Tag Archives: selat

[Cerpen] Robohnya Bukit Kami | Jawa Pos | Minggu, 24 April 2016

Robohnya Bukit Kami

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Robohnya Bukit Kami | Ilustrasi: Bagus

SURAD berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis, tapi suara gemuruh dari hutan bagian Selatan menghantuinya. Hutan di sisi Barat ini jalan terpendek satu-satunya menuju tobu (kampung) Olondoro. Hujan telah menggemburkan tanah, membuat goyah bukit Lere’Ea yang mengelilingi desa di mulut tanjung itu.

Tapi, harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada.

 

Sebelum Robohnya Bukit Kami

Surad merasa harus melakukannya, kendati Ama (bapak) Karabu mendaratkan tempeleng ke pelipisnya selepas solat Jumat’an pekan lalu. Orang tua itu menganggap Surad lancang berbicara di depan jamaah, memprovokasi orang-orang agar berhenti mencungkili bebatuan dan mengambil pasir dari kelokan timur sungai La’Kambula, berhenti membalak pepohonan di Lere’Ea.

“Hanya Lere’Ea yang membentengi desa ini dari angin kering dari Selatan. Hanya bukit itu juga yang menjaga kampung Bajau di perairan Tanjung Lawota dari gelombang Selat Sulawesi. Dua tobu (kampung) ini akan…”

—Plak!

Kata-kata Surad terhenti, lehernya memutar ke kanan. Ama Karabu tegak di depannya dengan wajah kelabu, penuh amarah. Surad memegangi pelipisnya yang panas—darah melelehi hidungnya, jatuh menetesi lantai masjid.

Sebagian orang ikut-ikutan mengutuk Surad. Tetapi sebagian yang lain justru memprotes tindakan Ama Karabu, memukul orang dalam masjid. Ama Karabu sebenarnya bisa saja mengadukan Surad kepada Bonto (hakim adat), atau menghajar pemuda itu di luar masjid. Jika sudah lancung begitu, Doja Rasyid-lah yang akhirnya repot—harus membersihkan tetesan darah dari lantai masjid.

Ama Karabu tak peduli. Menurutnya, Surad tak boleh mencampuri urusannya dengan menghasut orang-orang. Tapi tekad Surad sudah bulat untuk terus memeringati orang-orang.

Surad menceritakan kecemasannya pada Pak Akla, Puu’tobu (kepala kampung) Bajau. Saat sedang mengamati burung-burung yang seharusnya sudah bermigrasi dari Tenggara, Surad tak sengaja melihat rengkahan tanah yang memanjang dari sisi timur ke bagian barat bukit di tanjung. Rengkahan itu selebar lima jari tangan orang dewasa.

Itu patahan tanah—Lere’Ea itu adalah bukit yang ditopang karang di bawahnya. Dinding karang itu juga pembatas pesisir Tanjung Lawota dari perairan di sisi utara pulau Kabaena. Jika memandang ke bawah—dari atas Lere’Ea, sejauh 600 meter dari tebing karang—tampak kampung Bajau membentang di atas air dalam formasi diagonal.

Surad meringis. “Tinggal dinding karang itu saja yang menahan bukit kita.”

Pak Akla menoleh ke pesisir, memandangi ujung Tanjung Lawota. Matanya menggeriap. Ia mengerti betapa besar kecemasan Surad. Bukit Lere’Ea itu menunjang Tanjung Lawota di mana orang-orang Bajau mengumpulkan hasil laut di pesisirnya.

Orang-orang membalak di bukit itu dimulai tujuh bulan lalu, mengambil kayu-kayu dari bukit untuk membendung sungai sebelum mengeruk pasir di dasarnya. Orang-orang itu suruhan Ama Karabu. Mereka menyisakan sedikit sekali pohon kecil yang tetap tak mengubah wajah kering bukit itu.

“Celahnya besar sekali ya—” gumam Pak Akla sembari mendorong sepiring pisang rebus ke depan Surad. “Bagaimana menurut Pak Madjid? Sudah kau ajak beliau melihatnya?”

“Sudah saya beritahu, tapi—” Surad menggeleng, “—beliau belum merespon.”

Pak Akla memenuhi dadanya dengan udara laut yang kering. Dari beranda belakang palemma (rumah apung) miliknya, ia leluasa memandang ke arah bukit Lere’Ea. Di perairan Tanjung Lawota ini, keluarganya turun-temurun menetap sebagai suku laut. Moyangnya mendirikan kampung ini atas seizin para Mokole (raja) Kabaena yang menguasai seluruh area itu hingga pulau Selayar. Saat kakek buyutnya mengepalai kampung ini, di tahun 1871 antropolog Johannes Elbert dan ilustrator Grundler, datang dan menulis tentang mereka. Kedua orang Jerman itu memperkenalkan mereka pada dunia lewat foto-foto. Grundler memotret kampungnya dengan kamera obscura dari film lempengan tembaga berlapis perak.

**

“Sesungguhnya, tak ada yang berubah dari bukit itu bagi kami—juga hutan utama Malate dan hamparan bakau di pesisir Lawota ini. Kondisinya Lere’Ea tiba-tiba berubah drastis sejak orang-orang menggali pasir di sungai La’Kambula. Bukit itu telah memberikan segalanya bagi kehidupan kami. Kami tetap jelas mengingatnya setelah delapan generasi. Dari sudut itulah—” Pak Akla menunjuk area terbuka di pesisir Barat, “—Grundler memotret kampung ini. Bukit itu, dan laut di depannya, adalah Puu’Wonua (Ibu Bumi) bagi kami.”

Surad terpekur. Kepalanya ikut menoleh dan matanya kembali mendapati Lere’Ea yang meranggas. Lalu tubuhnya memutar setengah dan lengannya terangkat. “Dari ujung sana, lalu melingkar hingga sampai ke pohon itu—” Surad menunjuk pohon Melinjo besar di bagian timur tanjung, “—patahannya jelas sekali. Dinding karang itu tak akan kuat menahan beban tanah yang terus bergerak.”

Pak Akla masygul. “Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?”

Surad tak langsung menjawab pertanyaan itu. Matanya memandang sekeliling perkampungan. Dahulu, Pak Akla pernah mengajaknya melihat bagaimana orang Bajau mengenalkan laut pertama kali pada bayi-bayi mereka. Setelah sembilu memutuskan ari-ari setiap bayi Bajau, dalam gendongan bapaknya, bayi akan dibawa masuk ke air laut yang hangat. Saat bayi dilepaskan perlahan-lahan, saat itulah bayi diperkenalkan pada Ibu Laut—rahim pertama suku laut—bahkan sebelum bayi disapih ibu kandungnya. Bayi justru mengapung seolah-olah perenang yang ahli dan mereka tak sedikit pun menelan air laut. Bayi menyelam kesana-kemari dalam pengawasan bapaknya. Prosesi seperti itu tak lama—cuma sekitar dua menit, dan bagi Surad itu adalah dua menit yang sangat menakjubkan.

Surad menoleh. “Kita akan sibuk sekali, Ama. Tidak mudah menginapkan orang-orang laut ke daratan.”

Pak Akla mengangguk, menyeret dua keranjang bambu di atas lumpur bakau yang sadah. Perahu mereka ditambat di batas air pasang. Rajungan terbirit-birit masuk lubang saat melihat kedatangan mereka. Ikan-ikan belacak juga menyingkir, berlari di atas lumpur dan hinggap-berpeluk pada ujung akar-napas Bakau yang menyembul dari dalam lumpur. Sudah sesore ini keranjang bambu Pak Akla belum berisi seekor rajungan pun.

“Rajungan besar makin sukar dicari—” Pak Akla menunjuk beberapa Rajungan kecil yang mengawasi dari jarak aman, “—kecil dan hijau seperti itu tak bisa dimakan. Tak akan laku pula jika dijual.”

Surad membanting keranjang bambunya. Ia merasa benar-benar tak berdaya. Ia kemudian menaikkan keranjang-keranjang bambunya ke atas perahu Pak Akla sebelum naik dan duduk di haluan. Mereka mengayuh perahu menuju hutan Bakau di sisi pesisir Selatan.

 

Di Hari Robohnya Bukit Kami

Seruan pertama Pak Akla langsung menetak liang telinga Surad dan pemuda itu terbangun dalam perahu. Matanya menggeriap. Tiang penyangga petromaks bergoyang, membuat pantulan cahaya kuning dari lampu itu menjalar seperti ular api di atas permukaan air. Malam ini langit cerah berbulan, pun bersih tanpa awan. Bintang Utara terlihat terang sekali.

Sejak sore hingga menjelang dini hari ini, Surad kelelahan menemani Pak Akla mencari rajungan. Rasanya ia belum lama merebahkan tubuh dan teriakan keras Pak Akla sudah membuatnya tersentak bangun.

“Bersiaplah!” Teriak Pak Akla seraya bergerak membelah air menuju perahu. Dua keranjang bambu yang diikat menyatu tampak penuh rajungan. Hewan-hewan bercapit itu menggeliat saling bertindihan. “Bangunlah!” Ulang Pak Akla menaiki perahunya.

Surad melilitkan sarung ke lehernya. “Ada apa, Ama?”

“Tidurmu seperti ular, sampai-sampai tak kau dengar suara gemuruh dari tanjung.”

“Apa?—” Surad kaget setengah mati, “—jangan main-main, Ama!”

“Ambil dayungmu! Kita ke kampung laut sekarang juga!”

Surad meninggikan leher dan berusaha menangkap sesuatu dalam kegelapan jauh di tanjung sana. Kerlip lampu dari deretan palemma tampak menari-nari di kampung Bajau. Darahnya berdesir. Surad mengangkat dayungnya. Tanpa buang waktu mereka mengayuh perahu ramping itu secepat mungkin. Pak Akla sigap mengendalikan perahu dengan dayung pada dinding kayu buritan. Belum dua menit, peluh sudah membasahi punggung Surad.

“Aku sangat mencemaskan kampung.” Pak Akla berusaha bicara di tengah derau air yang berkecipak oleh kayuhan dayung mereka. Perahu kecil itu kian laju.

Mata Surad menyipit, berusaha melihat dalam terpaan silau cahaya petromaks. “Aku juga harus ke tobu Olondoro—aku harus memeringatkan orang-orang.”

Delapan menit berikutnya, mereka akhirnya sampai di kampung Bajau. Gelombang laut begitu hebat mengayun perahu dan rumah-rumah warga. Orang-orang sudah keluar rumah, membuat penerangan dengan menyalakan obor dan menempatkannya pada tiang pancang di depan palemma masing-masing. Beberapa lelaki bergegas menghampiri saat perahu Pak Akla merapat di tangga palemma miliknya.

“Setelah gemuruh, gelombang datang tiga menit setelahnya. Lere’Ea roboh malam ini, Ama—” mata Sadae berkaca-kaca saat bicara pada ayahnya.

Pak Akla menatap Surad, lalu beralih pada Sadae. “Lepaskan perahu-perahu besar! Bawa semua warga ke daratan, menjauhlah ke pesisir Timur sekarang juga! Mungkin saja akan ada longsoran susulan.”

Sadae melompat dan berteriak-teriak. Kawan-kawannya ikut membantu melepaskan tambatan perahu-perahu besar. Sisanya, mengatur warga keluar dari rumah menuju perahu.

Pak Akla menyodorkan dayungnya pada Surad. Mata orang tua itu seperti bicara bahwa Surad harus bergegas. Saat melihat Sadae, Pak Akla sadar bahwa belum ada seorang pun yang menyampaikan kabar itu ke kampung Surad.

“Pakai perahuku—” ujar orang tua itu, “—bergegaslah!”

Surad mengangguk. Ia membungkukkan tubuh, berpegangan di tiang palemma dan segera turun ke perahu. Ia palingkan wajah ke utara. Malam yang diterangi cahaya bulan menyergap matanya. Ia harus mengayuh perahu kecil itu ke mulut tanjung. Itu berbahaya sekali, sebab perahu kecilnya harus memintas gelombang yang disebabkan longsoran pertama. Dari sana ia harus memintas hutan menuju tobu Olondoro.

Harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada.

Setelah mengayuh perahu, memintas sisa gelombang di mulut tanjung, pemuda itu berhasil mencapai pesisir utara. Ia mendongak ke arah Lere’Ea dan dalam keremangan cahaya bulan, ia bisa melihat kengerian yang mencemasinya selama ini.

Lere’Ea benar-benar patah. Tanah bukit itu tampak rengkah di dua sisinya dan turun beberapa meter. Runtuhan pertama telah mematahkan bagian atas dinding karang yang menopang bukit itu, mengirim ratusan ribu kubik tanah, sisa-sisa pohon kecil dan bebatuan besar tumpah ke perairan Lawota. Longsoran mengaduk air laut dan mengirimkan gelombangnya ke kampung Bajau. Bagian terbesar tanah di bukit itu tampak menggantung, menunggu waktu untuk longsor berikutnya ke arah tobu Olondoro sekaligus mengirimkan gelombang kedua ke kampung Bajau.

Surad berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis. Tapi suara gemuruh pertama dari Lere’Ea menghantuinya. Berlari—ia harus berlari sekencang mungkin. Di benaknya kini terbayang wajah warga kampung, wajah ibunya.

Ia tak boleh terlambat, jika tak ingin kampung itu lenyap dalam timbunan tanah. Surad lari bertelanjang kaki menembus lebatnya hutan. Di ujung kampung, cahaya kecil dari lelampu tampak dari beranda rumah milik Ama Naja. Sedikit jarak lagi ia akan sampai. Semua bagian kakinya perih bukan main. Darah mengucur pelan dari sobekan luka oleh duri semak. Telapak kakinya mulai membengkak akibat luka tusukan bebatuan padas.

Sedikit lagi, Surad. sedikit jarak lagi— Surad itu membatin.

“Turunlah dari rumah!” Surad berteriak saat ia memasuki tobu. Ia harus membuat kegaduhan agar orang-orang terbangun. Ia memunguti kerikil, lalu melempari setiap rumah yang berada dalam jarak lemparannya. Upayanya berhasil. Orang-orang yang rumahnya ia lempari, keluar dan ikut berteriak, bertanya maksud Surad membangunkan mereka seperti itu.

“Bangunkan orang-orang lainnya. Pergi kalian dari sini. Lere’Ea roboh! Bukit kita roboh!” Surad kesetanan. Semua orang harus diselamatkan—harus!

Ama Karabu berlari menyongsong pemuda itu. “Panggil puu’tobu!” telunjuk Ama Karabu menuding muka Surad, “—dia ini sudah membuat keributan!”

Beberapa pemuda meringkus Surad, memegangi tangan dan lehernya.

Surad tak peduli. “Pergilah! Mengungsilah!—bukit kita akan roboh lagi!”

Pak Madjid tiba-tiba muncul dari luar kerumunan di sekitar Surad. “Siapa yang bikin keributan?” Tanyanya.

“Dia ini—anak Ina Ijja.” Tukas Ama Karabu.

Pak Madjid mendelik pada Ama Karabu. Orang-orang bicara lagi sembari menoleh pada Indara.

“Diam—” teriak Pak Madjid, “—apa maksudmu? Jelaskan padaku!”

“Aku dan warga kampung Bajau melihat sisian Lere’Ea roboh ke laut. Warga kampung Bajau sudah mengungsi ke pesisir setelah rumah mereka dihantam gelombang pertama. Masih ada rengkahan besar menggantung di sisi bukit dan mengarah ke tobu kita.” Surad menarik napas. “Aku harus menjemput ibuku—dan kalian juga harus pergi dari sini.”

**

Orang-orang bekerja bahu-membahu menyingkirkan timbunan tanah. Surad melihat Sakka berdiri mematung di atas talud. Anak lelaki itu melihat ke bawah, mengamati orang-orang yang bekerja menyingkirkan tanah dari lokasi di mana rumahnya pernah berdiri.

Dua jam berikutnya, orang-orang menemukan jasad Ama Karabu tertimbun tanah di antara balok kayu yang sengaja ditumpuk di halaman rumahnya. Ama Karabu hendak menyelubungi tumpukan kayu itu dengan terpal plastik, tapi longsoran tanah Lere’Ea keburu datang. (*)

Molenvliet, Maret 2016

Iklan

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 


%d blogger menyukai ini: