Category Archives: Telisik Literasi

[Puisi] Hikayat Tiga Ksatria & Batu Lateng’U

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Hikayat Tiga Ksatria

 

: Manjawari

 

Lelaki yang perkasa

Sebelah kakinya di gunung Sampapolulo

Di dadanya pokok-pokok enau berkelindan

Dialah raja bertubuh besar; Mokole RangkaEa.

 

Lompatannya melampaui pulau-pulau

tangannya menyisir awan

lalu matahari kentara dari timur

Dari Wolio datang kabar menggemparkan

Lamun laut akan menyerang benteng dalam tiga ratus ribu tombak

 

Kabaena sepandangan mata

Tetapi Wolio harus sabar

Sebelum Murhum dan Lakilaponto menjemput

Pantang baginya menulah sakti

sebelum dua saudaranya datang

 

Ohoi….Manjawari melompat sigap

Di gerbang Wolio, di pesisir yang bergejolak

Sapuan tangannya menenggelamkan armada lamun

Dia menghalau, dia menghadang, menjaga dua saudara

Di saat Murhum mengamuk di utara

Lakilaponto menerjang di barat daya

 

Manjawari, sang Mokole Kabaena

Padanya, Sapati dianugerahkan

Padanya, Selayar dikuasakan

 

Di tangannya, Kabaena menuai jaya

Mokole ketujuh yang perkasa, Opu Manjawari

Di bekas istananya kini dia tenang

Di keheningan Sampapolulo, dia bersedekap

Sebuah kerangka raksasa tujuh meter

Duduk hening di kursi batu.

 

: Lakilaponto

 

Lakilaponto mendulang firasat

Mimpinya semalam tentang putri yang dirapun

Putri yang bermukena

Entah siapa yang kini bersiasat

Dua pulau mengapit, haturkan sembah

di jantung Tongkuno

 

Murhum telah datang

Padanya terkabar perihal bencana

Wolio sedang dirapun, ada lamun mendekat

Murhum tak bergerak, Lakilaponto tak bangkit

Kesaktian tak akan berguna, jika Manjawari tak dijemput

 

Kepada siapa selendang Sultan hendak dititipkan

Pada riasan bomba di tengah makam

Tongkuno yang tua, Lakilaponto berwasiat

Jika dia tak kembali, selendang Sultan mesti dilipat

 

Lakilaponto, manusia sakti negeri Tongkuno

Di Barat Daya, lelaki perkasa ini mengamuk

Dia terjang lamun, yang merapun di sudut

Seratus tombak, musuh rebah ke tanah

Inilah akhir mimpinya, inilah tafsirnya

 

Wanita bermukena dalam mimpinya

adalah Wolio, penebus akhir riwayat

Pada Murhum, diwasiatkannya tentang mukena

Kerudung sebagai permulaan masa.

Manjawari diciumnya. Setiap lelaki perkasa

Tahu kemana harus pulang.

 

: Murhum

 

Murhum yang sakti datang

Di hadapan Lakilaponto dia bersimpuh

Sultan itu tak bangkit, Murhum pun tak bergerak

Wolio harus bersabar, katanya.

 

Kabar yang dibawa Murhum, sungguh lena

Wolio akan dirapun, lamun dari timur sepenggalahan

Murhum harus tahu, adalah Manjawari yang bertuah

Lakilaponto tak akan beranjak,

Maka Manjawari harus berbilang ikut serta

 

Lelaki beraras langit, Murhum orangnya

Utara Wolio dijaganya, dihalaunya dari lamun

Senjatanya berputar, memakan lawan

Tiga saudara, tiga tuah

Lakilaponto merusak lamun begitu hebat

Tubuh Manjawari yang besar bikin lamun ngeri

Menjerit dan lintang pukang mereka

Melihat amukan ketiga saudara

 

Pada Murhum, Lakilaponto menitip wasiat

Agar memasang gerudung pada Wolio

Opu Manjawari sebagai saksi

 

Pada Murhum, Lakilaponto memberi tegas

Opu Manjawari akan menjaganya dari selatan

Hormati kuasa Manjawari dengan kabalu

Jaga hati Manjawari dengan kande-kandea

 

Lunas mimpi Lakilaponto

Tunai harkat Manjawari

Wolio kini bermukena

Di bawah duli Murhum, Butuni bersolek

2011

***

Hikayat Tiga Ksatria adalah gubahan ke bentuk syair yang mereduksi kisah sejarah lampau perihal tiga kesatria yang datang membantu kerajaan Wolio, dari ancaman serbuan perompak di perairan Ternate dan Tidore.

***

Batu Lateng’U

 

1

berlimpah hormat kami haturkan

dua puluh lembah mengantarainya

benda persembahan terbentang di muka

Dari seberang lautan kau berperahu. Dua ribu armada dalam bentangan sayap bangau. Dua puluh empat bidadari menyambut dengan selendang. Dibukanya jalan saat kakimu menyentuh bumi. Batu Lateng’U, batu keramat, kau pijak, memecah tiga. Pusaka kau simpan di belahan rambut pada seorang bidadari tujuh wajah. Wahai, lelaki yang di dadanya keluar para Opu. Bilakah batu Lateng’U memberi isyarat? Pada rumpun padi yang bunting? Pada kemilau sebiji mutiara kuning laksana emas? Kau wasiatkan Bala Olo Pedandi’A padaku untuk aku ingat: pada masa ketiga akan datang tiga yang bercahaya bagai sebatang bombana dan dua lembar kain enu.

2

pinang satu kerat, sirih sekapur

kesana-kemari, laksana sebiji kemiri dalam gendang

tanduk rumah, bumbungan mahligai

Menemani perjalananmu, sebatang tongkat bambu yang ruasnya dari belulang naga. Oh, Sawerigading, kami harus menepuk pundak untuk mengingatmu. Di tepian konali engkau mengiris topi untuk kau pupuri tanah yang dipenuhi doa dan harapan. Dendeangi tunduk di kakimu, menerima perintah. Dendeangi menata keturunannya di pesisir selatan, pada tenggara pulau Sulawesi. Sebelum Sawerigading menurunkan tumit, engkau pijak batu Lateng’U, hingga pecah. Menjadi tiga lajur, tiga warna-warni. Sawerigading berjanji akan kembali, sebelum badik Tamano Moronene memutih garam pada ujungnya.

3

irisan atapnya, potongan pangkal kasaunya

teduh tirisan atapnya, ujung potongan kayunya

agar mereka senantiasa ingat kapak dan parang sebagai alat pencahariannya

sampai mereka beruban dan berjalan bungkuk bertongkat

Pada pagi yang rawan, datang kabar tentang Nungkulangi yang rebah. Lelaki perkasa itu hujub di anak sungai mata permaisuri. Digenggamnya hulu badik Tamano Moronene. “Inilah waktu yang diperjanjikan, wahai….para pewaris,” suara putri Luwuk mengiringi Bala Olo Pendandi’A. Tiga tuan dan seorang puan berdiri di bawah bambu, menunggu api menyentuh kepala. Badik Tamano Moronene di hujamkan ke bumi. Saat telapak Nungkulangi menyentuh bahu maka restu diberikan, titah diturunkan, wasiat disampaikan. Di hadapan Nungkulangi yang membusung, Ntina Sio Ropa, si putri tujuh rupa menjadi pembela Poleang. Di hadapan Nungkulangi yang tegak, Eluntoluwu, si putra bijak menjadi payung Rumbia. Dihadapan Nungkulangi yang perkasa, Indaulu, si putri jelita menjadi benteng Kabaena. Bala Olo Pedandi’A telah ditunaikan; tatkala batu Lateng’U pecah tiga di bawah telapak kaki moyangnya, sang Dendeangi. Bombana menjelma serupa tiga sulur bersimpul tunggal.

2011

***

Diangkat dari sejarah tua terbentuknya kerajaan Bombana yang kemudian memecah menjadi tiga protektorat kerajaan; Kabaena, Poleang, Rumbia.

Fig. 68. Wandzeichnungen aus der Batu Buri-Honle bei Tankeno - gez. Grundler. (Gambar 68: Lukisan dinding di Gua Batu Buri, di Tankeno - ttd. Grundler)

Fig. 2. Die beiden hochsten Berge Kabaenas vom Norden her. (Gambar 2: Gunung Tertinggi di Kabaena, tampak dari sisi utara).

Collectie Tropenmuseum: Tekening van Het Skelet van Een Woonhuis op Kabaena Celebes - tmnr 10003886 (Kerangka rumah di Kabaena Sulawesi - Gambar: Koleksi Tropenmuseum)

Fig. 2. Balo-Haus im ostlichen Kabaena; vorn ein Grab mit Opferpfahl (Gambar 2: Rumah Balo-Moronene di Kabaena bagian timur; dengan tiang pengorbanan pada bagian depannya).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita (Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita).

Fig. 1. Ein Huis in der Landsehaft Tankeno, Nord-Kabaena; Blick von Enano auf den Sangia Wita Gambar 1: Sebuah rumah di wilayah Tankeno, Kabaena Utara, gambar diambil di Enano, Sangia Wita.

Ein Moronene-Haus in Sud-Rumbia (Sebuah rumah orang Moronene di wilayah Rumbia).

Deskripsi gambar 3: Kampiri, salah satu bentuk rumah dari tiga jenis rumah dalam peradatan orang Moronene, di Pulau Kabaena. Dua lainnya adalah; Laica Ngkoa (rumah besar), dan Olompu (rumah kebun).

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Papan Bilangan Orang Moronene.

Sistem Perhitungan Waktu / Sistem Matriks Bilang'ari Sosial-Ekonomi Orang Moronene.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Salah satu sudut benteng kerajaan Kabaena-Moronene di Tankeno.

Gunung Watu Sangia, dilihat dari Tankeno.

Gunung Sampapolulo (di selatan Gunung Watu Sangia).

Situs gua bersejarah Watu Buri (Batu bertulis) di Tankeno. Beberapa bentuk lukisan pada dinding gua dapat dilihat pada gambar pertama di atas. Goa ini dipercaya sebagai tempat Ratu Indaulu pertama bermukim sebelum membangun istana kerajaan di Tankeno. Di dalam gua ini masih dapat ditemui berbagai perkakas dan meubel terbuat dari batu. Mulut gua ini sangat besar. Perhatian gambar orang di tengah di sisi bawah foto.

Gua Watuburi (gambar tampak dari bagian dalam).

Foto-foto berbahasa asing adalah koleksi antropolog Jerman, Grubeur dan Johannes serta koleksi Tropenmuseum, Belanda. Sedang foto lainnya diambil dari berbagai sumber terkait.


[Telisik Literasi] ‘Three Hermits’ sampai ‘Dodolitdodolitdodolibret’

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Sengkarut ini bermula dari pengumuman pemenang Cerpen Terbaik Kompas, di Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta pada Senin, 27 Juni 2011 lalu. Kemiripan cerpen pemenang dengan karya Three Hermits karya Tolstoy segera disadari oleh Akmal Nasery Basral dan dibuatkan kritikannya dengan judul karikaturis “Dodolit Dodolstoy”. Di kajian itu Akmal NB menemukan sekurang-kurangnya 8 (delapan) kesamaan besar.

Saya menampilkan kembali kedua cerpen ini, disertai terjemahannya oleh Atta Verin, yang diketik ulang oleh Hanna Fransisca.

Dalam pembacaanku, setidaknya aku menemukan 12 persamaan mendasar, selain bahwa kedua cerpen itu memiliki ide dan gagasan yang sama persis. Dua belas (12) persamaan mendasar itu bisa di baca di bagian paling bawah catatan ini. Terlepas dari semua sengkarut yang bermula, dan tambahan catatan ini, silahkan berasumsi dan membangun penilaian masing-masing terhadap dua entitas karya ini. Demikian.

 ***

Three Hermits

By : Leo Tolstoy (Ditulis pada 1886)

Leo Tolstoy

A BISHOPwas sailing from Archangel to the Solovétsk Monastery; and on the same vessel were a number of pilgrims on their way to visit the shrines at that place. The voyage was a smooth one. The wind favourable, and the weather fair. The pilgrims lay on deck, eating, or sat in groups talking to one another. The Bishop, too, came on deck, and as he was pacing up and down, he noticed a group of men standing near the prow and listening to a fisherman who was pointing to the sea and telling them something. The Bishop stopped, and looked in the direction in which the man was pointing. He could see nothing however, but the sea glistening in the sunshine. He drew nearer to listen, but when the man saw him, he took off his cap and was silent. The rest of the people also took off their caps, and bowed.

‘Do not let me disturb you, friends,’ said the Bishop. ‘I came to hear what this good man was saying.’

‘The fisherman was telling us about the hermits,’ replied one, a tradesman, rather bolder than the rest.

‘What hermits?’ asked the Bishop, going to the side of the vessel and seating himself on a box. ‘Tell me about them. I should like to hear. What were you pointing at?’

‘Why, that little island you can just see over there,’ answered the man, pointing to a spot ahead and a little to the right. ‘That is the island where the hermits live for the salvation of their souls.’

‘Where is the island?’ asked the Bishop. ‘I see nothing.’

‘There, in the distance, if you will please look along my hand. Do you see that little cloud? Below it and a bit to the left, there is just a faint streak. That is the island.’

The Bishop looked carefully, but his unaccustomed eyes could make out nothing but the water shimmering in the sun.

‘I cannot see it,’ he said. ‘But who are the hermits that live there?’

‘They are holy men,’ answered the fisherman. ‘I had long heard tell of them, but never chanced to see them myself till the year before last.’

And the fisherman related how once, when he was out fishing, he had been stranded at night upon that island, not knowing where he was. In the morning, as he wandered about the island, he came across an earth hut, and met an old man standing near it. Presently two others came out, and after having fed him, and dried his things, they helped him mend his boat.

‘And what are they like?’ asked the Bishop.

‘One is a small man and his back is bent. He wears a priest’s cassock and is very old; he must be more than a hundred, I should say. He is so old that the white of his beard is taking a greenish tinge, but he is always smiling, and his face is as bright as an angel’s from heaven. The second is taller, but he also is very old. He wears tattered, peasant coat. His beard is broad, and of a yellowish grey colour. He is a strong man. Before I had time to help him, he turned my boat over as if it were only a pail. He too, is kindly and cheerful. The third is tall, and has a beard as white as snow and reaching to his knees. He is stern, with over-hanging eyebrows; and he wears nothing but a mat tied round his waist.’

‘And did they speak to you?’ asked the Bishop.

‘For the most part they did everything in silence and spoke but little even to one another. One of them would just give a glance, and the others would understand him. I asked the tallest whether they had lived there long. He frowned, and muttered something as if he were angry; but the oldest one took his hand and smiled, and then the tall one was quiet. The oldest one only said: “Have mercy upon us,” and smiled.’

While the fisherman was talking, the ship had drawn nearer to the island.

‘There, now you can see it plainly, if your Grace will please to look,’ said the tradesman, pointing with his hand.

The Bishop looked, and now he really saw a dark streak — which was the island. Having looked at it a while, he left the prow of the vessel, and going to the stern, asked the helmsman:

‘What island is that?’

‘That one,’ replied the man, ‘has no name. There are many such in this sea.’

‘Is it true that there are hermits who live there for the salvation of their souls?’

‘So it is said, your Grace, but I don’t know if it’s true. Fishermen say they have seen them; but of course they may only be spinning yarns.’

‘I should like to land on the island and see these men,’ said the Bishop. ‘How could I manage it?’

‘The ship cannot get close to the island,’ replied the helmsman, ‘but you might be rowed there in a boat. You had better speak to the captain.’

The captain was sent for and came.

‘I should like to see these hermits,’ said the Bishop. ‘Could I not be rowed ashore?’

The captain tried to dissuade him.

‘Of course it could be done,’ said he, ‘but we should lose much time. And if I might venture to say so to your Grace, the old men are not worth your pains. I have heard say that they are foolish old fellows, who understand nothing, and never speak a word, any more than the fish in the sea.’

‘I wish to see them,’ said the Bishop, ‘and I will pay you for your trouble and loss of time. Please let me have a boat.’

There was no help for it; so the order was given. The sailors trimmed the sails, the steersman put up the helm, and the ship’s course was set for the island. A chair was placed at the prow for the Bishop, and he sat there, looking ahead. The passengers all collected at the prow, and gazed at the island. Those who had the sharpest eyes could presently make out the rocks on it, and then a mud hut was seen. At last one man saw the hermits themselves. The captain brought a telescope and, after looking through it, handed it to the Bishop.

‘It’s right enough. There are three men standing on the shore. There, a little to the right of that big rock.’

The Bishop took the telescope, got it into position, and he saw the three men: a tall one, a shorter one, and one very small and bent, standing on the shore and holding each other by the hand.

The captain turned to the Bishop.

‘The vessel can get no nearer in than this, your Grace. If you wish to go ashore, we must ask you to go in the boat, while we anchor here.’

The cable was quickly let out, the anchor cast, and the sails furled. There was a jerk, and the vessel shook. Then a boat having been lowered, the oarsmen jumped in, and the Bishop descended the ladder and took his seat. The men pulled at their oars, and the boat moved rapidly towards the island. When they came within a stone’s throw they saw three old men: a tall one with only a mat tied round his waist: a shorter one in a tattered peasant coat, and a very old one bent with age and wearing an old cassock — all three standing hand in hand.

The oarsmen pulled in to the shore, and held on with the boathook while the Bishop got out.

The old men bowed to him, and he gave them his benediction, at which they bowed still lower. Then the Bishop began to speak to them.

‘I have heard,’ he said, ‘that you, godly men, live here saving your own souls, and praying to our Lord Christ for your fellow men. I, an unworthy servant of Christ, am called, by God’s mercy, to keep and teach His flock. I wished to see you, servants of God, and to do what I can to teach you, also.’

The old men looked at each other smiling, but remained silent.

‘Tell me,’ said the Bishop, ‘what you are doing to save your souls, and how you serve God on this island.’

The second hermit sighed, and looked at the oldest, the very ancient one. The latter smiled, and said:

‘We do not know how to serve God. We only serve and support ourselves, servant of God.’

‘But how do you pray to God?’ asked the Bishop.

‘We pray in this way,’ replied the hermit. ‘Three are ye, three are we, have mercy upon us.’

And when the old man said this, all three raised their eyes to heaven, and repeated:

‘Three are ye, three are we, have mercy upon us!’

The Bishop smiled.

‘You have evidently heard something about the Holy Trinity,’ said he. ‘But you do not pray aright. You have won my affection, godly men. I see you wish to please the Lord, but you do not know how to serve Him. That is not the way to pray; but listen to me, and I will teach you. I will teach you, not a way of my own, but the way in which God in the Holy Scriptures has commanded all men to pray to Him.’

And the Bishop began explaining to the hermits how God had revealed Himself to men; telling them of God the Father, and God the Son, and God the Holy Ghost.

‘God the Son came down on earth,’ said he, ‘to save men, and this is how He taught us all to pray. Listen and repeat after me: “Our Father.”‘

And the first old man repeated after him, ‘Our Father,’ and the second said, ‘Our Father,’ and the third said, ‘Our Father.’

‘Which art in heaven,’ continued the Bishop.

The first hermit repeated, ‘Which art in heaven,’ but the second blundered over the words, and the tall hermit could not say them properly. His hair had grown over his mouth so that he could not speak plainly. The very old hermit, having no teeth, also mumbled indistinctly.

The Bishop repeated the words again, and the old men repeated them after him. The Bishop sat down on a stone, and the old men stood before him, watching his mouth, and repeating the words as he uttered them. And all day long the Bishop laboured, saying a word twenty, thirty, a hundred times over, and the old men repeated it after him. They blundered, and he corrected them, and made them begin again.

The Bishop did not leave off till he had taught them the whole of the Lord’s prayer so that they could not only repeat it after him, but could say it by themselves. The middle one was the first to know it, and to repeat the whole of it alone. The Bishop made him say it again and again, and at last the others could say it too.

It was getting dark, and the moon was appearing over the water, before the Bishop rose to return to the vessel. When he took leave of the old men, they all bowed down to the ground before him. He raised them, and kissed each of them, telling them to pray as he had taught them. Then he got into the boat and returned to the ship.

And as he sat in the boat and was rowed to the ship he could hear the three voices of the hermits loudly repeating the Lord’s prayer. As the boat drew near the vessel their voices could no longer be heard, but they could still be seen in the moonlight, standing as he had left them on the shore, the shortest in the middle, the tallest on the right, the middle one on the left. As soon as the Bishop had reached the vessel and got on board, the anchor was weighed and the sails unfurled. The wind filled them, and the ship sailed away, and the Bishop took a seat in the stern and watched the island they had left. For a time he could still see the hermits, but presently they disappeared from sight, though the island was still visible. At last it too vanished, and only the sea was to be seen, rippling in the moonlight.

The pilgrims lay down to sleep, and all was quiet on deck. The Bishop did not wish to sleep, but sat alone at the stern, gazing at the sea where the island was no longer visible, and thinking of the good old men. He thought how pleased they had been to learn the Lord’s prayer; and he thanked God for having sent him to teach and help such godly men.

So the Bishop sat, thinking, and gazing at the sea where the island had disappeared. And the moonlight flickered before his eyes, sparkling, now here, now there, upon the waves. Suddenly he saw something white and shining, on the bright path which the moon cast across the sea. Was it a seagull, or the little gleaming sail of some small boat? The Bishop fixed his eyes on it, wondering.

‘It must be a boat sailing after us,’ thought he ‘but it is overtaking us very rapidly. It was far, far away a minute ago, but now it is much nearer. It cannot be a boat, for I can see no sail; but whatever it may be, it is following us, and catching us up.’

And he could not make out what it was. Not a boat, nor a bird, nor a fish! It was too large for a man, and besides a man could not be out there in the midst of the sea. The Bishop rose, and said to the helmsman:

‘Look there, what is that, my friend? What is it?’ the Bishop repeated, though he could now see plainly what it was — the three hermits running upon the water, all gleaming white, their grey beards shining, and approaching the ship as quickly as though it were not morning.

The steersman looked and let go the helm in terror.

‘Oh Lord! The hermits are running after us on the water as though it were dry land!’

The passengers hearing him, jumped up, and crowded to the stern. They saw the hermits coming along hand in hand, and the two outer ones beckoning the ship to stop. All three were gliding along upon the water without moving their feet. Before the ship could be stopped, the hermits had reached it, and raising their heads, all three as with one voice, began to say:

‘We have forgotten your teaching, servant of God. As long as we kept repeating it we remembered, but when we stopped saying it for a time, a word dropped out, and now it has all gone to pieces. We can remember nothing of it. Teach us again.’

The Bishop crossed himself, and leaning over the ship’s side, said:

‘Your own prayer will reach the Lord, men of God. It is not for me to teach you. Pray for us sinners.

And the Bishop bowed low before the old men; and they turned and went back across the sea. And a light shone until daybreak on the spot where they were lost to sight.***

AN OLD LEGEND CURRENT IN THE VOLGA DISTRICT

‘And in praying use not vain repetitions, as the Gentiles do: for they think that they shall be heard for their much speaking. Be not therefore like unto them: for your Father knoweth what things ye have need of, before ye ask Him.’ — Matt. vi. 7, 8.

Sumber: www.online-literature.com

***

Di bawah ini adalah terjemahan Three Hermits di atas. Diketik ulang oleh Hanna Fransisca dari buku kumpulan cerpen Di Mana Ada Cinta, di Sana Tuhan Ada karya Leo Tolstoy, diterjemahkan oleh Atta Verin. Di copy-paste dari catatan Hanna Fransisca.

Tiga Pertapa

Oleh : Leo Tolstoy (Terjemahan oleh Atta Verin)

Buku Kumpulan Cerpen Leo Tolstoy “Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada” (terjemahan)

SEORANG uskup berlayar menuju sebuah biara yang jauh. Pada kapal yang sama terdapat sejumlah peziarah. Mereka juga hendak mengunjungi tempat suci. Perjalanan itu berjalan lancar. Angin begitu kencang dan cuaca cerah.

Para peziarah di geledak kapal menatap hamparan air laut atau duduk berkelompok seraya bercakap-cakap. Lalu, sang uskup pun ikut bergabung di gelagak kapal. Saat ia melihat-lihat keadaan, ia melihat sekelompok lelaki tengah berdiri di buritan kapal. Mereka sedang mendengarkan seorang nelayan yang tengah menunjuk-nunjuk ke arah laut dan menceritakan sesuatu pada mereka. Uskup itu berhenti dan mencoba melihat ke arah yang ditunjuk oleh nelayan itu. Ia tak bisa melihat apa pun, kecuali laut yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Uskup itu mendekat dan ikut menyimak. Namun, nelayan itu melihatnya. Dilepasnya topinya dan ia berhenti bicara. Orang-orang lainnya juga melepas topi mereka dan membungkuk hormat.

“Jangan biarkan aku mengganggu kalian,” ujar uskup itu dengan ramah. “Aku ingin mendengar apa yang dikatakan oleh orang baik ini.”

“Nelayan ini sedang bercerita pada kami tentang para pertapa,” jawab salah seorang di antara para lelaki itu, seorang saudagar. Ia lebih berani bicara dibanding yang lainnya.

“Pertapa apa?” tanya sang uskup. Ia bergerak ke sisi gelagak dan duduk di atas sebuah kotak. “Ceritakan padaku tentang mereka. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang tadi kamu tunjuk?”

“Pulau mungil itu. Anda bisa melihatnya dari sini, “sahut lelaki itu. Ia menunjuk sebuah titik di depan agak ke kanan. “Di pulau itulah para pertapa itu tinggal. Hanya mereka yang menghuni pulau itu. Mereka ingin menyelamatkan jiwa mereka.”

“Pulau manakah?” tanya uskup itu. “Aku tidak melihat apapun.”

“Di sana di kejauhan—jika Anda mengikuti arah tangan saya. Apakah Anda melihat awan mungil itu? Lihatlah tepat di bawahnya, sedikit ke kiri. Ada sebuah gugus kecil. Itulah pulau yang dimaksud.”

Uskup itu menajamkan pandangan matanya dengan saksama. Tapi matanya tak terbiasa melihat ke lautan. Yang bisa dilihatnya hanyalah air yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

“Aku tak bisa melihatnya,” ujarnya. “Tapi siapakah para pertapa yang tinggal di sana?”

“Mereka orang-orang suci,” sahut si nelayan. “Sudah lama saya mendengar kabar tentang mereka. Tapi saya belum pernah melihatnya sendiri hingga akhir tahun kemarin.”

Lalu nelayan itu bercerita tentang saat ia terdampar pada suatu malam di pulau itu. Ia baru saja hendak pergi menangkap ikan saat badai datang. Dalam kegelapan ia terseret arus hingga ke pantai. Ia tak tahu berada di mana saat itu.

Pada pagi harinya ia berkeliling dan sampai di sebuah pondok. Ada seorang lelaki tua tengah berdiri di dekat pondok itu. Sejenak kemudian, dua orang lainnya muncul. Lalu ketiga lelaki tua itu memberinya makan, mengeringkan bajunya yang basah, dan membantunya memperbaiki perahu.

“Seperti apakah mereka?” tanya sang uskup.

“Yang satu bertubuh mungil dan punggungya bungkuk,” sahut nelayan itu. “Ia memakai jubah pendeta dan tampak sangat tua. Mungkin umurnya lebih dari seratus tahun.Begitu tuanya sehingga janggut putihnya mulai berganti warna menjadi kehijau-hijauan. Tapi, ia selalu tersenyum—dan wajahnya secerah wajah malaikat.

“Yang kedua lebih tinggi, tapi juga sudah amat tua,” lanjut nelayan itu. “Ia memakai mantel petani. Janggutnya lebat dan berwarna kuning kelabu. Ia amat kuat. Sebelum saya sempat membantunya, ia telah membalikkan perahu sendirian seolah-olah itu hanyalah sebuah ember. Ia juga amat baik dan ramah.

“Yang ketiga bertubuh tinggi. Janggutnya seputih salju dan panjangnya hingga mencapai lutut. Ia orang yang tegas dengan alis tebal seperti semak belukar. Dan ia hanya memakai semacam kain melingkari pinggangnya.”

“Apakah mereka berbicara padamu?” tanya uskup.

“Sebagian besar mereka melakukan segala sesuatu sambil berdiam diri,” sahut nelayan itu. “Mereka bahkan tidak berbicara satu sama lain. Salah seorang dari mereka mengganggukan kepala dan yang lainnya tampak mengerrti apa yang dimaksud. Saya bertanya pada yang paling tinggi berapa lama mereka telah hidup di sana. Ia malah bermuka masam dan bergumam seakan-akan ia marah. Tapi yang paling tua menggamit lengannya dan tersenyum. Entah bagaimana itu membuat yang tinggi menjadi tenang. Yang tertua itu hanya bilang, ‘Kasihilah kami,’ dan kemudian ia tersenyum.”

Ketika nelayan itu tengah berbicara, kapal mereka mendekat ke pulau yang tengah mereka percakapkan.

“Itu! Kini Anda bisa melihatnya dengan jelas,” ujar si saudagar pada uskup. Ia menunjuk dengan jarinya.

“Uskup itu melihat gugusan gelap yang merupakan sebuah pulau. Sejenak ia hanya menatapnya. Lalu ia beranjak dari bagian depan kapal dan beralih ke tepi.

“Pulau apakah itu?” tanya uskup.

“Pulau itu tidak bernama,” ujar yang ditanya. “Ada banyak pulau kecil seperti itu di laut ini.”

“Benarkah ada pertapa yang tinggal di sana?” tanya uskup itu. “Benarkah mereka tinggal di sana untuk menyelamatkan jiwa mereka?”

“Begitulah kabarnya,” sahut yang ditanya. “Tapi saya tak tahu soal kebenarannya. Banyak nelayan mengatakan bahwa mereka pernah melihat para pertapa itu. Tapi, tentu saja mereka mungkin hanya tahu dari desas-desus belaka.”

“Sebaiknya aku mendarat di sana untuk membuktikannya,” kata uskup. “Bagaimanakah caranya?”

“Kapal ini tidak bisa mendekat ke pulau itu,” sahut seseorang. “Kita bisa karam. Tapi Anda bisa naik perahu kecil ke sana. Sebaiknya Anda berbicara dengan kapten kapal.”

Kapten kapal dipanggil dan kini berdiri di hadapan sang uskup.

“Aku ingin bertemu para pertapa itu,” Kata uskup. “Bisakah aku berdayung ke tepi pantai?”

Kapten mencoba mencegah niat sang uskup. “Tentu saja itu bisa dilakukan,” ujarnya. “Tapi kita akan kehilangan banyak waktu. Dan jika saya boleh mengatakan satu hal lagi. Para orangtua itu tak cukup layak membuat Anda sedemikian bersusah payah. Kabarnya mereka hanyalah orang-orang bodoh yang tak memahami apapun. Mereka tak pernah bicara—lebih pendiam daripada ikan-ikan di lautan.”

“Aku tetap ingin menjumpai mereka,” kata uskup. “Aku akan membayar semua jerih payah dan waktumu yang hilang. Tolong beri aku sebuah perahu.”

Tak ada lagi alasan, maka permintaan itu pun diluluskan. Para awak kapal mengembangkan layar. Juru mudi membelokkan arah kapal menuju pulau itu.

Sebuah kursi diletakkan di haluan untuk tempat duduk sang uskup. Para penumpang berkumpul di sisi kapal dan memandang pulau itu.  Yang memiliki pandangan paling tajam segera bisa melihat batu karang di sekitar pulau itu. Lalu terlihat sebuah pondok yang terbuat dari lumpur. Akhirnya seseorang melihat ketiga pertapa itu. Kapten kapal mengeluarkan teleskopnya. Setelah melihat melalui teleskop, ia menyodorkan benda itu pada sang uskup.

“Memang benar,” ujar kapten itu. “Ada tiga lelaki berdiri di pantai. Di sebelah sana—sedikit di sebelah kanan batu karang besar itu.”

Uskup mengambil teleskop dan memastikan arahnya. Lalu ia melihat ketiga orangtua itu. Ada yang bertubuh tinggi, yang bertubuh lebih pendek dengan punggung bungkuk. Mereka berdiri di tepi pantai, saling berpegangan tangan.

Kapten menoleh ke arah uskup. “Kapal ini tak bisa lebih dekat lagi ke pulau itu. Jika Anda ingin menepi, Anda sebaiknya menggunakan perahu kecil. Kami akan membuang jangkar di sini dan menunggu Anda.”

Jangkar pun diturunkan dan layar digulung. Kapal itu bergoncang saat ia berhenti. Lalu sebuah perahu dayung diturunkan dan juru dayung meloncat masuk. Akhirnya uskup itu turun dengan sebuah tangga dan duduk di perahu dayung.

Para juru dayung mulai mengayuh dan perahu itu pun bergerak dengan cepat menuju pulau itu. Saat jarak mereka tinggal sepelemparan batu, mereka melihat ketiga orangtua itu dengan sangat jelas. Yang paling tinggi hanya mengenakan semacam kain melingkari pinggangnya. Di sampingnya adalah lelaki yang lebih pendek yang memakai mantel petani. Di dekatnya tampak seorang lelaki amat tua, punggungnya bungkuk oleh usia dan ia mengenakan jubah pendeta. Ketiganya berdiri mematung, saling berpegangan tangan.

Para juru dayung mengayuh ke arah pantai. Mereka menambatkan perahu, lalu sang uskup beranjak turun.

Orang-orang tua itu membungkuk padanya. Uskup memberi salam pada mereka dan mereka membungkuk lebih dalam. Lalu uskup angkat bicara.

“Aku telah mendengar kabar bahwa kalian adalah orang-orang suci. Mereka bilang kalian tinggal di sini untuk menyelamatkan jiwa kalian dan berdoa  pada Tuhan,” ujarnya. “Aku, seorang pelayan Tuhan yang hina, terpanggil oleh kasih Tuhan untuk menjaga dan mengajari domba-dombanya. Aku berharap bisa bertemu dengan kalian yang juga merupakan pelayan Tuhan sehingga aku pun bisa mengajari kalian.“

Para orangtua itu saling melempar senyum, tapi tetap berdiam diri.

“Katakan kepadaku, apakah yang kalian lakukan untuk menyelamatkan jiwa kalian?” tanya uskup. “Dan bagaimana kalian melayani Tuhan di pulau ini?”

Pertapa yang kedua menarik nafas dan menatap yang tertua—yang usianya telah amat sangat tua. Orang ini tersenyum dan berkata, “Kami tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan. Kami hanya melayani dan membantu diri kami, wahai pelayan Tuhan.”

“Tapi bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?” tanya uskup.

“Kami berdoa seperti ini,” pertapa tua itu menjawab. “Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Uskup itu tersenyum.

“Tampaknya kalian pernah mendengar tentang Trinitas Suci,” ujar uskup. “Tapi cara kalian berdoa tidak benar. Kalian membuatku iba. Kulihat kalian ingin berbakti pada Tuhan. Tapi kalian tak tahu bagaimana caranya. Bukan begitu cara berdoa. Dengarkan aku dan akan kuajari kalian. Yang kuajarkan ini bukan sesuatu yang mengada-ada, melainkan menurut apa yang diajarkan Tuhan melalui Kitab Suci kepada seluruh umat manusia.”

Lalu uskup itu mulai bercerita pada para pertapa bagaimana Tuhan memberi wahyu kepada manusia. Ia bercerita kepada mereka tentang Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

“Tuhan Anak turun ke bumi untuk menyelamatkan kita,” ujar uskup. “Dan seperti inilah berdoa yang diajarkan Tuhan pada kita. Dengarkan dan ikuti sesudahnya. “Bapak kami…”

Orang yang pertama lalu mengikutinya, “Bapak kami.” Yang kedua berkata, “Bapak kami.” Begitu pula yang ketiga.

“Yang ada di surga…” lanjut sang uskup.

Pertapa pertama mencoba mengulangi, “Yang ada di surga.” Tapi yang kedua tak mampu melafalkannya dengan benar. Begitu pula pertama yang bertubuh tinggi. Rambut di kepala dan wajahnya telah menutupi mulutnya sehingga ia tak bisa berbicara dengan jelas. Pertapa paling tua, yang sudah ompong, juga mengalami kesulitan dengan kata-kata itu.

Uskup mengulangi kata-kata itu lagi dan para orangtua itu mengikutinya. Lalu uskup duduk di atas sebuah batu dan para pertapa itu berdiri di hadapannya. Mereka menatap mulut uskup itu dengan saksama. Setiap kata yang diucapkan uskup itu mereka ulangi. Sepanjang hari uskup itu bekerja. Ia mengucapkan tiap-tiap kata hingga 20, 30, bahkan 100 kali. Lalu para pertapa tua itu menirunya. Saat mereka membuat kesalahan, ia membetulkannya, lalu mereka mulai lagi dari awal.

Uskup itu tidak berhenti hingga ia selesai mengajarkan seluruh doa itu. Ia mengajari mereka hingga mereka mampu mengucapkannya tanpa dibimbing lagi, bukan sekadar menirukan kata-katanya. Pertapa yang kedualah yang pertama kali berhasil mempelajarinya. Tak lama, yang lainnya berhasil pula mengucapkannya dengan baik.

Kini sudah mulai gelap. Bulan muncul di atas permukaan air. Uskup itu akhirnya bangkit untuk kembali ke kapal. Saat ia beranjak, ketiga lelaki itu bersujud di atas bumi di hadapannya. Ia membangunkan mereka dan mencium mereka satu persatu. Ia berpesan kepada mereka agar berdoa sesuai cara yang tadi telah diajarkannya. Lalu ia masuk ke perahu dayung dan kembali ke kapal.

Ketika uskup itu mendekat ke kapal, ia dapat mendengar suara ketiga pertapa itu. Mereka berdoa dengan suara nyaring. Saat perahu mencapai kapal, suara mereka tak lagi terdengar. Tapi ketiga lelaki tua itu masih bisa terlihat di bawah cahaya bulan. Mereka masih berdiri di tempat semula saat uskup meninggalkan mereka di tepi pantai.

Saat sang uskup telah masuk ke dalam kapal, jangkar dinaikkan dan layar kembali dikembangkan. Angin dengan cepat mendorong kapal layar itu dan mereka pun kembali berlayar ke laut lepas. Sang uskup duduk dan menatap ke arah pulau yang baru saja mereka tinggalkan. Sejenak ia bisa melihat para pertapa itu. Tapi segera mereka lenyap. Akhirnya, pulau itu juga hilang dari pandangan dan hanya laut belaka yang terlihat beriak di bawah sinar bulan.

Para peziarah membaringkan diri, bersiap untuk tidur. Segalanya terasa sepi di atas geladak. Tapi uskup itu tidak ingin tidur. Ia duduk sendirian memandang lautan, ke arah pulau yang tak lagi terlihat. Ia berpikir tentang para orangtua yang baik itu. Ia berpikir tentang betapa semangatnya mereka belajar berdoa. Dan ia berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimnya untuk mengajari dan membantu orang-orang sebaik itu.

Lalu tiba-tiba uskup itu melihat sesuatu yang putih dan bersinar-sinar. Secercah cahaya aneh bergerak di atas permukaan laut yang diterangi sinar bulan. Apakah itu seekor anjing laut? Atau hanyalah kilauan layar sebuah perahu kecil? Sang uskup berusaha menajamkan penglihatannya bertanya-tanya dalam hati.

“Pasti tu perahu yang berlayar di belakang kami,” pikirnya. “Tapi ia membututi kami begitu cepat. Beberapa saat yang lalu ia masih jauh. Kini ia makin mendekat. Tapi tampaknya itu bukan perahu—kini aku bisa melihat bahwa benda itu tak memiliki layar.”

Uskup tak tahu benda apakah itu sesungguhnya. Itu bukan perahu, juga bukan burung dan bukan pula ikan! Terlalu besar bila itu adalah orang. Lagi pula, mana mungkin orang berenang secepat itu di laut lepas?

Uskup itu bangkit dan bicara kepada juri mudi. “Lihatlah! Apakah itu?” teriaknya. “Apa itu?” ulangnya. Tapi kini ia bisa melihat benda itu dengan jelas. Ketiga pertapa itu berlari di atas air! Mereka memburu ke arah kapal seolah-olah perahu itu tidak bergerak sama sekali.”

Juri mudi melihatnya dan melepaskan kemudi dengan ketakutan. “Ya, Tuhan!” pekiknya. “Para pertapa itu berlari di atas air seolah-olah sedang berada di daratan.”

Para penumpang mendengarnya. Mereka melompat dan bergegas ke arah bagian belakang perahu. Mereka juga melihat para pertapa itu datang bersama-sama, saling berpegangan tangan. Dua lelaki tua di bagian samping melambaikan tangan, meminta agar kapal berhenti. Mereka bertiga meluncur di atas permukaan air laut tanpa menggerakkan kaki. Sebelum kapal berhenti, para pertapa itu telah lebih dulu mencapainya. Mereka menegakkan kepala dan berkata seolah-olah dengan satu suara.

“Kami lupa apa yang tadi kau ajarkan, wahai pelayan Tuhan, “kata mereka kepada sang uskup. “Saat kami terus menerus mengulanginya, kami ingat. Tapi saat kami berhenti mengatakannya suatu kali, satu kata terlupa. Kini doa itu tak bisa kami ingat lagi sedikit pun. Ajarilah kami sekali lagi.”

Uskup itu membuat tanda salib di dadanya. Lalu ia bersandar ke tepi kapal. “Doa kalian akan didengar Tuhan. Bukan aku yang harus mengajari kalian. Berdoalah untuk kami, para pendosa ini.”

Sang uskup lalu membungkuk dalam-dalam di hadapan ketiga orang tua itu. Mereka berbalik dan kembali melintasi laut. Hingga terbit fajar, secercah cahaya bersinar-sinar di titik mereka lenyap dari pandangan.

***

Bandingkan lagi dengan tulisan berikut, di bawah ini:

We Are Three, You Are Three

by Anthony de Mello S. J

THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

WHEN his ship stopped at a remote island for a day, the bishop determined to use the time as profitably as possible. He strolled along the seashore and came across three fishermen attending to their nets. In Pidgin English they announced to him that centuries be/ore they had been Christianized by missionaries. “We, Christians!” they said, proudly pointing to one another.

The bishop was impressed. Did they know the Lord’s Prayer? They had never heard of it. The bishop was shocked.

“What do you say, then, when you pray?”

“We lift eyes in heaven. We pray, ‘We are three, you are three, have mercy on us.” The bishop was appalled at the primitive, the downright here-tical, nature of the prayer. So he spent the whole day teaching them the Lord’s Prayer. The fishermen were poor learners, but they gave it all they had and before the bishop sailed away next day he had the satisfaction of hearing them go through the formula faultlessly.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Suddenly he saw a spot of light in the east that kept approaching the ship and, as he gazed in wonder, he saw three figures walking on the water. The captain stopped the boat and everyone leaned over the rails to see this sight.

They were the bishop’s fishermen, of course. “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

“What is it you want?” asked the awe-stricken bishop.

“Bishop,” they said, “We so, so sorry. We forget lovely prayer. We say: Our Father in heaven, holy be your name, your kingdom come… then we forget. Tell us prayer again.”

It was a chastened bishop who replied, “Go back to your homes, my friends, and each time you pray, say, “We are three, you are three, and have mercy on us!”

From THE SONG OF THE BIRD by Anthony de Mello S. J. (Image Books, 1982)

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia “Burung Berkicau” (1984).

***

Pada buku Anthony, bagian prakata kita dengan mudah menemukan pengakuan frater Anthony, secara implisit, bahwa cerita-cerita yang ditemukan di bukunya hanyalah sejenis kumpulan dari berbagai kisah dari berbagai tempat dan latar belakang agama. Dan, memang, jika membaca buku ini, kita dengan mudah menemukan berbagai kecenderungan religius di dalamnya; Buddha, Kristen, Zen, Hasidic, Rusia, Cina, Hindu, Sufi, kisah-kisah kuno, dan bahkan kontemporer.

This book has been written for people of every persuasion religious and non religious, I cannot, however, hide from my readers the fact that I am a priest of the Catholic Church. I have wandered free-ly in mystical traditions that are not Christian and not religious and I have been profoundly influenced by them. It is to my Church, however, that I keep returning, for she is my spiritual home; and while I am acutely, sometimes embarrassingly, conscious of her limitations and narrowness, I also know that it is she who has formed me and made me what I am today. So it is to her that I gratefully dedicate this book.

Everyone loves stories and you will find plenty of them in this book: Stories that are Buddhist, Christian, Zen, Hasidic, Russian, Chinese, Hindu, Sufi; stories ancient and contemporary. And they all have a special quality: if read in a cer-tain kind of way, they will produce spiritual growth.

Dalam Anthony terjadi pula pengubahan karakter dan alur kisah dari yang mula dituliskan Tolstoy;

  • Jumlah paragraf sangat pendek, hanya 10 paragraf.
  • Tiga Pertapa menjadi tiga nelayan.
  • Pengubahan alur kisah, yang mana pada Tolstoy ketiga pertapa hanyalah pertapa biasa, dan tidak mengakui diri mereka sebagai kristen, namun dalam Anthony, ketiga nelayan seketika mengaku sebagai, “Kami, orang Kristen!”
  • Alur kisah juga melipir jauh. Pada Tolstoy kapal yang ditumpangi sang Uskup tidak dituliskan telah melalui area perairan di mana pulau tersebut berada sebanyak dua kali. Tapi bahwa kapal itu hanya singgah. Tidak demikian pada Anthony, kapal sang Uskup sepertinya pernah singgah di suatu waktu, dan melayari perairan itu di lain waktu.

Months later his ship happened to pass by those islands again and the bishop, as he paced the deck reciting evening prayer, recalled with pleasure the three men on that distant island who were now able to pray, thanks to his patient efforts.

Atau, “Bishop,” they exclaimed, “We hear your boat go past and come hurry-hurry meet you.”

Apakah pengubahan drastis seperti ini akan ikut mengubah identitas dan penciri utama kisah yang dapat kita temukan dalam karakter dan alur kisah? Selain bahwa ide dan gagasannya yang sama, pengubahan drastis ini juga tidak mengubah prasangka apapun, bahwa kisah ini adalah milik Tolstoy.

Namun dua hal yang menarik, ketika kisah ini dituliskan kembali oleh Anthony; Anthony cukup jujur membangun pemahaman pada prakata bahwa kisah ini bukan kisah miliknya (yang hanya dilakukan sepintas lalu oleh SGA dalam bentuk disclaimer pada Dodolibret); dan, bahkan Anthony pun tidak menuliskan sumber kisah di mana dia terinspirasi/ambil (tak kita temukan nama Tolstoy atau Three Hermits dituliskan pada awal/akhir buku kumpulannya itu).

***

Dodolitdodolitdodolibret

Oleh : Seno Gumira Ajidarma (Dimuat Kompas pada 26 September 2010)

           KIPLIK sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

“Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, “karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

“Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, “untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

“Izinkan kami mengikutimu, Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

“Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, “dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

“Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Danau seluas lautan,” pikirnya, “apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

“Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

“Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, “mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

“Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

“Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

“Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

“Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

“Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!” (*)

Ubud, Oktober 2009 / Kampung Utan, Agustus 2010

Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Cerpen ini memenangkan penghargaan Cerpen Terbaik Kompas, pada Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011, di Bentara Budaya Jakarta, Senin, 27 Juni 2011.

***

Kemiripan (atau, kesamaan) sebagai berikut :

  1. Adanya karakter dalam cerita yang berjalan di atas air,
  2. Kesamaan ide cerita tentang belajar berdoa dengan benar,
  3. Pulau di tengah lautan; pulau di tengah danau yang luas laksana lautan,
  4. Tiga pertapa; sembilan penduduk,
  5. Karakter utama dalam kedua kisah ini berdoa tapi salah,
  6. Uskup mengajarkan cara berdoa; Guru Kiplik mengajarkan mereka cara berdoa,
  7. Kesamaan alur kisah: setiap kali mereka berdoa, maka setiap kali merekapun lupa,
  8. Ketiga orang berhasil berdoa secara benar; sembilan orang berhasil berdoa secara benar,
  9. Uskup di kapal; Guru Kiplik di perahu (sama-sama moda air),
  10. Nahkoda berteriak; pendayung berteriak,
  11. Tiga orang mendatangi kapal dengan berlari di atas air; sembilan orang mendatangi perahu dengan berlari di atas air,
  12. Mendatangi kapal dengan maksud yang sama: minta diajari kembali cara berdoa yang benar, sebab mereka selalu lupa setiap kata seusai mengulangi doa.

Hal-hal yang terganti (sekadar diganti tanpa mengubah citra dan fungsi karakter/alur) :

  1. Pulau di tengah laut; digubah menjadi Pulau di tengah danau yang luas laksana laut.
  2. Karakter Uskup; digubah menjadi karakter Guru Kiplik.
  3. Tiga pertapa; digubah menjadi karakter sembilan orang biasa yang rajin bekerja.
  4. Kapal; digubah menjadi perahu (ditemukan pula perahu dalam karya Tolstoy).
  5. Nahkoda kapal; digubah menjadi pendayung perahu (ditemukan juga adanya karakter pendayung perahu pada karya Tolstoy).
  6. Alur percakapan antara Uskup dan ketiga pertapa; berusaha digubah sedemikian rupa, kendati tetap tak bisa menyembunyikan kesan bahwa alur percakapannya itu sangat identik.

Kesamaan ide dan gagasan dasar:

  • Bahwa apa yang menurut Anda benar, belum tentu demikian halnya bagi orang lain.
  • Setiap orang (atau komunitas) memiliki cara sendiri-sendiri menuju Tuhannya.
  • Esensi Ketuhanan tak dapat diukur oleh girah kemanusiaan. Kemutlakan itu tidak fana.

Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa adanya upaya mengubah sejumlah unsur dalam kisah asli. Upaya-upaya itu terlihat dari usaha mengubah karakter utama, alur percakapan, alur utuh cerita, namun semua upaya itu terlihat gagal. Upaya pengaburan alur juga terjadi; yakni dengan memotong ending kisah (percakapan) di akhir kisah karya Tolstoy, dengan tidak menampilkannya pada cerpen gubahan. Penyederhanaan alur boleh juga disebut demikian. Upaya-upaya (pengubahan, pengaburan, pemotongan) dalam kisah Tolstoy ternyata gagal dilakukan, sehingga aroma alur kisah yang khas Tolstoy dalam Three Hermits, masih sangit–dan begitu mudah dibaui–walau kedua kisah hanya cukup di dengarkan saja.

Lalu, pada cerpen gubahan, penulis seperti hendak mendesakkan pemahaman yang ditangkapnya dalam cerpen Three Hermits. Terlalu banyak penjelasan, begitu kira-kira. Jadi, seolah-olah, cerpen gubahan itu, menjadi “juru takwil” dari sulur-sulur makna yang ditabur Tolstoy dan berusaha disampaikannya dalam cerpen Three Hermits.

Sekali lagi ini penilaian subjektif yang sifatnya tinjauan umum belaka. Sekian. (*)

Diskusi tentang ini dapat dilihat pada Catatan Ilham Q. Moehiddin di Facebook.

 


[Telisik Literasi] Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Sapardi Djoko Damono (foto: arelano photographic)

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan.

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran‘s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead. 

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds 

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

***

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu. 

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[ Beloved Prophet, 323 ]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[ Beloved Prophet, 429 ]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[ in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood. ]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[ A Tear and a Smile ]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[ Nymphs of the Valley ]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[ Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek ]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World  was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71. ]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[ Naimy, A Biography, 157, 158. ]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[ Beloved Prophet, 356 ]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[ Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library. ]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[ The Earth Gods, 31. ]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

 

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

***

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. ***

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Gibran Kahlil Gibran (sumber foto: flickr)

 

Diskusi lengkap soal ini dapat dilihat pada Catatan Facebook Ilham Q. Moehiddin


[Telisik Literasi] Sejumlah Temuan dalam Telisik Literasi atas Polemik Plagiarisme Karya Malloch

(Apa Benar Taufiq Ismail Melanggar Licentia Poetica?)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

POLEMIK perihal dugaan plagiarisme yang dilakukan Taufik Ismail seketika merunyak akhir-akhir ini. Polemik ini seketika menjadi ‘hebat’ sebab ikut menyeret nama penyair besar sekelas Taufiq Ismail, yang oleh Paus Sastra Indonesia, HB. Jassin, dikelompokkan ke dalam penyair angkatan ’66.

Pada mulanya, seorang cerpenis wanita, Wa Ode Wulan Ratna, memposting sebuah karya Douglas Malloch dalam catatan di akun Facebook-nya. Karya Malloch yang sejatinya berjudul Be The Best of Whatever You Are’ itu terposting berupa terjemahan berjudul ‘Akar-akar Pohon’.

Tak sengaja saya membaca puisi itu, dan merasa dejavu. Serasa saya pernah membaca atau mendengar puisi macam itu, entah dimana. Lalu saya teringat pada programa Jika Aku Menjadi Special Ramadhan stasiun TransTV yang ditayangkan sebelum berbuka puasa pada Ramadhan 2010. Pada tayangan itu, aktris Asri Ivo membacakan puisi ‘Kerendahan Hati’. Caption pada tayangan itu juga menampilkan nama Taufik Ismail sebagai pencipta puisi tersebut.

Tanpa memuat prasangka apalagi tuduhan, sayapun ikut mem-posting dua entitas puisi itu ke akun Facebook saya, pada 25 Februari 2011, sekadar mengajak beberapa sastrais dan budayawan untuk berdiskusi perihal itu. Benar saja, postingan itu memancing diskusi dan debat. Semenjak itulah, ‘dugaan samar’ ini menyebar kemana-mana. Diskusi dan polemik seputar ini seketika menyeberang ke Twitter, dan menjadi ramai di sana.

Telisik Literasi pada Kedua Puisi 

Menurut pendapat saya, akar polemik ini sungguh patut dipertanyakan. Jika benar seperti apa yang dituduhkan orang kebanyakan pada Taufik Ismail, maka upaya itu tidak bisa sekadar disebut meringkas, menyadur, ataupun mentranskrip. Jika diperhatikan secara saksama, apa yang tertulis sebagai puisi Douglas Malloch yang kemudian dituliskan sebagai milik Taufik Ismail, tak memenuhi ketiga unsur di atas.

Jika dikatakan meringkas, maka perilaku meringkas sangat sukar dikenakan pada entitas puisi, sebab akan otomatis melanggar licentia poetica. Apa benar penyair besar Taufiq Ismail dengan sengaja melanggar licentia poetica? Saya tak sepenuhnya yakin dia melakukan itu. Kemudian, jika dikatakan menyadur, maka Taufik Ismail tak tampak sedang menyadur puisi Douglas Malloch.

Menyadur adalah menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain. Menyadur juga diartikan sebagai mengolah (hasil penelitian, laporan, dsb.) atau mengikhtisarkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2002: 976). Dengan demikian, menyadur mengandung konsep menerjemahkan secara bebas dengan meringkas, menyederhanakan, atau mengembangkan tulisan tanpa mengubah pokok pikiran asal. Hal penting yang harus kita ketahui ialah bahwa dalam menyadur sebuah tulisan, ternyata kita diperkenankan untuk memperbaiki bentuk maupun bahasa karangan orang lain, misalnya dalam kasus karangan terjemahan.

Sayangnya, penyaduran tidak bisa serta-merta diberlakukan pada puisi, sebab ada aspek bahasa, bunyi dan makna, yang belum tentu dapat diinterpretasikan secara tepat oleh penyadur. Jika penyaduran dilakukan pada cerpen, dan novel berbahasa asing, maka proses yang dijelaskan pada KBBI sudah tepat. Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam menyadur adalah dengan meminta izin, mencantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya.

Cobalah simak puisi Be The Best of Whatever You Are, karya Douglas Malloch ini.

If you can’t be a pine o the sop of the hill, 

Be a scrub in the valley – but be 

The little scrub by the side of the hill; (1)

Be a bush if you can’t be a tree

 

If you can’t be a bush be a bit of the grass 

And some highway happier make (2)

If you can’t be a muskie then just be a bass

But the leveliest bass in the lake

 

We can’t all be captains, we’ve got to be crew (3) 

There’s something for all of us here

There’s big work to do, and there’s lesser to do

And the task you must do is the near

 

If you can’t be a highway the just be a trail (4) 

If you can’t be the sun, be a star

It isn’t by size you win or you fail 

Be the best of whatever you are (5)

Puisi Douglas Malloch ini adalah puisi berjenis kuatrain dan berada di jalur tengah aliran kepenyairan. Douglas Malloch, dalam puisinya ini, jelas sekali hendak mendudukkan pokok pikirannya sebagai masonic yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai penebang kayu, secara terurut, tanpa putus. Artinya, jika hanya hendak menekankan pada kebaikan setiap orang untuk ‘menjadi yang terbaik dengan cukup menjadi dirinya sendiri’, maka Douglas Malloch tak perlu menuliskannya hingga empat bait. Pesannya bisa langsung sampai hanya dalam dua atau tiga bait saja. Inilah mengapa proses penyaduran tidak bisa dilakukan pada puisi.

Sekarang, simaklah puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail berikut.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya…

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 

Pada terminologi penyaduran, bentuk reposisi dan pengembangan masih diperbolehkan. Tetapi jika diperhatikan lebih saksama (terutama pada larik-larik yang dimiringkan) tampak sekali beberapa larik sengaja dihilangkan, dan, atau menggantinya dengan larik berbeda.

Ada dua larik pada puisi Douglas Malloch yang hilang, yakni; If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//

Lalu, berganti dengan larik berbeda pada puisi Taufik Ismail, yakni; Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//

Apakah penghilangan dan penggantian ini disengaja? Jika melihat terjemahan dua larik puisi Douglas Malloch, dan membaca dua larik baru pada puisi Taufik Ismail, maka jelas sekali bahwa penggantian tersebut disengaja. Pengubahan, atau penggantian ini dari sisi licentia poetica seharusnya tidak boleh terjadi, sebab telah mengubah makna dan bunyi puisi Douglas Malloch. Inikah yang disebut penyaduran?

Pertanyaan ini dijawab dengan tuntas oleh Gorys Keraf. “Sebuah bentuk ringkasan dari sebuah tulisan hendaknya tetap menekankan sisi konsistensi akan sebuah urut-urutan sesuai dengan ide atau gagasan pengarang. Begitu halnya saat kita menyadur, hal tersebut juga berlaku—tetap mempertahankan ide dari naskah asli.” Tegas Keraf dalam buku Komposisi (1984:262, Flores. Penerbit Nusa Indah).

Yang Luput dari Taufik Ismail.

Menarik disimak, adalah dua larik yang tadi telah dibahas di atas, yang entah mengapa luput oleh Taufik Ismail dimasukkan ke dalam puisinya. Dua larik itu adalah; If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//

Sebagai satu kesatuan dari bunyi dan makna yang dikatakan Keraf, maka dua larik yang luput itu seharusnya tetap ada untuk mengikat dua larik sebelumnya; If you can’t be a bush be a bit of the grass/ And some highway happier make//

Lemah dugaan saya, bahwa Taufik Ismail tidak mengetahui persis makna kata muskie dan bass dalam dua larik puisi Douglas Malloch itu.

Dua kata dalam larik puisi Douglas Malloch itu memang tidak ditemukan dalam dalam kamus besar Bahasa Inggris (The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Drs. Peter Salim, M.A.). Rasa penasaran pada kata lake (danau), yang membawa saya pada dua jenis ikan yang berhabitat di danau primer dan sepanjang sungai besar di Amerika Serikat.

Musky adalah sejenis ikan besar, yang masih satu genus dengan Arwana dari Amazon. Muskie adalah nama dalam bahasa pasar masyarakat setempat, untuk ikan Musky, yang hidup di danau-danau di Minnesota. Sedang Bass adalah nama setempat untuk ikan smallmouth (salmon). Ikan dengan ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari ikan Muskie. Habitatnya di sungai-sungai primer di Amerika Utara. Itulah mengapa kata Muskie dan Bass tidak terdapat di dalam kamus.

Sehingga untuk mengisi kekosongan dua larik yang terlanjur menggantung pada satu bait tersebut, Taufik Ismail kemudian menggantinya dengan; Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//

Jika merujuk pada Keraf, maka penggantian ini jelas sekali telah mengubah secara drastis ide dan gagasan pengarang. Artinya, paham atau tidaknya Taufik Ismail pada dua kata tersebut, tidak dapat dijadikannya alasan untuk mengganti dua larik pada puisi Douglas Malloch dengan dua larik baru. Maka, terang saja, Taufik Ismail tidak saja gagal menyembunyikan fakta, bahwa dirinya tidak sekadar terinspirasi keindahan makna puisi Douglas Malloch, sehingga tanpa sadar atau tidak terperangkap dalam bentuk plagiarisme.

Lalu, apakah ada kemungkinan penyair sekaliber Taufiq Ismail akan melakukan hal ini? Wallahu’alam.

Bantahan dan Sejumlah Bukti

Keterangan Redaktur Majalah Sastra, Horison, Fadli Zon, yang juga kemenakan Taufiq Ismail, dalam bantahan yang termuat pada PedomanNews.com, bahwa, Taufiq Ismail mengatakan padanya merasa pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah-sekolah, ikut membuktikan bahwa pernah ada terjadi persentuhan antara Taufiq Ismail dengan puisi Douglas Malloch.

Pada buku Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII, yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. Pada Pelajaran 11, bagian C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198, dengan jelas dapat ditemukan puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail.

Tidak ada keterangan sumber di bawah puisi Taufik Ismail pada halaman tersebut. Rupanya para penyusun memasang puisi itu dan meninggalkan sumbernya pada daftar pustaka. Artinya, keterangan soal latar belakang dan darimana sumber yang digunakan hanya tim penyusun yang bisa menjawabnya.

Apakah peneraan puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail itu sepengetahuan Taufiq Ismail? Ini dengan terang sudah dijawab sendiri oleh Taufiq Ismail yang disampaikan oleh Fadli Zon, bahwa Taufiq Ismail memang terlibat dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) atau MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) di sekolah-sekolah.

Masih menurut Fadli, puisi Kerendahan Hati yang beredar, nama pengarangnya ditulis sebagai Taufik Ismail. Padahal, nama penyair itu memakai “q” pada nama Taufiq-nya, bukan “k“. Jadi bisa jadi apa yang digunjingkan itu salah orang. Demikian pembelaan Fadli, yang dikutip Tempo Interaktif, Jumat 1 April 2011.

Kendati adalah penting menuliskan nama seseorang secara benar dalam sebuah literasi (khususnya pada pemberitaan), namun agaknya Fadli Zon tidak memeriksa dengan teliti sebelum melontarkan bantahannya. Keliru serupa ini kerap terjadi pada tera nama Goenawan Mohamad yang sering dituliskan orang dengan Gunawan Muhammad. Kendati dituliskan keliru, ingatan kolektif orang tetap merujuk pada satu sosok. Apalagi, baik Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail adalah dua nama besar penyair, sastrawan dan budayawan Indonesia.

Pada puisi Kerendahan Hati yang termuat dalam buku Diknas di atas, nama penyair itu dieja dengan huruf akhir ‘k’. Pun pada beberapa terbitan Horison Sastra Indonesia sendiri, kerap dituliskan “Ismail, Taufik, dkk (penyunting). 2011. Horison Sastra Indonesia. Jakarta: The Ford Foundation”, sebagai salah satu contohnya.

Kemudian pengejaan ‘Taufik Ismail’ juga ditemukan pada kata sambutan dalam buku The Lady Di conspiracy : Misteri Dibalik Tragedi Pont de L’Alma, karya Indra Adil, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007.

Artinya, dalil Fadli Zon perihal huruf akhir pada nama penyair itu seketika patah. Sebab, apabila karakter penulisan nama tersebut dianggap penting, tentulah hal ini telah diperhatikan benar sejak lama. Tidak setelah polemik ini mengemuka.

Pada berita yang sama, Fadli Zon juga mengungkapkan tak dia temukan puisi Kerendahan Hati dalam empat buku karya-karya Taufiq Ismail. Salah satunya kumpulan puisi tahun 1953-2008 berjudul Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit, (Mei, 2008) setebal 1076 halaman. “Di buku itu saya tidak menemukan puisi berjudul ‘Kerendahan Hati’,” katanya. Menurut Fadli, Taufiq Ismail juga menerjemahkan puisi 160 penyair Amerika yang dikumpulkan dalam buku “Rerumputan Dedaunan” dan hingga saat ini belum diterbitkan. Dalam terjemahan tersebut tak ada puisi Douglas Malloch.

Keterangan Fadli ini bisa saja dipercaya, namun sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan isu yang sudah terpolemik. Buku kumpulan puisi MBML itu terbit pada 2008, sementara itu buku Terampil Berbahasa Indonesia itu terbit pada tahun yang sama. Sedang pada 2009, puisi itu masih sempat dibacakan pada programa Jika Aku Menjadi Special Ramadhan 2010 di TransTV. Program MMAS dan SBSB yang dimana Taufiq Ismail dan Majalah Horison terlibat langsung sudah dilaksanakan sejak tahun 1998 hingga 2008. Bahkan beberapa puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail sudah terposting di beberapa blog sejak 2006.

Sejumlah sinyalemen ini secara tidak langsung membentuk premis terhadap kehadiran karya tersebut dalam kurun waktu 1998 hingga 2008.

Dari telisik literasi ini, kini, siapapun boleh menarik kesimpulan masing-masing, perihal polemik pada entitas puisi karya Douglas Mulloch itu. Telisik literasi ini tidak hendak mencuatkan sebuah masalah yang selama ini kerap merisaukan kalangan sastrawan; plagiarisme

Telisik literasi inipun tidak dalam posisi menuduh siapapun telah melakukan plagiat. Bahwa sebagai telisik literasi, ada baiknya ini dijadikan pembelajaran pada masa selanjutnya, bahwa penghargaan atas sebuah karya sastra/literasi sebaiknya memang diberikan pada sosok pengkaryanya. Demikian. ***

Puisi "Kerendahan Hati" karya Taufik Ismail dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII, yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. Pada Pelajaran 11, bagian C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198.


%d blogger menyukai ini: