Tag Archives: makam

[Cerpen] Pesta Kunang-Kunang | Jawa Pos | Minggu, 27 April 2014

Pesta Kunang-Kunang

Oleh: Ilham Q. Moehiddin

Ilust_Pesta Kunang-Kunang_Jawa Pos

1/

TIDAK ada makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.

Pemakaman pohon adalah solusi efektif agar lahan kampung tak habis untuk makam. Pemakaman yang tak merepotkan dan efisien. Pohon Dedalu tetap hidup dan tumbuh gergasi, sebagai rumah terakhir bagi orang-orang mati.

2/

Intina mencemaskan sikap beberapa lelaki yang tak hirau pada hal-hal istimewa yang ia simpan tentang Mori. Para lelaki menyukai Intina. Menyukai rambut hitam berombaknya, alis tebal di wajahnya yang oval, atau tubuhnya yang padat. Intina dinikahi Mori 12 tahun silam, dan ia masih istri Mori sampai kelak lelaki yang ia cintai itu pulang.

“Berhentilah menunggu Mori,” seorang di antara mereka coba meyakinkan Intina. Tetapi ia menjawab mereka dengan bantingan pintu. Cara yang perlu ia lakukan untuk menghancurkan harapan setiap lelaki di kampung ini.

Intina mungkin bebal karena masih memelihara rindu. Mori pergi saat Waipode berusia delapan bulan. Di subuh terakhir ia menatap suaminya, adalah subuh saat Mori mengecup kening putrinya, lalu Mori menutup pintu rumah dari luar. Intina menanti di setiap subuh berikutnya, berharap Mori menguak pintu dan tersenyum pada mereka berdua. Waipode kecil yang tak pernah membaui tubuh ayahnya itu kini beranjak remaja.

Waipode tak menanyakan ayahnya. Tentu sukar merindukan sesuatu yang tak pernah ia temui. Bagi Waipode, Mori adalah masalah ibunya dan itu bukan urusannya. Mori bukan orang yang ia lihat pertama kali saat matanya mulai terbuka.

3/

Suatu malam, sebelum usianya genap 13 tahun, Waipode mendadak demam. Empat hari berikutnya, demamnya meninggi dan tak ada dukun Lere’Ea yang bisa meredakannya. Mereka menyerah begitu saja, serupa dukun pemula yang baru belajar mengaduk ramuan obat. Di hari ke enam, Waipode sempat membuka mata, sebelum kejang dan diam.

Sakit misterius dan kematian yang mendadak itu mengejutkan setiap orang di Lere’Ea. Intina membersihkan tubuh putrinya dan membungkusnya dengan kain bersih. Seperti adab di sini, maka jasad Waipode akan masuk ke rongga Dedalu raksasa.

Dari kursi kayu di beranda rumahnya, Intina tak beranjak hingga malam datang. Ia tatapi rongga yang telah dipenuhi kunang-kunang itu. Ia pingsan karena lelah dan tersadar di pembaringan pada malam ketiga, saat orang-orang kampung gaduh.

Pesta Kunang-kunang di rongga Dedalu itu, memendarkan cahaya keperakan seiring munculnya dua tangan yang menggapai-gapai. Orang-orang ngeri saat dua tangan itu mencengkeram rerumputan, merangkak, seperti berusaha menyeret tubuhnya keluar dari rongga. Tubuh polos berlumur tanah seorang gadis yang dirubung kunang-kunang. Orang-orang kian gaduh. Baru kali ini mereka melihat bangkitnya orang mati dari dalam rongga Dedalu.

Berdiri kebingungan, gadis itu bertanya. “Mana ibuku? Mana Intina, ibuku?”

Ya. Gadis itu menyebut nama dan mengakui Intina sebagai ibunya.

“Aku Waipode, putrinya.”

Orang-orang tercekat. Gadis itu mengaku sebagai Waipode putri Intina yang mati tiga hari lalu. Intina melepas sarungnya dan gegas menghampiri —siapapun ia— seraya ia selubungi tubuh polos yang mulai jadi perhatian mata tiap lelaki dalam kerumunan itu.

Semua lelaki, kecuali Kalai. Si pembuat boneka di ujung kampung Lere’Ea itu mendadak sakit dan tertidur akibat pengaruh obat. Ia tak tahu kegaduhan yang baru saja terjadi di sini.

4/

Di Lere’Ea tak ada yang bisa membuat boneka kayu sebaik Kalai. Ia curahkan segenap perasaannya saat membuat boneka-bonekanya. Memahat boneka-boneka perempuan setinggi satu meter yang seolah hidup. Hanya boneka perempuan. Di akhir pekan, kereta tuanya berderit-derit menapaki jalan kampung berbatu menuju kota, ke toko tempat ia biasa menitipkan boneka untuk dijual.

Selalu saja ada boneka yang tak laku. Beberapa model tertentu entah kenapa tak mau dibeli orang. Mungkin mereka tak suka pada bentuknya. Boneka-boneka yang tak laku itu ia bawa pulang dan dijejerkan di sebuah rak khusus di ruang tengah rumahnya, sebagai penanda untuk tak lagi membuat model seperti itu. Bahan baku boneka kian sukar ia dapatkan. Pohon Dedalu di tengah kampung sukar dipanjati untuk sebatang dahan yang lurus.

Ya. Dahan Dedalu adalah rahasia keunggulan boneka pahatan Kalai. Kayu Dedalu dipanasi lebih dulu sebelum ia pahat menjadi kepala, tubuh, tangan dan kaki bagi boneka-bonekanya. Tekstur kayu yang lunak membuat pisau Kalai lincah menari-nari di sekujur kayu.

Dedalu seperti tumbuh untuk Kalai. Aroma kematian yang dihisap Dedalu dari jejasad di rongganya, telah menyuburkan dan menumbuhkan dedahan baru.

Tetapi Kalai tak membuat boneka pada hari seorang gadis keluar dari rongga Dedalu. Ia juga tak ada di antara banyak lelaki yang merasa beruntung karena memergoki tubuh gadis itu. Sakit membuat Kalai harus menemui dukun Lere’Ea untuk membeli ramuan obat. Efek ramuan itu membuatnya lelah dan merasa mengantuk. Ia tidur seharian dan tak tahu sesuatu telah terjadi di kampung itu selepas petang.

Para dukun di Lere’Ea membenarkan, bahwa gadis dewasa yang keluar dari rongga Dedalu itu adalah Waipode, putri Intina. Hal aneh yang sukar mereka jelaskan. Dedalu itu telah menghidupkan Waipode pada tiga hari setelah kematiannya. Waipode keluar dalam rupa gadis dewasa, 10 tahun lebih tua dari umur gadis remaja yang dimasukkan Intina ke rongga pohon itu.

Intina tak mau mempersoalkannya. Gadis itu hidup kembali dalam bentuk apapun, jika ia memang Waipode, maka Intina akan mengakuinya. Akan terasa aneh, mereka menjalani hidup seperti semula. Seperti sebelum kematian mendatangi putrinya lalu mengembalikannya.

5/

Bagi Waipode, dari si pemahat boneka itu. Waipode menyukai boneka-boneka buatan Kalai. Boneka dan pemuda tampan, adalah dua hal yang selalu bisa menciptakan cerita bagi seorang gadis dewasa. “Aku suka bonekamu,” ujar Waipode.

Kalai tersenyum. “Kudengar, kau membuat gaduh seisi kampung. Apa yang terjadi di sebrang sana? Sehingga para dewa mengizinkanmu pulang?” Kalai bercanda.

Waipode tertawa. “Di sebrang sana lebih tenang. Tak ada orang berkelahi karena tanah. Tak ada kejadian seperti yang dialami keluarga Adenar yang dilarang sembahyang dan terusir dari Laibatara (rumah ibadat). Dunia orang mati lebih toleran daripada dunia orang-orang hidup.”

Kalai tertegun mendengar kata-kata Waipode.

“Ini buatmu,” Kalai menawari Waipode sebuah boneka yang baru selesai ia buat. Waipode mengangguk gembira. Kendati boneka itu belum diwarnai.

Itu hanya perbincangan kecil. Tetapi Waipode selalu ada saat pemuda itu bekerja. Keintiman mereka membuat pemuda lainnya cemburu. Waipode telah memilih, dan pemuda beruntung itu adalah Kalai.

6/

Kalai menyadari bahwa hal aneh kerap terjadi di rumahnya saat larut malam. Bengkel kerjanya yang berantakan saat ia tinggalkan, selalu rapi esok paginya. Perkakas tersusun di tempat semula. Sampah rautan kayu hilang tak berbekas. Seluruh penjuru rumah bersih. Seperti ada tangan misterius yang telah membantu membereskan kekacauan itu.

Saat Kalai pulas, para boneka buatannya bergerak. Ya. Boneka-boneka kayu itu hidup dan turun dari rak pajang di tengah rumah. Mereka jelajahi tiap ruangan, bertingkah layaknya gadis muda yang sibuk merapikan rumah. Mereka kembalikan semua benda ke tempatnya, menanak bubur dan memanaskan kopi buat Kalai sebelum mereka kembali ke tempat semula sebelum fajar menyingsing.

Tetapi, boneka-boneka itu mulai kerap membicarakan Waipode. Kehadiran gadis itu jadi masalah yang serius bagi mereka.

Dedalu raksasa di tengah kampung menyimpan keganjilan sejak pohon itu mulai dijadikan makam. Pohon itu tak saja menyerap aroma kematian, tetapi juga menyimpan arwah para gadis dewasa yang mati dalam pembuluh getahnya. Arwah-arwah itu berdiam di sana dan menunggu untuk tubuh baru. Mereka tak sengaja hidup oleh cinta yang dicurahkan Kalai saat ia memahat boneka-bonekanya.

Mereka benci mendapati pemuda itu kerap mengagumi Waipode. Hanya butuh sedikit alasan untuk sebuah rencana kematian.

7/

Bukan kebetulan saat sebuah benturan kecil membuat roda kereta Kalai lepas dan menggulingkan kereta tua itu bersama penumpangnya. Waipode sudah mati saat Kalai mengeluarkan tubuhnya dari himpitan kereta.

Perasaan Intina kembali hancur atas kematian Waipode untuk kedua kalinya itu. Ia menunggu keajaiban yang tak datang di hari ketiga setelah jasad Waipode ia masukkan ke rongga Dedalu. Putrinya tak hidup lagi. Tak ada cahaya keperakan, kecuali kerumunan kunang-kunang yang tetap berpesta.

Tetapi, Kalai punya cara mengatasi dukanya. Pada hari ketiga, di saat Intina berharap Waipode keluar dari rongga Dedalu, Kalai telah menyelesaikan sebuah boneka kayu.

Boneka yang sangat menyerupai Waipode. Boneka yang membuat Kalai tergila-gila. Boneka yang hidup di pengujung malam dan diam kembali sebelum fajar datang. Boneka yang kerap memestakan gairah Kunang-kunang, meminta Kalai memasukkan sepuluh boneka lainnya ke api tungku, dan membuat pemuda itu bersumpah tak lagi memahat boneka. (*)

Ubud, Oktober 2013

Twitter: @IlhamQM

 

Catatan:

*) cerpen ini meminjam tradisi penguburan bayi pada liang pohon di Tana Toraja dan tradisi penguburan pohon di Trunyan, Bali.


Rubaiyat [XXXIV] : Langit-langit Tarsah

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

pada sore yang terlambat

rindunya merambat

tak ada kain yang membebat

luka di hati yang mengulat

 

pada rindunya yang berat

dia berganti jahat

ditubuhnya yang liat

amarahnya menggeliat

 

wahai, yang menguasai hati

landaskan vela mengurai pati

biarkan panahmu menderai

agar tubuhnya berai

 

wahai, yang menguasai mirzah

apakah harapan bisa memenuhi tarsah

pada kejenakaan yang basah

mereka mengundi barzah

 

wahai, yang mengumpati makam

akankah puas hatimu memeram

pada lipatan kain serupa ihram

kau sembunyikan geram

 

wahai, yang meredam rindu

mampukah kau ungkap sendu

pada lantunan makrifat syahdu

saat malaikat menanak madu

 

wahai, yang menenggelamkan harkat

bisakah engkau lebih dekat

pada gurat nasib yang berkarat

dia umpan hidupnya pada isyarat

 

ohoi…engkau yang begitu lunak

inikah temali yang membuhul benak

saat dosa beranak pinak

dia tergesa bak ternak

 

ohoi…pada penguasa senyap

bilakah ada musim tanpa rayap

yang berbunyi bak kepak sayap

datang menemuimu saat merayap

 

***

Januari, 2011

Ufuk (sumber foto: baltyra.com)

Rubaiyat ini juga dapat disimak di Oase-Kompas Cyber Media


Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

Mba Umi Widarti yang aku hormati…

Aku sedang men-defrag notebook saat aku jumpai file catatan surat suratmu untuk Bapak Boediono, ayahandamu. Aku ingat surat surat ini engkau tulis pada Ramadhan 2010 lalu pada status terpisah di akun facebookmu.

Aku sangat terharu membacanya ketika itu dan memutuskan meng-copas-nya lalu menyimpannya baik baik di dokumenku. Lalu, aku membacanya kembali semalam, dan memutuskan untuk membuatnya menjadi tulisan utuh.

Aku tak mengeditnya, mbak. Tentu tidak, sebab ini karyamu. Aku hanya memperbaikinya; mengurangi huruf yang berlebih; menambahi huruf yang kurang; membetulkan spasi yang berlebih. Selebihnya adalah karya (surat surat rindu utuh) mba Umi pada ayahanda.

Salam

[]

Sepuluh Surat Rindu Umi Widarti Buat Bapak

(Buat Ayahanda, Bapak Boediono “Loentjoeng“) 

Oleh Umi Widarti

I.

Bapak…hari Kamis, 5 Agustus lalu aku berangkat ke Solo. Kali ini keberangkatanku ke kota gerilya semasa Bapak muda dulu untuk mewakili kehadiran Bapak di Detasemen II- Brigade XVII Tentara Pelajar Solo. Itu loh, Pak…Monumen Pak’de Mad—Komandan Bapak—akhirnya diresmikan di daerah Banjarsari. Kawan-kawan Bapak yang masih hidup tinggallah sedikit. Aku berangkat bersama sebagian putra putri kawan Bapak. Panglima TNI-RI yang meresmikan loh, Pak. Dan kawan-kawan Bapak terharu karena cita-cita mereka terwujud pada hari itu, Sabtu 7 Agustus 2010.

II.

Bapak…setelah usai Panglima TNI meresmikan Monumen Pak’de Mad, para wartawan mengelilingi Panglima TNI untuk mengabadikan momen itu. Aku duduk hanya dua meter dari penandatanganan prasasti. Tiba-tiba pandanganku terarah pada seorang tua berpakaian seragam coklat, beremblem DetSie II, dan bertopi baret biru. Seragamnya sama persis dengan yang dimiliki Bapak. Bapak renta itu nampak semangat mendekati kerumunan wartawan yang tak memberikan kesempatan beliau untuk memotret momen itu dengan camera saku yang nampak digiwing-giwing sejak tadi. Aku sangat antusias memperhatikan bapak renta itu. Aku zoom camera BB ini yang seadanya…kearahnya. Mencuri shoot tubuhnya dari samping. Dekat dengan aku duduk. Aku ikuti terus kemana bapak itu pergi. Perasaanku jadi rindu padamu, Bapak. Selama acara berlangsung, kangenku semakin bertambah pada Bapak. Kangen ketika memperhatikan hidung bapak itu yang mirip hidungmu, Bapak. Dan gayanya yang semangat.

III.

Iya, Pak…beliau dengan tubuhnya yang sudah agak membongkok itu berjalan kesana kemari dengan semangat. Aku mengikutinya terus sambil melempar senyum ke kawan-kawan Bapak lainnya. Juga ke para ibu yang menjadi kawan ibu kita semasa hidupnya mendampingi Bapak dulu. Aku hafal dengan wajah-wajah kawan Bapak yang tertinggal…sedikit di sini. Oh ya, Pak…aku meminta bapak itu dan dua bapak-bapak lain sebagai model di bawah Monumen Pak ‘de Mad. Aku menjajarkan para sepuh itu untuk menjadi kenanganku. Kan Bapak yang handsome sudah tak ada. Jadi mereka sajalah yang kujadikan hiasan di potret itu. Wah…mereka semangat dan senyum sumringah menyembul diantara keriput wajah mereka. Selesai memotret, aku—untuk menjaga unggah-ungguhso pasti memperkenalkan diri dong. Sambil memegang bahu bapak tua itu, yang hidungnya mirip Bapak, aku bilang, “Apa kabar Bapak…saya putri dari Bapak Boediono.” Aku sapa beliau sambil senyum.

IV.

MasyaAllah, Bapak…bapak itu menampakkan keterkejutannya mendengar nama Boediono disebut olehku. Matanya yang berhias kacamata tebal itu, nampak terbelalak dan tangannya langsung meraih pundakku—hampir merangkul. Beliau bilang, “Nak putri dari Boediono “Loentjoeng” sing dhuwursing tinggal di Leuser?” Sambil geleng-geleng kepala. Aku senang masih dikenali—paling tidak beliau masih ingat denganmu, Bapak. Beliau bertanya kepadaku bagaimana kabar Bapak. Sambil tetap senyum aku bilang kalau Bapak sudah berpulang lima tahun silam. Bapak itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata, “Kok saya tak dapat kabar apapun?” Aku sedih juga jadinya. Namanya juga kawan seperjuangan. Jadi kalau ada yang sesuatu hal yang menimpa kawan seiring…ekspresi sedih mereka pasti keluar. Bapak…tak lama, sambil tetap meletakkan tanggan beliau ke pundakku, dia bilang, “Nak, saya Soeprapto “Pego”, pimpinan regu Bapakmu ketika Peristiwa Serangan 4 Hari”. Aku terpana mendengarnya, karena ingat cerita Bapak…dimana lima orang kawan Bapak gugur pada serangan itu.

V.

Bapak…aku masih ingat, ketika Bapak pernah bercerita tentang pimpinan regu Bapak bernama “Pego”. Aku dipeluk erat beliau, Pak Pego itu. Aku minta berfoto bersama beliau—saling saling melingkarkan tangan, lalu berfoto pula bersama empat kawan Bapak lainnya. Kami saling bertukar kartu nama. Dari Banjarsari…semua rombongan ke makam Tjurug—Taman Makam Pahlawan, dan lanjut ke Wonosido, tempat Pak ‘de Mad mendeklarasikan Serangan Umum di awal Agustus itu. Pak Pego ikut juga dalam bus yang aku tumpangi—tidak bergabung dengan kawan-kawannya di bus satunya. Di dalam bus, Pak Pego menjelaskan…kalau jarak 15 kilometer dari pusat kota Surakarta adalah wilayah gerilya Tentara Pelajar Solo. Dengan semangat beliau bercerita. Aku memperlihatkan pada beliau fotomu, Bapak…yang selalu aku simpan di handphoneku. “Oh, ya…itulah Bapakmu,” katanya. Aku perlihatkan juga foto makam Bapak di Kalibata, waktu aku menghadiri pemakaman Om Tri Mul. Pak Pego terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri, “Kapan saya menyusul kalian…” Aku tertegun… Mengharu biru aku menemaninya duduk berdua di dalam bus. Mas-mas dan mbak-mbak lainnya mungkin bingung, tapi tak bertanya. Tak mengapa.

VI.

Bagiku, Pak…ini suatu momen indah dan tak terduga. Seperti diatur begitu saja. Diawali dengan memotret sembunyi-sembunyi dari belakang ke arah bapak itu. Usilku ini mirip Bapak, kan?

Sampai di Makam Tjurug…usai penyerahan simbol tabur bunga oleh Kapten Soehendro, salah seorang kawan Bapak juga—yang kini aktif menulis di majalah SMT Manahan—kami ikut menabur bunga. Aku mendampingi Pak Pego yang mengajakku ke lokasi lima makam anak buahnya yang gugur pada serangan itu. Aku tiba-tiba teringat ceritamu, Bapak; ketika mencuci kain penutup kepala kawan Bapak yang gugur. Di kain itu, Bapak memisahkan darah dan serpihan otak dari kepala kawan Bapak yang hancur. Lalu, menyerahkan ikat itu kepada keluarganya setelah serangan selesai.

Iya, Bapak…aku mengikuti Pak Pego yang mencari-cari kelima makam anak buahnya itu. Ternyata Pak Pego lupa letaknya. “Ini kali kedua di tahun kedua saya lupa, mencari makam mereka, nak”, keluh Pak Pego. Terus beliau bilang, “Maaf ya, nak…saya tak dapat menemukan mereka kembali. Tapi saya masih menyimpan foto makam-makam mereka ketika kami kesini tahun 1987. Bapakmu juga kesini, bersama Om Tri Mul, Purwoto  dan Pratik”.

VII.

Bapak…Aku bilang ke Pak Pego, kalau Om Tri Mul tiga tahun lalu pernah mengundangku makan siang dan sama-sama mengunjungi makam Om Pratik, Purwoto dan makammu, Bapak. Dan ternyata, hari ini, aku masih bisa bertemu Pak Pego, pimpinan regu kalian. Sampai di Wonosido aku terkenang dengan lokasi yang pernah kau ceritakan, Bapak. Aku buka notesku dan menuliskan garis-garis besarnya. Aku agak malu ketika menulis, sebab tiba-tiba ketua panitia yang juga keponakan Pak ‘de Mad memergokiku. “Menulis diary, Umi…hahaha.” Selanya.

Lapar dan excited menderaku, jadi, ya…aku nulis saja di tengah-tengah pidato bapak Wakil Bupati. Pak Pego sudah diarahkan untuk bergabung dengan rekan-rekannya. Aku mojok di pilar paling luar. Menulis dan memperhatikan suasana. Kebelet pipis lagi, repot deh.

Selesai acara, kami kembali ke bus masing-masing untuk kembali ke monumen. Karena Taruna Patria—organisasi Putra Putri Tentara Pelajar—hendak mendokumentasikan dan berphoto bersama di monumen itu. Jadi Pak Pego tak duduk dalam bus bersamaku lagi. Malam itu, beliau mengira aku masih akan kembali ke monumen untuk menyaksikan perhelatan wayang kulit.

VIII.

Aku salah, Bapak… Aku tak hadir di acara wayang itu. Padahal Pak Pego hendak memperkenalkan aku kepada seorang anaknya serta satu cucunya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku harus bersama Taruna Patria pada acara terpisah. Tapi ketika rombongan disempatkan tilik ke perhelatan pewayangan…aku pun minta ijin ikut turun sebentar. Seharusnya yang bisa turun ke lokasi itu hanyalah ketua Tentara Pelajar dan panitia. Aku merasa bersalah terhadap Pak Pego. Ternyata beliau sudah tak ada. Yang aku temui hanya beberapa pasang Tentara Pelajar dan ibu-ibu Putri Ganesha. Aku clingak clinguk mencari beliau…tak ada. Aku lalu kembali ke bus dan melanjutkan acara Taruna Patria. Setelah usai kami semua kembali ke hotel.

Esoknya, jam 8 pagi dikamarku, aku mendapat morning-call, “Room 204, Ibu Umi? Ada tamu bernama Pak Pego”. Duuh, Bapak…Aku kan baru saja mandi dan belum lagi berpakaian. Untung sudah packing sih. Aku buru-buru dandan…sambil teringat padamu, Bapak…kalau Bapak kan tidak suka menunggu lama bila bertamu dengan alasan masih dandan atau apalah. Nah, hampir saja aku memperlakukan hal serupa itu terhadap Pak Pego. Aku keluar kamar langsung berlarian ke tangga…grusak grusuk.

IX.

Bapak…Aku tentu meminta maaf ke Pak Pego yang menunggu di lobby; karena tak sempat hadir semalam. Pak Pego datang ditunggui becak yang beliau tumpangi dari rumahnya. Beliau rapih sekali mengenakan batik Solo lengan panjang. Aku diberikan foto makam kawan kawan Bapak di Makam Tjurug, yang kemarin kami cari tapi tidak ketemu. MasyaAllah, Bapak…aku terharu. Pak Pego khusus datang agar dirinya tidak dikira mengada-ada…

Waduh…Bapak, sampai sebegitu khawatirnya ya, Pak Pego itu? Beliau takut aku tak percaya pada penuturan beliau. Aku tegaskan pada beliau…bahwa aku sangat percaya dan sangat merasa istimewa bisa bertemu beliau dan menyerahkan foto itu agar bisa aku repro dan dikirim kembali ke Solo. Beliau memintaku mampir ke Solo bila lebaran pulang ke Jogja. Oh, Bapak…aku begitu terenyuh dan perih banget rasanya waktu beliau minta di doakan semoga panjang umur menanti foto-foto acara kemarin yang aku janjikan, plus foto asli makam anak buahnya aku kirimkan kembali ke Solo. Pak Pego pamit pulang karena melihat kawan-kawan rombonganku sudah packing barang ke dalam bus. Pak Pego memelukku seperti hendak melepas anaknya sendiri. Aku menghantar beliau ke becak yang menunggunya hampir sejam.

X.

Gak apa ya, Bapak…aku baru bisa mengeposkannya lewat jasa paket Tiki tanggal 18 Agustus. Oh iya, Bapak…begitu aku tiba di rumah tanggal 9 Agustus, Pak Pego sudah menelponku menanyakan perihal keselamatan perjalananku kembali ke Jakarta.

Sempat loh, waktu di lobby ketika beliau menunjukkan foto Bapak tahun 1987—beliau mengenangmu, Bapak. Kata beliau tentang Bapak padaku, “Oh ya, bapakmu itu tidak terlihat kaya harta, tapi saya tahu bapakmu itu sangat kaya hati dan prinsip”.

Hihihi…aku mikir kalau Bapak dulu itu ketika masih di instansi jika mau diajak berkongsi korupsi berjamaah, tentunya kita sudah kaya harta ya, Pak? Untung banget…aku memiliki Bapak seorang idealis dan berprinsip. Oh, aku begitu bangga padamu, Bapak.

So…aku tunaikan janjiku pada pak Pego tentang foto itu, dan sekarang aku harus toto dahar buat sahur dulu, ya…Bapak.

Bapak, aku sudah bangun buat sahur dan aku sedikit lagi menulis surat buatmu, Bapak.

Nanti pagi, jam 8, ada Upacara Kemerdekaan di Tugu Proklamator. Aku akan datang lagi menjengukmu, Bapak. Karena aku cinta Bapak. Bukan karena hendak gagah-gagahan. Tapi mau seperti Bapak. Mau menjadi anak perempuan Bapak yang cinta pula pada Indonesia-ku.

Bapak…sampai jumpa besok pagi.

***

Surat untuk Bapak, 16-17 Agustus 2010 

Bapak Boediono 'Loentjoeng' dan Umi Widarti Kecil (foto: dok. Umi Widarti)



%d blogger menyukai ini: