Tag Archives: vernaccia

[Cerpen] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills | Jawa Pos | Minggu, 2 Agustus 2015

Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[CERPEN] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills - Ilham Q Moehiddin_Ilust2

#1

DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi —dengan kesuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.

“Kau suka buku?” Lavinsky duduk tepat di depannya.

“Tidak!” Ketus jawaban gadis itu —namanya Lalena.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja!”

“Tentu kau punya alasan.”

Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. “Baiklah,” selanya tenang, “bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?”

“Aku juga tak suka bunga!”

“Aneh—” Lavinsky berkemam, “—biasanya perempuan suka pada bunga.”

“Aku bukan perempuan seperti itu!” Lalena menyahutinya.

Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh lengan Lalena. “Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?”

Lavinsky menggeleng cepat. “Tidak. Ceritalah jika kau suka saja.”

Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. “Aku menyukai belati dan gunting kuku.” Suara gadis itu datar sekali.

Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?

Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.

 

#2

LAVINSKY bertemu Lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.

Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.

Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak pernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali —untuk standar Lavinsky— Lalena adalah gadis paling beruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimana Lavinsky berhasil menahan diri dari sikap isengnya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong di depan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.

“Aku penasaran perihal gunting kuku itu,” gumam Lavinsky.

“Itu tentang seorang lelaki—” Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.

“Seorang lelaki?”

“—Lelaki itu mati karena gunting kuku.”

Lavinsky tertegun. Lalena mengawali ceritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film Sleepaway Camp. “Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki —mati?”

Lalena berpaling ke jendela. “Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat,” nafas Lalena memburu. “Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas.”

Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.

Mata gadis itu berkaca-kaca. “Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali,” ujarnya kemudian. “Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya.”

Well —Itu perkenalan yang cukup lancar.”

Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.

“Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor dubuk yang gelisah.”

Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan berangin seperti membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. “Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam itu mengurung ibuku di toilet sebelum menuntaskan urusannya kurang dari satu menit.”

“Heh —” Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengar satir.

“Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada seumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin.”

Jengah. Lavinsky jengah mendengarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.

Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah itu cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?

“Tentang belati itu?” Lavinsky menyodorkan lagi se-sloki Vodka pada Lalena.

“Aku tak suka langsung ke topik itu!” Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.

Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis ini.

 

#3

MENGENAI Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bisa mengubah hidupnya. Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan —sekaligus.

Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya sendiri —dalam kisah Borges.

“Baiklah.” Lavinsky bersabar. “Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu.”

Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.

“Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda.”

Lavinsky mengusap tengkuknya. “Sebentar Lalena—” tahannya, “—apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?”

“Belum,” desis Lalena. “Ini masih tentang diabetes!”

Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.

“Lelaki itu kembali membuntuti seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menutupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan menggoreskan gunting kuku ke selangkangnya sebelum jatuh usai menabrak wastafel.”

“Lelaki itu sukar ditemukan setelah kejadian itu, kan?”

Lalena tak menggubris Lavinsky. “Ibuku tak perlu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya.”

“Ibumu memaafkannya?”

“Seharusnya tidak—” Lalena mengatupkan matanya, “—wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti dubuk kebiri yang akan mengikutimu ke mana pun. ‘Dubuk’ yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku.”

Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah.

“Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?” Lalena menyeringai. “Bukan —bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung.”

“Ibumu memaafkannya?” Ulang Lavinsky.

“Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah.”

Lavinsky bergidik. “Bukankah menyangkali lelaki itu, berarti menyangkali dirimu?”

“Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri.”

Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosong dari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.

“Bagaimana lelaki itu setelahnya?” Lavinsky memecahkan kebisuan.

“Mati!” Tak ada ekspresi di wajah Lalena. “Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati.”

Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.

“Apakah kau masih ingin mendengarkan kisah belati itu?”

Lavinsky menggeleng. “Cukup tentang gunting kuku dan diabetes saja.”

Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut menari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.

 

#4

MATA Lalena menjelajahi sepotong Praha di bawah sana. Jembatan Karluvmost dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara Zizkov dan Jam Astronomi di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.

“Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Lalena tiba-tiba bicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.

“Hah?” Lavinsky gelagapan.

“Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan.”

Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.

Pelipis Lalena mengeras. “Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku.”

Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir The Prague Cemetery. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.

Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. Tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati —itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun.

Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)

 

Molenvliet, Maret 2015

Iklan

[Cerpen] Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

SEORANG wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Sardinia, 2009

Catatan :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda. 

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam. 

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro. 

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari,Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna

*) Salah satu cerpen yang termuat dalam Kumcer “Membunuh Gibran” (2011).

**) Dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu 17 Juli 2011.

Woman In A Blue Summer Dress Standing Alone Enjoying View On The Mediterranean Sea Cyprus (sumber: flickr)

 

 


%d blogger menyukai ini: