Tag Archives: padang

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 

Iklan

[Cerpen] Daun Zaitun | Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

Daun Zaitun

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

padekco-2vMTh

SELALU  ada yang istimewa dalam kata-katamu. Kau pandai melukiskan ketragisan —tentang beberapa cerita di Corsica, misalnya, kau mampu menertawakan cinta yang berakhir menyedihkan.

Menurutmu, kemalangan adalah hal sepele. Di negeriku, hal-hal yang kau anggap sepele itu, aku kenali sebagai Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Juga ribuan jugun ianfu.

Tentu saja, kau tak kenal Dasimah, Ponirah, dan Marsinah. Kau juga tak kenal Sutinah, seorang jugun ianfu yang hidup sendirian di pinggiran kotaku. Cinta itu tragis. Mungkin seperti itu pesan yang kau tangkap, sebagaimana orang-orang seperti Sutinah.

Hal-hal sepele bagimu, terdengar sinis olehku. “Kau sedang bermain-main.”

“Bukan aku,” pelipismu mengeras, “tetapi kita. Kita yang sedang dipermainkan.”

Aku tak paham. “Kita?”

“Ya. Kita.” Kau mengangguk. “Adakah kita melupakan sesuatu?”

Aku coba mengingat-ingat. Barangkali memang ada detail yang aku lewatkan dalam percakapan ini. Tetapi, demi setiap detik yang kita habiskan, aku harus menyerah.

“Zaitun?” Lehermu menekuk rendah. Pelipismu berkerut, dan matamu menyapu wajahku.

**

AKU baru saja mengenalmu. Baru saja. Kau menghampiri saat aku sedang menikmati suasana sore di pelataran Brandenburg. Aku selalu ingat setiap suasana sore yang mampu menimbulkan kesan secara personal.

Di puncak gerbang Brandenburg, tegak patung Quadriga dengan empat kuda yang berderap ke timur. Sosok Viktoria menggenggam tongkat berkepala elang seraya memecut punggung kuda-kuda nan gagah itu. Patina memberi kesan hijau yang magis. Cahaya lembut matahari sore di akhir Desember, berceceran di kota Berlin.

Suhu 15 derajat celcius mampu menyengkeram tengkuk. Mulutku beruap dan bibirku seperti beku. “Ia mirip Dewi Nike,” suara lembutmu masuk ke telingaku.

Kau berdiri di belakangku dengan postman-hat berfuring beludru membungkus rambutmu yang merah. Biru matamu tampak cerlang, berpadan dengan lumen cahaya di sore itu. Kau tampak anggun dalam long winter coat berkerah tinggi bergaya neo-klasik Pier Angelini. “Mau?” Kau sodorkan alkohol gula dari kaleng cekung milikmu. Aku menerimanya dan meneguk isinya dengan senang.

“Ia lebih mirip denganmu,” kataku menganggukan kepala pada fragmen Viktoria di atas gerbang itu, kemudian ke arahmu. Kau tersenyum. Wow, aku tak salah —kau memang cantik. Alkohol gula berhasil membuat dadaku hangat.

“Ia perempuan Jena-Auerstedt juga.”

Aku menyukai gadis ramah ini. “Kau orang Weimar?”

Kau menggeleng. “Kisahnya cukup tua. Tahun 1814, kakek buyutku ikut dalam rombongan besar Jenderal Ernst von Pfuel membawa Quadriga ini dari Prancis.”

Baiklah. Untuk seseorang yang tak segan berbicara pada orang asing, kau tentulah tipe yang tak menyukai omong kosong. Kau menyalami tanganku. “Gaulliare. Jeanice Gaulliare.” Kau sebut namamu.

Franzosisch madchen freundlich,” aku memujimu dan kau tertawa. Geligimu putih. Pipimu pucat tanpa perona. “Pangkawi. Roland Pangkawi.” Aku kenalkan diriku.

**

KAU seorang yang satir. Kau berani menertawakan kedukaan. Bagimu, kematian adalah sesuatu yang ikonik. Tiba-tiba saja semuanya berubah lucu di lidahmu. “Kota ini berubah dengan cepat. Di sini, pembunuhan adalah sesuatu yang sepele.”

“Maksudmu, tragis?”

Kau menunduk, menatap sepatumu. “Kau tahu Corsica? Cinta telah mengutuk kota itu. Tempat yang punya banyak cerita. Tentang perseteruan karena cinta datang merenggut hati setiap orang di sana.”

—Baiklah. Kau ingin kita bercerita tentang cinta.

“Selalu soal cinta,” Jeanice mendongak menatap Quadriga. “Tapi di Corsica, cerita seperti itu punya pesan lain. Andai Quadriga itu simbol dari sesuatu, seharusnya orang-orang bisa memahami keseriusan Gottfried. Quadriga yang ia buat dengan berbagai kerumitan itu, menjadi tak berarti ketika dipajang di kota seperti ini.”

Tiba-tiba udara dingin menyambar tengkukku. Aku naikkan kerah mantelku. Aku mulai menyukaimu. “Itu tetap saja tragis, Jeanice,” timpalku.

“Orang-orang di sini menyebutnya sepele. Itu dua hal yang berbeda.”

Menurutmu, selalu ada kegaduhan seusai sebuah peristiwa. Kegaduhan yang kerap lebih lama daripada peristiwa itu sendiri. Suara-suara mengisi kota, berlompatan, atau mengapung di angkasa tanpa artikulasi. Orang-orang bisa terbunuh dengan sesuatu yang tampak surealis.

Kau tak bergeming. Kedua telapak tanganmu membenam di saku mantelmu. Pelupuk matamu mengatup, merasa syahdu dengan Das Lied der Deutschen —lagu orang-orang Weimar— dari pelantang suara. Mungkin sekarang kau sedang mengkhayalkan si tampan August Heinrich dari Helgoland.

Bagiku, Jeanice lebih baik, ketimbang terbenam sendiri di bar murahan bersama bir yang nyaris basi dengan telinga yang terbekuk berita lonjakan harga akibat krisis ekonomi. Ditemani gadis ini masih jauh lebih baik, daripada mendekut di apartemen, di depan televisi yang menyumpali telinga dengan gosip hubungan gelap kanselir dengan sopir pribadinya. Aku berkemam dalam dingin. Sesuatu tentang Zaitun kini mengusik ingatanku.

**

AKU ingat pada rute dari arah Ebertstrabe memotong Platz Pariser di bagian barat kota ini. Tujuh bulan lalu, di suatu malam, entah bagaimana aku memutuskan merimpang ke wilayah Unter den Linden yang dibarisi pepohonan di dua sisinya hingga ke Reichstag, satu blok ke arah utara. Tak kusangka, melintasi Alexanderplatz malam itu adalah sebuah pilihan buruk.

Seseorang tergopoh-gopoh menembus udara malam, tergesa-gesa menyebrangi Unter den Linden yang tertutupi bayangan pepohonan yang rebah oleh lampu jalan. Dan suasana sepi sekali.

Aneh. Ini kawasan yang selalu ramai. Para manula biasa menghabiskan waktu sore dengan duduk menikmati aliran sungai Spree. Di akhir musim panas, terkadang mereka bergerombol di Alexanderplatz, berbagi memori tentang segala hal sebelum penyatuan Jerman. Saat malam beranjak, para pemuda berkumpul mengelilingi drum-drum besi yang terbakar. Itu pemandangan yang biasa aku saksikan di sepanjang kawasan Berliner Dom. Di malam yang kian larut, mereka kemudian berpencar untuk hiburan malam dan bir paling enak di bar-bar pinggiran kota.

Di penghujung malam, tempat yang seharusnya sudah sepi itu, masih menyisakan dua kelompok yang sedang mengelilingi drum masing-masing. Jarak antara aku dengan mereka hanya 50 meter, saat mereka memergoki seorang gadis. Terlindung di bayangan tiang lampu, aku saksikan mereka memperlakukannya dengan kasar. Mereka tak peduli pada teriakannya, tak peduli saat ia menangis memohon agar mereka melepaskannya. Ia ditampari hingga tak berdaya. Ia meronta saat mereka memasukinya secara bergantian.

Aku belum siap mati untuk sesuatu yang bukan urusanku. Berurusan dengan genk adalah hal yang serius. Setelah puas, mereka menembaknya, lalu meninggalkannya untuk mati. Tetapi ia masih hidup saat kudekati. Wajahnya tersaput darah.

**

“ALEXANDERPLATZ?” Kau menatapku dari tempatmu berdiri.

Aku mengangguk.

“Apa itu masih bukan urusanmu?”

“Ini rumit, Jeanice.” Aku gugup — “Lagi pula, apa urusanmu dengan masalah ini?”

Alismu terangkat. “Tapi kau saksinya. Kau pengecut seperti Gotthard.”

“Bukan begitu.” Aku terpojok. Aku melirikmu dengan jengkel. Aku renggut kaleng alkohol gula dari tanganmu, kuteguk isinya dua kali.

Kau kantongi kembali kalengmu setelah kukembalikan. “Aku menelusuri semua fakta sehingga aku sampai padamu. Aku menyadari sesuatu telah hilang dari tubuhnya saat aku melihatnya di ruang koroner. Veanice tak pernah ke mana-mana tanpa bros daun Zaitun miliknya.”

Persendianku lemas. Mataku menjamah seluruh wajahmu dan menyadari nyaris tak ada yang berbeda dari kalian berdua. “Veanice Gaulliare adalah kakakku. Kami kembar identik.”

—Baiklah.

Kami datang ke kantor polisi. Opsir polisi yang menerima laporanku heran saat kusebutkan tentang bros daun Zaitun dan kehadiranku yang mungkin bisa membantu mereka menangkap pemerkosa Veanice. Polisi hanya perlu mencari mereka yang ciri-cirinya bisa kugambarkan dengan baik.

Kau benar. Kota ini dikendalikan suara-suara. Kota seserius ini selalu berhasil merusak ketertiban, kemudian bersusah payah memerbaikinya. Seperti zombie, orang-orang mati yang berjalan, maka suara-suara bisa membuat kota ini tetap bergerak.

Kau tetap gadis berambut merah yang aku sukai dan Veanice dalam kenanganmu. Seperti Corsica yang kau ceritakan itu, maka setiap orang punya pesan untuk cinta yang mereka miliki —dan kau sejenis orang yang peduli dengan rahasia-rahasia tentang Corsica, tentang Qudriga, mungkin juga tentang Gottfried dan Gotthard. Entahlah.

Kau menemaniku duduk di tepian sungai Spree. Kau begitu ramah, mengizinkanku meneguk alkohol gula dari kaleng cekung yang saling kita sodorkan bergantian. (*)

Desember 2013 – (revisi) 2015

 

Catatan:

– franzosisch madchen freundlich = gadis Prancis yang ramah.

 

Padang Ekspres | Minggu, 15 Maret 2015

 


Rubaiyat [XLI] : Jaridatain

(tongkat basah)

 

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

: kepada penyair

 

jika engkau tak menjenguk, mana mungkin padamu aku kelak ruah

aku bukan orang saleh yang bisa mengubah tongkat serupa ular

tidak pula begitu gampang menemukan wadi’ di padang tiah

bahkan awan tak menaungi kepalaku jika aku menggelintar

 

sungai memiliki pangkal dan hujung

napas itu, dihembuskan saat lahir dan saat mati

kita memiliki keduanya, ada punggung dan ada mula

mengapa tak pula kau tanyakan dalilnya

 

sehingga kumpulan air disebut samudera

gundukan tanah menjulang disebut gunung

ruang maha luas itu disebut angkasa

alam itu memberikan segalanya di saat pagi

 

: kau diberinya air lewat embun

kau diberinya kehangatan sinar lembut mentari

hatimu diteduhkan oleh langit yang terang

telingamu dihibur oleh nyanyian burung

 

tetapi saat siang amarahmu menjilam keji

kau ludahi tanah yang menumbuhkan bagimu bunga

kau sumpahi angkasa yang menebar angin memberi tepi

kau kutuk burung yang menebar benih

 

apabila agama diiris iris, engkau abai saja berdiam diri

tapi engkau racau mengutuk insan yang dahaga bersyair

engkau hendak menggatra piring kotor di atas yang bersih

bertingkah layak, melantik kambing sebagai raja

 

sungguh pongak manusia tiada batas

kesombongan mengonggok hatimu serupa sisa abu tungku

saat kau kira akalmu menjulang, sukar bagimu berbagi ilmu

kesombongan jubahmu,  mahkotamu adalah rangah

 

mengira hanya dirinya seorang saja di dunia ini

disangka hanya dirinya seorang saja menderita

menjadikan sesalnya sebagai alasan kedengkian

mengelubung sisa kepalsuanmu sebagai topeng berikut

 

begitu cepat lupa menghukummu

sehingga kau cupai tingkahmu sebelum itu

apa kau mengira usai berguru pada orang hebat,

lantas kau pun seketika terjangkit hebat?

 

hanya raja yang menabalkan raja

tak pernah ada raja menahbiskan darwis

tak pernah ada daduk mengenakan mahkota

bahkan, seorang raja tak pernah jalan bertongkat

 

jika engkau tak menjenguk, mana mungkin padamu aku kelak ruah

kau bukan orang suci yang mampu naik ke langit dan berdiri di sisi arsy

memelihara keangkuhan menghalangimu berkalang martabat

ohoi, pujangga…wahai, penyair

***

Februari, 2011

Labyrinth -- Joshua Standing before the City of Jericho , Syrian Grammar. pp: 135-136 (sumber foto: assyriatimes.com)


%d blogger menyukai ini: