Tag Archives: mati

[Cerpen] Kehormatan | Pikiran Rakyat | Minggu, 22 Maret 2015

Kehormatan

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Ilustrasi_Kehormatan_Pikiran Rakyat_22 Maret 2015

1/

Sebuah perayaan sedang berlangsung di hadapan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian licin dan harum. Jemari Matsumoto bergetar.

Seorang pemuda melangkah ke podium kecil, melewati tamu-tamu yang mengangguk hormat padanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah saya. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu saya sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala hal dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang —dengan semua tragedinya— ia berhasil bertahan.”

Di kursi barisan depan, Matsumoto diam mematung. Bibirnya terkunci. Hatinya berbisik —entah apa yang membuatnya ada di tempat ini.

2/

Pulau Wawoni’i diberi bendera matahari terbit dalam peta Dai Nippon. Di depannya terhampar Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan sebagai Prime Naval Base untuk Operasi Selatan dalam misi penaklukan Australia.

Malam ini, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya-cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir —entah berapa banyaknya— meledak beruntun, menyasar barak, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat ini.

Yoshiro Matsumoto merendahkan tubuhnya. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana ia memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

Tetapi sebuah ledakan lain segera menyadarkan Matsumoto. Ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah hancur. Serangan ini sangat mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap, karena sekelilingnya kini mendadak hening —tak ada tembakan dan ledakan lagi.

Matsumoto merayap dalam gelap. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak di kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat —tapi mendadak sadar bahwa posisinya kini sangat berbahaya.

Di lubang itu ada seorang pejuang kemerdekaan. Dari jarak sedekat itu, Matsumoto yakin kaki kanan pria itu hancur. Pasti karena ranjau darat yang mereka tanam sekitar 500 meter dari barak komando. Sosok tubuh itu mengerang lirih. Matsumoto kaget, tak ia sangka bahwa sosok itu masih hidup.

3/

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan di udara. Matsumoto mengendus aroma tajam dari asap suar di udara. Ia sentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat pada sosok dalam lubang bekas ranjau itu. Ia lepas barel kosong dari pinggangnya dan menopang kepala lelaki di depannya itu agar lebih tinggi. Udara kering dari laut bercampur asap mesiu. Matsumoto berjongkok, tangannya bergetar. Ia rapatkan kerah bajunya, mencoba nahan mengusir gigil. Lubang hidungnya membesar saat ia jejalkan udara kering ke dalam paru-parunya, kemudian ia berusaha fokus.

Teriakan rekan-rekannya dari bagian lain pulau sampai ke telinganya. Letusan senjata dan desing mortir di udara sesekali memburai suasana malam. Ia meringkuk di kegelapan, hanya mendengar dan tak bisa berbuat apa-apa saat sebagian rekannya berjibaku menahan serangan para pejuang Indonesia —pasukan lelaki di depannya ini. Ya. Lelaki ini musuhnya.

Matsumoto teringat sumpah prajurit kekaisaran yang rela mati demi kehormatan Kaisar Jepang. Ia kunci rahangnya, mengarahkan pistolnya ke pelipis lelaki itu. Perlahan jemarinya bergerak meremas. Di saat kritis akan keputusannya, lelaki itu mengerang dan menyentuh lengannya —keraguan menyergap Matsumoto.

Itu erangan yang akrab di telinganya sepanjang tugasnya dalam misi okupasi selama ini. Mungkin lelaki malang itu menginginkan sesuatu sebelum nyawanya putus. Matsumoto merendahkan kepalanya, hingga cukup dekat untuk mendengarkan permintaan terakhir lelaki itu. Kepalanya begitu dekat sehingga ia bisa melihat kilatan di mata lelaki itu.

“Air —beri aku air,” suara lelaki itu nyaris habis.

Tetapi kilatan mata itu —kilatan mata lelaki itu mengusik hatinya. Ia seperti melihat dirinya di dalam sana, berdiri gagah dengan kehormatan sebagai seorang lelaki yang setia pada negaranya. Matsumoto teringat sumpahnya, kehormatannya sebagai seorang samurai. Hatinya jeri. Susah payah ia redam sakit di dadanya. Ketegangan telah membuatnya cemas. Tangan Matsumoto bergetar, tapi ia merasa siap untuk kembali menarik picu.

Lelaki di depannya itu tiba-tiba berguling, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistolnya. Perlahan, bibir lelaki itu terbuka, berusaha kembali membisikkan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto meleleh. Ia merendahkan kepalanya. “Aku harus membunuhmu. Aku harus menyelesaikan tugasku —sumpahku pada negaraku.”

Lelaki di depannya terbatuk, lalu tersenyum. Tangan lelaki itu terangkat ke arah lengan Matsumoto. “Tak apa-apa. Kau harus lakukan tugasmu—” mata lelaki itu mengatup sesaat, “—tapi beri aku air. Aku haus.”

Lelaki itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakangnya, mencari-cari, lalu teringat pada barel kosong miliknya yang tadi ia gunakan menopang kepala lelaki itu. Ia raih benda itu dan mundur dalam kegelapan di belakangnya. Tak begitu lama Matsumoto kembali dengan barel yang penuh air. Ia angkat kepala lelaki itu seraya menuangkan air ke mulutnya, sedikit demi sedikit. “Pelan-palan biar kau tak tersedak,” ujarnya. Lelaki itu tersenyum dan terus menerima air dari barel milik Matsumoto.

“Terima kasih—sekarang lakukanlah tugasmu.” Lelaki itu tersenyum sambil menatap matanya. Matsumoto tertegun. Ia menatap pistol di tangannya, lalu ke arah wajah lelaki itu. Tatapan mereka bertemu. Sumpah seperti berdengung dalam kepalanya, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Demi kehormatannya —sebagai seorang samurai, sebagai prajurit kekaisaran, ia harus mengambil keputusan ini.

Matsumoto meremas gagang pistolnya. Telunjuknya mengeras di logam picu.

4/

Tiba-tiba, cahaya merah berpendar di sekeliling Matsumoto. Sebuah kilatan sejenak membutakan matanya, disusul teriakan-teriakan ke arahnya, memerintahnya agar diam. Darah Matsumoto mengalir cepat, saat ia dengar suara-suara senjata dikokang bersamaan. Ia dikepung sepasukan pejuang Indonesia.

Seseorang menyuruhnya berdiri. Beberapa tangan merenggut kerah belakang bajunya. Matsumoto patuh —tangannya terangkat ke atas kepala. Sisa sobekan bajunya menggantung keluar dari rim di pinggangnya.

Dua orang pejuang segera memeriksa lelaki di dekat Matsumoto. Sesaat kepanikan tampak di wajah mereka, sebelum menunjuk-nunjuk ke arah Matsumoto. Baginya, alasan atas tindakannya tak penting lagi—bahkan karena itu, ia harus melucuti kehormatannya.

Kepala Matsumoto tertunduk. Saat kepalanya tegak, wajahnya dilelehi air mata. Ya. Samurai itu menangisi kehormatannya. Ia lepaskan kehormatannya dan menerima kehinaan ini. Matsumoto berlutut dan menyorongkan wajahnya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!” Teriaknya.

Para pejuang kemerdekaan terdiam. Mereka hanya menatap Matsumoto.

Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Aku mohon, berikanlah kehormatanku—Utsu!” Teriaknya sekali lagi.

Tapi, tak seorang pun pejuang yang sudi memenuhi permintaannya.

Matsumoto tergugu. Ia meratapi dirinya. Matanya mendapati tubuh semua rekannya yang telah mendapatkan kehormatannya —mati demi negara dan kekaisaran, dan ia tidak seberuntung mereka. Walau mungkin berbeda, namun entah seperti apa nilai dan ukuran kehormatan bagi para pejuang di sekelilingnya saat ini. Mereka tak memahami pentingnya kehormatan —yang tak bisa mereka berikan pada Matsumoto— bagi seorang samurai dan tentara kekaisaran seperti dirinya.

Utsu! Utsuuuuu!” Teriak Matsumoto putus asa.

5/

Matsumoto seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibukota negaranya. Di sekelilingnya bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah malu karena hilangannya kehormatan.

Sebagaimana wajah-wajah itu, Matsumoto pun harus menangisi dirinya. Kehormatan yang juga tak bisa ia tebus. Deraan malu pernah membuat Matsumoto memohon agar ia bisa melakukan seppuku—tradisi samurai. Tapi para pejuang Indonesia tak pernah mau menuruti permintaannya.

Setelah Kaisar Akihito mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih menghukum dirinya sendiri; ia menolak pulang dan memilih berada di antara orang-orang yang tak memahami arti kehormatan.

Matsumoto membangun kehidupannya. Ia menikahi seorang perempuan Indonesia, bekerja di perusahaan teh, dan menabung untuk hari tuanya. Tapi, Parkinson datang tergesa-gesa, melemahkan syaraf-syarafnya. Matsumoto memilih melupakan apapun yang ia alami di bulan Agustus di penghujung tahun 1945. Ia memilih melupakan lelaki yang menjadi sebab hilangnya kehormatannya itu.

Sampai seseorang menemukan jejaknya dan datang menemuinya. Seseorang yang harus membuatnya menangis lagi. Seseorang yang keras memintanya untuk mengingat apapun yang hendak ia lupakan. Seseorang yang mengingatkannya pada wajah lelaki yang baginya sudah mati 69 tahun silam demi sebuah kehormatan.

***

Matsumoto mengguyurkan air dari barel ke kepala lelaki itu, menggunakan sobekan bajunya untuk membersihkan wajahnya. Ia menggunakan sisa sobekan bajunya untuk perban, membebat kaki putus lelaki itu sekencang mungkin. Dengan sisa kain bajunya, ia tutupi tulang yang hancur dari sisa kaki musuhnya itu.

“Serangan kalian rapi sekali. Tak ada yang menyangka kalian akan menyerang malam ini,” ujar Matsumoto sambil mengutuk ketidak-becusan intelijen pasukannya sendiri.

“Namaku Syamsul,” lelaki itu mencengkeram bahu Matsumoto.

“Jangan banyak bergerak. Lukamu banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara terbata-bata, “—aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk. Matsumoto kembali meneteskan air ke mulut Syamsul.

Entah apa yang menghentikannya membunuh lelaki itu.

6/

“Inilah impian ayahku selama ini.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Puluhan tahun, ayahku sangat ingin bertemu orang yang ia hormati, orang yang setiap hari ia sebut namanya dan ceritakan kisahnya pada kami. Seorang samurai yang telah menunjukkan kehormatannya dengan sangat berani.” Suara pemuda itu meninggi saat ia dan keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

Matsumoto tersedak keharuannya sendiri.

“Kami berterima kasih pada Tuan Yoshiro Matsumoto. Dengan kehormatannya ia mempertahankan kemanusiaannya, menyelamatkan ayah kami dan membuat kami setiap saat mensyukurinya. Terimalah hormat kami setinggi-tingginya—” Pemuda itu kembali membungkuk hormat pada Matsumoto. Saat tubuhnya tegak, pemuda itu menoleh pada semua tamu yang hadir di pemakaman ayahnya— “Saudara-saudara, inilah lelaki terhormat yang berjuang di sisi ayah kami dalam perang.”

Matsumoto menggeriap. Di antara orang-orang yang selama ini ia anggap tidak memahami arti kehormatan, untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu, Matsumoto menemukan kehormatannya —dalam kemanusiaan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. (*)

Molenvliet, Oktober 2014

 

Catatan:

Prime Naval Base = Pangkalan Angkatan Laut Utama; Jibaku = berani mati; Utsu = tembak

Iklan

[Cerpen] Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa | Sastra Digital | Edisi Khusus Juli 2014

Hikayat Penulis yang Mati di Kota Orang-orang Putus Asa

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Mysterious Lake - Kiriban by Sebastian Wagner

JIKA kau berjalan lurus ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.

Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka sebagai Telaga Dosa.

Kata nenekku, dahulu orang-orang putus asa terjun ke telaga itu, lalu mati karam ke dasarnya. Kematian telah mengubah suasana di sekeliling telaga itu menjadi suram. “Jangan coba-coba kau ungkit kisah ini. Orang di sana tak suka. Pamali!” Kecam nenek.

Larangan itu harus dipatuhi semua orang dari luar kota itu. Tetapi, larangan itu mencungkil keingin tahuanku. Pada satu-satunya Penujum tua di sini, kutanyai ia tentang kisah para pendahulu dan telaga itu. Bukan cerita yang kudapatkan darinya, justru diberinya aku amarahnya. Penujum tua itu melotot, menghumbalangkan panci ramuannya, lalu buru-buru mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang. Diusirnya aku saat itu juga.

**

Jika kau ikuti jejak ular pasir di gurun, kau akan tiba di kota yang ditinggali orang-orang putus asa. Orang-orang putus asa dari segala penjuru negeri datang ke kota itu untuk membuang diri. Melunta-luntakan hidup mereka yang habis harapan itu.

“Sudah aku katakan jangan kau ungkit-ungkit kisah para pendahulu. Kelakuanmu itu sangat terlarang!” Begitu jengkelnya nenek saat mengetahui perbuatanku.

Rasa penasaranku telah menyusahkannya. Tetapi, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika tak terpancing keingintahuannya.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Begitulah peringatan diejakan pada anak-remaja yang beranjak dewasa dan pada setiap orang yang datang. Kalimat yang disampaikan dari generasi ke generasi. Jika kau berani mempermainkan kalimat itu, kau akan segera mendapat cap makhluk paling laknat yang pernah hidup di antara orang-orang putus asa.

“Kota itu kosong sebelum orang-orang putus asa datang. Keputus asaan telah mengikat orang-orang di sana. Tiada harapan bisa kau temukan, kecuali kecurigaan belaka.”

Nenek menceritakan suatu peristiwa; tentang sekumpulan kecil orang putus asa datang ke kota itu, lalu coba-coba mengubah kalimat keramat itu dengan dalih reformasi. Seketika mereka dihujat karena menista para pendahulu, berbuat amoral dengan memberikan harapan pada orang lain. Sebab satu-satunya moral yang diterima di kota ini hanyalah: keputus-asaan.

Sekumpulan kecil orang putus asa itu dimahkamahkan, lalu diarak ke tepi telaga. Kemudian, seseorang dari mereka dijadikan contoh bagi kawan-kawannya. Ia dianiaya hingga kepayahan, sebelum dilemparkan ke tengah telaga. Ia karam mati di situ. Mayatnya dikubur di luar tapal batas kota.

Hukuman yang paling menakutkan bagi penduduk kota itu bukanlah mati ditenggelamkan, tetapi dikuburkan di luar kota. Itu adalah pembantaian atas marwah mereka sebagai orang-orang putus asa.

**

Jika kau ikuti burung Nasar yang terbang pulang, maka kau akan tiba di gerbang kota yang dihuni orang-orang putus asa. Orang-orang yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Orang-orang di kota itu bersedia membunuh hanya karena sebuah harapan yang coba diterbitkan. Mereka hanya setia pada kalimat yang terpahat di tugu batu, di depan gerbang kota: Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Ada masanya mereka melakukan ritual perjalanan suci. Orang-orang putus asa di kota itu memulai petilasan dari tugu batu di depan gerbang kota, melafalkan kalimat keramat dengan sungguh-sungguh, berulang-ulang, sehingga perjalanan itu selesai di tepi telaga.

Tiada sesajian, karena tak ada yang bisa mereka sajikan dari tanah kota yang tak mereka garap itu. Mereka menghabiskan apa yang ada, dan tak peduli jika kelak punah apapun yang ada di atas tanah kota itu. Tiada doa yang dipanjatkan, sebab harapan tak dibutuhkan. Harapan adalah dosa maha besar.

Di tepian telaga, mereka mencukuri rambut di kepala mereka untuk dibuang ke dalam telaga. Demi kepatuhan, orang-orang putus asa itu akan memakan jamur bola-bola putih berlendir yang tumbuh di sepanjang tepian telaga. Entah seperti apa rasanya. Barangkali, rasa aneh berlendir dan pahit luar biasa itulah yang mengubah wajah mereka menjadi jeri dan takut, seperti menahan dera siksa yang paling maut. Mereka selalu pingsan seusai memuntahkannya kembali.

Nenek bilang, mereka sangat menikmati keterasingan. Menikmati derita kematian para pendahulu melalui jamur bola-bola putih berlendir itu. Ada kalanya, satu-dua orang mengamuk seperti kerasukan sesuatu; memukuli tubuh sendiri dengan benda tajam dan merasa sedang menikmati keputus asaan yang diberkatkan padanya.

Darah dan luka adalah keputus asaan tanpa batas. Harga sebuah kepatuhan, kata nenekku.

**

Aku telah mengikuti awan kelabu yang berarak ke arah selatan, sehingga sampailah aku di depan gerbang kota orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang menerima kekalahan, sekaligus tak memberi apapun yang melebihi keputus asaan mereka sendiri.

Seperti pada setiap orang yang datang, padaku mereka sampaikan juga larangan yang sama: jangan sekali pun menanyakan perihal telaga di tengah kota ini, dan kenapa orang-orang putus asa terdahulu bunuh diri di situ. Itu bukan untuk didiskusikan. Pamali.

Tetapi, seringnya larangan itu diulang-ulang membuat kesabaranku terkikis. Keingin tahuan mendorongku datang pada satu-satunya orang yang aku anggap memiliki jawabannya. Ya. Si Penujum tua itu. Namun ia seketika melotot, menendang panci ramuan hingga terhumbalang, mengubur tubuhnya di bawah selimut bulu Beruang, seraya mengoceh tak putus-putus. “Pamali, pamali, pamali…”

“Tapi informasi ini penting untuk tulisanku,” ujarku memohon.

“Memangnya kau siapa hendak menulis sesuatu yang kami larang?” Si Penujum tua berteriak dari bawah selimutnya, “cukuplah bagimu apa yang tertera di tugu batu di depan gerbang kota ini.”

“Baiklah, jika Tuan tak mau,” aku menenangkannya, “cukup katakan saja pada siapa aku harus bertanya selain padamu?”

Seketika si Penujum tua itu bangkit seolah baru saja tergigit seekor Semut Api. Ia singkapkan bulu Beruang yang menutupinya, matanya merah terbakar amarah. “Pergilah! Jangan sampai aku mengadukanmu pada para pengawas kota. Akan aku lupakan bahwa kau pernah ke sini dan melontarkan kekotoran dari mulutmu. Pergilah!”

Bukankah sudah kukatakan, siapa pun yang dilarang dengan bunyi kalimat macam itu, maka ia pasti berbohong jika penasarannya tak kian terpancing. Aku keluar dari rumah si Penujum tua. Tetapi, kepergianku justru hendak menjemput jawaban dari orang-orang putus asa lainnya di kota ini. Aku hampiri rumah mereka satu per satu. Aku singgahi setiap tempat mereka berkumpul.

**

Jika kau mendongak dan mendapati bulan berwarna merah di ujung gurun, maka sinarnya akan menuntunmu ke kota yang dihuni orang-orang putus asa. Kota orang-orang yang membunuh setiap pertanyaan perihal leluhur mereka, tentang keanehan telaga, tentang kepatuhan yang tak boleh diungkap.

“Tidakkah kau baca pahatan di tugu batu, di depan gerbang kota ini?” Seorang Pengawas Kota mendesiskan amarahnya ke wajahku, di suatu mahkamah yang disesaki orang-orang putus asa.

Aku memprotes mahkamah ini. Tak ada perlunya mereka mendakwaku untuk hal yang tak aku pahami. “Tapi, aku tak memahami maksudnya.”

Orang itu mendelik. “Kau tak perlu memahaminya. Kau hanya perlu mematuhinya.”

“Mematuhi sesuatu yang tak aku pahami?” Aku mendebatnya.

“Kau mengganggu keteraturan di kota ini dengan berbagai pertanyaan yang kami larang.”

Aku menegakkan punggung. “Jadi? Apa yang nantinya akan kutuliskan tentang kota ini?”

Pengawas Kota itu mengangguk tegas. “Tidak ada. Diamlah, dan terima saja keadaan kami. Oh, tidak. Kau tak patut memaksakan keberatanmu atas apa yang telah kami lakukan turun temurun.”

“Aku tak memaksa. Hanya ingin jawaban.”

“Apa bedanya? Bukankah kau sedang berusaha membuat kami melanggar sesuatu yang kami tabukan?”

Aku terdiam. Wajah si Pengawas Kota tiba-tiba sinis, “karenanya, kau akan dihukum.”

“Tunggu…!” Aku berdiri, “aku bahkan bukan warga kota ini.”

“Diam kau!” Hardik si Pengawas Kota, lalu menoleh pada empat Pengawas Kota lainnya yang ikut mengangguk setuju. “Kalian!” Pengawas Kota di depanku itu menunjuk dua orang di belakangku, “bawa orang ini ke telaga!”

“Tunggu dulu…!” Aku menolak perlakuan orang-orang kota ini. Tetapi, orang-orang putus asa itu tak peduli. Mereka menggamit lenganku, memaksaku berjalan menuju telaga. Orang-orang putus asa lainnya mengekor seraya mendengungkan kalimat keramat.

Wahai pendahulu kami. Dimuliakan namamu, ditinggikan kisahmu, sucilah semua yang kalian larang.

Para Pengawas Kota memerintahkan agar aku dicampakkan ke tengah telaga. Tubuhku tercebur, membenam beberapa saat. Tanganku menggapai-gapai di permukaan air, berusaha sekuat tenaga menuju tepian. Air telaga seperti sedang mencarak semua harapanku, menarik tubuhku kian karam ke dasar telaga.

Tetapi, aku bukan salah satu dari orang-orang putus asa di kota ini. Aku tak ingin mati di dasar telaga. Walau payah dan sekarat, aku berhasil menggapai tepian telaga. Seorang gadis muda berjongkok di atas tubuhku yang sekarat itu. Kata-kata seperti hendak berlompatan dari bibirku.

“Kau tahu? Jawaban yang kau cari ada di dasar telaga ini. Mungkin, aku tak akan sempat lagi menuliskannya.”

Gadis itu nyaris tak mendengar gumamku. Ia mendekatkan telinganya.

“Jangan dengarkan apa yang mereka ingin kau percayai.”

“Ada apa di bawah sana?” Gadis itu mendesak.

“Di bawah sana banyak ikan, sangat banyak,” suaraku nyaris hilang. “Harapan lebih banyak di dasar telaga ini daripada di atasnya, di kota yang mengepungnya. Kau tahu, di bawah sana tak ada jejak orang-orang terdahulu.”

Kulihat gadis itu terpana, sebelum cahaya pergi dari bola mataku. (*)

Molenvliet, Januari 2013

Twitter: @IlhamQM

 

(Dipublis pertama kali di Sastra Digital, Edisi Khusus Juli 2014)


[Cerpen] King Mati di Luar Bastion | BKK | Sabtu, 12 April 2014

King Mati di Luar Bastion

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Iles_du_salut_port_drawing_dessin

#1

HARI cerah, matahari terang di bandar. Satu lusin serdadu patroli laut waspada di seberang batas yang ditandai tiang-tiang merah. Ada seribuan orang marah, siaga di pesisir ke arah dermaga. Ada seribuan orang marah lainnya, berkumpul di luar tembok bastion. Mungkin mau menyerang? Belum.

Tetapi dua ribuan orang marah itu tak terima William de Jeirst dan anak buahnya bikin ekstirpasi di sepanjang muara. Habis pohon kopi orang ia suruh tebang. Controleur Johan sudah menduga, pastilah si dungu Jeirst itu habis paksa orang-orang bikin contingenten.

Di luar tembok bastion sudah siap sedia seribuan orang marah nan waspada. Ada benda-benda tajam di tangan mereka. “Mana itu Jeirst!” Teriak Rengui, “ia jangan suka bikin verplichte leverantien seenak perutnya! Ia main bunuh orang sembarangan!”

Controleur Johan panik, demi menyadari seribuan orang marah itu tak akan membiarkan manusia mana pun keluar dari bastion. Johan menyuruh seorang klerk segera mencari Jeirst.

Johan sungguh tak mau ada huru-hara. Berulang kali Jeirst itu bikin perkara, jadi biar si dungu itu yang tanggung akibatnya. Johan tak mau lagi beri oktroi pada kemanakannya itu. Perkara terakhir yang ia bikin sungguh rumit dan berbahaya. Tiga kapal belum tiba dari Rumbia, dan itu bisa jadi peluang bagi dua ribuan orang marah untuk menyerang mereka. “Habis kita, habis!“ Keluh Controleur Johan.

Tapal-tapal batas sudah dicap oleh Berckenrode. Itu garis moral yang lembab.

#2

Tersiar kabar perihal seorang pemuda yang ditikam serdadu mabuk di depan kedai dalam wilayah Moronenees Dorp, tak jauh dari bastion. Saat dikejar, serdadu mabuk itu menghilang di depan gerbang bastion. Belakangan mereka tahu, ternyata Jeirst orangnya. Padahal pangkatnya komandan.

Pemuda yang ditikamnya tak tahu apa-apa. Waktu berpapasan, Jeirst sekonyong-konyong menghinanya, mengatainya: babi. Walau tersinggung, pemuda itu diam saja, sekaligus enggan saat ia disuruh berlutut. Bukan main marahnya si Jeirst, hingga langsung ia tikam lambung pemuda itu sampai tembus.

Pemuda itu berusaha mencari pertolongan. Ia berjalan limbung menyeret kaki, mendekap lambungnya, kemudian jatuh mati tepat di depan gerbang bastion. Suasana langsung gempar, sebab ini terjadi di luar bastion. Sesuai perjanjian, orang pribumi tak boleh masuk bastion. Tapi orang Belanda pun tak boleh seenaknya keluar bastion dan bikin ribut. Terlebih lagi di Moronenees Dorp. Itu bakal dianggap penghinaan.

Kingian, nama pemuda yang mati ditikam Jeirst itu. Ia tak salah apa-apa.

Mayat King yang mandi darah di luar bastion, langsung diangkut keluarganya. Ia dibaringkan di ruang tengah rumah ayahnya, di hadapan ibunya, nenek dan saudara-saudaranya. Tak layak King dibikin begitu. Apa salahnya menolak berlutut?

“King tak pernah berlutut di depan orang sepanjang hidupnya,” rintih ibunya. Mata ibunya basah saat menatap Rengui. Sepupu King itu mengangguk, langsung pergi entah ke mana. Pengurus jenazah sudah datang, mau ukur mayat King untuk liang lahat.

#3

Makin pusing Controleur Johan. Begitu Jeirst datang ke hadapannya, ia maki-maki lelaki itu. Ia tempeleng Jeirst hingga terpelanting. “Kenapa kau dalangi keributan di luar bastion? Kau kira karena jabatanmu, orang-orang itu akan segan mencelakaimu?” Kecam Johan.

Jeirst tak bisa bicara. Ia ketahuan berjudi, sekaligus memadu-rayu seorang perempuan cantik piaraan pemilik kedai. Jeirst marah-marah karena kalah judi, berhutang dua botol tuak, lalu minum sendirian sampai mabuk. Saat pulang, ia berpapasan dengan Kingian. Ia lecehkan pemuda itu, lalu ditikamnya tanpa alasan. Begitulah ihwal ulah Jeirst yang bikin seribuan orang berhimpun di luar bastion dan seribuan lainnya mengepung pesisir.

“Kalau memang benakmu ada isinya,” murka Johan, “maka pikirkan cara agar orang-orang itu tak meringkusmu, mengiris pipa darah di lehermu. Jangan sampai aku yang ambil alih ini perkara, bisa-bisa kutembak kepalamu!”

Piaslah muka Jeirst. Dikiranya, karena yang mati itu pemuda pribumi, lantas Johan akan membelanya. Ia lupa, gara-gara ulahnya pada pemuda lain juga hingga Johan kehilangan Luvina—putri bungsunya yang jelita itu.

Murka Johan sekarang persis murkanya saat mendapati Luvina menggelantung mati di cornie kamarnya. Cuma gara-gara Luvina ketahuan pacaran dengan pemuda pribumi bernama Gamara.

Jeirst melapor soal si Gamara itu pada Johan, sehingga Jeirst diberi perintah menahan pemuda itu di kantor asisten Controleur selama dua minggu. Biar pemuda itu jera. Tapi Jeirst kelewatan. Gamara tak cuma ia tahan belaka, tapi ia aniaya hingga pecah tempurung lututnya. Bagaimana Controleur Johan tak sering memakinya sebagai orang dungu, bila ia sering bikin ulah dan bertindak di luar perintah.

Luvina tahu ulah Jeirst. Gadis itu marah besar pada ayahnya, menolak makan, juga tak mau bicara pada ibunya. Luvina muak pada Jeirst. Tak ada obat buat menyatukan tulang tempurung lutut yang pecah. Sepekan kemudian Gamara mati karena lukanya tak kering. Kabar kematian Gamara sampai ke telinga Luvina.

Mendadak Luvina depresi. Gadis itu mulai meracau hendak mati saja bersama Gamara, namun ancaman itu cuma dianggap kosong belaka. Di hari ketiga kematian Gamara, seorang jongos berteriak histeris dari kamar Luvina, saat menemukan tubuh setengah telanjang gadis itu menggelantung kaku di tali dari sobekan tirai yang diikatkan pada cornie. Leher Luvina patah dan ia mati tercekik.

Johan dan istrinya berkabung. Murka Johan hampir membuat Jeirst sial. Jika saja lelaki itu tak menghiba atas nama ibunya —Janet, adik Johan— pastilah kepala Jeirst sudah berhias liang peluru dari pistol Johan.

#4

Perihal orang-orang marah di luar bastion, pikiran Johan terbagi dua. Ia pasti akan menghukum si Jeirst, tapi tak mungkin ia serahkan kemanakannya itu seperti yang diminta keluarga King.

Hawa amarah dari orang-orang di luar bastion terbawa angin, menyelinap lewat dakvenster, masuk ke perasaan setiap orang di dalam bastion, membuat mereka gentar. “Habis kita, habis!” Cemas mereka.

“Panggil itu Jeirst ke sini!” Teriak Johan pada dua orang klerk, “beri ia senapan buat pimpin anak buahnya yang kemarin bikin ulah di muara!” Seraya matanya terus mengawasi seribuan orang di luar bastion dari jendela ruang kerjanya.

Di luar bastion, di antara seribuan orang marah, berdiri juga kerabat Kingian yang dibakar dendam. Ada Rengui dan selusin saudaranya, sambil menenteng senjata Taa’Owu dan Lambonga Asa’Sula.

Sejak dapat perintah dari kepala keluarga Hiang, Rengui langsung berkeliaran di setiap Moronenees Dorp. Siapa pun yang mendengar nasib King, langsung ikut marah, menurunkan senjata yang sudah lama jadi hiasan dinding. Mereka janji pada Rengui, akan berkumpul besok pagi di gerbang bastion.

Kasak-kusuk di luar bastion bikin serdadu Belanda cemas. Jeirst sudah menyiagakan 500 serdadu berjaga di sepanjang dinding bastion. Gerbang bastion cukup kokoh karena disambung ala Zwaluwstaart —sambungan yang sukar bergeser. Di lepas pantai sana, siaga juga 300 serdadu laut. Controleur Johan sudah kirim pesan darurat ke Rumbia.

#5

Memasuki waktu senja, suasana bastion mencekam. Orang-orang yang marah tiba-tiba lenyap. Jalanan kosong dan kedai juga senyap. Semua orang kumpul di Laica Ngkoa, sedang kirim doa untuk King.

Larut malam, lonceng di pos jaga bastion bagian selatan tiba-tiba berdentang ribut, bercampur tembakan beruntun dua serdadu jaga yang panik. Orang-orang Belanda dalam bastion jadi ikut ketakutan. Mereka mengira, orang-orang marah sudah datang menyerang.

Saat serdadu sedang berjaga, obor-obor mendadak mati, lalu ada kegaduhan dalam kegelapan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi sampai seorang serdadu jaga lain kembali menyalakan obor.

Di lantai pos jaga, ada enam serdadu bergelimang darah mereka sendiri. Ada liang luka di setiap leher mereka. Para serdadu jaga itu tewas setelah disergap dan leher mereka ditusuk sekelompok kecil orang berbaju hitam. Orang-orang yang segera lenyap, secepat mereka datang. Dari aroma lukanya, mereka ditusuk belati bertuba. Controleur Johan lunglai saat dilapori kejadian itu.

“Dungunya itu Jeirst, bikin perkara begini berat.” Gumam Johan.

Pembangkangan ini kian berbahaya. Orang-orang marah itu tadinya adalah orang-orang patuh. Tak suka membantah, walau pajak sering naik tiba-tiba. Sejak Jeirst bikin ulah di muara, lalu menikam Kingian, seketika amarah mereka sukar diredam.

Siasat di luar bastion sudah matang saat pagi datang, usai malam yang cekam.

#6

Dua hari berikutnya, jarak antara para serdadu laut dan orang-orang yang marah di pesisir hanya 400 meter, di batas tiang-tiang merah. Setiap titik ego sudah ditempati. Di horison, tiga kapal dari Rumbia sedang laju ke dermaga. Datangnya tiga kapal itu akan bikin imbang kekuatan dua ribuan orang marah di luar bastion dan di pesisir. Jeirst dan 500 serdadu yang berjaga di bastion sangat yakin menang: mereka punya senapan dan meriam.

Siang belum penuh, namun bandar sudah panas.

Tiga kapal dari Rumbia sudah lego jangkar 400 meter di lepas pantai. Meriam-meriam kapal dan meriam-meriam di bastion sudah diarahkan, siap ditembakkan untuk bikin kocar kepungan di pesisir dan di luar bastion. Controleur Johan punya siasat pelarian sendiri: saat pelarian nanti, meriam-meriam kapal harus menembak, buat bikin kacau kerumunan orang-orang di luar bastion. Begitu juga saat mereka tiba di dermaga, maka meriam bastion harus menembak, biar lantak kumpulan orang di pesisir.

Jeirst buru-buru menurunkan 10 regu serdadu untuk menghadang orang-orang di luar bastion. Ia mengancungkan pedang sabre tinggi-tinggi. Aba-abanya membuat 10 regu serdadu bergerak. Orang-orang di luar bastion langsung bikin tiga lapis barisan, menyongsong pasukan Jeirst. Gelombang manusia berbenturan. Sabre beradu Taa’Owu, Golok Daun Liu, dan Dadao. Meriam dari kapal dan senapan meletus. Peluru mencari sasaran.

Rengui memutar Lambonga Asa’Sula hingga menyibak kerumunan orang yang sedang berkelahi. Matanya liar mencari Jeirst. Begitu Jeisrt terlihat, Rengui mengejarnya, melompat dan menetaknya dengan Taa’Owu. Sembari bertahan, sengit Jeirst menangkis serangan, tapi berkali-kali sodokan Lambonga Asa’Sula di tangan Rengui bikin Jeirst terdesak. Jeirst jatuh berlutut. Belum sempat lengannya naik menangkis, Taa’Owu dengan cepat berbalik arah.

Dendam kerabat Kingian, juga kematian Gamara —kakak Rengui— terbalas. Jeirst mati dengan leher terbuka. Ia dimakan Taa’Owu. Tapi, Controleur Johan berhasil lolos. Serangan 10 regu serdadu berhasil mengalihkan perhatian.

Johan dan keluarganya berhasil mencapai dermaga. Orang-orang marah memburu mereka. Tapi meriam-meriam di bastion menembak, meledakkan bola besi di pasir dan menghantam batang kelapa. Kepungan sejenak kocar-kacir. Johan buru-buru melompat ke perahu, menaikkan istrinya dan beberapa lainnya. Para serdadu buru-buru mendayung menuju kapal. Johan berhasil naik dan berdiri di anjungan. Tangannya terangkat, dan saat ia turunkan, delapan meriam kapal meletus bergiliran. Orang-orang di pesisir bergelimpangan.

Pertarungan kini pindah ke laut.

Puluhan perahu berisi lima orang merapun tiga kapal Belanda, berkelahi dan menewaskan para serdadu laut. Teriakan, erangan sakit, dan gaduh. Darah bercampur buih ombak. Dua orang berhasil memasang bambu mesiu, meledakkan api yang segera membakar hebat dan melubangi lambung dua kapal.

Tetapi, kapal Controleur Johan berhasil lolos, bersiap putar haluan ke arah Rumbia.

Hari ini banyak orang mati. Orang-orang marah tak bubar, tapi menyerbu bastion untuk merebutnya. Air laut merah, mayat-mayat mengambang, terantuk-antuk ke kayu kapal yang karam separuh. Pesisir ini bak kubangan mayat. Anyir darah dan bacin laut bercampur, serupa warna tembaga, serupa warna keju Gouda yang tersiram minyak. (*)

Molenvliet, Desember 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*Bastion: kubu pertahanan/benteng

*Ekstirpasi: penebangan tanaman milik rakyat, bertujuan mempertahankan harga rempah tak merosot saat hasil panen berlebihan

*Contingenten: istilah untuk hasil bumi yang wajib diserahkan sebagai pajak

*Verplichte Leverantien: penyerahan wajib, atau kewajiban menyerahkan hasil bumi dengan harga yang ditetapkan VOC

*Klerk: pegawai

*Oktroi: hak-hak istimewa

*Berckenrode: lengkapnya Frans van Berekenrode (1625-1635), seorang pengukur tanah yang juga ahli membuat peta grafis hitam-putih

*Moronenees Dorp: kampung Moronene

*Cornie: hiasan berupa profil mendatar di atas pintu

*Dakvenster: jendela pada atap

*Lambonga Asa’Sula: sejenis tombak bermata satu dengan pisau sisi ganda

*Zwaluwstaart: sambungan ekor burung

*Dadao: parang besar yang dapat memenggal kepala dalam satu tebasan

*Taa’Owu: golok bertepi tajam satu sisi, biasa digunakan untuk kavaleri dan infanteri pasukan Lampio’O

*Keju Gouda: keju bundar kuning dari susu sapi, namanya diambil dari kota Gouda di Belanda.

 

(Berita Kota Kendari, halaman Sastra dan Budaya, Sabtu, 12 April 2014)


[Arsip] e-Book Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Cover Arsip Cerpen Tempo 2014

Download: klik link di bawah ini

E-BOOK_KUMPULAN CERPEN KORAN TEMPO MINGGU 2014

tujuan pengarsipan dan dokumentasi 49 cerita pendek ini adalah murni sebagai media pembelajaran bagi siapa saja, dan tidak untuk tujuan komersial. penggunaan segala bentuk material untuk melengkapi dokumentasi ini, dilakukan sesuai cara-cara yang lazim dan standar referensial, menyebutkan sumber, tidak mengubah fisik atau karateristik material, dan penambahan dalam skala yang dapat ditoleransi. semua material di dalamnya dengan jelas menyebut nama penulis (pemilik hak cipta) dan nama media dimana karya yang bersangkutan dipublis pertama kali. dilarang mencetak, memperbanyak, dan memperjual-belikan dokumen ini tanpa seizin pemilik hak cipta dan media yang mempublikasi subyek karya pertama kali.


[Puisi] Gurauan Episode Mati

(dua belas kesaksianku)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

Keranda paksi mulai bergerak.

ada yang berwajah murung di awan.

I.

Lima bocah menengadahkan wajah ke ufuk, seperti sepi, tegak mereka menyatakan sebuah keterpaksaan. Nasib ini adalah lapik lapik kain, dan kerenteng kaleng. Olah jiwa itu, mengembara dalam putaran waktu yang bicara patah patah.

Jiwa keadilan mengeluarkan telunjuk dalam genangan darah hitam di ladang ladang. Sepinya Wijaya, sesepi Timor saat dentang lonceng dan raungan sirine jam malam. Bersuara berarti menghentikan napas.

II.

Ada sebuah tugu mati di ujung barat jadi saksi perjalanan yang gaib. Jemari ibu yang membuat tenang menjamahi, namun kami harus bertegur sapa dengan cemoohan dan ketuk ketuk palu di ruang sidang. Dinding dingin, lantai lembab, dan kekokohan jeruji sebagai penguji iman dalam ketakutan terperi di ruang siksa. Ribuan manusia harus bisu, harus teraniaya, harus mengalah, harus merunduk wajah, dan membuang muka dari genderang perang yang tidak ditabuh.

Catatan asasi ini menumpuk. Hak mereka di…Rancamaya, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Karang Serang, Citayeum, Cijayanti, Cimacan, Badega, Kaca Piring, Waduk Nipah, Haur Koneng, Hukaea-Laea, dan Irian Jaya. Seperti kesaksian mati yang tidak dapat disebutkan.

Seperti gurauan mati di episode ini.

III.

Bara ini, saat pagi membuta seakan ditiup dari corong bambu. Sidoarjo, Mei, seribu Sembilan ratus Sembilan puluh tiga.

Menjadi kesaksian yang mengambang di atas tubuh menyedihkan seorang wanita muda di hutan Wilangun, Nganjuk. Dari tubuhnya menyebar bau aroma luka empat hari. Aroma penderitaan dan ketidakberdayaan anak manusia yang menuntut haknya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh perempuan MARSINAH.

IV.

Kesaksian kedua:

Akhir 1996, diangkasa ribuan malaikat menaungi pertiwi.

Mereka menangis mencoba meredakan panas dengan air matanya. Akhir 1996, seonggok tubuh bisu, dijilati anjing, menghadap angkasa dengan jantan. Keteguhannya, bagai karang bukit pare. Namun, kematiannya itu dicatat sebagai dosa jamannya. Dia nadir dengan setumpuk kebenaran di hati dan jiwanya.

Ambangan kesaksian ini, di atas tubuh lelaki MUHAMMAD FUAD SYAFRUDDIN.

V.

Kesaksian berikutnya:

Azan menyeru di cungkup masjid. Karna, sore tadi, puluhan anak ibu terbaring dengan

paksa.

Di tubuh tubuh basah itu, tertulis kebiadaban militer. Karena, sore tadi saat kesejahteraan pesantren dan keabadian kalimat kalimat Allah di injak injak dan menjadi derai tangis.

Ambangan kesaksian ini, di atas pondok pesantren HAUR KONENG.

VI.

Kesaksian ini terpenggal sementara, di sini.

Ya, Rabb…orang orang ini ditelanjangi keadilan kotor, lalu dicampakkan bagai fitnah tiada ampun.

“Akhirnya, sanggup juga ku buang topeng kerendahan hati dan kebajikan. Sekarang kalian lihat istana merdeka yang asli.”

Kesaksian-kesaksian terpuruk di laci laci Istana Merdeka. Ribuan orang dihitung dengan pelor dan deraan sangkur.

***

Jerit lapar menjatuhkan hati, memilukan sebagai nasib yang runtuh dari tatakannya. Sepohon cendana rindang mengatapi anak anak bangsa, memilin perutnya kosong. Bongkol pisang jadi mahal, biji beras jadi jarang jarang, dan rupiah terserak di antara kaki kaki.

Bangsa ini di azab, atas dosa dipermulaan. Kelaparan melubangi telinga, meletuskan kepala, karena keranda putih merah tidak pernah berkurang.

Perjalanan ini makin pahit, bangsaku. Langit semakin kelam. Kami sadar, untuk kemudian terjaga, dari jerit perih lapar di malam buta. Dari onggokan gubuk gardus di rel kereta, dari ranjang ranjang keras di emperan toko, dari denting denting piring kaleng kosong di barak barak pengungsi.

Mereka hilang pegangan, kami gaib kata kata, dan bunga bunga kemboja bermekaran

memanggil manggil. Inilah wajah pertiwi yang tidak bermuka. Asing, dan…asing.

“Jangan bercanda dengan nasib di episode ini.” Tegur seorang penarik becak.

“Tampaknya, hanya pertobatan model Ninive yang bisa menyelamatkan bangsa ini, dan

yang masih belum bisa dimutlakkan sebagai sodom dan gemorrah. Karena, masih banyak mahasiswa yang berani bicara lantang dan keras.” Ujar seorang penjaga kubur.

VII.

Jalinan episode dari kesaksian empat:

Jakarta, pukul dua puluh tiga, lebih sedikit. Tembok Trisakti tegak kokoh, diam. Malam beranjak membawa kebisuan yang lain. Malam itu, yang bernasib besok, kumpul dalam keseriusan dan gurau.

Deretan batang lontar menyambut dari pintu masuk. Maya, kemboja merah bermekaran

di halaman Trisakti. Mahasiswa mahasiswa berkumpul satu dalam ruangan, sebagian lelap di atas meja. Yang terjaga, kumpul dalam keseriusan dan diskusi yang hangat. Kepelikan baur satu dalam otak dan ocehan. Malam ini, menjelang esok yang berdarah.

Menjelang dini hari pukul kosong empat, kurang sedikit. Empat mahasiswa ini masih terjaga. Melamun tentang gerakan esok yang permulaan. Hanya langkah besar tidak pernah terbayang. Detik-detik awal, dua belas Mei, berempat anak muda itu belum juga melelapkan mata.

Jakarta menunggu pukul empat sore. Langit membasahi bumi, awan memanahi kumpulan mahasiswa hingga kuyup. Gelombang mahasiswa maju dengan panji panji dan yel yel perjuangan.

Dari Veteran, ratusan prajurit menunggu dengan senjata kokang siap tembak.

Saya terus mencatat…

Gedung gedung bisu memberi langkah pada gelombang ini.

Mereka kuyup, namun terbakar. Mereka tidak pernah sepi dengan teriakan perubahan yang membahana. Kerongkongan kering, baju basah, dan tetesan air mengalir menetes dari ujung ujung rambut. Mahasiswi berbaur pula. Air mata pun menyatu dalam yel yel yang perih.

Di ujung Daan Mogot, mahasiswa disambut berondong senjata. Terdepan roboh mencium bumi. Barisan kedua berbaring melindungi. “Jangan tembak kami! Jangan tembak kami! Mohon jangan tembak kami!” Terdengar teriakan dari sudut utara barisan mahasiswa.

Tembakan terus menyahuti teriakan itu, tidak peduli. “Ada yang kena, ada yang kena… Di depan ada yang kena…” teriak panik mahasiswa barisan kedua.

“Mundur, mundur sepuluh langkah ke front! Hindari konfrontasi…! Mundur…!” terdengar komando dari depan.

Tembakan terus berbunyi. Pelor pelor menyambar kepala.

“Dua orang kawan kena lagi! Hentikan tembakan! Kami bukan binatang. Jangan tembak lagi!” terdengar dari pengeras suara.

Emosi baur dalam tangis, mahasiswa pecah ke tempat perlindungan. Seorang mahasiswi berlutut dalam tangis, “Kawan kami kena, jangan tembak lagi. Kawan kami kena!”

Lalu, bangkit berlari, memeluk tubuh yang basah oleh darah dalam jas almamater. Mahasiswi ini meraung. “Kalian telah membunuhnya. Kalian telah tembak dia. Kami tidak membawa apa apa. Mengapa tembak kami!”

Saat itu, malaikat turun dengan kain kain putih. Sangat hikmat di angkasa, sampai mereka pun menangis. Menutupi tubuh yang bisu di atas aspal yang berdarah campur air hujan.

Sunyi kembali, prajurit berhenti duaratus meter di depan. Senjata masih terarah. Menunggu.

Mahasiswa kumpul kembali. Terdengar tangis takut dari para mahasiswi, dan tangis kemarahan dari yang lain. Yel yel perjuangan berubah jadi derai tangis. Kepedihan menyumbat dada. Doa doa seketika terlontar.

—dari mana mereka berasal, ke sana pula mereka kembali—

Sepasang mahasiswa dari kumpulan itu lalu bangkit, dengan mawar merah di tangan mereka maju ke barisan prajurit. Pipi mereka basah, mata mereka lumer, sementara senyum sudah pergi.

Satu per satu kembang itu, mereka sematkan ke moncong senjata, ke saku prajurit berwajah kaku. Mereka melakukannya dalam diam, hanya suasana yang bicara: “Terimalah bunga ini dari kami, karena sore ini kalian telah membunuh empat kawan kami.”

VIII.

Hari ini, sore ini, latihan revolusioner usai.

Gerakan perubahan itu pulang dengan empat keranda besar. Mereka berjalan dengan wajah tunduk pilu, wajah wajah menghujam bumi, mencoba menahan jatuhnya duka yang amat dalam.

Di jalan pasar buah, rombongan itu lewat. Seorang penjual buah, menggandeng seorang mahasiswa, mereka berjalan pelan, beriring : “Siapa mereka yang diusung itu?”

“Teman teman mahasiswa yang gugur hari ini.”

“Mengapa mereka gugur?”

“Ditembak, pak. Oleh prajurit.”

“Siapa kawan kawan itu?”

“Mahasiswa juga, pak.”

“Maafkan saya. Saya tidak dapat bantu apa apa. Ini seikat rambutan jika kalian lapar.”

Setelah itu, rombongan terus berjalan pulang, kembali ke halaman Trisakti. Kembali ke front.

—seterusnya, perjuangan hari ini belum berakhir—

(hari ini saya telah mencatat)

IX.

Kemarin adalah perjuangan.

Hari ini pun, demikian adanya.

Terkemudian sekali, datang kabar tentang kawan kawan mahasiswa yang ikut kemarin. Delapan orang aktifis hilang. Mereka berdelapan tidak pulang ke kampus dan rumah masing masing. Lalu, merebak emosi yang berbeda.

Secara terang terangan berdelapan mahasiswa ini diculik militer, lalu dibawa ke penyiksaan yang sadis. “Kami dikurung dalam ruang satu kali satu berempat empat. Setiap sejam, kami disiram air seni dari atas. Lalu, selang dua jam kami disuruh mandi dengan air dingin. Setelah itu kami ditanyai segala hal di bawah ancaman senjata dan sengatan listrik. Sakit, sungguh sakit.”

“Setelah lima hari, kami dipisahkan satu satu. Entah dibawa kemana tujuh orang kawan lainnya. Yang tahu, hanya Tuhan, para penculik dan mereka sendiri. Aku dibebaskan setelah mengalami penyiksaan yang perih, menyakitkan yang tidak pernah dialami

oleh hewan sekali pun. Dengan mata tertutup, hak kami diinjak injak.”

Ambangan kesaksian ini di atas hak lelaki DESMOND.

X.

Jakarta, 18 Mei.

Ada kesaksian lain di sejarah pertiwi, kini.

Mahasiswa dengan panji masing masing bersatu di kaki dewan. Rumah mereka, rumah rakyat, mereka penuhi dengan yel yel dan semangat yang berkobar kobar. Gedung rakyat itu terdengar suara yel yel, ada suara dari bait bait puisi, ada cemoohan atas kondisi ekonomi bangsa, ada suara dari mimbar bebas, ada jerit-jerit lain…menuntut perubahan.

Dewan tidak bicara. Kini giliran mereka yang harus mendengar, apa yang akan dikatakan rakyat pada mereka. Ribuan mahasiswa memenuhi halaman rumah rakyat dengan satu tujuan membinasakan kekotoran di negeri ini yang mendarah daging dari permulaan.

—di aras langit, semangat empat kawan mahasiswa yang mati kemarin menyeruak di antara mereka. Mereka mengiringi prosesi pendudukan itu dengan senyum mereka—

XI.

Pertiwi, dua puluh Mei seribu sembilan ratus sebilan puluh delapan.

Nusantara memuntahkan semangat. Mahasiswa Indonesia yang tidak pernah lekang dalam sejarah bangsa lebih dari tiga dasawarsa.

Hari ini, teriakan lantang membahana. Memenuhi horison, mahasiswa bergerak di pelosok pelosok. Tidak pernah terbayang kekuatan ini akan sangat besar, bahkan lebih besar dari perubahan tiga puluh dua tahun lampau. Gelombang gerakan mahasiswa Indonesia ini seketika bagai mimpi buruk bagi penguasa zalim.

—hari itu, Tuhan memang berada di atas Indonesia—

XII.

Kesaksian penghabisan untuk episode ini.

Dua puluh satu Mei, terdengar : Gempita gema dari rumah rakyat, mahasiswa bersorak menang, mencebur riang dalam kolam kebebasan setelah di gerus kelaliman. Ini sebuah kemenangan yang permulaan.

Di dalam rumah rakyat, saat rejim menyatakan mundur, derai tangis puluhan mahasiswa menghias pilar pilar putih di situ. Perjuangan permulaan yang tidak sia sia. Atas darah darah mahasiswa yang telah dihitung. Atas perjuangan asasi yang masih akan berlanjut.

Karena permulaan, maka perjuangan ini masih akan berlanjut.

Sukacita rakyat. Dukacita mahasiswa. Alam baru yang menyeruakkan keharuman nyaring. Episode ini bukan penghabisan. Episode selanjutnya masih akan saya tulis.

“Kawan kawan mahasiswa, perjuangan belum selesai, belum usai. Tolonglah kami, teruskan semangat ini, agar kami dapat beristirahat dengan damai.”

—suara suara itu berkumandang dari aras langit—

Tidurlah kawan, kerandamu telah diantar, namun kami masih setengah jalan.

 

Kesaksianku. Jakarta, Mei 1998

Tiga puluh dua tahun setelah 1966

Kerusuhan Mei 1998 (sumber foto: flickr)


%d blogger menyukai ini: