Tag Archives: sardinia

[Cerpen] Kapal Terakhir | Jawa Pos | Minggu, 23 November 2014

Kapal Terakhir

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Kapal Terakhir2

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

RODERICK menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.”

Tetapi Slavina tak bergeming. Matanya lurus ke aliran air sungai Nieuwe Maas yang mengalir pelan menuju delta Rotte dengan puluhan pintu air di ujung Hoogstraat yang dibangun tahun 1260 itu. Slavina menggumam. Gumaman yang datar kemudian lembut —seperti suara yang jatuh di tengah musim dingin di akhir November.

Gumam yang membuat jantung Roderick seperti berhenti. Kini, ia tak akan seyakin apa yang ia sangkakan sebelum meninggalkan Soerabaja. Keadaan ini ternyata tak akan baik-baik saja. Ini kekalahannya? Kekalahan dari sesuatu yang diimpikan Slavina?

Juli 1825. Seperti ada kerudung yang menyelimuti wajah Slavina. Seperti wajah yang diselimuti hamparan salju. Kemurungan yang datang bergegas. Mata Slavina juga sedingin angin di bulan-bulan bersalju. Hangatnya angin laut yang berhembus dari selatan seperti tak akan pernah dirasakan gadis itu lagi.

“Bicaralah, Sayang.” Pinta Roderick. Ia ingin berharap agar gadis di sisinya itu menusukkan rumpunan kata-kata menyakitkan tepat ke jantungnya. “Katakanlah bahwa aku lelaki paling terkutuk di muka bumi.”

Suara lelaki itu nyaris meratap.

 

Di tepian Brantas, Soerabaja

Srijanti duduk di beranda belakang rumahnya, memandangi aliran air sungai Brantas yang tenang. Rintik kecil air hujan bentrok di permukaannya. Mata gadis itu juga tiris. Semestinya, harmoni itu bisa menenteramkan hatinya. Tetapi Srijanti sedang tak peduli.

Ini April yang gerimis dan waktu menggigil di aliran Brantas. Kehangatan di dada mereka sudah pergi. Pinggiran pagar beranda di mana Srijanti duduk, berderit menyedihkan. Tumit gadis itu sengaja dibentur-benturkan ke kisi-kisi bercat hijau. Roderick bangkit dari duduknya, pinggulnya kebas. Ia berjalan ke arah Srijanti dan menopangkan tangannya di pinggiran pagar beranda.

Srijanti mendehem. “Kau jadi pulang ke Rotterdam?” Ia menyela suara rerintik pada atap sirap. Setelah bergumul berhari-hari dengan perasaannya, ia akhirnya bersedia menerima kedatangan Roderick.

Sepekan lalu, tersebar kabar rencana kepulangan Roderick ke Rotterdam. Hampir setiap klerk di kantor Keresidenan Soerabaja itu menggunjingkan ihwal kepulangannya yang tiba-tiba. Entah bagaimana ihwal itu pun bocor pada Srijanti. Ada nama Slavina terselip di antara pembicaraan orang-orang sekantor.

Namun Roderick tak sedang mencemaskan gunjingan itu dan siapa orang yang telah menyebarkannya. Saat ini, ada benda besar berkilat di pangkuan Srijanti yang membuat lelaki itu harus bicara hati-hati. “Kau bisa menahanku,” tukas Roderick segera. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan memandang searah pandangan Srijanti, “aku akan tetap di sini jika kau inginkan.”

Heh…” Srijanti tersenyum tipis. “Untuk apa?”

Pertanyaan pendek Srijanti membuat lelaki itu tertunduk lagi.

**

Entah kenapa ia menjadi canggung di depan Srijanti. Padahal, setahun terakhir ini, mereka selalu lancar membincangkan banyak hal. Srijanti selalu bisa memancingnya agar bercerita tentang kisah heroik di Jardin des Plantes di istana Versailles, atau tentang gurihnya Bottarga di sebuah motel kecil di Sardinia. Kadang Roderick pun sukar untuk tak memamerkan lezatnya Cabernet Sauvignon yang diproses dari anggur-anggur bermutu di sepanjang Ribera del Duero. Srijanti lalu menimpalinya dengan puluhan pertanyaan saat Roderick berkisah tentang bebungaan cantik yang mekar di perbukitan Savoy.

“Untuk cerita-cerita yang belum sempat aku kisahkan,” Roderick segera menjawab pertanyaan Srijanti tadi.

Situasi mereka saat ini tak seperti kata Scherezade tentang waktu yang menakjubkan, yang seharusnya dimiliki setiap pasangan kekasih saat mereka memiliki kisah untuk diceritakan. Kisah yang layak mereka pertukarkan.

Selalu ada kelirihan dalam suara Srijanti dan itu membuat darah Roderick memompa dengan cepat. Lelaki itu belum pernah cemas luar biasa sampai ketika ia mendapati Srijanti duduk sendirian dengan belati besar di pangkuannya.

“Oh, semua itu tak penting lagi bagiku.”

“Tapi penting bagiku.” Roderick menggeleng, “aku hargai setiap waktu bersamamu.”

“Seperti poppy yang menjadi benar hanya karena orang-orang menyukainya?” Srijanti lagi-lagi membuat Roderick didera rasa bersalah.

“Tidak seperti itu,” desis Roderick.

Srijanti memalingkan wajahnya. Matanya dipenuhi penyesalan. “Apakah kau akan membenciku, jika aku menjadi penyebab hilangnya satu-satunya harapanmu yang paling berharga, walau itu akan jadi sebab kehancuranku sendiri?”

“Jangan, Sri…” Roderick menyentuh lengan gadis itu.

**

Srijanti bisa membuat Roderick kehilangan kata-kata. Setahun lalu, betapa menyenangkan memulai pertemuan dengan gadis itu, saat Roderick dihinggapi kebosanan di jamuan makan malam di kantor Keresidenan Soerabaja. Srijanti memperkenalkan diri dan segera membuat suasana beku di hati lelaki itu menjadi cair. Lalu, pertemuan demi pertemuan membuat Roderick bisa melepaskan diri dari himpitan jenuh akibat rutinitas tugasnya.

Mereka punya banyak alasan untuk bertemu. Mengisi sore di taman kota di depan kantor Keresidenan, atau duduk bertukar cerita di jamuan teh sore. Srijanti merasa begitu romantis saat bersama Roderick bersampan menyusuri sungai Brantas.

Srijanti menjadikan tiap pertemuan itu sebagai alasannya membangun perasaan. Roderick luput menyadari dan mengira semua baik-baik saja.

“Kau lihat. Betapa jahatnya aku yang hendak merebut harapan perempuan lain.”

“Sri, hentikan..!”

“Oh, naifnya aku, Roderick.”

Mata Roderick mengatup. “Aku mohon, Sri…”

Wajah Srijanti kembali berpaling ke aliran Brantas. Lingkaran rintik hujan kini merata di permukaan sungai itu. Roderick harus membayar setiap jengkal kerumitan ini. Kecemasan kian mencengkeram hatinya setelah Srijanti menuntaskan rajukannya.

“Aku tak pernah menduga kita akan berada di posisi ini.”

Ucapan Roderick itu membuat mata Srijanti berkaca-kaca. Baginya, lelaki itu seketika berubah menjadi sosok yang asing. “Kau bahkan tak bisa meyakinkan dirimu sendiri,” pungkas Srijanti.

Wajah Roderick panas. Kata-kata Srijanti begitu keras menamparnya.

 

Di geladak de Luijpaert, Samudera Pasifik

Angin lemah dari buritan membuat de Luijpaert bergerak lamban. Roderick menantikan hari saat kapal ini merapat di dermaga Rotterdam. Tiga bulan perjalanan yang membosankan. Masih tersisa dua pekan lagi baginya merasakan siksaan mabuk laut. Sedikit sekali waktunya untuk membaca, dan masih banyak buku yang sepertinya tak akan terbuka.

Ia telah menerima semua perasaan Srijanti. Bagi Roderick, kini tersisa sebuah permintaan lain yang harus ia penuhi. Sekujur tubuhnya tiba-tiba ngilu dan kepahitan mendera batinnya, saat ia mendapati wajahnya di pupil mata Srijanti yang membesar.

Roderick nyaris tak pernah berada di geladak de Luijpaert. Sempat ia singkirkan setiap kecemasannya pada kondisi Slavina. Tetapi, seperti hari-hari yang harus dilalui seorang penyihir tua, seperti itulah perasaan terkutuk yang membalun di dadanya.

Pada detik terakhir setelah meriam kecil de Luijpaert dibunyikan untuk menandai keberangkatannya, entah dari mana datangnya keputusan yang kini membuatnya tegak di geladak kapal terakhir yang meninggalkan Soerabaja di akhir musim pelayaran tahun 1825.

Menuju Rotterdam, bagi Roderick, adalah harapan untuk menyelesaikan sebuah kerumitan lagi, setelah ia gagal menuntaskan kerumitan yang lain.

Di geladak de Luijpaert, lelaki itu membayangkan senyum di wajah Slavina. Ini perjalanan penebusan seorang lelaki pemimpi yang dungu. Ia kini merasa seperti Pandora yang tergila-gila pada kotak yang menyimpan semua kutukannya sendiri.

 

Mata lelaki itu adalah Pandora

“Sayang, aku di sini sekarang. Aku menepati janjiku.” Roderick ingin agar Slavina menyahutinya. Warna tembaga di ufuk membias di aliran Nieuwe Maas.

Slavina hanya menatap nanar pada lelaki yang sangat ia harapkan kehadirannya itu. Segaris senyum tipis menghiasi sudut bibir gadis itu saat Roderick mendatanginya selepas turun dari de Luijpaert.

Roderick hendak mendahului waktu yang sudah koyak dan hanya akan menemukan Slavina yang terbebas dari kerinduan yang meremas hatinya. Tetapi, Roderick hanya menemukan gadis yang duduk diam di kursi yang disiapkan untuknya di beranda ini. Slavina duduk berselimut, dalam pelukan lumen lembut cahaya mentari sore.

Langit sore belum sempurna merah tembaga saat Roderick mendekati punggung Slavina di beranda itu. Air mata lelaki itu tumpah, saat menyadari nasibnya yang buruk: Slavina bahkan tak mengenali wajahnya lagi.

Wajah yang dipinta Slavina lima tahun lalu dan di tiga bulan terakhir ini.

Roderick memejamkan mata, merasa begitu terkutuk, saat ia mendengar Slavina terus mengumamkan kata-kata yang sama. “Aku siap, Sayang. Aku siap untuk hari ini.”

Gumaman yang terus ia ulangi, sampai kepalanya terkulai.

Roderick melihat kehancuran berderap mendatanginya. Wajah pias Slavina tertutupi rambutnya yang kemerahan. Gadis itu pergi begitu saja, tanpa benar-benar menyadari kehadiran Roderick. Seperti saat Roderick menemukan pantulan wajahnya di pupil mata Srijanti, ia juga menemukan wajahnya di pupil mata Slavina.

“Cinta yang menghidupkan itu, nyatanya telah membunuhku,” Roderick terngiang ucapan Srijanti sebelum gadis itu mengiris pipa nadinya dengan belati besar di pangkuannya. Betapa Roderick menyadari, matanya telah menjadi Pandora: kotak yang berhasil menampung semua kemalangan. (*)

Molenvliet, Juni 2014

Twitter: @IlhamQM

Catatan:

Klerk: pegawai

Poppy: nama lain candu (Papaver somniferum L.)

 


[Cerpen] Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

SEORANG wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Sardinia, 2009

Catatan :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda. 

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam. 

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro. 

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari,Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna

*) Salah satu cerpen yang termuat dalam Kumcer “Membunuh Gibran” (2011).

**) Dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu 17 Juli 2011.

Woman In A Blue Summer Dress Standing Alone Enjoying View On The Mediterranean Sea Cyprus (sumber: flickr)

 

 


%d blogger menyukai ini: