Tag Archives: moehiddin

Green Pen Award 2015

IMG_0009f2

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story: “Musim Jamur”

GREEN PEN AWARD 2015 awarded to short story:
“Musim Jamur” by Ilham Q. Moehiddin

————————————————————————

Musim Jamur

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Satu

Sejak awal subuh Saimah sudah menyiapkan isi balase (keranjang anyam dari daun pandan kering). Musim ulepe (jamur hutan) sudah tiba di hutan-hutan gunung Saba Mpolulu, sepanjang Juni sampai November. Ia belum membangunkan suami dan anak lelakinya. Ia membiarkan mereka tidur sampai segalanya selesai dipersiapkan. Para pencari jamur butuh banyak tenaga. Di dalam hutan nanti, sebelum pencarian, mereka akan menghabiskan sedikit waktu di landaian, mendirikan olompu (bivak/kemah hutan) dan membangun penampungan.

Muhrim, putra mereka satu-satunya. Usai melahirkan Muhrim, entah kenapa Saimah tak lagi bisa beranak. Vonis dokter itu datang 13 tahun lalu. Walau akhirnya ia dan Ntoma, sanggup menerima kenyataan itu, tetap saja hati Saimah masih perih hingga kini.

Setiap orang di pulau ini selalu menunggu datangnya musim jamur. Musim penghujan telah menyuburkan spora jamur di hutan-hutan. Pada musim jamur tahun lalu, mereka mampu mengumpulkan jamur paling banyak di antara semua pencari jamur di sini. Muhrim mampu membaui jamur hutan dari tempatnya tumbuh, padahal jamur sukar ditemukan karena baunya yang tipis. Beberapa pencari jamur menggunakan anjing pencari.

Tahun ini pun mereka bertekad mengumpulkan jamur paling banyak. Sepekan lalu Ntoma sudah menentukan area pencarian nantinya. Ada beberapa area di hutan gunung Saba Mpolulu yang bahkan belum pernah dikunjungi orang. Jamur biasanya tumbuh di permukaan tanah, tetapi ada jamur tertentu yang tumbuh melekat di batang pohon. Jamur juga tumbuh di pokok pohon yang tumbang membusuk dan di celah bebatuan. Namun tidak semua jamur hutan dapat dikonsumsi karena beracun. Setiap pencari jamur telah diajari membedakan jenis jamur. Ulepe yang paling disukai pembeli karena warnanya yang putih terang dan beraroma earthy, mirip tanah lembap, seperti bau akar. Pernah Muhrim memetik rumpunan jamur putih seberat lima kilogram dengan garis tengah bervariasi.

Di pasaran harga jamur putih akan mahal jika dijual dalam sistem lelang. Orang-orang menggemari jamur hutan karena rasa dan teksturnya yang unik. Mereka suka membuat salad atau sejenis insatina —masakan dengan irisan jamur yang ditumis dengan campuran minyak zaitun, diracik dengan tomat dan aneka sayur lainnya

Sungguh kelezatan yang tercipta dari alam.

 

Dua

Subuh hampir habis saat Saimah membangunkan suami dan putranya. Perbekalan sudah siap. Balase mereka dipenuhi bekal untuk sepekan. Makanan dibungkus terpisah dari benda lainnya. Beliung kecil juga sudah diikat ke badan balase.

Ntoma dan Muhrim —seperti pemburu jamur lainnya— akan menghabiskan sepekan lamanya dalam hutan. Tahun ini, mereka akan melewatkan ritual penghormatan Sangkoleong (roh hutan dan kesuburan orang Moronene). Mereka percaya, doa pada Tuhan dan usaha yang sungguh-sungguh, akan membuat upaya mereka diberkati dan membuahkan hasil.

“Kami berangkat sebentar lagi,” ujar Ntoma seraya mengecup ubun-ubun Saimah dan langsung duduk menikmati kopi yang telah disiapkan istrinya itu. Saimah memukul-mukul persilangan simpul dua balase yang ia siapkan, memastikan ikatannya kuat sehingga benda-benda dalam keranjang itu tak mudah bergeser ke mana-mana. Ia tersenyum, merentangkan tangan, lalu meraih pipi Muhrim sebelum mendaratkan kecupannya. “Hati-hatilah di hutan nanti,” nasihat Saimah pada putranya itu. Muhrim membalas-cium tangan ibunya.

“Kami akan memisah di ketinggian 300 meter, lalu menikung ke arah utara,” ujarnya seraya mengarahkan telunjuknya ke atas punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. “Akan ada area landai di sana untuk mendirikan olompu,” jelas Ntoma pada istrinya.

Saimah suka mendengarnya. “Kita butuh uang untuk memerbaiki rumah,” ujarnya.

Dua lelaki itu menatap Saimah.

“Tahun ini Dewan Adat juga membuat kompetisi bagi pengumpul jamur terbanyak. Hadiahnya lumayan untuk memerbaiki rumah,” tukas Saimah lagi.

Ntoma menempuk lembut pipi istrinya itu. “Bersabarlah. Semoga putramu itu kembali dengan banyak jamur,” janji Ntoma. Setelah menghabiskan sarapan dan kopi, ia dan putranya turun dari beranda belakang tumah.

 

Tiga

Muhrim berjalan mengikuti naluri dan penciumannya. Remaja itu yakin tak jauh dari posisinya sekarang ada sekumpulan jamur putih di bawah pohon Onene —sejenis pohon Resam. Ia melompati beberapa pohon yang tumbang dan berlumut, berhenti sesaat, lalu tersenyum saat matanya menatap rumpunan Onene di kejauhan. Ia tarik pangkal tali yang membuhul keluar melewati punggungnya. Beliung pun lepas dari ikatannya dan berpindah ke tangan kirinya.

Saat mendekati pohon itu, hidung Muhrim terpapar bau lembut jamur yang banyak. Matanya berputar. Ia tersenyum lebar, selain rumpunan Onene yang kini sedang diincarnya itu, di sekitar situ juga banyak pohon Ketapang yang tumbuh rapat. Dari sanalah datangnya aroma jamur sung bulan. “Banyak sekali,” gumamnya.

Muhrim berteriak memanggil ayahnya. Tiada sahutan. Tiga kali ia memanggil, tapi tiada jua berbalas. Ah, barangkali saja jarak ayahnya sudah jauh. Biar saja, toh mereka akan bertemu di bagian utara hutan ini.

Muhrim berjongkok dan mulai menggali akar Onene mencari sumber dari aroma yang ditangkap hidungnya. Bongkahan jamur satu demi satu ia keluarkan dari liang tanah dan segera masuk ke balase-nya. Jamur-jamur yang berat. Terbayang girang wajah ibunya saat nanti mendengarkan kabar dari Dewan Adat. Harapan yang membuatnya kian bersemangat menggali jamur. Satu per satu pohon Ketapang dihampirinya juga, memetik gerombolan ulepe di batangnya dan memasukkannya ke dalam balase kecilnya.

Jika balase penuh, ia harus segera ke olompu untuk memasukkan jamur ke wadah penyimpanan, sebelum kembali mencari ke tempat lain. Tetapi, ia benar-benar tak menyadari saat matahari merayapi ufuk, menelan bayangan pepohonan. Raibnya cahaya di dalam hutan itulah yang menghentikan keasyikan Muhrim mencari jamur. Kini ia bingung. Di samar sore seperti ini, ia tak bisa lagi melihat posisi pohon pertama yang menjadi patokan arah menuju olompu. Kegelapan sudah mengepung Muhrim.

 

Empat

Malam turun di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu. Ntoma memutar keran minyak pada lampu tabung. Olompu mereka segera terang-benderang. Cahaya dari unggunan api tak mampu tembus sampai ke dalam bivak sederhana itu. Dahan cemara kering lumayan banyak sehingga ia tak sukar membuat api penghangat.

Bukan hewan buas yang kini sedang ia cemaskan, tetapi Muhrim. Putranya itu belum muncul di waktu yang mereka perjanjikan. Seharusnya Muhrim kembali ke olompu sebelum matahari pergi dari ufuk.

Ntoma tahu putranya bergerak ke punggungan hutan di sebelah barat, saat ia bergerak ke sisi utara. Ia membiarkan remaja itu mengikuti nalurinya. Balase Ntoma belum berisi jamur sama sekali, padahal ia sudah seharian penuh mengitari hutan bagian utara.

Jika Muhrim bergerak ke sisi barat, lalu berjalan membusur ke utara, maka mereka akan bertemu di lokasi teduhan yang memampang atol Sagori di kejauhan. Dari titik-temu itu mereka akan turun bersama menuju olompu. Saat Muhrim tak kunjung tiba di lokasi teduhan, Ntoma memutuskan untuk turun lebih dulu, sembari berharap Muhrim sudah mendahuluinya.

Sayangnya, tak ada Muhrim di olompu. Kemah hutan itu kosong. Bukan main risau hati Ntoma. Di hari pertama musim jamur tahun ini, ia harus mendapati masalah macam ini. Kecemasan menjadi bayangan yang tak henti-hentinya merajam kepalanya; bagaimana jika Muhrim tersesat? Bagaimana jika anak itu terperosok di tebing barat-daya, di bagian hutan yang terlarang untuk di dekati itu? Bagaimana jika ia jatuh ke jebakan rusa?

Aduh. Ntoma menekan kepalanya. Apa yang nanti akan dikatakannya pada Saimah.

Ntoma gelisah sepanjang malam. Ia menolak tidur dan terus menunggu, berharap anaknya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan. Jika saja gelap tak menghalangi, hendak ia terobos hutan gunung Saba Mpolulu mencari putranya. Tapi percuma mencari dalam keadaan gelap seorang diri. Ia bisa celaka, jatuh dalam jebakan rusa.

Ia harus segera ke punggungan hutan sebelah barat. Jika putranya tak ada di sana, ia akan ke bagian timur hutan, berharap bertemu dengan pemburu jamur lain untuk meminta bantuan. Ia tak hirau lagi dengan jamur apa pun.

Putranya jauh lebih berharga dari jutaan keranjang jamur putih.

Subuh belum tuntas, saat Ntoma menggegaskan dirinya ke punggungan hutan sisi barat. Ia masih ingat lokasi terakhir saat berpisah dengan Muhrim. Setibanya di sisi barat itu, Ntoma berteriak sekeras-kerasnya, berulang-ulang, memangil Muhrim. Tapi tiada balasan. Kini, ia harus bersusah payah menepis dugaan buruk yang ramai ke kepalanya.

Susah benar hati Ntoma. Tak sudi membuang waktu, Ntoma lalu berlari menembus lebatnya hutan menuju olompu para pemburu jamur lain di sisi timur. Di antara mereka ada Manek, sahabatnya. Lelaki itu tahu persis kondisi punggungan hutan sebelah barat dan utara.

Nyaris dua jam berlari, Ntoma tiba di sana bermandi peluh. Matanya merah. Untung mereka masih di sana. Pada Manek, ia ceritakan kejadian yang menimpa Muhrim. Manek juga mencemaskan Muhrim apabila remaja itu berkeliaran di sekitar jurang curam di bagian hutan barat-daya.

“Tebing itu harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan Muhrim tidak berada di sekitarnya,” ujar Manek. Ia memutuskan menghentikan perburuan jamurnya demi membantu sahabatnya. Musim jamur hutan masih panjang dan izin perburuan jamur dari Dewan Adat baru akan selesai di akhir November. “Abaikan dulu jamur-jamur ini,” tukas Manek. “Kumpulkan anjing-anjing! Muhrim harus kita temukan sebelum hari berganti!” Serunya.

Selain Manek dan Ntoma, ada enam pemburu jamur lain di punggungan hutan bagian ini. Mereka juga sepakat mementingkan nasib Muhrim. Delapan orang itu memisah dalam dua kelompok. Manek memimpin kelompok pertama ke sisi barat, dan Ntoma memimpin kelompok kedua ke sisi utara. Dua kelompok ini akan bertemu di teduhan di sisi utara.

Punggungan hutan gunung Saba Mpolulu pun terjaga oleh riuh panggilan dan anjing-anjing yang tak henti menyalak, berebutan lari saling mendahului.

 

Lima

Muhrim tak panik. Begitulah ibunya mengajarkan. Hal pertama yang ia lakukannya adalah membuat api. Pemantiknya menyala begitu digesek. Ia mengumpulkan ranting kering untuk menjaga apinya tetap menyala. Remaja itu membuat olompu kecil yang menempel ke dinding sebuah batu besar —posisi aman dari intaian ular dan hewan buas lainnya. Percuma berjalan ke kemah dalam keadaan gelap. Itu bisa membuatnya kian tersesat.

Ia tak benar-benar tidur malam ini. Sesekali ia jilati jemari yang telah ia celupkan ke tabung garam untuk campuran tepung beras —agar ia terjaga. Malam merambati punggungan gunung Saba Mpolulu, meluruhkan embun dari udara dan mengendapkannya di lantai hutan. Hanya cahaya api yang bisa membuatnya terlihat dalam endapan embun setinggi pinggang orang dewasa itu. Muhrim jauh melenceng dari jalur yang ditunjukkan ayahnya. Posisinya sekarang tak jauh dari tepian tebing barat-daya.

Menunggu terbitnya matahari, ternyata lebih berat daripada berburu jamur.

Esoknya, dengan mata setengah mengatup karena deraan kantuk, Muhrim merapatkan sarung yang menggulung di bahunya. Subuh sudah usai, tapi cahaya matahari masih betah di pucuk pohon yang berdiri rapat dan enggan turun ke lantai hutan yang digenangi kabut. Rumpunan  pohon Onene terakhir yang dilihatnya kemarin, adalah satu-satunya yang masih dikenali Muhrim saat ini. “Aku benar-benar tersesat,” gumamnya.

Ia ingat ibunya, lalu ayahnya. Dua hal berputar di kepalanya saat ini; menemukan jalur menuju olompu, atau mencari sungai untuk ia susuri menuju kampung terdekat.

Dengan lumut, ia tutup sisa bara di perapiannya. Muhrim memastikan bara itu benar-benar padam sebelum ia pergi. Ia tak mau hutan ini terbakar karena ketidak-becusannya. Ia rapikan keranjang jamurnya, menarik keluar tali di sayap balase agar ia bisa menggendong keranjang itu serupa ransel di punggung. Mencari olompu ayahnya adalah hal tersulit dari dua pilihan itu. Lebih mudah mencari sungai. Menuju olompu ayahnya sangat mungkin bikin ia kian tersesat, sedang mencari aliran sungai Lakambula, akan membuatnya menjauhi hutan. Menuruti nalurinya, Muhrim harus turun ke lembah di bagian selatan punggungan hutan.

Muhrim sedang mengundi. Ia tak bisa memastikan butuh waktu berapa lama untuk sampai di batang sungai. Hutan di bagian ini rapat pepohonannya. Ia bersyukur bahwa setiap pemburu jamur selalu berbekal Taa, yang bisa ia gunakan untuk memapas perdu, membuka jalan, dan melindungi diri dari hewan buas.

Ini hari kedua Muhrim di punggungan hutan gunung Saba Mpolulu.

 

Enam

Dua kelompok pencari yang dipimpin Manek dan Ntoma sudah menyebar. Berlari dua jam membuat kelompok Manek lebih cepat tiba di tebing barat-daya. Waktu yang sedikit lebih lambat dari waktu Ntoma saat berlari menemui mereka ke sisi timur. Mereka berteriak memanggil Muhrim. Tapi tak ada sahutan dari remaja itu. Manek memutuskan menyebar di sekitar tebing dalam radius 200 meter.

“Jika Muhrim berteduh di sekitar sini, kita mudah menemukan jejaknya,” ujar Manek serius. Ia kenal areal ini. Penyusuran di pinggiran tebing dilakukan dengan pola vertikal; dua orang menyusur ke barat, dan dua lainnya menyusur sedikit ke utara. Sayang sekali, untuk urusan mencari orang, anjing-anjing itu bukan ahlinya. Hewan-hewan itu banyak berlarian dan menyalak saat mengendus aroma jamur. Mereka terbiasa dengan bau itu.

Mereka memeriksa pinggiran tebing dan lega tak menemukan jejak apapun. Mereka mencari rebahan perdu yang menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang jatuh ke bawah sana. Kurang dari 500 meter menjauhi tebing, Manek menemukan sisa olompu dan bekas perapian. Ia menyibakkan abu, meletakkan telapak tangannya di dasar bekas perapian. “Masih cukup hangat,” gumam Manek.

Lantai hutan yang basah akan cepat mendinginkan tanah. Posisi olompu dan perapian Muhrim di dekat batu besar, membantunya mengawasi sekeliling. “Dia pandai. Sudah sejam lalu ia pergi dari tempat ini,” kata Manek. Anggota kelompok lainnya membenarkan.

Apungan kabut setinggi pinggang menyulitkan mereka mencari jejak Muhrim pada lantai hutan. Lumut di lantai hutan, jarang menyimpan jejak yang kentara. Jika bobot orang atau hewan tidak seberapa, lumut akan segera tegak lagi setelah beberapa menit.

Manek harus memilih; memecah kelompok kecil itu lagi, atau mengikuti sebuah jejak samar yang mengarah ke lembah. Ia duga itu jejak Muhrim yang mengarah ke sisi selatan, ke arah sungai. Jika remaja itu naik ke punggungan hutan utara, ia sudah bertemu kelompok Ntoma —dan sahabatnya itu pasti sudah turun untuk menggabungkan kelompok. Namun, jejak samar itu juga mencemaskan Manek. Sepengalamannya, besar kesempatan remaja itu bertemu hewan buas yang kerap berkumpul minum di pinggiran sungai saat siang.

Manek melepaskan nafasnya kuat-kuat. Uap air meluncur dari mulutnya. Ia pandangi kawan-kawannya. “Ntoma akan melepaskan semua urusannya dan membantu siapapun yang tertimpa kemalangan serupa ini. Putranya harus ditemukan, apapun resikonya,” ujar Manek pelan. “Aku akan terus mencari —bersama atau tanpa kalian,” sambungnya seraya menatap ketiga kawannya. Ia tak bisa memaksa dan tiga kawannya itu punya pilihan yang akan ia hormati.

Karai langsung melangkah ke sisi Manek. Dua orang lain menyentuh pundak Manek. Mereka akan bersama Manek sampai lelaki itu berkata sebaliknya. “Katakan saja apa yang harus kita lakukan.” Kata Karai.

Manek tersenyum pada mereka semua. “Karai, kau ikut denganku turun ke lembah.” Lalu Manek menyentuh bahu dua kawan lainnya. “Kalian, bawa anjing-anjing ini dan susuri jalur ke hutan utara, temui Ntoma di sana, dan kabarkan padanya tentang pencarian kami ke sisi selatan. Kalian ikut dengannya ke kampung, mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai ke arah barat. Ntoma tahu apa yang aku maksudkan.”

Dua kawannya itu mengangguk dan disambut oleh Manek dan Karai. “Baiklah. Kita berpisah di sini,” tukas Karai seraya mengibaskan ujung sarungnya.

Di hutan utara, Ntoma terkejut menerima pesan dari Manek. Ia kenal betul kawannya itu. Permintaan Manek itu mengkonfirmasi kecemasan Ntoma bahwa putranya tak berada di jalur pencarian mereka. Manek memutuskan membuat jalur baru.

Kini, Ntoma merasa telah berhutang besar pada sahabatnya itu.

Mereka segera membongkar olompu, dan turun ke kampung. Mereka mengumpulkan orang untuk menyusuri sungai Lakambula. Itu bukan urusan mudah. Musim telah membuat kelembapan menetap di lembah dan mendinginkan air sungai. Kadang pula membuat batang sungai berkabut dengan tiba-tiba.

 

Tujuh

Muhrim mencari sungai. Dalam tiga hari, ia hanya pernah tidur dua kali dalam waktu yang sempit: bergelung di cerukan batu atau rebah dalam rongga pohon besar yang tumbang.

Suatu waktu, ketika hendak menuruni lereng dengan meniti sebatang pohon tumbang, lamat-lamat ia seperti mendengar namanya diteriakkan. Ia meneleng kepala sejenak, mencoba memastikan lebih saksama. Tapi sayang, suara seperti itu hanya sekali dan Muhrim mengira dirinya terbawa lamunan.

Bekalnya hampir habis. Tak ada waktu untuk menangkap hewan buruan. Sehari lagi, semua yang bisa ia gunakan bertahan hidup dalam balase jamurnya akan pungkas. Ia harus mendapatkan sesuatu untuk dimakan —walau daun sekali pun.

Sempat ia berputar-putar di satu tempat itu saja. Muhrim baru sadar saat ia kelelahan. Tiga hari berjalan mencari sungai tapi tak juga kunjung ia temukan. Hutan ini lebat di sekitar lembah, dan pepohonan menjulang tinggi. Derau angin kadang menghalangi pendengarannya.

Pada malam di hari keempat, Muhrim menyesali dirinya yang bisa tersesat seperti itu. Ia pemburu muda, walau berhidung peka, tetap saja ia kurang pandai soal hutan gunung Saba Mpolulu. Kepekaannya pada bau jamur tak membuatnya peka bau air, bau daun pepohonan dataran rendah, atau arah angin.

Muhrim mendapati pemantik api yang nyaris hancur karena lembap. Tinggal sebatang pula isinya. Tinggal itu kesempatannya malam ini. Dihimpunnya ranting pinus kering yang ia kumpulkan di sepanjang jalan, berharap damar yang menyelimuti ranting-ranting itu akan membuatnya cepat terbakar. Api dipantik dan hati-hati ia dekatkan ke ranting pinus. Cuma sebentar, reranting itu pun menyala dengan hebat. Muhrim lega. Ia punya api lagi. Tapi perutnya lapar. Ia mencari jamur dalam balase, dan kecewa tak menemukan apapun lagi. Sebongkah jamur terakhir ia makan mentah-mentah siang tadi.

Dalam balase, tersisa segumpal tepung beras yang disiapkan ibunya, persembahan bagi ruh hutan. Itu jelas bisa dimakan, namun Muhrim harus melembutkannya lebih dulu dengan air. Tapi bolehkah ia melakukan itu? Itu sesaji untuk roh hutan —Sangkoleong yang sangat dihormati dalam peradatan. Ruh hutan yang tak boleh dicemari siapapun. Jika tepung itu ia makan juga, Sangkoleong pasti akan marah.

Muhrim menyusun bebatuan membentuk undakan kecil dan meletakkan tepung beras itu di atasnya. Ia duduk dalam diam, mulai berdoa kepada Tuhan. Malam itu Muhrim tidur dengan tenang. Unggunan api mampu membuat hangat separuh tubuhnya.

 

Delapan

Manek menemukan jejak tebasan Taa pada tanaman perdu hutan yang pahit dalam pencariannya di hari ketiga. Tebasannya kasar. Manek menebak, itu perbuatan Muhrim.

Ia lega. Setidaknya, ia berada di jalur yang searah dengan Muhrim. Menyusuri jejak itu bisa membuat mereka menyusul Muhrim. Setelah jejak di perdu itu, beberapa kali Manek menemukan bekas perapian, membuatnya makin yakin jarak Muhrim tak jauh darinya.

Pada hari kelima, di sebuah cerukan yang terjal, Manek nyaris memutar jika saja ekor mata Karai tak menangkap sosok balase yang tersangkut pada perdu berduri di sisi cerukan. Mereka raih keranjang itu dan menemukan marka keluarga Ntoma pada penutupnya. Manek sadar, bengkoknya rimbunan perdu yang tumbuh di dinding cerukan karena tertimpa sesuatu. Lelaki itu dengan cepat menduga bahwa Muhrim telah jatuh ke dasar ceruk.

Manek menarik Taa’owu miliknya, memapas permukaan perdu agar terbuka. Samar-samar, di keremangan dasar ceruk, mata Manek melihat bayangan tubuh manusia. Itu tubuh Muhrim. Dibantu Karai, Manek turun ke dasar ceruk menggunakan tali dan menemukan remaja itu dalam keadaan yang menyedihkan.

Kondisi Muhrim bisa membuat siapapun jatuh iba. Luka memenuhi tubuh remaja itu. Kaki kanannya patah. Padahal ceruk itu tinggal berjarak 100 meter dari sungai Lakambula. Manek dan Karai segera menyelamatkannya, menyusuri sungai Lakambula dalam sehari, hingga mereka mencapai kampung Olondoro.

 

Sembilan

Muhrim sadar dari pingsan 24 jam berikutnya, di sisi Saimah. Ibunya merawat luka-lukanya hingga Muhrim cukup kuat untuk bercerita. Pada dua orangtuanya dan beberapa lainnya —Manek dan Kepala Adat— Muhrim menuturkan pengalamannya. Mereka takjub mendengar bagaimana Muhrim bertahan hidup di hutan yang belum ia kenali, sampai kemudian Muhrim menyumpahi para pemburu jamur. Mereka terperangah, terlebih Kepala Adat. Saimah seketika menunjukkan wajah murung.

“Tak sopan! Mereka menyelamatkanmu. Tetapi kau justru menyumpahi mereka. Kau tak punya rasa hormat sama sekali!” Geram Saimah sambil menatap Ntoma, meminta dukungan. Ntoma menegakkan tubuh, meminta penjelasan dari Muhrim. Manek mundur, tak mau ikut campur. Tetapi yang lainnya berdiri tegak. Bahkan Kepala Adat harus mencondongkan tubuh ke arah Muhrim.

“Kita semua sudah lalai,” begitu tunak suara Muhrim, “lalai pada akibat perbuatan kita pada hutan setiap musim jamur datang. Kita tak menghormati hutan. Kita lupa pada apa yang seharusnya kita pelihara,” ujar Muhrim dingin.

Semua orang berpaling pada Kepala Adat, membuat lelaki tua itu salah tingkah. Ia tak mengerti ke mana arah kata-kata Muhrim. Dahinya terlipat, bahunya terangkat saat menatap putra Ntoma itu —meminta kejelasan.

“Kita tergila-gila pada jamur dan di saat yang sama kita melupakan hal lain yang jauh lebih penting. Nafsu kita yang membuat Sangkoleong tak dihormati lagi sebagai ruh hutan.”

“Muhrim!” Saimah berseru menyebut nama putranya. Kesabarannya sudah habis.

“Aku baik-baik saja, Ibu.” Muhrim menggelengkan kepalanya. “Selain kakiku yang patah, tak ada yang aneh padaku.”

Kepala Adat menyentuh bahu Saimah.

“Kondisimu belum baik,” santun Kepala Adat kepada Muhrim, “kendalikanlah rasa takutmu.”

“Oh, Apua, nafsu kita pada Jamur telah mengabaikan sesuatu yang penting lainnya. Perburuan jamur bukan karena jamur bisa menjamin hidup kita,” Muhrim mendongak, “tapi kebutuhan kita akan jamur telah membunuh kehidupan lainnya,” ujarnya.

Muhrim kemudian bercerita apa yang ia lihat di hari pertama ketika ia tersesat. Ia menemukan rumpunan  pohon Onene yang tumbuh berkelompok di sisi barat hutan. Awalnya ia senang karena akan menemukan kumpulan ulepe dalam jumlah besar. Hidungnya tak terus membaui aroma jamur untoka dari akar-akar pohon itu. Namun, ia terkejut dengan apa yang ia saksikan esok harinya —suara Muhrim tercekat di bagian itu. Wajahnya tampak kecewa.

“Tak jauh dari rumpunan hidup pohon Onene, aku temukan rumpunan pohon Onene lain yang telah mati. Aku segera menyadari, saat kita mengeluarkan untoka dari akarnya, saat itulah kita membunuh pohonnya.” Muhrim menyeka air matanya. “Siapa kita yang merasa berhak membunuh kehidupan lainnya? Kenapa kita justru membunuh pohon Onene hanya karena jamur-jamur itu? Bukankah kita juga sedang membunuh ruh hutan? Sangkoleong?”

Orang-orang terdiam. Ntoma terhenyak di sisi kursi Kepala Adat yang juga membisu. Mata Saimah berkaca-kaca berusaha membendung kekesalannya.

“Jika kita ingin menghormati ruh hutan, seharusnya kita menjaga hutan tetap hidup.”

Saimah berdiri dan menuju ruang tengah. Ia raih balase Muhrim, mencari sesuatu yang tak ia temukan di dalamnya. Balase itu ia bawa di antara orang-orang, di dekat Muhrim. “Bukankah ibu membekalimu dengan sesajian buat Sangkoleong?” Tanya Saimah.

Muhrim menolakkan tangannya ke lantai dipan, mendorong tubuh agar tegak dan punggung ia sandarkan ke dinding. “Aku memakannya—” ujar Muhrim seraya menarik selimut menutupi kakinya yang patah.

“Sebenarnya, ibu-lah yang menolongku saat aku kelaparan. Sangkoleong tak marah. Ruh hutan itu hanya diam saja, membiarkanku melembutkan tepung sesajian untuknya agar bisa aku makan bersama garam yang ibu bekalkan.” Lingkas Muhrim.

Merah mata Saimah. Perempuan itu tak bisa lagi membendung air matanya. (*)

Molenvliet, Desember 2014

 

Catatan :

  • Balase, Olompu, Sangkoleong, Onene = frasa nativ orang ToKotua di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Gunung Saba Mpolulu, Atol Sagori, Olondoro, Sungai Lakambula = nama-nama tempat di pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara.

  • Untoka = sejenis jamur marasmus berhabitat di tanah dan kayu lapuk, lumut atau herba batang. Saat belum mekar, jamur ini berwarna cokelat kecil seperti jamur kancing.

  • Ulepe = sejenis jamur hutan hygrophorus, yang menjadi incaran pencari jamur hutan karena harganya yang mahal. Tumbuh baik di iklim tropis.

  • Taa = belati tradsional orang Moronene

  • Taa’owu = parang tradisional orang Moronene

  • Apua = sebutan untuk Kepala Dewan Adat orang Moronene

 


[Short Story] The Boat Thief | Republika | Sunday, May 1, 2011

The Boat Thief

By Ilham Q. Moehiddin

Translated by Suzan ‘Sue’ Piper (Australia)

mencuri-perahu

1/

AMA, am I really the daughter of a fish?”

“Who called you something like that!” Ama Bandi was furious hearing his 15 year old daughter, Ripah’s question. His knuckles stiffened, ready to punch someone at any moment.

“The people in the market let their children make fun of me,” Ripah explained. His face paled when her father, Ama as she called him, filled with rage. Bandi jumped up from his chair, to quickly open the knife sheath and take down the Taa blade from where it hung.

“There’s no point in you paying attention to them. It doesn’t matter to me.” Commented Ripah at her father’s tantrum.

Ripah’s flat tone made Bandi cease his movements, his face surprised, his rage suddenly subdued. “Why, Ripah?” Bandi squatted, placing the Taa blade on the floor, then gazed at his daughter, “I’ll defend you if someone mocks you like that.”

“There’s no need. Your actions will only encourage them. It’ll make me even more embarrassed.” Said Ripah wiping her tears.

Bandi’s face was bowed. He drew a deep breath.

“Ripah… there’s no need for you to listen to people’s nonsense. There’s no such thing as the child of a fish. Humans give birth to humans of course.”

Ama Bandi tried nicely to invite his daughter to talk.

Ripah immediately stood up, glared at her father, then walked in to the kitchen. Bandi got up from his crouch, hung the Taa back on its hook and walked to the window sill. His eyes swept the edge of the Talaga Besar beach where the west wind blew fiercely.

It had already been a week since he had gone to sea. Just like most of the other fisherman. Many of them did not dare to go dawn to the sea during the season of the west wind. Yet, for certain reasons, occasionally some would dare to risk their life at sea. But, Bandi did not want to take such a risk. Ripah was his only child and she was not married yet either. His wife had passed away a long time ago giving birth to Ripah.

2/

When Ripah was still a little baby, Bandi had almost lost his faith hearing all the gossip people tatled about his wife. Who knows what sort of devil had entered the heart and mind of Salamah, his wife, that she did such a reckless thing.

After giving birth, even before the baby’s placenta had emerged, Salamah had suddenly got up from her bed and jumped out of the house, running for the beach. Bandi had no idea how fast she could move. He did not catch up with his wife; it was too late for him to stop her from plunging into the sea. Her body immediately vanished swallowed by the huge waves. This also heppened excatly during the west wind season.

Bandi suspected his wife had gone crazy thingking about their family’s finances. The long west wing season had made both the husband and wife restless. Bandi needed money to pay for Salamah’s giving birth, but instead his wife had stopped him from going to sea.

Going forward was impossible, and unfeasible. They were both truly between a rock and a hard place. That is probably why Salamah did not think it through but killed her self instead in such a crazy manner.

For one full night all the men in the fishing village, including Bandi, went searching for Salamah’s body. The baby was left with the village midwife who had helped Salamah give birth. Until early morning they had not found Salamah’s body. It was not her body they found near the beach but a fish, an ikan duyung, behaving strangely.

It was swimming back and forth near the beach. Occasionally it would push half its body to the water’s surface, then make a sound. The people who were busy looking for Salamah’s body tried to drive it away, but it still would not go. Who knows where the fish had come from.

Bandi had no problem with the fish being there. What concerned him was not that, but the people’s gossip that emerged three days later. None of the male inhabitants had stopped searching for a week, but nor had the mouths of the village women stopped gossiping.

They had began to consider the presence of the ikan duyung as Salamah’s reincarnation. As time passed the gossip grew wilder and Bandi’s name also began to be linked with it. “You can see why their life was difficult. Seems like he married an ikan duyung.” So a woman gossiped.

“They bring bad luck to fisherman, right? They must be chased away if they approach the boats. What do you know Bandi merried one instead?” Snapped another women. Then, they busily occupied themselves gossiping about it.

Then they began to talk about Salamah’s baby who had not even yet been given a name. They began to forbid anyone going to see Salamah’s baby. Don’t want to get bad luck, they said. If they met Bandi nursing his baby in front of the house, they would hurriedly pass by without saying hello. In fact they did not even turn their heads.

It was this that had always worried Bandi. From the beginning, he had always suspected this time would come. Ripah would finally have to face this situation and the old-fashioned attitude of the people around them. Bandi too before had tended to believe in that sort of superstition, but since he had learned to read via the Paket-B program, slowly he had to discard many of those superstition that just did not make senses.

But, Ripah. What hope did a teenage girl of her age have facing the ridicule and gossip of the villagers. What had just happened in the market increased Bandi’s concern.

3/

“Ripah!” Bandi called from the living room.

There was no reply from his daughter’s room. The time for magrib or dusk prayers had just passed. Bandi headed for the kitchen. His stomach needed filling. The fragrant smell of vegetables cooked in coconut milk wafting from the kitchen strongly stirred his tastebuds. But Ripah was not in the kitchen. Ah, perhaps the child was fetching water, filling the tub at the back of the house. Bandi decided to eat first. It if got cold, the coconut milk vegetables would no longer taste delicious.

He had just devoured half a plate, when something alarmed him. His blood run fast. He jumped from his chair, abandoning his food just like that. Without even touching the steps, Bandi jumped down and shouted to his younger brother who as it happened lived right beside his house.

“Bakri…come out! Come out, Bakri…!!”

Bakri appeared sticking his has out of the windows. “What’s up?! Why are you shouting like this at night?”

“Come down! Help me find your niece. Find Ripah! My oars are missing. My boat’s been stolen!” Shouted Bandi in reply.

Bakri’s face grew pale. Paying no attention to his wife, he too jumped down from his house and run after Bandi who had first run towards the beach. Who knows what difficulties his niece was now facing.

Villagers who had also heard Bandi’s shouts came out of their houses. They stopped Bakri asking, “what’s going on with you?”

“Bandi’s oars are missing!” Bakri shouted briefly, running after his older brother.

The men also grew pale. They did not waste time but joined in running after Bakri and Bandi. It was only the men in that villages who sympathised with Bandi’s family. They ignored their wive’s requests not to socialise with Bandi.

Arriving at the beach, Bandi immediately went to where the boats were moored. Bakri together eith two other men gathered dried coconut fronds, weaving them tightly together, folding the ends into two. They made torches, divided them among all the men who came to help.

After being lit, they began to comb the beach calling out Ripah’s name repeteadly. Their voices competed with the volume of the breaking waves. Bandi found Bakri. “My boat’s not at its moorings,” he said anxiously. His face was sweaty and his eyes were wild. “What’s happening?” He asked in a panic.

“Untie some boats and prepare the petromaks. We have to find Ripah this very night!” Bakri ordered. Bandi hurriedly followed his younger brother’s command. He found it difficult to think at this moment. Luckily his brother was calmer than him.

As he ate earlier, Bandi’s heart had almost stopped when he saw his oars no longer hanging from their hooks. When a fisherman does not go to sea, the oars are hung up in their spot. Especially now it was the season of the west wind. At such a season, the boats are moored rather far from the beach edge. Because if the water rises, sometimes boats that are not tethered at their moorings will be swept off to sea. Even when moored, if the water reaches them, the waves can still smash one boat against the other.

When Bandi realised hias oars were no longer in their place, there was no doubt it was Ripah who had taken them. Oars must be one with their boat. If the oars are missing from their hooks, that is a sign that the boat is missing stolen.

Ripah had pushed the boat herself to sea when the waves were at their highest. The teenager did not know what dangers awaited her.

The villagers had already gathered at the beach. They had each brought a lamp so the beach was now bright from their light. Most of the women’s faces held anxiety, seeing their husbands and adult sons side by side helping Bandi and Bakri follow Ripah out to sea.

Waves occasionally beat hard at the beach edge, almost overcoming their attempts to launch the boats. They desperately held onto the boats so they stayed afloat and did not fill with the seawater that slammed into them repeatedly.

They departed in small groups, three boats at a time. Each boat containing two people. Bandi had already preceded them and was now already far at sea. Then another group was launched. Bakri was in the third group. Then the fourth and fifth groups followed. One boat from the fourth group was almost unable to follow after being overturned and struck side-on by a wave.

Fifteen lamps now flickered at sea. The sounds of their calls competed to overcome the fierce roar of the waves. When they arrived at the meeting point, each boat spread out within a radius that slowly grew wider and wider. Their lamps now were like fireflies spreading over the water’s surface.

Bakri had said if they found Ripah’s boat to quickly signal with the lamp seen in the distance. It seemed a boat had just found  something. Hopefully not Ripah’s body or the broken remains of the boat.

On seeing the signal, all the boats slowly moved closer. Bandi whowas closest to the position of the signalling boat, had drawn closer first. The man almost broke out in tears on seeing his daughter safe. Ripah’s boat had almost filled with water and her oars were not there. The first fishermen to find Ripah had tied the girl’s boat to their boat and were scooping out the water.

“Ripah…! What’s the matter with you, Child? Why did you behave like this?!” Shouted Bandi trying to question his daughter over the wave’s roar. Ripah only glanced at her father , the her eyes went back to combing the water’s surface. As if she no longer paid attention to her surroundings.

“That big fish took Ama’s oars,” said Ripah briefly.

“What fish?! Why are you doing this?” Asked Bandi again.

“I want to find Ina. My Ina appeared here, near the boat, then she grabbed Ama’s oars and took them away.”

“What are you talking about now?” Bandi began to lose patience. He shook Ripah’s body to make her aware.

But Ripah was silent again. Her eyes continued to sharply roam trying to penetrate the dark night at sea. Now all the boats had each drawn close. Bakri jumped to the boat where Bandi and Ripah were. His hands clutched his niece.

“Ripah, what are you doing?” He asked , his face soft.

Ripah looked at her uncle’s face. Her tears suddenly fell. Weeping, Ripah still tried to look towards the ocean. “I want to look for Ina. Because the people in the market said, my Ina is an ikan duyung and I am her daughter, bringing bad luck.”

Bakri bowed. And Bandi fell to his seat holding his head. The man cried for the first time. He had never even done that when his wife went missing 15 years earlier.

“Why do you listen to that those people say. I’ve told you countless times, just listen to your Ama. Your Ama knows more about this all than those people.” Bakri tried to coax Ripah.

Ripah shook her head firmly. “No. Those people are right. Ina came to me earlier, swimming beside my boat. She pushed the boat to his place, but she grabbed the oars and took them away.”

“No, Ripah. Your Ina is not a fish. No fish can give birth to humans.”

Ripah suddenly turned away from her uncle. Her face showed she was unhappy with what her uncle had just said. Ripah then moved to the boat’s edge. As she held it her eyes now wildly kept watch over the water’s surface.

Bakri drew a heavy breath. He got up and turned his hand in the air. That was a signal for all the fishermen to return to the beach. This night had already been hard enough for them all. They could just settle Ripah’s problems on land.

The groups of boats slowly broke up and one by one they headed for the beach, Ripah now together with her father in their boat. Her father had borrowed some oars and the boat was tied to the back of Bakri’s.

About 200 metres from the beach, from who knows where it came, an ikan duyung suddenly emerged swimming to the right of Bandi’s boat. Occasionally it would dive and reappear on the other side.

Ripah who had noticed it first, unrestrained, threw herself into the ocean. As if she wanted to follow the ikan duyung.

Bandi, who had been caught off-guard, also jumped into the water. But a wave from behind the boat crashed into his body, rolling him, so that he had to quickly grab the boat’s outrigger to stay afloat. But Ripah’s body could not be seen. Bandi shouted to Bakri, “Ripah’s jumped into the seal,” he exclaimed.

Bandi dived again. Bakri followed jumping from the boat. The two of them, older and younger brother, dived over and over again looking for Ripah’s body. The two people in Bakri’s boat also jumped in trying to help Bandi dan Bakri. For several minutes they searched for Ripah trying to resist the pounding waves, until finally Bakri gave up.

Bakri pulled at Bandi’s body, trying to float on the waves that pushed them boat and the two others towards the beach. Bandi submitted. He let his body be dragged by Bakri towards the beach. On the sand, the man wept.

4/

For the next four days, the people were still carrying out the search for Ripah, But, just like her mother before, Ripah was never found again.

Since that day, Bandi would often spend his afternoon at the water’s edge, sitting on his moored prow. His eyes continously swept the water’s surface, as if trying to find the tracks of his two sweethearts. When his younger brother, or other people asked him to come home, Bandi just replied to them expressionless.

“I’m guarding my boat so the fish don’t steal it,” he replied curtly. (*)

Molenvliet, April 2011.

Note:

Ama: father (in the language of the Moronene People)

Taa: the short machete typical of the Moronene People.

Ikan Duyung: a type of saltwater irawaddy dolphin, in some legends also believed to be a mermaid.

Petromaks: a pressurised-paraffin light.

Ina: mother (in the language of the Moronene People).

Source from Through Darkness to Light: A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (10th Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), 11-15 October 2013)

—————

About Suzan Piper (Sue) Piper

Suzan Piper_02

SUZAN PIPER

Award Winning Indonesian Translator

Sydney, New South Wales, Australia

In Indonesia, I worked for 6 years in World Bank funded training projects in the public sector and 4 years as a manager in the education services and marketing sector. I have taught translating and interpreting at the University of Western Sydney and Petersham TAFE. In early 2003 I completed the Judicial Training Program, University of Melbourne, conducted by the Asian Law Group for Australian Legal Resources International, and have since interpreted for various parties of senior visiting Indonesian judges and public prosecutors. I have also convened a oneday seminar at UNSW on interpreters and legal professionals working together and have been twice asked to speak to members of the Sydney Refugee Review Tribunal on professional collaboration with interpreters. I frequently interpret at tribunals, local and district courts up to the federal court level.

I have provided translation and interpreting services for multinational agencies, Australian government, corporate and private clients. Clients include the World Bank (Conflict Resolution – see * below), Australian Federal Police, Legal Aid NSW, NSW Crime Commission, Asian Law Group, Commonwealth Director of Public Prosecutions, Autore Group (pearling), George Lombard Consultancy, the ABC (Four Corners), SBS (Dateline) and commercial TV current affairs programs (including live to air translation of Suharto’s resignation speech and the sentencing of Amrozi, the ‘Bali bomber’.) For over a decade I have taught Indonesian language and cultural studies in the 5 public Sydney universities that offered Indonesian Studies, and at Charles Sturt University, Bathurst, NSW.

My translation work into both languages in the arts is informed by deep engagement in the arts in both countries. My literary/arts translations include various poems by Rendra and the prizewinning collection of short stories by Seno Gumira Ajidarma’s Eyewitness (Imprint Press, 1995, in collaboration with Jan Lingard and Bibi Langker, awarded the SBS Dinny O’Hearn Prize for Literary Translation in the 1997 Victorian Premier’s Literary Awards), and ‘The Test’, Foeza ME Hutabarat, in Menagerie 5, (Lontar Press, Jakarta, 2003). Painting catalogues translated include Crossing Boundaries: A Window to Twentieth Century Indonesian Art; Crescent Moon: Islamic Art & Civilisation in Southeast Asia and Yan Suryana: Crossing the Sea of Colours. I have translated scripts, subtitles and provided voiceovers for feature and documentary films in Australia and Indonesia, including Lucky Miles, Troubled Waters, The Golden Sow and The Mirage (directed by Slamet Rahardjo).

More about Suzan Piper:

http://www.wotcrossculture.com.au/index.html

http://www.proz.com/profile/115536

Catatan:

Suzan Piper kini menetap di Australia, bersama suaminya, Sawung Jabo (seniman dan musisi kondang Indonesia) dan kedua anaknya.


%d blogger menyukai ini: