Tag Archives: sungai

[Cerpen] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills | Jawa Pos | Minggu, 2 Agustus 2015

Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[CERPEN] Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills - Ilham Q Moehiddin_Ilust2

#1

DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi —dengan kesuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.

“Kau suka buku?” Lavinsky duduk tepat di depannya.

“Tidak!” Ketus jawaban gadis itu —namanya Lalena.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka saja!”

“Tentu kau punya alasan.”

Lalena meliriknya dengan jengkel. Lavinsky menyentuh bibirnya sendiri. “Baiklah,” selanya tenang, “bagaimana dengan bunga? Apa kau suka bunga?”

“Aku juga tak suka bunga!”

“Aneh—” Lavinsky berkemam, “—biasanya perempuan suka pada bunga.”

“Aku bukan perempuan seperti itu!” Lalena menyahutinya.

Lavinsky tersenyum. Jemarinya menyentuh lengan Lalena. “Kau tak suka buku, juga bunga. Lalu, apa yang kau sukai?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu?”

Lavinsky menggeleng cepat. “Tidak. Ceritalah jika kau suka saja.”

Lalu kecanggungan menyergap. Dua menit yang terasa lama. Lalena memandangi sebagian Praha di bawah sana. Ia menyukai ketenangan seperti itu. “Aku menyukai belati dan gunting kuku.” Suara gadis itu datar sekali.

Bola mata Lavinsky membesar. Sebenarnya ia sedang penasaran mengapa Lalena kerap menghabiskan kesendiriannya di kafetaria ini. Suasana di tempat ini tidak cocok untuk merenung. Lalu, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan sesuatu tentang belati dan gunting kuku. Bukankah itu aneh?

Tidak mudah bercakap-cakap dengan gadis pendiam seperti Lalena. Pun jarang ada gadis yang sudi berbicara pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Tapi tampaknya Lalena tak punya apapun, kecuali lamunan yang bisa ia ceritakan.

 

#2

LAVINSKY bertemu Lalena saat hujan pertama di bulan November, di kafetaria kecil di satu bagian di bukit Vsyehrad ini. Gadis itu sedang sendirian di meja dekat jendela, memandangi rincis hujan di luar sana.

Aneh cara gadis itu menatapnya. Hanya beberapa detik mata mereka bertemu dan gadis itu buru-buru membuang pandangannya. Lavinsky ingin mengenalnya, mendekatinya dan sopan meminta untuk bisa duduk semeja dengannya. Lalena setuju saja. Perkenalan dan obrolan kecil bersama dua sloki Vodka yang tandas sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.

Entah kenapa mereka kerap bertemu di kafetaria ini. Lalena tak pernah banyak bicara, kecuali jawaban kecil atas satu-dua pertanyaan Lavinsky. Barangkali —untuk standar Lavinsky— Lalena adalah gadis paling beruntung. Ia bukan sejenis lelaki yang serius. Tetapi untuk Lalena, entah bagaimana Lavinsky berhasil menahan diri dari sikap isengnya. Lavinsky tiba-tiba menjelma lelaki paling ramah, tak seperti Lavinsky yang suka berpura-pura mendengarkan kesah para perempuan dan mengakhiri kesepian mereka dengan omong kosong di depan perapian bersama sebotol Vernaccia merah ceri.

“Aku penasaran perihal gunting kuku itu,” gumam Lavinsky.

“Itu tentang seorang lelaki—” Jawab Lalena tanpa berkedip. Matanya berkilat.

“Seorang lelaki?”

“—Lelaki itu mati karena gunting kuku.”

Lavinsky tertegun. Lalena mengawali ceritanya dengan intonasi yang aneh. Lebih aneh dari suara Phoebe saat mendesiskan bagian-bagian menakutkan dari kisah kematian di perkemahan musim panas Arawak kepada anak-anak yang mengelilingi api unggun dalam film Sleepaway Camp. “Bagaimana gunting kuku bisa membuat seorang lelaki —mati?”

Lalena berpaling ke jendela. “Diabetes. Gunting kuku melukainya dan dosa membuat lukanya membusuk dengan cepat,” nafas Lalena memburu. “Aku ada di dunia ini karena lelaki itu menjejalkan cintanya pada ibuku dengan cara dan di tempat yang tak pantas.”

Lavinsky menahan kagetnya. Lidahnya tiba-tiba pahit.

Mata gadis itu berkaca-kaca. “Seperti perempuan Liguria umumnya, ibuku punya garis pelipis yang menarik. Beliau cantik sekali,” ujarnya kemudian. “Ibuku menjadi pelayan di kafetaria ini saat lelaki itu menggodanya.”

Well —Itu perkenalan yang cukup lancar.”

Lalena mendengus. Ia tak peduli pada sindiran Lavinsky.

“Ibuku hanya menceritakan apa yang ia ingin aku ketahui. Mungkin saja ibuku memang pernah menerimanya. Tapi menurutku, ibu lebih suka menempatkannya seperti seekor dubuk yang gelisah.”

Lalena mengangguk pelan dan menatap Lavinsky. Perbukitan Vsyehrad yang basah dan berangin seperti membenarkan dugaan Lavinsky pada temperamen gadis di depannya itu. “Lelaki itu merenggut kehormatan ibuku di toilet kafetaria ini. Jahanam itu mengurung ibuku di toilet sebelum menuntaskan urusannya kurang dari satu menit.”

“Heh —” Lavinsky menarik bibirnya. Itu cara berani mengungkapkan sesuatu dan itu benar-benar hal yang mengejutkan dari seorang gadis perenung seperti Lalena. Diam-diam Lavinsky tertawa dalam hati mendengar kalimat terakhir Lalena. Ia usap mukanya, lalu menyisiri rambut sendiri dengan jemari. Ini kisah rumit. Tidak pernah mudah menceritakan kepedihan macam itu tanpa perlu terdengar satir.

“Seharusnya lelaki itu memberi ibuku peluang melepaskan gairahnya di sebuah motel kecil, daripada seumur hidup merasa dipecundangi di lantai toilet yang basah dan dingin.”

Jengah. Lavinsky jengah mendengarnya. Pembicaraan ini tak nyaman lagi.

Vodka dari sloki kedua membuat tubuh mereka hangat. Lalena memperlihatkan deritanya seperti buku yang terbuka. Tidakkah itu cukup rumit setelah beberapa pertemuan yang tak pernah direncanakan?

“Tentang belati itu?” Lavinsky menyodorkan lagi se-sloki Vodka pada Lalena.

“Aku tak suka langsung ke topik itu!” Gadis itu berubah ketus. Lalena tiba-tiba didera amarah setelah meneguk isi slokinya.

Lavinsky mengangkat alisnya. Tidak mudah membaca gadis ini.

 

#3

MENGENAI Lalena, gadis itu hanya punya sedikit cinta. Ia menyukai detil kecil yang ia pikir bisa mengubah hidupnya. Ia berimajinasi tentang detil-detil kecil itu. Imajinasi yang membuatnya sanggup membangun benteng paling aman untuk menyimpan semua impian dan kenyataan —sekaligus.

Lavinsky ingin percaya bahwa apa yang ia dengar dari gadis itu hanya bentuk lain dari imajinasinya. Bukan kenyataan yang memuakkan. Tetapi, tampak sekali bahwa perasaan gadis itu tak bertepi. Pengalaman yang ingin ia jelmakan serupa Juan Dahlmann di negeri selatan versinya sendiri —dalam kisah Borges.

“Baiklah.” Lavinsky bersabar. “Lanjutkan saja cerita gunting kuku itu.”

Lalena bernafas pelan-pelan sebelum mengibaskan kepala.

“Ibu melakukan semua itu tanpa perhitungan. Ibu sedang mengandung diriku, saat kembali ke kafetaria ini, setiap hari selama dua pekan, akhirnya ibuku bertemu lelaki itu. Ia bersama tiga kawannya dan berlagak tak mengenali ibuku. Di meja yang kerap mereka pesan, mereka menertawai gadis pelayan yang bermuka masam usai mereka goda.”

Lavinsky mengusap tengkuknya. “Sebentar Lalena—” tahannya, “—apakah bagian ini ada hubungannya dengan belati?”

“Belum,” desis Lalena. “Ini masih tentang diabetes!”

Lavinsky buru-buru mengangkat tangannya, tersenyum ramah dan enggan menanggapi kekesalan Lalena.

“Lelaki itu kembali membuntuti seorang gadis pelayan ke toilet. Ya. Lelaki itu hendak mengulang apa yang ia perbuat pada ibuku. Gadis pelayan itu sedang menggigil ketakutan dan berusaha menutupi tubuhnya saat ibuku menggedor pintu. Ibuku menarik tubuh pelayan itu, mendorong lelaki yang belum sempat membereskan dirinya itu hingga terhuyung dan menggoreskan gunting kuku ke selangkangnya sebelum jatuh usai menabrak wastafel.”

“Lelaki itu sukar ditemukan setelah kejadian itu, kan?”

Lalena tak menggubris Lavinsky. “Ibuku tak perlu mencarinya, karena lelaki itulah yang kerap datang menemui ibuku. Di hari saat ibuku berkenan menemuinya, kondisi lelaki itu sudah payah. Ia mencium kaki ibuku dan memohon maafnya.”

“Ibumu memaafkannya?”

“Seharusnya tidak—” Lalena mengatupkan matanya, “—wanita yang terluka sukar melupakan. Tetapi lelaki yang bersalah seperti dubuk kebiri yang akan mengikutimu ke mana pun. ‘Dubuk’ yang selalu datang pagi-pagi dan duduk di depan pintu apartemen ibuku.”

Mata Lalena menyala lagi. Lavinsky menelan ludah.

“Kondisi lelaki itu memburuk. Dosa, penyesalan dan kebencian ibuku, membuat lukanya membusuk dengan cepat. Tak ada dokter yang cukup gila untuk mengurusi luka di selangkang lelaki dengan diabetes akut. Aku lahir sebulan setelah lelaki itu tak bisa berdiri tegak. Barangkali kau mengira, itulah hal terburuk yang harus ia alami?” Lalena menyeringai. “Bukan —bukan itu. Maaf yang tak diberikan ibuku adalah siksaan paling buruk yang harus ia tanggung.”

“Ibumu memaafkannya?” Ulang Lavinsky.

“Hanya jika lelaki itu telah berkalang tanah.”

Lavinsky bergidik. “Bukankah menyangkali lelaki itu, berarti menyangkali dirimu?”

“Itu soal lain. Ibu lebih suka melihat jasad lelaki itu daripada memberinya maaf atas namaku. Mungkin ibu menyukai beban yang ia ciptakan sendiri. Ia memilih caranya sendiri.”

Amarah dalam suara Lalena itu membuat mereka terdiam. Vodka sudah lama kosong dari dua sloki mereka. Udara dingin merasuk dari hujan di luar sana. Lavinsky merasa tertampar. Ingatannya terbang ke sebuah tempat di mana mungkin saja seorang wanita sedang menunggunya.

“Bagaimana lelaki itu setelahnya?” Lavinsky memecahkan kebisuan.

“Mati!” Tak ada ekspresi di wajah Lalena. “Ia menyerah. Tekanan akibat kebisuan ibuku dan deraan penyakitnya, membuat lelaki itu menikam jantungnya dengan belati.”

Lavinsky menyerahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia cukup terkejut saat tahu posisi belati dalam kisah Lalena dan memaklumi pilihan lelaki itu mengakhiri hidupnya. Lavinsky kini tahu alasan gadis itu menyukai belati.

“Apakah kau masih ingin mendengarkan kisah belati itu?”

Lavinsky menggeleng. “Cukup tentang gunting kuku dan diabetes saja.”

Lalena mengangguk. Angin yang masuk lewat pintu membuat anak rambut menari di dahi dan pelipisnya. Cantik sekali.

 

#4

MATA Lalena menjelajahi sepotong Praha di bawah sana. Jembatan Karluvmost dan orang-orang yang tergesa di bawah hujan dalam selubung ponco. Matanya menyapu dinding menara Zizkov dan Jam Astronomi di Balai Kota. Pucuk pepohonan bergerak-gerak di sepanjang sisi sungai Vltava yang tenang.

“Ibuku tenggelam dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Lalena tiba-tiba bicara seraya memejamkan mata. Air mukanya berubah saat mengatakan itu.

“Hah?” Lavinsky gelagapan.

“Ibu menghabiskan waktu dengan imajinasinya. Tangannya tak bosan menari di atas kertas, tenggelam bersama semua kesedihan yang ia tuliskan.”

Lavinsky menghembuskan nafas kuat-kuat. Ia baru saja keliru, mengira gadis itu bicara tentang ibunya yang tenggelam di sungai Vltava. Ternyata bukan itu.

Pelipis Lalena mengeras. “Aku bukukan semua tulisan ibu, walau aku sendiri menolak membacanya. Sukar bagiku memahami cara ibuku tenggelam dalam kesedihannya. Kini kau tahu alasan mengapa aku tak menyukai buku.”

Lavinsky mengangguk seraya menuliskan sesuatu di serbet dan menyelipkannya di antara halaman terakhir The Prague Cemetery. Ia tepuk lengan Lalena, menyorongkan buku Umberto Eco itu ke dekatnya. Lewat isyarat matanya, Lavinsky ingin gadis itu membaca apa yang sudah ia tulis, sebelum meletakkan sejumlah uang di meja dan segera meninggalkan kafetaria.

Lalena memandangi punggung Lavinsky yang menjauh. Ia baca pesan yang ditulis untuknya: Aku harus menyelesaikan sedikit urusan. Aku menyukai percakapan kecil ini, Lalena. Tapi aku tidak mau menjadi Tuhan. Sungguh mati —itu pekerjaan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun.

Gadis itu tersenyum kecil. Lalu, matanya kembali mengalir di sungai Vltava. (*)

 

Molenvliet, Maret 2015

Iklan

Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 


[Cerpen] Mencerap Capung

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

BHARA melompati pematang dan terus berlari ke arah hutan. Dia tak hirau pada seruan Dewik yang berjarak cukup jauh di belakangnya. Wajah Dewik terlihat kesal sekali, tapi Bhara terus saja berlari. Kini Bhara sudah nyaris sampai di mulut hutan dan sebentar lagi akan segera menghilang. Tingkah Bhara itu adalah hasil dari pertengkaran kecil beberapa saat yang lalu.

***

“Jangan ikut!” Bhara nyaris berteriak.

“Kenapa tak boleh ikut! Teriak Dewik membalas, “kalian menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” Wajah Dewik galak bukan main.

“Bukan tak boleh….tapi belum waktunya.” Bhara menyahut lagi, tangannya merenggut katapel yang tergantung pada paku di dinding.

“Ah, sama saja. Bilang saja kalau kalian tak mau mengajakku!” Dewik tetap bertahan pada sikapnya.

“Huh….!” Desah Bhara kasar. Ditepisnya tangan adiknya yang hendak merenggut ujung kemejanya. Dewik biasa melakukan itu jika berniat menahan abangnya agar tidak kemana-mana dan meninggalkannya sendirian. Tak akan dilepasnya ujung baju abangnya, sehingga ibu mereka datang melerai.

Bhara menggunakan kesempatan itu. Dia melompat ke beranda depan, lalu melompat sekali lagi, melewati tangga, menjejak tanah. Dewik berteriak kesal, memanggil ibu. Tapi Bhara sudah cukup jauh. Terpaksa Dewik pun mengejar.

Tapi lari Bhara tentu saja tak bisa disaingi oleh Dewik. Sebentar saja abangnya itu sudah sampai di hamparan sawah kering, dan dengan lincah melompat kesana-kemari, melampaui pematang. Orang-orang kampung baru usai panen raya, menyisakan deretan sawah kering yang dipenuhi timbunan jerami, dionggokkan dengan sengaja di tengah-tengah petakan.

Dewik tak melanjutkan pengejarannya. Dia menjatuhkan diri ke salah satu pematang, dan berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Hatinya kesal sekali. Entah apa yang sedang dirahasiakan abangnya itu.

***

Esok harinya, sepulang sekolah, Dewik sudah duduk gelisah di beranda depan. Sesekali ditengoknya jalan besar di depan rumahnya. Setiap kendaraan umum yang melintas diperhatikannya dengan saksama. Dan, pada setiap kendaraan yang berhenti, diharap-harapkannya sosok abangnya, si Bhara itu, yang turun.

Bhara bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di kota kecamatan ini. Jam pulang sekolah Bhara seringkali lewat dari biasanya. Kadangkala, Dewik sudah usai makan siang dan membantu ibunya berbenah di dapur, barulah abangnya itu muncul.

Dewik mendesah lega, saat melihat sebuah angkot berhenti dan menurunkan abangnya. Dia harus bisa membujuk abangnya agar membawanya serta ke hutan kecil di pinggiran desa mereka. Itulah satu-satunya tekad Dewik hari ini.

Bhara tersenyum padanya, begitu kakinya lepas dari anak tangga terakhir dan menjejak beranda depan itu. Aneh, guman Dewik dalam hati.

“Hari ini abang harus membawaku bersama abang!” Dewik berseru pada Bhara. Keinginannya sudah tak tertahankan lagi. Begitu usai dia menegur abangnya serupa itu, sedikit kelegaan menyusupi hatinya.

Tapi abangnya tidak menanggapinya kasar kali ini. Bhara hanya tersenyum, mengangguk dan bilang, “tunggulah abang barang sebentar. Usai makan siang, kau boleh menemani abang ke hutan. Wak Bajin sudah menunggu di sana.” Kata Bhara, lalu masuk ke kamarnya.

Wak Bajin? Apa pula hubungan rahasia abangnya itu dengan Wak Bajin? Paman dari pihak ibunya itu sudah tak pantas lagi bergaul dengan remaja sepantaran Bhara. Dewik sekarang diliputi pertanyaan-pertanyaan baru. Dia tegak mematung di depan kamar abangnya.

Saat Bhara keluar kamar, Dewik terus saja menatap abangnya dengan wajah seperti sedang memohon sesuatu. “Hei….,” tegur Bhara, “kau harus belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Jika kau kerap mendesak orang macam itu, bukan sesuatu yang kau harapkan yang datang, tapi kau lebih banyak kecewa.” Kata Bhara menyabarkan adiknya.

“Tenanglah barang sebentar, duduklah dulu. Kau harus belajar sabar seperti Capung. Hewan itu lebih pandai dari kau rupanya, ha ha ha….” tukas Bhara sambil tertawa, meninggalkannya sendirian menuju ruang makan.

Bah! Bhara memang senang mengulur-ulur waktu. Senang hatinya jika melihatku gelisah macam ini—gumam Dewik. Tapi, apa sebenarnya yang dilakukan abangnya itu di tengah hutan bersama Wak Bajin. Sepengetahuan Dewik, di sebalik hutan kecil itu adalah padang luas yang ditumbuhi Ilalang dan sedikit perdu berduri. Kadang burung Branjangan menyimpan telur mereka di cerukan tanah, di bawah perdu-perdu itu. Anak remaja senang sekali memerangkap mereka untuk dipelihara. Tapi lebih sering menunggui dan menjerat biawak yang datang hendak mencuri telur Branjangan.

Dewik pernah ke padang itu. Arealnya cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan bola sepak. Padang ilalang itu adalah pemisah antara areal hutan kecil dan kaki bukit Sangampuri. Dari bukit itulah, ada percabangan anak sungai yang mengalir melewati pinggiran padang. Anakan sungai itu tak lebar, hanya dua meter setengah lebarnya, dan kedalaman airnya hanya sebatas lutut remaja. Airnya mengalir tenang, walau musim penghujan sekalipun. Maka itulah, orang-orang desa memanfaatkan sumber aliran air ini sebagai sumber pengairan sekunder bagi hamparan sawah di pinggiran desa.

Dewik hampir saja terlelap akibat lelah menunggu, saat dia terkejut disentak abangnya. Bhara tersenyum padanya. “Ayo, sekarang saatnya. Wak Bajin dan anak-anak lainnya pasti sudah menunggu,’ ujar Bhara.

***

Ah, mereka tak cuma berdua rupanya. Wak Bajin sudah menunggu bersama anak-anak lainnya. Untuk membunuh penasarannya, Dewik memutuskan diam saja sambil mengikuti langkah abangnya. Tidak lima menit, mereka berdua sudah sampai di batas antara sawah dan mulut hutan.

Abangnya berjalan pelan, seperti menuntun dirinya. Sesekali abangnya mempermainkan ketapel kayu yang tergantung di lehernya. Agak lama kemudian, telinga Dewik sudah menangkap suara gurau anak-remaja lainnya. Berarti mereka hampir mencapai tepian lain dari hutan kecil ini.

Begitu sampai pada kerumunan anak-remaja lainnya, mata Dewik dibuat terpukau dengan pemandangan di depannya. Padang Ilalang itu ternyata sedang memekarkan banyak sekali bunga rumput. Warnanya jingga dan kuning, elok sekali. Pemandangan itu menghampar sempurna dan luar biasa indah.

Tapi, tak dilihatnya Wak Bajin. Kemana pamannya itu? Kata Bhara, pamannya itu ikut serta pula hari ini. “Kemana Wak Bajin?” Tanya Dewik pada abangnya.

“Oh, Wak Bajin sebentar lagi akan muncul. Tapi paman sudah sedari tadi di sini, sedang melakukan sesuatu di dalam hutan sana,” kata Bhara sambil menunjuk ke arah hutan kecil di belakang mereka. “Kau mau melihat apa yang dilakukan Wak Bajin, ya?” Tanya Bhara. Dewik mengangguk mengiyakan.

Bhara kembali berjalan mendahuluinya. Mereka berjalan, hingga mendapati pinggiran aliran sungai kecil. Selanjutnya mereka berjalan menelusuri pinggiran sungai kecil itu, sampai mata mereka melihat seorang lelaki dewasa. Itu Wak Bajin, dan dia sedang merunduk-runduk, mendekatkan matanya ke semak air di pinggiran sungai. Serius sekali tampaknya dengan apa yang sedang dilakukannya.

“Mereka hampir kering semua!” Seru Wak Bajin.

Wak Bajin adalah sarjana biologi dari perguruan tinggi ilmu pendidikan di Jakarta. Baru sekitar dua tahun dia kembali ke desa ini. Rencananya, Wak Bajin akan mengabdi sebagai guru pada salah satu sekolah menengah pertama di sini. Tapi nasib belum berpihak padanya. Tak ada lowongan bagi guru biologi dalam waktu dekat, dan oleh kepala sekolah dia diminta bersabar menunggu. Sesekali waktu, Wak Bajin mengisi jam mengajar yang kosong sebagai guru pengganti. Lumayan honornya.

Dewik menjulurkan lehernya, hendak pula melihat lebih dekat apa yang sedang dikerjakan pamannya itu. Tiba-tiba Dewik menjerit takut. “Itu kan….ulat!” Teriak Dewik sambil berjalan mundur. Dia nyaris jatuh ke air, jika saja Bhara tak tangkas menyambar tanggannya.

Bhara dan Wak Bajin tertawa terbahak-bahak. Wak Bajin menarik tangan Dewik yang masih setengah takut agar mendekat. Wak Bajin memegang pundaknya, sambil menunjuk pada sejumlah benda yang melekat tak bergerak di batang-batang semak air.

“Itu bukan ulat. Itu bakal Capung, disebut juga Nimfa,” jelas Wak Bajin, tersenyum, “Nah, lihatlah Wik, beberapa capung sudah berhasil keluar dari tubuh Nimfa, dan mereka sedang menunggu sayap-sayapnya kering dan kakinya kuat untuk bisa terbang.”

Dewik memang melihat ada banyak Capung yang masih bertengger diam di batang-batang semak air. Ada yang sayapnya masih terlipat kusut, tapi sebagaian besar sudah mengembang dan sedang berusaha mengepak-ngepak gugup.

“Memang agak lama mereka bertingkah macam itu sebelum benar-benar siap untuk terbang,” jelas Wak Bajin. “Setelah meninggalkan tubuh Nimfa dan mengering dengan sempurna, capung akan mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi satu dan sayapnya dinaik-turunkan. Nah, seperti itu,” kata Wak bajin sambil menunjuk seekor capung yang sedang mengerak-gerakkan sayap dan kakinya.

“Sebelum kalian datang, sudah banyak capung yang berhasil terbang, dan langsung menuju ke padang itu.” Kata Wak Bajin sambil menunjuk padang Ilalang yang dipenuhi bebungaan jingga dan kuning.

“Ini rupanya yang kalian rahasiakan selama ini. Mengapa tak memberitahuku sejak awal?” Ujar Dewik bersungut-sungut, protes.

Bhara tertawa-tawa senang, dan Wak Bajin hanya tersenyum. “Tadinya paman hendak mengajakmu juga, sebab bagus sekali jika kau mempelajari capung ini sejak awal. Tapi abangmu itu memang sengaja hendak mengerjaimu saja.”

Dewik merengut kecewa. Wak Bajin kembali tersenyum melihat wajah Dewik serupa itu. “Tak mengapa. Wak Bajin akan jelaskan lagi,” ujar Wak Bajin membujuknya.

“Capung memang senang bermain di permukaan air. Seperti biasa, mereka bertempat di aliran air macam ini. Walau ada juga yang senang tinggal di aliran air yang cuklup deras. Ketika hendak bertelur, Capung betina akan mencari air dengan kedangkalan tertentu dan meletakkan telur-telurnya di situ. Telur Capung berupa untaian bola putih yang sangat kecil namun kuat. Setelah menetas, kepompong atau nimfa Capung akan tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun. Untuk bisa bertahan hidup, dengan capitnya yang kuat, nimfa memakan hewan kecil seperti ikan atau berudu. Nimfa menggunakan waktu-waktu itu untuk memperkuat lapisan tubuhnya.”

Wak Bajin kini berjongkok sambil meraup air sungai. “Itulah mengapa orang desa mempercayai Capung sebagai penanda air bersih. Karena, ketika masih berupa nimfa, sebagian besar hidup Capung dihabiskannya di dalam air. Makanya, nimfa Capung butuh kondisi air yang baik; bersih dan tidak mengandung zat pencemar. Jika orang-orang melihat nimfa dalam air, atau melihat Capung beterbangan di atas permukaan air, itu artinya, air tersebut bersih.”

“Selama tiga atau empat tahun itu, nimfa akan melepaskan kulitnya dalam empat masa yang berbeda. Hingga sampai pada perubahan terakhir, Nimfa akan meninggalkan air dengan memanjati batang tumbuhan atau batu, hingga kaki-kakinya terpancang kokoh. Nimfa akan berdiam di situ, melakukan proses pengubahan wujudnya menjadi capung, seperti yang kita lihat sekarang ini.”

Dewik mengangguk-angguk mengerti. Kini dia mulai memberanikan diri mendekati beberapa capung yang sedang bersiap terbang. Wak Bajin tersenyum melihatnya. “Lalu kulitnya lamanya bagaimana?” Tanya Dewik ingin tahu.

“Itu namanya Exuviae. Setelah kering akan jatuh sendiri dan terbawa air. Itu proses alami, Dewik,” jelas Wak Bajin.

“Manusia pun bisa belajar dari mencerap cara hidup Capung. Manusia harus arif menjaga lingkungannya agar tetap bersih sebagaimana halnya Capung. Menghargai kehidupan seperti yang tercermin dari keseluruhan proses perubahan dan hidup Capung. Secara kerohanian, Capung juga adalah contoh yang baik, sebagaimana Capung dewasa yang menjaga air dalam masa hidupnya yang demikian singkat.” Jelas Wak Bajin sambil tersenyum.

Setelah menjelaskan semua proses alami Capung, Wak Bajin mengajak Bhara dan Dewik meninggalkan tempat itu untuk bergabung bersama anak-remaja lainnya. Mereka semua melepas lelah di gundukan tanah sambil memandangi Capung-capung yang beterbangan riang di antara bunga-bunga rumput. ***

Capung (Dragonfy) di sisi sungai berkabut (sumber foto: accad.osu.edu)


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


Rubaiyat [XXXIX]: Kornelian Satu Qirat

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

aku telah pulang, seusai

menyampaikan pesan

kelembutan yang terkirim dalam hembusan

saat pelupukmu menyiapkan tangisan

 

kepada laut aku berunding tentang sungai

kepada sungai aku titipkan kerinduan hutan

kepada hutan aku bisikkan salam hujan

kepada hujan aku simpan keinginan langit

 

tiada syair yang dapat mengindahkan dunia

tiada syair yang dapat menghancurkan dunia

tiada syair yang menjelma dalam kedirian manusia

hanyalah ada syair manusia perusak dunia

 

yang mematahkan gunung dengan telunjuk mereka

yang mengeringkan samudera dengan mata mereka

yang membalik tanah dengan tumit mereka

: tidak datang yang dua sebelum yang empat

 

tidak datang yang empat sebelum yang dua

tidak datang yang empat sebelum yang empat

tidak datang yang tiga sebelum yang empat, dan

tidak datang yang empat sebelum yang tiga

 

tiada manusia yang mampu sempurnakan syair

syair manusia selalu beraroma anyir

mata mereka terbuka saat pesan datang padanya

: lewat sungai, laut, hutan, hujan, gunung

 

pada tanah yang bergerak, mereka

menyerukan kerinduan

meneriakkan sesalan

meminta pangkuan

 

bukankah pernah Dia gemerincingkan lonceng

: tidak akan datang padamu tujuh barhut

dan tujuh walayah

sebelum dar asbab merapatkan permukaan langit dan bumi.

***

Januari, 2011

Glosarium: barhut [azab]; walayah [kecintaan/kasih]; dar asbab [rumah segala sebab-akibat]; kornelian [permata merah]; qirat [duabelas dinar]

Kornelian (sumber foto: indonetwork.co.id)

Rubaiyat ini juga dapat disimak di Lumbung-Puisi-Sastra Digital


%d blogger menyukai ini: