Tag Archives: murung

Rubaiyat [IV] : Kisah Murung Socrates dan Anaknya

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Atas pualam

Socrates bersimpuh agung.

Bukunya sebagai penopang lengannya.

Anaknya memandanginya teramat tulus.

 

Lengan berurat

tanda bekas pena bulu ayam.

Ia telah menulis banyak hal dalam kitab yang dibaca terdahulu.

Mengajarkan impian indah pada putra tunggalnya.

 

Ia tahu, perbedaan seorang Octavianus, dan

seorang lelaki yang berdiri di hadapan singa.

Selama hayat dan akhirnya ia murung.

Dari telaga, air membentuk kanal kecil dekat kehidupannya.

 

Ia tahu tangis itu untuk siapa. Lalu apa?

Merubah pilihan menjadi kepastian.

Dari kejauhan Socrates memandangi kejatuhan elang, dan

ketika itu pengawal sorga menjadi muram.

 

Belahannya makin terbuka,

jangan paksa anak itu masuk!

Hasrat sang Agung mengawang dan

makin menggelepar.

 

“Aku tak dapat menemanimu duduk,

biar kau rasakan eloknya perawan Yunani.”

Denganmu aku melebur?

: “Kalau bisa, beri aku pedangmu.”

 

Bandung, 4 Juli 1997

Ad-Socrates (sumber foto: plato.stanford.edu)


[sumber dari Rubaiyat IV: Kisah Murung Socrates dan Anaknya. Bab III. Sajak Sajak Kitab dan Tafsir Perawan. Antologi Kitab dan Tafsir Perawan]

Iklan

%d blogger menyukai ini: