Tag Archives: sastrawan

[Buku Baru] Halte Biru | Afrilia Utami | Kumpulan Puisi

Halte Biru

Afrilia Utami

Penerbit Silalatu

Genre Puisi

 

lihatlah taman di dadaku

bermain sepercik bunga api

dengan titik hujan….

 

“aku memanggil-Mu,

Tuhanku yang sempurna.”

 

“Afrilia Utami masih muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya puisi, seperti sudah berlangsung lama. Jika pun ada hal-hal yang diperhatikan secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata-kata agar puisi tidak lebihan gula atau kekurangan garam.” Acep Zamzam Noer, sastrawan, budayawan.

“Afrilia Utami menulis soal-soal sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Saya menyimpan keyakinan dan harapan besar kepada Afrilia bahwa satu saat ia akan menjadi penyair (penulis) yang diperhitungkan di Indonesia kalau dua hal terjadi tetap menjadi bagian dari dirinya. Dalam usianya kini Afrilia memiliki modal baik seorang penulis, pikiran yang cerdas dan hati yang peka.” Ashmansyah Timutiah, penyair, budayawan.

Halte Biru 

Judul Buku : Halte Biru

Penulis : Afrilia Utami

Penerbit : Penerbit Silalatu

ISBN : 978-979-16947-7-3

Pengantar : Hudan Hidayat

Harga Penerbit : Rp.35.000 + (Belum termasuk FOB atau Ongkir)

 

Cara Pemesanan:

  1. Via SMS. format Nama(spasi)Alamat Lengkap Rumah(spasi)Kuantiti Pemesanan(spasi)Tanda bukti transfer akumulasi dari harga+FOB disesuaikan wilayahnya. Tanda bukti bisa dikirimkan ke email: haltebiru@yahoo.co.id No. Tlp.: 082240205509 (Rani Ramdani) No. Rek.: BCA 3211019725 a.n. Rani Ramdani
  2. Via email langsung. format sama dengan butir (1).
  3. Kemudian tunggu konfirmasi pengiriman.

[Esai] Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay

Si Jenaka Kwee Tek Hoay2

PERIODISASI sastra yang memuat sejarah kepengarangan Indonesia sejak 1920-an itu, tidak mengapreasiasi karya-karya sastra sebelumnya. Padahal kesusasteraan Indonesia juga dibangun oleh karya-karya sastrawan Melayu-Tiong Hoa. Beberapa kritikus sastra menyebut periodisasi itu tidak jujur. Periodisasi itu terbentur sikap politis kolonial Hindia dalam Commissie Voor de VoLfcslectuur.

Claudine Salmon, seorang peneliti Perancis, mencatat 3.000 karya sastra dihasilkan oleh para sastrawan Melayu-Tiong Hoa seabad lalu. Artinya, sejak akhir abad ke-19, para sastrawan Melayu-Tiong Hoa sudah berkontribusi untuk sastra Indonesia.

Nama yang paling menonjol adalah Kwee Tek Hoay. Novelis dan penulis drama kelahiran Bogor, 31 Juli 1886, ini adalah pemimpin surat kabar, bahkan menulis buku sejarah dan agama. Dua karya fenomenalnya, Drama di Boeven Digoel dan Zonder Lentera. Sayangnya, nama Kwee Tek Hoay tidak masuk dalam periodisasi sastra Indonesia, bahkan jarang dikenal.

Karangan Kwee Tek Hoay pada 1932 itu mampu mengangkat persoalan kecil ke dimensi yang lebih besar. Simaklah Zonder Lentera, yang bertumpu pada masalah kecil di lingkungannya, lalu menyentuh masalah-masalah besar. Berawal dari tertangkapnya seorang anak muda saat bersepeda tanpa lampu, lalu mengalir ke soal ketimpangan sosial, politik pemisahan, dan banyak lainnya yang mengusik di era itu.

Selain dua naskah itu, Kwee Tek Hoay juga menulis Nonton Cap Go Meh, Boenga Roos dari Tjikembang, Roema Sekola jang Saja Impiken, Drama dari Krakatau, dan Pentjuri Hati. Karya-karya Kwee Tek Hoay begitu komunikatif sebab menggunakan bahasa Melayu Pasar.

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Novel The Rose of Cikembang karya Kwee Tek Hoay (dok. Lontar Library)

Di saat Belanda belum menerapkan politik etis lewat Balai Pustaka, Kwee Tek Hoay sudah merepsentasikan Melayu-Tiong Hoa di arus kesusasteraan zaman itu. Di zamannya berkembang penerbitan yang dibidani orang-orang Melayu-Tiong Hoa; mencetak almanak, memproduksi buku puisi dan cerita bersambung, bahkan mendirikan surat kabar. Kwee Tek Hoay berperan secara dominan.

Sebagai orang yang hanya berpendidikan setingkat sekolah dasar, pencapaian kesusasteraan Kwee Tek Hoay sungguh luar biasa. Di zaman yang tidak banyak memberi tempat bagi kalangan Melayu-Tiong Hoa, Kwee Tek Hoay belajar sendiri dan mencapai ketajaman intuisi keliterasiannya dalam tingkatan yang tinggi.

Di zaman yang traditional minded, Kwee Tek Hoay justru tampil demokratis. Wawasannya terbuka, jenaka, pandai berkelakar pula. Hal-hal baik dari barat dan timur diambilnya sebagai dasar gagasan dalam karya. Kemampuannya berkelakar dapat disimak dalam Nonton Cap Go Meh. Dengan jenaka Kwee Tek Hoay mengkritisi kekolotan tradisi Melayu-Tiong Hoa, lewat karya yang lahir tahun 1930-an itu.

Sepasang suami istri Tiong Hoa, Thomas dan Lies berencana menonton Cap Go Meh —sebuah perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Sebagai perempuan kolot, Lies menolak ikut, sebab tabu keluar bersama rombongan teman suaminya. Thomas kesal. Ia menyuruh Franz temannya menyamar menjadi perempuan agar Lies cemburu. Mengira suaminya ditemani perempuan sungguhan, Lies juga meminta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria untuk menemaninya. Benar saja, gantian Thomas yang cemburu. Sepulang nonton, mereka bertengkar, namun akhirnya tertawa setelah tahu kenyataan sesungguhnya. Menarik bukan?

 

Melahirkan Sastrawan Perempuan.

Kwee Tek Hoay membidani lahirnya para penulis perempuan Melayu-Tiong Hoa melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama yang ia pimpin pada 1926-1932. Ia menyediakan halaman untuk karya mereka. Ia koreksi, lalu memuatnya. Secara normatif, ia pun membela perempuan dalam karya-karyanya.

Putri sulungnya, Kwee Yat Nio adalah bukti didikan Kwee Tek Hoay yang paling kentara. Yat Nio termasuk sastrawan cum jurnalis perempuan Melayu-Tiong Hoa paling berpengaruh. Sejak masih remaja, Yat Nio mengikuti kegiatan ayahnya. Karya sastra dan tulisan Yat Nio mewakili pemikiran perempuan Melayu-Tiong Hoa ketika itu, dan banyak termuat di Maanblat Istri (berbahasa Belanda).

Tetapi Kwee Tek Hoay tak hanya bergelimang di lingkungannya belaka. Ia mencatat tentang gerakan Indonesia modern. Dalam serial tulisan yang berjudul Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia, ia menulis tentang sekolah dan gerakan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). Pada tahun 1969, Cornell University menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Asal tahu saja, Gerakan Boedi Oetomo banyak dipengaruhi oleh THHK ini.

Sayang sekali, pada 4 Juli 1952, rumah Kwee Tek Hoay di Cicurug, Sukabumi, disatroni maling. Ia melawan, namun banyaknya luka akibat aniaya para begundal itu, tak mampu membuatnya bertahan. Sebelum wafat, ia sempat meminta agar jenazahnya kelak diperabukan. Kwee Tek Hoay wafat dalam usia 65 tahun.

Selama hidupnya, Kwee Tek Hoay menulis 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia juga terhitung pernah pemimpin harian Sin Bin dan empat majalah lainnya. 115 karyanya berhasil ditelusuri. Sisanya masih dalam pencarian. Pada Hari Pahlawan 10 November 2011, pemerintah menganugerahinya Lencana Budaya Parama Dharma, untuk perannya dalam kesusastraan Indonesia. (IQM)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

Saga Siersa dan Erisca Saravati berlakon dalam Pentjoeri Hati (dok. Teater Bejana)

(JENDELA, Majalah Story, Edisi 46 / Th. IV / Juli 2013)


[Resensi] Bercermin pada Badik

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Judul : Badik

Penulis : Aspar Paturusi

Penerbit : Garis Warna Indonesia, Jakarta

Terbit : I, Maret 2011

Halaman : 372 halaman

Harga : Rp. 100.000

 

SAMBIL memegang buku pada kedua tangannya, seorang perempuan tua berjalan lurus ke arah Aspar Paturusi dan istrinya. Perempuan itu barusan dari meja counter penjualan. Begitu bermuka-muka dengan sastrawan dan aktor Aspar Paturusi, perempuan tua itu meminta Aspar menandatangani buku Badik, seraya bilang, ”duit cepat hilang, tapi buku akan tersimpan lama.” Katanya sambil tersenyum. Terharu, nyaris saja, Aspar meminta panitia mengembalikan uang perempuan itu, jika tak ingat bahwa perempuan itu pasti akan sangat tersinggung.

Kejadian barusan itu seusai Aspar Paturusi bersama istri berduet dalam sebuah pembacaan puisi, yang menandai soft launching buku Badik, untuk kalangan terbatas. Nama Aspar Paturusi memang tak asing lagi bagi penikmat sastra dan seni pementasan era 60-an hingga kini. Aktor yang pernah meraih Piala Vidia untuk Aktor Pemeran Utama Pria Terbaik 1992 dalam sinetron Anak Hilang, ini rasanya telah lengkap menjalani semua bentuk berkesenian.

Tapi yang juga sama pentingnya adalah peran Aspar dalam kesusasteraan Indonesia. Jejak kesusasteraan Aspar dapat dirujuk sejak tahun 1959 hingga saat ini. Dalam pada itu, Aspar terlanjur dikenal sebagai sastrawan asal Makassar yang menonjol. Buku Badik inilah puncak pencapaian kepenyairannya (poeta legalization).

Puisi LakekomaE (hal.345) juga menarik perhatian saya. Puisi ini termasuk karya yang berhasil mereduksi segala persoalan sosial berupa pertanyaan inti yang kritis. Ya, akan kemana engkau? Begitulah Aspar bertanya. LakekomaE, seolah sedang mempertanyakan secara langsung langkah kita dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mencuat di sekitar kita.

Puisi LakekomaE adalah sebuah puisi unik yang tidak hanya berpijak pada teks semata, tetapi juga di luar teks. Pengulangan bunyi dan tekstur kata LakekomaE dapat memberi efek pada pembacaan (tergantung suasana emosi pembacanya pada tiap baitnya).

Pada puisi Badik (2010), yang diangkat sebagai judul buku ini, Aspar berhasil membentuk ulang filosofi (re-building philosophy) sebuah Badik.

Kebanyakan orang, Badik seringkali diidentikkan pada sesuatu yang penuh kekerasan. Ini tentu anggapan yang keliru. Dalam kebudayaan dan peradatan Bugis-Makassar, dikenal tiga filosofi yang melekat pada Badik (Tellu Cappa; tiga ujung); setiap orang harus menjaga ujung lidahnya (Cappa Lila/ujung lidah), agar tidak mudah mempermalukan orang lain. Harus menjaga ujung martabatnya (Cappa Buto), agar tidak melakukan hal-hal yang memalukan baginya. Dan, menjaga ujung badiknya (Cappa Badi’), agar tidak direndahkan, dipermalukan, yang akan berujung pada pertentangan.

 

badik itu tidak terselip di pinggang

tapi harus kukuh tegak di hati

badik itu bernama badik iman

pamornya berukir takwa

(Badik, 2010, hal.161)

 

Bahwa secara peristiadatan, pada Badik masih melekat makna Tellu Cappa. Namun, prakondisi dan jaman akan memberi kita ruang yang luas pada pemaknaan Badik. Makna senjata itu tidak lagi sekadar artifisial, tetapi pemaknaannya lebih pada soal keimanan, logika dan ketakwaan.

Buku Badik ini amat menarik. Penyair Aspar Paturusi berhasil memadukan puisi-puisi lama dengan yang baru. Penggabungan ini akhirnya menciptakan ramuan yang asyik sekali. Karya puisi lama Aspar dalam buku ini berangka tahun 1964 hingga yang terbaru, tahun 2011.

Puisi-puisi Aspar memang melegitimasi semua kondisi yang sedang terjadi. Dengan penyampaian yang santun, metafora yang terang, dan diksi yang terpilih, Aspar bukan saja berhasil meletakkan segel pengesahan terhadap kondisi sekitar kita, tetapi juga membangun perlambang baru terhadap jaman yang sedang mengemuka. Maka tidak keliru, apabila Maman S. Mahayana, pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, menyebut puisi-puisi Aspar telah sampai pada apa yang dikatakan Chairil Anwar sebagai; menggali kata hingga ke putih tulang.

Aspar tidak saja dianggap sebagai salah satu penyair terkemuka saat ini, namun konsistensinya pada proses kepenyairan dengan tetap berada pada ‘jalur tengah’.

Menurut Maman S. Mahayana dalam kata pengantarnya pada buku Badik, ada tiga jalur penciptaan puisi pada para penyair Indonesia. Ada golongan penyair yang mewakili jalur puisi gelap, jalur tengah, dan jalur puisi terang. Bentuk pembaitan dan penciptaan metafora yang lebih berbagai adalah bagian dari usaha capaian estetik mereka. Para penyair yang mencoba mengikuti jalur ini, tidak sedikit yang terjerembab masuk pada model epigonisme Afrizal Malna.

Pada jalur puisi terang, masih menurut Maman, kecenderungan penyair memanfaatkan kelugasan bahasa Chairil Anwar yang membangun metafora dalam larik-larik melalui frasa atau kalimat lengkap; usaha menjaga persajakan dan rima akhir, menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan.

Aspar justru sangat tenang memilih jalur tengah; berjaya dalam merayakan metafora dengan frasa atau kalimat yang sengaja diciptakan dengan memberi ruang kosong bagi interpretasi pembaca.

Dari yang saya lihat, jejak Aspar telah mematangkan jalur tengah dalam khazanah kepenyairan Indonesia. Puisi-puisinya yang orisinil, tidak terjebak kata yang diindah-indahkan, mampu membahasakan kondisi di sekitarnya dengan tendensi yang tak berlebihan namun membangun pengaruh kuat pada setiap pembacanya.

Satu hal lainnya, Aspar pun tidak memilih mengasingkan diri dari perkembangan medium literasi, seperti yang sangat mempengaruhi kebanyakan penyair mapan. Dia mampu meninggalkan zona nyamannya dan memberi pencerahan serta edukasi pada berbagai lapisan penikmat karyanya dengan ikut membaginya dalam jejaring sosial. ***

Buku Kumpulan Puisi BADIK (foto: garis warna indonesia)


%d blogger menyukai ini: