Tag Archives: zaitun

[Cerpen] Daun Zaitun | Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

Daun Zaitun

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

padekco-2vMTh

SELALU  ada yang istimewa dalam kata-katamu. Kau pandai melukiskan ketragisan —tentang beberapa cerita di Corsica, misalnya, kau mampu menertawakan cinta yang berakhir menyedihkan.

Menurutmu, kemalangan adalah hal sepele. Di negeriku, hal-hal yang kau anggap sepele itu, aku kenali sebagai Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Juga ribuan jugun ianfu.

Tentu saja, kau tak kenal Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Kau juga tak kenal Sutinah, seorang jugun ianfu yang hidup sendirian di pinggiran kotaku. Cinta itu tragis. Mungkin seperti itu pesan yang kau tangkap, sebagaimana orang-orang seperti Sutinah.

Hal-hal sepele bagimu, terdengar sinis olehku. “Kau sedang bermain-main.”

“Bukan aku,” pelipismu mengeras, “tetapi kita. Kita yang sedang dipermainkan.”

Aku tak paham. “Kita?”

“Ya. Kita.” Kau mengangguk. “Adakah kita melupakan sesuatu?”

Aku coba mengingat-ingat. Barangkali memang ada detail yang aku lewatkan dalam percakapan ini. Tetapi, demi setiap detik yang kita habiskan, aku harus menyerah.

“Zaitun?” Lehermu menekuk rendah. Pelipismu berkerut, dan matamu menyapu wajahku.

**

AKU baru saja mengenalmu. Baru saja. Kau menghampiri saat aku sedang menikmati suasana sore di pelataran Brandenburg. Aku selalu ingat setiap suasana sore yang mampu menimbulkan kesan secara personal.

Di puncak gerbang Brandenburg, tegak patung Quadriga dengan empat kuda yang berderap ke timur. Sosok Viktoria menggenggam tongkat berkepala elang seraya memecut punggung kuda-kuda nan gagah itu. Patina memberi kesan hijau yang magis. Cahaya lembut matahari sore di akhir Desember, berceceran di kota Berlin.

Suhu 15 derajat celcius mampu menyengkeram tengkuk. Mulutku beruap dan bibirku seperti beku. “Ia mirip Dewi Nike,” suara lembutmu masuk ke telingaku.

Kau berdiri di belakangku dengan postman-hat berfuring beludru membungkus rambutmu yang merah. Biru matamu tampak cerlang, berpadan dengan lumen cahaya di sore itu. Kau tampak anggun dalam long winter coat berkerah tinggi bergaya neo-klasik Pier Angelini. “Mau?” Kau sodorkan alkohol gula dari kaleng cekung milikmu. Aku menerimanya dan meneguk isinya dengan senang.

“Ia lebih mirip denganmu,” kataku menganggukan kepala pada fragmen Viktoria di atas gerbang itu, kemudian ke arahmu. Kau tersenyum. Wow, aku tak salah —kau memang cantik. Alkohol gula berhasil membuat dadaku hangat.

“Ia perempuan Jena-Auerstedt juga.”

Aku menyukai gadis ramah ini. “Kau orang Weimar?”

Kau menggeleng. “Kisahnya cukup tua. Tahun 1814, kakek buyutku ikut dalam rombongan besar Jenderal Ernst von Pfuel membawa Quadriga ini dari Prancis.”

Baiklah. Untuk seseorang yang tak segan berbicara pada orang asing, kau tentulah tipe yang tak menyukai omong kosong. Kau menyalami tanganku. “Gaulliare. Jeanice Gaulliare.” Kau sebut namamu.

Franzosisch madchen freundlich,” aku memujimu dan kau tertawa. Geligimu putih. Pipimu pucat tanpa perona. “Pangkawi. Roland Pangkawi.” Aku kenalkan diriku.

**

KAU seorang yang satir. Kau berani menertawakan kedukaan. Bagimu, kematian adalah sesuatu yang ikonik. Tiba-tiba saja semuanya berubah lucu di lidahmu. “Kota ini berubah dengan cepat. Di sini, pembunuhan adalah sesuatu yang sepele.”

“Maksudmu, tragis?”

Kau menunduk, menatap sepatumu. “Kau tahu Corsica? Cinta telah mengutuk kota itu. Tempat yang punya banyak cerita. Tentang perseteruan karena cinta datang merenggut hati setiap orang di sana.”

—Baiklah. Kau ingin kita bercerita tentang cinta.

“Selalu soal cinta,” Jeanice mendongak menatap Quadriga. “Tapi di Corsica, cerita seperti itu punya pesan lain. Andai Quadriga itu simbol dari sesuatu, seharusnya orang-orang bisa memahami keseriusan Gottfried. Quadriga yang ia buat dengan berbagai kerumitan itu, menjadi tak berarti ketika dipajang di kota seperti ini.”

Tiba-tiba udara dingin menyambar tengkukku. Aku naikkan kerah mantelku. Aku mulai menyukaimu. “Itu tetap saja tragis, Jeanice,” timpalku.

“Orang-orang di sini menyebutnya sepele. Itu dua hal yang berbeda.”

Menurutmu, selalu ada kegaduhan seusai sebuah peristiwa. Kegaduhan yang kerap lebih lama daripada peristiwa itu sendiri. Suara-suara mengisi kota, berlompatan, atau mengapung di angkasa tanpa artikulasi. Orang-orang bisa terbunuh dengan sesuatu yang tampak surealis.

Kau tak bergeming. Kedua telapak tanganmu membenam di saku mantelmu. Pelupuk matamu mengatup, merasa syahdu dengan Das Lied der Deutschen —lagu orang-orang Weimar— dari pelantang suara. Mungkin sekarang kau sedang mengkhayalkan si tampan August Heinrich dari Helgoland.

Bagiku, Jeanice lebih baik, ketimbang terbenam sendiri di bar murahan bersama bir yang nyaris basi dengan telinga yang terbekuk berita lonjakan harga akibat krisis ekonomi. Ditemani gadis ini masih jauh lebih baik, daripada mendekut di apartemen, di depan televisi yang menyumpali telinga dengan gosip hubungan gelap kanselir dengan sopir pribadinya. Aku berkemam dalam dingin. Sesuatu tentang Zaitun kini mengusik ingatanku.

**

AKU ingat pada rute dari arah Ebertstrabe memotong Platz Pariser di bagian barat kota ini. Tujuh bulan lalu, di suatu malam, entah bagaimana aku memutuskan merimpang ke wilayah Unter den Linden yang dibarisi pepohonan di dua sisinya hingga ke Reichstag, satu blok ke arah utara. Tak kusangka, melintasi Alexanderplatz malam itu adalah sebuah pilihan buruk.

Seseorang tergopoh-gopoh menembus udara malam, tergesa-gesa menyebrangi Unter den Linden yang tertutupi bayangan pepohonan yang rebah oleh lampu jalan. Dan suasana sepi sekali.

Aneh. Ini kawasan yang selalu ramai. Para manula biasa menghabiskan waktu sore dengan duduk menikmati aliran sungai Spree. Di akhir musim panas, terkadang mereka bergerombol di Alexanderplatz, berbagi memori tentang segala hal sebelum penyatuan Jerman. Saat malam beranjak, para pemuda berkumpul mengelilingi drum-drum besi yang terbakar. Itu pemandangan yang biasa aku saksikan di sepanjang kawasan Berliner Dom. Di malam yang kian larut, mereka kemudian berpencar untuk hiburan malam dan bir paling enak di bar-bar pinggiran kota.

Di penghujung malam, tempat yang seharusnya sudah sepi itu, masih menyisakan dua kelompok yang sedang mengelilingi drum masing-masing. Jarak antara aku dengan mereka hanya 50 meter, saat mereka memergoki seorang gadis. Terlindung di bayangan tiang lampu, aku saksikan mereka memperlakukannya dengan kasar. Mereka tak peduli pada teriakannya, tak peduli saat ia menangis memohon agar mereka melepaskannya. Ia ditampari hingga tak berdaya. Ia meronta saat mereka memasukinya secara bergantian.

Aku belum siap mati untuk sesuatu yang bukan urusanku. Berurusan dengan genk adalah hal yang serius. Setelah puas, mereka menembaknya, lalu meninggalkannya untuk mati. Tetapi ia masih hidup saat kudekati. Wajahnya tersaput darah.

**

“ALEXANDERPLATZ?” Kau menatapku dari tempatmu berdiri.

Aku mengangguk.

“Apa itu masih bukan urusanmu?”

“Ini rumit, Jeanice.” Aku gugup — “Lagi pula, apa urusanmu dengan masalah ini?”

Alismu terangkat. “Tapi kau saksinya. Kau pengecut seperti Gotthard.”

“Bukan begitu.” Aku terpojok. Aku melirikmu dengan jengkel. Aku renggut kaleng alkohol gula dari tanganmu, kuteguk isinya dua kali.

Kau kantongi kembali kalengmu setelah kukembalikan. “Aku menelusuri semua fakta sehingga aku sampai padamu. Aku menyadari sesuatu telah hilang dari tubuhnya saat aku melihatnya di ruang koroner. Veanice tak pernah ke mana-mana tanpa bros daun Zaitun miliknya.”

Persendianku lemas. Mataku menjamah seluruh wajahmu dan menyadari nyaris tak ada yang berbeda dari kalian berdua. “Veanice Gaulliare adalah kakakku. Kami kembar identik.”

—Baiklah.

Kami datang ke kantor polisi. Opsir polisi yang menerima laporanku heran saat kusebutkan tentang bros daun Zaitun dan kehadiranku yang mungkin bisa membantu mereka menangkap pemerkosa Veanice. Polisi hanya perlu mencari mereka yang ciri-cirinya bisa kugambarkan dengan baik.

Kau benar. Kota ini dikendalikan suara-suara. Kota seserius ini selalu berhasil merusak ketertiban, kemudian bersusah payah memerbaikinya. Seperti zombie, orang-orang mati yang berjalan, maka suara-suara bisa membuat kota ini tetap bergerak.

Kau tetap gadis berambut merah yang aku sukai dan Veanice dalam kenanganmu. Seperti Corsica yang kau ceritakan itu, maka setiap orang punya pesan untuk cinta yang mereka miliki —dan kau sejenis orang yang peduli dengan rahasia-rahasia tentang Corsica, tentang Qudriga, mungkin juga tentang Gottfried dan Gotthard. Entahlah.

Kau menemaniku duduk di tepian sungai Spree. Kau begitu ramah, mengizinkanku meneguk alkohol gula dari kaleng cekung yang saling kita sodorkan bergantian. (*)

Desember 2013 – (revisi) 2015

 

Catatan:

– franzosisch madchen freundlich = gadis Prancis yang ramah.

 

Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

 

Iklan

%d blogger menyukai ini: