Tag Archives: sawah

Ojek Gabah, Inovasi Pemecah Masalah

Keterbatasan sungguh bisa membuat seseorang atau sekelompok warga menjadi inovatif. Jika Satu Indonesia dengan Inspirasi 60 Tahun Astra mendorong tema Perjalanan Penuh Inspirasi, tentang perjalanan panjang Astra meraih kesuksesan dengan mendedikasikan karyanya untuk menginspirasi negeri dan memajukan Indonesia, maka kunjungan saya ke kawasan persawahan Amohalo, mungkin boleh juga disebut sebuah perjalanan yang sangat menginspirasi.

 

SAYA mendengar cerita tentang ojek gabah dari sahabat saya, Fransiskus Senoaji Patadungan, seorang lelaki Toraja yang sedang gemar-gemarnya fotografi. Bersama dua sahabat lainnya, Intan Rinjaru Hiandra dan Jay Irgie, kami berempat berencana berburu foto, sembari saya menuntaskan penasaran dengan ingin melihat sendiri para Pengojek Gabah.

Dari pusat kota, kami berdua berkendara kurang lebih sejam menuju pinggiran kota Kendari, ke arah Selatan. Amohalo adalah kawasan persawahan yang diplot menjadi lumbung padi kota Kendari. Itu kisahnya kini, setelah kurang lebih 30 tahun menjadi kawasan “berbahaya” bagi siapapun. Amohalo berada persis di pusat area Nangananga yang selama 30 tahun menjadi kawasan konsentrasi militer bagi mantan anggota Partai Komunis Indonesia yang ditangkap di Sulawesi. Awalnya, ada 220 orang tahanan politik (tapol) yang dipindahkan ke tempat ini setelah Rumah Tahanan Militer (RTM) Moncongleo di Makassar, dikosongkan. Area Nangananga yang sepenuhnya berupa hutan dan rawa ini kemudian disulap menjadi kawasan tahanan militer dan sangat terlarang untuk umum. Selain kendaraan militer dan anggota polisi militer, maka tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya, terlebih mendekat. Tetapi itu dulu. Luka lama yang tidak pantas dikorek kembali. Kita seharusnya sudah selesai berdamai dengan masa lalu.

Kini, dari sekitar 220 orang mantan tapol yang dulu dipindahkan tahun 1970 itu, hanya tersisa enam orang saja dan semuanya pun telah sangat uzur. Selama 30 tahun, kawasan Nangananga —termasuk area konsentrasi tapol-nya— itu berubah menjadi kawasan mukim dengan hampir 2.000-an warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka menanam Jambu Mete (ceshew nut), Kelapa, Lada dan beternak unggas (dominan bebek). Sebagian besar warga yang ada kini adalah generasi ketiga. Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut status tapol pada kakek-nenek mereka, mengembalikan mereka ke masyarakat, dan kawasan Nangananga diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kota Kendari pada tahun 2001.

Sebenarnya sebelum terjadi pengambil-alihan kawasan, di Nangananga sudah bermukim hampir 400 kepala keluarga lain yang menggantungkan hidup mereka dari persawahan. Sehingga perubahan statuta kawasan itu pada tahun 1970, otomatis ikut menyulitkan para petani sawah yang telah bermukim lebih awal.

Walau telah terbuka untuk aktifitas pertanian, karena diisolir begitu lama, infrastruktur di sana belum bisa memadai. Berada di pinggiran kota Kendari dan diisolasi begitu lama, praktis masyarakat Nangananga baru menikmati listrik pada 2009 dengan dibangunnya jaringan listrik induk yang melintasi kawasan. Menyadari kenyataan itu, kami sesungguhnya tidak terlalu heran dengan kondisinya. Pembangunan memang lamban di sini, tetapi nadi ekonomi ternyata berdenyut cukup kencang.

 

Revo Ojek Gabah

Tetapi perjalanan kami kali ini bukan untuk mengorek-ngorek “kekelaman” itu. Saya sangat tertarik mengunjungi petani di Amohalo setelah mendengar tentang Ojek Gabah yang diceritakan Frans, dan bagaimana inovasi yang mereka lakukan untuk membuka hambatan geografis dan minimnya fasilitas.

Setelah lepas dari 22 kilometer jalan beraspal, kendaraan kami mulai berguncang di jalanan yang sepenuhnya berlubang. Jalanan rintisan yang selalu menyisakan genangan setelah hujan itu, membentang sejauh 10 kilometer. Tak masalah, saya menggunakan Honda Beat Matic yang berbodi ramping, memudahkan saya bermanuver menghindari lubang demi lubang—terkadang jembatan dengan sepotong-dua kayu belaka. Ruang yang cukup lebar di bawah stang kemudi juga cukup leluasa untuk menempatkan tripod kamera.

Saat kami tiba, orang-orang desa sudah berkumpul di bawah salah satu rumah panggung besar, menikmati suguhan makan siang dan penganan ringan. Mereka tersenyum melihat kami. Pak Pongganti mendatangi kami dan saya langsung berbicara banyak dengannya. Proses panen baru saja selesai 20 menit lalu dan saat ini gabah sedang dimasukkan ke dalam karung-karung besar, disusun rapi di pinggiran pematang untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi transit sebelum diangkut ke atas mobil-mobil pick-up. Itu artinya kami belum terlambat. Motor-motor bebek—yang entah bagaimana bentuknya—tampak berderet rapi dengan para joki yang asik ngopi sembari menunggu sesuatu. Sesekali asap kawung mengepul dari dalam kerumunan mereka. Ya, tak syak lagi, mereka itulah joki ojek gabah yang diceritakan Frans.

Tadi kami memarkir kendaraan tak terlalu jauh dari rumah besar ini. Sembari berbicara dengan Pak Pongganti, saya menyiapkan kamera. Dua pick-up terlihat di seberang jalan bersama seseorang dengan buku catatan kecil di tangannya. Dari Pongganti saya tahu bahwa dua mobil bak terbuka itu adalah kendaraan pengepul. Merekalah yang akan memuat gabah petani. Walau tampak seperti sistem perkulakan, namun sesungguhnya harga beli mereka mengikuti mekanisme pasar. Mereka hanya boleh menebus gabah petani di bawah dua persen dari harga beli Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulawesi Tenggara, jika masih mau mendapatkan “barang”. Petani pun menerima resiko terkikis dua persen itu karena juga memperhitungkan biaya sewa truk jika mereka harus membawa sendiri gabah ke sentra pengeringan dan pergudangan.

Matahari terik sekali di pukul 12 siang itu. Cahaya yang keras seperti itu jelas akan menyulitkan kami mengatur aperture, ISO dan shutter speed pada kamera. Saya menggunakan lensa sudut lebar dengan hoodlens untuk menangkis cahaya keras dari sisi lensa. Kamera saya posisikan pada ISO kecil, dengan aperture besar dan kecepatan di atas 750.

Anggukan kepala dari Pak Pongganti seperti sebuah komando bagi delapan joki yang tiba-tiba bergegas ke motor masing-masing, menyalakan mesinnya dengan cara yang aneh, lalu susul-menyusul meluncur ke tengah persawahan yang baru selesai dipanen itu. Cara mereka menunggangi motor-motor itu tak ubahnya seperti crosser berpengalaman.

Delapan joki itu memecah kelompok menjadi dua —masing-masing empat motor— untuk dua pemilik gabah. Jarak antara dua gundukan karung gabah sekitar 300 meter, dan jarak antara gundukan terdekat menuju jalan hampir 250 meter. Kecekatan mereka mengangkut dan bolak-balik dari gundukan karung gabah menuju tempat menumpukan sementara di pinggiran jalan, sungguh menarik untuk disaksikan.

Setiap motor yang meninggalkan gundukan karung gabah, datang dengan dua karung besar gabah yang ditumpuk di tengah sasis motor dan dengan beban berat dan sebesar itu, tampaknya mereka tetap bisa mengendalikan stang kemudi motor tanpa kesulitan. Para joki mampu bermanuver di sela pematang dengan lincah.

Saya tentu kagum. Hal seperti ini belum tentu saya temukan di tempat lain. Ojek gabah ini memang inovasi yang efektif dan ekonomis. Buruknya kondisi jalanan di kawasan persawahan desa Amohalo sepertinya nyaris mustahil menemukan cara mengangkut karung gabah yang besar dan berat itu dari tengah sawah ke area penumpukan, membuat mereka berpikir keras. Untuk semua kesulitan itu, ojek gabah ini benar-benar jawaban yang cerdas.

Semua pihak dalam proses panen hingga pengangkutan boleh dibilang untung. Dalam sehari, seorang pengojek gabah bisa mendapatkan bayaran minimal 400 ribu hingga 800 ribu rupiah. Sangat tergantung dari jumlah sawah yang ia layani. Nah, bayangkan uang yang mereka dapatkan jika panen padi di kawasan subur ini bisa sampai tiga kali setahun, dengan luasan kurang lebih 3.000 hektar dan semua proses panen itu dapat berlangsung selama 14 hari. Luarbiasa!

Standar bayaran yang mereka terima paling rendah 5.000 rupiah per karung. Jika medan sukar (berlumpur) atau jaraknya jauh, ongkos yang mereka terima naik menjadi 7.000 –10.000 rupiah/karung. Sekali angkut motor mereka mampu dimuati dua karung. Jika setiap pengojek mampu bolak-balik sebanyak 10 kali, itu artinya di satu lokasi sawah saja mereka bisa mengantongi maksimal 200 ribu rupiah. Bayangkan ketika kawasan persawahan Amohalo berada di puncak musim panen. Setiap pengojek gabah bisa melayani pengangkutan di tiga-empat sawah dalam sehari.

Setelah proses pengangkutan selesai, motor-motor pun kembali diparkirkan. Saya mendekat untuk sekadar mengetahui bagaimana modifikasi yang mereka lakukan pada motor-motor itu. Hal pertama yang membuat saya kagum adalah delapan motor yang dimodifikasi menjadi alat angkut gabah itu berjenis Honda Revo dan rata-rata dari generasi pertama dan kedua. Mereka melepas semua penutup bodi bagian atas motor sehingga hanya menyisakan tangki bahan bakar yang memang terletak di bagian belakang. Bahkan jok pun tidak terlihat lagi, termasuk memindahkan tuas rem belakang yang terletak di dekat stand kaki depan, ke stang kemudi —persis mekanisme pengereman pada motor skuter matik.

Knalpot juga dimodifikasi, dibuat lebih panjang agar tidak menghalangi kaki pengojek dan memiliki kemampuan melaju lebih cepat di atas lumpur atau medan berair. Di atas batang sasis, mereka membuat flatform baru dengan papan atau plat besi, dibuat landai agar memudahkan menyusun karung-karung gabah. Semua panel di bagian kepala dilepas sama sekali, menaikkan posisi stang kemudi dan memanjangkan shockbreaker depan. Kaki-kaki depan dan belakang juga tak lepas dari pengubahan. Mereka menggunakan ban bergerigi yang biasa digunakan pada motor jenis trail. Dengan semua modifikasi itu, joki ojek gabah tidak merasa kesulitan bahkan jika posisi mereka nyaris rebah di atas karung-karung yang mereka muat.

Pongganti menuturkan, dahulu sebelum ada pengojek gabah, petani biasa menyewa buruh angkut dengan cara memikul gabah dari sawah ke area penumpukan. Cara ini tentu tidak efisien dan ekonomis. Walau setiap sawah dilayani buruh pikul hingga 10 orang, pekerjaan tetap terasa lamban sebab memerlukan waktu hingga seharian penuh. “Untuk sawah-sawah yang berada jauh di tengah seperti itu,” Pongganti menunjuk deretan sawah yang berada di tengah atau di ujung kawasan persawahan, “butuh waktu sampai dua-tiga hari baru selesai.”

Tentu pula jauh dari nilai ekonomis. Tidak ada buruh pikul yang murah untuk pekerjaan seberat itu. Mereka biasa dibayar hingga Rp30.000/karung, atau Rp.40.000/karung jika jaraknya jauh dari lokasi penumpukan. Itu memangkas hampir separuh dari nilai jual beras setelah melalui semua proses pengolahannya. “Tiga kilogram gabah kering sebanding dengan satu kilogram beras, dan petani sudah mengeluarkan biaya yang nilainya hampir seperempat harga jual beras per karung ukuran 50 kilogram. Sekarang harga jual beras mencapai 400 ribu rupiah per karung. Keluaran biaya itu belum termasuk ongkos angkut ke lokasi penjemuran atau penggilingan,” ujar Pongganti sembari tersenyum kecut.

Namun sejak warga berinovasi menggunakan ojek gabah, pengeluaran petani bisa ditekan sangat besar. “Kami bisa menyelesaikan semua proses panen hingga ke lokasi penumpukan tidak lebih dari satu jam saja,” ujar sembari bertepuk tangan. Saya senang melihatnya gembira seperti itu.

 

Gagasan Ojek Gabah dan Innov Astra

Tetapi mengapa mereka memilih Revo dengan mesin Honda Techno AT dari generasi pertama dan kedua itu? “Bodinya mudah dioprek dan mesinnya agresif tapi irit bahan bakar,” jawaban spontan Sukri, seorang joki ojek gabah, itu membuat kami semua tertawa. Tetapi Sukri benar. Untuk berinovasi dengan melakukan modifikasi seperti itu, awalnya mereka memang memilih-milih merek motor, sekaligus jenis mesin yang diusung. Dari beberapa jenis motor, pilihan mereka berakhir pada Honda Revo. Tetapi bagaimana mereka mendorong ide, itu adalah cerita berbeda. Bahwa Astra hadir sebagai katalis yang secara tidak langsung mendorong keberanian berinovasi oleh masyarakat, adalah cerita utamanya.

Sekarang, Astra mungkin saja belum bergerak untuk secara langsung hadir di tengah petani Indonesia dengan inovasi terbaru yang bisa memberi kemudahan masyarakat menikmati teknologi pertanian, termasuk —yang paling utama, misalnya— menciptakan mesin pemanen dan perontok serbaguna sekaligus memecahkan masalah transportasi gabah.

Fakta tentang petani yang memodifiksi motor menjadi ojek gabah karena terinspirasi pada ketangguhan mesin Honda Revo dalam tulisan ini boleh jadi memang belum pernah sampai ke meja para inovator dan pengambil kebijakan di Astra International Tbk., tetapi saya percaya, satu-dua tahun ke depan tehnologi Astra bisa dengan cepat menjangkau petani di seluruh Nusantara dan menyelesaikan masalah mereka. Boleh jadi pula gagasan inovatif para petani di Amohalo dengan ojek gabahnya itu bakal menjadi salah satu isu utama di ajang tahunan InnovAstra berikutnya.

Maka benarlah, program Satu Indonesia dalam visi-misi Astra, akan sungguh-sungguh menjadi kenyataan besar yang linier dengan Indonesia.

 

Terus Berjuang untuk Keunggulan

Sekadar bercanda, saya bertaruh dengan Frans Patadungan. Karena semua pengojek gabah menggunakan motor yang sama, dengan mengukur standar kelincahan motor di medan seperti itu, kami bertaruh, siapa yang kira-kira menjadi pengangkut terbanyak. Kami lalu memilih calon pemenang masing-masing.

Mari melipir sedikit dari aksi taruhan kami, sebab hasilnya pun tak akan jauh berbeda; yang menang nantinya sudah pasti menggunakan si tangguh Honda Revo.

Enampuluh tahun lalu, Astra hadir dengan satu tujuan utama; senantiasa mendedikasikan karya-karya inovatifnya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Tentu saja di usia yang sangat mapan seperti itu Astra tidak saja menjadi raksasa industri dan teknologi yang disegani di luar Indonesia, tetapi menjadi pioner sekaligus inspirasi bagi teknologi di tanah air, khususnya di bidang otomotif.

Enam dekade bukan waktu yang singkat untuk menghitung besarnya pencapaian dan kontribusi Astra bagi Indonesia. Dilandasi falsafah Catur Dharma, Astra sesungguhnya sangat berhasil menginspirasi dan mendorong Indonesia melangkah lebih jauh masuk ke era teknologi tinggi. Produk-produk dan layanan Astra telah mengubah wajah Indonesia melalui karya-karya putra bangsa Indonesia sendiri. Astra terus menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, dan menjadi terdepan dalam upayanya memberi kontribusi sosial bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Astra-lah yang mula-mula menginspirasi para pengambil kebijakan Indonesia untuk mendorong mobil nasional (mobnas). Kijang adalah produk menumental Astra yang ikut membuat banyak negara melihat bahwa Indonesia telah bergerak lebih maju di kawasan regional.

Saya teringat pada “kendaraan tugas” pertama ayah saya. Ayah saya adalah mantan wartawan Harian Umum Pelita, sebelum akhirnya pensiun di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara Biro Kendari. Kijang kotak itulah yang kemana-mana mengantar ayah saya liputan di berbagai wilayah terjauh di Sulawesi Tenggara. Asik sekali mendengar beliau berkisah bagaimana mereka menembus beratnya medan di lokasi terisolir untuk mendatangi warga yang lahan pertaniannya diambil paksa oleh oknum pamong praja kabupaten. “Si kuning itu seperti berenang membelah sungai Lasolo,” kenang Ayah, di akhir Juni, setahun lalu. Saat itu kami berdua duduk di teras belakang rumahnya yang diteduhi tiga pohon jambu klutuk.

Itulah kenangan terakhir duduk bercerita bersama ayah, sebab November 2016, ayah harus dilarikan ke rumahsakit karena unfaal jantung dan wafat di sana setelah sepekan perawatan. Ayah saya, Moehiddin Damara, seingat saya adalah jurnalis paling tangguh yang pernah saya kenal. Bersama tiga rekannya (yang juga telah wafat mendahuluinya), Beliau memelopori jurnalisme di Sulawesi Tenggara. Beliaulah yang menginspirasi banyak wartawan muda lainnya, termasuk saya ketika itu, untuk juga menekuni dan lebih serius tentang jurnalisme. Saya juga teringat pada wajah Beliau saat saya datang mengabarinya soal keberangkatan saya ke Australia untuk bekerja di Inside Indonesia Magazine.

Sebagaimana para pelopor —seperti ayah saya, misalnya— Astra sungguh menginspirasi banyak orang, bangsa ini, Indonesia. Kini banyak sekali usaha kecil dan menengah di Indonesia yang bergerak karena terinspirasi kepeloporan Astra, termasuk inspirasi bagi lahirnya mobil nasional. Sebagai pelopor, Astra tentu saja tahu bagaimana memposisikan diri. Sumber daya manusianya yang handal juga diambil dari anak-anak bangsa ini. Astra bergerak di semua lini, bahkan asuransi dan kelembagaan sosial.

Melalui empat pilar tanggungjawab sosialnya, Astra melakukan pendekatan yang sukar ditiru. Astra terjun langsung ke basis-basis usaha perkebunan, ikut mendorong petani dan usaha pertanian, pengrajin usaha kecil dan menengah, dan gerakan-gerakan kreatif pemuda, melalui unit-unit usaha dan jaringan bisnisnya.

Astra hadir untuk mendorong kesehatan masyarakat melalui Astra Untuk Indonesia Sehat dengan program GenerAKSI Sehat Indonesia (GSI) Astra di berbagai tempat di tanah air. Jangan lupa, GSI dalam Astra Untuk Indonesia Sehat, barulah satu bagian dalam banyak hal yang telah dilakukan Astra dengan empat pilar tanggungjawab sosialnya; tiga lainnya adalah, Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra Untuk Indonesia Hijau, Astra Untuk Indonesia Kreatif.

Kendati Astra bergerak di banyak bidang yang menuntut teknologi sebagai core-nya, Astra tentu saja memiliki visi pelestarian lingkungan yang sangat besar. Melalui pilar Astra Untuk Indonesia Cerdas, Astra memberikan beasiswa pendidikan, mengapresiasi para guru berprestasi, termasuk mendorong berkelanjutannya sejumlah sekolah alam, termasuk sekolah alam di Situbondo, Jawa Timur.

Di bidang lingkungan, bersama Perum Perhutani, Astra Forest mengonservasi keanekaragaman hayati kawasan hutan seluas 200 Ha, sebagai Eco Edu Tourism Area (Kawasan Wisata Pendidikan dan Ekosistim) berbasis pemberdayaan masyarakat. Kawasan itu diberi nama Haroto Pusako —dari bahasa Ocu, Kampar, Kepulauan Riau yang bermakna Harta Pusaka Ibu Pertiwi— yang memiliki bentang alam perbukitan hutan sekunder di kawasan Resort Pemangkuan Hutan Babakan Madang, Sentul, di wilayah administrasi kabupaten Bogor, berketinggian sekitar 300-500 mdpl., bertopografi landai hingga bergelombang terjal dengan kemiringan sekitar 15-40 persen. Kawasan-kawasan seperti ini harus dilestarikan keberadaannya.

Realitas apa yang hendak kita lihat dari semua pencapaian Astra sejauh ini. Bahwa Astra berusaha menghapus garis imajiner, yang menciptakan marjinalitas di tengah masyarakat —yang terlanjur tercipta karena kondisi sosial dan politik— dan rupanya Astra berhasil melakukannya.

Selama 60 tahun, dengan slogan To Continually Strive for Excellence (Terus Berjuang untuk Keunggulan) Astra telah berhasil membangun tujuh divisi usaha dan 33 anak perusahaan, belum termasuk jaringan usaha hasil merger dan jaringan distribusi (untuk semua produk Astra) yang meluas ke seluruh Indonesia. Astra International mempekerjakan 214.835 orang karyawan (data tahun 2016) dengan pendapatan Rp.181,1 triliun (data tahun 2016). Hasil ini sungguh luarbiasa untuk sumbangsih dan kerjakeras Astra selama enam dekade.

 

Kesederhanaan yang Berdampak Besar

Apa hubungan sejarah dan pencapaian Astra dengan kehadiran ojek gabah di kawasan persawahan Amohalo, di pinggiran kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang jauh dari pusat kegiatan Astra? Sekilas tampak tidak ada —namun sesungguhnya terasa ada dan dekat.

Tiga pendekatan dalam strategi usaha Astra setelah 50 tahun pra kemunculan Honda Revo di tahun 2007, memperlihatkan dengan jelas preposisi Astra di tengah masyarakat Indonesia di semua tingkatan dan di tengah iklim usaha yang keras. Bahwa Revo memang dirancang sebagai sepada motor untuk low segmented, namun tetap tangguh sebagai kendaraan harian. Dengan desain yang atraktif, Honda Revo dimunculkan sebagai antisipasi ramainya persaingan di segmen sepeda motor berjenis skutik dan sebagai kendaraan komuter dengan harga yang relatif terjangkau, membidik kalangan menengah ke bawah. Bagi mereka yang membutuhkan motor untuk dijadikan kendaraan harian, Revo menyajikan beragam keunggulan dibandingkan para kompetitornya. Tidak hanya kaum pekerja, tapi kalangan remaja dan mahasiswa juga menjadi target pasar penjualan Revo di Indonsia.

Inilah yang menjawab pertanyaan besar itu tadi; mengapa setelah lima dekade hadir dan melayani masyarakat, Astra kemudian meluncurkan produk yang mampu menjawab kebutuhan menengah ke bawah? Riset Astra selama bertahun-tahun dengan pendekatan (langsung dan tidak langsung) ke semua kalangan masyarakat berhasil menemukan celah dan mereduksi keinginan mereka ke dalam sebuah produk. Cara yang tampaknya sederhana namun ternyata berdampak sangat besar.

Para petani sawah di Amohalo bisa saja menggunakan produk lain, alih-alih memilih Honda Revo. Tetapi di persawahan dan medan geografis Amohalo, oleh para petani, Revo menjadi pilihan satu-satunya.

Senja menjelang saat kami meninggalkan Amohalo dengan kesan yang mendalam. Lumen merah senja seperti menjalar di langit, di atas kepala kami. Kami tidak perlu memacu kendaraan sebagaimana ketika kami datang siang tadi. Kami mau melihat aktifitas sore orang-orang di sini, saat kami berada di atas motor dengan kecepatan minimum.

Hari itu saya senang sekali di ajak oleh Frans. Saya senang menemukan orang-orang yang kreatif mengatasi masalah, atau paling tidak, saya menemukan gambaran detail bagaimana Astra menjadi perusahaan multinasional yang bisa menapaki pencapaian dan kesuksesan sebesar itu. Ya, sebab Astra memiliki sumber daya manusia Indonesia —yang menurut saya, rata-rata mampu berpikir inovatif seraya mendorong gagasan-gagasan cemerlang— yang mampu mengubah kualitas hidup di setiap era yang dilaluinya.

Tentu 60 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah kerja keras, bukan pula upaya yang mudah untuk terus memelihara komitmen pada masyarakat. Selamat berulang-tahun ke-60, Astra. Salam SATU Indonesia! [*]

 

*Feature ini diikutkan dalam Anugerah Pewarta Astra 2017 [Kategori Umum & Wartawan]

Iklan

[Cerpen] Mencerap Capung

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

BHARA melompati pematang dan terus berlari ke arah hutan. Dia tak hirau pada seruan Dewik yang berjarak cukup jauh di belakangnya. Wajah Dewik terlihat kesal sekali, tapi Bhara terus saja berlari. Kini Bhara sudah nyaris sampai di mulut hutan dan sebentar lagi akan segera menghilang. Tingkah Bhara itu adalah hasil dari pertengkaran kecil beberapa saat yang lalu.

***

“Jangan ikut!” Bhara nyaris berteriak.

“Kenapa tak boleh ikut! Teriak Dewik membalas, “kalian menyembunyikan sesuatu dariku, kan?” Wajah Dewik galak bukan main.

“Bukan tak boleh….tapi belum waktunya.” Bhara menyahut lagi, tangannya merenggut katapel yang tergantung pada paku di dinding.

“Ah, sama saja. Bilang saja kalau kalian tak mau mengajakku!” Dewik tetap bertahan pada sikapnya.

“Huh….!” Desah Bhara kasar. Ditepisnya tangan adiknya yang hendak merenggut ujung kemejanya. Dewik biasa melakukan itu jika berniat menahan abangnya agar tidak kemana-mana dan meninggalkannya sendirian. Tak akan dilepasnya ujung baju abangnya, sehingga ibu mereka datang melerai.

Bhara menggunakan kesempatan itu. Dia melompat ke beranda depan, lalu melompat sekali lagi, melewati tangga, menjejak tanah. Dewik berteriak kesal, memanggil ibu. Tapi Bhara sudah cukup jauh. Terpaksa Dewik pun mengejar.

Tapi lari Bhara tentu saja tak bisa disaingi oleh Dewik. Sebentar saja abangnya itu sudah sampai di hamparan sawah kering, dan dengan lincah melompat kesana-kemari, melampaui pematang. Orang-orang kampung baru usai panen raya, menyisakan deretan sawah kering yang dipenuhi timbunan jerami, dionggokkan dengan sengaja di tengah-tengah petakan.

Dewik tak melanjutkan pengejarannya. Dia menjatuhkan diri ke salah satu pematang, dan berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Hatinya kesal sekali. Entah apa yang sedang dirahasiakan abangnya itu.

***

Esok harinya, sepulang sekolah, Dewik sudah duduk gelisah di beranda depan. Sesekali ditengoknya jalan besar di depan rumahnya. Setiap kendaraan umum yang melintas diperhatikannya dengan saksama. Dan, pada setiap kendaraan yang berhenti, diharap-harapkannya sosok abangnya, si Bhara itu, yang turun.

Bhara bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama di kota kecamatan ini. Jam pulang sekolah Bhara seringkali lewat dari biasanya. Kadangkala, Dewik sudah usai makan siang dan membantu ibunya berbenah di dapur, barulah abangnya itu muncul.

Dewik mendesah lega, saat melihat sebuah angkot berhenti dan menurunkan abangnya. Dia harus bisa membujuk abangnya agar membawanya serta ke hutan kecil di pinggiran desa mereka. Itulah satu-satunya tekad Dewik hari ini.

Bhara tersenyum padanya, begitu kakinya lepas dari anak tangga terakhir dan menjejak beranda depan itu. Aneh, guman Dewik dalam hati.

“Hari ini abang harus membawaku bersama abang!” Dewik berseru pada Bhara. Keinginannya sudah tak tertahankan lagi. Begitu usai dia menegur abangnya serupa itu, sedikit kelegaan menyusupi hatinya.

Tapi abangnya tidak menanggapinya kasar kali ini. Bhara hanya tersenyum, mengangguk dan bilang, “tunggulah abang barang sebentar. Usai makan siang, kau boleh menemani abang ke hutan. Wak Bajin sudah menunggu di sana.” Kata Bhara, lalu masuk ke kamarnya.

Wak Bajin? Apa pula hubungan rahasia abangnya itu dengan Wak Bajin? Paman dari pihak ibunya itu sudah tak pantas lagi bergaul dengan remaja sepantaran Bhara. Dewik sekarang diliputi pertanyaan-pertanyaan baru. Dia tegak mematung di depan kamar abangnya.

Saat Bhara keluar kamar, Dewik terus saja menatap abangnya dengan wajah seperti sedang memohon sesuatu. “Hei….,” tegur Bhara, “kau harus belajar bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Jika kau kerap mendesak orang macam itu, bukan sesuatu yang kau harapkan yang datang, tapi kau lebih banyak kecewa.” Kata Bhara menyabarkan adiknya.

“Tenanglah barang sebentar, duduklah dulu. Kau harus belajar sabar seperti Capung. Hewan itu lebih pandai dari kau rupanya, ha ha ha….” tukas Bhara sambil tertawa, meninggalkannya sendirian menuju ruang makan.

Bah! Bhara memang senang mengulur-ulur waktu. Senang hatinya jika melihatku gelisah macam ini—gumam Dewik. Tapi, apa sebenarnya yang dilakukan abangnya itu di tengah hutan bersama Wak Bajin. Sepengetahuan Dewik, di sebalik hutan kecil itu adalah padang luas yang ditumbuhi Ilalang dan sedikit perdu berduri. Kadang burung Branjangan menyimpan telur mereka di cerukan tanah, di bawah perdu-perdu itu. Anak remaja senang sekali memerangkap mereka untuk dipelihara. Tapi lebih sering menunggui dan menjerat biawak yang datang hendak mencuri telur Branjangan.

Dewik pernah ke padang itu. Arealnya cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan bola sepak. Padang ilalang itu adalah pemisah antara areal hutan kecil dan kaki bukit Sangampuri. Dari bukit itulah, ada percabangan anak sungai yang mengalir melewati pinggiran padang. Anakan sungai itu tak lebar, hanya dua meter setengah lebarnya, dan kedalaman airnya hanya sebatas lutut remaja. Airnya mengalir tenang, walau musim penghujan sekalipun. Maka itulah, orang-orang desa memanfaatkan sumber aliran air ini sebagai sumber pengairan sekunder bagi hamparan sawah di pinggiran desa.

Dewik hampir saja terlelap akibat lelah menunggu, saat dia terkejut disentak abangnya. Bhara tersenyum padanya. “Ayo, sekarang saatnya. Wak Bajin dan anak-anak lainnya pasti sudah menunggu,’ ujar Bhara.

***

Ah, mereka tak cuma berdua rupanya. Wak Bajin sudah menunggu bersama anak-anak lainnya. Untuk membunuh penasarannya, Dewik memutuskan diam saja sambil mengikuti langkah abangnya. Tidak lima menit, mereka berdua sudah sampai di batas antara sawah dan mulut hutan.

Abangnya berjalan pelan, seperti menuntun dirinya. Sesekali abangnya mempermainkan ketapel kayu yang tergantung di lehernya. Agak lama kemudian, telinga Dewik sudah menangkap suara gurau anak-remaja lainnya. Berarti mereka hampir mencapai tepian lain dari hutan kecil ini.

Begitu sampai pada kerumunan anak-remaja lainnya, mata Dewik dibuat terpukau dengan pemandangan di depannya. Padang Ilalang itu ternyata sedang memekarkan banyak sekali bunga rumput. Warnanya jingga dan kuning, elok sekali. Pemandangan itu menghampar sempurna dan luar biasa indah.

Tapi, tak dilihatnya Wak Bajin. Kemana pamannya itu? Kata Bhara, pamannya itu ikut serta pula hari ini. “Kemana Wak Bajin?” Tanya Dewik pada abangnya.

“Oh, Wak Bajin sebentar lagi akan muncul. Tapi paman sudah sedari tadi di sini, sedang melakukan sesuatu di dalam hutan sana,” kata Bhara sambil menunjuk ke arah hutan kecil di belakang mereka. “Kau mau melihat apa yang dilakukan Wak Bajin, ya?” Tanya Bhara. Dewik mengangguk mengiyakan.

Bhara kembali berjalan mendahuluinya. Mereka berjalan, hingga mendapati pinggiran aliran sungai kecil. Selanjutnya mereka berjalan menelusuri pinggiran sungai kecil itu, sampai mata mereka melihat seorang lelaki dewasa. Itu Wak Bajin, dan dia sedang merunduk-runduk, mendekatkan matanya ke semak air di pinggiran sungai. Serius sekali tampaknya dengan apa yang sedang dilakukannya.

“Mereka hampir kering semua!” Seru Wak Bajin.

Wak Bajin adalah sarjana biologi dari perguruan tinggi ilmu pendidikan di Jakarta. Baru sekitar dua tahun dia kembali ke desa ini. Rencananya, Wak Bajin akan mengabdi sebagai guru pada salah satu sekolah menengah pertama di sini. Tapi nasib belum berpihak padanya. Tak ada lowongan bagi guru biologi dalam waktu dekat, dan oleh kepala sekolah dia diminta bersabar menunggu. Sesekali waktu, Wak Bajin mengisi jam mengajar yang kosong sebagai guru pengganti. Lumayan honornya.

Dewik menjulurkan lehernya, hendak pula melihat lebih dekat apa yang sedang dikerjakan pamannya itu. Tiba-tiba Dewik menjerit takut. “Itu kan….ulat!” Teriak Dewik sambil berjalan mundur. Dia nyaris jatuh ke air, jika saja Bhara tak tangkas menyambar tanggannya.

Bhara dan Wak Bajin tertawa terbahak-bahak. Wak Bajin menarik tangan Dewik yang masih setengah takut agar mendekat. Wak Bajin memegang pundaknya, sambil menunjuk pada sejumlah benda yang melekat tak bergerak di batang-batang semak air.

“Itu bukan ulat. Itu bakal Capung, disebut juga Nimfa,” jelas Wak Bajin, tersenyum, “Nah, lihatlah Wik, beberapa capung sudah berhasil keluar dari tubuh Nimfa, dan mereka sedang menunggu sayap-sayapnya kering dan kakinya kuat untuk bisa terbang.”

Dewik memang melihat ada banyak Capung yang masih bertengger diam di batang-batang semak air. Ada yang sayapnya masih terlipat kusut, tapi sebagaian besar sudah mengembang dan sedang berusaha mengepak-ngepak gugup.

“Memang agak lama mereka bertingkah macam itu sebelum benar-benar siap untuk terbang,” jelas Wak Bajin. “Setelah meninggalkan tubuh Nimfa dan mengering dengan sempurna, capung akan mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi satu dan sayapnya dinaik-turunkan. Nah, seperti itu,” kata Wak bajin sambil menunjuk seekor capung yang sedang mengerak-gerakkan sayap dan kakinya.

“Sebelum kalian datang, sudah banyak capung yang berhasil terbang, dan langsung menuju ke padang itu.” Kata Wak Bajin sambil menunjuk padang Ilalang yang dipenuhi bebungaan jingga dan kuning.

“Ini rupanya yang kalian rahasiakan selama ini. Mengapa tak memberitahuku sejak awal?” Ujar Dewik bersungut-sungut, protes.

Bhara tertawa-tawa senang, dan Wak Bajin hanya tersenyum. “Tadinya paman hendak mengajakmu juga, sebab bagus sekali jika kau mempelajari capung ini sejak awal. Tapi abangmu itu memang sengaja hendak mengerjaimu saja.”

Dewik merengut kecewa. Wak Bajin kembali tersenyum melihat wajah Dewik serupa itu. “Tak mengapa. Wak Bajin akan jelaskan lagi,” ujar Wak Bajin membujuknya.

“Capung memang senang bermain di permukaan air. Seperti biasa, mereka bertempat di aliran air macam ini. Walau ada juga yang senang tinggal di aliran air yang cuklup deras. Ketika hendak bertelur, Capung betina akan mencari air dengan kedangkalan tertentu dan meletakkan telur-telurnya di situ. Telur Capung berupa untaian bola putih yang sangat kecil namun kuat. Setelah menetas, kepompong atau nimfa Capung akan tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun. Untuk bisa bertahan hidup, dengan capitnya yang kuat, nimfa memakan hewan kecil seperti ikan atau berudu. Nimfa menggunakan waktu-waktu itu untuk memperkuat lapisan tubuhnya.”

Wak Bajin kini berjongkok sambil meraup air sungai. “Itulah mengapa orang desa mempercayai Capung sebagai penanda air bersih. Karena, ketika masih berupa nimfa, sebagian besar hidup Capung dihabiskannya di dalam air. Makanya, nimfa Capung butuh kondisi air yang baik; bersih dan tidak mengandung zat pencemar. Jika orang-orang melihat nimfa dalam air, atau melihat Capung beterbangan di atas permukaan air, itu artinya, air tersebut bersih.”

“Selama tiga atau empat tahun itu, nimfa akan melepaskan kulitnya dalam empat masa yang berbeda. Hingga sampai pada perubahan terakhir, Nimfa akan meninggalkan air dengan memanjati batang tumbuhan atau batu, hingga kaki-kakinya terpancang kokoh. Nimfa akan berdiam di situ, melakukan proses pengubahan wujudnya menjadi capung, seperti yang kita lihat sekarang ini.”

Dewik mengangguk-angguk mengerti. Kini dia mulai memberanikan diri mendekati beberapa capung yang sedang bersiap terbang. Wak Bajin tersenyum melihatnya. “Lalu kulitnya lamanya bagaimana?” Tanya Dewik ingin tahu.

“Itu namanya Exuviae. Setelah kering akan jatuh sendiri dan terbawa air. Itu proses alami, Dewik,” jelas Wak Bajin.

“Manusia pun bisa belajar dari mencerap cara hidup Capung. Manusia harus arif menjaga lingkungannya agar tetap bersih sebagaimana halnya Capung. Menghargai kehidupan seperti yang tercermin dari keseluruhan proses perubahan dan hidup Capung. Secara kerohanian, Capung juga adalah contoh yang baik, sebagaimana Capung dewasa yang menjaga air dalam masa hidupnya yang demikian singkat.” Jelas Wak Bajin sambil tersenyum.

Setelah menjelaskan semua proses alami Capung, Wak Bajin mengajak Bhara dan Dewik meninggalkan tempat itu untuk bergabung bersama anak-remaja lainnya. Mereka semua melepas lelah di gundukan tanah sambil memandangi Capung-capung yang beterbangan riang di antara bunga-bunga rumput. ***

Capung (Dragonfy) di sisi sungai berkabut (sumber foto: accad.osu.edu)


%d blogger menyukai ini: