Tag Archives: perempuan

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Jawa Pos 2015

Cover JP 2015e2

Download: klik link di bawah ini

eBOOK KUMCER JAWA POS 2015

tujuan pengarsipan dan dokumentasi cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.

Iklan

[Buku Baru] Perempuan Perempuan Liguria | Kumcer – Mei, 2015

PPL-Promo2d2


[Cerpen] Perempuan Kretek | Padang Ekspres | Minggu, 02 Maret 2014

Perempuan Kretek

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Perempuan Kretek_Padang Ekspres

1/

SIANG ini, kudapati ibu sedang membanting cucian di lantai sumur, di samping rumah. Tiga hari lalu, ibu bolos kerja, begitu juga hari ini. Jika ditambah dua pekan sebelumnya, ibu terhitung sudah delapan kali mangkir.

“Tak ke pabrik, Bu?” Kusapa beliau dari ambang pintu samping. Ibu menoleh, lalu menggeleng pelan. “Ibu sakit, ya?” Tanyaku cemas, “senin kemarin, Ibu tak masuk kerja juga. Jangan-jangan, ibu memang sakit, ya?”

“Tidak. Ibu ingin di rumah saja.”

Kalau ibu sudah maunya begitu, ya biarkan saja. Aku sebenarnya tak suka ibu masih bekerja di pabrik, di saat ibu seharusnya tenang di rumah, di usia tuanya. Tetapi, ibu selalu bilang, bahwa ia masih tahan duduk seharian melinting tembakau yang baunya tajam itu pada kertas kretek. Bila tak biasa, pinggang memang bisa kram, serasa mau patah bila tegak berdiri tiba-tiba.

Tapi itulah maunya ibu. Tak pernah perempuan yang kusayangi itu membuang percuma waktunya. Saat tak ke pabrik pun, jika tak mencuci di sumur, ibu kadang sibuk di sepetak kebun kecil di belakang rumah kami.

“Bayaran kuliahmu makin dekat, ya Fi?”

Ibu ternyata sudah berdiri di belakangku saat aku hendak menyendok nasi. “Eh…iya, Bu. Dua minggu lagi kalau tak salah.”

“Tapi ibu belum terima gaji loh, Fi.”

“Bayarannya seminggu lagi kok, Bu,” aku tersenyum, “pasti keburu jika pabrik membayari gaji ibu pekan depan.”

Ibu mengangguk pelan. Tapi beliau tak bicara lagi. Ibu selalu mencemaskan kuliahku. Jika bukan soal bayaran, beliau akan bertanya soal diktat kuliah yang mungkin perlu kutebus. Ibu masuk kamar, lalu keluar lagi sesaat kemudian.

“Ini pegang saja, Fi.” Ibu menyorongkan sesuatu dari tangannya, “jaga-jaga saja buat bayaran kuliahmu nanti, andai gaji ibu belum ada sampai pekan depan.”

Eh, itu kan kalung emas peninggalan almarhum bapak. “Ibu kenapa sih!” Aku protes seraya menjauhkan tangan ibu, “simpan saja kalung ini. Kalau ibu butuh, biar ibu saja yang menjualnya dan memakai uangnya. Aku tak mau sepeser pun uang dari penjualan kalung kenang-kenangan bapak buat ibu. Dosa.”

Kalung itu, memang tak pernah keluar dari wadahnya, sebuah kotak dari kayu eboni berukir bunga melati. Bapak membelinya di Dubai, saat transit menuju Indonesia selepas mengakhiri kontraknya sebagai tenaga kerja Indonesia di Mekkah. Betapa gembira ibu saat menerima kalung itu dari bapak. Liontinnya bergambar bunga melati juga. Berat liontin berikut rantainya, 25 gram.

“Tapi, kuliahmu perlu bayaran toh?”

“Fiah nunggu gaji ibu dari pabrik saja. Kalau waktunya sampai pun, Fiah bisa kok minta penangguhan.”

“Apa kampusmu tak apa-apa jika telat membayar?”

Aku sentuh pundak ibu. “Telat sebulan tak apa-apa, Bu.”

Selama ini, ibu tak pernah berwajah murung di depan kami, kecuali di hari bapak wafat. Ibu selalu tenang, tak pernah mengeluh. Pabrik kretek tempat ibu bekerja tak jauh dari rumah kami. Butuh 15 menit bersepeda. Ibu mengayuh sendiri sepeda tua peninggalan bapak, bolak-balik dari rumah ke pabrik setiap hari. Urusan rumah jadi bagian kami, kedua anaknya.

2/

Aku tak paham cara kerja manajemen pabrik kretek tempat ibu bekerja. Mereka belum juga membayarkan dua bulan gaji ibu. Apa pabrik itu sudah mau bangkrut, sehingga harus menunda gaji buruhnya? Kasihan nasib ibu dan para buruh lain jika gaji mereka sering ditunggak.

Mbak Suti, teman ibu awalnya tak mau bicara soal kelakuan manajemen pabrik tempat mereka bekerja. “Gimana ya, Fi. Aku orangnya tak suka mengungkit masalah yang bukan urusanku. Apa ibumu belum cerita?” Tanyanya balik, saat kumintai keterangan soal gaji ibu yang belum terbayar.

“Ibu bilang gajinya belum dibayarkan dua bulan. Makanya ibu tak masuk kerja. Mandornya itu loh, si Pitono itu gimana?”

Suti tertunduk seraya memilin-milin ujung bajunya. “Eng…begini loh, Fi. Ibu itu terlalu tua untuk bekerja di pabrik. Jadi…”

“Jadi karena umur, mereka seenaknya menunggak hak ibu? Tidak boleh begitu!” Aku tidak terima alasan yang kuanggap sepele itu, “kasihan semua buruh di pabrik jika umur mereka dipersoalkan.”

“Ya, tak seperti juga, Fi. Ibu termasuk salah satu buruh yang paling senior di pabrik. Aku hanya tak paham apa pertimbangan manajemen pabrik.”

“Pertimbangan apa lagi? Ya, bayari saja gaji ibu.”

“Ibu itu loh, Fi…” Suti geragapan, “sudah ah, aku tak enak membicarakan yang aku tak mengerti.”

Gantian aku yang kini bingung dibuatnya. Suti bergegas pergi.

“Mbak Suti mau ke mana?”

“Aku ada urusan sedikit.” Pedar Suti seraya menggegaskan langkahnya.

3/

Kasihan ibu jika memang begitu ceritanya. Kenapa justru umur para buruh senior yang mereka persoalkan? Ibu buruh yang tekun, puluhan tahun bekerja pada mereka, sejak beliau masih berusia 15 tahun hingga setua itu. Mereka tak menghitung 48 tahun pengabdian yang dihabiskan ibu bekerja di pabrik kretek mereka.

Bapak bertemu ibu di pabrik itu. Bapak ingin agar hidup kami berkecukupan, maka bapak pergi merantau ke Saudi Arabia, jadi TKI. Umur bapak tak panjang, tapi beliau tak meninggalkan beban pada ibu. Peninggalan bapak cukup buat kami.

Aku mematung di bibir jendela, memerhatikan jalanan yang ramai di luar pagar sana. Sudah kuniatkan, besok bakal ke pabrik menemui pihak menajemen dan bertanya soal laku diskriminatif mereka pada para buruh seniornya.

“Tak usah toh, Fi. Tak usah bikin urusan jadi kian ruwet. Ibu baik-baik saja.”

“Tapi mereka tak boleh begitu,” dengusku, “pengabdian ibu bertahun-tahun itu tak mereka hitung. Puluhan tahun ibu memburuh pada mereka, dan baru naik upah tiga kali, itu pun tak seberapa besar.”

“Ibu memang sudah uzur, Fi. Sudah cepat capek. Ibu suka kok di rumah saja.”

Kata-kata seperti inilah yang kadang segera menuntaskan obrolan kami.

“Tapi, ibu senang bekerja. Ibu menikmati hidup saat bekerja, juga sangat bersyukur dengan hasilnya. Fiah tak mau mereka renggut itu dari ibu begitu saja.”

“Kau ini mirip bapakmu. Bapakmu itu kalau bicara soal hak, suka berapi-api. Itulah mengapa rumah ini sering didatangi banyak orang minta bantuannya,” Ibu tersenyum, lalu sendu menggayuti matanya. “No, Tarno, umurmu kok ya pendek begitu to, No.”

Angin dingin berkesiur masuk rumah, menabrak wajahku. Kutarik daun jendela agar menutup, lalu duduk di sebrang ibu. Tomo kudengar sedang sibuk memasukkan ayam-ayam ke kandang persis di belakang rumah. “Kalau masih hidup, tentu bapak tak suka mendengar ulah para pemilik pabrik itu. Bapak pasti marah-marah jika mereka seenaknya begitu.”

“Elfiah…” Ibu menyebut namaku seraya memandang foto bapak di atas bufet, “dulu bapakmu juga kerap ibu larang. Tak baik, nanti ia dibenci orang. Ibu tak mau perangaimu ikut-ikutan galak macam bapakmu.”

“Galak macam ini baik maksudnya, Bu. Tak asal galak belaka. Apa pernah ibu lalai selama 48 tahun bekerja pada mereka? Tidak kan?” Aku terus meyakinkan beliau, “ibu berangkat ke pabrik paling pagi. Bahkan sebelum Tomo bangun, ibu sudah mengayuh sepeda menuju pabrik.”

“Entahlah, Fi. Katanya ini soal pro..pitas apa itu?”

“Produktifitas, Bu.”

“Ya, itu…” Ibu tersenyum, “mana ngerti ibu soal begituan.”

Aku membatin. Produktifitas apalagi yang mereka persoalkan pada buruh yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya bekerja dengan bayaran kecil. “Mereka cari-cari alasan, Bu!” Kubanting punggungku ke sandaran kursi.

4/

Aku meluangkan waktu selepas kuliah untuk singgah sebentar ke pabrik tempat ibu bekerja. Hendak kutemui si Pitono, mandor ibu itu. Jika bisa, sekalian bertemu dengan penanggung jawab pabrik. Hendak kutanyakan soal keterlambatan dua bulan gaji ibu, juga soal umur ibu yang mereka singgungkan itu.

Walau lapar, tapi demi memberesi urusan ibu, sepiring nasi boleh menunggu. Cukup 30 menit, sampailah aku di halaman pabrik tempat ibu bekerja. Halamannya luas dan sering dipakai menjemur tembakau dan cengkeh untuk ramuan kretek. Harum cengkeh bahkan sudah kucium dari depan gerbang.

Suti memergokiku dari kaca jendela dan buru-buru mendatangiku. Ia bersama si Pitono itu. Bagus. Aku bisa langsung menyampaikan maksud kedatanganku ke mari.

“Fiah, ada apa singgah ke mari?” Suti menyapaku.

“Aku ada urusan sama Pitono ini, soal ibu.”

Pitono berusaha memaniskan senyumnya. “Biar kujelaskan. Ayo, ke kantor dulu.”

“Di sini saja,” aku menolak, “aku mau tanya, kenapa pabrik menunda gaji ibu.”

Pitono melirik Suti, lalu beralih padaku. “Begini, Fi. Ibumu itu…”

“Ibu kenapa? Aku ke sini hanya mau nanya itu. Dijawab saja.”

“Iya, ini hendak kusampaikan, bahwa ibumu itu bukan tak terima gaji lagi. Seharusnya beliau menerima pesangon enam bulan gaji.”

“Pesangon? Ibu dipecat, maksudmu?”

“Bukan begitu.” Pitono salah tingkah, “ibu sudah melampaui batas maksimal umur buruh di sini. Pabrik punya aturan baru soal produktifitas.”

“Kalian sudah sampaikan pada ibu tentang keputusan itu?”

Pitono tak menyahut, tapi Suti kulihat menggeleng kecil.

“Kenapa belum?” Aku mulai jengkel, “apa ibu pernah tak mencapai target kerja yang kalian tentukan? Atau, kalian sengaja pasang target tinggi hingga buruh senior tak mampu mencapainya?”

“Itu putusan pabrik loh, Fi. Saya hanya mandor, cuma menuruti.” Kilah Pitono.

“Hei, Tono. Justru karena kau mandor maka kau mestinya melindungi hak buruh senior macam ibu. Apa pabrik tak menghitung pengabdian ibu pada mereka?”

“Akan kupastikan hak ibumu diterima dengan utuh.”

Aduh, Tono, intinya bukan itu. Pantas saja pangkatmu tak pernah naik.

“Bukan soal utuhnya hak yang bakal diterima ibu. Ini soal bagaimana pabrik menghargai pengabdian para buruh kretek yang puluhan tahun bekerja hingga pabrik ini bisa bernafas sampai hari ini.” Aku nyaris tersedak amarahku sendiri. “Ibu sudah tua menurut kalian, tapi separuh hidup ibuku, habis di tempat ini.”

Rupanya ini rahasia ibu. Manajemen pabrik telah memecatnya.

“Seberapa banyak jumlah pesangon enam bulan gaji yang hanya tiga kali naik selama 48 tahun itu?” Desisku. “Beritahu aku, bagaimana cara menghilangkan aroma kretek dari telapak tangan ibuku?”

Pitono terdiam. Mata Suti berkaca-kaca. (*)

Molenvliet, Januari 2014.

Twitter: @IlhamQM


[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


%d blogger menyukai ini: