Category Archives: Kajian

[Kajian] Sekantung Cinta di Pundak Hera

Kajian Sajak Naimah Hera Hizboel: Narimo Ing Pandum dan Sajak 26 Juni 2009

Oleh Ilham Q. Moehiddin

MEMBACA Herawati Ibrahim, alias Naimah Hera Hizboel dalam beberapa sajaknya, tak akan lepas mata sebelum syair usai. Jika masih mungkin menyebut sajak-sajaknya: mencerahkan.

Siapa Hera ini? Dia adalah perempuan produktif dengan puluhan karya dan aktifitas. Saya sendiri belum mengenal dia, sampai karyanya saya baca. Dalam setiap tarikan penanya, Hera ini bernafas, memendar larik cahaya, yang dengan mudah menerangi makna yang hendak kita capai. Sederhana kalimatnya, namun dalam dasarnya.

hidup adalah
rangkaian dari keharusan demi keharusan
yang tak terelakkan

karenanya
tak usah dicermati
tak usah dikritisi
tak usah ditangisi
tak usah disesali

tanggalkan hati
singkirkan rasa
jalani semua apa adanya
dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

(Narimo Ing Pandum – Naimah Herawati Hizboel, Juni 2009)

Seperti itulah Hera ini memaknai hidup dan hubungannya dengan Tuhannya.

“Hidup adalah rangkaian dari keharusan demi keharusan yang tak terelakkan.”

Benar. Hidup memang tak perlu dilihat dan dirasakan rumit, serumit yang seharusnya.

“Jalani semua apa adanya dan biarkan mengalir mengikuti kehendak-Nya.”

Apa yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan (Illahi Taala) itu dari manusia. Secara sederhana; cuma agar manusia menjalani apa yang telah dihadirkan dengan semestinya, sewajarnya. Kendati tak perlu risau jejak kau tinggal. Bukan manusia yang hendak menghitungnya. Bukankah, amalan itu tak laksana buah persik; harum aromanya, manis rasanya, mampu disentuh dengan tekstur pada permukaannya yang sedikit kasar.

Itulah amalan itu. Dan Hera ini mengerti benar.

Jejak kata-kata Hera masih akan berlanjut jika dia tak menahan diri. Sepertinya, memang dia ini menahan-nahan diri; hendak berenang dalam lautan kalimat Ilahiyah, tetapi ada malu untuk melakukannya. Jadinya, dia di tepian saja, sambil memandang pada kejauhan, dia ambil satu-satu hal yang penuh makna.

Memang, sampai detik ini, belum ada orang yang mampu merenangi keluasan samudera artifisial ilahiyah yang sejak periode penciptaan itu menghampar. Kendati banyak yang sudah mencoba merenanginya, tak pernah jua sampai ke tepian selanjutnya. Mereka moksa pada pertengahan. Larung berbenam campur, sebab rasa bahagia yang memenuhi dada, rasanya sudah cukup. Mereka lalu menjelma sufi, waliullah. Jika engkau tak mau aku katakan; bahwa mereka itu, yang sedang menggenggam ujung kain jubah para rasul dan nabi.

Naimah Herawati Hizboel rupanya berhasil memanifestasikan banyak pemaknaan dari cinta. Sepertinya di pundak perempuan ini ada sekantung besar penuh cinta yang memberatinya. Pundaknya yang disesaki kantung cinta ini, walau berat, bahagia dia memikulnya. Sebab tak ada sepenggal maknanya dia luput. Hera benar-benar tahu apa yang dilakukannya, apa yang jalaninya, dan apa yang dituliskannya. Dia ini faham.

syukuri saja dan terus syukuri
agar menjelma menjadi butiran-butiran cinta
yang akan mengiringi langkah kita
menuju mahligai-Nya…

Bukankah telah aku katakan, bahwa dia faham benar apa yang dia tuliskan, dia rasakan. Bacalah empat larik di atas itu. Hera, barangkali, telah merasakan kehadiran bentuk energi murni dalam hidupnya, yang dia hanya mampu memaknainya sebagai cinta; pergulatan hidup, problematika, kiasan-kiasan arus moksa, keparipurnaan rasa dan estetika, kesendirian, dan baluran dari perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat indah lainnya. Dan Hera hanya sanggup memaknainya sebagai cinta: Hera faham benar.

Hera tahu benar hidup itu dimulai dari mana, kemana pertengahannya, dan dimana akhirnya. Hidup bukan ketika engkau keluar dari rahim ibu, tetapi hidup itu dimulai sesegera ketika kau menghadapi masalah; bahagia, duka, lara, gembira.

Selepasnya, dia pun tahu hendak kemana pertengahan hidup ini di larung. Kata-kata dalam sajak Hera tidak membuat mabok, tidak pula kita dihinggapi trance. Tetapi menggapainya, merayapinya, merenggutnya, menikmatinya, adalah sensasi tersendiri. Adalah hal unik ketika kita berusaha menempel di setiap larik kata-kata Hera itu.

Engkau pasti segera tahu apa yang aku maksud jika usai menyimak ini:

pendar cahaya lampu-lampu di sudut kota
seolah pantulan usiaku
terang
gemerlap
bakan terkadang muram dan sepi

Allahu Robbi
semua yang ada padaku adalah
karunia-Mu yang tak terhingga
susah senang adalah nyanyian hati
bahagia derita adalah pelangi-pelangi jiwa

aku belajar dan terus belajar
menghapus paksa birunya rinduku
agar ia tak lagi membutakan mata hatiku dan
menghalangi langkahku menuju-Mu

Allahu Robbi
harapanku pada-Mu tak kunjung usai
meski hidup tak pernah pasti
meski gelombang menampar keras tubuh ini
tak lantas surut asaku pada-Mu
tak lantas surut jiwa ini menggapai tepian hati-Mu

Allahu Robbi
di titik usiaku saat ini
air mata kesadaran menetes membasahi pipi dan
relung-relung hatiku
di titik usiaku saat ini
terurai doa
harapan
dan mimpi-mimpi indah tentang
asa-ku pada-Mu

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

(Naimah Hera Hizboel, Sajak 26 Juni 2009)

Bukankah perumpamaan yang coba di tarik Hera dalam bahasa syairnya sangat-sangat bersifat manusia; manusiawi sekali. Bukankah, hal-hal yang disebutkan Hera itu, kerap singgah menghampiri perjalanan hidup kita. Tak ada bayangan orang lain yang mencoba menjadi orang lain, cukup diri sendiri.

Faktanya, memang, kita selalu berjuang untuk diri sendiri. Ketika entitas lain menghampiri kita, selebihnya akan selalu dianggap sebagai jembatan kesempurnaan. Tidak ada orang yang benar-benar berada di samping kita, sehingga kita menyangkalinya. Kita ini sekadar manusia; cuma sekadar manusia.

***

“Ah, Hera ini, terlalu cepat hendak menggapai Tuhannya.” Demikian kata seorang dosen sastra kenalanku, ketika kutunjukkan padanya sajak Hera. Aku tahu perkataan sahabatku itu pun berbungkus umpama; Hera berusaha laju, melewati hasratnya, mengingkarinya, menyingkirkannya, hanya agar supaya dia lebih dekat pada Allah. Hera membungkus hasrat kemanusiaannya dalam doa dan metode, menekannya, agar lebih khusyuk pada Tuhannya.

Demikian kata kawanku itu.

Padanya, aku katakan perseberangan pendapatku, yang akhirnya kami harus memperdebatkan (mendiskusikan) sajak Hera ini sampai pukul satu dini hari. Di kampus tempatnya bekerja. Saat malam dekat menghampiri pagi.

Aku sampaikan pokok pikiranku; ketika engkau manusia, maka sulit menjelma lain. Kau hanya manusia, demikian itu kau ditakdirkan, dilahirkan. Kesadaran pada entitas macam itu, membuat kau harus berpaling pada entitas Ilahiyah. Mengadu, menumpah gejolak, berpegang, bahkan tak akan malu engkau meminta. Tuhan menjadi tempat yang baik untuk mendiskusikan masalah, dan berusaha menebak jawaban sebagai solusi.

Demikian, pula aku menyilangi pendapatnya.

Panjang dan luas kami bersilangan pendapat, yang awalnya dari sajak Hera, hingga menghantar kami berdua pada tukar pendapat soal manusia dan ketuhanan. Bukan main, kami, dalam diskusi itu saling melempar rujukan, saling mematahkan referensi, saling bunuh pemahaman.

Banyak sudah akhirnya buku yang kami rujuk-rujuk, tak sempat aku menghitungnya. Kepala kami seperti ditembus sejumlah judul dan kutipan dalam buku, serta nama pengarangnya. Jika kawanku itu lari pada referensi thasawuf, aku mengejarnya ke sana. Jika dia mencoba menghilang di tikungan sufistik, aku sudah menunggunya di ujung tikungan berikutnya. Jika dia itu hendak menyelam dalam referensi konsep ketauhidan dalam sanad yang berbeda-beda, maka aku membuntutinya dan berusaha menyelam disampingnya, tak mau ketinggalan. Kawanku itu sungguh cakap di bidang yang terakhir aku sebut itu.

Jikalau malam tak menghampiri pagi, tak akan pungkas diskusi itu, tak akan ingat aku untuk pulang. Kami berpisah dengan akrab sambil tertawa terbahak-bahak.

***

Begitulah, hingga mengapa aku menulis jurnal ini. Larik kalimat dalam sajak Hera menetak tepat titik kesadaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari rutinitas penghambaan, sebagaimana hujjah manusia itu diciptakan.

Ada ujar-ujar tentang manusia yang tak boleh lari dari masalah, tetapi menyelesaikan masalah itu. Tetapi, apa yang dikandung dalam kalimat Hera rupanya tidak merujuk larinya manusia dari masalah, bahwa pencarian pada hakikat ketuhanan adalah juga solusi untuk menyelesaikan masalah. Kadangkala, engkau, kita, mesti bersimpuh. Sekali waktu. Luangkanlah.

***

Allahu Robbi jangan kau tutup mata hatiku dari cinta-Mu
karuniai aku mimpi-mimpi indah tentang kasih sayang-Mu
dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu
amin

Melegakan. Membaca permohonan Hera agar tak tutup dasar hatinya. Memohon jalan keluar dengan terang cahaya yang menjilam membenamkan gelap.

Permohonan untuk melapangkan hati adalah prosesi klasik pada pemberian ruang yang luas dimana nantinya pada sudutnya engkau akan duduk secara tenang untuk memudahkanmu menyelesaikan masalah. Ruang inilah yang kerap kita minta dalam doa, bukan meminta solusi. Ruang luas yang kita minta itu akan menjadi alat bagi manusia, kita, untuk meretas masalah, memisahkannya, mentautkan ujung satu dengan ujung lainnya, sehingga solusi engkau dapatkan. Kendati, bagaimana melakukannya, sangat tergantung dengan caramu sendiri. Mana bisa engkau menjulurkan, merentangkan kekusutan, membuka buhul tersimpul, jika ruang bagimu tak ada. Jika kondisi mendesakmu sedemikian sempit. Bergerak pun engkau tak bisa.

Maka;

…dan terangi gelap malamku dengan cahaya-Mu..

Perempuan Hera ini meminta. ***

Mei, 2010.

Iklan

[Kajian] Purnami yang Manis, dan Gugatan Perbenturan Sosio-Kultural dalam Ide Tulisan

(catatan ringan dari diskusi Satellite Event Ubub Writers & Readers Festival 2010 , Cafe Lapiaza, Kamis 10 Februari 2011)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

RUANG duabelas kali tujuh meter persegi pada Kamis malam, 10 Februari 2011, itu dipenuhi para sastrais muda Kendari. Beberapa budayawan kawakan Sultra juga hadir. Lima buah kursi menemani meja panjang yang diatur rapi membelakangi backdrop bertulis Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2010.

Di luar Cafe Lapiaza, petir sesekali menerangi malam yang beranjak, menemani gerimis yang jatuh sejak petang. Tiba tiba hujan lebat berbaur angin, hampir saja menciutkan nyali panitia acara malam itu. Tentu saja, kondisi macam itu, dapat membuat banyak undangan tak bisa hadir. Tapi mereka kembali tersenyum, saat hujan mereda, satu per satu kawan kawan sastrais Kendari berdatangan, memenuhi tempat itu. Sebagian basah oleh gerimis yang menyisa.

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami

Community Development Manager UWRF, Kadek Purnami, dan I Wayan Juniartha serta M. Aan Mansyur telah datang sekitar 10 menit sebelum tengat acara yang dipatok pukul 19.30 waktu Indonesia bagian Timur. Agar lebih menikmati acara malam itu, saya bersama penyair Adhy Rical mengambil tempat duduk agak pojok, dekat kerai bambu, membelakangi jalan Sao Sao yang telah kuyup oleh hujan.

Suasana hangat di Cafe Lapiaza cukup menenangkan semua orang. Apalagi bagi sastrawan Syaifuddin Gani, dari Teater Sendiri yang bertindak sebagai koordinator acara. Kegiatan pendukung sebagai bagian dari promo Ubud Writers & Readers Festival 2010, memang antara lain hendak membedah buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, yang diselaraskan dengan diskusi, pembacaan puisi, pemutaran film pendek UWRF di Bali 2010, yang barusan kelar Oktober lalu.

Sebelum memasuki inti acara, kami semua dihibur dengan pembacaan puisi oleh penyair Irianto Ibrahim, penyair Syaifuddin Gani, penyair M. Aan Mansyur, Sulprina Rahmin Putri, Galih, Sendri Yakti,  Laode Gusman Nasiru dan Frans Patadungan. Suguhan sebuah puisi yang sangat kuat, Perahu Kanak-Kanak karya Irianto Ibrahim, ikut membangun gairah setiap orang yang malam itu tampak “kedinginan”.

Semakin hangat suasana, saat seorang remaja bernama Debora Grace L, melagukan “Mei” puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad. Suara merdu Debora, demikian ritmik melagukan dua puisi itu. Seandainya saja malam itu, Joko Pinurbo dan Hamdy Salad hadir, saya sangat yakin mereka berdua kelak mau sepanggung dengan Debora ini.

Debora Grace L, melagukan "Mei" puisi Joko Pinurbo, dan sebuah puisi lain milik Hamdy Salad

Lalu acara dimulai. Panitia UWRF langsung menyuguhkan ke mata sastrawan Kendari sebuah film pendek UWRF 2010. Wajah wajah sastrais Indonesia silih berganti dengan beberapa sastrais asing yang menjadi peserta dan tamu UWRF 2010. Kurnia Effendi berkomentar soal kenyaman lokasi acara sejak pertama kali dia datang, lalu silih muncul Sitor Situmorang, Sutardji C. Bachri, bahkan Head Chief of CitiBank Indonesia. Footage saling berlapis cepat, menyuguhkan pada mata beragam acara selingan dalam UWRF. Ramai, menarik, dan prestisius tentunya. Ubud Writers & Readers Festival memang dikemas sangat apik oleh Mudra Swari Saraswati Foundation, yang didukung penuh oleh Hivos, sebuah lembaga nirlaba yang bertujuan memajukan literasi dan perdamaian.

Tercatat di situs resmi UWRF, pada perhelatan 2010 lalu, dari 143 peserta yang diundang, 37 peserta adalah partisipan tuan rumah, Indonesia, sedang sisanya berasal dari berbagai negara (49 diantaranya dari Australia).

Dalam monolognya selepas penayangan film pendek, Kadek Purnami yang manis itu, mengatakan bahwa UWRF berangkat dari gagasan besar mempromosikan kembali Bali seusai dua kali tragedi bom. Mengembalikan Bali sebagai kota perdamaian, kota kultur, bahwa rakyat Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya, tidak akan tunduk dengan aksi negatif pada kemanusiaan macam itu. UWRF juga hendak menegaskan posisi atas gagasan tersebut dalam bentuk literasi perdamaian yang berpokok pada keragaman budaya dalam kesatuan. Itulah mengapa UWRF mengambil tema Bhineka Tunggal Ika pada perhelatan 2010. Tema yang beragam telah menghias tujuh sepuluh kali penyelenggaraan UWRF sebelumnya, sejak 2003 silam.

“Secara keseluruhan, mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Juga mencerminkan keragaman genre, aliran, tema, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia, yang mempresentasikan penghormatan Ubud Writers & Readers Festival pada upaya memajukan penulis-penulis muda berkualtas,” jelas Purnami.

Kebangsaan penulis bukan hal terpenting. Karya dan kiprahnya yang berkaitan dengan tema festival yang menjadi pertimbangan utama UWRF. “Pemilihan peserta undangan lebih didasari kriteria yang berkaitan dengan dunia kepenulisan dan perbukuan. Tidak ada di luar hal itu,” tambah I Wayan Juniartha.

Intinya, Purnami hendak menegaskan, bahwa Mudra Swari Saraswati Foundation dan Hivos berkeinginan kegiatan UWRF yang mereka gagas dan laksanakan itu untuk menampilkan para penulis muda berkualitas dari jumlahnya yang banyak itu. Dari beberapa penyelenggaraan, UWRF mendapat pujian dan apresiasi yang sangat baik, tidak saja dari kalangan penulis muda, tetapi juga dari para penulis kawakan yang sengaja diundang pada UWRF.

Penjelasan yang konprehensif dan detil itu, ditambah wajah manis Purnami, agaknya membuat semua yang hadir segera faham seperti apa dan bagaimana gagasan besar UWRF itu. “Penjelasannya oke…yang ngejelasinnya juga manis,” celetuk seorang sasrais tepat di samping saya. Saya hanya tersenyum dengan celetuk itu. Tapi, paras Purnami memang manis malam itu, yang berhias dengan dandanan batik berpunggung belah rendah, dipadankan legging hitam dan sepatu merah datar.

Yang menarik pada acara malam itu, saat buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity, ikut dibedah oleh peserta bersama pihak UWRF. Prosa Batubujang karya Benny Arnas antara lain menjadi topik pembicaraan, bersama karya lain; prosa Barong karya Sunaryono Basuki Ks, prosa La Runduma karya Waode Wulan Ratna.

Ikut disikusikan juga beberapa puisi, macam; Gerombolan Sepeda karya Andha S., Lukisan yang Hendak Diselesaikan karya Arif Rizki, dan Pesta Makan Laba-Laba karya Wendoko. Saya sendiri ikut mengulas prosa Batubujang (B. Arnas) dan puisi Suluk Bunga Padi (A. Muttaqin).

Prosa Batubujang karya B. Arnas, disepakati oleh para peserta malam itu sebagai prosa yang kuat. Pilihan kata yang digunakan Benny Arnas tidak menjadi soal, namun beberapa peserta memang tertarik pada muatan sosio-kultural yang disuguhkan Benny dalam prosanya itu. Bahwa Benny dikatakan hendak mengajukan dua soal kekinian yang memang sangat akrab disekeliling orang kampung, yakni perbenturan tradisi lokal dan tradisi modern. Benny hendak menunjukkan pada pembacanya, bahwa perbenturan macam itu memang sukar dihindari namun bukan berarti tidak bisa ditemukan titik tengahnya. Menurut Syaifuddin Gani, ide Benny cenderung orisinil dan mengakhiri perdebatan pada dua mainstream tradisi ini dengan tak satupun pihak yang dimenangkan. Karakter pak Mur akhirnya mati tertimpa batubujang yang dibela-belanya, sedang Mang Jali harus kembali ke Lubuk Senalang, membengkalai pekerjaan, sebab investor pun menarik diri dari proyek itu.

Barangkali memang demikian maksud yang hendak dibenam Benny dalam Bajubajang-nya, yang kemudian ditangkap oleh kawan kawan malam itu. Tetapi bagi saya pribadi, yang ikut memberikan apresiasi pada putaran ketiga, Benny memang ikut mengetengahkan realitas perbenturan tersebut. Tapi itu hanya cara Benny saja untuk mengantar protesnya pada kerja kerja kebanyakan LSM lingkungan yang kerap tak bertanggungjawab. Itu dikemas rapi oleh Benny, bahkan sejak dari paragraf ke empat dari 58 paragraf panjang prosanya.

Anas juga tak habis pikir, bagaimana penduduk bisa lebih mendengarkan ajakan pemerintah kota. Orang-orang berseragam coklat itu selalu berseru panjang lebar perihal penggunaan batamerah, untuk menyemen parit dan membuat jalan-jalan kecil—mereka menyebutnya “trotoar”—di pinggir jalan raya yang baru mulai dibangun beberapa minggu yang lalu. Mengapa pula penduduk patuh pada orang-orang LSM yang katanya peduli lingkungan tapi tak sedikitpun peduli pada kehidupan orang lain. Para ‘pecinta alam’ itu selalu berkoar-mengajak orang-orang kampung agar tidak menggunakan batubujang bila hendak menyemen parit, memperkuat dinding-dinding beton rumah tua, atau bentuk pekerjaan lain, yang memungkinkan batubujang dipilih sebagai bahan bakunya. (Paragraf ke-4, Batubajang, Benny Arnas).

Cukup telak, Benny, mengemukakan pendapatnya yang dia bungkus rapi pada Batubajang-nya itu. Dalam kenyataannya memang benarlah apa kata Benny. Kebanyakan LSM yang mambangun site di tengah masyarakat, sekadar menjalankan proyek pemerintah atau proyek yang didonori asing belaka. Setelah usai pekerjaan mereka itu, merekapun pergi. Meninggalkan masyarakat yang masih saja hidup kekurangan. Bukankah persoalan lingkungan hidup adalah persoalan kemasyarakatan juga. Justru di masyarakat itulah intinya. Jika masyarakat tak terbangun (ekonomi dan sosial), mana mungkin lingkungan akan ikut terjaga. Ketimbang membuang uang untuk membeli minyak tanah, misalnya, masyarakat yang berekonomi lemah akan lebih memilih masuk hutan untuk mencari kayu bakar. Menangkapi hewan langka untuk dijual dengan harga mahal. Untuk realitas macam ini, Benny telah tepat mengetengahkannya.

Buku 'Bhineka Tunggal Ika’ Harmony in Diversity (UWRF 2010)

Beberapa mahasiswa penggiat sastra juga berusaha menelaah isi buku Bhinaka Tunggal Ika kaitannya dengan beberapa karya yang ada didalamnya. Bahwa buku tersebut tidak sedemikian dapat langsung mempesonakan keberagaman (diversity) dalam konteks adat-budaya. “Serangan” dimulai dari La Runduma karya Waode Wulan Ratna, yang mengugat perlawanan batin dan laku seorang perempuan muda dalam adat pingitan (posuo—adat Buton) di kampungnya. Penentangan si perempuan muda berpuncak pada laku terlarangnya dengan lelaki pilihannya dalam kamar (tempat di mana adat Posuo itu difokuskan) di hari akhir prosesi adat tersebut.

Kritik keras perihal ide prosa ini datang dari budayawan dan seniman Laode Djagur Bolu. Menurut Djagur, sebatas literasi yang berangkat dari ide kreatif penulisnya, maka La Runduma sepenuhnya bisa diterima, tetapi jika telah mengugat dasar tradisi suatu komunitas adat-budaya maka akan lancung menajamkan friksi. Literasi sebagai salah satu produk budaya-manusia, menurut Djagur akan berpotensi mengkooptasi pandangan penikmat literasi usia muda yang mengkonsumsi literasi tersebut. Diperparah, jika para remaja penikmat literasi kurang bisa mencari literasi pembandingnya, sehingga literasi awal yang mereka baca seketika membentuk presepsi tunggal. Kecemasan budayawan Djagur itu memang beralasan, sehingga I Wayan Juniartha menanggapinya dengan santun. Lelaki tampan bertubuh subur itu, menegaskan pihaknya akan ikut memperhatikan aspek tersebut. Namun, Juniartha juga menyarankan agar sebuah karya literasi semestinya “dilawan” dengan literasi juga.

Masih terkait dengan itu, seorang penikmat sastra lainnya, Irfan Ido, juga ikut menyuarakan pendapatnya sehubungan prosa Madakaripura, yang dinukil dari novel Niskala, karya Hermawan Aksan. Pada prosa, atau novel itu, menurut Irfan, telah terjadi pendobrakan sejarah perihal figur Gajahmada, yang oleh penulisnya digambarkan sebagai penindas dan penakluk. Novel Niskala sendiri memang diangkat dari kisah kuno Perang Bubat perihal perang antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit (Jawa). Peristiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14, sekitar tahun 1360 Masehi.

Menurut Irfan, pendobrakan sejarah yang dilakukan Hermawan sudah pasti berlandaskan ide tertentu, tetapi seketika akan menampilkan wajah  lain dari Gajahmada yang selama ini dikenal umum sebagai tokoh pemersatu. Kendati membawa cara pandang baru, semestinya, kata Irfan, Hermawan juga mempertimbangkan perasaan sosio-historycal masyarakat Jawa dan Sunda.

M. Aan Mansyur menjawab kecemasan Ifran, bahwa novel Niskala, yang dipetik ke bentuk prosa Madakaripura dalam buku itu, hanyalah bentuk keberagaman atas ide kepenulisan. Hermawan rupanya, hendak menampilkan sosok lain dari Gajahmada yang selama ini luput dikenal umum.

Secara garis besar, saya sepakat dengan Aan Mansyur. Menurut saya, orang harus diberikan alternatif perspektif perihal sosok Gajahmada ini. Gajahmada memang benar kerap tampil dalam pembacaan sebagai sosok pemersatu Majapahit (Mataram), tetapi bukankah langkah pemersatuannya itu dilakukan lewat jalan penaklukan? Artinya, Gajahmada harus dilihat dalam perspektif yang imparsial, yakni Gajahmada sebagai permersatu sekaligus sebagai penakluk. Dua karakter tugas yang dilakukannya dalam waktu bersamaan.

Tidak beberapa karya di atas saja yang dinilai memuat ide perbenturan sosio-kultural, sosio-knowledge, dan sosio-history. Pada putaran ketiga, saya pun sempat mengapresiasi puisi Suluk Bunga Padi karya A. Muttaqin, yang sempat dinilai pada sesi pertama sebagai karya sosio-kultural. Barangkali berbeda cara pandang, saya justru menenggarai bahwa ide dasar A. Muttaqin dalam Suluk Bunga Padi, adalah hendak menggugah kegamangan sosio-attitude masyarakat sekarang yang dicitrakannya melalui padi.

A. Muttaqin, barangkali, mencoba bersabar pada sikap ketidak-pedulian masyarakat lokal dan peran pemerintah yang sama sekali kosong, terhadap isu investasi yang sedang marak. Terlihat jelas, entitas masyarakat desa yang diwakili oleh kalimat “Setenang perahu Fansuri”.

Hamzah Fansuri adalah penyair sufi Melayu Klasik (Angkatan Pujangga Lama) yang sangat terkenal dengan syair-syair keagamaannya, semisal pada Syair Perahu-nya yang begitu teduh dan tenang.

Sesuatu yang hendak dipotret A. Muttaqin, sejauh pengamatan saya, mirip dengan kegundahan selepas “tragedi” Kedungombo. Saat rumah rebah, dan ladang menjadi danau.

Tak pelak memang, semua karya yang termuat dalam buku ‘Bhineka Tunggal Ika’ Harmoni in Diversity, ini adalah karya terpilih dan hebat. Apresiasi bagus wajarlah bila diberikan pada panitia UWRF dan tim kurator yang telah berpayah-payah menseleksi dan menempatkan kedudukan karya sesuai kualitasnya. Buku ini sendiri, sebagai sebuah bunga rampai, patut mendapat penghargaan.

Baik Kadek Purnami, Ni Wayan Juniartha, M. Aan Masyur, dan Syaifuddin Gani yang hadir malam itu “mengkuliahi” para sasrais Kendari perihal UWRF, patut mendapat pujian. Dengan lancar mereka mampu menjawab semua gugatan, telaah, diskursus yang berkembang dalam diskusi yang dipandu penyair Adhy Rical itu.

Namun, sayang sekali, keempat panelis itu tidak satupun yang menjawab kecemasan saya, yang pada sesi ketiga diamini semua peserta. Kecemasan saya soal ancaman terhadap perkembangan literasi nasional Indonesia, dihadapan panel Pasar Bebas. Panel Pasar Bebas, mau tidak mau, harus dilihat sebagai salah satu instrumen ancaman terhadap perkembangan literasi nasional. Dunia kepengarangan, termasuk sastrawan dan penulis pada umumnya, serta dunia perbukuan, akan diterjang oleh entitas literasi asing dalam mainstream selera pasar.

Gejalanya bukan tidak tampak. Lihat saja, ketika harian Kompas menurunkan laporan soal “Suram dan Lesunya Penerbitan Buku” (Senin, 31 Januari 2011). Laporan itu dengan rinci menyebut salah satu persoalan yang menghadang adalah langka dan mahalnya bahan baku, yang secara umum diambil dari kayu (wood-paper). Pembalakan resmi yang mengkatrol kuota kayu tebang labih dari 55% teralokasi ke ekspor, adalah pemicu utama kelangkaan. Lalu investasi asing di sektor furniture ikut menggerus bahan baku sebanyak 15% dan sisanya masih harus dibagi pada pengusaha pulp & paper nasional dan asing. Mahalnya bahan baku akan ikut mengkerek tingginya harga cetak buku, lalu berimbas pada tingginya nilai cetak oleh penerbit dan pengarang, serta berakhir pada tingginya harga buku yang harus dibayar oleh konsumen.

Serbuan literasi asing juga mencemaskan. Lusinan penerbit lebih suka membeli hak cetak sejumlah karya novel asing, kemudian diterjemahkan, ikut membanjiri pasar buku nasional. Jika tidak begitu, maka penetrasi penerbit asing dapat dilakukan dengan bagi modal kepemilikan (penyertaan modal), atau pure-investment publishing (non penyertaan modal).

Anak-anak kita sekarang cenderung mengikuti trend, dan lebih memilih membaca novel-novel; Saptaquel Harry Potter, atau Cronicles of Narnia, padahal ada The Cronicles of Willy Flarkies karya Satrio Wibowo. Bahkan orang muda lebih suka membaca novel-novel; The Doomsday Key 2012-nya James Rollins, You Suck (The Vampir Diaries) karya Christopher Moore, atau Escape Over The Himalayas karya Maria Blumencron, ketimbang membaca Giganto (Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo) karya Koen Setyawan, atau Dwilogi Prabu Siliwangi-nya E. Rokajat Asura.

Perkembangan literasi asing lewat transliterasi akan ikut mempengaruhi perkembangan tema lokal, dan paling mencemaskan adalah perpindahan literasi lokal/kuno/langka secara sistematis lewat metode transliterasi bahasa Indonesia ke bahasa asing. Kejadian serupa yang menandai pengklaiman literasi kuno epos La Galigo, dan banyak literasi kuno Bali dan Jawa, serta bentuk bentuk literasi langka di daerah lainnya.

Sebagaimana imperialisme kuno yang masuk lewat jalur trading, perpindahan kekayaan literasi asli Indonesia dahulu sukar dicegah. Eropa terbukti menyimpan ratusan ribu manuskrip dan perkamen (bahkan lontara) sastra tradisional nusantara, baik dalam bentuk asli maupun hasil terjemahannya saja. Pola trading gaya baru (pasar bebas) akan membawa dampak yang tak jauh berbeda, dan makin memperkeras bentuk ancamannya.

Kendatipun demikian, saya sangat berharap kegiatan UWRF ini terus ada dan berkembang. Bagi saya, kegiatan lain seperti UWRF, ini pun jika bisa juga lahir, sehingga makin menegaskan bentuk kehendak kita pada kebangunan dan kecemerlangan kembali literasi Indonesia yang sempat pernah mendunia.

Selebihnya, acara Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), yang diselenggarakan Yayasan Mudra Swari Saraswati yang diwakili Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha, difasilitasi oleh Teater Sendiri (Syaifuddin Gani), serta disponsori Hivos, berlangsung dengan sangat baik. Elegan dan tuntas.

Malam kian larut saat acara itu pungkas, tepat pukul 24.00 waktu Indonesia bagian Timur. Kadek Purnami dan I Wayan Juniartha masih akan ke Ternate besok paginya untuk promo UWRF yang sama. “Sampai bertemu di Ubud,” seru keduanya berpamitan, sebelum masuk ke dalam mobil menuju hotel.

Mari menegakkan kembali kebangunan tradisi literasi Indonesia asli. Sekian. ***

Kendari, 11 Februari 2011

Penyair Irianto Ibrahim, membacakan 'Perahu Kanak-Kanak' yang dicuplik dari bukunya "Buton, Ibu dan Sekantong Luka".

M. Aan Mansyur, salah satu kurator UWRF, juga membacakan salah satu sajak pada sesi pembukaan.

Sulprina Rahmin Putri, juga tak ketinggalan menghibur undangan dalam pembacaan puisi.

Frans Patadungan, membaca puisi pada pembukaan.

Sastrawan Syaifuddin Gani, ikut mempersembahkan sebuah puisi di pembukaan.

Panelis: Syaifuddin Gani, M. Aan Mansyur, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha. Adhy Rical (Moderator)

Undangan menyimak Frans Patadungan membaca puisi pada pembukaan acara.

Arham Kendari (Karikaturis & Penulis), Laode Djagur Bolu (Budayawan & Seniman), Sidin Lahoga (Sastrais), Irfan Ido (Sastrais). Cermat menyimak diskusi.

Ahid Hidayat (Dosen & Sastrawan), Sendri Yekti, dan undangan diskusi lainnya.

Ilham Q. Moehiddin, mojok bersama sastrais Iwan A'rab di meja bernomor 12.

Para undangan (mahasiswa dan penggiat sastra) mengikuti diskusi dengan antusias.

Syaifuddin Gani, Kadek Purnami, I Wayan Juniartha, Adhy Rical, dan M. Aan Mansyur. Berpose bersama seusai acara.


[Kajian Sastra] Gaya Deiktik yang Kuat dalam Tulisan Julia Napitupulu

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

 

Suatu waktu, Julia Napitupulu, mentautkan enam tulisannya ke wall account Facebook milik saya. Jelas sekali maksudnya…agar saya membacanya. Tulisan-tulisan Julia saya salin, sehingga mudah bagi saya membacanya satu per satu. Keenam tulisan Julia itu adalah:

1) Dendam Kepada Penjual Coklat (kumpulan puisi pendek, 2010); 2) Hanya Sekali dan Tak Pernah; 3) Lahir Sebagai Pecinta; 4) Merekam Kedamaian; 5) Satu Hari Ku Hidup Untukmu; 6) Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita.

Gaya bahasa populer memenuhi pembacaanku. Tapi tidak selalu. Pada satu-dua tulisan Julia kental menggunakan metafor, tetapi di satu-dua tulisan lainnya metafor-nya sangat tipis. Dan, yang menarik dari tulisannya sehingga enak dan renyah di baca adalah gayanya berkisah.

Karena semua tulisan ini bagus-bagus, maka saya hanya akan sharing dari model penceritaan Julia saja.

Ada tiga tulisan yang mengandung mutual yang intens antara karakternya: Hanya Sekali dan Tak Pernah, Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita, dan Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Judul terakhir ini sengaja saya pisahkan, sebab ‘unik’ dan akan saya bahas terakhir.

Di luar kisah berjudul ‘Satu Hari Ku Hidup Untukmu’, saya nyaris subjetif ketika membaca kedua tulisan lainnya. Entah. Barangkali saya terbawa melankoli sehingga nyaris mengubur sisi objektifitas saya. Tetapi…sungguh, kedua penceritaan ini menghanyutkan, renyah, mengalir, tak padat metafor, begitu mudah difahami.

Ada perbedaan ketika kita menceritakan pengalaman pribadi, dan fiksi. Pengalaman empirik seringkali memuluskan sebuah tulisan sehingga alurnya mengalir. Empirisme dalam bentuk tulisan memang membuat kita (pembaca) serasa menjadi bagian dari diri si penulis dalam pembacaan.

Pada dua tulisan ini saya pun menemukan direct core yang unik dan sukar dilakukan pada kebanyakan penulis:

“Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas, ya).”

[pembuka pada tulisan Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita]

Atau,

“Katakan…Berapa kali dalam sehari aku melintas di pikiranmu.”

“Hanya sekali…karena sesungguhnya kamu tak pernah keluar lagi…”

[paragraf kedua, Hanya Sekali dan Tak Pernah]

Direct core macam ini sebenarnya biasa saja, hanya jarang sekali ada penulis yang bisa meletakkannya begitu saja di permulaan tulisan. Kebanyakan mereka harus mengantarnya dulu, sebelum membuat kalimat macam itu. Tapi Julia lancar sekali melakukannya. Ini bagus dan layak dipertahankan sebagai penciri.

Sebenarnya saya sangat penasaran pada kisah Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Pada kisah ini, Julia sedikit unik, dengan menempatkan objek penceritaannya dalam anti-laksem “bolak-balik”, aku bermaksud sebagai dia, dan dia bermaksud sebagai aku. Julia menghindar dari lexical definition.

Penghindaran unik ini biasa disebut deiktik, dan sudah dimulai Julia sejak dari judul kisahnya, Satu Hari Ku Hidup Untukmu. Dalam kisah ini, penulis, menceritakan kesan-kesannya pada sang kekasih yang terkena stroke akut, sehingga melemahkan beberapa fungsi motorik primer tubuhnya. Dan untuk bisa membahagiakan karaktek ‘Aku’ yang diwakili si penulis, karakter ‘Dia’ hendak memenuhi hari “terakhirnya” dengan segala keindahan suasana. Tetapi, dalam pembacaan, kita digiring oleh penulis untuk merasakan itu dari sisi ‘Aku’, dan bukan dari sisi ‘Dia’.

Membaca kisah Julia ini, saya teringat pada Yale Bloomfield, seorang linguistik Amerika. Bloomfield berhasil meneruskan pendapat Sapir yang semula hanya berkutat pada linguis tradisional penduduk Amerika. Metode pemutahiran Bloomfield inilah yang membuat saya teringat ketika membaca cara berkisah Julia.

Entahlah, apakah sebelumnya Julia sudah menyadarinya atau belum, agaknya Julia telah melakukannya. Pada re-struktur karakter yang terantar lewat definisi, ciri pembeda, dan dasar penentuan opisisi fonologi.

Tanpa disengaja (atau memang disengaja), Julia menyentuh antimentalis Bloomfield dalam gaya penceritaannya, sehingga mengantarkan konsepsi komunikasi Julia pada pembacanya sebagai stimulus pencerita yang hendak memunculkan reaksi berbeda pada pembaca.

Pada Bloomfield, yang penting dalam bahasa adalah fungsinya, sebagai penghubung stimulus penutur (atau pencerita) dengan reaksi mitra tutur (atau pembaca). Definisi ‘Aku’ tidak memperturutkan bunyi dan maksud sebagai ‘Aku’ dan demikian pula dengan definisi ‘Dia’. Julia memperlakukan penyebaran definisi dan sifat akustik menjadi sesuatu yang penting.

Mari kembali ke Julia lagi.

Kisah ini sendiri adalah kisah yang terangkat dalam penceritaan dari memori masa lampau penulis. Dalam notes penulis, tertera; bahwa kisah ini dituliskan kembali setelah delapan tahun ‘mengendap’. Artinya, memori yang melekat pada dinding benak penulis, sedemikian kuatnya, sehingga penulis begitu lancar mengkisahkannya kembali.

Maka, simaklah.

Satu Hari Ku Hidup Untukmu

Oleh Julia Napitupulu (30 Juni 2010)

Setelah 5 hari ‘mati suri’, belum pernah tekadku begitu kuat untuk hidup dengan sikap seolah-olah besok aku mati…jadi, hari ini sangat berharga.

Kupegang lengannya lembut: “Mau makan apa..?”

“Terserah…yang kau suka…” jawabmu termangu.

“Ya jangan dong…kan aku yang mau traktir…pengen apa?” desakku (duh, besok aku tak hidup lagi…katakan, mau makan apa?? Apa pun…aku siap..maksudku, perutku siap, dompet lumayan siap..)

“Yah..ga usah yang mahal-mahal lah, kasian duitmu abis nanti…”

Aduh, aku terharu banget…Rasanya ada magma yang siap meledak dari pusat jantungku. Melebur dengan mata air yang sudah menggantung sejak tadi di pelupuk mataku. Kok masih sempet-sempetnya kau mikirin aku…kan aku udah kerja, udah bisa lah kalau traktir-traktir makan aja.

Sebenarnya acara makan-makan ini juga sesuatu yang ‘ditularkan’ dari mu. Kuingat dirimu dulu…selalu menutup hari yang ‘berat’ dengan makanan terbaik, meski tidak harus dari restoran terbaik. Kau memperlakukan acara makan bersama layaknya seorang Ibu yang menjamu putranya yang kembali dari medan perang. Sehabis berselisih, makan bersama. Kelar kerja bakti seharian, makan bersama. Sehabis bertangis-tangisan, makan bersama. Untuk mu makan bersama, seperti berpelukan di momentum terpenting, di mana setiap orang akan mengenang masing-masing seperti saat mereka sedang berpelukan damai.

“Dulu kan suka gado-gado? Atau gudeg? Inget gudeg yang di Benhil…manis kan? Aku juga ga suka…kalau yang ini kayak yang di pramuka…gurih, asin, selera kita banget deh…” desakku penuh harap, sambil kucari gairah berpelisir makanan itu di matanya.

Tapi entah kapan sudah menguap rupanya excitement itu. Matanya bertemu dengan mataku…mengerti bahwa aku ingin membahagiakannya, seolah-olah besok aku beneran bakal mati. Tuturku dalam hati, ”aku menyesal, saat kau masih doyan banget makan di luar, aku jarang traktir makan…malah suka kelayapan.”

Kau mampu ‘membaca’ tutur hatiku, hanya lewat tatapan sesal mataku. Lalu senyummu hadir, dikembangkan semata-mata untuk membesarkan hatiku…“Saya pengen (pizza) aja…” Tuturmu dengan lafal yang udah agak kacau karena darah keparat itu membuat ‘sumbatan’ kecil lagi untuk yang kesekian kalinya di otakmu.

Aku tak mampu menangkap kata ‘pizza’ yang kau sebutkan, karena pengucapanmu yang sudah tak jelas. Setengah mati aku berpikir keras, agar tak perlu menyinggung harga dirimu. Mataku jelalatan memelototi deretan restoran yang kau maksud. Apa sih katanya…bihaaa??? Bisaa…??

“Ooooo PIZZAAAAA ya…?” kejarku nyaris teriak. Ujung matamu yang turun seperti ujung mataku yang turun mengedip gembira. Kegembiraan yang sedikit direkayasa, yang ku tahu hanya untuk membesarkan hatiku. Tapi aku ga peduli, karena aku sudah ambil sikap seolah-olah ini hari terakhirku. Jangankan Pizza, Menara Pisa sekali pun kalau perlu kuboyong ke hadapanmu sekarang.

Lalu kita menaiki tangga itu, dan betapa bangganya aku…tubuhmu yang memang tak terbilang tinggi namun selalu terasa menjulang itu, sudah agak membungkuk, bahkan kakimu mengkerut. Tapi otot-otot dilenganmu selalu berdenyut gagah. Tanganmu bersih tapi besar jari-jarinya, layaknya tangan lelaki. Selalu membuatku aman.

Interupsi datang dari empat orang pria yang dengan gaya melecehkan seolah-olah aku ini bukan manusia, terang-terangan melirik kakiku yang telanjang penuh gairah. Yang satu wajahnya ganteng banget, satu kayak kurang umur, dua lagi ancur jijay(ihh…masi inget lhoh gw!!☺). Menangkap basah ‘teman sejati’nya dilecehkan, rahangmu yang maskulin langsung mengeras…dan balas menatap mereka dengan garang. “APAA LIAT-LiAT?”

Whuih…power seorang marinir sejati. Sesaat, tiba-tiba dampak stroke-mu seperti tak punya kuasa. Adduhhhhhh, dalam hatiku, sudahlah, mubazir sekali kalau tekanan darahmu sampai bergolak lagi hanya karena empat mahkluk ga penting yang nepsong karena ngeliat betis perempuan. Tapi meskipun peristiwa heorik ini sudah ga ke-itung berkali-kali kualami, mau ga mau dadaku tetap tergetar juga…

Wouwww…moment of truth…I’m saved again by my Hero.

Tiba-tiba…tubuhmu seperti tegak dan menaungi tubuhku yang jauh lebih sehat. Pemuda-pemuda malang itu pun mengkerut, kayak cacing tanah disiram air mendidih. Tadinya aku mau berkata padamu, “sudahlah…ga perlu ribut karena hal-hal sepele…ga worth it”, tapi berhubung besok aku mati, aku memutuskan untuk mengakuimu sebagai pahlawanku, the only one hero.

“Makasi ya…keparat-keparat pengecut itu mengkeret semua cuman karena digituin aja…” Kau cuma menanggapi dengan mengangkat dagumu dengan anggun bak bangsawan…dadaku sesak, dan membatin—aduhh, siapa lagi yang bakal membelaku nanti..??

In my childhood, I cant think of any other need as strong as the need for your protection…

Lalu kita pun duduk, muka bertemu muka, masing-masing tahu, bukan acara makan bersama ini yang menjadi agenda utama. Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap langsung ke matanya…sedetik, dua detik. Fenomena ‘flashback’ itu terjadi lagi. Kita memang seperti cermin ya…

Semua orang bilang begitu. Masing-masing kita pun meyakini begitu, dari dulu. Bedanya, dulu dua cermin ini kerap saling menyilaukan dan memantulkan sinar mematikan ke sesamanya. Sekarang tidak, kini dua cermin ini bekerja dengan seharusnya. Menjawab sebelum yang satunya bertanya, menangis sebelum yang satunya mengadu. Mengangguk paham sebelum yang satunya berujar.

Gemetar tanganmu mengambil kertas dan pulpen. Keringatmu menetes untuk memerintahkan jemari-jemarimu agar patuh kepada instruksi dari otak. (dasar stroke keparat!!! kalau kamu manusia, sudah habis kau kuinjak-injak!!)

Tulisanmu untukku sungguh-sungguh menjadi pondasi untuk ku melanjutkan perjalanan hidupku selanjutnya…dan entah mengapa, detik itu aku tahu, bahwa secarik kertas itu adalah pemberianmu yang terakhir. Mungkin ini yang namanya bisikan jiwa. “Sayangku…saya tidak tahu apa yang mau kita bicarakan…(isakku dalam hati saat membaca kalimat pertamamu…bahkan kau pun tahu ya, kita ke sini emang bukan mau makan).

Lalu mataku menelusuri tulisan indah yang kentara ditulis oleh tangan yang gemetar. Tangan maskulin tercinta yang sudah ga nyambung antara mata dan tangan, kubaca hampir tanpa bernapas; but I do love you…You sphere the air of our home…like a sun in my heart, shining all the time…be shining wherever U are…i love you so much, my Sunshine…”dan bait-bait berikutnya mengabur karena tetes di pelupukku.

Sempurna…

Bila benar ku mati besok, kematianku akan sempurna. Karena di hari terakhirku, aku mendengar pernyataan yang paling jujur dari jiwa…betapa indah maknaku bagimu.

Jadi aku mataharimu ya? Karena itukah kau betah berjam-jam bicara denganku, meski hari sudah gelap? Karena itukah kau betah berdansa bernyanyi lama-lama denganku, meski pesta sudah lama usai? Karena bersama ‘matahari’, hari selalu saja terasa seperti baru dimulai.

Tak tahan dengan keterharuan yang sangat, setengah melompat aku membenamkan kepalaku di dadamu yang aman, dan merasakan tanganmu membelai rambutku, tapi kali itu bukan Kau Pa, yang bicara seperti biasa. Mungkin bibirmu terlalu letih, aku tersedu meratap…“aku sayang Papa…cinta sekali…sayaaannngggg sekaliii. Trima kasih sudah memaknaiku sebagai Mataharimu. Aku tak kan mati suri lagi…doakan ku untuk menemukan Matahariku…dan juga memanggilnya SunShine ku ya Pa…”

Kurekam semua detil di hari itu, Pa. Setiap tarikan nafas, setiap tatapan mata, setiap sentuhan, setiap kata, yang terucap…dan yang tak sanggup terucap. Kurekam dan kuabadikan di jiwa…seperti Papa mengabadikan aku di jiwa mu…

Satu hari…dimana ku sungguh benar-benar hidup, hanya untukmu…

Jakarta, Sabtu, 25 juni 2010, 02.20 wib

Penuh bangga, haru & cinta, mengenang Dia, 8 tahun yang silam..

Saran professional yang dapat saya berikan pada penulis adalah; sebaiknya kisah ini diangkat ke bentuk novel romantic-love story, sehingga akan terasa benar gagasan dan ide dasarnya, yang memang kuat itu.

Julia berhasil menciptakan keseluruhan gagasannya dalam lansekap yang terbatas, sehingga memuat kemungkinan kisah bisa dilebarkan dengan menggali lebih dalam memori penulis. ***


%d blogger menyukai ini: