pertanyaan yang rumit, yang tidak semua orang bisa menjawabnya.

Ada yang menyebut sastra populer tumbuh dan menempati kurun waktu tertentu dan setiap kurun waktu itu menunjukkan ciri-ciri tertentu pula. Sastra populer telah tumbuh sejak abad ke-19, terutama pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Sastra populer pada masa ini ditulis, baik oleh kaum Indo-Belanda, peranakan Cina, maupun kaum pribumi, dengan menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Kendati rujukan ini masih mungkin ditelusuri lebih jauh. Sebab zaman Hindia Belanda, teks sastra populer, selain yang dikaryakan kalangan yang tersebut di atas, kebanyakan karya merupakan terjemahan novel atau cerita pendek dari Belanda dan Eropa. Sukar pula dirujuk apakah karya-karya itu bisa digolongkan karya bergagasan remaja—untuk memberi ia penyebutan lain sebagai sastra populer.

Kesukaran merujuk juga diakibatkan tidak adanya peneliti sastra Indonesia yang sudi memasukkan kekaryaan sastra populer ke dalam Periodisasi Sastra Indonesia. Tetapi, bukan karena tidak ada atau belum pernah diperiodisasikan hingga lantas kekaryaan sastra populer tidak terlihat mengambil tempat dalam khazanah literasi Indonesia.

Nenden Lilis A., seorang pengajar Universitas Indonesia bilang, bahwa penggolongan karya sastra Indonesia juga sukar lepas dari kecenderungan pijak pemikiran modernisme grand narrative (narasi besar) dalam arus pikir Jean Francois Lyotard. Narasi besar modernisme bukan tidak menimbulkan korban: bagi yang tidak bersinggungan dengan isu pusat, ia akan dianggap tidak ada dan marjinal.

Cara pandang modernisme tidak membuka ruang yang cukup bagi lahirnya jenis sastra baru. Ruang sastra hanya untuk sastra tinggi dan sastra-sastra yang sebelumnya telah ditahbiskan sebagai sastra utama. Cara pandang ini menyebabkan sastra populer dan sastra lokal, dianggap bukan sastra dan diabaikan dalam penulisan sejarah sastra.

Perumusan periodisasi sastra ini korpusnya selalu sama dan dilakukan berdasarkan perkembangan sastra dalam kurun waktu yang diisi oleh konvensi, norma, standar, dan tema sastra tertentu yang dominan. Sastra populer tidak ditilik kehadirannya dalam setiap periode itu sehingga karakteristik dan kekhasan yang ia miliki tidak tertelaah, terjelaskan dan tidak dirangkum.

Baiklah, kita sederhanakan saja seperti ini: tulisan populer belum dapat tempat di wilayah sastra Indonesia. Nah, mari kembali pada pertanyaan di awal esai ini: Sejak kapan tulisan populer lahir dan tumbuh (termasuk medianya) di Indonesia?

Sastra populer yang ditulis pada masa ini meliputi cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita kriminal yang diangkat dari kisah nyata di pengadilan, cerita silat, cerita hantu (gaib), dan cerita percintaan (yang tak jarang dibumbui seks). Cerita-cerita seperti ini biasa ditulis oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo, untuk menyebut nama dua pengarang.

Di zaman Jepang (1942-1949), sastra populer harus tiarap. Hal ini, bilang Jakob Sumardjo, dikarenakan zaman itu penuh pergolakan politik-sosial. Menulis dan membaca butuh ketenangan khusus yang sukar diperoleh.

Sastra populer kembali marak di awal kemerdekaan (1950 -1968-an). Bermunculan novel dan cerpen remaja dengan tema-tema percintaan dan detektif yang dibumbui sensualitas. Marga Tjoa berkibar di genre ini. Tahun 1970-an, tema sastra populer kembali bergeser, karena sastra populer masa itu banyak ditulis perempuan yang didominasi tema-tema rumah tangga.

Sajian dan tema bergeser cepat di akhir tahun 70-an. Tema remaja berkembang baik (berupa cerita petualangan maupun percintaan). Reduksi tema dari penulis asing juga sukar dielak, sebab usaha penerbitan buku dan kegemaran membaca makin meningkat. Di picu novel serial Lima Sekawan dan Sapta Siaga (Enid Blyton) dan Trio Detektif (Alfred Hitchcock), maka bermunculan pula tema serupa di Indonesia.

Majalah Anita (berubah jadi Anita Cemerlang), majalah remaja yang memuat cerpen dan cerber populer lahir pada tahun 1979. Untuk tidak menyebut semuanya—beberapa pengarang cerita remaja saat itu antara lain Gus Tf. Sakai, Agus Noor, Sujiwo Tejo, Donatus A. Nugroho, Leila Chudori, Ana Mustamim, Bambang Sukma Wijaya, Tina Kardjono, Putra Gara, dan Rina Erina sebagai salah satu penulis cerita remaja paling produktif saat itu.

Tema dan motif karya sastra populer berkembang pesat. Muncul juga novel dan cerpen bertema keagamaan Ispolit (Islam Popular Literature), juga bertema perempuan kosmopolitan dalam hidup keseharian perkotaan pada genre chicklit dan teenlit yang lebih mengusung gagasan feminisme lunak, meminjam istilah Aquarini Prabasmoro.

Karya-karya itu memperlihatkan pergeseran bobot tema dalam gagasan ceritanya, dengan menonjolkan muatan intelektual namun ditulis secara ringan. (IQM)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 51 / Th. V / Januari 2014)

About ilhamqmoehiddin

[ORGANIZATION]: http://theindonesianwriters.wordpress.com [FACEBOOK]: https://www.facebook.com/ilhamq.moehiddin [TWITTER[: @IlhamQM Lihat semua pos milik ilhamqmoehiddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: