Tag Archives: surat

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.

Iklan

[Telisik Literasi] Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Sapardi Djoko Damono (foto: arelano photographic)

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan.

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran‘s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead. 

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds 

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

***

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu. 

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[ Beloved Prophet, 323 ]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[ Beloved Prophet, 429 ]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[ in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood. ]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[ A Tear and a Smile ]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[ Nymphs of the Valley ]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[ Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek ]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World  was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71. ]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[ Naimy, A Biography, 157, 158. ]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[ Beloved Prophet, 356 ]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[ Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library. ]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[ The Earth Gods, 31. ]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

 

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

***

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. ***

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Gibran Kahlil Gibran (sumber foto: flickr)

 

Diskusi lengkap soal ini dapat dilihat pada Catatan Facebook Ilham Q. Moehiddin


Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

Mba Umi Widarti yang aku hormati…

Aku sedang men-defrag notebook saat aku jumpai file catatan surat suratmu untuk Bapak Boediono, ayahandamu. Aku ingat surat surat ini engkau tulis pada Ramadhan 2010 lalu pada status terpisah di akun facebookmu.

Aku sangat terharu membacanya ketika itu dan memutuskan meng-copas-nya lalu menyimpannya baik baik di dokumenku. Lalu, aku membacanya kembali semalam, dan memutuskan untuk membuatnya menjadi tulisan utuh.

Aku tak mengeditnya, mbak. Tentu tidak, sebab ini karyamu. Aku hanya memperbaikinya; mengurangi huruf yang berlebih; menambahi huruf yang kurang; membetulkan spasi yang berlebih. Selebihnya adalah karya (surat surat rindu utuh) mba Umi pada ayahanda.

Salam

[]

Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

(Buat Ayahanda, Bapak Boediono “Loentjoeng“) 

Oleh Umi Widarti

I.

Bapak…hari Kamis, 5 Agustus lalu aku berangkat ke Solo. Kali ini keberangkatanku ke kota gerilya semasa Bapak muda dulu untuk mewakili kehadiran Bapak di Detasemen II- Brigade XVII Tentara Pelajar Solo. Itu loh, Pak…Monumen Pak’de Mad—Komandan Bapak—akhirnya diresmikan di daerah Banjarsari. Kawan-kawan Bapak yang masih hidup tinggallah sedikit. Aku berangkat bersama sebagian putra putri kawan Bapak. Panglima TNI-RI yang meresmikan loh, Pak. Dan kawan-kawan Bapak terharu karena cita-cita mereka terwujud pada hari itu, Sabtu 7 Agustus 2010.

II.

Bapak…setelah usai Panglima TNI meresmikan Monumen Pak’de Mad, para wartawan mengelilingi Panglima TNI untuk mengabadikan momen itu. Aku duduk hanya dua meter dari penandatanganan prasasti. Tiba-tiba pandanganku terarah pada seorang tua berpakaian seragam coklat, beremblem DetSie II, dan bertopi baret biru. Seragamnya sama persis dengan yang dimiliki Bapak. Bapak renta itu nampak semangat mendekati kerumunan wartawan yang tak memberikan kesempatan beliau untuk memotret momen itu dengan camera saku yang nampak digiwing-giwing sejak tadi. Aku sangat antusias memperhatikan bapak renta itu. Aku zoom camera BB ini yang seadanya…kearahnya. Mencuri shoot tubuhnya dari samping. Dekat dengan aku duduk. Aku ikuti terus kemana bapak itu pergi. Perasaanku jadi rindu padamu, Bapak. Selama acara berlangsung, kangenku semakin bertambah pada Bapak. Kangen ketika memperhatikan hidung bapak itu yang mirip hidungmu, Bapak. Dan gayanya yang semangat.

III.

Iya, Pak…beliau dengan tubuhnya yang sudah agak membongkok itu berjalan kesana kemari dengan semangat. Aku mengikutinya terus sambil melempar senyum ke kawan-kawan Bapak lainnya. Juga ke para ibu yang menjadi kawan ibu kita semasa hidupnya mendampingi Bapak dulu. Aku hafal dengan wajah-wajah kawan Bapak yang tertinggal…sedikit di sini. Oh ya, Pak…aku meminta bapak itu dan dua bapak-bapak lain sebagai model di bawah Monumen Pak ‘de Mad. Aku menjajarkan para sepuh itu untuk menjadi kenanganku. Kan Bapak yang handsome sudah tak ada. Jadi mereka sajalah yang kujadikan hiasan di potret itu. Wah…mereka semangat dan senyum sumringah menyembul diantara keriput wajah mereka. Selesai memotret, aku—untuk menjaga unggah-ungguhso pasti memperkenalkan diri dong. Sambil memegang bahu bapak tua itu, yang hidungnya mirip Bapak, aku bilang, “Apa kabar Bapak…saya putri dari Bapak Boediono.” Aku sapa beliau sambil senyum.

IV.

MasyaAllah, Bapak…bapak itu menampakkan keterkejutannya mendengar nama Boediono disebut olehku. Matanya yang berhias kacamata tebal itu, nampak terbelalak dan tangannya langsung meraih pundakku—hampir merangkul. Beliau bilang, “Nak putri dari Boediono “Loentjoeng” sing dhuwursing tinggal di Leuser?” Sambil geleng-geleng kepala. Aku senang masih dikenali—paling tidak beliau masih ingat denganmu, Bapak. Beliau bertanya kepadaku bagaimana kabar Bapak. Sambil tetap senyum aku bilang kalau Bapak sudah berpulang lima tahun silam. Bapak itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata, “Kok saya tak dapat kabar apapun?” Aku sedih juga jadinya. Namanya juga kawan seperjuangan. Jadi kalau ada yang sesuatu hal yang menimpa kawan seiring…ekspresi sedih mereka pasti keluar. Bapak…tak lama, sambil tetap meletakkan tanggan beliau ke pundakku, dia bilang, “Nak, saya Soeprapto “Pego”, pimpinan regu Bapakmu ketika Peristiwa Serangan 4 Hari”. Aku terpana mendengarnya, karena ingat cerita Bapak…dimana lima orang kawan Bapak gugur pada serangan itu.

V.

Bapak…aku masih ingat, ketika Bapak pernah bercerita tentang pimpinan regu Bapak bernama “Pego”. Aku dipeluk erat beliau, Pak Pego itu. Aku minta berfoto bersama beliau—saling saling melingkarkan tangan, lalu berfoto pula bersama empat kawan Bapak lainnya. Kami saling bertukar kartu nama. Dari Banjarsari…semua rombongan ke makam Tjurug—Taman Makam Pahlawan, dan lanjut ke Wonosido, tempat Pak ‘de Mad mendeklarasikan Serangan Umum di awal Agustus itu. Pak Pego ikut juga dalam bus yang aku tumpangi—tidak bergabung dengan kawan-kawannya di bus satunya. Di dalam bus, Pak Pego menjelaskan…kalau jarak 15 kilometer dari pusat kota Surakarta adalah wilayah gerilya Tentara Pelajar Solo. Dengan semangat beliau bercerita. Aku memperlihatkan pada beliau fotomu, Bapak…yang selalu aku simpan di handphoneku. “Oh, ya…itulah Bapakmu,” katanya. Aku perlihatkan juga foto makam Bapak di Kalibata, waktu aku menghadiri pemakaman Om Tri Mul. Pak Pego terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri, “Kapan saya menyusul kalian…” Aku tertegun… Mengharu biru aku menemaninya duduk berdua di dalam bus. Mas-mas dan mbak-mbak lainnya mungkin bingung, tapi tak bertanya. Tak mengapa.

VI.

Bagiku, Pak…ini suatu momen indah dan tak terduga. Seperti diatur begitu saja. Diawali dengan memotret sembunyi-sembunyi dari belakang ke arah bapak itu. Usilku ini mirip Bapak, kan?

Sampai di Makam Tjurug…usai penyerahan simbol tabur bunga oleh Kapten Soehendro, salah seorang kawan Bapak juga—yang kini aktif menulis di majalah SMT Manahan—kami ikut menabur bunga. Aku mendampingi Pak Pego yang mengajakku ke lokasi lima makam anak buahnya yang gugur pada serangan itu. Aku tiba-tiba teringat ceritamu, Bapak; ketika mencuci kain penutup kepala kawan Bapak yang gugur. Di kain itu, Bapak memisahkan darah dan serpihan otak dari kepala kawan Bapak yang hancur. Lalu, menyerahkan ikat itu kepada keluarganya setelah serangan selesai.

Iya, Bapak…aku mengikuti Pak Pego yang mencari-cari kelima makam anak buahnya itu. Ternyata Pak Pego lupa letaknya. “Ini kali kedua di tahun kedua saya lupa, mencari makam mereka, nak”, keluh Pak Pego. Terus beliau bilang, “Maaf ya, nak…saya tak dapat menemukan mereka kembali. Tapi saya masih menyimpan foto makam-makam mereka ketika kami kesini tahun 1987. Bapakmu juga kesini, bersama Om Tri Mul, Purwoto  dan Pratik”.

VII.

Bapak…Aku bilang ke Pak Pego, kalau Om Tri Mul tiga tahun lalu pernah mengundangku makan siang dan sama-sama mengunjungi makam Om Pratik, Purwoto dan makammu, Bapak. Dan ternyata, hari ini, aku masih bisa bertemu Pak Pego, pimpinan regu kalian. Sampai di Wonosido aku terkenang dengan lokasi yang pernah kau ceritakan, Bapak. Aku buka notesku dan menuliskan garis-garis besarnya. Aku agak malu ketika menulis, sebab tiba-tiba ketua panitia yang juga keponakan Pak ‘de Mad memergokiku. “Menulis diary, Umi…hahaha.” Selanya.

Lapar dan excited menderaku, jadi, ya…aku nulis saja di tengah-tengah pidato bapak Wakil Bupati. Pak Pego sudah diarahkan untuk bergabung dengan rekan-rekannya. Aku mojok di pilar paling luar. Menulis dan memperhatikan suasana. Kebelet pipis lagi, repot deh.

Selesai acara, kami kembali ke bus masing-masing untuk kembali ke monumen. Karena Taruna Patria—organisasi Putra Putri Tentara Pelajar—hendak mendokumentasikan dan berphoto bersama di monumen itu. Jadi Pak Pego tak duduk dalam bus bersamaku lagi. Malam itu, beliau mengira aku masih akan kembali ke monumen untuk menyaksikan perhelatan wayang kulit.

VIII.

Aku salah, Bapak… Aku tak hadir di acara wayang itu. Padahal Pak Pego hendak memperkenalkan aku kepada seorang anaknya serta satu cucunya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku harus bersama Taruna Patria pada acara terpisah. Tapi ketika rombongan disempatkan tilik ke perhelatan pewayangan…aku pun minta ijin ikut turun sebentar. Seharusnya yang bisa turun ke lokasi itu hanyalah ketua Tentara Pelajar dan panitia. Aku merasa bersalah terhadap Pak Pego. Ternyata beliau sudah tak ada. Yang aku temui hanya beberapa pasang Tentara Pelajar dan ibu-ibu Putri Ganesha. Aku clingak clinguk mencari beliau…tak ada. Aku lalu kembali ke bus dan melanjutkan acara Taruna Patria. Setelah usai kami semua kembali ke hotel.

Esoknya, jam 8 pagi dikamarku, aku mendapat morning-call, “Room 204, Ibu Umi? Ada tamu bernama Pak Pego”. Duuh, Bapak…Aku kan baru saja mandi dan belum lagi berpakaian. Untung sudah packing sih. Aku buru-buru dandan…sambil teringat padamu, Bapak…kalau Bapak kan tidak suka menunggu lama bila bertamu dengan alasan masih dandan atau apalah. Nah, hampir saja aku memperlakukan hal serupa itu terhadap Pak Pego. Aku keluar kamar langsung berlarian ke tangga…grusak grusuk.

IX.

Bapak…Aku tentu meminta maaf ke Pak Pego yang menunggu di lobby; karena tak sempat hadir semalam. Pak Pego datang ditunggui becak yang beliau tumpangi dari rumahnya. Beliau rapih sekali mengenakan batik Solo lengan panjang. Aku diberikan foto makam kawan kawan Bapak di Makam Tjurug, yang kemarin kami cari tapi tidak ketemu. MasyaAllah, Bapak…aku terharu. Pak Pego khusus datang agar dirinya tidak dikira mengada-ada…

Waduh…Bapak, sampai sebegitu khawatirnya ya, Pak Pego itu? Beliau takut aku tak percaya pada penuturan beliau. Aku tegaskan pada beliau…bahwa aku sangat percaya dan sangat merasa istimewa bisa bertemu beliau dan menyerahkan foto itu agar bisa aku repro dan dikirim kembali ke Solo. Beliau memintaku mampir ke Solo bila lebaran pulang ke Jogja. Oh, Bapak…aku begitu terenyuh dan perih banget rasanya waktu beliau minta di doakan semoga panjang umur menanti foto-foto acara kemarin yang aku janjikan, plus foto asli makam anak buahnya aku kirimkan kembali ke Solo. Pak Pego pamit pulang karena melihat kawan-kawan rombonganku sudah packing barang ke dalam bus. Pak Pego memelukku seperti hendak melepas anaknya sendiri. Aku menghantar beliau ke becak yang menunggunya hampir sejam.

X.

Gak apa ya, Bapak…aku baru bisa mengeposkannya lewat jasa paket Tiki tanggal 18 Agustus. Oh iya, Bapak…begitu aku tiba di rumah tanggal 9 Agustus, Pak Pego sudah menelponku menanyakan perihal keselamatan perjalananku kembali ke Jakarta.

Sempat loh, waktu di lobby ketika beliau menunjukkan foto Bapak tahun 1987—beliau mengenangmu, Bapak. Kata beliau tentang Bapak padaku, “Oh ya, bapakmu itu tidak terlihat kaya harta, tapi saya tahu bapakmu itu sangat kaya hati dan prinsip”.

Hihihi…aku mikir kalau Bapak dulu itu ketika masih di instansi jika mau diajak berkongsi korupsi berjamaah, tentunya kita sudah kaya harta ya, Pak? Untung banget…aku memiliki Bapak seorang idealis dan berprinsip. Oh, aku begitu bangga padamu, Bapak.

So…aku tunaikan janjiku pada pak Pego tentang foto itu, dan sekarang aku harus toto dahar buat sahur dulu, ya…Bapak.

Bapak, aku sudah bangun buat sahur dan aku sedikit lagi menulis surat buatmu, Bapak.

Nanti pagi, jam 8, ada Upacara Kemerdekaan di Tugu Proklamator. Aku akan datang lagi menjengukmu, Bapak. Karena aku cinta Bapak. Bukan karena hendak gagah-gagahan. Tapi mau seperti Bapak. Mau menjadi anak perempuan Bapak yang cinta pula pada Indonesia-ku.

Bapak…sampai jumpa besok pagi.

***

Surat untuk Bapak, 16-17 Agustus 2010 

Bapak Boediono 'Loentjoeng' dan Umi Widarti Kecil (foto: dok. Umi Widarti)



[Kliping Media] Surat Kabar Mingguan SULTRA POS

Dewan Redaksi: Sudirman Duhari, Agus Sana’a, Ichsan Lemba. Alamat Perusahaan dan Redaksi: Jl. Bahagia, No. 19 Kendari, Sulawesi Tenggara. Staf Redaksi: Agus Sana’a, Gino SM, Zainal Arifin, Asrin, Ichsan Lemba. Sekretaris Redaksi: Roswida. Pemasaran: Saleh, Endang. Manager Keuangan: Sitti Rahma Saraswati. Sirkulasi: Arman. Manager Iklan: Yungky Pranoto. Koresponden Kolaka: Hamzah, Sabaruddin, Muzakir. Unaaha: L.K. Abbas. Raha: Adi Syahrin. Layout: Kasmudin. Kepala Biro Baubau: Gino Samsudin Mirsab.

Surat kabar yang tampak di blog adalah Edisi No. 16/Tahun 01/Minggu Ke 4/Juni 2001. Harga: Rp. 2.000,-

Bernama sama dengan Tabloid Sultra Pos, ternyata surat kabar mingguan ini adalah reinkarnasi selanjutnya dari media tersebut. Tidak jelas apa penyebab perubahan format media ini, dari tabloid menjadi surat kabar mingguan. Baik ukuran media yang sama-sama menggunakan ukuran tabloid, namun layout halamannya sedikit berbeda, khususnya pada perwajahan halaman satu. Jika tabloid Sultra Pos memuat konsep perwajahan tabloid pada umumnya yang berformat foto ukuran besar, maka surat kabar Sultra Pos terformat seperti koran harian. Penggunaan lima baris kolom horisontal dan empat kolom vertikal—kolom ketiga tidak rata. Model benner tetap sama, termasuk motto. Kolom redaksi pun menjadi tajuk rencana. Tidak ada penjelasan resmi soal perubahan format dan komposisi, termasuk pindahnya alamat redaksi dari Baubau, Buton ke Kota Kendari. Namun pengelola media ini, yang rata-rata adalah koresponden daerah sejumlah koran nasional, sedikit menjelaskan mengapa format ini dipilih, dan mengapa koran ini pindah alamat.

Hal yang menarik dalam format baru Sultra Pos ini, adalah usaha media ini mengapresiasi keinginan siapa pun untuk menulis. Rubrik opini, misalnya, yang kerap menyuguhkan tulisan dari para praktisi, turut pula dihiasi tulisan masyarakat biasa, kalangan non-akademis, kalangan non-praktisi, bahkan opini kades di sebuah desa terpencil pun mampu diwadahi media ini. Penjudulan yang masih bombastis, kendati kurangnya akurasi ejaan, mungkin disebabkan tidak adanya tenaga korektor, atau kekurangtelitian para redaktur. Layout yang kering, dan kerap tidak simetris, serta penggunaan jenis font dan ukurannya yang tidak konsisten, menjadi sisi lemah lainnya dari media ini.

Tidak jelas bagaimana coverage area media ini dalam menetrasi pasar, namun dari iklan yang ter-display dapat diduga media ini mampu meraih pendapatan dari iklan yang cukup signifikan. Terbit setiap minggu, 16 halaman.

Bermotto: Menghargai Perbedaan Pendapat, Adil Menegakkan Kebenaran. Rubrik-rubriknya, masih pakem pada rubrikasi model tabloid Sultra Pos, antara lain, Kota Kendari; Buton; Kolaka; Muna; Unaaha; Nasional; Iptek: Sosok & Gaya; Serbaneka; Opini; dan halaman sambungan. []


[Kliping Media] Surat Kabar Umum BERITA KERATON

Penerbit: Yayasan Rambana Media Keraton. Alamat Redaksi/Sekretariat/Tata Usaha: Jl. Diponegoro, No. 48 Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara. Pemimpin Perusahaan: Muchlis Muhdar. Dewan Redaksi: Drs. H. Laode Moch. Halaka Manarfa (Ketua), LM Yamir Bay, SE., AR. Rasyidi Budiman, Jaenal Mare. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Fajar Ishak. Wakil Pemimpin Umum: Nalmas, SE. Wakil Pemimpin Redaksi: Laode Asraruddin. Staf Redaksi: Drs. Labia, Hainis, Asep Saifullah, Anie Trisnawati, M. Ridwan Is (Kendari). Sekretaris Redaksi: Jumaria. Perwajahan: Zulkifli, Yohannes. Koordinator Sirkulasi: Ali Ismail Harun. Percetakan: PT. Selatan Jaya. SIUPP: No. 1355/SK/Menpen/SIUPP/1999. Tanggal 4 Juni 1999.

Surat kabar yang tampak di blog adalah Edisi No. 01/Tahun 01/Agustus 1999. Harga: Rp. 1.500,-

Sesuai namanya, Surat Kabar Umum Berita Keraton, lahir dan dimiliki oleh trah Sultan  Buton, dan kerabat keraton Buton. Surat kabar ini mengklaim dirinya sebagai media massa pertama di Kabupaten Buton. Tampil perdana tak segarang namanya. Berukuran plano, sembilan kolom dan empat baris vertikal, agaknya cukup besar, hingga membingungkan dalam format tata letaknya. Simaklah edisi perdana ini, menampilan satu foto (ditempatkan kecil di sudut kiri atas head news), dan sebuah foto lainnya (ditempatkan sebagai insert pada kolom kedua, baris ke empat—simetris dengan foto head news di atasnya). Penampilan awal yang kering ini tidak urung mendapat sambutan senada dari praktisi media massa lainnya, namun tetap saja mendapat apresiasi besar dari masyarakat Baubau.

Aroma kampanye tercium sangit dari penerbitan ini. Maklum saja, sebab media ini selain dimiliki tokoh Masyumi dari Partai Bulan Bintang (PBB), juga tergambar jelas dari formasi pemberitaannya yang tidak lepas dari nuansa tersebut. Penerbitan ini tetap harus diberi penghargaan yang setimpal, sebab dianggap berani. Dengan SDM yang tidak populer dan terlampau baru di dunia jurnalistik dan bisnis media di Sultra, Berita Keraton mampu menarik keluar akar masyarakat masyumi yang berkembang di daratan Buton. Kemampuannya melirik pasar kader masyumi yang besar, dan menjadikan pasar tersebut sebagai acuan pemberitaan, menunjukkan bahwa media ini siap berkompetisi dan siap memetik untung dari upayanya. Awak iklan di koran ini mampu menjual kolom iklan di kanan-kiri benner sebelum tengat waktu terbit perdana; sesuatu yang cukup sulit dilakukan pada kebanyakan media-media di daerah yang hendak terbit perdana.

Edisi perdana ini digarap kurang maksimal. Halaman-halaman berikutnya pun kering-kerontang, bahkan halaman 7 cukup dengan sebuah foto kecil di bagian tengah kepala berita. Tajuk redaksi yang dibingkai dengan nama Nurani Redaksi. Sedikit unik, ketika redaksi meluncurkan edisi perdananya, dan tajuk mereka membahas Pasar dan Otonomi Daerah, membawa bukti bahwa manajemen media ini mampu melirik pasarnya.

Tidak ada data resmi tentang berapa besar tiras dan coverage area media ini. Tapi dilihat dari segmentasi, sasaran, dan area pasarnya, serta perusahaan dimana media ini dicetak, dapat dipastikan tirasnya tidak kurang dari 2.000 eksemplar. Terbit setiap minggu, 8 halaman.

Bermotto: Mendukung Pancasila Menuju Masyarakat Madani. Rubrik-rubriknya, antara lain, Manusia & Kehidupan; Berita Kota; Daerah; Opini; Kolom Referensi; Budaya Buton; dan Hiburan. []


%d blogger menyukai ini: