Tag Archives: orang

[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2015

Cover tempo 2015_depan

Download: klik link di bawah ini

 @E-BOOK KUMCER KORAN TEMPO 2015

Tujuan pengarsipan dan dokumentasi 52 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. Penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah drastis fisik atau karateristik material, dan modifikasi material dalam skala yang dapat ditoleransi. Semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media di mana karya yang bersangkutan diterbitkan pertama kali. Dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta (penulis) dan media yang menerbitkan subyek karya pertama kali.


[Cerpen] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia | Jawa Pos | Minggu, 10 Januari 2016

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia

Oleh Ilham Q. Moehiddin

[Ilust] Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia3

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Orang-orang yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar.

Sesuatu telah membuat orang-orang itu tergesa memersiapkan semuanya. Sesuatu peristiwa mendesak mereka, peristiwa yang diawali persis sepekan lalu, menyita perhatian warga Vastivia dan membuhul gunjingan di setiap kumpulan orang-orang, bahkan di pertemuan kelompok rajut. Aku mengumpulkan semua catatan mengenai peristiwa itu, untuk tetap membuatku ingat bahwa Vastivia pernah merekam sebuah pengkhianatan.

 

Sepekan Sebelum Malam Tahun Baru.

“Tangkap dia—sekarang!” Teriak Hakim Jaloz. Telapak tangannya menempel ke permukaan meja. Dua petugas Pengadilan yang diteriakinya berlompatan, tergesa-gesa melewati koridor yang langsung mengakses pintu menuju lobi utama Kantor Pengadilan Vastivia. Satu regu segera bergerak untuk melaksanakan perintah sang Hakim.

Di Vastivia, Hakim adalah orang kedua paling berkuasa menjalankan pemerintahan, setelah wali kota. Hukum tertinggi berada pada kolektifitas warga Vastivia.

Itulah mengapa ada plaza luas di tengah kota ini. Ada tribun berjenjang lima yang melingkar panjang mengelilingi plaza luas ini. Ada sebuah panggung besar berisi tiga meja di sisi Timur plaza. Juga sebuah panggung kecil, 2×2 meter luasnya, dan dua meter tingginya, di sisi berlawanan dari panggung besar, di sisi Barat plaza.

Plaza itu dikepung empat jalan yang membuatnya terasing jika terlihat dari udara. Viesneva memisahkan plaza itu dari kumpulan kantor pemerintah di sebelah Barat. Liesnabon, memotong plaza dari sarana perekonomi warga di sisi Utara. Ulasijan, mengiris plaza dari pusat studi dan kepustakaan di sisi Selatan. Ainnestock, meregresi plaza itu dari kawasan industri di sisi Timur. Lokasinya strategis, bukan? Posisi empat jalan itu memudahkan warga menuju plaza. Di akhir pekan, orang-orang akan datang menanak kesenangan di rerumputan hijau plaza itu, bersapaan, memuja keakraban di antara mereka, dan membiarkan kanak bermain.

Di plaza ini semua orang setara.

Mataku melihat dengan saksama kesibukan yang segera usai itu. Tepat di hari pertama tahun baru, di sisi Selatan plaza telah siap lubang dengan kedalaman dua meter. Di sampingnya, ada tiang lima meter berbentuk huruf “L” terbalik. Di sudut lain plaza, ada altar marmer berceruk busur selingkar leher orang dewasa.

Seorang bernama Zamboni telah dibawa paksa ke depan Hakim Jaloz. Sepekan lalu, satu regu beranggota enam orang telah menyatroni ruang kerjanya, mencokoknya ke hadapan Jaloz, di lantai dua Kantor Hakim Vastivia. Zamboni gemetar. Mata Hakim Jaloz seperti menyala-nyala saat itu. Air muka Zamboni dipenuhi kecemasan.

“Kau mengubah dokumen perbendaharaan kota!” Tajam Hakim Jaloz melemparkan tuduhan ke muka Zamboni.

Tak satu katapun keluar dari mulut Zamboni. Jaloz lebih menyeramkan ketimbang seorang Mestizo yang menantang Juan Dahlmann bertarung pisau di wilayah Selatan Argentina dalam cerpen Borges. Tak ada orang yang begitu yakin mengeluarkan perintah penangkapan pada pejabat kota—bahkan ketika si pejabat berada di ruang kerjanya..

“Jawab aku!” Teriak Jaloz. Sendi Zamboni seperti patah. Ia kini berdiri pada lututnya. “Aku—aku tak melakukannya,” sahut Zamboni ngeri. Nyalinya sudah lama pergi.

“Lalu siapa! Hantu!?” Jaloz memajukan kepalanya. Ujung hidungnya melampaui ujung meja. Suara Jaloz menjalar bagai api. Tapi Zamboni tak mengerti mengapa kemalangan hanya menimpa dirinya saja. Ia tiba-tiba jadi pesakitan di hadapan Jaloz. Padahal karirnya sedang menanjak saat ini.

Mengenai Zamboni—semula ia pegawai rendahan di Balai Kota Vastivia. Tugasnya mengumpulkan dan merestorasi dokumen kota, mengadas, kemudian menatanya di jejeran lemari ruang data. Ia membuat dua salinan untuk setiap dokumen yang dikadas, sebelum satu salinan ia kirim ke Kepustakaan Vastivia. Zamboni 15 tahun bertugas di balai kota, sebelum dipromosikan sebagai Kepala Biro Kependudukan Vastivia. Ia menikahi putri Imam Kuil Rastyan, perempuan tercantik distrik kecil Kastien di Tenggara Vastivia.

Barangkali, Zamboni menganggap diri orang termujur se-Vastivia dan orang-orang juga mengiranya begitu, sampai pada siang di mana satu grup petugas menggebah dan menghadapkannya ke Hakim Jaloz.

“Panggil Panitera!”

Leher Jaloz terangkat tinggi, meneriaki seorang petugas yang bergegas bicara ke interkom. Tak semenit, seorang lelaki tua datang tergopoh-gopoh. “Yang Mulia?—”

“Siapkan peradilan untuk orang ini!” Perintah Jaloz. Zamboni tersedak ludahnya sendiri. Panitera menyanggupi lalu berbalik pergi.

Jaloz memicingkan mata kepada Zamboni. “Kau—kau akan mendapatkan perhitungan. Kau harus membela dirimu sendiri. Aku akan memeriksamu, Zamboni. Kau harus hati-hati menjelaskan perkara ini di hadapan warga kota,” desisnya.

Zamboni langsung dijebloskan ke tahanan. Ia akan mendekam di situ menunggu peradilan atas dirinya. Ia tak boleh menelepon.

Wali kota Palyska menggerutu. Kabar sudah sampai ke mejanya, beberapa menit setelah penangkapan Zamboni. Petrova gugup saat bercerita tentang pendadakan terhadap lelaki itu. Muka sekretaris Palyska itu pias bagai kertas. Tubuhnya lunglai di sofa kantor wali kota.

“Apa yang diakui Zamboni?” Tanya Palyska

Petrova menggeleng pelan. “Tak ada—ia seperti kucing basah di hadapan Jaloz.”

Palyska menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri lehernya. Hari masih pagi, ruangan itu berpendingin udara, tapi gerah menyergap tubuh Palyska. Ini ide Petrova—dan untuk jasa Zamboni, Petrova memberinya 10 juta hast serta merelakan tubuhnya dicumbui Zamboni di hotel paling mewah di Vastivia.

“Zamboni menerima apapun yang pantas ia terima,” kata Petrova. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia terus membayangkan bagaimana lelaki paling mujur di Vastivia itu membuncahkan segala gairah ke tubuhnya. Satu jam bersama Zamboni—dan Petrova tak menikmati apapun. Lima jam perempuan itu harus mandi untuk menangisinya.

 

Hari Pertama Setelah Malam Tahun Baru.

Usai kesibukan yang melelahkan di malam tahun baru itu, para pekerja bergiliran pulang. Kehadiran mereka segera digantikan ratusan warga kota yang langsung memenuhi tribun di plaza itu.

Orang-orang seketika hening. Tiga orang bertoga memasuki plaza dan naik ke panggung besar. Hakim Jaloz berjalan terburu-buru, mengamit ujung jubahnya agar tak terkena tanah. Wakil Hakim menyusul di belakangnya. Sang Panitera tampak terlalu kikuk untuk hadir di plaza ini. Orang-orang menertawakannya. Asin laut terbawa angin dari arah Timur plaza.

Jaloz menganggukkan kepala pada petugas pengadilan yang segera berteriak. “Warga Vastivia memanggil ke peradilan ini seorang lelaki bernama Zamboni yang diduga menggelapkan dokumen perbendaharaan Vastivia!”

Masuklah dua petugas mengawal Zamboni. Ia hampir tak sanggup berjalan sendiri dan harus dipapah untuk naik ke panggung kecil. Istrinya yang cantik dan dua putranya berdiri sedih di sudut tribun Utara.

“Baiklah, Zamboni—” Hakim Jaloz membuka peradilan. Wajahnya yang berminyak terlihat berkilat, “—kau harus membuktikan bahwa kau tak bersalah.”

Sebagai hakim, tugas Jaloz hanya memeriksa. Penentu hukuman di peradilan ini adalah warga Vastivia. Jika Zamboni tak bisa membuktikan dakwaan terhadapnya, maka warga Vastivia akan menentukan hukuman untuknya. Warga kota tiba-tiba riuh. Para Hakim menunggu dengan sabar sampai semua orang berhenti bersuara. “Zamboni—apakah kau menerima dakwaan?” Tanya Jaloz.

Zamboni tergugu. Kedua puteranya menyembunyikan wajah mereka ke perut ibunya.

“Tidak—” Zamboni memelas. Matanya diedarkan ke semua warga di tribun. Namun orang-orang mendelik padanya dengan kesumat kebencian, “—aku tak tahu bahwa angka-angka yang aku ubah itu adalah isi laporan kwartal perbendaharaan kota.”

Jaloz gusar. Zamboni memandang takut. Dagunya diangkat, perutnya bergejolak. Jaloz berusaha mengatasi kecemasan yang menyerangnya. “Jika kau diperintah—lalu siapa yang memerintahmu?” Teriak Jaloz.

“Petrova—sekretaris wali kota Vastivia!”

Warga tertegun. Mereka kemudian berbisik-bisik. Jaloz menyeka keringat di dahinya. “Hadapkan Petrova ke depan warga Vastivia!” pemerintahnya.

Petrova digiring turun dari tribun. Wajah perempuan itu pias bukan main. Tapi anggukan Hakim Jaloz membuatnya tenang. Ia tak menyangka Zamboni akan menyebut namanya. Ia dinaikkan ke panggung, bersisian dengan Zamboni.

“Petrova—” datar suara Hakim Jaloz, “—apa pembelaanmu?”

“Aku tak melakukannya—”

Plak!

Telapak kanan Zamboni mendarat di pipi Petrova. Perempuan itu kaget setengah mati. Darahnya mengalir cepat. Wajahnya panas, harga dirinya jatuh. “Kau—kau berbohong Petrova!” Zamboni menunjuk muka perempuan itu. “Kau menyogokku dengan tubuhmu dan uang 10 juta hast agar aku tak bicara pada siapapun!”

Orang-orang terkejut—termasuk istri Zamboni. Perempuan cantik itu buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia sukar memercayai apa yang baru diucapkan suaminya. Amarah warga Vastivia sukar ditahan lagi. Benda-benda beterbangan ke panggung kecil di mana Zamboni dan Petrova berdiri. Petrova menutup hidungnya—sebuah benda membuat hidungnya berdarah.

Dengan suara sengau dan telunjuk yang mengacung ke udara, perempuan itu bicara, “—Palyska juga terlibat perkara ini!” Petrova menyahuti warga dengan keras.

Tangan-tangan yang hendak melayangkan benda ke panggung, tiba-tiba terhenti. Mata mereka kini tertuju pada Palyska yang sedang duduk di tribun utama.

Hakim Jaloz menghela napas berat. “Hadapkan Palyska ke depan warga Vastivia!” Teriaknya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menghadirkan orang-orang itu.

Palyska segera turun dan dikawal naik ke panggung, bersisian bersama Zamboni dan Petrova. Seharusnya Jaloz segera meminta Palyska membela dirinya atas tudingan Petrova. Jaloz hanya menyandarkan punggungnya saat orang-orang menuding ke arah mereka bertiga. Palyska mengedarkan matanya ke tribun. Ada anak perempuannya duduk di antara warga.

“Semua akhirnya terbuka. Aku tak mengira akan secepat ini,” lelaki itu mendelik pada Petrova di sisi kirinya. Perempuan itu sibuk menyeka darah dari hidungnya.

“Seusai jam kantor, kami ke Paterna Uljibeer untuk beberapa gelas bir dingin. Tiba-tiba Petrova bercerita tentang keanehan laporan kwartalan perbendaharaan kota. Dokumen itu harus diperbaiki, katanya—dan aku setuju. Auditor akan datang dua hari berselang—” ujar Palyska. Ia meneruskan ceritanya.

Mereka kemudian mencari orang yang tepat untuk memerbaiki dokumen dan Petrova menyebut nama Zamboni. Menurut Petrova, lelaki itu berpengalaman 15 tahun bekerja di balai kota. Petrova menemui Zamboni untuk membicarakan hal itu.

Seorang perempuan berdiri dan membuat Palyska berhenti bicara. “Mengapa tak kau biarkan auditor memeriksa dan menemukan kekeliruan itu?” Tanyanya.

“Benar—” Palyska menegakkan punggungnya, “—cukup sederhana, bukan? Membiarkan auditor menemukan keanehan itu dan menghancurkan kredibilitasku sebagai wali kota Vastivia.” Palyska menggeleng. “Tentu saja tidak. Sebab itulah kubiarkan Petrova menyelesaikan sisanya.”

Palyska kagum pada hasil kerja Zamboni. Tapi auditor tak mau kompromi. Secara teknis dokumen itu benar, tapi kebocoran tetaplah kebocoran. Hilangnya sejumlah uang dari perbendaharaan kota tak bisa dianggap tak pernah terjadi. Auditor membuat aduan ke pengadilan.

Orang-orang berteriak gusar. Dari arah tribun terdengar teriakan, “hukum mati mereka!” Teriakannya memicu kegaduhan warga lainnya. Telunjuk mereka menuding ketiga orang di panggung kecil itu. Jaloz siap mengetuk palu, mengesahkan vonis warga untuk ketiganya.

Petrova panik. Keadaan itu di luar dugaannya. Perempuan itu melompat turun dari panggung, tersungkur keras dengan wajah mencium tanah. Cemong darah bercampur tanah memenuhi hidung dan mulutnya. Perempuan itu langsung bangun dan lari menuju panggung besar. “Tembak dia—tembak!” Teriak Jaloz.

Tapi tak ada yang mencegah Petrova. Tak ada suara letusan. Gadis itu tegak di depan panggung besar. “Hukum dia juga—” Petrova menuding muka Hakim Jaloz, “—dia tak menyelesaikan pekerjaan yang didanai pajak warga Vastivia. Ia menyuapku agar membujuk wali kota dan Zamboni—tapi ia bahkan tak berusaha menolongku di hadapan kalian,” Petrova mendaku dalam isak tangisnya.

Warga Vastivia diam tak bergerak. Pengakuan Petrova seperti pecut yang dilecutkan ke telinga mereka. Wakil Hakim tiba-tiba memerintahkan penangkapan dan enam petugas sudah mengepung Jaloz.

 

Hari Kedua Setelah Malam Tahun Baru.

Angin laut yang kering berhembus dari Selatan Vastivia di hari kedua tahun baru. Kota itu baru saja mengakhiri riwayat empat pelaku korupsi. Angin yang meniup tubuh Zamboni yang mengayun pelan di tiang gantungan, menyapukan debu ke wajah Petrova yang ditanam sebatas leher di liang dua meter, mengirim bau anyir darah dari kepala Palyska yang menggelinding dekat altar marmer. Angin yang mengeringkan tubuh Jaloz yang teronggok di sudut panggung besar. Di toganya ada liang menganga, bekas tikaman belati Panitera yang ikut mengepungnya. (*)

 

Molenvliet, Desember 2015

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.


[Cerpen] Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa | Jawa Pos | Minggu, 31 Mei 2015

Hikayat Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi Cerpen Jawa Pos Minggu 31 mei 20152

1/

Berjalanlah ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka —Telaga Dosa.

Konon, orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam para Apua (Tetua Adat).

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin-tahuanku. Pada satu-satunya Penujum di sini, kutanyai ia tentang kisah Para Pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

 

2/

Ikutilah jejak ular pasir di gurun itu, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang mereka kira telah habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah Para Pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya Apua saat mengetahui perbuatanku.

Penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapapun yang dilarang dengan nada kalimat macam itu, maka bohong besar jika ia tak terpancing keingin-tahuannya.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus-asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Apua menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang datang ke kota itu, lalu dengan dalih reformasi mereka coba-coba mengubah kalimat keramat yang telah dipahatkan di tugu pembatas kota. Seketika mereka dihujat karena menista Para Pendahulu, dituduh telah berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain.

—Satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepian Telaga Dosa. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh buat semua orang yang hadir di situ. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikuburkan di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Hukuman itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

 

3/

Jika kau mengikuti bayangan burung Nasar yang sedang terbang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena setitik harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu di batas kota.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Ada masanya mereka melakukan sebuah ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai napak tilas dari tugu batu di batas kota, melafazkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepian telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak pernah mereka garap. Mereka menghabiskan apa yang ada dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan.

—Harapan adalah dosa maha besar di kota itu.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dilarung ke dasar telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan bola-bola jamur putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka kerap pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Apua bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita dari kematian Para Pendahulu melalui bola-bola jamur putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk karena kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus-asaan yang diberkatkan kepadanya. Darah dan luka adalah keputus-asaan tanpa batas.

Tapi itulah harga sebuah kepatuhan —kata Apua.

 

4/

Aku mengikuti sebentuk awan kelabu yang berarak ke selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun melebihi keputus-asaan mereka sendiri.

Seperti apa yang mereka sampaikan kepada setiap orang yang datang ke sini, kepadaku pun mereka sampaikan larangan yang sama; jangan sekali menanyakan perihal telaga di tengah kota ini dan kenapa para pendahulu memilih kekal ke dasarnya.

—Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali!

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin-tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang memiliki jawaban. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali—”

“Informasi itu penting untuk cerita yang sedang aku tulis,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang—?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “—cukuplah bagimu apa yang terpahat di tugu batu di depan kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “—tapi katakanlah pada siapa aku bisa mendapatkan keterangan tentang itu?”

Seketika si Penujum tua keluar dari tumpukan bulu Beruang. Seperti baru saja tergigit seekor Semut Api Amazon, matanya merah karena terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para Pengawas Kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah telah jelas —siapapun yang dilarang dengan kalimat seperti itu, maka ia pasti berbohong jika rasa penasarannya tak terpancing.

Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Aku hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

 

5/

Mendongaklah —saat kau mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota memuntahkan amarahnya ke wajahku. Aku kini berada di mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi aku tak memahami maksudnya—”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Bagaimana aku mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kuceritakan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada —terima saja keadaan kami. Kau tahu, kau tak patut memaksakan keberatan atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami haramkan—?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “—karenanya, kau akan kami hukum!”

“Tunggu—!” Aku berdiri, “—aku bahkan bukan warga kota ini.”

Tetapi Pengawas Kota tak hirau lagi. Ia menoleh pada empat Pengawas Kota lain yang telah menganggukkan kepala mereka padanya.

“Kalian!” Pengawas Kota itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu—!” Aku menolak perlakuan mereka. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekori kami seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai, pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Tetapi air telaga itu seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku untuk dikaramkan ke dasar telaga.

Aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau kepayahan, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu —jawaban yang kalian cari ada di dasar telaga ini. Mungkin aku tak akan sempat lagi menuliskannya dalam ceritaku.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin agar kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan —banyak sekali,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau harus tahu bahwa di bawah sana tak ada jejak Para Pendahulu.”

Gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

 

Molenvliet, Januari 2013


Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 


[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


%d blogger menyukai ini: