Tag Archives: terjemahan

[Pertala] Mestizo | Jorge Luis Borges

Mestizo

Oleh Jorge Luis Borges

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

Sur

JOHANNES Dahlmann seorang pendeta Gereja Evangelica Jerman yang datang ke Buenos Aires pada tahun 1871. Tapi Juan Dahlmann —seorang cucunya yang kini bekerja di perpustakaan kota— lebih suka menganggap dirinya orang Argentina. Juan menyukai semua hal tentang Argentina dan Francisco Flores —ayah dari ibunya. Flores seorang prajurit Infanteri Divisi Ke-II Argentina. Sayang sekali, Flores tewas tertombak seorang Indian dari Catriel, saat pasukannya melerai perselisihan antara dua suku yang berseteru di perbatasan Buenos Aires. Juan kini mengenang Flores pada litograf pria berjenggot, pada pedangnya, kotak musik, buku puisi Martin Fierro, dan kenangan masa kecilnya di rumah besar bercat merah milik kakeknya yang sudah ia warisi itu. Tapi pekerjaan —dan juga kemalasannya— membuatnya menelantarkan peternakan itu.

Sampai ia terbangun di suatu pagi dan mendapati hidupnya berantakan.

**

Kadang takdir bisa secara kejam mengubah nasib seseorang. Juan begitu senang saat berhasil memperoleh salinan terbatas buku Seribu Satu Malam. Tapi saat terburu-buru naik ke apartemennya, sesuatu telah membentur wajahnya dan meninggalkan luka di dahinya.

Luka itu membuatnya demam esok harinya. Suhu tubuhnya meninggi, membuatnya merasa seperti dalam neraka. Selama sepekan kondisinya tak kunjung membaik, sehingga dokter yang kerap merawatnya harus memeriksanya lebih teliti di sebuah sanatorium. Para perawat melepas bajunya, membaringkannya di ranjang kecil dan menyinari tubuhnya dengan X-ray. Mereka juga memantau jantungnya dengan sebuah alat. Obat yang disuntikkan seorang perawat segera membuatnya pingsan.

Juan tersadar dengan perasaan mual dan lemas. Kondisinya cukup serius sehingga dokter mengharuskannya dirawat-inap. Di sebuah kamar khususnya, ia menjalani hari-hari berat dalam berbagai upaya penyembuhan. Ia menerima semua upaya menyakitkan itu hingga merasa hampir gila. Saat pemeriksaannya rampung, dokter justru mengabarkan sesuatu yang membuat perasaannya hancur: ia mengidap keracunan darah.

Itu vonis kematian baginya. Juan membenci dirinya sendiri, merasa terhina dengan semua alat yang melekat di tubuhnya, jenggot meranggas di wajahnya yang tak terurus. Kelelahan fisik dari upaya penyembuhan itu tidak memungkinkan baginya memikirkan sesuatu tentang kematian.

Akhirnya dokter menghentikan pengobatan dan menyarankan Juan memulihkan diri di suatu tempat yang ia sukai. Saat itulah Juan teringat pada peternakan miliknya. Ia ingin memulihkan diri di sana sembari bersiap untuk hal terburuk karena penyakitnya.

Kenyamanan adalah realitas yang simetris dan anakronis: Juan datang ke sanatorium diantar seorang dokter dan dokter itu pula yang kini menemaninya ke stasiun Constitucion.

Juan menghirup kesegaran udara di hari terakhir musim gugur sepuas hatinya. Ia telah melalui pertarungan yang melelahkan di ruang perawatan. Buenos Aires di jam tujuh pagi, selalu mengendapkan sedikit embun yang disisakan malam. Ia tentu saja mengenali kota yang jangat ini: sudut-sudutnya, papan reklame, dan kesederhanaan Buenos Aires dalam cahaya matahari pagi.

Setiap orang Argentina tahu persis bahwa batas kota ke arah Selatan adalah gerbang masuk ke sisi lain Rivadavia. Itu tidak sekadar pernyataan. Siapapun yang melintasi batas kota ini akan segera memasuki dunia yang kuno dan keras. Dunia yang menyuguhkan lansekap luas dan berdebu, gedung-gedung tua, jendela berjeruji, pengetuk pintu dari kuningan, dan gerbang lengkung bergaya klasik.

Juan masih punya waktu 30 menit sebelum kereta api yang akan ia tumpangi meninggalkan stasiun. Ia menuju ke sebuah kafe di sayap stasiun di mana pemiliknya meletakkan seekor kucing dalam kaca. Ya. Kucing itu masih di tempatnya. Ia memesan secangkir kopi, perlahan mengaduk gula sebelum menyesapnya —kenikmatan yang tidak bisa ia dapatkan di sanatorium.

**

Kereta api masih mendesis di peron menanti sisa waktu keberangkatannya. Juan bergegas naik dan mendapatkan sebuah kursi kosong. Ia susun tasnya di rak-jaring. Saat kereta api mulai bergerak, ia turunkan kembali kopernya dan mengeluarkan buku. Ia pikir baik mengisi waktu di perjalanan ini dengan membaca buku Seribu Satu Malam, yang di banyak bagiannya seperti menceritakan kisah hidupnya.

Dari jendela kereta api, tampak Buenos Aires berlari menjauh. Matanya kemudian menangkap lansekap lain di pinggiran kota. Banyak keindahan lain yang kemudian ia saksikan: taman-taman indah dan villa-villa yang menawan. Ia harus menunda bacaannya, kisah Scherezade teralihkan oleh kegembiraan yang lain. Juan menutup buku, membiarkan dirinya menikmati suasana di luar kereta. Saat makan siang, kaldu yang disajikan dalam mangkuk logam, berhasil mengembalikan banyak ingatan masa kecilnya di setiap musim panas. Ia tersenyum. Baginya, perjalanan ini sungguh menyenangkan dan membuatnya merasa seperti dua orang berbeda di waktu yang sama: seorang yang sedang melakukan perjalanan di musim gugur, dan seorang lain yang terkurung di sanatorium.

Besok ia akan bangun pagi di peternakan —pikirnya. Lewat jendela kereta, matanya menangkap hal-hal yang sepertinya tak akan pernah berubah; rumah miring berdinding bata, penunggang kuda di jalanan tanah, selokan irigasi, sungai dan awan besar yang dibiasi cahaya sehingga tampak mirip marmer. Mendapati kembali hal-hal seperti itu membuat Juan seperti berada di dunia imajiner.

Beberapa kali Juan tertidur di sisi jendela dan memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan yang ia lihat di sepanjang berjalanan siang ini. Saat ia terbangun, sudut matahari sudah berubah. Langit menyisakan cahaya terang yang kerap mendahului datangnya malam, cahaya yang perlahan berubah menjadi merah.

Warna lansekap di luar kereta api sudah berubah sepenuhnya. Di luar membentang bayangan hitam tak terbatas yang tampak bergerak menuju cakrawala. Sebuah kontradiksi dari Buenos Aires yang dipenuhi pemukiman dan hal lain yang dibuat manusia. Kesunyian yang sempurna dalam kenyataan yang berseberangan. Ini tak sekadar perjalanan pulang, tapi benar-benar seperti perjalanan ke masa lalu.

Lewat kondektur kereta api yang memeriksa tiket, Juan mendengar informasi bahwa sedikit kerusakan akan membuat kereta api ini berhenti di stasiun kecil, di luar stasiun reguler yang seharusnya. Pria itu juga menjelaskan hal teknis yang tidak ia pahami.

Kereta api dengan susah payah akhirnya berhenti. Kereta ini akan menjalani sedikit perbaikan sebelum melanjutkan perjalanannya esok hari. Tidak banyak bangunan di dekat stasiun kecil ini. Kecuali penginapan yang bisa ditemukan sekitar sepuluh blok jauhnya, maka yang tampak hanya beberapa istal penitipan kuda, gudang kargo dan sebuah rumah bercat merah. Matahari masih menyisakan sedikit bias keemasan yang menyembul dari balik perbukitan, sebelum gelap malam benar-benar menelannya.

**

Juan memang menganggap perjalanan pulang ini adalah petualangan kecil ke masa lalu. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan menikmati suasana malam di pedesaan seperti ini hanya karena sedikit rasa lelah. Ia berjalan pelan, menghirup aroma semanggi dari tanah dengan penuh suka-cita.

Rupanya rumah bercat merah itu sebuah kedai. Desain rumah itu tampak kuno dengan baja berukir yang menghiasi strukturnya —mungkin ini satu-satunya yang tersisa dari gaya arsitektur klasik Paul et-Virginie. Beberapa ekor kuda ditambatkan di pagar depan kedai. Juan memutuskan makan malam di kedai itu saja. Saat masuk, ia sempat tertipu kemiripan pria pemilik kedai itu dengan salah seorang perawat di sanatorium. Ia sebut namanya dan pemilik kedai menemaninya ke sebuah meja dan berjanji segera mengantarkan pesanannya. Ia tidak begitu tertarik pada beberapa gaucho yang sedang minum di beberapa meja. Ia pernah berbicara dengan seorang gaucho di Entre Rios, dan cukup aneh menemukannya berada di luar wilayah Selatan.

Juan duduk sambil mengenang waktu yang ia lewati. Waktu yang telah membentuk dirinya seperti tetesan air pada batu. Ia telah merasakan kesepian, kemiskinan, diremehkan, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat. Ia menandai keberhasilannya dengan ponco tebal, chiripa panjang, dan sepatu boot terbaik. Juan memilih meja dekat jendela, agar ia bisa memandang kegelapan yang membungkus suasana di luar sana, mengendus aroma alami yang diterbangkan angin ke kisi-kisi jendela.

Pemilik kedai mengantarkan pesanannya —sarden dan sepotong daging panggang. Juan menuntaskan makan malamnya dengan menikmati anggur merah seraya merayapi semua bagian kedai dengan matanya. Ada lampu minyak tanah yang tertempel di dinding, di seberang meja bar, ada seseorang yang menikmati minumannya tanpa melepaskan topi. Tiba-tiba, Juan merasakan sesuatu yang ringan menyapu sisi wajahnya. Di dekat gelas anggurnya, tampak segumpal remah roti yang sepertinya sengaja dilemparkan seseorang ke arahnya.

Juan tidak mengubrisnya. Tubuhnya masih lemah setelah masa penyembuhan dan ia tak suka cari masalah. Ia buka buku dan berniat melanjutkan bacaannya. Namun, remah roti lain mendarat lagi di mejanya dan kali ini disambut tawa beberapa gaucho. Ia tak ingin diremehkan orang lain, tetapi kesalahan besar membiarkan para gaucho bertingkah seperti itu. Darah Argentina di tubuhnya mendidih. Ia sudah berdiri saat pemilik kedai datang dan bicara dengan suara memohon. “Tuan Dahlmann, mohon jangan hiraukan mereka.”

Juan merasa kata-kata yang menenangkan justru hanya akan memperburuk situasi. Seringkali, provokasi para gaucho sengaja diarahkan pada orang-orang yang tidak mereka kenal, tapi terhadap orang tertentu, mereka tidak suka mengambil resiko. Sekarang, mereka sedang meremehkan dirinya, berteriak menghinanya dengan sebutan mestizo di depan banyak orang. Ia menahan tubuh pemilik kedai dan maju menghadapi para gaucho. Ia ingin tahu apa yang mereka inginkan darinya.

Penghinaan adalah cara yang efektif untuk segera membesarkan masalah. Di antara para gaucho, seseorang yang sedang mempermainkan pisau memandang tajam ke arahnya. Orang itu jelas menantangnya untuk bertarung. Pemilik kedai protes sambil menunjukkan bahwa Juan tidak bersenjata.

Tapi dari sudut ruangan, seorang gaucho tua melemparkan belati miliknya ke kaki Juan. Gaucho tua seolah telah memutuskan bahwa ia harus menerima tantangan duel itu. Juan tahu, pisau itu tidak sekadar benda yang akan ia gunakan membela diri, tetapi benda yang akan membenarkan pembunuhan atas dirinya.

Juan membungkuk meraih belati di lantai.

“Ayo kita selesaikan, Mestizo!” kata gaucho yang menantangnya.

Juan tersenyum. Penyakitnya akan segera mengundang kematian datang lebih cepat. Gaucho itu tidak membuatnya takut sama sekali. Ia tidak pulang ke Selatan hanya untuk kembali menunggu kematiannya di ranjang sanatorium. Inilah makna perjalanannya. Ya. Ia sudah pulang. Ia sudah berada di rumah sekarang.

Lelaki yang telah menganggap dirinya seorang Argentina itu berjalan ke depan kedai seraya menggenggam erat pisaunya —benda yang sama sekali tak bisa ia gunakan. (*)

 

Catatan :

– Gaucho = buruh kasar; petani tradisional; penghuni wilayah selatan Argentina.

– Mestizo = olok-olok bagi orang keturunan Eropa-Indian.

 

Jorge Luis Borges adalah seorang penulis cerpen, esais, penyair dan penerjemah dari Argentina dan tokoh penting dalam sastra Spanyol. Cerpen ini seolah menceritakan kehidupan Borges: bekerja di perpustakaan, dan di tahun baru 1939, ia menderita luka berat di kepala dan hampir meninggal karena keracunan darah. Cerpen ini berjudul asli El Sur (1953) yang dialih-bahasakan oleh Ilham Q. Moehiddin dari terjemahan berbahasa Inggris Anthony Bonner, The South (1962).

Iklan

[Pertala] Kamar Merah | H. G. Wells

Kamar Merah

Oleh H. G. Wells

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

TheRedRoom565

KUPIKIR, orang-orang jompo kerap mengoceh untuk mengenyahkan ketakutan mereka. Kupandangi sekeliling tempat ini dan mendapati diriku dalam cermin tua di sudut ruangan. “Ya. Semoga aku tidak bertemu sesuatu malam ini,” ujarku.

“Terserah kau.” Kata lelaki tua berlengan kayu.

Suara menyedihkan terdengar dari engsel pintu yang terbuka saat seorang lelaki tua lain berjalan masuk sambil menyeret kakinya. Tubuhnya lebih bungkuk dan kulitnya lebih keriput. Ia menopang dirinya dengan tongkat. Bibir bawahnya tergantung mengerikan dengan gigi busuk menguning. Sikapnya padaku sungguh aneh—mata kecilnya hanya menatap tajam dari bawah bayangan alisnya. Kemudian ia terbatuk.

“Ya. Ini pilihanku—” kataku. Atavistik telah membawa dampak tidak manusiawi pada orang-orang seperti ini; menurunkan kualitas manusia dari hari ke hari. “Bisakah kalian menunjukkan kamar berhantu itu?”

Aku menunggu, memandang mereka satu per satu.

“Ada lilin di depan pintu,” kata lelaki tua berlengan kayu. “Jika kau akan ke kamar merah malam ini—”

“Inilah malam dari semua malam!” Gumam wanita tua yang duduk di depan perapian.

“—seorang diri.”

“Tunjukkan arahnya.”

“Berjalanlah lurus di koridor bawah,” ia menunjuk, “sampai kau temukan tangga spiral yang menuju lantai dua di balik pintu berlapis baize hijau. Naiklah, susuri koridor atas—kamar merah itu di sebelah kiri di ujung koridor.”

Aku mengulangi petunjuknya dan ia mengangguk.

“Apa kau sungguh akan memeriksa kamar itu?” Lelaki tua bermata kecil itu bertanya sembari berdiri dan memutari meja, bergabung dengan dua kawannya di depan perapian.

“Itulah tujuanku kemari,” aku melangkah ke pintu.

“Inilah malam dari semua malam—” Terdengar gumaman wanita tua itu lagi.

Di pintu aku berhenti, kulihat mereka melalui bahuku. Mereka duduk merapat dengan mata lurus ke perapian. “Selamat malam,” kataku di ambang pintu.

“Terserah kau saja—” kata lelaki tua berlengan kayu.

**

Kususuri koridor bawah dengan lilin di tangan. Langkahku menciptakan gema yang aneh. Bangunan ini dari masa yang lebih tua, masa ketika spiritualitas begitu menakutkan, ketika kemustahilan jadi masuk akal, ketika kutukan, sihir dan hantu-hantu tidak disangkali. Keadaan mereka sangat spektral; karakter yang seharusnya sudah punah—memilih hidup di bangunan tua berhantu. Orang-orang seperti itu selalu ada di setiap waktu.

Koridor ini gelap dan lembab, dindingnya berselaput lumut. Nyala lilin di tanganku membentuk bayangan yang menari di dinding. Gema memantul di koridor dan kegelapan merayap di belakangku—kegelapan di depanku seperti menyingkir setiap kali aku melangkah maju. Lantai tampak melebar di ujung koridor. Aku berhenti, memastikan suara gemerisik—yang kukira dari sesuatu yang merangkak di belakangku. Kutarik gagang pintu berlapis baize hijau dan mendapati diriku berdiri di bawah tangga spiral dari susunan batu padas.

Cahaya bulan menerobos jendela besar di ujung koridor. Pintu kamar merah tampak di sana. Di sinilah para penghuni awal tempat ini ditemukan tewas, dan ingatan pada cerita itu membuatku cemas. Hening yang mencekam. Tergesa kudorong pintu kamar itu sembari sedikit menoleh pada keheningan koridor di belakangku.

Inilah kamar merah Kastil Lorraine, tempat seorang countess muda ditemukan mati. Menaklukkan tempat-tempat berhantu adalah upaya yang baik untuk mengakhiri takhayul. Ada cerita tua terkait kamar ini—balik ke masa di mana semua hal luar biasa ini bermula; kisah seorang istri pemalu dan hidupnya tak sengaja berakhir tragis dalam gurauan menakutkan suaminya.

Aku menengok ke luar melalui jeruji jendela. Hanya samar yang aneh di luar sana. Kegelapan juga meringkuk di relung, cerukan, dan di lipatan dinding kamar ini. Warna merah berubah kecoklatan dan perabotan menjadi kusam karena debu. Kisah-kisah aneh secara keji menenggelamkan semua keindahan ini, membuat legenda gelap tempat ini tumbuh subur di benak setiap orang. Cahaya lilinku gagal mencapai ujung kamar dan justru meninggalkan kesan misterius pada lantai yang kusam.

Kuputuskan memeriksa tempat ini lebih teliti dan berusaha tidak meluputkan sesuatu yang bisa diimajinasikan sebagai takhayul berikutnya. Kukelilingi kamar ini, memeriksa perabotan, menyingkap kelambu, membuka lipatan tirai, membungkuk di perapian, menekan panel-panel kayu untuk membuka pintu rahasia yang mungkin ada. Langkahku menimbulkan gema aneh. Saat mencapai ceruk, aku terkejut menemukan wajahku di sebuah cermin besar. Di cermin itu, wajahku—putih.

Bingkai cermin itu punya sepasang sconce. Aku nyalakan dua lilin yang masih ada di situ. Kini suasana cukup benderang. Kusingkirkan chintz dan mendorong sebuah kursi untuk kujadikan pembatas. Entah kenapa aku merasa sesuatu sedang mengendalikan kegelapan dan kesuraman di kamar ini—gema dari suara derak kayu mengundang imajinasiku. Bayangan pada ceruk di ujung kamar seperti menampilkan kehadiran lain. Sugesti aneh dari sesuatu yang tersembunyi masuk ke benakku begitu saja. Di ceruk itu kunyalakan sebatang lilin.

Lega tidak menemukan sesuatu yang nyata, aku mengisi waktu dengan merangkai sajak mengenai legenda tempat ini. Kadang aku bersajak keras-keras, tapi aneh mendengar gema dari suaraku sendiri—untuk alasan yang sama aku berhenti setelah beberapa saat.

Cahaya lilin di ceruk berkelip, menciptakan penumbra yang terus bergerak seperti menari tanpa suara. Teringat pada lilin yang kulihat di koridor, aku ke sana dan kembali dengan sepuluh lilin di tanganku. Usai kunyalakan, semuanya kutempatkan di area yang samar—menerangi nyaris seluruh bagian kamar ini. Kewaspadaan ini terasa berat. Aku memerhatikan jarum penunjuk menit yang merayap di arlojiku menjelang tengah malam.

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya sesuatu sedang berlangsung. Entah kapan lilin-lilin mulai padam, tapi saat aku menoleh, kudapati kegelapan bermunculan kembali ke tempatnya. Kukeluarkan korek api dari sakuku, berjalan melintasi ruangan dan menyalakan kembali lilin-lilin yang padam. Saat sedang memantik api, sesuatu tampak berkedip pada dinding di sisiku. Aku menoleh dan melihat dua lilin di atas meja kecil baru saja dipadamkan. “Demi Tuhan!” Saat aku berdiri terpana.

Sedetik berikutnya dua lilin di sconce cermin mendadak padam, seperti dipadamkan oleh telunjuk dan ibu jari seseorang. Sebuah lilin lain di sisi ranjang ikut padam dan kegelapan mendekat ke arahku. Berikutnya yang terjadi adalah—satu demi satu lilin padam berurutan. “Hentikan!” Teriakku ketakutan seraya melangkah mundur.

Kegelapan dengan cepat hendak membungkus tubuhku. Aku bergeser ke arah cerukan dan menyalakan sebuah lilin di tempat itu. “Jangan usik lilin-lilin ini—” kataku entah pada siapa.

Wajahku pucat, tanganku gemetar dan berkali-kali gagal memantik api dari kotaknya. Seperti dinaungi jubah kegelapan, dua lilin lagi padam. Tampak sesuatu yang banyak sedang merayapi lantai di dekat pintu. Empat lilin lain menyusul padam sekaligus di berbagai sudut kamar dan dengan tubuh gemetar aku berusaha menjaga lilin di dekat tetap menyala.

Aku berharap bisa pingsan saja saat itu, saat sebuah tangan yang samar baru saja memadamkan dua lilin di dekat perapian. Teror mencengkeram dadaku. Aku berteriak seraya melompat dari cerukan ke arah cahaya bulan di bawah jendela. Sial—tidak sengaja korek api kujatuhkan entah di mana. Sementara satu per satu lilin dipadamkan oleh tangan yang samar, kegelapan merayap ke arahku. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Dengan harga diri yang tersisa, aku berusaha mencari pintu dan sia-sia bertahan melawan teror yang menyerang tanpa belas kasihan.

Satu-satunya lilin yang masih menyala di tanganku, terlepas dan padam, saat udara berhembus tiba-tiba ke sisi tubuhku disusul kursi yang datang menghantam dinding dengan keras. Kini tampaklah cahaya merah merayap, melintasi langit-langit kamar dan berhenti di tengah kegelapan—mengambang. Api!

Api itu menari, memantulkan cahaya merahnya ke permukaan perabotan. Perlahan api itu menjauh dariku sebelum tiba-tiba lenyap, membungkam kemilau cahaya di perabotan. Mungkin ini kesempatanku. Aku merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan. Kegelapan yang pekat, bahkan aku sukar melihat tanganku sendiri dan itu menghancurkan kepercayaan diri terakhir di dadaku.

Itu bukan sekadar ketakutan yang dahsyat. Aku menepiskan tangan sebagai upaya sia-sia mendorong kegelapan menjauh dariku seraya berteriak sekuat-kuatnya—sekali, dua kali, tiga kali. Aku tahu, kesempatanku lepas dari perasaan terkutuk ini adalah menuju koridor. Aku meraba-raba menuju pintu.

Cahaya bulan di koridor tidak membantu. Setiap kali tersandung beberapa perabotan lain, aku segera bangkit dan berlari. Ini sensasi mengerikan yang baru kurasakan seumur hidupku. Dalam kepanikan tak berujung, sebuah pukulan menghantam dahiku, memakan keseimbangan tubuhku, membuatku terhuyung sebelum terguling di tangga batu. Kemudian aku tak ingat apapun lagi.

**

Aku tersadar dengan kepala pusing dan terbalut perban. Hari sudah terang. Lelaki tua berlengan kayu sedang menatapi wajahku. Kucoba mengingat yang terjadi, tapi ada beberapa bagian yang tak bisa kuingat dengan jelas. Aku memutar mata ke sudut ruang dan mendapati wanita tua—tidak lagi tampak pucat dan mengerikan—sedang menuangkan sedikit obat dari tabung biru kecil ke dalam gelas. “Di mana aku?” tanyaku.

“Kami menemukanmu di bawah tangga,” katanya, “ada luka di bibir dan dahimu.”

Saat siang, wajah mereka tampak lebih muda, kecuali lelaki tua bermata kecil yang selalu menunduk seperti mengantuk. Cukup lama bagiku memulihkan ingatan pada kejadian semalam. “Kini kau percaya—” ujar lelaki tua berlengan kayu, “bahwa kamar itu berhantu?” Ia tidak lagi bicara seperti menyambut orang asing, tetapi seperti sedang mengasihani seorang teman.

“Ya—” kataku, “kamar itu berhantu.”

“Kami bahkan tidak pernah ingin melihatnya. Beritahu kami, apakah ia seorang earl.”

“Tidak—ia tidak seperti itu.”

“Sudah kubilang—” sergah wanita tua, “itu countess yang malang.”

“Bukan,” kataku lagi. “Tidak ada hantu earl maupun countess di kamar itu; kecuali sesuatu yang tidak terlihat dan jauh lebih buruk—”

Tatapan mereka berubah.

“Lebih buruk dari sekadar hal yang bisa menghantui setiap orang malang,” kataku, “dan itu adalah—ketakutan! Ketakutan yang menguasai, membuat tuli dan buta—yang mengikutiku di koridor, yang aku lawan di kamar itu.”

Kami terdiam cukup lama.

Lelaki tua bermata kecil menatapku. “Itu kuasa kegelapan yang mengutuk rumah ini! Ia berdiam di kamar itu. Kau bisa merasakannya di siang hari—bahkan di siang hari yang cerah di musim panas. Bergelantungan di mana-mana, merayap di keremangan, mengikutimu walau kau tidak ingin melihatnya. Ketakutan akan bertahan di kamar merah itu—selama dosa ada di rumah ini.” (*)

 

 

Cerpen The Red Room (1894) adalah cerpen gothic karya Herbet George Wells. Cerpen ini pertama kali terbit di majalah The Idler edisi Maret, 1896. H. G. Wells (1866-1946) adalah penulis prolifik terbaik Inggris. Ditahbiskan sebagai “bapak fiksi ilmiah Inggris”. The War of the Worlds, The Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Doctor Moreau, adalah beberapa karyanya yang paling fenomenal dan telah difilmkan.


[Pertala] Wanita Bergaun Hitam | Eleanor H. Porter

Wanita Bergaun Hitam

Oleh Eleanor H. Porter

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

lady-in-black

DI KAMAR kecil di atas beranda, wanita bergaun hitam duduk sendirian. Di dekatnya, gadis kecil bergaun putih terbaring. Di lantai, sepasang sepatu kecil terserak, seperti telah dilemparkan begitu saja. Sebuah boneka tergantung terbalik di sandaran kursi dan mainan prajurit dengan pedang terhunus tegak di sisi ranjang. Suasana hening—keheningan aneh yang datang ke kamar itu tiga bulan lalu.

Ada jam kecil di atas rak yang tegak di kaki ranjang. Jam itu tampak mengerikan baginya—dan tidak masuk akal—bahwa bandul berwarna emas masih berayun di bawahnya, sedang di atas ranjang berlapis linen putih, sesuatu yang lain sudah berhenti berdenyut. Maka wanita bergaun hitam itu mengulurkan tangan dan menghentikan ayunan bandulnya. Saat sesuatu sudah diam, maka jam itu juga harus diam.

Masih perlukah waktu berdetak saat ini? Seolah itu sesuatu yang penting, saat Kathleen kecilnya terbaring di bawah salju dan tanah hitam di luar sana! Hari ini, jam itu pula yang mengingatkan wanita bergaun hitam itu pada gelombang amarah yang meledak saat doanya ditolak pada suatu malam tiga bulan sebelumnya.

“Muvver…!”

Wanita bergaun hitam yang sedang diaduk kegelisahan itu melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang bocah lelaki bermata biru dengan dekik di pipi yang sedang membutuhkannya, tapi ia ingin anak lelaki itu tidak memanggilnya dengan nama itu. Sebutan itu hanya akan mengingatkannya pada sosok cantik berbibir tipis—yang kini sudah tak ada.

“Muvver…!” Desak suara itu.

Wanita bergaun hitam tidak menyahut. Ia pikir, mungkin anak lelaki itu akan segera pergi, jika tidak mendengar sahutannya.

Ada keheningan yang singkat, sebelum gagang pintu berputar turun dan terdengar engsel yang berderit saat pintu perlahan-lahan membuka, menampakkan anak lelaki dalam setelan Rusia.

Ia menceguk sesaat, lalu seketika hening kembali. Di balik gaun hitamnya, wanita itu tak tersenyum dan memanggil anak lelaki itu agar mendekat. Anak itu berdiri diam, ragu-ragu, kemudian berbicara terbata-bata, “aku sudah…di sini, Muvver.”

Kata-kata itu, bagi wanita bergaun hitam, hanya mengingatkannya pada kepahitan lain yang kini tidak ada di sana. Ia menjerit tertahan dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Bobby, Bobby, mengapa kau berolok-olok dengan sebutan itu?” Ia mengerang dengan hati gulana. “Pergi… Pergi! Aku ingin sendiri—sendirian!”

Semua keriangan di wajah bocah lelaki itu lenyap seketika. Dekik di pipinya hilang dan matanya menampakkan kesedihan yang dalam. Perlahan-lahan anak lelaki itu berpaling. Di ujung tangga anak lelaki itu berhenti dan menoleh sejenak. Pintu itu masih terbuka dan wanita bergaun hitam masih duduk dengan tangan di wajahnya. Anak lelaki itu menunggu, tapi wanita itu tak bergeming. Seraya menahan tangis, anak lelaki itu melangkah menuruni tangga.

Beberapa menit setelahnya, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya dan kembali memandang melalui jendela. Anak lelaki itu kini berada di halaman bersama ayahnya, sedang bermain di bawah pohon apel.

Bermain!

Wanita bergaun hitam memandang mereka dengan mata muram. Di halaman tampak Bobby sedang bermain, tertawa dan menari. Akan selalu ada orang yang mengajak Bobby bermain, seseorang yang akan mencintai dan merawatnya; sementara di sana, di lereng bukit, Kathleen sendirian—benar-benar sendirian.

Wanita bergaun hitam itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Tangannya gemetar saat mengenakan topi dan menurunkan lipatan cadar menutupi wajahnya. Langkahnya tampak mantap saat menuruni tangga, menyusuri lantai bawah dan melangkah ke luar.

Pria di bawah pohon apel melihatnya dan datang menyongsong. “Helen, Sayang—jangan lakukan ini lagi!” Suaminya memohon. “—Ini tidak ada gunanya, sayang!”

“Tapi ia sendirian. Kenapa kau tidak memikirkannya! Tidak seorang pun yang tahu perasaanku. Kau tidak mengerti. Jika kau paham, kau pasti menemaniku. Jangan memintaku untuk berdiam diri di sini!” Sergah wanita itu.

“Aku bersamamu, sayang,” kata pria itu lembut. “Aku selalu bersamamu hari ini dan setiap hari—sejak Kathleen meninggalkan kita. Tapi tidak baik memperlihatkan kemurungan di makamnya. Kau tahu, sayang, ini hanya menambah kesedihanmu, aku, dan Bobby!”

“Tidak, tidak,” wanita itu terisak lagi. “Kau tidak mengerti—kau tidak mengerti!” Ia membalikkan tubuh dan berjalan terseok-seok menuju bukit, meninggalkan bayangan hitam kesedihan dalam tatapan suaminya dan kebingungan di mata anak lelakinya.

Jalur landai di bawah kanopi pepohonan hanya ditembusi cahaya matahari yang sedikit sampai ke tanah. Walau wanita bergaun hitam itu tahu tujuannya, ia seperti linglung, terhuyung-huyung dan kerap tersandung. Bangkit setelah jatuh, wajahnya tampak lelah. Namun ia berhasil mencapai bagian bukit yang ditandai batu bertulis ‘Kathleen’. Tidak jauh darinya tampak seorang wanita lain sedang menatapnya dengan simpatik, tangannya dipenuhi bebunga mawar merah muda dan putih. Wanita berambut kelabu itu seperti hendak bicara, tapi tampak ragu saat membuka bibirnya, kemudian urung. Ia berbalik perlahan-lahan dan mengatur bunga-bunga yang ia bawa ke sebuah pot di sisi sebuah makam.

Dalam dera kesedihan, wanita bergaun hitam mengangkat kepalanya. Untuk sesaat ia mengamati wanita berambut kelabu, sebelum ia mengangkat cadarnya dan berbicara. “Anda mengunjunginya—” katanya lembut. “Aku yakin pernah melihatmu di sini sebelumnya. Anak itu—seorang gadis kecil juga?”

Wanita berambut kelabu menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ia anak lelaki—setidaknya ia seorang anak lelaki 40 tahun yang lalu.”

“Empat puluh tahun—itu waktu yang lama! Bagaimana Anda bisa bertahan selama 40 tahun—tanpanya?”

Lagi, wanita berambut kelabu itu menggelengkan kepalanya.

“Terkadang—kita harus melaluinya. Tapi ia bukan anakku, bahkan bukan kerabatku.”

“Tapi Anda merawat makamnya. Aku melihat Anda kerap ke sini.”

“Ya. Tidak ada yang merawat makam ini. Aku sesekali datang untuknya.”

“Untuk anak lelaki ini?”

“Ibunya.”

“Oh!” Wanita bergaun hitam mengangguk, tapi matanya lurus ke makam Kathleen.

“Aku tidak ingin terdengar bisa memahami ibunya,” gumam wanita berambut kelabu itu setelah usai menata bunganya dan menoleh pada wanita bergaun hitam. “Aku bekerja sebagai perawat anak lelaki ini ketika semua itu terjadi, dan bertahun-tahun setelahnya aku tetap bekerja di keluarga itu—jadi aku tahu. Aku melihat semuanya, sejak awal dan di hari ketika anak laki-laki ini mengalami kecelakaan.”

“Kecelakaan!”

“Ya. Itu peristiwa tabrak lari dan hidupnya tak sampai dua hari.”

“Aku tahu rasanya…!” Wanita bergaun hitam tersedak kepiluannya, namun ia sama sekali tidak sedang memikirkan anak laki-laki itu dan penabraknya.

“Banyak hal yang kemudian sukar aku lupakan,” lanjut wanita kecil berambut kelabu setelah beberapa saat, “…dan itu adalah awal dari segalanya. Ibu anak lelaki ini melepaskan perhatiannya pada suami dan putrinya. Ia tidak memperdulikan mereka, kecuali makam ini. Ia datang ke makam ini menghabiskan waktu berjam-jam—berbicara dan merangkai bunga untuk anak lelakinya.”

Wanita bergaun hitam tiba-tiba mengangkat kepala, memandang sekilas ke wajah wanita berambut kelabu, tetapi wanita itu telah memalingkan wajahnya sebelum beberapa saat kemudian kembali bicara.

“Walau memiliki apapun, tapi ibunya tampak tidak memikirkannya. Bahkan tampak tidak menginginkannya. Ia menutup diri, menyingkirkan banyak foto. Ia membiarkan piano tidak dibuka sama sekali. Ia tidak pernah berada di mana pun di rumah itu kecuali di kamar anak lelakinya dan membiarkan segala sesuatu di kamar itu tetap berada di tempatnya. Aku bertanya, apakah ia tidak menyadari dampak atas tindakannya—tapi ia tidak mau bicara.”

“Dampak…?” Wanita bergaun hitam terkejut.

“Ya. Ia tidak perlu merasa kehilangan suami dan putrinya—ia tidak menyadarinya.”

Wanita bergaun hitam itu tiba-tiba merasakan keheningan yang pekat di sekitarnya.

Wanita berambut kelabu bicara lagi. “Anda kini tahu alasanku datang dan meletakkan bunga-bunga di sini—itu kulakukan untuk ibunya. Setelah ia wafat, tidak ada lagi yang akan melakukannya,” ia mendesah seraya bangkit berdiri.

“Tetapi Anda belum bercerita—apa yang terjadi pada suami dan putrinya.” Wanita bergaun hitam itu bersungut-sungut.

“Aku hanya tahu sedikit tentang mereka. Setelah ia wafat, aku hanya tahu bahwa suaminya banyak melakukan perjalanan—jadi pria itu tak selalu berada di rumah. Ada cerita bahwa pria itu melakukan hal-hal buruk—tapi mungkin itu tidak benar. Bagaimanapun, pria itu jarang pulang dan suatu saat ia kembali ke rumah itu, kondisinya tampak buruk dan sakit. Pria itu wafat dan dimakamkan di sana, di sisi istri dan putranya. Mengenai putrinya—hmm… tidak ada yang tahu di mana gadis itu. Anda tahu—hidup para gadis seperti bunga-bunga dan sinar matahari, dan selalu tentang pesta dan pemuda tampan. Gadis itu merasa tidak akan mendapatkan salah satu dari itu dengan hanya berdiam di rumah. Jadi, gadis ia pergi—kurasa, ke tempat ia bisa mendapatkan semuanya. Tidak ada yang tahu dimana gadis itu. Begitulah—jika aku tidak pergi, Anda pasti akan lelah mengobrol denganku!” Wanita berambut kelabu itu tampak cemas. “Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menceritakan ini!”

“Tidak—aku senang mendengarkan Anda.” Wanita bergaun hitam buru-buru berdiri.

Wajah wanita berambut kelabu itu berubah pucat. “Tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih.” Ia berbalik dan bergegas pergi.

Rumah itu masih tampak muram ketika wanita bergaun hitam pulang—dan ia seperti menggigil kedinginan. Ia susuri lantai bawah dan terburu-buru menapaki anak tangga dengan perasaan yang dipenuhi rasa bersalah. Di kamar, jemarinya merobek cadar di wajahnya saat keterasingan melintasi benaknya. Pengalamannya hari ini membuatnya menangis—menangis tanpa suara, dan dia masih menangis saat tangannya melucuti gaun hitam yang muram itu.

Beberapa menit kemudian, wanita—kini tanpa gaun hitam—perlahan menuruni anak tangga dengan wajah yang masih membekaskan jejak-jejak air mata. Dagunya bergetar, tetapi bibirnya telah dilengkungi senyuman. Ia mengenakan gaun putih dan setangkai mawar putih terselip di rambutnya. Di kamar kecil di atas beranda, di atas rak yang tegak di kaki ranjang, jam berbandul emas kembali berdetak. Suara kakinya yang berlari memenuhi lantai bawah. Kemudian:

“Muvver!—Itu Muvver telah kembali!” Seorang anak lelaki berteriak gembira.

Sedikit terisak, wanita itu membentangkan lengan untuk putranya. (*)

 

Eleanor Hodgman Porter (1868-1920), novelis dan cerpenis perempuan Amerika. Ketika menulis novel Pollyanna, ia masih bekerja sebagai penyanyi di New England Conservatory of Music di Boston dan menerbitkan cerpen-cerpen terkenalnya di majalah Woman’s Home Companion dan majalah Harper’s Weekly.


%d blogger menyukai ini: