Tag Archives: tuhan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Kompas 2015

Cover Kompas5b-depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KOMPAS 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Tuhan-tuhan yang Dekil | Jawa Pos | Minggu, 18 Oktober 2015

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Tuhan-tuhan yang Dekil

Perjumpaan Pertama.

Tak ada yang sebahagia Groot. Dalam 122 menit ia hanya mengucapkan I’m Groot dan we’re Groot. Ia kemudian melepaskan kunang-kunang dari tubuhnya dan reinkarnasinya menari kecil di sisi Drax yang sedang membersihkan belati besar.

Aku teringat kepada Groot saat aku sampai di seruas jalan di tengah kota Wina. Tubuhnya yang setinggi tiga meter itu tak kulihat sebagai bayangan pada dinding beton di kiri-kanan ruas jalan ini. Groot hanyalah bentuk keinginanku saja saat aku dicekam kecemasan di bawah tiang lampu yang menerangi sepotong jalan sempit di tengah kota ini. Besinya menyebarkan aroma karat yang terpapar air hujan. Kesuraman tampak membekas pada bayangan relung pintu rumah berbentuk lengkung zig-zag. Dua orang tampak berjalan di bawah payung. Bayangan mereka rebah ke belakang saat tubuh mereka terpapar cahaya bulan yang sedikit tinggi dari puncak-puncak bangunan.

Seekor kucing hitam melompat keluar dari dalam tong sampah membuat dua orang itu terkejut. Seorang di antaranya langsung merapat, mendekut ke dada seorang lainnya. Entah bagaimana mereka berdua ada di tengah hujan, di malam yang dingin dan sepi, di sebuah jalan di mana awal mula kabar kematian berkeliaran ke seluruh kota sejak dua pekan ini. Entah bagaimana pula aku harus mendapati mereka di sini, atau mungkin kami bertiga sejenis orang-orang yang menyukai bahaya.

Garis-garis cerobong yang hitam tampak menyeramkan. Jejaring laba-laba yang putus karena diberati jelaga melambai-lambai diterpa angin lembut. Air selokan tumpah dan mengaliri bebatuan padas yang menyusun jalan. Koran-koran sudah biasa menuliskan deskripsi seperti ini untuk meneror setiap pembacanya. Tidak ada imbauan singkat untuk tak keluar malam mulai pukul 06.00. Inilah yang membuat Terto kesal. Marry, sekretarisnya, bahkan bisa merasakan cekam kengerian karena teragitasi tulisan para reporter.

“Hujan sialan! Entah bagaimana cara mereka menyukainya, sedang ini sungguh menyusahkan.” Gerutuku. Ini sebenarnya kekesalan yang kusimpan buat Terto. Dialah yang bertanggung jawab sehingga aku ada di ruas jalan ini, di malam berhujan dan berangin ini.

Permintaan sang Pembunuh jelas tertulis. Aku, ia minta datang ke lokasi ia menghabisi korban pertamanya—sendirian. Kau harus datang sendiri—tulisnya pada baris ke tiga. Aku akan langsung menikammu jika kudapati sepotong pun bayangan manusia mengikutimu—itu ancamannya di baris ke empat. Aku bergidik. Suratnya ada di kantong ponco yang kukenakan saat ini. Namaku jelas tertulis sebagai penerima dan aku harus menyerahkannya kembali sebagai bukti aku menerima pesannya dengan baik.

Aku berjalan perlahan menjauhi tiang lampu dan harus selalu berada di sisi yang diterangi cahaya lampu atau bulan. Itu memang ia intruksikan —aku ingat persis ada di baris ke tujuh. Sepasang manusia berpayung sudah tak kelihatan lagi. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Aku harus berharap seperti itu. Aku menyayangkan keberadaan mereka di ruas jalan ini, di saat seorang pembunuh sedang mendekam entah di mana menunggu kedatanganku. Oh, Tuhan —semoga mereka baik-baik saja.

Aku berbelok, ke suatu sudut di mana ada relung dangkal bagian dari pintu sebuah BARBERSHOP yang huruf “R” pada plang tokonya sudah mengelupas. Lampunya padam dari dalam, sehingga satu-satunya cahaya yang menimpa tubuhku bersumber dari lampu tembok di toko kelontong seberang jalan. Kuusap percikan air hujan dari wajahku. Ini sudah terlalu lama. Seharusnya si Pembunuh sudah menghampiri. Tak ada yang bisa melihat perjumpaan kami selain Tuhan yang Maha Melihat segalanya dan tak pernah tidur itu. Aku benar-benar dikepung kegelisahan.

“Aku bisa langsung menikammu saat ini—” kalimat pendek itu didesiskan dalam jarak kurang dari satu meter dari bagian gelap tembok di sebelah kiriku. “—demi menggantikan nasib malang seseorang yang akan kubunuh besok malam.”

Terus terang, kandung kemihku bergejolak. Dengan kalimat hebat itu dan (jika disertai) kemunculannya bisa seketika membuatku kencing di celana. Namun baru kata-katanya saja yang sampai ke telingaku. “Kenapa tidak kau lakukan?”

“Nasibmu tidak semalang nasibnya dan aku membutuhkanmu untuk mengungkap siapa diriku sebenarnya.”

“Kenapa harus malam ini? Hujan ini, kau tahu, begitu menjengkelkan—”

“—dan menyiksa perasaan delapan orang di atas butik di seberang ruas jalan ini. Kau tidak datang sendirian!” Ia menyambung kalimatku sekaligus menegaskan ketidaksukaannya.

“Apa itu artinya kau akan menikamku sekarang juga?”

Si Pembunuh tak langsung menjawabku. Satu menit lebih pertanyaanku ia gantung, sampai kemudian— “Kau beruntung mereka hanya mengawasimu dari kejauhan. Mereka cukup pintar dengan tak mengikutimu.”

Betapa lega aku mendengarnya. Perasaan tenang menjalar ke tulang belakangku. Tetapi menunggu semua hal yang ingin ia sampaikan padaku tentang dirinya —sambil berdiri seperti ini— sungguh lebih menjengkelkan dibanding hujan, suhu dingin, dan sepinya ruas jalan ini.

 

Wawancara.

Ia bukan seorang yang bahagia. Tapi ia sangat menyukai kuda. Ia juga menyukai mawar dan tempat-tempat yang asing. Seringkali ia mengenakan topi mawar saat memacu kudanya ke tempat-tempat asing itu, seperti Urdun dan Ratcha.

—Itu penjelasan awal yang ia ingin aku dengarkan darinya.

Ia menghabiskan masa muda di hutan belantara di kaki gunung. Ia tak pernah ingin naik lebih jauh dari batas sungai kecil yang mengaliri lembah tak jauh dari belakang rumahnya. Betapa ia kemudian menangguk banyak pujian atas kehadirannya di lembah itu. “Bisakah kau bayangkan nikmatnya, saat mereka memujiku seolah aku usai mengelilingi tujuh gunung dan tujuh lembah,” desisnya.

Saat kekacauan melanda kotanya, ia tahu ke mana harus berkuda. Ia pacu hewan itu menuju Urdun, singgah sebentar ke Ratcha menyampirkan cintanya. Mawar berkerumun di kepalanya. Ia diam di tempat-tempat asing itu, sampai ia yakin kekacauan di kotanya telah usai, dan orang-orang baru selesai menegakkan harapan.

Tapi, dari tempat-tempat asing itu, si Penyuka Mawar ini melepaskan keluhan, “betapa Tuhan-tuhan dekil itu telah memakan separuh isi kepalaku.”

—Itu kata-katanya selepas ia kutanyai mengapa ia lupa pada dirinya sendiri dan mengapa ia merasa penting agar aku mengetahui latar-belakang dirinya.

Ia lupa pada suara burung-burung, lupa pada warna-warna, juga lupa pada wajah-wajah. Betapa hatinya telah ia bentengi dengan tembok bata yang kokoh. Tembok dari bata yang ia susun satu demi satu. Tembok yang melindungi taman-taman mawar kesukaannya. Tembok yang menjaga kuda-kuda kesayangannya tetap berada dalam ranca yang aman, membelenggu sakit pada rasa setia yang tak pernah ia rasakan.

Sebagai anak manusia, sesungguhnya ia sedang mengobati kekalahannya. Mengobati rasa sakit dari karma yang ia terima: harus merasakan kesepian yang larut. Ia meninggalkan kota menuju tempat-tempat yang asing, dan teror sepi itu masih membelenggu sampai semuanya cukup.

“Siapa mereka?”

“Siapa yang kau tanyakan?”

“Mereka yang kau sebut Tuhan-tuhan yang dekil itu?”

Ia diam lagi —tapi tak lama seperti sebelumnya. “Merekalah alasanku memulai semuanya, di sini. Alasan kita bicara malam ini.”

“Kekacauan apa yang mereka timbulkan?”

Pertanyaan ini membuat pembicaraan menjadi pincang. Dari bagian gelap di sisi kiri tembok toko, aku hanya bisa mendengarnya menggeram, kemudian terdengar seperti isakan —yang samar. Suasana suram ini berlangsung kurang dari tiga menit.

Lumen kuning lampu jalan membuat rintik air yang curah dari langit begitu kentara, seperti panah-panah kecil yang datang menghunjam bebatuan padas penyusun ruas jalan ini. Wina masih lelap. Belulang kota ini lesu di sepertiga malam. Aku kedinginan di kepung hujan yang menyebalkan.

“Maria perempuan paling beruntung di muka bumi. Perempuan yang dihinakan setelah kemulian turun padanya. Ia tidak pernah disapa kesuraman dan deritanya berhenti saat orang suci keluar dari rahimnya. Tidak ada lagi perempuan yang seberuntung dirinya.”

—Kami kembali ke topik yang ingin ia bicarakan. “Itukah sebabnya kau menyusun pembalasan di Ratcha?”

“Harus kulakukan. Kotaku telah mereka segel?”

“Disegel?”

“Agar siapapun tak bisa mendengar tangisan dari dalamnya.”

“Tangisan siapa?”

“Jiwa-jiwa yang telah mereka renggut dengan sangkur kebengisan.”

“Kau rencanakan ini sendirian?”

Tidak ada suara yang kutangkap dari sudut gelap di sisi kiri tembok toko.

“Baiklah— Kapan semua ini selesai?”

Desisan tajam itu harus kudengar lagi. “Sekadar dikebiri tak akan menyelesaikan persoalan. Dikebiri, hanya akan membuat kelamin mereka berdarah paling lama tujuh menit. Sampai jantung semua korbanku berhenti berdenyut, aku belum menang.”

Mengerikan! Percuma memintanya berhenti. Pembicaraan ini sudah menggambarkan keseriusan tindakannya. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”

Tak ada jawaban. Mungkin ia senang mendiamkanku selama satu, dua, tiga menit. Tapi kali ini sunyi yang aneh itu sudah terlalu lama. “Kau masih bersamaku?”

Keinginanku mendengar desisannya berakhir begitu saja. Bagian gelap di sisi kiri tembok toko ini kembali menjadi bagian gelap tanpa siapapun. Aku bergeser, mengeluarkan kepalaku dari lindungan relung pintu toko, mencari tanda keberadaannya di bagian gelap itu.

Ia sudah pergi —aku benar-benar sendirian. Ia pergi begitu saja. Aku rapatkan ponco dan kembali masuk ke dalam hujan. Kususuri jalan berbatu padas menuju batas yang lebih luas di luar sana, meninggalkan seruas jalan itu dalam kesepiannya. Oh, terima kasih, Tuhan —dua orang berpayung itu ternyata baik-baik saja.

Auf Wiedersehen, Fraulein,” bisikku.

 

Perjumpaan Kedua dan Bukan yang Terakhir.

Apa yang si Pembunuh inginkan dariku mungkin akan membuatnya senang sekarang. Ia tentu tahu bahwa aku bisa meraba jejaknya. Kekacauan telah menyegel Huber sehingga orang-orang harus menuju Urdun —dan Ratcha yang ia datangi adalah satu-satunya kota paling asing, sekaligus aman, bagi seorang gadis yang namanya terekam dalam catatan sipil di Balai Kota. Ia lari ke tempat terjauh dalam perasaannya. Ia mencapai Ratcha setelah insiden pemerkosaan massal di kota yang disegel agar kabar sekecil apapun tak keluar.

Sejak malam itu, lokasi pembunuhan pindah ke beberapa tempat. Seruas jalan kecil di tengah kota Wina, di dekat barbershop yang berhenti beroperasi, tempat kami bertemu itu adalah lokasi terakhir sebelum ia beranjak ke lokasi selanjutnya. Ada delapan pembunuhan lagi yang mencukupkan empat pembunuhan sebelumnya. Duabelas pembunuhan tak terpecahkan yang membuat pusing Inspektur Kepala Polisi, Humbertus Terto.

Koran-koran tetap menuliskan sensasi berlebihan atas 12 kejadian itu. Atas semua peristiwa itu, koran-koran seperti terjangkit panache—naluri kebintangan. Para reporternya masih kerap menuliskan agitasi yang membuat warga kota seperti Marry dicekam ketakutan. Itu karena koran dan para reporternya tak tahu apa-apa. Tetapi itu lumayan efektif mencegah orang-orang keluar malam jika tak ada urusan yang mendadak dan sangat penting.

Terto menimpakan semua kekesalannya padaku. Tentu saja. Aku tak jujur padanya untuk beberapa hal. Sepertinya aku cenderung berpihak pada kerumitan nasib si Pembunuh —cenderung bersikap seperti Groot. Tak peduli pada 12 pembunuhan yang ia lakukan dan membiarkannya menyelesaikan urusan dengan para pemerkosanya.

Di suatu sore, kami berjumpa lagi dalam suasana yang lebih terbuka. Gadis itu berkuda menjauhi matahari. Di kepalanya ada topi bermawar.

Di sakunya, banyak nama-nama. (*)

 

Molenvliet, Juni 2015.

 


[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


[Cerpen] Makam di Bawah Jendela | Jawa Pos| Minggu, 10 Agustus 2014

Makam di Bawah Jendela

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Makam di Bawah Jendela_Jawa Pos

MURAJ membuat Damha ketakutan dan hampir mati tersedak lidahnya sendiri. Begitulah awalnya. Entah bagaimana Muraj memilih seorang lelaki serapuh Damha, lelaki yang selalu mengira tak memiliki nyali dan merasa telah ditinggalkan siapa pun.

Apa yang diinginkan Muraj dari lelaki yang 25 tahun hidupnya disita derita itu. Kematian demi kematian mengelilinginya. Ayahnya mati sebelum ia sempat dilahirkan, lalu ibunya menyusul mati tiga bulan setelah ia lahir. Ia disusui seorang wanita paruh-baya yang juga baru saja mati tiga tahun lalu. Dua adiknya, mati sekaligus dalam kecelakaan lalu-lintas.

**

Muraj memberi Damha perintah untuk ia patuhi. Perintah yang bagai selubung besar membungkus tubuhnya, seolah memerah seluruh darah di tubuhnya. Damha terintimidasi oleh sebuah perintah sederhana.

Ya. Perintah sederhana yang mendentam di kepalanya serupa palu pada lonceng.

“Katakanlah,” bisik Muraj.

Tetapi Damha tak sedikit pun memahami keinginan Muraj. Lelaki itu terdiam mematung, sehingga Muraj harus menumpahkan ampas kopi ke atas meja kerjanya. Muraj mengacak-acak ampas kopi itu dengan kaki-kaki kecilnya.

“Makhluk apa kau ini?!” Desis Damha pada sosok di depannya itu.

“Aku Muraj.”Jawab sosok itu seraya mengirik seperti hantu kecil yang kerap bergelayut di punggung setiap orang alim dan berusaha menikamkan godaan ke hati lewat telinga mereka. Muraj mendekut serupa setan Morou yang senantiasa menunggui orang-orang agar tak terjaga dari tidur mereka saat subuh.

“Katakanlah!” Muraj memerintah Damha sekali lagi. Ia ingin agar Damha menurutinya. Perintah yang membuat lelaki itu nyaris menelan lidahnya sendiri karena ketakutan.

Muraj melompat ke atas mesin tik, menghentak-hentakkan kakinya, membuat pita karbon di mesin itu kusut-masai. Makhluk itu tampaknya tak peduli pada ketakutan lelaki di depannya. “Apa akan kau habiskan ubi ini?” Muraj justru menunjuk dua potong ubi rebus dalam piring porselein di meja Damha.

Belum sempat Damha menggeleng, Muraj menyambar dua potong ubi itu, lalu menghabiskannya dalam sekali telan. Makhluk itu lalu bersandar pada penyangga buku, menggesekan tubuh seperti seekor kucing yang gatal, sebelum menarik penyangga itu dan membuat buku-buku roboh. Ia cekit lembaran-lembaran buku sehingga robek dan melemparkannya ke lantai.

“Jangan…jangan lakukan itu,” Damha memelas.

“Memohonlah padaku!” Desis Muraj. “Kau bahkan tak berani melakukannya, bukan?” Ejeknya.

Damha menggeleng. Sendi-sendinya lunglai, belulangnya seperti karet. Wajahnya kebas. “Aku tak akan melakukannya padamu. Kau hanya seorang makhluk, bukan Tuhannya Musa, Isa dan Muhammad.”

Muraj mengirik. Sayapnya mengepak, lalu ia hingga ke dada Damha. “Jangan menguji kesabaranku! Kau tak pantas menyebut zat yang tidak kau kenali,” ujarnya marah.

Damha terlanga. Jemarinya lengket dan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat. Ia mengatupkan mata, berharap saat membukanya kembali, apa yang kini terjadi di depannya ini hanyalah mimpi belaka.

“Petang yang celaka, wahai jahanam!” Rutuk Damha ketika membuka mata dan masih menemukan Muraj di atas dadanya. Ia terperangkap bersama makhluk itu dalam situasi yang aneh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali cemas dan mengasihani dirinya sendiri. Ia berharap ada Marya di balik pintu dan segera menariknya keluar dari kamar ini. Tapi itu tak akan terjadi. Baru dua jam lalu Marya berlari pergi dari kamar ini. Ia marah karena Damha tak sengaja menyenggol dadanya.

Kebetulan yang luar biasa, bukan?

Muraj datang saat Marya tak bersamanya. Saat tak ada orang lain yang ia harap bisa menolongnya. Perut Damha berkecamuk, seperti gemuruh laut yang membadaikan petaka.

Hoeeek… Damha muntah. Ia keluarkan sepotong ubi yang belum ia cerna baik-baik.

**

Mengenai Muraj, sosok aneh yang mendatanginya itu, lebih serupa burung kecil dengan bulu halus berwarna kuning. Saat Muraj bicara, dari punggungnya merentang sayap berwarna pelangi. Tetapi Muraj tak menemui Damha sebagaimana cara setan Morou muncul dari bawah ranjang. Sosok kecil itu masuk lewat jendela yang terbuka, lalu semena-mena mengintimidasinya.

“Krrr….” Muraj mengirik pendek. ”Katakanlah!” Ia mengulangi lagi perintahnya.

“Apa?” Damha susah-payah melawan teror di dadanya.

“Katakanlah atas nama Tuhan!”

“Tuhan yang mana? Siapa?”

“Tuhan yang menciptakan dan meniupkan cinta!”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun? Aku bukan penyair!”

“Tetapi kau seorang pecinta,” Muraj tersenyum. “Katakanlah!” Suara Muraj tiba-tiba meninggi lagi, membuat telinga Damha berdenging. Lelaki itu benar-benar kepayahan.

“Katakanlah Tuhan dalam cinta!” Muraj terus memerintahnya.

“Tapi aku juga bukan pecinta!” Damha keras kepala.

“Ulangi kata-kataku!” Muraj tak perduli, “oh, Tuhanku yang penuh cinta.”

“Oh, Tuhanku yang penuh cinta!” Damha menyerah.

Muraj segera menyambung, “Aku akan mematuhi Engkau dalam cinta!”

Tetapi Damha terdiam. Kepatuhan? “Kepatuhan pada siapa?” Tanya Damha.

Muraj merentangkan sayap kecil yang pelangi itu. Matanya memancarkan cahaya merah. “Ulangi saja kata-kataku!” Teriaknya.

Telinga Dahma berdentang. Ia mengeriap. “Patuh padamu, atau pada Tuhan?”

Muraj mendengus. “Kau pikirkan itu sampai aku datang lagi!” Serunya dan buru-buru melesat terbang lewat jendela.

**

Marya mengizinkan Damha menemuinya dekat air mancur di alun-alun kota. Gadis itu merengut saat Damha berjalan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi ia meninju perut lelaki itu.

“Aku tak bermaksud membuatmu malu,” Damha meringis memegangi perutnya.

Gadis itu tak menyahut. Ia rogoh sakunya dan menjentikkan sebuah koin tembaga 25 sen ke dalam kolam air mancur. Di dasar kolam, koin-koin berkilat lembut terpapar cahaya. “Mohonlah sesuatu, Damha,” pinta Marya.

“Memohon untuk apa?” Damha balik bertanya.

Marya tersenyum. “Berdoalah. Mintalah sesuatu.”

Damha mengusap wajahnya. Ia memilih duduk. “Itu tak penting sekarang ini.”

Marya memutar tubuhnya. Ia kaget. “Kenapa tak penting? Kau tak suka berdoa?”

“Sesuatu telah mendatangiku,” nada suara Damha membuat Marya cemas

“Siapa?” Gadis itu langsung merespon lelaki di sisinya.

“Muraj,” Damha berharap Marya tak menyangkanya sudah gila, “ia sosok yang menghantui kamarku.”

“Kau gila, Damha! Di saat bersamaku pun, kau lebih suka bicara tentang hantu.”

Damha menyerah. Gadis itu baru saja membenarkan kegilaannya.

“Tapi, hantu itu bicara tentang Tuhan.”

Mulut Marya terbuka dan ia membungkuk memegangi perutnya. Lelaki di sisinya itu berhasil membuatnya terbahak. Marya mengibaskan kepala, matanya menyorot tajam. “Jadi Muraj ini sejenis hantu yang alim?”

Dahma tiba-tiba merasa canggung dengan pembicaraan ini. “Sudahlah. Aku tak mau membahasnya lagi.”

“Jangan merajuk begitu,” kelucuan di wajah gadis belum usai. “Aku percaya padamu. Ia memang hantu, dan ia datang setelah kau menyentuh dadaku.”

Damha benar-benar menyerah dengan sindiran Marya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Marya adalah satu-satunya orang yang masih mau bicara padanya. Orang-orang menghindarinya karena menyangka ia dikelilingi maut. Marya tak peduli pada dugaan orang-orang. Ia menyukai Damha, walau lelaki di depannya itu tak pernah menyadarinya.

Mereka bergeser, memberi ruang pada orang-orang yang datang melemparkan koin ke dalam kolam seraya memohon sesuatu dalam doa.

“Baiklah. Maafkan aku. Tapi kau harus tahu bahwa selera humormu buruk sekali.” Marya mengalah. “Sampai di mana kita tadi? Oh ya, soal hantu yang mendatangimu.”

“Entahlah. Ia bicara tentang cinta dan Tuhan. Aku tak tahu maksudnya.” Damha bangkit, menepis debu dari belakang celananya. “Hantu itu akan menemuiku lagi. Aku pikir, akan lebih baik kau bersamaku saat ia datang nanti.”

Seingat Marya, banyak kitab yang juga menjelaskan tentang malaikat yang membangkangi perintah menyambah manusia karena kesetiaannya pada Tuhan, sebagaimana yang diingat Marya dari kisah yang diceritakan neneknya yang alim: tentang manusia dan malaikat pembangkang.

“Kata nenekku, malaikat mengikuti tujuan penciptaannya; hanya setia menyembah Tuhan saja. Ia menolak menyembah selain Tuhan. Oh, Nenek, betapa aku merindukanmu.” Marya mengulangi apa yang dulu dikisahkan oleh neneknya.

Kisah purba yang belum selesai, kata neneknya yang alim itu. Kisah yang hanya akan selesai apabila malaikat itu bersedia berdamai dengan manusia untuk membayar pembangkangannya pada Tuhan.

Andai neneknya masih hidup, Marya ingin menanyainya beberapa hal; siapa nama malaikat yang membangkang itu? Benarkah ia dihukum menjadi hantu? Itukah harga yang harus ia bayar untuk kepatuhannya? Adakah kepatuhan itu sebuah pembangkangan?

**

Muraj mendarat keras di lantai kamar Damha. Makhluk itu tampak payah. Sebelah sayapnya membentang lunglai, sebelah lagi tertutupi darah kering. “Inikah hantu yang kau bicarakan itu?” Bisik Marya ke telinga Damha.

Damha mengangguk. “Ya. Dialah Muraj.”

Tapi Marya tak perduli siapapun namanya. “Kenapa sayapnya berdarah?”

Damha berlutut dan mendapati Muraj yang bergeming lemah. Makhluk itu bernafas nyaris senyap. Marya teringat lagi pada kisah neneknya.

“Ia sepertinya tak bernafas lagi.” Damha membalikkan tubuh Muraj agar terlentang.

Marya merengut. “Ini burung, Damha. Bukan hantu. Tak ada burung yang bisa bicara. Kau berhalusinasi, dan bodohnya aku memercayaimu!” Rutuk Marya berdiri dari jongkoknya.

Muraj membuka matanya. “Marya. Aku bukan malaikat pembangkang. Malaikat yang membangkangi Tuhan karena kepatuhannya yang nenekmu maksud dalam ceritanya itu adalah malaikat yang kini kerap menghalau dirimu mematuhi Tuhan. Ia tidak menyukai cinta.”

Marya gelagapan. Mulutnya tiba-tiba terkunci.

“Cinta,” Muraj mengirik pada Damha, ”aku harus menuntaskan urusanku, Damha. Ingatlah selalu pada Cinta, kata pertama yang diajarkan Tuhan pada manusia. Cinta. Katakanlah, bahwa Tuhanmu menciptakan cinta. Cintailah setiap makhluk Tuhanmu.”

“Sudah kukatakanaku bukan pecinta. Aku tak pernah melihat wajah ayah dan ibuku,” Dahma tertunduk, “bagaimana mungkin aku mencintai orang-orang yang tak pernah aku temui?”

“Jangan cemas, Damha. Bukankah kau mencintai Tuhan, sedang kau tak pernah melihat-Nya? Aku tahu, kau kelak bisa mencintai dua orangtuamu. Bersabarlah, Damha. Kita akan bertemu lagi,” napas Muraj kian tipis, matanya mengerjap lemah. “Oya, Marya,” sapa Muraj, “nenekmu menitipkan salam dan rindunya untukmu.”

Muraj tersenyum pada Marya dan perlahan mengatupkan mata. Tak ia buka lagi dan benar-benar pergi.

Mengenai luka di tubuh Muraj, luka yang membuat Muraj menemui kematiannya itu adalah luka peluru senapan. Muraj tertembak penembak jitu saat ia melintasi kota yang dikepung huru-hara, saat orang-orang begitu bernafsu membunuh cinta. Mereka membakar, menjarah, membunuh, dan memerkosa. Walau tertembak, ia tetap datang memenuhi janjinya.

Damha dan Marya memakamkan Muraj di bawah jendela. (*)

Molenvliet, Januari 2014

Twitter: @IlhamQM

 

* Cerpen ini didedikasikan untuk Hanna Fransisca.


%d blogger menyukai ini: