Tag Archives: pos

[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.

Iklan

[Arsip] Uang untuk Kepala Daerah Harus Jelas

Jakarta, KP.

Departemen Dalam Negeri (Depdagri) saat ini tengah menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang merupakan penyempurnaan PP No.109 Tahun 2000 yang mengatur tentang hak-hak keuangan kepala daerah. Alasannya, ketentuan yang ada di PP 109 itu sudah kadaluarsa, tidak bisa mengakomodir dinamika yang berkembang. Aturan yang baru juga akan lebih menjamin kepastian anggaran bagi kegiatan-kegiatan kepala daerah-wakil kepala daerah.

“Dana untuk kepala daerah harus jelas, supaya fair. Saya sudah bicara dengan menteri keuangan, dana block grand yang layak bagi kepala daerah-wakil kepala daerah itu berapa. PP 109 tahun 2009 secara teknis sudah tidak memadai lagi, tidak sejalan dengan dinamika perkembangan yang terjadi saat ini dalam aspek penyelenggaraan pemerintah,” ulas Mendagri Gamawan Fauzi saat membuka Rapat Kerja Nasional Keuangan Daerah Tahun 2009 di Jakarta (15/12). Acara ini dihadiri para sekada dan kepala buro keuangan dari sejumlah pemda di Indonesia.

Disebutkan Gamawan, struktur dan besaran penghasilan serta tunjangan kepala daerah-wakil kepala daerah belum sesuai dengan anatomi kegiatan, beban tugas, dan nilai politis (previlage) kepala daerah selaku simbol dan kepala pemerintah daerah. Dikatakan menteri yang meniti karir sebagai PNS dari bawah itu, dalam aturan yang baru nanti akan dipertegas dana dukungan operasional kepala daerah, menyangkut kriteria besarannya serta format pertanggungjawabannya.

“Memperjelas cakupan dan pola pengelolaan belanja rumah tangga kepala daerah, serta lebih memperjelas ketentuan terkait dengan rumah dan mobil jabatan,” urai Gamawan. ***

 

Harian Kendari Pos. Rabu, 16 Desember 2009. Halaman 07. Reporters: Sam/JPNN

Kendari Pos Daily Copy Right Reserved

Ilham Q. Moehiddin Digital Clipping

 


[Kliping Media] Surat Kabar Mingguan SULTRA POS

Dewan Redaksi: Sudirman Duhari, Agus Sana’a, Ichsan Lemba. Alamat Perusahaan dan Redaksi: Jl. Bahagia, No. 19 Kendari, Sulawesi Tenggara. Staf Redaksi: Agus Sana’a, Gino SM, Zainal Arifin, Asrin, Ichsan Lemba. Sekretaris Redaksi: Roswida. Pemasaran: Saleh, Endang. Manager Keuangan: Sitti Rahma Saraswati. Sirkulasi: Arman. Manager Iklan: Yungky Pranoto. Koresponden Kolaka: Hamzah, Sabaruddin, Muzakir. Unaaha: L.K. Abbas. Raha: Adi Syahrin. Layout: Kasmudin. Kepala Biro Baubau: Gino Samsudin Mirsab.

Surat kabar yang tampak di blog adalah Edisi No. 16/Tahun 01/Minggu Ke 4/Juni 2001. Harga: Rp. 2.000,-

Bernama sama dengan Tabloid Sultra Pos, ternyata surat kabar mingguan ini adalah reinkarnasi selanjutnya dari media tersebut. Tidak jelas apa penyebab perubahan format media ini, dari tabloid menjadi surat kabar mingguan. Baik ukuran media yang sama-sama menggunakan ukuran tabloid, namun layout halamannya sedikit berbeda, khususnya pada perwajahan halaman satu. Jika tabloid Sultra Pos memuat konsep perwajahan tabloid pada umumnya yang berformat foto ukuran besar, maka surat kabar Sultra Pos terformat seperti koran harian. Penggunaan lima baris kolom horisontal dan empat kolom vertikal—kolom ketiga tidak rata. Model benner tetap sama, termasuk motto. Kolom redaksi pun menjadi tajuk rencana. Tidak ada penjelasan resmi soal perubahan format dan komposisi, termasuk pindahnya alamat redaksi dari Baubau, Buton ke Kota Kendari. Namun pengelola media ini, yang rata-rata adalah koresponden daerah sejumlah koran nasional, sedikit menjelaskan mengapa format ini dipilih, dan mengapa koran ini pindah alamat.

Hal yang menarik dalam format baru Sultra Pos ini, adalah usaha media ini mengapresiasi keinginan siapa pun untuk menulis. Rubrik opini, misalnya, yang kerap menyuguhkan tulisan dari para praktisi, turut pula dihiasi tulisan masyarakat biasa, kalangan non-akademis, kalangan non-praktisi, bahkan opini kades di sebuah desa terpencil pun mampu diwadahi media ini. Penjudulan yang masih bombastis, kendati kurangnya akurasi ejaan, mungkin disebabkan tidak adanya tenaga korektor, atau kekurangtelitian para redaktur. Layout yang kering, dan kerap tidak simetris, serta penggunaan jenis font dan ukurannya yang tidak konsisten, menjadi sisi lemah lainnya dari media ini.

Tidak jelas bagaimana coverage area media ini dalam menetrasi pasar, namun dari iklan yang ter-display dapat diduga media ini mampu meraih pendapatan dari iklan yang cukup signifikan. Terbit setiap minggu, 16 halaman.

Bermotto: Menghargai Perbedaan Pendapat, Adil Menegakkan Kebenaran. Rubrik-rubriknya, masih pakem pada rubrikasi model tabloid Sultra Pos, antara lain, Kota Kendari; Buton; Kolaka; Muna; Unaaha; Nasional; Iptek: Sosok & Gaya; Serbaneka; Opini; dan halaman sambungan. []


[Kliping Media] Surat Kabar Umum HALUOLEO POS

Penerbit: Yayasan Pendidikan Pers Haluoleo. Komisaris Utama: Prof. Ir. H. Mahmud Hamundu, MSc. Pemimpin Umum: Ny. Hj. Murni Hamundu. Wakil Pemimpin Umum: Haludin Ma’waledha. Alamat Redaksi/Tata Usaha: Jln. Chairil Anwar, No. 7 Wua Wua, Kendari, Sulawesi Tenggara. Pemimpin Redaksi/Penggungjawab: Haludin Ma’waledha. Dewan Redaksi: Haludin Ma’waledha (Ketua), Darwis, Ridway Balaka, Lasirama, La Dupai, Iskandar, Amin Yohanes, Damsid, Rekson S. Limba, Anas Nikoyan, Arief Baelawi. Staf Redaksi: Suharlin, Suhusu, Arsyad, Hainis, Rachmawati, Nurdian, Saputra, Rahmatia. Layuoter: Yohanes DM, Idham Idrus. Pemasaran: La Pemilu, Saleh. Iklan: Dessy Triningrum, Sri Sundari. Percetakan: HAM Jaya Kendari. SIUPP: No. 1441/Menpen.SIUPP/1999, tanggal 2 Juni 1999.

Surat kabar yang tampak di blog adalah Edisi No. 30/Tahun Ke-II/Agustus 2000. Harga: Rp 2.000,- (dalam kota) & Rp 2.500,- (luar kota).

Koran harian berukuran tabloid ini nyaris menjadi kompetitor Harian Pagi Kendari Pos milik jaringan berita Jawa Pos, jika saja dikelola baik dan memiliki modal memadai. Sayangnya, koran ini, terlihat tidak begitu profesional dalam penggarapan dan menyajiannya. Dari 12 halaman yang dimilikinya, beberapa halaman kering sama sekali, sebab redaksi tidak merencanakan foto apapun di sana. Di format dalam ukuran tabloid, berkolom enam, dengan model menumpuk berita di halaman depan, lalu disambung di halaman berikutnya, tidak mempertimbangkan peletakan foto sebagai unsur yang memperkaya halaman depan. Demikian juga halaman-halaman lainnya. Gaya penulisan straight news. Akurasi kata yang lemah terlihat di mana-mana, padahal dengan usia yang menginjak edisi ke-30, seharusnya kesalahan ejaan dan detil layout bukan masalah lagi. Kehadirannya tak terlalu menarik minat pembaca, sebab dengan tampilan yang sederhana yang didominasi warna grey, putih, hitam dan biru, dibandingkan dengan harganya yang “kelewat” mahal dari media saingannya, ternyata tidak menjadikan koran ini sebagai alternatif.

Kebanyakan awak redaksinya adalah kalangan akademisi, hingga menghabiskan porsi buat wartawan profesional, adalah sedikit hal yang menjadikan koran ini tak begitu diminati. Tirasnya sendiri, diakui pemiliknya, masih menyentuh angka 1.000/hari. Ini sangat sedikit dibanding jumlah penduduk kota Kendari saja yang berjumlah 220 ribu jiwa. Apalagi dikatakan bahwa wilayah edarnya meliputi Sulawesi Tenggara. Terbit tiap hari, 12 halaman.

Bermotto: Akomodatif, Aktual, Terpercaya. Selain sejumlah kolom ber-raster, tidak ditemui satupun judul rubrik di dalam koran ini. Pembaca seolah diminta “menebak” sendiri rubrik apa yang sedang mereka baca. []


[Kliping Media] Tabloid Berita Mingguan SULTRA POS

Penerbit: — Alamat Redaksi: Jl. Mawar, Baubau, Sulawesi Tenggara. Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Agus Sana’a. Redaktur Pelaksana: Gino Samsudin Mirsab. Redaktur Eksekutif: Sudirman Duhari, Agus Sana’a. Staf Redaksi: Agus Sana’a, Gino SM, Sudirman, Arif Balawi, Mustari. Layout: Kasmudin. Manager Sirkulasi: Samsuddin. Manager Iklan: Rio.

Tabloid yang tampak di blog adalah Edisi No. 01/Tahun Ke-01/Minggu Ke IV/Agustus 2000. Harga: Rp. 2.000,-

Pada boks Dari Redaksi, media ini disebut sebagai reinkarnasi Surat Kabar Umum Buton Pos, sebuah media ber-flatform plano dan terbit mingguan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra). Menurut para penggagasnya, tabloid ini lahir dengan manajemen baru, semangat baru, dan tekad baru. Kelahiran kembali ini, menurut para pengelolanya, dilakukan setelah melalui berbagai kajian manajemen usaha, kajian redaksi, kajian manajemen redaksi, dan dukungan personel yang sudah teruji di bidangnya masing-masing. Semangat para pendirinya ini, sekaligus membingkai kekhawatiran mereka atas persaingan media lokal yang sudah terlanjur ketat dan solid. Tak jelas berapa oplah media ini, kendati rubrikasinya—memisahkan kompartemen daerah dengan nama-nama kabupaten; Buton, Kolaka, Unaaha, Muna, dan Kota Kendari—memaktub area edar se-Sultra, tapi ada kemungkinan oplahnya kurang lebih 2.000 eksemplar/edisi. Penjudulan yang bombastis tak cukup memberi kesan pada isinya. Upaya yang wajar untuk menjemput pasar di saat-saat perdananya. Penempatan rubrik yang terkesan acak, dan kadang keluar dari konteks berita didalamnya, meragukan maksud para penggagasnya mengenai konsep dan kajian yang disebut-sebut dalam boks itu. Terbit Perdana Agustus 2000. Terbit setiap minggu, 16 halaman.

Bermotto: Menghargai Perbedaan Pendapat, Adil Menegakkan Kebenaran. Rubrik-rubriknya, antara lain, Laporan Khusus; Buton; Kolaka; Muna; Kota Kendari; Unaaha; Nasional; Politik; Tokoh & Peristiwa; Serba Neka; Olah Raga & Kesehatan; dan Opini. []


%d blogger menyukai ini: