Tag Archives: short

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

German-Indonesian Film Award Winner 2003

[Dokumen]

FILM JERMAN :

 Quiero Ser

Der Peruckenmacher

Ein Einfacher Auftrag

Balance

Kleingeld

Quest

Schwarzfahrer

Gregors Grobte Erfindung

FILM INDONESIA :

 Kamar Mandi

Dapupu Project

Mayar

Violance Against Fruits

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Mass Grave

Ketok

Loud Me Loud

Geothe Institute Jakarta

 

Loud Me Loud

Loud Me Loud. Sutradara: Bayu Sulistyo S.

Bayu Sulistyo S (Sutradara), Indonesia, 2002, Animasi, Digital AV, Berwarna, 26’ 49”.

Bercerita tentang Muki, perjaka tulen yang senang berjoget diiringi musik keras kesukaannya yang bertetangga dengan Jowee yang cinta damai dan pemuja ketenangan. Apa yang kemudian dilakukan Jowee, dan bagaimana aksi balas dendam Muki?

Penghargaan : Special Mention Kuldesak Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2002.

***

Ketok

Ketok. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, Eksperimental, DV, Berwarna, 5’ 35”.

Menggambarkan kesaksian sepasang suami-istri tentang ketukan misterius di pintu rumah mereka… atau?

Penghargaan: Best Film SET Award & Best Technical Achievement Kuldesak Award FFVII 2002.

***

Mass Grave

Mass Grave. Sutradara: Lexy Junior Rambadeta

Lexy Junior Rambadeta (Sutradara), Indonesia, 2002, Dokumenter, DV, Berwarna, 26’.

Setelah diktator Soeharto dijatuhkan pada 21 Mei 1998, rakyat Indonesia mulai berani mempertanyakan kembali sejarah bangsanya. Salah satu peristiwa kejam yang ditutup-tutupi adalah pembantaian massal terhadap lebih dari 500 ribu rakyat Indonesia tahun 1965-1968 yang diorganisasikan oleh militer di bawah perintah diktator tersebut. Pada tanggal 16 November 2000, beberapa orang tua yang merupakan keluarga dari korban pembantaian 1965-1968 tersebut, menggali sebidang tanah perkebunan di hutan di pinggiran Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mereka, dengan bantuan beberapa dokter forensik, menemukan 26 kerangka manusia yang ditimbun bertumpuk-tumpuk menjadi satu. Beberapa keluarga korban berhasil mengindentifikasi tulang-belulang yang ditemukan sebagai keluarga yang mereka cari. Ibu Sri Muhayati misalnya, mengenali tulang ayahnya yang dibunuh tentara pada 1966. Keluarga lainnya juga mengenali identitas keluarga mereka. Empat bulan setelah pemugaran kuburan massal di tengah hutan wilayah Wonosobo tersebut, keluarga korban ingin melakukan pemakaman kembali yang layak untuk kerangka-kerangka keluarga mereka. Seorang teman mereka bernama Pak Irawan berbaik hati menyumbangkan sebagian tanahnya di Desa Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk tempat penguburan. Namun, rencana pemakaman kembali tersebut digagalkan oleh sekelompok orang. Peristiwa ini tidak dipublikasikan dengan jujur dan terbuka oleh media massa.

Penghargaan : Best Documentary SET Award FFVII 2002.

***

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang

Diantara Masa Lalu dan Masa Sekarang. Sutradara: Eddie Cahyono

Eddie Cahyono (Sutradara), Indonesia, 2001, DV, Berwarna, 12’.

Film ini bercerita tentang semangat perjuangan yang tidak pernah luntur dari seorang anak bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Keprihatinan dalam melihat kenyataan bangsa Indonesia pada saat ini, dimana segala cita-cita pada masa perjuangan telah dikotori oleh keserakahan manusia. Film ini juga menyentuh kesadaran sosial tentang pentingnya penghormatan terhadap semangat perjuangan yang tidak pernah luntur.

Penghargaan : Best Short Film SET Award & People’s Choice Konfiden Award FFVII 2001.

***

Violance Against Fruits

Violance Against Fruits. Sutradara: Maria Clementine Wulia

Maria Clementine Wulia (Sutradara), Indonesia, 2000, Eksperimental, DV, Berwarna, 3’

Santai saja, nikmati pembantaian Diospyros Kaki di depan mata Anda. Terinspirasi oleh kerusuhan Mei 1998.

Penghargaan : Best Cenceptual Film Kuldesak Award FFVII 2000.

***

Mayar

Mayar. Sutradara: Ifa Isfansyah

Ifa Isfansyah (Sutradara), Indonesia, 2002, Fiksi, MiniDV, Berwarna, 32’.

Mayar adalah seorang penduduk urban di Jakarta Selatan. Pada tanggal 15 sampai 18 Agustus ia pulang ke kampungnya, Yogyakarta, untuk menengok ibunya. Banyak hal yang terjadi dikampungnya ketika ia pulang, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Jakarta Selatan. 

Penghargaan : Best Art Director & Director of Photography SET Award FFVII 2002, Jakarta.

***

Dapupu Project

Dapupu Project. Sutradara: Wahyu Aditya

Wahyu Aditya (Sutradara), Indonesia, 2000, Animasi Komputer, Berwarna, 3’

Menceritakan sebuah robot burung unta yang diburu oleh robot seniman.

Penghargaan : Best Film Animation Film Festival 2001, Best Animation Film SET Award FFVII 2001.

***

Kamar Mandi

Kamar Mandi. Sutradara: Rusli

Rusli (Sutradara), Indonesia, 1999, Fiksi, Betacam, Hitam-Putih, 10’ 11”.

Keluarga… Ayah… Ibu… Anak… Satu hari… Di kamar mandi…

Penghargaan : Best Independen Short Film Garin Nugroho Award & Best Short Film Director Kuldesak Award in 1st Indonesia Independent Film-Video Festival (FFVII) 1999.

***

Gregors Grobte Erfindung

Gregors Grobte Erfindung. Sutradara: Johannes Kiefer

Johannes Kiefer (Sutradara), Jerman, 2001, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 11’.

Dari hari ke hari neneknya Gregor makin susah berjalan. Teman-teman wanitanya mendesak dia untuk pindah ke panti jompo… Tetapi Gregor menyayangi neneknya dan ia adalah seorang penemu yang jenius: ketika ia menyadari, bahwa neneknya bisa berjalan di air tanpa rasa sakit, ia punya ide yang hebat…

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Nomination for Best Short Film 2002, Best Comedy Los Angeles 2002, Audience Award Best Short Austin 2001, Jury Award New York 2001, Best Comedy Burbank 2001, Best Comedy Short Cinequest 2002, Best Short Magnolia 2002.

***

Schwarzfahrer

Schwarzfahrer. Sutradara: Pepe Danquart

Pepe Danquart (Sutradara), Jerman, 1992, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Komedi, Hitam-Putih, 35mm, 12’.

Ia seorang kulit hitam dalam perjalanan dengan sebuah trem, duduk di tempat pilihannya: hal ini membuat meledaknya kebencian ras seorang nenek Jerman. Namun orang kulit hitam itu tahu bagaimana harus bereaksi.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Film Berlinale 1993, First Audience Award Hamburg Short Film Festival NO BUDGET 1993, Best Short Film in Melbourne 1993, New York 1994, Oscar Best Short Film, 1st Prize, 11th International Odense Film Festival 1995 and many others.

***

Quest

Quest. Sutradara: Thomas Stellmach

Thomas Stellmach (Sutradara), Jerman, 1996, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 11’.

Sebuah figur dari pasir menunggalkan dunia pasir, tempat ia tinggal, untuk mencari air. Ia berkelana ke dunia-dunia lain dari kertas, batu dan besi, selalu mengikuti titik-titik air. Pada akhirnya figur pasir ini berhasil mencapai air… dengan cara tragis. 

Penghargaan / Anerkennung : 1997 Oscar for Best Short Animation Film, Cartoon-d’Or-Preis 1996, Friedrich-Wilhelm Murnau Preis Best Shortfilm 1996, etc. (about 50).

***

Kleingeld

Kleingeld. Sutradara: Marc Andreas Bochert

Marc Andreas Bochert (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Jerman, Kurzspielfilm, Drama Sosial, Berwarna, 35mm, 15’ 32”.

Film karya Bochert mengisahkan tentang hubungan yang luar biasa antara seorang pengemis dengan seorang pengusaha. Suatu hari si pengemis berdiri membisu di trotoar diantara sebuah bangunan kantor dan tempat parkir. Dengan sebuah gelas kertas ia meminta-minta uang. Berawal dari sebuah sumbangan dari seorang berdasi yang kemudian menjadi kebiasaan setiap hari. Keadaannya menjadi rumit ketika suatu hari si pengemis mulai mencuci mobil sang pengusaha… Kisah dari Berlin tahun 90-an yang diceritakan secara tragis, lucu dan profesional.

Penghargaan / Anerkennung : Oscar Student 1999, Deutscher Kurzfilmpreis in Silber 1999, Oscar Nomination for Best Short Film 1999.

***

Balance

Balance. Sutradara: Wolfgang & Christoph Lauenstein

Wolfgang & Christoph Lauenstein (Sutradara), Jerman, 1989, Tanpa Dialog, Film Animasi, Berwarna, 35mm, 7’ 20”.

Lima figur bergerak di atas sebuah plat. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila ada keseimbangan, dengan cara keseimbangan semua orang/figur dibagi merata. Permainan dimulai, dimana keseimbangan terus-terusan terancam, dan ketergantungan satu figur dengan yang lainnya menjadi jelas terlihat.

Penghargaan / Anerkennung : Best Short Animation Film Oscar 1990.

***

Ein Einfacher Auftrag

Ein Einfacher Auftrag. Sutradara: Raymond Boy

Raymond Boy (Sutradara), Jerman, 1996, Dialog Bahasa Jerman, Kurzpielfilm, Komedi, Berwarna, 35mm, 10’ 50”.

Fee Marie, yang sudah sejak bertahun-tahun berhasil memenuhi keinginan-keinginan orang, harus mengunjungi seorang tukang tembok Jakob Brumme di gubuknya yang reot dan memenuhi 3 keinginannya. Sebuah pekerjaan yang mudah, kelihatannya.

Penghargaan / Anerkennung : International Short Film Festival Hamburg 1996, “Premiere-Preis” / Oscar Student 1997.

***

Der Peruckenmacher

Der Peruckenmacher. Sutradara: Steffen Schoffler

Steffen Schoffler (Sutradara), Jerman, 1999, Dialog Bahasa Inggris, Film Animasi, Fantasi, Berwarna, 35mm, 15’.

Kisah seorang pria yang menutupi dirinya sendiri rapat-rapat di Landon yang tercemar pest pada jaman abad pertengahan untuk menghindar dari infeksi. Ketika seorang gadis kecil yang sakit meminta pertolongannya, dunianya seakan mau runtuh.

Penghargaan / Annerkennung : Jury Etudiant, Prix de la mise en scene – Vendome 2000, 2001 Oscar Nomination for Best Short (Animation) Film.

***

Quiero Ser

Quiero Ser. Sutradara: Florian Gallenberger

Florian Gallenberger (Sutradara), Jerman, 1999, 35mm, Berwarna, Dialog Bahasa Spanyol, Fiksi, 34’.

Dua orang kakak beradik yatim piatu berjuang hidup di jalan-jalan kota Mexico. Impian akan masa depan yang lebih baik membuat mereka mampu menyisihkan setiap peso yang mereka dapat untuk ditabung. Tetapi ketika si kakak jatuh cinta, maka semua uang tabungannya dipakai untuk pacaran dengan sang gadis, perbuatannya ini memyebabkan si adik sakit hati. 25 tahun kemudian secara tak sengaja mereka bertemu kembali…

Penghargaan / Anerkennung : (terseleksi)

Academy Award (Oscar) 2001/Student Academy Award, First Steps Award 2001, GWFF – Award for Best Film for Graduation 1999, Prize UNICEF Bilbao, Film Prize from The City of Munich, Best Jury Jeune Best Shortfilm, Best Actors Vendome, Audience Award & Horizont Award Aspen, Best Directing & Audience Award Poitiers, Internationales Festival der Filmhochschulen Munchen, Best Actors & Audience Award Giffoni, Grand Prix Lodz. FBW Pradikat Obesonders Wertvollo. ***


%d blogger menyukai ini: