Tag Archives: suara

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Suara Merdeka 2015

Cover Suara Merdeka

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK KUMCER SUARA MERDEKA 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


Diproteksi: [Cerpen] Magnolia de Capoterra

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


[Telisik Literasi] Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Sapardi Djoko Damono (foto: arelano photographic)

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan.

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran‘s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead. 

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds 

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

***

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu. 

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[ Beloved Prophet, 323 ]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[ Beloved Prophet, 429 ]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[ in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood. ]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[ Man and Poet, Khalil Gibran ]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[ A Tear and a Smile ]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[ Nymphs of the Valley ]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[ Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek ]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World  was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71. ]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[ Naimy, A Biography, 157, 158. ]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[ Beloved Prophet, 356 ]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[ Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library. ]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[ The Earth Gods, 31. ]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

 

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 

***

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. ***

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Gibran Kahlil Gibran (sumber foto: flickr)

 

Diskusi lengkap soal ini dapat dilihat pada Catatan Facebook Ilham Q. Moehiddin


%d blogger menyukai ini: