Tag Archives: Taa’Owu

[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 

Iklan

Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 


[Cerpen] Kuda-Kuda Terakhir | Femina | No.04/XLII ~ 25–31 Januari 2014

Kuda-Kuda Terakhir

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kuda-Kuda Terakhir_Femina

LEMBAH-lembah dan padang ilalang di punggung bukit Saba Mpolulu kian sepi dari derap kaki kuda yang berlarian bebas. Sejak kuda-kuda ditangkapi secara liar untuk diperdagangkan, tidak ada lagi gemuruh saat kawanan hewan cantik itu berlari menembus cahaya matahari. Surai kuda-kuda yang direbahkan angin, leher yang berkilat saat mereka berpacu membelah ilalang di padang miring ini lenyap.

Gadis itu tidak pernah memimpikan buruknya situasi ini. Satu per satu kuda lenyap dari padang yang telah mereka huni ratusan tahun. Hewan-hewan menawan itu seakan pergi dari tempat-tempat yang sering ia datangi. Hanya angin yang berkelana saat tubuh gadis itu tegak di atas bebatuan di kaki bukit. Angin yang seharusnya menemani derap para kuda yang datang saat gadis itu memanggil mereka adalah juga angin yang menyapu pesisir Sikeli saat kuda-kuda itu dinaikkan paksa ke kapal-kapal para penangkap kuda liar.

Tinggallah senandung gadis itu saja yang merajai punggungan bukit miring berilalang ini. Rerumputan tak bergairah, seperti muram yang datang dan berdiam. Gadis itu berjongkok di atas bebatuan, pindah dari satu batu ke batu lainnya, menunggu dalam cemas yang terkadang menerbitkan air matanya.

“Datanglah ke hadapanku…,” bisiknya. Telapak tangannya mengusap pipinya yang sudah basah. Matanya tajam mengawasi tiap gerakan yang mungkin terlihat di antara ilalang yang menari, atau dari keremangan di bibir hutan.

“Tidak boleh begini. Jangan seperti ini,” gadis itu berbisik lagi.

**

Gadis bernama Loka itu sendirian. Ia generasi terakhir dari para perempuan pemanggil kuda. Ia mewarisi kemampuan langka sebagai pauno-dara dari moyangnya, para perempuan yang dapat membaca hasrat paling liar hewan-hewan cantik itu.

Dahulu, Suria, buyutnya berdiri di hadapan Mokole dan Kapita, menentang orang-orang berderajat tinggi itu. Suria tegas menolak menghadirkan kuda-kuda ke halaman istana Laica Ngkoa yang luas itu. Kematian para kuda telah mengubah keputusannya. Kecewa dan kemarahan menggulung hatinya dari kengerian yang menggumpal saat mengetahui nasib macam apa yang akan menimpa hewan-hewan cantik yang ia lindungi.

Mokole telah menyeret para kuda dalam perang suku yang ambisius. Demi hasrat kuasa dan perluasan wilayah, para mokole mengobarkan perang yang menyisakan kematian pada rakyatnya, tak terkecuali para kuda. Bisa dibayangkan, betapa remuk perasaan Suria saat memandang padang Sangampuri yang dipenuhi darah dan bangkai kuda yang bercampur dengan aroma kematian dari prajurit kemokolean. Perang dan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Suria telah memanggil para kuda, tetapi para Mokole justru mengirim mereka ke medan perang untuk mati sia-sia. Ya. Kematian yang sungguh sia-sia.

“Para kuda telah berbicara padaku. Maka, telah sampai masanya aku tak akan menuruti kalian lagi, wahai Mokole. Para kuda mempertanyakan kematian yang datang melalui tanganmu!” Suria meradang. Perempuan itu meraba pinggangnya. Hulu Taa memantulkan cahaya mentari dari sela jemarinya.

Perlawanan Suria telah mengakhiri persinggungan para kuda dengan manusia di tanah Moronene ini. Meski karenanya, Mokole Tontodama menyamakan posisi para pemanggil dan tegas menyatakan kepentingan mereka yang berseberangan.

Tapi, Suria hanya tersenyum di hadapan Tontodama.

“Itulah senyum terakhir yang aku lihat dari wajah buyut perempuanmu. Senyum nenekku itu tak pernah kulihat lagi saat terakhir ia tegak di sebuah batu besar di padang ilalang Saba Mpolulu.” Aniati mengenang neneknya dalam cerita yang disimak Loka dengan saksama.

“Semenjak itu, aku dan ibuku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan. Saat ia berlari bersama kuda-kuda, atau menunggangi salah satu dari hewan cantik itu. Beliau memegang teguh janjinya agar para kuda tidak lagi berurusan dengan ambisi manusia.”

Ketika itu Loka masih berusia 15 tahun. Kepalanya rebah di pangkuan ibunya, mendengarkan kisah-kisah tentang buyut perempuannya. Aniati memastikan, tidak ada perempuan pemanggil kuda lainnya yang sekuat Suria.

“Apa yang dilakukan para mokole setelah itu, Ibu?”

Aniati membelai rambut Loka dengan sayang. Bibirnya disaput senyum. Matanya berbinar bangga. “Mereka marah besar dan memerintahkan para Kapita untuk memburunya, setelah mendengar buyut perempuanmu itu berkata: “Inilah aku, wahai yang ditinggikan. Aku tidak akan memperdebakan perkara ini. Engkau yang akan menanggungnya. Biar Tuhan yang menuntun jalanku.”

Lalu, Aniati menoleh ke dinding. “Lihatlah itu,” tunjuknya pada dua benda yang tampaknya berpasangan. “Itu Taa dan Korobi milik buyut perempuanmu. Bukan main marahnya para Mokole, saat ia meloloskan Taa dari Korobi-nya dan melemparkannya ke tanah. Buyutmu telah menghina para raja dengan cara yang halus, sekaligus mempermalukan mereka. Tapi, ibuku memungutnya untuk ia simpan.”

“Bagaimana dengan buyut lelakiku?”

“Merekalah pelindung kami. Buyut lelakimu, kakekmu, dan ayahmu, adalah bagian keberadaan kami. Mereka pelindung para pemanggil, dan mereka melakukan tugasnya dengan baik.”

“Aku merindukan Ayah…”

Aniati beringsut , menegakkan tubuh Loka, membuat wajah putrinya menghadap ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu juga merindukannya.” Aniati tercekat keharuannya sendiri, “…kelak, akan datang lelaki yang akan melindungimu seperti para lelaki hebat dari rumah ini.”

Aniati menarik wajah putrinya itu, memberikan kecupan sayang yang lama di kening Loka.

**

Kuda-kuda telah memilihnya sebagai Pauno-dara berikutnya. Sama seperti saat para kuda memilih para pemanggil terdahulu, ibunya telah pula mengantarkannya ke padang ilalang ini, ke hadapan para kuda. Aniati tersenyum bangga saat si Kepala Berlian mengendus tubuh Loka, sebelum merendahkan dua kaki depannya, dan menundukkan kepala di hadapan putrinya itu. Usia Loka persis 23 tahun ketika itu.

Aniati menyatakan kelegaannya dan berterima kasih di hadapan para kuda. Seingat Loka, itu juga kesempatan terakhir ibunya mengunjungi padang ilalang Saba Mpolulu. Ibunya wafat tiga bulan berikutnya.

“Jangan menangis, Sayang. Tidak apa-apa. Ibu senang para kuda telah memilihmu. Mereka akan menjagamu sebagaimana takdirmu sebagai penjaga mereka. Kau hanya butuh kepercayaan mereka, Sayang.”

Loka masih ingat dengan jelas kata-kata terakhir ibunya setahun lalu itu. Kini, ia tegak sendiri di tepian padang ilalang ini, menanti para kuda datang memenuhi panggilannya.

“Holeeei!” Seruan Loka berkumandang seperti hendak menembus tiap sekat alam. Seharusnya kuda-kuda berderap datang saat ia memanggil. Tapi, hewan-hewan cantik itu tak muncul. Sepekan lalu, kawanan kuda berderap dari sisi hutan, memasuki padang dan membelah ilalang untuk datang menghampirinya.

Adakah masanya tiap pemanggil kuda akan kehilangan kekuatannya? Pakah para kuda juga akan menolak datang memenuhi seruan para pemanggil? Apakah ia akan sedih jika suatu saat hanya bisa memandangi bekas kaki para kuda yang tertinggal di padang ilalang Saba Mpolulu, di aliran sungai Laa Kambula, atau seolah mendengar ringkikan mereka di sela pepohonan hutan Sangia Wita?

“Mereka pasti datang.” Suara berat seorang lelaki datang dari belakang Loka. Gadis itu terkejut. Madara berdiri tak jauh darinya, bersandang tali pengikat tula nira enau. “Maaf, mengejutkanmu.”

Mata Loka menggeriap. Ia tidak tahu sejak kapan Madara berdiri di situ. Ia lelaki yang tinggal di selatan sungai Laa Kambula. Meramu pohon Enau adalah pekerjaannya sehari-hari.

“Kemarin kulihat si Kepala Berlian memimpin kawanan di pinggiran hutan di utara padang ini. Saat matahari beranjak naik, mereka akan berlarian melintasi hutan ke arah sana.” Madara menunjuk ujung padang yang berbatasan langsung dengan hutan di bagian timur. Lalu lelaki itu menurunkan tabung tula dari bahunya, meletakkannya hati-hati agar isinya tak tumpah. “Kau jarang ke sini lagi,” sambungnya.

Loka berjongkok. Kagetnya sudah hilang. Kini wajahnya tampak dipenuhi pertanyaan akan kehadiran Madara. Kepalanya dimiringkan. “Sejak kapan kau mulai berkeliaran di dekat sini?” Tanya Loka.

“Kapan pun aku mau,” jawab Madara, tersenyum. “Wilayah peramuanku di sebrang padang ini. Aku melintasi sisinya jika hendak pulang ke desa. Aku tak harus selalu melintas di sisi air terjun Wataroda, bukan?”

“Kuharap kau tidak mengganggu mereka.”

Madara menggeleng cepat. “Oh, tentu tidak. Jangan mengira aku akan melakukannya. Aku hanya mengawasi mereka.”

“Mengawasi?”

Lelaki itu mengangguk. “Apa sudah kau hitung jumlah mereka terakhir kali?”

Loka terpana. “Apa?”

“Seharusnya kau lebih sering bicara pada si Kepala Berlian.”

“Apa yang…?”

Madara menoleh cepat. “Kau tidak memperhatikan rupanya. Kuda berkurang dua, bahkan saat kau mengunjungi mereka sepekan lalu.”

Loka sontak berdiri, membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dipandanginya batas padang nun jauh di sana yang tampak bergerak-gerak akibat panas yang menguapkan tanah. Kedua tangannya membentuk corong. “Holeeeii!” serunya, tiga kali.

Tidak terjadi apa pun. Tidak ada derap kaki kuda mendekat.

“Ke mana mereka? Seharusnya mereka…,” gumamnya. Mata Loka memejam.

Selarik bayangan wajah ibunya melintasi kenangannya sekali lagi. Perempuan itu berdiri di atas batu seperti dirinya sekarang ini, mengajarinya cara memanggil kuda. Bagaimana ia berkosentrasi dan menyakini sesuatu, sebelum ia berseru memanggil. Mata ibunya berbinar-binar saat bercerita tentang neneknya yang tangkas menggulung kain dan berlari di antara kawanan kuda seraya tertawa-tawa.

“Lihat itu!” Seru Madara. Telunjuknya mengarah ke bagian remang di tepian hutan, pada sesuatu yang bergerak senyap dan mendengus. Ada sepasang mata hitam berkilat yang mengawasi mereka berdua dari arah itu.

“Si Kepala Berlian,” desis Loka. Wajahnya berseri-seri. Bayangan hitam itu bergerak ragu-ragu. Kuda itu cemas dan gugup.

“Ayo, ke sini! Tak apa-apa!” Teriak Madara.

“Diam!” Tangan Loka terangkat, membuat Madara menahan teriakannya. “Turun! Turunlah perlahan!” Pinta Loka.

Lelaki itu menurut. Madara mundur perlahan, membalikkan tubuh, lalu meluncur turun dari batu. Bergerak pelan, seolah tak ingin terlihat, lalu Madara jongkok di balik batu lainnya. Matanya tajam menatap Loka yang tegak di atas sana.

“Holeeei!” Loka berseru. Suaranya melengking, memantul di sisi bukit dan merambah padang ilalang miring itu. Kuda mana pun seharusnya datang saat ia memanggil. Mereka mengenali suara setiap pemanggil, sebab merekalah yang telah memilihnya. Kemampuan yang hanya dimiliki kaum perempuan di tempat ini dan hanya diwariskan kepada perempuan berikutnya.

Sosok gugup di remang bayangan pepohonan itu bangkit, lalu perlahan berjalan mendekati tempat Loka berdiri. “Jangan bergerak, Madara. Ia sedang tak memercayai siapa pun saat ini. Bahkan aku!” Nada sedih terdengar di ujung perintahnya.

Tangan Loka terangkat, meminta kuda itu berjalan lurus ke arahnya. “Jangan takut. Aku memanggilmu untuk melihat keadaanmu. Mendekatlah.”

Cukup lama kuda bercorak berlian di antara kedua matanya itu memperhatikan Loka. Kepalanya mendongak, seperti membaui sesuatu dari udara. Lalu ia mendekati Loka dan menempelkan kepalanya ke kulit lengan gadis itu.

“Ada apa denganmu? Mana anggota kawanan lainnya?” Tanya Loka. Kaki depan kuda itu menyepak-nyepak tanah. Lalu meringkik pelan. Kepala Loka terangkat, saat matanya menangkap sembilan sosok kuda lagi berlari ke arah si Kepala Berlian. Gadis itu menunduk sedih. Ia mencium kening Kepala Berlian, lalu berbisik, “maafkan aku.”

Seperti kata Madara, kawanan Kepala Berlian berkurang dua ekor. Sepekan saja ia tidak datang menjenguk mereka di padang ilalang ini, cukup memberi kesempatan para penangkap kuda liar menyelesaikan urusan mereka. (*)

Molenvliet, 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

* Pauno-dara: pemanggil kuda/pelindung kuda.

* Mokole: raja Moronene.

* Kapita: panglima, di struktur peristiadatan pemerintahan Kerajaan Moronene.

* Laica Ngkoa: rumah adat/istana Kerajaan Moronene.

* Taa: parang pendek. Senjata tradisional Moronene. Bentuk parang yang lebih panjang disebut Taa’Owu.

* Korobi: sarung senjata Taa dan Taa’owu.

* Moronene: etnis tertua di Sulawesi Tenggara. Mendiami daratan besar (Rumbia, Poleang, Huka’Ea, La’Ea, Lanowulu, dan Langgosipi) di selatan Sulawasi Tenggara dan di empat pulau (Kabaena, Talaga Besar, Talaga Kecil, dan Koko’E).

* Tula: bambu betung.

* Saba Mpolulo, Sikeli, Sangampuri, Laa Kambula, Wataroda, Sangia Wita: adalah nama-nama tempat di pulau Kabaena (Bombana, Sulawesi Tenggara).

 


[Cerpen] King Mati di Luar Bastion | BKK | Sabtu, 12 April 2014

King Mati di Luar Bastion

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Iles_du_salut_port_drawing_dessin

#1

HARI cerah, matahari terang di bandar. Satu lusin serdadu patroli laut waspada di seberang batas yang ditandai tiang-tiang merah. Ada seribuan orang marah, siaga di pesisir ke arah dermaga. Ada seribuan orang marah lainnya, berkumpul di luar tembok bastion. Mungkin mau menyerang? Belum.

Tetapi dua ribuan orang marah itu tak terima William de Jeirst dan anak buahnya bikin ekstirpasi di sepanjang muara. Habis pohon kopi orang ia suruh tebang. Controleur Johan sudah menduga, pastilah si dungu Jeirst itu habis paksa orang-orang bikin contingenten.

Di luar tembok bastion sudah siap sedia seribuan orang marah nan waspada. Ada benda-benda tajam di tangan mereka. “Mana itu Jeirst!” Teriak Rengui, “ia jangan suka bikin verplichte leverantien seenak perutnya! Ia main bunuh orang sembarangan!”

Controleur Johan panik, demi menyadari seribuan orang marah itu tak akan membiarkan manusia mana pun keluar dari bastion. Johan menyuruh seorang klerk segera mencari Jeirst.

Johan sungguh tak mau ada huru-hara. Berulang kali Jeirst itu bikin perkara, jadi biar si dungu itu yang tanggung akibatnya. Johan tak mau lagi beri oktroi pada kemanakannya itu. Perkara terakhir yang ia bikin sungguh rumit dan berbahaya. Tiga kapal belum tiba dari Rumbia, dan itu bisa jadi peluang bagi dua ribuan orang marah untuk menyerang mereka. “Habis kita, habis!“ Keluh Controleur Johan.

Tapal-tapal batas sudah dicap oleh Berckenrode. Itu garis moral yang lembab.

#2

Tersiar kabar perihal seorang pemuda yang ditikam serdadu mabuk di depan kedai dalam wilayah Moronenees Dorp, tak jauh dari bastion. Saat dikejar, serdadu mabuk itu menghilang di depan gerbang bastion. Belakangan mereka tahu, ternyata Jeirst orangnya. Padahal pangkatnya komandan.

Pemuda yang ditikamnya tak tahu apa-apa. Waktu berpapasan, Jeirst sekonyong-konyong menghinanya, mengatainya: babi. Walau tersinggung, pemuda itu diam saja, sekaligus enggan saat ia disuruh berlutut. Bukan main marahnya si Jeirst, hingga langsung ia tikam lambung pemuda itu sampai tembus.

Pemuda itu berusaha mencari pertolongan. Ia berjalan limbung menyeret kaki, mendekap lambungnya, kemudian jatuh mati tepat di depan gerbang bastion. Suasana langsung gempar, sebab ini terjadi di luar bastion. Sesuai perjanjian, orang pribumi tak boleh masuk bastion. Tapi orang Belanda pun tak boleh seenaknya keluar bastion dan bikin ribut. Terlebih lagi di Moronenees Dorp. Itu bakal dianggap penghinaan.

Kingian, nama pemuda yang mati ditikam Jeirst itu. Ia tak salah apa-apa.

Mayat King yang mandi darah di luar bastion, langsung diangkut keluarganya. Ia dibaringkan di ruang tengah rumah ayahnya, di hadapan ibunya, nenek dan saudara-saudaranya. Tak layak King dibikin begitu. Apa salahnya menolak berlutut?

“King tak pernah berlutut di depan orang sepanjang hidupnya,” rintih ibunya. Mata ibunya basah saat menatap Rengui. Sepupu King itu mengangguk, langsung pergi entah ke mana. Pengurus jenazah sudah datang, mau ukur mayat King untuk liang lahat.

#3

Makin pusing Controleur Johan. Begitu Jeirst datang ke hadapannya, ia maki-maki lelaki itu. Ia tempeleng Jeirst hingga terpelanting. “Kenapa kau dalangi keributan di luar bastion? Kau kira karena jabatanmu, orang-orang itu akan segan mencelakaimu?” Kecam Johan.

Jeirst tak bisa bicara. Ia ketahuan berjudi, sekaligus memadu-rayu seorang perempuan cantik piaraan pemilik kedai. Jeirst marah-marah karena kalah judi, berhutang dua botol tuak, lalu minum sendirian sampai mabuk. Saat pulang, ia berpapasan dengan Kingian. Ia lecehkan pemuda itu, lalu ditikamnya tanpa alasan. Begitulah ihwal ulah Jeirst yang bikin seribuan orang berhimpun di luar bastion dan seribuan lainnya mengepung pesisir.

“Kalau memang benakmu ada isinya,” murka Johan, “maka pikirkan cara agar orang-orang itu tak meringkusmu, mengiris pipa darah di lehermu. Jangan sampai aku yang ambil alih ini perkara, bisa-bisa kutembak kepalamu!”

Piaslah muka Jeirst. Dikiranya, karena yang mati itu pemuda pribumi, lantas Johan akan membelanya. Ia lupa, gara-gara ulahnya pada pemuda lain juga hingga Johan kehilangan Luvina—putri bungsunya yang jelita itu.

Murka Johan sekarang persis murkanya saat mendapati Luvina menggelantung mati di cornie kamarnya. Cuma gara-gara Luvina ketahuan pacaran dengan pemuda pribumi bernama Gamara.

Jeirst melapor soal si Gamara itu pada Johan, sehingga Jeirst diberi perintah menahan pemuda itu di kantor asisten Controleur selama dua minggu. Biar pemuda itu jera. Tapi Jeirst kelewatan. Gamara tak cuma ia tahan belaka, tapi ia aniaya hingga pecah tempurung lututnya. Bagaimana Controleur Johan tak sering memakinya sebagai orang dungu, bila ia sering bikin ulah dan bertindak di luar perintah.

Luvina tahu ulah Jeirst. Gadis itu marah besar pada ayahnya, menolak makan, juga tak mau bicara pada ibunya. Luvina muak pada Jeirst. Tak ada obat buat menyatukan tulang tempurung lutut yang pecah. Sepekan kemudian Gamara mati karena lukanya tak kering. Kabar kematian Gamara sampai ke telinga Luvina.

Mendadak Luvina depresi. Gadis itu mulai meracau hendak mati saja bersama Gamara, namun ancaman itu cuma dianggap kosong belaka. Di hari ketiga kematian Gamara, seorang jongos berteriak histeris dari kamar Luvina, saat menemukan tubuh setengah telanjang gadis itu menggelantung kaku di tali dari sobekan tirai yang diikatkan pada cornie. Leher Luvina patah dan ia mati tercekik.

Johan dan istrinya berkabung. Murka Johan hampir membuat Jeirst sial. Jika saja lelaki itu tak menghiba atas nama ibunya —Janet, adik Johan— pastilah kepala Jeirst sudah berhias liang peluru dari pistol Johan.

#4

Perihal orang-orang marah di luar bastion, pikiran Johan terbagi dua. Ia pasti akan menghukum si Jeirst, tapi tak mungkin ia serahkan kemanakannya itu seperti yang diminta keluarga King.

Hawa amarah dari orang-orang di luar bastion terbawa angin, menyelinap lewat dakvenster, masuk ke perasaan setiap orang di dalam bastion, membuat mereka gentar. “Habis kita, habis!” Cemas mereka.

“Panggil itu Jeirst ke sini!” Teriak Johan pada dua orang klerk, “beri ia senapan buat pimpin anak buahnya yang kemarin bikin ulah di muara!” Seraya matanya terus mengawasi seribuan orang di luar bastion dari jendela ruang kerjanya.

Di luar bastion, di antara seribuan orang marah, berdiri juga kerabat Kingian yang dibakar dendam. Ada Rengui dan selusin saudaranya, sambil menenteng senjata Taa’Owu dan Lambonga Asa’Sula.

Sejak dapat perintah dari kepala keluarga Hiang, Rengui langsung berkeliaran di setiap Moronenees Dorp. Siapa pun yang mendengar nasib King, langsung ikut marah, menurunkan senjata yang sudah lama jadi hiasan dinding. Mereka janji pada Rengui, akan berkumpul besok pagi di gerbang bastion.

Kasak-kusuk di luar bastion bikin serdadu Belanda cemas. Jeirst sudah menyiagakan 500 serdadu berjaga di sepanjang dinding bastion. Gerbang bastion cukup kokoh karena disambung ala Zwaluwstaart —sambungan yang sukar bergeser. Di lepas pantai sana, siaga juga 300 serdadu laut. Controleur Johan sudah kirim pesan darurat ke Rumbia.

#5

Memasuki waktu senja, suasana bastion mencekam. Orang-orang yang marah tiba-tiba lenyap. Jalanan kosong dan kedai juga senyap. Semua orang kumpul di Laica Ngkoa, sedang kirim doa untuk King.

Larut malam, lonceng di pos jaga bastion bagian selatan tiba-tiba berdentang ribut, bercampur tembakan beruntun dua serdadu jaga yang panik. Orang-orang Belanda dalam bastion jadi ikut ketakutan. Mereka mengira, orang-orang marah sudah datang menyerang.

Saat serdadu sedang berjaga, obor-obor mendadak mati, lalu ada kegaduhan dalam kegelapan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi sampai seorang serdadu jaga lain kembali menyalakan obor.

Di lantai pos jaga, ada enam serdadu bergelimang darah mereka sendiri. Ada liang luka di setiap leher mereka. Para serdadu jaga itu tewas setelah disergap dan leher mereka ditusuk sekelompok kecil orang berbaju hitam. Orang-orang yang segera lenyap, secepat mereka datang. Dari aroma lukanya, mereka ditusuk belati bertuba. Controleur Johan lunglai saat dilapori kejadian itu.

“Dungunya itu Jeirst, bikin perkara begini berat.” Gumam Johan.

Pembangkangan ini kian berbahaya. Orang-orang marah itu tadinya adalah orang-orang patuh. Tak suka membantah, walau pajak sering naik tiba-tiba. Sejak Jeirst bikin ulah di muara, lalu menikam Kingian, seketika amarah mereka sukar diredam.

Siasat di luar bastion sudah matang saat pagi datang, usai malam yang cekam.

#6

Dua hari berikutnya, jarak antara para serdadu laut dan orang-orang yang marah di pesisir hanya 400 meter, di batas tiang-tiang merah. Setiap titik ego sudah ditempati. Di horison, tiga kapal dari Rumbia sedang laju ke dermaga. Datangnya tiga kapal itu akan bikin imbang kekuatan dua ribuan orang marah di luar bastion dan di pesisir. Jeirst dan 500 serdadu yang berjaga di bastion sangat yakin menang: mereka punya senapan dan meriam.

Siang belum penuh, namun bandar sudah panas.

Tiga kapal dari Rumbia sudah lego jangkar 400 meter di lepas pantai. Meriam-meriam kapal dan meriam-meriam di bastion sudah diarahkan, siap ditembakkan untuk bikin kocar kepungan di pesisir dan di luar bastion. Controleur Johan punya siasat pelarian sendiri: saat pelarian nanti, meriam-meriam kapal harus menembak, buat bikin kacau kerumunan orang-orang di luar bastion. Begitu juga saat mereka tiba di dermaga, maka meriam bastion harus menembak, biar lantak kumpulan orang di pesisir.

Jeirst buru-buru menurunkan 10 regu serdadu untuk menghadang orang-orang di luar bastion. Ia mengancungkan pedang sabre tinggi-tinggi. Aba-abanya membuat 10 regu serdadu bergerak. Orang-orang di luar bastion langsung bikin tiga lapis barisan, menyongsong pasukan Jeirst. Gelombang manusia berbenturan. Sabre beradu Taa’Owu, Golok Daun Liu, dan Dadao. Meriam dari kapal dan senapan meletus. Peluru mencari sasaran.

Rengui memutar Lambonga Asa’Sula hingga menyibak kerumunan orang yang sedang berkelahi. Matanya liar mencari Jeirst. Begitu Jeisrt terlihat, Rengui mengejarnya, melompat dan menetaknya dengan Taa’Owu. Sembari bertahan, sengit Jeirst menangkis serangan, tapi berkali-kali sodokan Lambonga Asa’Sula di tangan Rengui bikin Jeirst terdesak. Jeirst jatuh berlutut. Belum sempat lengannya naik menangkis, Taa’Owu dengan cepat berbalik arah.

Dendam kerabat Kingian, juga kematian Gamara —kakak Rengui— terbalas. Jeirst mati dengan leher terbuka. Ia dimakan Taa’Owu. Tapi, Controleur Johan berhasil lolos. Serangan 10 regu serdadu berhasil mengalihkan perhatian.

Johan dan keluarganya berhasil mencapai dermaga. Orang-orang marah memburu mereka. Tapi meriam-meriam di bastion menembak, meledakkan bola besi di pasir dan menghantam batang kelapa. Kepungan sejenak kocar-kacir. Johan buru-buru melompat ke perahu, menaikkan istrinya dan beberapa lainnya. Para serdadu buru-buru mendayung menuju kapal. Johan berhasil naik dan berdiri di anjungan. Tangannya terangkat, dan saat ia turunkan, delapan meriam kapal meletus bergiliran. Orang-orang di pesisir bergelimpangan.

Pertarungan kini pindah ke laut.

Puluhan perahu berisi lima orang merapun tiga kapal Belanda, berkelahi dan menewaskan para serdadu laut. Teriakan, erangan sakit, dan gaduh. Darah bercampur buih ombak. Dua orang berhasil memasang bambu mesiu, meledakkan api yang segera membakar hebat dan melubangi lambung dua kapal.

Tetapi, kapal Controleur Johan berhasil lolos, bersiap putar haluan ke arah Rumbia.

Hari ini banyak orang mati. Orang-orang marah tak bubar, tapi menyerbu bastion untuk merebutnya. Air laut merah, mayat-mayat mengambang, terantuk-antuk ke kayu kapal yang karam separuh. Pesisir ini bak kubangan mayat. Anyir darah dan bacin laut bercampur, serupa warna tembaga, serupa warna keju Gouda yang tersiram minyak. (*)

Molenvliet, Desember 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*Bastion: kubu pertahanan/benteng

*Ekstirpasi: penebangan tanaman milik rakyat, bertujuan mempertahankan harga rempah tak merosot saat hasil panen berlebihan

*Contingenten: istilah untuk hasil bumi yang wajib diserahkan sebagai pajak

*Verplichte Leverantien: penyerahan wajib, atau kewajiban menyerahkan hasil bumi dengan harga yang ditetapkan VOC

*Klerk: pegawai

*Oktroi: hak-hak istimewa

*Berckenrode: lengkapnya Frans van Berekenrode (1625-1635), seorang pengukur tanah yang juga ahli membuat peta grafis hitam-putih

*Moronenees Dorp: kampung Moronene

*Cornie: hiasan berupa profil mendatar di atas pintu

*Dakvenster: jendela pada atap

*Lambonga Asa’Sula: sejenis tombak bermata satu dengan pisau sisi ganda

*Zwaluwstaart: sambungan ekor burung

*Dadao: parang besar yang dapat memenggal kepala dalam satu tebasan

*Taa’Owu: golok bertepi tajam satu sisi, biasa digunakan untuk kavaleri dan infanteri pasukan Lampio’O

*Keju Gouda: keju bundar kuning dari susu sapi, namanya diambil dari kota Gouda di Belanda.

 

(Berita Kota Kendari, halaman Sastra dan Budaya, Sabtu, 12 April 2014)


%d blogger menyukai ini: