Tag Archives: tradisi

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 

Iklan

[Esai] Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo

Sijo Setelah Reformasi Gabo3

SASTRA Korea dimulai pada Zaman Tiga Kerajaan (37 SM-985 M). Sastra klasik Korea saat itu ditulis dalam Hanja (aksara Cina) dengan gaya Tiongkok di bawah pengaruh akar pemikiran yang kuat tertanam pada tradisi, kepercayaan dan kehidupan rakyat Korea. Kendati tetap dalam pengaruh Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme.

Puisi sangat terkenal di era itu, sehingga ada pertunjukan puisi dalam format opera tradisional yang disebut Pansori. Kemunculan aksara Haegul, membuat tradisi sastra Korea berkembang pesat, karena mendorong rakyat Korea menikmati sastra dan mengurangi buta huruf. Ironisnya, karya-karya sastra beraksara Haegul justru populer di awal abad ke-19.

Karya sastra di zaman itu eksklusif bagi kalangan bangsawan dan pejabat istana saja. Karya sastra resmi kerajaan ditera menggunakan aksara Hanmun. Di sisi lain, karya-karya tidak resmi tetap ditulis dengan aksara Tiongkok dalam sistim Idu dan Gugyeol. Kemunculan aksara Haegul menjadi jembatan bagi sastra untuk bisa dinikmati semua lapisan rakyat.

Hyangga adalah sastra Silla berupa syair beraksara Tiongkok dengan sistem Idu, yang dicirikan susunan formal atas 4, 8, atau 10 bait. Syair 10 bait (berstruktur 4-4-2) paling digemari.

Goryeo Gayo adalah seni sastra (lagu) yang lahir diera Dinasti Goryeo. Lagu-lagu Goryeo umumnya bertema kehidupan manusia dan alam, dalam bentuk khusus Byeolgok pada dua jenis Dallyeonche (satu bait) dan Yeonjanche (banyak bait). Gayo yang terkenal adalah Gwandong Byeolgok (Byeolgok pesisir timur) yang bercerita tentang keindahan pantai laut timur Gangwon.

Puisi yang berkembang di era Joseon adalah Sijo, yang merefleksikan pemikiran Konfusianisme dan tema-tema kesetiaan. Sijo tersusun atas 3 bait (per bait 4 baris kalimat) dengan 44- 46 kata.

Bentuk puisi Sijo adalah yang paling berkembang di Korea. Seni menyanyikan Sijo disebut Sijochang dan Danga (lagu pendek), atau Sijeolga (lagu musim). Tradisi menyanyikan syair sudah lama di Korea, namun genre Sijochang baru diperkenalkan pada masa Raja Yeongjo (1724-1776) dan komposisinya dipopulerkan Yi Se Chun dari Hanyang, kendati buku musik Gura Jeolsa Geumbo (Sijo diiringi alat musik kecapi Yanggeum) sudah ditulis sastrawan Sin Gwang-su, sejak zaman Yeongjo.

Setelah pembakuan gaya dan komposisi Sijo, genre ini berkembang pesat pada masa Raja Jeongjo (1776-1800) dan Sunjo (1800-1834). Komposisi Yi Se-chun diwariskan hingga kini dan berkembang dalam beberapa bentuk. Sijo 3 stanza sangat populer karena sederhana dan mudah diterima.

Tidak seperti seni vokal Gasa dan Gagok, Sijo berkembang di banyak daerah dan versi (Gyeongpan dari Seoul, Naepoje dari Chungcheong, Wanje dari Jeolla, Yeongje dari Gyeongsang).

Sejumlah ahli musik Korea menduga, keotentikan dan kemudahan Sijo bertransformasi kemungkinan telah membangun dasar gaya musik Pop di Korea Modern saat ini.

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo1
PARA PENYAIR TERLUPAKAN.

SIJO tetap populer bahkan selepas keruntuhan Dinasti Joseon dan dimulainya periode Gaehwa Gyemong (pencerahan) setelah Reformasi Gabo tahun 1894. Bermunculan sekolah-sekolah Eropa dan media cetak yang menerbitkan sastra yang lebih bebas dan tidak terikat aturan tertentu. Genre puisi Sinchesi lahir dengan Jayusi sebagai gaya puisi bebas. Pencerahan yang cepat itu berkat meluasnya penggunaan aksara Hangeul.

Segala aspek budaya, seni dan sastra Korea diberangus di masa penjajahan Jepang, yang memaksa terjadinya proses akulturatif. Sastra Korea dipaksa mencari bentuk baru untuk bisa beradaptasi dengan tema-tema klasik seperti pencarian jati diri dengan penderitaan rakyat jelata yang memilukan di awal tahun 1920-an.

Akibatnya, budaya, seni dan sastra Korea lantak. Sampai era 1980-an, sastra Korea nyaris tidak dikenal di luar negeri. Flowers of Fire adalah antologi sastra Korea dalam bahasa Ingris yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1986.

Salah satu dari beberapa sastrawan Korea legendaris baru kembali dikenal publik di era 1980-an adalah O Sangsun (1894-1963), yang berkelana ke berbagai negara mengunjungi kuil-kuil untuk bermeditasi, lalu bergabung dengan kelompok The Ruins (1920) yang sejenak meninggalkan nihilistic karena kecewa dengan situasi nasional setelah Pergerakkan Kemerdekaan. Karya-karyanya ialah The First Night; Poetry, Cigarettes and I; dan Wanderlust.

Pyon Yongno (1898-1961) seorang penyair yang mencolok dengan kejeniusan, kecerdasan dan retorikanya. Karya-karyanya meliputi The Korean Mind (1924) dan The Azaleas (1947).

Penyair Yi Sanghwa (1900-1941) dikenal dengan puisi-puisi romantik yang sangat sentimental. Ia berafiliasi dengan The White Waves dan melahirkan Does Spring Come to These Forfeited Fields, sebuah kumpulan puisi bertema penderitaan bangsa tertindas.

Yi Changhui (1900-1929) adalah satu-satunya sastrawan Korea yang berhasil mengguncang sastra dunia oleh kesentimentilan dalam puisi-puisinya yang segar dan sensual dalam The Korean Literary World, 1925. Ia memilih membangun pertahanannya sendiri, sekaligus menolak terpengaruh semangat morbid dalam karya Spring Is A Cat; A Lonesome Season; dan The Insect Cries. Yi bunuh diri pada usia 26 tahun. (IQM)

 

Sijo Setelah Reformasi Gabo2


Senggama

Senggama itu boleh, tapi sebaiknya lakukan bersama muhrim-mu. Senggama boleh tapi aneh jika merekam-rekamnya. Merekam mungkin tak mengapa, tapi salah jika beredar-edar.

Senggama boleh tapi tak baik ditonton orang. Terekam, mungkin lagi sial, tapi lebih sial jika tertonton. Terlarang pula menyebarkannya. Kini senggama itu bukan hal privat lagi.

Dahulu engkau mesti mempersiapkan banyak hal ketika hendak melakukannya; tempat yang baik, waktu yang tepat, momentum yang romantis, persetujuan yang teguh, dan penyelesain yang paripurna. Tak boleh ada kecewa terselip di antara keduanya, setelahnya.

Kini senggama itu jadi hiburan, atau untuk menghibur.

Padahal Tuhan, untuk urusan senggama ini, menunggu Adam dirundung sepi dahulu, kemudian Dia bertindak. Bagi Adam, dibuatkannya seorang Hawa, perempuan untuk menghapus sepinya, untuk disenggama agar keturunannya banyak.

Bukan main urusan senggama itu? Bukankah senggama ini urusan yang luar biasa penting, sehingga Tuhan harus mencipta dua jenis kelamin berbeda; agar bisa bertemu. Itulah mengapa senggama itu sakral.

Di berbagai peradaban dunia, senggama ini demikian sakral dan kultus. Pada kebudayaan India, senggama itu menjelma sebuah kitab khusus; Kamasutra. Banyak prosesi, banyak pantangan, banyak rutinitas, sebelum engkau melangkah pada senggama.

Di kebudayaan Mesir, engkau harus direndam pada rempah, agar harum. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon. Tubuhmu akan berbungkus sutra, peraduanmu akan ditebari mawar dan diberi gaharu. Konon, pula, pada Lingga dan Yoni, disepuh segala haruman berlapis-lapis aromanya. Biar Amum Ra tidak kecewa, konon.

Di kebudayaan Eropa, urusan senggama itu berbelit sengkarut urusannya. Lelaki harus melalui 90 hari kenal, satu tahun tunang, sebulan pingit. Di sepanjang waktu itu, si perempuan dipersiapkan dengan serius. Maka itu, prosesi nikahnya berlangsung cepat. Keluarga mengawasi sedemikian ketat. Selalu ada pengawal si perempuan ketika berduaan dengan tunangannya, sekali pun. Sayang sekali, saat senggama mereka masih merasa harus; polos telanjang.

Di kebudayaan Arab-Islam, senggama sedemikian kultus, sehingga jika abai dan lalai, kau bisa kena rajam, akibatnya. Perempuan tak boleh jalan sendiri tanpa muhrim. Memandang dengan seronok akan membangun prasangka di kalangan keluarga perempuan, dan perempuan itu sendiri. Ketika bertemu pun, lelaki hanya cukup melihat melalui barzah, melalui tabir. Prosesnya panjang berjenjang. Setelah semuanya kau lewati, masih tersisa satu pantang; engkau berdua harus berpenutup saat senggama. Tak boleh telanjang polos.

Cukup hanya pada bagian yang akan bertemu; penyenggama dan tersenggama, yang terbuka. Sebab, jika polos, engkau berdua akan lebih mirip binatang. Rasakan sensasinya, tapi jangan pula mempermalukan malaikat. Malaikat akan malu, menutup mata, jika ada sepasang muhrim bersenggama tak berpenutup. Mereka akan membalikkan badan sampai engkau berdua, usai.

Bahkan sebelum senggama, engkau, kalian berdua, harus berdoa dulu; agar senggama itu tak dicampuri setan dan iblis, agar senggama itu berbuah anak sholeh, patuh pada Rabb Ul-llah. Setelah selesai, berdoalah pula, sebaiknya. Dan, engkau sekalian harus mandi pada akhirnya. Junub akan mengakhiri prosesi senggama ini. Ibadahmu akan percuma jika engkau tak menutupnya dengan junub.

Tetapi, sekarang, lihatlah senggama itu.

Orang orang mempermainkannya semaunya. Menjadi boleh dengan siapa saja, dilakukan dengan cara apa saja, di mana saja. Kadang pula diabadikan; buat di tonton sendiri, atau beramai-ramai kawan dan sahabat. Masih tak puas, diedar dengan sengaja, sehingga orang sedunia melihat perbuatanmu.

Segala mitos kau buat, sebagai alasan. Ukuran, bentuk, dan kepiawaian “menjungkir-balikkan” perempuan, engkau banggakan. Karena ketidakpuasanmu, hewan pun kau bunuh. Apa salah Buaya, engkau kejar tangkurnya? Apa dosa Badak, engkau gergaji culanya? Ada apa dengan kambing? Setelah melahapnya, jadi alasanmu mengunjungi lokalisasi. Ular kau betot tubuhnya, hingga darahnya muncrat lalu lahap kau teguk. Macan kau kejar-kejar hanya karena kuku dan tulangnya. Bahkan bakau pun kau balak untuk bisa melingkarkan akar baharnya di lenganmu.

Perbuatan yang bodoh, sungguh!

Apa hewan-hewan itu pernah berperjanjian padamu perihal tubuh mereka? Apa mereka berutang seutas tangkur, sebuah cula, sekilo daging, seliter darah, sepotong kuku dan tulang, dan sebatang akar, padamu? Tidak, tentunya. Lalu mengapa angkau bunuh mereka? Tingkahmu mirip rentenir, membunuh penghutang yang tak membayar puluhan tahun.

Setelah engkau anggap diri hebat pada urusan senggama, tak cukup perempuan bagimu, lelaki pun kau senggama. Kau bilang; tak mengapa Lingga itu berlumuran tinja. Hih…najis!

Padahal engkau cuman mengejar; sensasi dan erotisme. Tidak cuman lelaki, perempuan pun, kini, sama saja.

Tahukah engkau, bahwa senggama itu, dihakikatkan pada urusan keturunan saja.

Lalu, orang-orang berteori dan berspekulasi tentang cara dan upaya. Bahkan ada sekolahnya untuk kau pelajari dengan juluk seksologis.

Senggama itu, kini, pun dipelototi kanak-kanak. Urusan perempuan buka paha, buka dada menjadi gampang. Yang dahulu kau harus datang dalam rombongan memintanya dengan cara yang baik dan diberitahukan pada umum dengan cara yang baik pula.

Lembaga nikah tidak sekuat dan keramat lagi. Dahulu memeriksa orang zina itu cepat dan berujung hukum yang keras, kini terbalik. Dahulu perempuan akan sangat marah jika dipelototi dengan pandangan seronok, lalu baru akan marah besar jika pantatnya kau tepuk, lalu baru akan murka jika dadanya kau senggol, dan engkau akhirnya dilaporkan sebagai peleceh.

Kini, kadang perempuan baru marah besar, murka hatinya, jika tak kau peluk, tak kau raba-raba, tak kau berikan sensasi dan erotisme yang dia minta.

Perempaun saat ini, umumnya, tak ada malu tersisa lagi pada hati dan fikirnya. Walau pada tubuhnya tinggal melekat kutang dan cawat saja. Batasan rogol menjadi makin tinggi.

Seharusnya internet itu, material bergambar senggama itu, diawasi tidak saja Kementerian dan polisi, tetapi orangtua juga. Terlalu besar lembaga Kementerian (Depag dan Kemenkominfo) itu jika urusannya hanya haji, penyuluhan, pendidikan dan latihan. Seharusnya mereka duduk pula di kursi pengawas (bukan pengatur) sebagai polisi content. Jika kau tak bisa awasi content maka tak perlu sok ribut soal material senggama yang teredar.

China saja yang kau tuduh komunis dan ateis itu, mampu mengawasi content hingga material senggama tak edar bebas. Tiap tahun ribuan orang dibui di sana karena coba-coba. Jika kau bukan ateis mengapa tak mencoba lebih baik dari orang yang kau sangka ateis. ***

Catatan ringan Ilham Q. Moehiddin (Juni 2010)

 

*Maaf, catatan ini aku tulis seusai “nge-dumel” pada media, pada lembaga terkait, dan para penyuka senggama. Kebodohan itu laksana tongkat; semakin panjang semakin rapuh. Tongkat serupa itu baiknya segera dipatahkan.

Kata “Muhrim” biasa dilafalkan lidah orang Indonesia untuk “Mahrom”. Secara gramatikal penggunaan yang benar adalah ‘Mahrom’ yang merujuk hubungan keluarga/sedarah. Sedangkan ‘Muhrim’ merujuk pada pemakai kain ihram saat berhaji. Info ini dimungkinkan atas revisi, saudaraku Syaiful Alim.


%d blogger menyukai ini: