Tag Archives: pesisir

[Film] Humanitarian and Environmental Narratives dalam Film Suara Dari Pesisir

oleh Ilham Q. Moehiddin

SEORANG remaja lelaki duduk di pasir, menghadap laut. Suaranya lirih oleh lagu yang ia nyanyikan berulang-ulang. Ia sedang menghafal lirik lagu yang disertainya dengan gerakan itu. Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki—remaja lelaki itu mengulang-ulang lirik dalam bahasa Inggris. Sesekali ia lupa, lantas melirik catatannya, kemudian mengulang lagi dari awal. Bajo, nama remaja lelaki itu.

Suara Bajo terbawa angin ke telinga seorang lelaki lain. Ia berdiri tak jauh dari posisi duduk Bajo. Lelaki itu tersenyum, sebelum menyambung lirik lagu yang luput. Bajo terperangah dan lelaki itu mendekat, mengulurkan tangannya. “My name is Bonco,” ujarnya datar. Senyum Bajo merekah sebelum scene beralih disolve.

Scene pendek ini membuka film Suara Dari Pesisir, besutan sutradara Susilo Rahardjo. Tampaknya Susilo asik bermain-main dengan plot yang berayun cepat. Ia mampu mendorong beberapa karakter utama tampil menonjol di sepanjang film. Susilo beruntung, filmnya didukung sejumlah talent jempolan.

Sebut saja Al Galih yang memerankan tokoh Haseng (Ayah Bajo). Al Galih ini pemain watak jebolan Bengkel Teater Rendra. Arfina Rahmalia yang memerankan karakter Nurul/Ibu Guru; dan Peter H. Sumawijaya yang memerankan karakter Bonco. Tentu saja, jangan lupakan Erik, talent muda asal desa Bajo Labengki yang lolos casting untuk memerankan karakter Bajo, karakter utama film ini. Erik kemudian dilatih khusus untuk bisa memerankan karakter Bajo dengan baik. Kecuali Al Galih, Arfina dan Peter tergolong baru dalam seni peran. Kendati begitu, empat talent ini mampu berkolaborasi, bermain baik dan padu sehingga Anda nyaman menyaksikan akting mereka.

Tetapi, tidak saja kemampuan para talent yang bermain bagus yang patut mendapat pujian. Susilo mampu menggambarkan sisi lain dari keindahan alam dan kehidupan orang-orang Bajo—di gugus pulau Labengki—sekaligus masalah krusial lingkungan hidup yang menjadi meme kritis film ini. Labengki adalah gugus pulau-pulau karang kecil yang membentuk formasi unik dengan panorama yang indah. Keindahan alam di atas dan di bawah lautnya setingkat dengan gugus Raja Ampat di Papua. Satu hal yang membedakan dari kedua lokasi itu; di Labengki, Anda akan menemukan komunitas suku laut Bajo. Mereka menempati satu pulau utama di antara gugusan pulau-pulau kecil karang itu. Soal bagaimana orang-orang laut ini berada di daratan, barangkali itu menjadi hal menarik lainnya.

Saya pikir, sebagai sutradara Susilo memahami betul masalah-masalah yang ingin ia tampilkan dalam film ini—yang ide cerita dan skenarionya ia tulis sendiri. Bagaimana Susilo mengarahkan ceritanya berjalan alami? Atau seperti apa ia mendorong isu-isu sentral itu menyisi di sepanjang film dan tidak sekadar menjadikannya sampiran belaka.

Rangkaian gambar yang baik itu tidak akan terwujud tanpa peran Director of Photography & Cameratographer Yoel Zakka. Footage yang rapi dan ditampilkan berlapis-lapis di sepanjang film paling tidak diambil dengan dua jenis kamera berbeda. Beberapa gambar tampak shake, tetapi tampaknya itu disengaja untuk menjaga continuitas settingnya. Pengambilan gambar sudut tinggi (extreme high shoot) dengan menggunakan drone tidak berubah serupa aksesoris belaka di sepanjang film, namun mampu membantu memberi gambaran besar perihal lokasi dan kaitan isu lingkungan yang juga diusung film ini.

Orang Bajo dalam Film Indonesia

Tidak banyak film Indonesia yang mengangkat kehidupan laut sebagai latar belakang ceritanya—pun suku laut, suku Bajo. Dua di antara yang sedikit itu adalah The Mirror Never Lies garapan sutradara Kamila Andini, dan yang lain adalah Suara Dari Pesisir karya sutradara Susilo Rahardjo. Keduanya sutradara muda. Meski kedua film ini mengusung format berbeda—The Mirror Never Lies berformat film panjang dan Suara Dari Pesisir berformat film pendek—namun keduanya berusaha memotret keunikan kehidupan laut beserta orang-orangnya dari kacamata yang aparsial.

Saya bertemu Kamila di Bali pada tahun 2013, dua tahun setelah The Mirror Never Lies di rilis. Seusai diskusi yang kami hadiri sebagai pemateri, di halaman Left Bank Ubud, kami berbicara banyak soal filmnya itu. Menurutnya, kehidupan laut dan orang-orangnya adalah sesuatu yang seksi diangkat dalam layar lebar. Proyek itu sendiri digarap di Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan berakhir pada tahun 2011. Putri sutradara Garin Nugroho ini mengangkat pendidikan sebagai tema sentral filmnya. Ada masalah besar dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, menurut Kamila—dan itu benar-benar tampak di banyak komunitas yang nyaris tidak tersentuh oleh kebutuhan dasar ini. Seolah-olah negara tidak hadir di antara mereka dan mereka harus berusaha sendiri menemukan “negara” dengan meninggalkan laut sebagai komunitasnya dan penopang kehidupannya.

Tentu saja, dengan mengekspos kesenjangan ini, bukan berarti hendak mempermalukan pihak-pihak terkait. Ini hanya sebuah autokritik, dan saya pikir, apa yang berusaha didorong oleh para sineas sebagai tema sentral di dalam film, juga berfungsi seperti alat menuju solusi yang bersifat afirmatif. Sehingga kemudian saya melihat hal yang sama pada Suara Dari Pesisir produksi Koheo Films Kendari. Sebuah film yang hendak mendorong komunikasi dua arah dengan cara yang baik.

Forsdale menulis; communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Bahwa komunikasi adalah sebuah proses di mana sistem terbentuk, dipelihara, kemudian diubah dengan tujuan bahwa pesan-pesan yang dikirimkan dan diterima akan dilakukan sesuai aturan.

Nah, persoalan serupa juga tampak sebagai salah satu isu di Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara—di mana menjadi setting utama film Suara Dari Pesisir. Pemilihan lokasi tentu bukan kebetulan. Sebagai pemilik ide cerita, Susilo Rahardjo, sepertinya telah memilih Labengki (dengan komunitas Bajo di sana) sebagai setting yang tepat untuk mendorong gagasannya. Labengki dengan lingkungan alaminya; Labengki dengan keindahan panorama bawah lautnya; Labengki dengan species Kima terbanyak di dunia, sekaligus satu species Kima Raksasa (Giant Clam) terlangka di dunia; dan Labengki dengan besarnya potensi remaja putus sekolah. Hanya ada satu sekolah di sana, sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang berdiri di satu atap. Untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setiap anak Bajo harus ke kota kabupaten yang jauh jaraknya. Maka persoalan kian menjadi rumit saat remaja-remaja Bajo ini pergi bersekolah ke luar desa; tidak ada lagi yang membantu setiap orangua mereka melaut untuk menghidupi keluarga. Bagi setiap kepala keluarga itu, kerumitan ini perlu solusi yang cepat dan mudah—mereka kemudian melakukan aktivitas destructive fishing dengan membom ikan.

Cerita yang baik adalah cerita yang ditopang data. Aktivitas destructive fishing dengan membom ikan akan merusak terumbu karang Labengki, sekaligus mengancam 88% terumbu karang di Asia Tenggara. Susilo jelas telah melakukan riset untuk ceritanya, sehingga ketika gagasan ini dikemas ke dalam bentuk film, maka Suara Dari Pesisir menjadi alat kampanye yang sangat edukatif untuk siapa saja.

Bajo, remaja yang sedang dikepung kekhawatiran karena beberapa masalah yang hampir pasti akan menghambat cita-citanya kelak, bertambah cemas mendapati kenyataan bahwa ayahnya mengambil jalan pintas menjadi nelayan pengebom ikan. Jiwa Bajo terusik. Ia protes dengan membuang botol-botol peledak ke laut yang bahkan belum sempat digunakan ayahnya, dan ia mau menerima kemarahan ayahnya akibat tindakannya itu. Tetapi ia tidak bisa menerima saat sang ayah membuang bukunya ke laut. Apa yang kemudian dilakukan Bajo? Bagaimana sikapnya? Pesan apa yang hendak dikirimkan Susilo kepada Anda semua? Nah, Anda harus menonton film ini untuk menemukan jawabannya.

Kolaborasi apik juga tampak dari kerjasama tim produksi Koheo Films Kendari. Saya menyukai cara Susilo membangun perubahan sikap Ayah Bajo terhadap anak lelaki satu-satunya itu. Sutradara Susilo Rahardjo, DoP & cameratographer Yoel Zakka, tim artistik dan tata cahaya—juga kru produksi lainnya—berhasil menerjemahkan keinginan cerita dalam gambar yang lembut, low noise, dan momen yang tepat. Semua plot dalam cerita seperti berhimpun di satu frame itu—menurut saya, inilah frame yang menjadi kesimpulan jalan hidup Bajo, sekaligus memuat pesan utama di film Suara Dari Pesisir. Frame ini bahkan mampu membuat saya terharu. Cara mengakhiri konflik yang baik dalam cerita dengan frame yang bagus sekali.

Film ini sekaligus membenarkan apa yang dicatat Johannes Paulmann, peneliti di Leibniz Institute of European History, Mainz, saat Kolokium Berlin ke-21 tentang Sejarah Kontemporer di Forum Einstein, Potsdam, 3 Desember 2015 silam. Bahwa pendidikan dan lingkungan hidup serta lingkungan sosial adalah hak suaka; bagian besar dari kemanusiaan. Sebuah konvergensi logika yang menghadirkan perspektif yang selalu tidak memiliki penjelasan yang cukup. Kritik sosial berubah menjadi gerakan yang meningkat dan membawa integrasi sosial ke dalam perdebatan publik.

Kehidupan sosial dan sejarah masyarakat tempatan pasti memiliki segudang kisah, sebuah narasi unik di tengah “kebisuannya”. Maka film—sebagai sebuah afirmasi—maju ke depan untuk bersama-sama mengidentifikasi masalah dan menawarkan solusi secara naratif. Film sebagai sebuah medium sebaiknya tidak kekurangan bahasa untuk menafsirkan gejolak, gerak sosial dan sejarah masyarakat tempatan. Apa yang kemudian tampak menonjol dalam film Suara Dari Pesisir? Ya, humanitarian and environmental narratives, sebuah narasi kemanusiaan dan lingkungan hidup orang-orang Bajo yang kini hidup dan menjadi bagian dari masyarakat pesisir.

Film Suara Dari Pesisir punya cita-cita besar selain sebagai proyek prestisius dalam diri setiap kru yang terlibat dalam produksi. Menurut Tirtayasa, produser film Suara Dari Pesisir, film ini memang dipersiapkan untuk sebuah misi besar; menegasi masalah, dan memperkenalkan Labengki sekaligus mendorong Pariwisata Sulawesi Tenggara ke level Nasional dan Internasional. Selain misi pendidikan dan lingkungan hidup yang tidak kalah pentingnya.

“Kami menargetkan Suara Dari Pesisir bisa ikut berlaga di beberapa Festival Film Internasional di tahun 2017 ini, antara lain; Cannes Short Film Festival, New York International Short Film Festival, Los Angeles International Short Film Festival, Oneota Film Festival Japan, Berlin Short Film Festival, dan beberapa festival film dalam negeri, seperti Festival Film Indonesia dan XXI Short Film Festival,” jelas Tirtayasa didampingi Joanne dan semua kru produksi sesaat sebelum premiere film ini untuk kalangan terbatas.

Saya yakin, dengan kekuatan gagasan, penceritaan dan semua hal yang terkait teknik sinematografi, film Suara Dari Pesisir dapat meraih minimal dua-tiga penghargaan di ajang Internasional dan Nasional yang akan mereka ikuti.

Saya merekomendasikan Suara Dari Pesisir ini sebagai film yang humanis, menghibur, dan mampu mendorong perubahan sikap pada diri setiap orang untuk berbuat yang lebih baik. Saya memberinya empat bintang. Bravo!

Film Suara Dari Pesisir akan tayang mulai 1 Juli 2017 nanti. Dari total pendapatan film ini, 25% akan kembalikan berupa sumbangan untuk sarana pendidikan di SD dan SLTP Labengki. (*)

 

Ilham Q. Moehiddin

Film reviewer, Penulis prolifik, dan Sastrawan Indonesia

 

Judul Film: Suara Dari Pesisir.

Pemeran: Erik sebagai Bajo; Al Galih sebagai Haseng/Ayah Bajo; Arfina Rahmalia sebagai Nurul/Ibu Guru; Peter H. Sumawijaya sebagai Bonco.

Sutradara: Susilo Raharjo.

DoP & Cameratographer: Yoel Zakka.

Produser: Tirtayasa & Joanne.

Produksi: Koheo Films Kendari, 2017.

Iklan

[Feature] Sejarah Besar Perang Dunia ke-II di Balik Sepucuk Meriam

Sejarah Besar Perang Dunia ke-II di Balik Sepucuk Meriam

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

SEJARAH BESAR DARI SEPUCUK MERIAM3

Foto meriam di atas adalah meriam anti-pesawat sisa Perang Dunia ke-II yang ditempatkan di pesisir timur kota Kendari, menghadap tepat ke laut Banda. Tepatnya, saat ini berada di kelurahan Mata. Selama ini, warga kota Kendari menyebutnya sebagai Meriam Jepang atau Bungker Jepang.

Disebut Bungker Jepang dikarenakan bentuk bangunan yang melingkupi meriam ini. Menurut saya, bentuk bangunan ini sendiri sangat aneh. Bangunan —yang juga tak tepat disebut bungker itu— seharusnya tidak bisa menutupi ruang meriam seperti itu.

Meriam ini adalah senjata anti-pesawat dengan sudut elevasi 75 derajat dan maksimum vertikal 26 ribu kaki. Sangat aneh jika ada bangunan yang menutup ruang tembaknya. Posisi atap bangunan yang rendah sangat mustahil bisa membuat laras senjata sepanjang 10 feet itu dibuat tegak vertikal.

meriam ini diambil dari pertahanan sekutu di pulau yap (philipina)

Artinya, pemerintah setempat telah keliru melakukan restorasi pada benda sejarah ini. Kendati kontruksi bangunan itu bertujuan melindungi benda bersejarah ini, namun ada baiknya mereka melakukan riset terkait jenis dan kegunaan benda dimaksud.

Faktanya, di pesisir timur kota Kendari, seharusnya ada sekitar delapan meriam seperti ini (dalam model yang berbeda). Untuk meriam sejenis ini seharusnya berjumlah tiga dan ditempatkan dalam jarak tertentu untuk menghalau pesawat pembom. Sejatinya itu bukan meriam Jepang, tetapi kanon anti pesawat udara milik KNIL-Belanda yang dipampas pasukan Jepang. Menurut warga, jumlahnya kini tersisa dua saja. Saya tak sempat melihat meriam yang satunya lagi, sebab informasi yang saya terima tidak jelas tentang letaknya. Satu meriam lagi, saya duga, telah dipreteli warga dan dijual sebagai besi tua.

Meriam ini adalah AA Guns Model 10 (1921) 3-Inch (Anti-Aircarft Guns Model 10 produksi tahun 1921), kaliber proyektil 76.2 mm (3 inci). Maksimum vertikal 26.000 kaki, maksimum elevasi +75°, maksimum depresi -5°, maksimum lintasan 360°, kecepatan 2240 kaki per detik, panjang laras 10 kaki 8 1/2 inci, kecepatan tembakan 10 – 12 putaran per menit, berat proyektil 12,7 pounds dengan daya ledak tinggi.

Daya ledak tinggi proyektil-nya sekaligus adalah kelemahan senjata ini. Operator harus mewaspadai saat laras senjata menjadi panas akibat tembakan berulang-ulang. Kadangkala, mulut laras pecah karena panas proyektil yang meluncur. Contohnya dapat dilihat pada Model 10 (1921) 3-Inch AA Guns yang ditemukan di Pulau Yap, 1350 kilometer sebelah timur pulau Mindanao, Filipina. Mulut meriam ini pecah dan mekar. Tentu saja, ledakan pada mulut meriam ini mengakibatkan operatornya tewas.

Tentara Jepang menyebut senjata ini sebagai 8-cm, kaliber 40, senjata sudut tinggi. Digunakan untuk anti-pesawat serta pertahanan pesisir. Untuk mengimbangi berat laras dominan, sebuah equiliberator dipasang pada dasarnya. Menggunakan sistem hydropneumatic dengan breechblock yang bisa bergeser. Ada fitur silinder panjang di bagian atas tabung.

Dari label yang saya lihat di bagian belakang meriam, tertera nama Bethlehem Steel Corporation, nama perusahaan yang memproduksi senjata ini. Jadi jelas, artileri ini telah dirampas pasukan Jepang dari tangan pasukan KNIL-Belanda.

Bethlehem Steel Corporation, didirikan pada 1857, perusahaan yang awalnya pabrik baja berbasis di Bethlehem, Pennsylvania, Amerika Serikat. Perusahaan ini pernah menjadi perusahaan baja terbesar kedua di AS setelah US-Steel. Pabrik ini pertama kali mendapat pesanan pembuatan senjata dari pemerintah Amerika Serikat pada Perang Dunia ke-I. Pada masa kejayaannya, Bethlehem Steel juga merupakan salah satu perusahaan pembuat kapal terbesar di dunia dan merupakan salah satu simbol industri Amerika. Pasukan Amerika Serikat yang membawa senjata-senjata produksi BSC melintasi Eropa selama perang berlangsung dan akhirnya digunakan banyak pasukan Eropa. Pada tahun 2001, perusahaan ini menyatakan diri bangkrut akibat lesunya industri baja di AS serta masalah pada pengelolaan perusahaan. Menyusul pengumuman itu, perusahaan dan seluruh asetnya diakuisisi oleh International Steel Group pada tahun 2003.

Sebenarnya ada sejarah besar di balik sosok Meriam Model 10 (1921) 3-Inch AA Guns di kelurahan Mata ini. Sebuah kisah sejarah yang sangat menentukan keberlanjutan kampanye Bala-tentara Kekaisaran Jepang dalam Operasi Selatan-Selatan (invasi dan pendudukan Autralia).

 

Pangkalan Angkatan Laut Utama Kendari (Kendari Naval Base)

Selama Perang Dunia ke-II, Kendari adalah titik yang penting digunakan sebagai pangkalan angkatan laut dan udara oleh kedua belah pihak: Jepang dan Sekutu. Terlebih dalam taktik perang Jepang. Posisi Kendari sangat penting bagi upaya Jepang untuk kampanye Invasi Selatan-Selatan dalam misi menguasai Australia.

appendix11

Dalam strategi perang laut dan udara Jepang, Kendari merupakan titik tumpu bagi kapal dan pesawat tempur Jepang mencegat rute kapal dan pesawat sekutu dari Hindia Belanda menuju Australia, dan sebaliknya. Dari Kendari, Jepang mengisolir Australia dari bantuan sekutu selama Perang Dunia II, sekaligus menjadikan Kendari sebagai basis pesawat pembom Jepang untuk menjangkau pusat-pusat pertahanan sekutu dan tentara pejuang Republik Indonesia di Jawa (seperti Surabaya, dll.) dan Kepulauan Timor (seperti Kupang).

Pada malam tanggal 23-24 Januari 1942, perwira dan tentara dari Unit Infantri Khusus Angkatan Laut Jepang (Sasebo) dari Komando Gabungan Pasukan Pendaratan Angkatan Laut (Naval Landing Force Commands) Jepang, menuju bagian selatan Kendari. Dalam beberapa jam saja, pasukan ini segera mencapai tujuan operasi mereka malam itu; Pangkalan Angkatan Laut Utama Kendari (Kendari Naval Base).

Staring Bay

Detasemen Penjaga Pantai KNIL tidak bisa mengontak sebagian pasukan mereka, karena jalur komunikasi telah disabotase. Kondisi ini membuat panik semua orang di tempat itu, termasuk anggota detasemen dan itu membuatnya pasukan Jepang dengan mudah menguasai lapangan udara. Sedikit perlawanan yang dilakukan sejumlah prajurit Detasemen Penjaga Pantai KNIL segera diredam, walau mampu membuat dua tentara Jepang terluka. Lapangan Udara Kendari tidak dihancurkan sepenuhnya. Pada malam tanggal 24 Januari 1942, adalah awal Bala-Tentara dari Timur (The Eastern Force) Jepang memasuki wilayah Kendari.

Kaigun Tokubetsu Rikusentai yg terdiri dari 1st & 2nd Sasebo SNLF

Tetapi, ada sebuah pesawat Childs (buatan tahun 1920 yang bersenjatakan empat main armament ukuran 2 x 10.2cm) yang segera mengudara saat menyadari datangnya serbuan pasukan Jepang. Pesawat itu mampu menghindari rentetan tembakan dari dua kapal perusak Jepang karena terhalang hujan dan badai ketika itu. Tak ingin pesawat itu lolos sehingga bisa mengabarkan pendaratan pasukannya di Kendari kepada pihak sekutu, Jepang segera menerbangkan 6 pesawat Zero untuk mengejar di ketinggian 800 kaki. Beruntung, kabut dan pekatnya langit malam ternyata menolong pesawat Childs itu melarikan diri ke arah selatan dengan sedikit kerusakan. Malam, menjelang 24 Januari 1942 itu, Kendari dikuasai Jepang.

Esoknya, perwira dan tentara Sasebo berparade di jalan-jalan Kendari.

Sebagian besar perwira pasukan KNIL-Belanda, seperti Kapten F.B. van Straalen ditangkap Jepang. Beberapa perwira yang berhasil meloloskan diri, sempat melakukan perlawanan gerilya dari pegunungan Nipa-Nipa untuk waktu yang singkat, sebelum akhirnya tertangkap. Sedikit sekali dari mereka yang berhasil melarikan diri ke beberapa pulau kecil yang mereka anggap aman. Kendari Naval Base adalah pangkalan udara terbaik di Hindia Belanda (Indonesia) dan langsung dimasukkan sebagai pangkalan udara paling penting dalam 21th Flotilla Air Operation oleh Jepang untuk Invasi Selatan-Selatan.

Pada 25 Januari, 25 pesawat Angkatan Udara Jepang mendarat di Kendari Naval Base, dan esoknya, 26 Januari, 27 pesawat pembom lainnya ikut bergabung.

 

Logistik Tempur Jepang Berikutnya Ikut Hadir.

Pada bulan Maret 1942, dua kapal induk (mother-ship); Hiryu dan Soryu, dari Skuadron ke-2 Angkatan Laut Jepang, berlabuh tak jauh dari Staring Bay, Kendari. Dua kapal induk itu diikuti dua Seaplane dari Divisi ke-11 dan dua kapal patroli jenis P-34 dan P-39.

japanese-aircraft-carrier-hiryu-staring-bay-kendari

Mother-Ship Hiryu mengangkut 64 pesawat tempur (19 pesawat jenis Mitsubishi A6M Zero, 18 pesawat jenis Aichi D3A, 18 pesawat jenis Nakajima B5N, termasuk sembilan Spares Plane). Sedangkan Mother-Ship Soryu juga mengakut 63 pesawat tempur dengan jenis-jenis pesawat yang sama, termasuk sembilan pesawat angkut.

japanese-aircraft-carrier-soryu-staring-bay-kendari

Sedangkan dua Seaplane Chitose dan Mizuho, mengangkut 48 Tenderplane, termasuk pesawat amfibi, 30 aircraft, empat Tenderplane dengan Catapults, dan dua Aircraft Carrier Elevators.

japanese-seaplane-carrier-chitose-kendarijapanese-seaplane-tender-mizuho-kendari

Ini jelas kekuatan yang tak main-main. Jepang sangat serius menjadikan Staring Bay sebagai Pangkalan Angkatan Laut Utama (Naval Base) mereka di Kendari sebagai titik mulai pendudukan atas Australia. Bahkan untuk mendukung serangan itu, dua kapal induk, Hiryu dan Soryu dihadirkan.

Dua kapal induk ini adalah dua kapal yang terlibat langsung dalam serangan Jepang atas Indochina-Prancis di pertengahan 1940. Keduanya beroperasi penuh selama Perang Pasifik, dan menjadi penentu keberhasilan serangan Jepang atas Pearl Harbor dan Wake Island War (Pertempuran Pulau Wake). Kedua kapal juga menjadi penentu penaklukan Jepang atas Hindia Belanda pada Januari 1942.

Para pakar sejarah-militer Indonesia selalu luput menuliskan posisi Kendari dalam peta sejarah okupasi Jepang 1942-1945. Mereka—dan banyak pakar sejarah lainnya—seolah tidak menyadari dan seperti berusaha menutupi kenyataan bahwa Armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pernah menjadikan wilayah ini sebagai Pangkalan Angkatan Laut Utama (Naval Base) dengan Staring Bay sebagai ploting area. Tak ada pakar sejarah-militer Indonesia yang menyadari kehadiran dua kapal induk penting dalam sejarah kemiliteran modern Jepang di tempat itu.

Bertolak dari Kendari Naval Base, dari atas geladak kapal induk masing-masing, pesawat-pesawat pembom Jepang membombardir Darwin, Australia pada 2 Mei 1943. Peristiwa itu sangat dikenal dengan call-sign Raid on Darwin. Serangan atas Australia itu untuk melebarkan jalan bagi misi lanjutan penaklukan Hindia Belanda (Indonesia) dan Pasifik.

Map of the Dutch East Indies 1941-1942

Sebulan sebelumnya, pada April, pesawat-pesawat Zero dari kapal induk Hiryu berhasil menenggelamkan dua kapal penjelajah berat Royal British Army (Pasukan Kerajaan Inggris) dan beberapa kapal dagang sekutu selama serangan di perairan Hindia-Belanda.

Catatan sekutu menyebut: The Kendari Naval Base and airfield was extremly important as the Japanese could now control the important life line from Australia to Java Island and they could also bomb Java Island (Soerabaja Naval Base among others) itself.

aircraft-kendari

Beberapa lapangan udara kecil di pesisir Kendari didirikan untuk mendukung Kendari Naval Base di Staring Bay—perairan bagian selatan kota Kendari saat ini.

Kekuatan pasukan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) yang ada di Kendari, tentu tak sebanding dengan pasukan Jepang yang datang dengan kekuatan yang lumayan besar. Saat kekuatan Sasebo Jepang menyerang dan menduduki Kendari, pasukan KNIL-Belanda hanya berjumlah kurang dari 400 orang dengan peralatan tempur seadanya. Kekuatan KNIL di Kendari itu sudah termasuk perwakilan Militaire Luchtvaart (Nederlands-Indie Air Force) atau Angkatan Udara Hindia-Belanda, dan Royal Dutch Navy (Angkatan Laut Kerajaan Belanda) yang diperbantukan pada Zeemacht Nederlands-Indie (Angkatan Laut Hindia-Belanda). Saat Jepang menyerang dan menduduki Kendari Naval Base, tidak ada satupun pesawat NIAF yang terparkir dan tak ada kapal perang RDN-ZNI sedang berlabuh.

Garnisun KNIL-Belanda di Kendari saat itu berada di bawah komando Kapten F.B. van Straalen. Garnisun ini terdiri dari unit KNIL-Infantry Company yang berisi 20 regu independen (sudah termasuk perwira dan tentara) dan dilengkapi empat mobil lapis baja di bawah komando Kapten E.G.T. Anthonio. Pasukan ini hanya memiliki dua Anti-Aircraft Battery (40mm guns), tiga Anti-Aircraft Machine-Gun Platoon (AAMG), dan tiga Anti-Aircraft Model 10 (1921) 3-Inch Guns.

SEJARAH BESAR DARI SEPUCUK MERIAM2

Kondisi kekuatan Garnisun KNIL-Belanda terhadap posisi para pejuang rakyat Kendari, ini tampaknya aneh. Dengan lekuatan personel dan persenjataan yang minim seperti itu, entah kenapa para pejuang rakyat Kendari tak mampu mengungguli KNIL. Jawaban yang paling logis adalah KNIL berhasil menerapkan psy-war sehingga kelemahan pasukan mereka tak terdeteksi oleh pejuang rakyat.

Selain Nippon Air Group Force yang berada di bawah komando Laksamana Ryutaro Fujita di atas, berikut tercatat pula sejumlah kekuatan yang mendukung Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) yang ditempatkan di Pangkalan Angkatan Laut Utama Jepang di Staring Bay Kendari :Pasukan Khusus Sasebo (Unit Infantri Khusus Angkatan Laut) di bawah komando Kapten Angkatan Laut Kunizo Mori.

japanese-105mm-antiaircraft-gun-kendari

Bala-Tentara dari Timur (The Eastern Force) di bawah komando Laksamana Takahashi Ibo dengan tujuan pendaratan dan pendudukan di Menado, Kendari, Ambon, Makassar, Timor dan Bali. Konvoi The Eastern Force yang menuju Kendari berjumlah enam kapal transportasi mengangkut pasukan Sasebo. Konvoi pengawalan untuk kapal ini di bawah komando Laksamana Kyuji Kubo di atas kapal penjelajah ringan, Flagship.

Type 92 10cm Cannon

Armada besar The Eastern Force itu dikawal empat kapal perang Destroyer Divisi ke-15 (Natsushio, Kuroshio, Oyashio, Hayashio) dan empat kapal perang Destroyer Divisi ke-16 (Yukikaze, Tokitsukaze, Hatsukaze, Amatsukaze); lima Komando Pasukan Minsweeper ke-21 Divisi ke-1 (Weeper-7, Weeper-8, Weeper-9, Weeper-11, Weeper-12), ditambah dua kapal selam pengejar dari Divisi ke-1 (Chasers-1, Chasers-2).

japanese-type-5-large-escort-boat-kendari

Pasukan Cadangan dari Cruiser Skuadron ke-5 dengan tiga Heavy Cruisers Flagship (Nachi, Haguro, Myoko) dan dua kapal perusak (Ikazuchi dan Inazuma) dari Destroyers Divisi ke-6. Unit Cadangan ini di bawah komando Laksamana Takeo Takagi.

Sejumlah mobil lapis baja beratap terbuka (overvalwagens).

Para operator pesawat tempur jenis Mitsubishi Zero A6M2 Model 21 Type 0 Carrier Fighter dari Skuadron 3rd Air Corps, tidak beroperasi langsung di bawah komando Laksamana Fujita. Mereka mendapat penugasan khusus dengan membom Ambon untuk memberikan perlindungan dari sisi timur selama pendaratan Jepang di Kendari. Kapal-kapal pengangkut pesawat Jepang tiba di perairan timur Pulau Halmahera tepat pada 23 Januari 1942, saat bersamaan ketika Sasebo mendarat di Kendari.

Mitsubishi Zero A6M2 Model 21 Type 0 Carrier Fighter

Heavy Cruisers Flagship Myoko yang mengalami kerusakan selama misi pemboman di Davao City, Filipina pada tanggal 4 Januari 1942, harus kembali ke Kendari Naval Base untuk perbaikan. Myoko kemudian meninggalkan Kendari Naval Base pada tanggal 20 Februari dan tiba di Makassar enam hari kemudian. (IQM)

 

Foto-foto:

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Replika Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu

Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu on Staring Bay (Kendari Naval Base) Januari 1942

Japanese Mother Ship Aircraft Carrier Soryu on Staring Bay (Kendari Naval Base) Januari 1942

Seaplane Aircarft Carrier Mizuho (CVS 5-7) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Seaplane Aircarft Carrier Chitose (CVS 3-4) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Seaplane Aircarft Carrier Chitose (CVS 3-4) dari Divisi ke-11 Nippon Air Group Force / Teikoku Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang)

Anti-Aircraft Battery Gun Type-3 (140mm)

Anti-Aircraft Battery Gun Type-3 (140mm)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


%d blogger menyukai ini: