Tag Archives: majalah

[Film] Uang Panai: Gugatan Sosio-Kultural yang Dibereskan

APA yang paling mahal dari sebuah realitas sosial? Nalar sebagai mahar sosial, atau pergeseran sosio-kultural itu sendiri? Tetapi ini bukan perbandingan untuk melihat seperti apa masyarakat kita memposisikan diri dan berusaha lepas dari kekolotan tradisi. Betapa majal nalar kita, bahwa upaya melepaskan diri itu sebagai bagian dari premis modernitas yang sementara berkembang. Sama saja. Saya pikir, konsekuensi yang bisa diafirmasi tidak bisa—atau tidak boleh—dilekatkan sembarangan.

Sebagai reviewer, saya duduk di bangku paling belakang hanya agar bisa melihat “film” secara utuh. Film di depan saya bukan hanya apa yang sedang bergerak plot demi plot dalam scene, tetapi juga laku penonton. Hanya ini yang bisa saya tangkap dalam keremangan dan bising tawa di ruang bioskop. Maka selebihnya, saya harus pula menangkap mimik dan komentar mereka setelah pemutaran film usai.

Uang Panai

Meredam Stereotype Kultural

Ada kepuasan di wajah mereka. Beberapa komentar yang sepintas saya tangkap berisi gugatan tentang stereotype yang didorong bersama gagasan dalam film. Juga komentar-komentar yang bisa membuat saya berpikir bahwa ada kebenaran yang harus ditelusuri dari gugatan sosio-kultural yang coba didedah melalui film ini. Wajah-wajah puas itu bukan karena bisa tertawa lepas melihat kekonyolan Tumming, Abu, dan Ancha (diperankan oleh Ikram Noer), atau merasa dihempaskan oleh tangis Risna—diperankan dengan sangat baik oleh Nur Fadillah. Bukan, sama sekali bukan itu.

Puas, sebab kegelisahan mereka berhasil divisualkan dengan baik. Puas, karena gugatan sosio-kultural yang diangkat film ini terkait pergeseran nilai dalam realitas uang panai telah berhasil dipertanyakan, sekaligus dijawab dengan tuntas. Secara personal, saya lumayan sedih saat menyadari ini. Sebagai seorang peneliti, penuntasan premis adalah penanda berakhirnya jalan (baca: perdebatan) yang selalu menyisakan pemikiran dan gagasan baru.

Cukup lama orang dibuat penasaran dengan kehadiran film Uang Panai. Nyaris setahun sejak trailernya pertama kali dirilis. Begitu membaca judulnya, orang-orang langsung menarik garis merah tentang isinya, membuat plot film ini seolah-olah mudah ditebak. Ternyata semua dugaan itu salah. Meleset jauh.

Isu yang diusung film ini kompleks—begitu pendapat saya. Gugatan uang panai yang dijadikan judul sekadar pintu bagi penghadiran banyak masalah lain. Siapapun pasti menyadari hal ini jika menyimak filmnya. Silariang (kawin lari), salah satunya. Ini laku yang disodorkan sebagai bagian isu sosio-kultural Bugis-Makassar yang perlu diluruskan. Bahwa silariang bukan jalan keluar—membuat malu keluarga pihak lelaki, juga mempermalukan keluarga pihak perempuan—selalu berakhir konflik dan mendorong masalah lama antar keluarga mencuat ke permukaan. Film ini menyitir dengan contoh; kesigapan ayah Risna membatalkan rencana Silariang anaknya yang nyaris berhasil itu.

Penonton yang tidak berlatar belakang tradisi Bugis-Makassar jangan berharap banyak bisa melihat aksi Silariang yang berhasil dan bagaimana keluarga yang dipermalukan melakukan penebusan sumpah siri-nya seraya menikam paha sendiri (atau bagian tubuh lainnya) dengan badik—sebagaimana disuguhkan dalam sinema elektronik Badik Titipan Ayah. Di film ini, kau hanya bisa tertawa dan diajak menjadi cerdas, seraya mendorong jauh-jauh frontalitas sikap adat orang Bugis-Makassar dengan kawali-nya yang pantang dimasukkan jika sudah terlanjur terhunus sebelum berbasuh darah manusia. Adegan macam itu tak akan kau temukan di film ini. Maaf saja, saudara.

Perjodohan, status sosial, harga diri, filosofi siri, posisi perempuan, pertanggung jawaban, adalah juga beberapa gugatan lain yang patut disebut dalam film ini. Beberapa gugatan itu mengemuka di sekujur plot film.

Ada yang menarik saat Ancha dan Risna memperdebatkan soal harga diri yang kemudian melompat ke topik price tag. Ungkapan telanjang itu adalah pukulan yang telak terhadap pergeseran tujuan uang panai. Bantuan Risna dianggap upaya mengusik harga diri Ancha sebagai seorang lelaki. Risna justru mempertanyakan ketersinggungan Ancha itu. “Harga diri? Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag!” Risna memekik, membuat Ancha tertegun.

Gugatan sosio-kultural yang dilontarkan melalui tokoh Risna itu, sepenuhnya benar. Pergeseran nilai dalam tradisi uang panai, akhirnya dilihat sebagai nilai jual—label harga atau price tag—pada perempuan Bugis-Makassar. Empirisme yang sungguh menyedihkan. Price tag, perjodohan, mahalnya mahar, kemudian ditemukan sebagai isu sampiran yang menyisik dalam film ini. Kebenaran agamis juga disodorkan, bahwa mahar tidaklah sama dengan uang panai; bahwa mahar tidak boleh disejajarkan dengan uang panai; bahwa uang panai harus dikembalikan sebagai pelengkap belaka dalam tradisi permulaan untuk mengatur rencana pernikahan, dan hal itu tidak lebih penting dari mahar yang wajib dalam tradisi dan tuntunan pernikahan Islami. Selebihnya, menyikapi banyaknya pergeseran nilai, selain uang panai itu sendiri, telah dijalan-tengahi dengan baik oleh film ini.

 

Uang Panai

Film ini membangun gambaran tentang seorang lelaki Bugis-Makassar yang bersusah payah mencari uang mahar demi menyanggupi tantangan kekasih hati yang meminta untuk dilamar. Dalam masyarakat Sulawesi (khususnya Bugis-Makassar) kini, uang panai dianggap sebuah keharusan yang mesti dituntaskan sebelum keluarga pihak lelaki mengambil menantu dari keluarga pihak perempuan.

Masalah mulai mengintai Ancha, saat pemuda itu baru saja kembali dari rantauan. Aksi penjambretan ternyata mempertemukan kembali Ancha dengan mantan kekasihnya, Risna, setelah mereka berpisah lama tanpa kabar. Ternyata benih cinta lama itu tumbuh kembali. Tak ingin terpisah untuk kali kedua, Risna meminta Ancha melamarnya.

Syarat pernikahanlah yang menghadang langkah Ancha mempersunting Risna. Ancha didapuk untuk menyanggupi uang panai dalam jumlah besar. Maka cerita ini pun bergulir. Ancha, dibantu dua sahabatnya (Tumming dan Abu) berusaha memenuhi syarat tersebut.

Di tengah upayanya, masalah lain datang. Farhan (diperankan Cahya Ary Nagara), teman kecil Risna, baru kembali dari Amerika Serikat. Masalah makin berat, saat orangtua Farhan dan Risna sepakat mengatur perjodohan mereka.

Di sisi lain, cinta Risna dan Ancha memang tak terbendung, sehingga mendorong Risna melangkah terlalu jauh. Upaya Risna justru melukai harga diri Ancha. Martabatnya sebagai lelaki Bugis-Makassar dipertaruhkan. Dilematis, Risna khawatir Ancha meninggalkannya lagi.

Apa yang harus dilakukan Ancha? Bagaimana Risna meredam persoalan? Seperti apa peran Tumming dan Abu? Mampukah Ancha tiba tepat waktu sebelum ijab Farhan dikabulkan?

Film ini bergenre komedi-romantik. Jadi tak hanya persoalan percintaan Risna dan Ancha saja yang ditonjolkan sepanjang cerita. Hampir semua plot dalam film besutan sutradara muda Halim Gani Safia dan Asril Sani ini disalut dialog dan gimik lucu oleh para pemerannya. Ikram Noer mampu mengimbangi kekocakan Tumming dan Abu. Para cameo juga berperan pantas. Jane Shalimar muncul beberapa detik dalam frame bersama Tumming dan Abu. Jane nyaris tak bisa menahan tawa dilibas ulah konyol dua pemuda ini. Katon Bagaskara juga tampil baik dengan menghidupkan karakter seorang Barista. Ia menasihati Ancha untuk tetap tegar dan semangat menghadapi masalahnya. “Hari ini adalah besok yang kemarin,” Katon mengutip Kahlil Gibran dan sukses membuat Ancha bingung.

Siapa Tumming dan Abu dalam film ini? Anda pun berhak tahu siapa mereka. Tumming yang jenaka seperti mengembalikan kepada kita cara tertawa era Gepeng—orang-orang yang piawai nan cerdas menghadirkan humor. Jika Tumming bisa mengembalikan ingatan kita pada Gepeng, maka Abu yang kocak itu bisa secerdas The Stoges atau Cak Lontong: tetap bisa memanusiakan orang-orang yang ingin tertawa tanpa harus membuat mereka tampak tolol di mata comedian. Membikin roasting a la standup comedy jaman sekarang segera terbang ke jaman prasejarah.

Anda bisa juga melihat “orisinalitas” mereka di Uang Panai. Referensi istilah original khas Sulawesi berhamburan di sini: anak muda palsu, masih bisa menikung, masih di dunia ji’ ini, SWISS, 4D, sampoi mulutmu, kopi boleh pahit tapi hidupmu jangan, kode keras, dan banyak lainnya.

Film ini memang bagus dan sanggup menyedot animo penonton. Sambutannya luar biasa. Pada pemutaran perdananya—di hari pertama saja—sukses di 21 kota. Antrian panjang di loket jadi pemandangan di setiap bioskop. Tiket habis dan daftar booking penuh sekali. Makkita Cinema Production sebagai pengampu film Uang Panai, memang tidak menargetkan apapun, sekaligus tidak berharap banyak setelah penundaan yang hampir setahun setelah rilis trailer pertama kali. Namun kekuatan cerita dan sinematografi, serta padatnya gagasan—yang tampaknya berhasil mereka urai—menjadikan film ini sangat layak mendapat apresiasi tinggi.

Sejak diputar perdana tanggal 25 Agustus 2016 kemarin, beberapa portal film merespon cepat. Untuk empat situs rujukan (pusatsinopsis, layarfilm, posfilm, jadwal21), film Uang Panai mendapat rangking fantastis, yakni 9,4 bintang dan menempati urutan ke-10 dari 1.307 film yang dirating.

“Cinta hanya kata, sampai kau datang jua dan memberinya makna.” Demikian sepetik syair yang dinyanyikan Katon Bagaskara sebagai soundtrack film yang skenarionya ditulis memikat oleh Halim Gani Safia dan Amirl Nuryan ini. (*)


[Tula-tula] Molaisako Bangka | Pabitara | Juni 2014

Molaisako Bangka

Tula-tulano: Ilham Q. Moehiddin

mencuri-perahu 

1/

“Ama, banara’o ba aku di ana ica?”

“Nai dakanahi ngkana aico!” Pamuru Ama Bandi hi podeaho Ripah metukana ngkana aico, kadi kua naate 15 ta’u. Wewuku limano na mokora. Merendem tumbu’o co miano da kanahi dakana.

Ripah na vakono amano kanahi, “Perano miano daa I’tadoha mpolom poturisio anado pottahiaku.” Bandi na lumonso binta kadera, mokkarai buka’o sawuno ke tihako co Taaowu da tearuhako. Hi onto ngkana Amano, hulano Ripah lansu mowite.

Hi onto ngkana mincuno Amano, Ripah kanahi, ”Sie mpaduli ira Ama, nda’asi mohapa.”

Hi podeaho Ripah kanahi ngkana, Bandi lansu kokodo. Na banga, kelansu melo mosao’larono. Na kokou ke dioho co Taaowu Wawohoro, ke’ari ke onto coo anan’ntinano ke kanahi, ”Kida miano dakanahi ngkana aico, di’ie Ama’u nta ala-alako.”

Ripah na kikihio luuno kekanahi. “Siemo Ama, daku nta mea’Ea. Kiu ngkana aico dahira nta handao poko’anu-anuaku.”

Bandi na metundu-tundu ke lansu mena’Ea.

“Osie mpodea hartiano miano, Ripah. Nda’a ntalako da coira ana ica. Kuako miano da’a nta koana miano.”

Ama Bandi na ntandaiho titiaho Ripah montula-tula momoico.

Maka Ripah kua na lansu mentade. Ke sisimata’o Amano, ke’ari ke lolako mbule dapura. Bandi na’ana na lansu mento’a ke aruhako mohule co Taaowu ke’ari penda mentade pe’piniwamba. Ke o’onto co wiri ntahi Talaga’Ea da’tangasa bobaraka.

Asa minggumo Ama Bandi nda’a lako metahi. Ngkanasi naada coira yo miano mpetonda meha-meha, ngkanam coira hi wula hembo nahina da kura’o lako mebolo ntahi. Maka tepo’olu dahosi da lako polom keda poawahado ntakinaa. Maka Ama Bandi nda’a ntalako montotolai bahea ngkana aico. Kua teasi Ripah anano, ndaapo penda ari kawi. Tinamtu’ano penda na mengkaum mate hida koana’ako Ripah.

2/

Hida okidi Ripah, ala molai imanino Ama Bandi kimpodea da sangkeo Tinamtuano kanahi kua Tina ica. Ki tonuana hapam kaasi da mesuakio bolong’kompono hela akalano co’o tinamtuano dam’nehako Salamah ke baranisi kana’aico.

Hapo keari koana mau yo wanangkirino anano ndaapo ari ni’otu hai puheno, garaka aico Salamah na’lansu mento’a binta bobaleano ke lumonso bungku laica ke ari ke pobuku teleu tahi. Ama Bandi nda’a sangkao kanahi daho nta mengkaka mobuku kana’aico Salamah. Sabuti hi seda’a roda hidanta mbule halangio Salamah lumonso bolo ntahi. Salamah lansu isa bolo hembo. Kua penda cokena pas wula hembo’Ea ngkana’di.

Pompahano Bandi, polio kua na’molawu co’o tinamtuano mpikirio radakino apuno raha. Di wula hembo’Ea da mengkau ngkana’adi balisa’o yo petinam’tua. Bandi kua namoungke to’u doi nta ongkoso koanano Salamah, maka co’o tinamtuano kua ntabe to’uo metahi.

Nta maju nda’a to’ori, monduru penda ngkana’si. Keada’ado rua ira kua tou-tou nte’asi. Kuam tada’a co’o da poko’mpepikiri owawa’o Salamah ke lako mepopate ngkana’aico.

Asa alo motende luwu-luwuno tama dada’a cokena bolongkampo helam Bandi lako u’ungke Salamah. Co naate’ngkore kua na dioho hai Bidan desa da’ari bantu’o koana Salamah. Nti ke dumondo nahina da awa coo bangkeno Salamah. Nainya bangkeno Salamah dani’avado wiri ntahi, kua yo ica duyung da suere mincuno.

Co ica duyung na’nonangi mora-morumai bolontahi. Teponoha na saba wawo E’e ke ari ke U’uni. Miano da tangasa U’ungke bangkeno Salamah tandaiho tilaa, maka co ica duyung ne’ehe molai. Nahina da to’orio ki hapa pebintahano co ica.

Bandi nda’A mpaduli pebintahano co ica. Kua dani’pikirino, kua coira hartiano miano hi tolu oleom. Coira tama dahirasi me U’ungke sampe asa minggu. Maka coira ngangano tina nahina tetotodono mesangke.

Mempu’u iramo tarangka’o sabano co ica Duyung kanahi kua dinino Salamah. Samengka-mengkau coira hartia tetiani menta hela na’duduluomo hela neni Bandi. Kua penda daho tina dakanahi, “Kua ke’masusa torano. Coo Bandi na mongkawini ica Duyung.”

Ke’ari coira tina meha ngkanahi penda, “Kua’wainto co’ica Duyung kua na montangki yo siala hai miano petonda. Jadi ki po’okudahi bangka musti tilaa. Maka’ia Bandi kua na kawinio ma?” Maka tetiani rame miano montula-tula coo pesangke’A.

Mau co’anano Salamah da sedaapo ari pinowehi neeno ndona sangkeom hela. Ndona ntabe’o miano leu mo’onto co na’ateno Salamah, kanahido ndona mome moawa siala. Kindo awa Bandi tangasa babaa co’anano pampa laica, ndona mokkarai tealo ndo da’a nta mpolihei hela mesambataikono.

Kuam co dani’mometakono Bandi. Bintam kina’adi pikirio kanahi daho nta leu coira masaala ngkan co. Ahirino Ripah na montotolai co mincu mporeno miano bolongkampono. Kina’adi na ana Bandi dahopo sadea mparsaea coira takhayul kanaco. Maka paka arinom menunu co sikola Paket-B sampe ke to’ori mobasa, mealuom co’ira takhayul da seda’a mesua akalano ke’ari ke basiako.

Maka Ripah nda’a mampu ia kua waipode 15 ta’u da montotolai tula-tulano miano asa kampo. Co’dani awano pekena tadoha tonia kuam dahanda’o poko mome’o Bandi.

3/

Bandi na meboi kono ananontinano binta sabaa.”Ripah!”

Co anantinano ndaa tetea binta bolo kamarano. Hapo keari magarebi. Bandi nambule dapura kua namolea tiano. Kepewuha co rinceu dani santaki na’lansu merende mongkaa. Maka ke onto penda Ripah nasahina cokena dapura. ”Kua ntada’a na moala E’e nta mo’ihiani baki hai bungku laica.” Bandi nta mongkam merio kua ki momapa co’rinceu ndaam nta moico to’u.

Hapo ke ari moala pinca, Bandi lansu te’bibinco. Reano lansu wowa mokkarai, nabintam co’ntakinanano ke lumonso bita wawo kadera. Nda’a mempindai laesa, na lumonso keda meboboikono tuaino kuasi asapampano laicano dahano melaica naana.

“Bakri…kaluari! Petihako…!!”

Bakri kaluarako rapano piniwamba kepetukana. ”Hapa ico?! Hapa ico kau ko o’o malaalo ngkandi?”

Bandi na’tetea me o’o. “Petihako! Tambaku ungke laki-ana’u. Ungke Ripah! Peboseku na isa. Bangkaku na isa!”

Hulano Bakri na’lansu mowite. ndaam paduli tinamtuano, Bakri na lansu lumonso binta laicano ke lulu’o Bandi da merioum mobuku rorope’o tahi. Ki’kasusa hapam kia dani totolaino co’lakianano.

Co ira miano da podeaho Bandi me O’o kaluari naada binta laicado. Ke ari ntaha’o bakri kando petukana, ”Ntehapai ico comi,u?”

Dahosi mobuku lulu’o tukakano Bakri ke tetea, ”Naiasa peboseni bandi!”

Co ira tama na’lansu mowite penda. ndoda’am kokodo kua na’lansummobuku nunu’o Bandi hela Bakri. Asa kampo’a teasi coira tama da pehawa’o Bandi. Ndoda’a mpaduli coira hartiano tinamtuado da tabe ira mperongakono Bandi.

Sa teleuno tahi, Bandi lansu rorope’o dahano bangkano. Bakri hela perongano tama orua na’mongkompulu papa ni’I motu’I, ke ari ke koko’o modo-modoro ke ari ke lopi’o utuno ke tewalai orua. Ke ari ke bage’o co’oboro hai co ira tama da leu tamba hi arim tunu’o ndona nunuom co wiri ntahi kandoda ronga me boikono neeno Ripah pempi-pempia. Co suarado na’tepoawa hela ununo hembo.

Bandi na’awa Bakri kewakono kanahi. ”Nahina bangkaku pekena dahano ari teko’o”. Hulano solorio hondo keda kolihe-lihe. Ke ari kepetukana, “Naumpem’di?”

Lansu Bakri meparenta kanahi. “Siwuhio coira bangka hela potora lampugasi. Tonta mokkarai ungke Ripah di malo!” Bandi lansu mokkarai nunu’o kinahino tuaino. Di’kana-kana nda’a toori mepikiri momoico. Dawua hida tuaino da tana.

Tebibinco Bandi hida tangasa mongka ke’onto yo peboseno nahinam cokena dahano sadea aruhaku. Kua hiseda’a metonda yo miano pe ica, yo pebosedo ndona aruhako hai wonuano. Sababubo dikana-kana hi wula hembo ngkan’di. Yo bangka kua na koko’o menta mentala binta hai wiri ntahi. Kua hi pewatako E’e ntahi yo bangka da seda’a ningko’o biasa tangkio W’e teleu tonga ntahi. Mau penda co ki koko’o keseda’a mentala binta wiri ntahi dahosi nta tapa’o hembo ke saladaka hela bangka dasuere.

Hi onto bandi co peboseno kesahinam cokena ruhakoano na’lansu kanahi larono nahinam meha-meha kua Ripah da ari ala. Pebose kunta meronga hela bangkano. Maka ki sahina pebose cokena aruhakoano, kuam tanda kanahi kua naarim ni ala yo bangkano.

Ripah na soro pantano co bangka tele’u tahi. Kadi hembo dikana-kana tangasa moroso’Ea. Co waipode nda’a toorio kanahi kua bahea da tangasa ni totolaino.

Asa kampo’a miano tekompulu wiri ntahi. Luwu-luwudo podo montangki hulu, sabuti wiri ntahi na molinya poweudo. Meha coira tina na’tangari hi onto tamtua hela anantamado montamba Bandi hela Bakri monunutako Ripah arane tonga tahi.

Teponoha co hembo te’tapasako wiri tahi kandoda marsai mosu’u co bangka mohule. Astanga’mate ira taha’o co bangka ke dadanosi sada’a mesua E’e tahi da mekokaeu leu tapa’o co bangka.

Kando mekolompo te’Ete. Da measa kolompo te’otolu bangka. Da measa bangka te orua miano. Bandi na merioum ala teleum tonga tahi. Ke’ari da measa kolompo na nimpoko lako. Bakri na mesua kolompo otolu. Ke’ari penda ke penunutako kolompo opa hela olima. Measa bangka da binta kolompo opa arim seda’a nta tepenunu kua te patua hi ari tapao hembo binta asapampa.

Hopulukaolima hulu da kompitu-pitu ara tonga tahi. Suarado hindo meboi na nangio unino hembo. Sa teleudo cokena dahado mogau nta tepoawaha, ndona metalesako mohule sampe ke samolu-molue. Co huludo sabuti hi kana olimpopo da tetalesako wawo ntahi.

Bakri nawakoira kanahi ki awa bangkano Ripah karonga moweu tanda hai peronga suere. Nainya co owoseno hembo dani masusa’akodo kua coria watu-ntahi da tinda aruane. Keari Ripah nahinampiha to’orino me bolo ntahi.

Ala rua jamum kolalo co ira bangka metalesako keda co tandai dani ontodo binta mentalano. Sabuti kana’tousi nda bangka da moawa. Sambali sai’nyasi bangkeno Ripah atawa pesibino bangkano dani awa.

Sapoontodo co tanda, luwuno co bangka da tetalesako ndona peka rope. Bandi da okuda co bangka da moweu tanda lansu okudahio meriou. Ala me o’o hi onto waipodeno salama’osi. Bangka dani tangkino Ripah ala pono E’e ke ari peboseno naisam. Co miano da awa Ripah na arim koko’o co bangakani Ripah hai bangkano ke ari ke hau’o E’eno.

Bandi lansu me o’o ke petukanahio anantinano. ”Ripah…! Huna ntehapai ico? Hapaico co’o ka poweu kanadi?!” Ripah teasi asa ntonia onto hulano Amano, keari ke o’onto mohule co wawo ntahi. Co waipode kana tousi sedaam mongkabariahako coira miano dai pampano.

Teasi hi kanahi Ripah, “Co ica Ea na ala pebose’u Ama.”

Ke petukana mohule Bandi. “Ica hapa?! Hapa kau poweu kanadi?”

“Aku tonia na lako ungke Ina. Tonia na saba okuda cena, cena pampano bangka, garaka na sorongko’o co pebose’u Ama keari ke tangkio.”

Ala isam kasabarano Bandi ke gego’o Ripah keuru sadara keda kanahi. “Hapa ico aico da kinahi’u?”

Ripah kokodo mohule. Matano kolihe-lihe bolo ntahi da malompusuano. Di kana-kana, luwuno bangka podo mekaokudahi. Bakri lansu lumonso hai bangka dahano meulea Bandi hela Ripah. Keari kelansu renta limano co lakianano.

Keari kepetukanaiho. “Ripah, hapa dainanu’u?”

Ripah na o’onto hulano tamaateno. Ke ari na lansu sonsolo lu’uno. Dahosi bebera, maka dahosi penda Ripah usaha’o kolihe-lihe bolontahi. Ke ari kekanahi. “Ripah nta u’ungke Ina. Kua coira miano tadoha kahani, Inaku kua ica Duyung, ke ari aku kua ana ica da motangki siala.”

Bakri na metundu-tundu. Ke ari Bandi kua na kokodo ke ungkari’o rapano. Co tama kua ponoha tewalipo bebera. Mau hida isa tinamotuano hopulukaolima tau da ari tealo, ndaa bebera ngkana co.

Bakri na lansu gau-gau’o kanahi. “Hapa kampodea kanahino miano. Pempi-pempiamo wakoko kanahi polom podeaho kinahino Ama’u. Hi to’oriopo luwuno Ia hamo coira miano suere.”

Ripah na gego-gego rapano. Ke ari kekanahi. “Da’a. Banara’o kinahino coira miano. Tonia Ina nanonangi pampano bangkaku. Ke ari ke su’o teleu ceena, maka na sorongko’o co peboseku ke ari ke tangkio.”

“Nda’a, Ripah. Ina’u naiya ica. Nahina ica dakoana’ako miano.”

Ripah na lansu susurako tama’ateno. Hula-hulano seda’a eheno mpode’a co hartia da’ari kinahino tama’ateno tonia di. Ripah na rarane wirino bangka, ke lansu me’ungka, matano kelihe-lihe wawo ntahi.

Bakri na menaa E’a. Ke pento’a putara’o limano wawo rapano. Kuam tandano kanahi luwudo nta’mohulemo. Di malo kua kasusa’Ea da awa ira. Co masa’alano Ripah mandomo poko tindaa ara wawita.

Luwuno bangka namohulemo teposincalako mea-measa rorope’o wiri ntahi. Di kana-kana Ripah meronga kono Amano hai bolo bangka’do. Amano na monsaru pebose ke ari bangkano nangkoko’o bungkuno bangkani Bakri.

Rua’etu metere binta wiri ntahi, na nsaba nonangi co ica Duyung hai wiri bangka moanani Bandi, ki hapa pebintahano. Na olo’o tomiu keda saba mohule penda asa pampano bangka tinda suwa. Ripah na onto merio’u na tebinco ke lansu mehawiako bolo ntahi. Nganto’u na merende nunutako co ica Duyung.

Bandi na tebinco na lansu lumonso na’ana bolo ntahi. Maka co hembo da saba binta bungku bangkano lansu dungkurako Bandi ke duduke, ke lansu sorongko’o mokarai co jarangka ke sedaasi molomo. Maka hi u’ungke Ripah neda’a onto. Bandi lansu meboikono Bakri ke wakono kahani, “Ripah na lumonso bolo ntahi!”

Bandi ntomiu mohule. Bakri na’ana na lumonso binta bangka. Rua ira mpetuai meka eu-eu tomiu ungke Ripah. Co miano da orua hai bangkani Bakri na menunu na’ana lumonso tamba Bandi hela Bakri. Pia-pia menee ira u’ungke Ripah, akhirino Bakri na ntetotodomo.

Bakri narenta Bandi, nonangi wawo hembo rua ira hela co perongano da orua rorope’o wiri ntahi. Sa teleuno wawo one, Bandi lansu bebera.

4/

Pato oleo kolalo miano dahosi u’ungke Ripah. Maka kanatousi Inano kina’adi, Ripah na’ana paisa ni awa.

Mebinta co kena oleo, Bandi sadeamo totoro kiniwia cokena wawo bangkono dai wiri ntahi. Keda kelihe-lihe wawo E’e ntahi. Keda u’ungke co oruano miano da nimpehawano. Kitenao tuaino tawa miano suera mohule, maka Bandi mpolomo tetea.

Ke ari kekanahi. “Kuna dagaiho deena diira bangka ke sie ala ica.” (*)

Molenvliet, April 2011.

 

(cerita ini dialih-bahasakan ke dalam bahasa Moronene/Tokotua oleh Endang Sasmita. Termuat pada Majalah PABITARA, Edisi Juni 2014. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara)


%d blogger menyukai ini: