Tag Archives: merah

[Pertala] Kamar Merah | H. G. Wells

Kamar Merah

Oleh H. G. Wells

(Dipertalakan oleh Ilham Q. Moehiddin)

 

TheRedRoom565

KUPIKIR, orang-orang jompo kerap mengoceh untuk mengenyahkan ketakutan mereka. Kupandangi sekeliling tempat ini dan mendapati diriku dalam cermin tua di sudut ruangan. “Ya. Semoga aku tidak bertemu sesuatu malam ini,” ujarku.

“Terserah kau.” Kata lelaki tua berlengan kayu.

Suara menyedihkan terdengar dari engsel pintu yang terbuka saat seorang lelaki tua lain berjalan masuk sambil menyeret kakinya. Tubuhnya lebih bungkuk dan kulitnya lebih keriput. Ia menopang dirinya dengan tongkat. Bibir bawahnya tergantung mengerikan dengan gigi busuk menguning. Sikapnya padaku sungguh aneh—mata kecilnya hanya menatap tajam dari bawah bayangan alisnya. Kemudian ia terbatuk.

“Ya. Ini pilihanku—” kataku. Atavistik telah membawa dampak tidak manusiawi pada orang-orang seperti ini; menurunkan kualitas manusia dari hari ke hari. “Bisakah kalian menunjukkan kamar berhantu itu?”

Aku menunggu, memandang mereka satu per satu.

“Ada lilin di depan pintu,” kata lelaki tua berlengan kayu. “Jika kau akan ke kamar merah malam ini—”

“Inilah malam dari semua malam!” Gumam wanita tua yang duduk di depan perapian.

“—seorang diri.”

“Tunjukkan arahnya.”

“Berjalanlah lurus di koridor bawah,” ia menunjuk, “sampai kau temukan tangga spiral yang menuju lantai dua di balik pintu berlapis baize hijau. Naiklah, susuri koridor atas—kamar merah itu di sebelah kiri di ujung koridor.”

Aku mengulangi petunjuknya dan ia mengangguk.

“Apa kau sungguh akan memeriksa kamar itu?” Lelaki tua bermata kecil itu bertanya sembari berdiri dan memutari meja, bergabung dengan dua kawannya di depan perapian.

“Itulah tujuanku kemari,” aku melangkah ke pintu.

“Inilah malam dari semua malam—” Terdengar gumaman wanita tua itu lagi.

Di pintu aku berhenti, kulihat mereka melalui bahuku. Mereka duduk merapat dengan mata lurus ke perapian. “Selamat malam,” kataku di ambang pintu.

“Terserah kau saja—” kata lelaki tua berlengan kayu.

**

Kususuri koridor bawah dengan lilin di tangan. Langkahku menciptakan gema yang aneh. Bangunan ini dari masa yang lebih tua, masa ketika spiritualitas begitu menakutkan, ketika kemustahilan jadi masuk akal, ketika kutukan, sihir dan hantu-hantu tidak disangkali. Keadaan mereka sangat spektral; karakter yang seharusnya sudah punah—memilih hidup di bangunan tua berhantu. Orang-orang seperti itu selalu ada di setiap waktu.

Koridor ini gelap dan lembab, dindingnya berselaput lumut. Nyala lilin di tanganku membentuk bayangan yang menari di dinding. Gema memantul di koridor dan kegelapan merayap di belakangku—kegelapan di depanku seperti menyingkir setiap kali aku melangkah maju. Lantai tampak melebar di ujung koridor. Aku berhenti, memastikan suara gemerisik—yang kukira dari sesuatu yang merangkak di belakangku. Kutarik gagang pintu berlapis baize hijau dan mendapati diriku berdiri di bawah tangga spiral dari susunan batu padas.

Cahaya bulan menerobos jendela besar di ujung koridor. Pintu kamar merah tampak di sana. Di sinilah para penghuni awal tempat ini ditemukan tewas, dan ingatan pada cerita itu membuatku cemas. Hening yang mencekam. Tergesa kudorong pintu kamar itu sembari sedikit menoleh pada keheningan koridor di belakangku.

Inilah kamar merah Kastil Lorraine, tempat seorang countess muda ditemukan mati. Menaklukkan tempat-tempat berhantu adalah upaya yang baik untuk mengakhiri takhayul. Ada cerita tua terkait kamar ini—balik ke masa di mana semua hal luar biasa ini bermula; kisah seorang istri pemalu dan hidupnya tak sengaja berakhir tragis dalam gurauan menakutkan suaminya.

Aku menengok ke luar melalui jeruji jendela. Hanya samar yang aneh di luar sana. Kegelapan juga meringkuk di relung, cerukan, dan di lipatan dinding kamar ini. Warna merah berubah kecoklatan dan perabotan menjadi kusam karena debu. Kisah-kisah aneh secara keji menenggelamkan semua keindahan ini, membuat legenda gelap tempat ini tumbuh subur di benak setiap orang. Cahaya lilinku gagal mencapai ujung kamar dan justru meninggalkan kesan misterius pada lantai yang kusam.

Kuputuskan memeriksa tempat ini lebih teliti dan berusaha tidak meluputkan sesuatu yang bisa diimajinasikan sebagai takhayul berikutnya. Kukelilingi kamar ini, memeriksa perabotan, menyingkap kelambu, membuka lipatan tirai, membungkuk di perapian, menekan panel-panel kayu untuk membuka pintu rahasia yang mungkin ada. Langkahku menimbulkan gema aneh. Saat mencapai ceruk, aku terkejut menemukan wajahku di sebuah cermin besar. Di cermin itu, wajahku—putih.

Bingkai cermin itu punya sepasang sconce. Aku nyalakan dua lilin yang masih ada di situ. Kini suasana cukup benderang. Kusingkirkan chintz dan mendorong sebuah kursi untuk kujadikan pembatas. Entah kenapa aku merasa sesuatu sedang mengendalikan kegelapan dan kesuraman di kamar ini—gema dari suara derak kayu mengundang imajinasiku. Bayangan pada ceruk di ujung kamar seperti menampilkan kehadiran lain. Sugesti aneh dari sesuatu yang tersembunyi masuk ke benakku begitu saja. Di ceruk itu kunyalakan sebatang lilin.

Lega tidak menemukan sesuatu yang nyata, aku mengisi waktu dengan merangkai sajak mengenai legenda tempat ini. Kadang aku bersajak keras-keras, tapi aneh mendengar gema dari suaraku sendiri—untuk alasan yang sama aku berhenti setelah beberapa saat.

Cahaya lilin di ceruk berkelip, menciptakan penumbra yang terus bergerak seperti menari tanpa suara. Teringat pada lilin yang kulihat di koridor, aku ke sana dan kembali dengan sepuluh lilin di tanganku. Usai kunyalakan, semuanya kutempatkan di area yang samar—menerangi nyaris seluruh bagian kamar ini. Kewaspadaan ini terasa berat. Aku memerhatikan jarum penunjuk menit yang merayap di arlojiku menjelang tengah malam.

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya sesuatu sedang berlangsung. Entah kapan lilin-lilin mulai padam, tapi saat aku menoleh, kudapati kegelapan bermunculan kembali ke tempatnya. Kukeluarkan korek api dari sakuku, berjalan melintasi ruangan dan menyalakan kembali lilin-lilin yang padam. Saat sedang memantik api, sesuatu tampak berkedip pada dinding di sisiku. Aku menoleh dan melihat dua lilin di atas meja kecil baru saja dipadamkan. “Demi Tuhan!” Saat aku berdiri terpana.

Sedetik berikutnya dua lilin di sconce cermin mendadak padam, seperti dipadamkan oleh telunjuk dan ibu jari seseorang. Sebuah lilin lain di sisi ranjang ikut padam dan kegelapan mendekat ke arahku. Berikutnya yang terjadi adalah—satu demi satu lilin padam berurutan. “Hentikan!” Teriakku ketakutan seraya melangkah mundur.

Kegelapan dengan cepat hendak membungkus tubuhku. Aku bergeser ke arah cerukan dan menyalakan sebuah lilin di tempat itu. “Jangan usik lilin-lilin ini—” kataku entah pada siapa.

Wajahku pucat, tanganku gemetar dan berkali-kali gagal memantik api dari kotaknya. Seperti dinaungi jubah kegelapan, dua lilin lagi padam. Tampak sesuatu yang banyak sedang merayapi lantai di dekat pintu. Empat lilin lain menyusul padam sekaligus di berbagai sudut kamar dan dengan tubuh gemetar aku berusaha menjaga lilin di dekat tetap menyala.

Aku berharap bisa pingsan saja saat itu, saat sebuah tangan yang samar baru saja memadamkan dua lilin di dekat perapian. Teror mencengkeram dadaku. Aku berteriak seraya melompat dari cerukan ke arah cahaya bulan di bawah jendela. Sial—tidak sengaja korek api kujatuhkan entah di mana. Sementara satu per satu lilin dipadamkan oleh tangan yang samar, kegelapan merayap ke arahku. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Dengan harga diri yang tersisa, aku berusaha mencari pintu dan sia-sia bertahan melawan teror yang menyerang tanpa belas kasihan.

Satu-satunya lilin yang masih menyala di tanganku, terlepas dan padam, saat udara berhembus tiba-tiba ke sisi tubuhku disusul kursi yang datang menghantam dinding dengan keras. Kini tampaklah cahaya merah merayap, melintasi langit-langit kamar dan berhenti di tengah kegelapan—mengambang. Api!

Api itu menari, memantulkan cahaya merahnya ke permukaan perabotan. Perlahan api itu menjauh dariku sebelum tiba-tiba lenyap, membungkam kemilau cahaya di perabotan. Mungkin ini kesempatanku. Aku merangkak dalam kegelapan yang menyesakkan. Kegelapan yang pekat, bahkan aku sukar melihat tanganku sendiri dan itu menghancurkan kepercayaan diri terakhir di dadaku.

Itu bukan sekadar ketakutan yang dahsyat. Aku menepiskan tangan sebagai upaya sia-sia mendorong kegelapan menjauh dariku seraya berteriak sekuat-kuatnya—sekali, dua kali, tiga kali. Aku tahu, kesempatanku lepas dari perasaan terkutuk ini adalah menuju koridor. Aku meraba-raba menuju pintu.

Cahaya bulan di koridor tidak membantu. Setiap kali tersandung beberapa perabotan lain, aku segera bangkit dan berlari. Ini sensasi mengerikan yang baru kurasakan seumur hidupku. Dalam kepanikan tak berujung, sebuah pukulan menghantam dahiku, memakan keseimbangan tubuhku, membuatku terhuyung sebelum terguling di tangga batu. Kemudian aku tak ingat apapun lagi.

**

Aku tersadar dengan kepala pusing dan terbalut perban. Hari sudah terang. Lelaki tua berlengan kayu sedang menatapi wajahku. Kucoba mengingat yang terjadi, tapi ada beberapa bagian yang tak bisa kuingat dengan jelas. Aku memutar mata ke sudut ruang dan mendapati wanita tua—tidak lagi tampak pucat dan mengerikan—sedang menuangkan sedikit obat dari tabung biru kecil ke dalam gelas. “Di mana aku?” tanyaku.

“Kami menemukanmu di bawah tangga,” katanya, “ada luka di bibir dan dahimu.”

Saat siang, wajah mereka tampak lebih muda, kecuali lelaki tua bermata kecil yang selalu menunduk seperti mengantuk. Cukup lama bagiku memulihkan ingatan pada kejadian semalam. “Kini kau percaya—” ujar lelaki tua berlengan kayu, “bahwa kamar itu berhantu?” Ia tidak lagi bicara seperti menyambut orang asing, tetapi seperti sedang mengasihani seorang teman.

“Ya—” kataku, “kamar itu berhantu.”

“Kami bahkan tidak pernah ingin melihatnya. Beritahu kami, apakah ia seorang earl.”

“Tidak—ia tidak seperti itu.”

“Sudah kubilang—” sergah wanita tua, “itu countess yang malang.”

“Bukan,” kataku lagi. “Tidak ada hantu earl maupun countess di kamar itu; kecuali sesuatu yang tidak terlihat dan jauh lebih buruk—”

Tatapan mereka berubah.

“Lebih buruk dari sekadar hal yang bisa menghantui setiap orang malang,” kataku, “dan itu adalah—ketakutan! Ketakutan yang menguasai, membuat tuli dan buta—yang mengikutiku di koridor, yang aku lawan di kamar itu.”

Kami terdiam cukup lama.

Lelaki tua bermata kecil menatapku. “Itu kuasa kegelapan yang mengutuk rumah ini! Ia berdiam di kamar itu. Kau bisa merasakannya di siang hari—bahkan di siang hari yang cerah di musim panas. Bergelantungan di mana-mana, merayap di keremangan, mengikutimu walau kau tidak ingin melihatnya. Ketakutan akan bertahan di kamar merah itu—selama dosa ada di rumah ini.” (*)

 

 

Cerpen The Red Room (1894) adalah cerpen gothic karya Herbet George Wells. Cerpen ini pertama kali terbit di majalah The Idler edisi Maret, 1896. H. G. Wells (1866-1946) adalah penulis prolifik terbaik Inggris. Ditahbiskan sebagai “bapak fiksi ilmiah Inggris”. The War of the Worlds, The Time Machine, The Invisible Man, dan The Island of Doctor Moreau, adalah beberapa karyanya yang paling fenomenal dan telah difilmkan.

Iklan

[Cerpen] Nisan Kosong | Jawa Pos | Minggu, 19 Januari 2014

Nisan Kosong

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Nisan Kosong

Setelah Pembunuhan Kedua

SEHARUSNYA musim dingin segera berakhir sebulan lalu, selepas tahun baru. Namun, angin utara yang dingin datang tanpa diduga, menyandera semua orang di desa kecil ini dalam dingin yang membekukan tulang. Udara beku membungkus setiap rumah. Edgar berpikir, doa akan menyelesaikan kesedihannya.

Harapannya serapuh dan setipis lapisan es yang menyaluti pagar dan tepian atap. Kecuali orang-orang berani mengarungi laut dalam dinginnya air dan udara, maka sesungguhnya tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Orang-orang di sini tak punya sepetak kebun untuk ditanami. Itu bukan pilihan di desa yang sebagian besar areanya berbatu karang. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi nelayan yang baik.

Udara beku telah memporak-porandakan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah kehangatan serupa kepungan ketakutan. Itu jelas membuat kondisi desa dan mental orang-orang di dalamnya kian memburuk.

Ada dua nisan tegak di atas bukit pasir di ujung desa, menghadap laut. Tak ada nama tertera pada dua nisan itu. Edgar berdiri di depannya. Dalam keheningan di kepalanya, doanya terbang bersama gemerincing suara lonceng-lonceng angin yang digantungkan anak-anak di dahan pohon willow pantai. Udara beku telah meredam setiap aroma kayu balsa yang disemburkan dari setiap cerobong asap rumah-rumah di sini.

 

Sebelum Pembunuhan Pertama

Masih dalam musim dingin yang berat, dua bulan lalu, di ruang tengah rumah kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju pantai, Allan duduk memeluk lutut menghadap perapian bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali tangan mereka lurus ke perapian untuk meraba kehangatan.

“Kayu hampir habis. Minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Hmm… hantu-hantu laut itu kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita segera menyerah,” keluh perempuan di ujung perapian. Itu Clara, istri Allan. Ia telah mengira hantu-hantu laut adalah penyebab semua kemalangan ini. “Mereka datang menggandeng kematian,” sambungnya.

Mendengar Clara bicara begitu, Allan tiba-tiba berdiri. “Edgar, ikutlah denganku.”

Edgar bergegas bangkit mengikuti ayahnya. Mata kecil Ilyana berbinar memandangi punggung ayahnya dan kakaknya itu. Dua lelaki itu menuju ruang dekat dapur dan cekatan mempersiapkan peralatan melaut. Ilyana menyukai sop sirip hiu masakan ibunya. Gadis kecil itu menyukai setiap irisan lobak yang berenang-renang di dalam mangkuk sopnya. Usianya 12 tahun, terpaut lebih muda enam tahun dari Edgar.

Menahan terpaan angin, Edgar berjalan condong di sisi ayahnya menuju perahu yang ditambat di bibir pantai, di mulut teluk yang serupa bejana itu. Saat mempersiapkan perahu, mata Allan tiba-tiba terpaku pada benda gelap yang mengapung tak jauh dari mulut teluk. Lalu terdengar pekikan putranya. “Itu ikan paus!”

Ikan besar itu berenang lamban di mulut teluk. “Kau tahu Edgar,” ujar Allan. “Daging terbaik adalah daging ikan paus yang diasapi. Minyak dari lemaknya juga sangat baik.”

Edgar mengangguk. Pilihlah. Membiarkan ikan paus itu pergi atau dagingnya akan membantu semua orang di desanya melewati musim yang buruk ini.

Segera setelah melarung perahu, mereka berdua mendekati ikan paus itu dan berusaha keras menghalaunya masuk lebih dalam ke mulut teluk. Mereka ingin menjebak ikan itu di sana. Udara dingin yang menyelimuti pesisir seketika burai oleh suara gaduh keduanya.

Suara mereka membuat orang-orang desa berdatangan, memenuhi bibir pantai dengan mata berbinar. Semangat mereka tiba-tiba penuh saat melihat ikan besar yang berenang gugup di depan perahu Allan.

“Kita bantu dia!” Seseorang berseru dan bergegaslah nelayan lainnya ikut melarung perahu. Membentuk lingkaran dengan kepungan yang rapat dan kegaduhan kian memecahkan kesuraman di mulut teluk itu. Lunas bawah perahu membelah air, bersama kecipak dayung yang dikayuh kuat-kuat.

Allan menghunus belatinya. Ia sedikit ragu. Ikan raksasa itu berenang menjauh dari perahu Allan, namun tindakan justru membuatnya kian masuk ke mulut teluk. Ikan itu kini terjebak. Allan melompat seraya mengujamkan belati. Darah segera mengubah air laut yang dingin berwarna merah saat belati ia tikamkan tiga kali ke tengkorak kepala ikan besar itu.

Itu kematian yang canggung.

Para nelayan segera melemparkan kait bertali. Perahu dikayuh cepat melampaui tubuh ikan, langsung menuju pantai. Di sana sudah menunggu puluhan orang lain yang bersiap menyambut tali, beramai-ramai menarik ikan itu ke pasir pantai.

Orang-orang yang tergesa-gesa.

Tergesa-gesa mengakhiri riwayat ikan itu. Tergesa-gesa mengiris-iris tubuhnya. Tergesa-gesa pula mereka mengambil bagian masing-masing.

Allan nyaris tak mendapatkan apapun, jika saja ia tak segera melabuhkan perahunya. Ia memenuhi keranjang kecilnya dengan daging ikan. Mengambil kulit ikan untuk ia gunakan melapisi jendela. Edgar mengumpulkan belulang ikan untuk dibuat arang. Dua ruas belulang kecil ia simpan sendiri.

Akan ada kemeriahan kecil di setiap rumah malam ini. Irisan lobak akan berenang di mangkuk sop Ilyana. Kemeriahan kecil setelah kematian yang canggung siang tadi.

 

Sebelum Pembunuhan Kedua

Cuaca dingin masih berlanjut. Kelaparan kini kembali mengintai seisi desa. Daging asap dari ikan paus nyaris habis. Selepas pembunuhan pertama, orang-orang desa lebih sering memancing harapan, berdiri di bibir pantai dan memandang ke mulut teluk seraya berharap ikan-ikan besar datang lagi. Orang-orang ini mengharapkan pembunuhan berikutnya.

Kail harapan mereka terpaut akhirnya. Di suatu pagi, saat lapisan es memenuhi sela kayu, suara teriakan seseorang terdengar dari pantai. Teriakan yang meminta agar orang-orang segera datang dan melihat apa yang ia lihat. Di antara kerumunan ada Allan dan Edgar.

Ada ikan paus yang terjebak semalam. Ikan itu berenang gelisah di sisi palung teluk. Tapi, orang-orang terlanjur mengira bahwa harapan merekalah yang telah membuat ikan itu datang. Aroma pembunuhan bercampur dengan udara dingin.

“Ikan ini tiga kali lebih besar dari ikan yang tertangkap sebelumnya,” ujar Edgar pada ayahnya. Orang-orang tampak bergegas, mempersiapkan perahu dan senjata tajam. Maka seperti pembunuhan sebelumnya, ikan paus itu juga mati dengan cara yang canggung. Tak ada perlawanan. Ia terima orang-orang yang merebahkan kematian ke atas tubuhnya.

Tetapi, pembunuhan kali ini berbeda. “Kita sudah selesai di sini,” pelan Allan mengelus punggung Edgar, mengajaknya pergi. Apa yang mereka lihat itu sungguh memuakkan. Wajah dan tangan orang-orang dilumuri darah. Air laut mengantar darah ke tepian pantai.

“Malam ini dan malam-malam berikutnya, di rumah kita hanya akan ada sop lobak dan sedikit irisan daging asap dari ikan paus pertama,” begitu tenang Allan mengingatkan putranya.

Orang-orang desa menuntaskan pembunuhan kedua ini dengan cara yang paling masuk akal. Dalam cuaca dingin seperti ini, dalam intaian kelaparan, mereka kerat setiap daging dan lemak dari belulang ikan paus. Mereka tergesa-gesa. Ikan malang itu belum benar-benar mati saat orang-orang mulai mengambil setiap bagian daging dari tubuhnya.

Barangkali ini terlihat sekadar urusan bertahan hidup. Siapapun berhak melewati musim dingin yang buruk ini dengan tetap hidup. Tetapi untuk urusan semacam itu, orang-orang desa tak harus melepaskan kemanusiaannya.

Edgar kembali ke pantai saat tempat itu telah sepi. Ia berjongkok di sisi belulang ikan yang terserak. Memanggul beberapa belulang besar untuk ibunya dan menyelipkan dua ruas belulang kecil lagi ke dalam sakunya.

 

Setelah Pembunuhan Kedua

Semua orang desa kecil ini masih harus bersabar melihat bebungaan willow mekar di awal musim semi. Waktu yang terulur ini akan segera membangkitkan kecemasan, seperti kecemasan yang sudah mereka rasakan sebelum dua pembunuhan terakhir.

Seperti tiga pagi berturutan dalam sepekan Edgar selalu terlihat menyusuri jalan setepak menuju bukit pasir, maka pagi ini pun Edgar berjalan perlahan menuju ke arah sana. Kepalanya bertudung dan dua telapak tangannya tenggelam dalam saku. Pada kantong kain yang terselempang di tubuhnya, menyembul selembar batu pipih.

Di atas bukit pasir, Edgar memutar tubuhnya, memandang ke teluk yang terlihat indah dari atas sini. Matanya menjelajahi setiap rumah, perahu-perahu yang diam, dan pohon willow pantai yang rajin mengirimkan dentingan lelonceng angin yang digantung di dahan-dahannya.

Ia sudah menyadari bahwa bencana yang menyebabkan kecemasan di desanya bukan tentang udara dingin yang berembus dari utara, tetapi tentang sesuatu yang datang dari lubuk hati setiap orang di desanya.

Lelaki muda itu mengeluarkan isi kantong kainnya dan menegakkan nisan kedua di sisi nisan pertama. Kedua nisan itu menghadap ke laut. Kosong, tak bernama. Ia keluarkan bunga kering dari sakunya dan ditancapkannya ke atas pasir, berdekatan dengan nisan kedua. Ia lalu senyap sejenak, mengembarakan doa untuk makhluk Tuhan yang telah menerima kematian dengan canggung. Setiap ruas belulang yang ia simpan, telah ia kuburkan berdampingan.

Edgar masih tegak dalam diam, saat tangan Allan singgah ke bahunya. Ayahnya sudah ada di dekatnya, entah sejak kapan. “Selamat pagi, Ayah.” Sapa Edgar tanpa menoleh.

Allan membalas salam putranya. “Mereka berterima kasih padamu,” katanya lagi.

Edgar menoleh, mendapati wajah ayahnya yang tenang. Lelaki muda itu tertunduk. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada memakamkan empati yang dipaksa mati. “Kelak kau akan tahu…” Allan merangkul bahu putranya, “saat orang-orang tak lagi memedulikan cara, maka mereka telah usai melakukan kekeliruan yang ingin dipahami.” (*)

Molenvliet, April 2013

Twitter: @IlhamQM


[Cerpen] Empang Kosong

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“JASHAR bilang, ikan Nila sedang mahal sekarang ini, Ros!”

Rayu Tamim pada Rostini, istrinya, yang saat itu sibuk menjerang sayur untuk makan malam mereka.

Tamim jongkok di sisi Rostini sambil mengunjukkan wajah memelas. Rostini bertahan tak mau melihat wajah suaminya jika sedang bersikap begitu. Sejak semalam, di ranjang, Tamim sudah merayunya. Mulut Tamim sekadar berhenti bicara soal empang dan ikan Nila hanya saat dia merenggangkan selangkangan Rostini dan sibuk di sana sekitar lima menit. Setelah hajadnya tunai, mulutnya mulai mencacau lagi. Rostini bahkan tak tahu kapan Tamim berhenti, sebab Rostini terlelap tanpa sengaja.

Jashar, kawan sekerja suaminya, memang pernah cerita perihal keuntungan menambak ikan Nila Merah dalam obrolannya dengan Tamim, saat mereka istirahat di kedai kopi Imah, di luar pagar pelabuhan. Kedua berkawan ini, sudah dua tahun lalu, bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan. Jashar menyebut-nyebut soal keuntungan besar apabila empang Nila panen sesuai rencana. Mulut Tamim sampai-sampai terbuka, tercengang mendengar jumlah uang yang disebut-sebut Jashar. Entah darimana si Jashar memperoleh beragam informasi soal bertambak ikan Nila Merah, sedang dia sendiri tak punya warisan tanah empang seperti dirinya.

Empang miliknya itu tak besar, cuman sekitar 50 x 25 meter per segi. Letaknya persis di belakang rumah kecilnya. Empang itu warisan ayahnya yang meninggal dua tahun silam. Begitu diwariskan, Tamim dan Rostini langsung pindah ke sana. Bermodal seadanya, Tamim memperbaiki rumah kecil di samping empang. Tapi, ketika itu modalnya tak cukup untuk membiayai pengelolaan empang. Ayahnya hanya mewariskan padanya empang itu saja, tanpa uang tunai sama sekali. Dua tahun mereka mukim di situ, Rostini melahirkan dua anak yang umurnya berpaut setahun.

Kata-kata Jashar sungguh mempengaruhi Tamim. Empat hari dipikirkannya, dan baru pada hari kelima dia berani menyinggungkannya pada Rostini. Dia tahu mereka tak punya uang sama sekali. Satu-satunya harapan Tamim untuk rencananya itu adalah cincin milik Rostini, yang dulu dimas-kawinkannya buat perempuan itu.

Demi agar Rostini mau memberi cincinnya, Tamim rela melepas martabatnya barang sebentar, merayu istrinya itu hingga seolah memelas. Kini, tinggal menunggu putusan istrinya saja, maka empang itu akan segera terwujud.

***

Pada akhirnya Rostini menyetujui niat Tamim. Perempuan kurus itu menggadaikan satu-satunya harta miliknya yang paling berharga saat ini. Rostini tak peduli masih ada beberapa hutang mereka pada rentenir yang sebentar lagi jatuh tempo. Dia sangat berharap Tamim akan bersungguh-sungguh, dan mereka bisa menikmati laba dari hasil menambak di empang kecil itu.

Jika Tamim gagal, entah apalagi yang mesti diperjuangkannya. Tanah warisan mertuanya cuman sedikit. Hendak dijual pun, tak ada yang mau beli. Lalu setelah itu mereka berempat hendak tinggal di mana? Tanah di sekitar muara tak begitu diminati pembeli, sebab jauh jaraknya dari lokasi gudang pelabuhan. Parahnya, lokasi tanah mereka berjarak 200 meter dari jalan besar, dan 1.5 kilometer dari muara.

Dua anaknya masih kecil-kecil. Yang sulung saja umurnya baru dua tahun. Kebutuhan kedua anaknya pun tidak sedikit. Termasuk masih harus menbayar mahal bila mereka berdua sakit. Pembebasan biaya berobat yang dibilang pemerintah itu, seperti tak berlaku di wilayah pinggiran macam ini. Setiapkali anaknya sakit, Rostini harus menebus obat sedikit lebih mahal dari harga obat yang di jual di kios pinggiran jalan. Jangan tanya soal surat keterangan miskin dari kelurahan. Surat keterangan itu sudah lama dia buang, sebab ternyata tak berguna sama sekali.

Kini satu-satunya yang berharga padanya sudah dibawa pergi Tamim. Semua pikiran tentang kondisi hidupnya dan kedua anaknya itulah yang membuat Rostini menunda menyetujui permintaan Tamim tempo hari. Dia bisa stress karena memikirkan semua kebutuhan hidup keluarga kecil ini selanjutnya.

***

Setelah menggadaikan cincin istrinya, Tamim segera menuju Balai Benih Ikan. Untung saja harga emas sedang naik, sehingga hasil penjualan untuk cincin seberat tiga gram, lumayan banyak. Semoga saja, setelah dikurangi harga bibit ikan dan pakan, sisanya masih cukup banyak untuk diberikan pada istrinya. Begitu harapan Tamim.

Tapi, di Balai Benih Ikan, Tamim harus menelan ludahnya sendiri. Untuk empang seluas miliknya itu, dia harus membenam 25.000 ekor bibit ikan yang seukuran dua jari orang dewasa. Artinya, per meter akan berisi 20 ekor bibit ikan. Ini hitungan pas. Sebab jika terlalu banyak, maka bibit ikan akan mati, dan jika terlalu sedikit, maka dia tak akan balik modal. Tamim akhirnya memutuskan yang terbaik baginya.

Kini di boncengan sepedanya, tersusun rapi sekarung besar pakan ikan, dan lima kantong besar berisi bibit ikan. Dia harus hati-hati membawa bibit-bibit itu, sebab jika pecah, maka dia akan rugi besar.

Hatinya lapang dan tenang setelah usai menuang semua bibit ke empangnya. Hati yang diliputi bahagia membuatnya lupa pesan Wak Rasyid, pemilik empang lainnya, mempesankan agar Tamim lebih dulu menguatkan tanggul empang sebelum memasukkan bibit ikan.

***

Hati Rostini gundah luar biasa. Setelah Tamim berbelanja bibit ikan, dia hanya mengembalikan 75 ribu rupiah. Uang sejumlah itu tak akan membuat mereka berempat hidup seminggu, sedangkan suaminya menerima upah seminggu sekali dari mandor pelabuhan. Tamim harus bekerja lebih giat lagi di pelabuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka di minggu berikutnya.

Ingin sekali Rostini membantu suaminya. Tapi sayang, tidak ada pekerjaan yang memberikan upah walau hanya dikerjakan di rumah saja. Tidak satupun ada perusahaan yang mau memberikan pola plasma di sekitar situ. Ada lowongan di perusahaan pengalengan ikan, namun sayang yang diterima hanya perempuan yang belum menikah atau tanpa anak.

Sejak hari itu, Rostini sudah tak bisa berkumpul bersama ibu-ibu lainnya dalam arisan PKK. Dia berutang dua bulan di situ. Pemilik toko sembako di simpang keluarahan sudah pula datang padanya, menagih piutang selama dua bulan ini. Si pemilik toko datang setelah mendapat kabar bahwa Tamim barusan belanja bibit dan pakan ikan, dan sedang mengupayakan empangnya lagi. Rostini sudah berusaha meyakinkan si pemilik toko tentang cerita sebenarnya. Tapi, si pemilik toko justru mencibirnya, dan menyebut dia dan suaminya sebagai pasangan pembohong. Sebelum pulang, dia mengancam, jika Rostini tak membayar utangnya, maka masalah itu akan diadukannya pada lurah.

Dua masalah itu saja sudah cukup membuat kepalanya nyaris pecah. Barangkali dia akan gila jika pemilik peralatan dapur yang dahulu dikreditkan padanya datang menagih juga. Bulan lalu saja dia sudah menunggak, dan diancam akan dikenakan bunga tinggi. Jika bulan ini tak juga dibayarnya, maka bunganya akan bertambah. Tamim sudah diberitahukannya, dan suaminya itu berjanji akan mengusahakan agar mandor memberinya panjar upah kerja. Tapi Rostini tak bisa percaya sepenuhnya. Dua pekan lalu saja, Tamim bermohon untuk hal yang sama, tapi ditolak.

Malam itu, Rostini terjebak ketakutan-ketakutan dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap kosong, ke arah kedua anaknya, yang tertidur pulas setelah melahap bubur yang diaduk bersama gula putih.

***

“Air datang! Menyingkir… Air datang!!”

Wak Rasyid berlari menembus hujan badai sambil berteriak kesetanan. Setelah melompati pagar dan menggedor pintu rumah Tamim, Wak Rasyid berbalik kembali ke rumahnya. Lelaki tua itu berlari memutari rumahnya dan menendang pintu kandang kambing sambil berseru-seru. Kambing-kambingnya berlarian keluar, ikut bersamanya menembus hujan. Istri dan anak-anaknya sudah diselamatkannya lebih dulu.

Sedari sore, Wak Rasyid berdiri di belakang rumahnya, sambil memegang payung. Hujan sedari pagi membuatnya khawatir. Menurut pengalamannya, setiap kali hujan seharian penuh di musim penghujan macam ini, maka air akan berangsur naik. Kadangkala, air hanya perlahan saja merambat naik. Tapi tidak kali ini. Air begitu cepat mencapai pancang pemancingan, tempat yang tandai Wak Rasyid sebagai batas normal ketinggian air. Jika air sudah merendam pancang itu, artinya hulu sungai sedang tak bersahabat.

Benar saja dugaan Wak Rasyid. Air datang bergulung dan ikut menyeret sampah kayu dari hulu, menghantam pancang hingga hancur dan ikut hanyut terbawa air. Menurut perhitungannya, akan berselang 15 menit dari hanyutnya pancang itu, air akan mencapai pekarangan belakang rumahnya dan segera merendam dapur.

Semua tetangganya sudah dia peringatkan. Beberapa orang lainnya juga sudah menyebar untuk memperingatkan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai agar segera menyingkir. Dia sendiri segera menuju balai kecamatan untuk bergabung bersama warga lainnya.

Setibanya Wak Rasyid di sana, dia heran, tak ditemuinya Tamim dan keluarganya. Ah, barangkali, mereka mengungsi di lain tempat. Balai ini saja sudah hampir dipenuhi orang.

Semakin larut, air sungai semakin naik. Air kemudian surut perlahan bersamaan dengan berhentinya hujan-badai saat larut malam. Menjelang pagi, air ikut surut, kendati masih cukup berbahaya karena arusnya cukup kuat di tengah sungai.

***

Tamim mencengkerem lengan Wak Rasyid. Matanya merah.

“Mengapa…Wak…tak…memeriksanya…sekali lagi?” Tanya Tamim terbata-bata.

Tapi Wak Rasyid bergeming. Lelaki tua itu juga sedang diliputi perasaan bersalah, sehingga menurutnya, bicara hanya akan memperkeruh suasana. Sepengetahuannya sudah semua warga diberitahukannya soal datangnya air besar.

Hati Tamim benar-benar terpuruk. Dia lunglai, matanya menatap kosong ke arah empang dan rumahnya.

Air telah menjebol tanggul empang di sisi utara, sehingga tanpa bisa dicegah, air menyapu rumahnya, mendorongnya hingga tumbang masuk empang. Jika saja tanggul di sisi selatan dan barat ikut roboh, tentu kerangka rumahnya akan terbawa air hingga ke muara.

Tamim rupanya tak ada di rumah ketika kejadian itu. Sepulang mereka dari pelabuhan, Dia dan Jashar terlambat mencapai jembatan. Keduanya harus bernaung sebab mereka dihadang angin kencang dalam perjalanan. Saat mencapai jembatan, mereka sudah terlambat. Ratusan orang tertahan dan berkerumun tak jauh dari lokasi jembatan yang telah putus dihanyutkan air.

Semua orang akhirnya menunggu hingga pagi menjelang. Bersama beberapa prajurit dan SAR, mereka membangun jembatan darurat dari lima pokok kelapa yang diikat menyatu. Orang-orang SAR itu bilang mereka harus mendahulukan evakuasi korban manusia.

***

Setelah para korban meninggal dibersihkan dan dikafani, orang-orang mempersiapkan penguburan. Tamim berdiri sejenak dan memandang onggokan kerangka rumah dalam empang miliknya, yang kembali kosong, tersapu air. Matanya berganti memandang kakinya sendiri. Perih hati Tamim, membayangkan bahwa di tempatnya berdiri itu, tadinya berdiri rumahnya.

Di antara puing-puing rumah di tengah empang, orang-orang menemukan istri dan kedua anaknya. Terbenam, tubuh mereka memutih pias.

Membayangkan wajah-wajah orang yang dicintainya, Tamim terhuyung, menubruk pohon, dan merosot ke tanah. Dalam kepiluan dan rintihan, lelaki itu meraung sekuat-kuatnya. (*)

Kendari, 2011

Tradisional (sumber: Wilhelm Gross)


Rubaiyat [XXXIX]: Kornelian Satu Qirat

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

aku telah pulang, seusai

menyampaikan pesan

kelembutan yang terkirim dalam hembusan

saat pelupukmu menyiapkan tangisan

 

kepada laut aku berunding tentang sungai

kepada sungai aku titipkan kerinduan hutan

kepada hutan aku bisikkan salam hujan

kepada hujan aku simpan keinginan langit

 

tiada syair yang dapat mengindahkan dunia

tiada syair yang dapat menghancurkan dunia

tiada syair yang menjelma dalam kedirian manusia

hanyalah ada syair manusia perusak dunia

 

yang mematahkan gunung dengan telunjuk mereka

yang mengeringkan samudera dengan mata mereka

yang membalik tanah dengan tumit mereka

: tidak datang yang dua sebelum yang empat

 

tidak datang yang empat sebelum yang dua

tidak datang yang empat sebelum yang empat

tidak datang yang tiga sebelum yang empat, dan

tidak datang yang empat sebelum yang tiga

 

tiada manusia yang mampu sempurnakan syair

syair manusia selalu beraroma anyir

mata mereka terbuka saat pesan datang padanya

: lewat sungai, laut, hutan, hujan, gunung

 

pada tanah yang bergerak, mereka

menyerukan kerinduan

meneriakkan sesalan

meminta pangkuan

 

bukankah pernah Dia gemerincingkan lonceng

: tidak akan datang padamu tujuh barhut

dan tujuh walayah

sebelum dar asbab merapatkan permukaan langit dan bumi.

***

Januari, 2011

Glosarium: barhut [azab]; walayah [kecintaan/kasih]; dar asbab [rumah segala sebab-akibat]; kornelian [permata merah]; qirat [duabelas dinar]

Kornelian (sumber foto: indonetwork.co.id)

Rubaiyat ini juga dapat disimak di Lumbung-Puisi-Sastra Digital


%d blogger menyukai ini: