Tag Archives: Lembopari

Separuh Jalan Menuju Matahari

Menyaksikan festival budaya-tradisi suku tertua di Sulawesi Tenggara. Kedatuan ini memiliki banyak sejarah dan kisah unik yang terus terpelihara.

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival -- photo@IQM

Plaza Tangkeno di hari pembukaan festival — photo@IQM

Tubuh berbungkus jaket parasut tebal saat kami bersua pagi di desa Rahadopi. Waktu menunjuk pukul 07:10. Darman, bangun lebih dulu dan berjongkok di sisi perapian tanah. Ia kedinginan. Pemilik rumah menyuguhi kopi plus sepiring kue. Kami sengaja datang untuk Festival Tangkeno 2015; sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Festival ini dirangkai Sail Indonesia 2015 yang melayari rute Sail Sagori 2015.

Dari desa Rahadopi, di ketinggian 680 mdpl, atol Sagori tampak di sisi barat, berjarak 2,5 nautikal mil dari pantai Kabaena, melengkung sabit bulan berwarna putih dengan laguna biru pekat di tengahnya. Air surut, laut teduh sekali di awal September ini. Karang Sagori, atol terbesar ketiga di Indonesia dan keempat di dunia.

Saya teringat sejarah kelam di atol Sagori ini. Pada paruh abad ke-17, dunia pelayaran dikejutkan suatu malapetaka—Ternatan Fleet: Bergen op Zoom (jenis jacht, berbobot 300 GT), Luijpaert (jacht, 320 GT), Aechtekercke (jacht, 100 GT), dan De Joffer (fluyt, 480 GT), dikomandoi Tijger (retourschip, 1000 GT) karam sekaligus di karang ini pada tanggal 4 Maret 1650. Armada VOC ini sedang melayari rute Batavia-Ternate melalui Selat Kabaena. 581 orang awak kapal, serdadu dan saudagar dapat menyelamatkan diri.

Tijger itu jenis mothership space kelas utama, kapal terbesar yang pernah dibangun VOC pada 1640-41. Kapal kebanggaan VOC ini mengakhiri riwayat pelayarannya di karang Sagori. Duapuluh pucuk meriam, tujuh cartouw (meriam kecil) plus amunisi, diangkut prajurit Mokole (raja) XVII Kabaena dan diletakkan di lima benteng kedatuan. Salinan mikrofilem catatan itu disimpan Breede Raadt, di National Archives of the Netherlands, di bawah Fonds-Code: 1.04.02, Item No.1179A/B, Sec.296-340.

Matahari beranjak naik. Menurut informasi, festival akan dibuka pukul 10 pagi (2 September 2015). Kami harus bergegas ke plaza Tangkeno. Motor sewaan kami harus menanjak 5 Km hingga di ketinggian 800 mdpl, di pinggang gunung Sabampolulu. Jalan beraspal dan sedikit pengerasan sebagai bagian dari proyek lingkar pulau Kabaena.

Cukup mudah mencapai Kabaena. Dari kota Kendari dan kota Baubau, Kabaena dicapai melalui darat sebelum menumpang jet-foil atau pelra. Sedangkan dari Bulukumba (Sulawesi Selatan) menggunakan ferry via Tanjung Bira. Pun mudah dicapai menggunakan yatch (kapal layar tiang tinggi) atau kapal pesiar yang berlabuh di perairan bagian selatan. Jika kelak resmi sebagai kabupaten, sebuah bandara akan dibangun di utara pulau.

Kurang dari 25 menit, kami tiba di desa Tangkeno. Kemarau panjang tahun ini mengubah wajah Tangkeno yang hijau menjadi kemerahan dan kering. Angin menerbangkan debu tanah merah ke mana-mana. Suhu naik 34-35ºC di siang hari, dan secara ekstrem turun hingga 15ºC menjelang sore hingga malam. Kondisi kontras justru tampak di dua desa sebelumnya, Tirongkotua dan Rahadopi yang dibalut hijau hutan sub-tropis serta tajuk-tajuk pohon Cengkih.

Di ketinggian Tangkeno, rata-rata kecepatan angin 2 knot, dan uniknya, mampu menghalau rasa panas di kulit. Kami tak berkeringat saat berada di plaza Tangkeno, di tengah siraman cahaya matahari siang hari. Percayalah, berjalan di plaza Tangkeno di musim kemarau, laksana menapaki separuh jalan menuju matahari.

Kabaena—dan 11 pulau besar-kecil yang mengepungnya—bersiap menjadi kabupaten baru, memisah dari kabupaten Bombana. Jarak administrasi, luas wilayah dan kecemasan akibat laju deforestasi karena operasi pertambangan menjadi sebab utama. Kenyataan itu membuat warga lokal kecewa dan pihak Kedatuan Kabaena marah besar.

“Ada kerapatan adat sebelum penyambutan,” Darman berbisik. Baiklah, itu tak ada di run-down acara. Darman menyiapkan kamera dan peralatan rekam. Saya berinteraksi dengan beberapa tokoh adat di sisi Baruga Utama. Petugas penyambut berpakaian adat dan para pementas gelisah karena udara panas, sebagian sibuk merapikan kostum yang disergap angin.

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Darman berlari ke arah Baruga Utama saat orang-orang bergerak ke arah yang sama untuk menyimak sambutan dari Mokole Kedatuan Kabaena. Di akhir sambutan Mokole, kerapatan adat dimulai dan dihadiri para Bonto (pemangku adat), Mokole Kedatuan Keuwia dan kerabat Kedatuan Lembopari. Kerapatan adat menyetujui acara itu, sekaligus mengundang Bupati Bombana, para peserta Sail Indonesia 2015, dan utusan dari sejumlah kerajaan tetangga (Bone, Wuna, dan Tolaki) ke Baruga Utama. Kedatuan Lembopari juga mengirim utusan sebab sedang memersiapkan Mohombuni (penobatan) Mokole baru.

Lembopari, Keuwia, dan Kabaena, adalah tiga protektorat Kedatuan Bombana lampau. Kedatuan suku Moronene ini dipecah kepada tiga pewaris di masa pemerintahan Nungkulangi (Mokole ke-III Bombana). Dendaengi, Mokole ke-I Bombana, adalah adik Sawerigading, tokoh poros dalam epos La Galigo. Menurut etnolog Dinah Bergink (Belanda), dan Tengku Solichin (Johor), eksistensi suku Moronene dimulai sekitar abad ke-5 dan ke-6 Sebelum Masehi, namun jejak suku bangsa proto Melayu ini ditemukan melalui hubungan monarkisme dengan Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan) dan moyang mereka di Yunan Selatan, Tiongkok.

Demi festival ini, Darman rela mengulur waktu penelitian gelar masternya. Bujukan saya ampuh membuatnya meninggalkan lokasi riset. Tahun lalu ia kecewa karena festival dibatalkan saat sungai Lakambula membanjiri empat desa di poros utama ke lokasi festival.

Di sisi selatan plaza Tangkeno yang luas itu, tampak 10 perempuan bersiap. Di genggaman lima penarinya ada parang nan tajam. Ke-10 perempuan ini akan menarikan Lumense, tarian tradisi perempuan Kabaena. Lima perempuan berparang tajam itu bergerak cepat saling mengitari dengan penari lainnya. Rampak gerak dalam formasi yang kerap berubah cepat sanggup membuat merinding. Menjelang akhir tarian mereka menebas sebatang pohon pisang sebagai simbol kekuatan dan pengorbanan. Intensitas gerakan Lumense sedikit menurun saat parang disarungkan dan 10 penari melakukan Lulo asli. Lulo asli Kabaena punya 21 varian tarian dengan ritme tabuhan gendang yang berbeda. Tetapi, sejarah tari Lumense memang mengerikan.

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'combo dan Enu -- photo@IQM

Tari Lumense dibawakan gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’combo dan Enu — photo@IQM

Menurut Mokole ke-XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, SH. M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai peradaban. Di zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidak-imbangan kosmos, alam, manusia dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!—maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para Bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Di era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kyai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Suara musik mengalihkan pandangan semua orang. Kabaena Campo Tangkeno dinyanyikan tujuh biduan dengan iringan alat musik perkusi tradisional, Ore’Ore. Ketujuh penyanyi memegang alat musik bambu monotonik pelengkap irama Ore’Ore. Berikutnya, orkestra musik bambu mengalun di depan Baruga Utama, oleh 30 siswa SDN 1 Tirongkotua yang dipandu konduktor. Itu menarik perhatian para tamu asing. Mereka meminta orkestra itu diulang dua kali.

Agnes menyempatkan diri menjajal nada Ore’Ore. Patrick dan istrinya menyapa para siswa orkestra musik bambu dan membagikan flute pada mereka. Wajah semua orang puas sekali. Gerah mencapai plaza Tangkeno dalam perjalanan ini, terbayar dengan apa yang kami saksikan.

Pukul 12 siang, para pemangku adat mengajak tamu ke bawah Laica Ngkoa (rumah adat) Kabaena. Kami dijamu kuliner tradisional. Suguhan ikan bakar dan kacang merah bersantan membuat Darman tergila-gila—ia tambah dua kali.

Usai jamuan makan, pembukaan festival dilanjutkan tari Lulo-Alu yang eksotik dan ditutup drama-tari kolosal tentang kisah Ratu Indaulu. Mengisahkan fragmen pelayaran Ratu Indaulu dari Tanah Besar menuju Kabaena, menempati Goa Batuburi, hingga istana kerajaan selesai didirikan di Tangkeno. Sendratari berlangsung 12 menit.

Peserta Sail Indonesia 2015 memadati Fort Tuntuntari dan Fort Tawulagi—dua dari lima benteng pertahanan Kabaena—pada sore hari. Dua benteng ini berdiri kokoh menjaga kota raja. Di pagi hari, mereka mengunjungi permukiman, pasar tradisional, dan berbagai obyek wisata; pantai Lanere, pantai Wulu, Air Terjun Ulungkura, Air Terjun Manuru, permandian Tondopano, padang pengembalaan Kuda, kampung laut Suku Bajau, wisata bahari selat Damalawa, konservasi Mangrove Pising, eco-farm, Air Panas Lamonggi, sentra kerajinan batu mulia, snorkling dan diving di kuburan kapal karang Sagori, caving di Goa Batuburi, dan lainnya. Pengelola menjajaki bike-tracking, paralayang dan arung jeram.

Tracking di gunung Sabampolulu (1700 mdpl) dan climbing di gunung Watu Sangia (1200 mdpl) sangat digemari para tamu festival. Gunung Watu Sangia ini pernah dijajal Norman Edwin (alm), enam bulan sebelum pendakiannya di Aconcagua, Argentina.

Pementasan seni malam hari paling ditunggu. Warga dan sekolah se-pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival; tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan; Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya; Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu, dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memerkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan 9 varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

Kami tak lagi menunggu penutupan festival, sebab Darman harus kembali ke lokasi risetnya dan saya yang ditunggu banyak tugas. Kabaena, selalu saja memancarkan magisme tradisi yang berkelindan dalam eksotisme alamnya. Suatu keindahan puitik yang memanggil-manggil. (*)

Akses menuju Pulau Kabaena

Akses menuju Pulau Kabaena

Tips:

  • Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena antara bulan Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua), dan bulan September-Desember (festival tradisi-budaya).

  • Pada bulan-bulan ini laut begitu teduh.

  • Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Gunakan jet-foil untuk menghemat waktu tempuh (2 jam). Jet-foil beroperasi hanya pada hari Selasa dan Sabtu, berangkat pagi 08:00 dan siang 12:00 WITA. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Jika kebetulan Anda sedang berada di kota Baubau, ada jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.

  • Jika bingung, mintalah bantuan warga setempat. Setiap orang akan membantu Anda. Jika Anda lebih suka menggunakan jasa ojek, tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.

  • Anda tak (belum) bisa menemukan hotel/motel/penginapan. Tetapi setiap rumah warga bisa Anda jadikan home-stay. Mereka bahkan tak meminta apapun dari Anda.

  • Untuk hicking, selalu gunakan guide warga lokal, untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, sebaiknya persiapkan alat Anda dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa kars muda.

 

Catatan:

Artikel ini dimuat Koran Tempo Minggu, edisi 27 September 2015.

 

Foto-foto lain:

Undangan makan di bawah rumah adat -- photo@IQM

Undangan makan di bawah rumah adat — photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena -- photo@IQM

Kerapatan Adat Kedatuan Kabaena — photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama -- photo@IQM

Mokole mengundang peserta Sail Indonesia2015 ke Baruga Utama — photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat -- photo@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 dijamu kuliner adat — photo@IQM

Penari Lumense -- photo@IQM

Penari Lumense — photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa'Combo & Enu -- photo@IQM

Gadis-gadis Kabaena dalam pakaian adat Taa’Combo & Enu — photo@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) -- photos@IQM

Orkestra Musik Tradisional Kabaena (Musik Tiup Bambu) — photos@IQM

Orkestra Musik Bambu - 03 --@IQM Orkestra Musik Bambu - 02 --@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute -- photos@IQM

Peserta Sail Indonesia 2015 berinteraksi dengan siswa pemusik bambu dan membagikan flute — photos@IQM

Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 01 --@IQM Patrick dan Istri berinteraksi dengan siswa Musik Bambu - 03b --@IQM

Persembahan Ore'Ore (Musik Tradisional Kabaena) -- photo@IQM

Persembahan Ore’Ore (Musik Tradisional Kabaena) — photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore'Ore  -- photo@IQM

Salah seorang peserta Sail Indonesia 2015 menjajal nada Ore’Ore — photo@IQM

Tari Lulo Alu - 03 --@IQM Tari Lulo Alu - 02 --@IQM Tari Lulo Alu - 02b --@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) - -- photo@IQM

Persembahan Tari Lulo Alu (Tokotua-Kabaena Traditional Heritage Dance) – — photo@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu --photos@IQM

Persembahan Sendratari Kolosal tentang Pendaratan Ratu Indaulu –photos@IQM

Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 03 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 02 --@IQM Sendratari Kolosal Ratu Indaulu - 01 --@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 - --photos@IQM

Partisipasi (olahraga dan seni) para siswa dari berbagai sekolah se-pulau Kabaena dalam Festival Tangkeno 2015 – –photos@IQM

Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 01  --@IQM Partisipasi siswa dalam Festival Tangkeno 2014 - 03  --@IQM

Tangkeno Fest 2015

Tangkeno Fest 2015

Festival Tangkeno 2015

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia -- photo@Dody

Pesisir Selatan Pulau Kabaena Tampak Dari Puncak Gunung Watu Sangia — photo@Dody

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu -- photo@BahasaKabaena

Dataran Tinggi Gunung Sabampolulu — photo@BahasaKabaena

Plaza Tangkeno -- photo@Ist.

Plaza Tangkeno — photo@Ist.

Padang Pengembalaan Kuda -- photo@Dody

Padang Pengembalaan Kuda — photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena --photo@Dody

Olompu (Rumah Kebun) Orang Tokotua-Kabaena –photo@Dody

Goa Watuburi --photo@Hary

Goa Watuburi –photo@Hary

Air Terjun Ulungkura -01 -- @Ist

Air Terjun Ulungkura --photos@Ist

Air Terjun Ulungkura –photos@Ist

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia --photo@Dody

Panorama dari atas Gunung Watu Sangia –photo@Dody

Atol Sagori - 01 -- @Ist Atol Sagori - 02 -- @Ist

Atol Karang Sagori --photos@Dody

Atol Karang Sagori –photos@Dody

 


[Cerpen] Bilangari | #2 Cerpen Lahat Untuk Nusantara

Bilangari

Oleh Ilham Q. Moehiddin

hikayat-tiga-ksatria_13b

BERHARI-HARI kami dikepung sekelompok orang. Mereka berteriak lewat pelantang suara bahwa mereka lebih tahu situasi di hutan ini. Jika mereka bisa ada di sekitar pondok kami, maka itu artinya hutan ini masih termasuk dalam areal penguasaan perusahaan mereka—begitu yang mereka teriakkan. Darah tama’mtua (kakek) mendidih mendengarnya.

“Kalian tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

**

KAMI harus pindah. Begitu kata kakek sembari memandang kami satu per satu, kemudian menatap lama pada ama-ku (ayahku). Ayah hanya sekali berpaling, menghembuskan nafasnya lalu memandang ke arah ngarai.

“Harus?” Mata tina’mtua (nenek) sayu ke wajah suaminya. Kakek menggangguk kecil dan langsung membuat mata nenek terpejam. Wajah nenek seperti jeri.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Dua tobu (kampung) di tanjung sudah rata, bahkan sebelum matahari membuat tanah menjadi panas,” jelas kakek.

“Kapan?” Ayahku bertanya tanpa menoleh.

Kakek meletakkan bilangari di lantai. Ia menarik piring kaleng berisi tembakau hitam ke dekatnya, menjumputnya sedikit, lalu mengaturnya di atas selembar daun jagung tipis. Dua ibu jari kakek menekan-nekan tembakau agar padat. “Belum tampak waktu yang baik di bilangari ini—” ujarnya seraya mendorong lembut telapak tangannya di atas pahanya sendiri seketika kulit jagung tipis berisi tembakau hitam itu menggulung sempurna, “—jika saatnya tiba aku akan ke hutan. Ina-mu (ibumu) akan ikut denganku.”

“Hutan? Kenapa harus ke hutan? Orang-orang sudah menyingkir ke lokasi baru di kota kecamatan—tapi kenapa Ama harus ke hutan?”

Ayahku menyudahi pandangannya ke arah ngarai. Kini ayah duduk di hadapan kakek, ingin agar ayahnya itu menjelaskan alasannya. Tembakau kakek sudah menyala garang.

“Aku tidak bisa meninggalkan tobu ini. Dahulu, mbue (buyut) kami yang mendirikannya, kemudian tama’mtua dan ama merawatnya, saat tobu ini dipercayakan padaku, maka aku harus menjaganya. Bawalah anak-istrimu ke kota kecamatan. Kalian akan aman di sana.”

Ayahku tertunduk. Sepertinya ayah belum bisa mengerti alasan kakek.

**

AKU kadang harus berjalan meniti pematang, atau menonton anak-anak yang ramai memerangkap gerombolan pipit yang mengintai tanaman padi mereka. Kadang aku harus ke sungai, memantau dua remaja memandikan lusinan kerbau milik kakek.

Ayahku sudah diberitahu akan datang serombongan orang dari kabupaten. Tapi penolakan Penghulu Keenam, Ntama’Ate (paman) Manek —adik ayah— justru berubah menjadi dilema di kepala banyak orang tiga bulan terakhir ini. Bagaimana jika Paman Manek terus menerus menolak? Seperti apa anggapan warga dan Pu’uno Adati (Dewan Adat)? Bukankah keputusan Dewan Adat adalah bagian dari sistim yang dihormati?

“Penghulu Keenam melangkahi adat. Sedari tobu ini didirikan, begitu besar harapan orang. Tapi kini Penghulu Keenam malah menolak hal-hal baik yang ingin kita putuskan bersama,” begitu kata Paman Runtu —kakak ayah itu paling keras kepala jika sudah bicara soal peradatan.

“Kau ingat, bagaimana kaki kecil Manek berlari-lari di antara Laica Ngkoa (rumah adat orang Moronene berbentuk panggung). Letih aku mengikutinya hanya agar kepalanya tak membentur kayu. Belum lagi saat ia masuk ke kolong rumah dan menolak keluar walau aku bujuk —wah, hampir menangis aku dibuatnya. Aku takut dimarahi Ina,” cerita Runtu.

Ya. Ayahku bahkan ingat saat ibunya harus melelehkan air mata mendengar kata-kata ayahnya mereka selepas Manek terjun ke kubangan Kerbau. “Ina memangku Manek sampai malam, sampai si bungsu itu tertidur di pangkuannya. Bahkan ina menolak ama yang hendak membaringkan Manek ke ayunan. Ina meminta ama menelan dulu amarahnya, barulah ama boleh memegang anak bungsunya itu lagi.” Kenang ayahku dan disambut tawa keras Paman Runtu.

Tapi kecemasan soal penggurusan kampung ini mulai mewabah ke dada orang-orang.

Sedangkan Paman Manek sendiri menolak bicara dirapat Dewan Adat saat warga meminta putusan. Ia mencemaskan satu hal saja: tanggung jawab pihak pertambangan.

Tak ada keputusan yang diambil pada hari di mana rapat itu digelar hanya gara-gara Paman Manek belum menyuarakan pendapatnya. Pak Djama, Penghulu Ketiga, sampai kecewa dibuatnya dan menutup rapat itu sampai Paman Manek bisa memutuskan keinginannya.

**

KAMPUNG Sampala masih seperti dulu. Tak pernah berubah. Sedari aku bisa melihat keindahan alamnya, atau dari mendengar kisah-kisah miano’mtua (para tetua), kampung ini masih selalu sesegar ingatanku pertama kali.

Aku belum mengenal tabiat Paman Manek sampai nenek menegurnya di suatu sore di bulan April yang panas —dua tahun lalu. “Kau tak ke sungai, Manek? Persediaan air minum kita sudah tipis. Bantulah Ina memenuhi dua gumbang (bejana air dari tanah) itu saja,” ujar nenek seraya menunjuk dua di antara empat bejana besar di sudut dapur.

Paman Manek mendesah. Ia tak suka membayangkan jalan setapak menuju sungai saat panas menyengat tanah hingga ranggas. Seringkali kelabang merah sebesar kelingking merintangi jalan.

“Kita tunggu Kakak Runtu saja ya, Ina?” Pinta Paman Manek dengan wajah kusut.

“Tak akan sempat, Manek.” Nenek melangkah turun dari rumah panggung menuju tali jemuran di sisi rumah, “Ama-mu dan tukaka’u (kakakmu) itu baru pulang dari Teomokole (kota raja) selepas malam. Ama-mu akan marah jika pulang tak ada air matang.”

Paman Manek membanting kakinya hingga membuat lantai kayu rumah ini berbunyi nyaring. Nenek pasti mendengar kekesalannya, tapi nenek tak mau menyahutinya lagi.

Itu kejadian dua tahun lalu. Hari ini pun sama panasnya seperti saat Paman Manek nyaris menolak permintaan nenek. Jarak perigi di sisi sungai dari rumah kakek ini cukup jauh. Hari ini aku kena tugas mengisi dua bejana air dan untuk itu aku ia harus bolak-balik ke sungai dengan dua jerigen memberati lenganku.

Sebelum pulang dari perigi nanti, aku bisa saja naik agak ke hulu sungai dan berendam di sana. Air sungai akan terasa sangat sejuk di hari panas begini. Di sana pasti ada teman-temanku yang biasa mandi seusai mencuci. Ibu telah mengambil alih tugasku mencuci tadi pagi. Entah kenapa ibu melakukannya di saat tubuhnya belum kuat benar —baru saja sembuh dari sakit demam.

Aku meninggalkan ambang jendela dan berjalan ke dapur. Kuraih dua jerigen plastik kosong dengan tangan kiri dan turun dari rumah melalui pintu dapur. Ibu sedang menumbuk jagung di kolong rumah.

Aku harus memutari dua rumah, sebelum memasuki areal ilalang yang tembus ke tepian hutan. Hutan itu tak rapat pohonnya hingga panas matahari masih sampai ke kulitku. Aku patahkan ranting kecil sepanjang dua kali panjang lenganku. Ranting itulah yang aku pukul-pukulkan ke setiap perdu kecil yang kulalui. Biar ular atau biawak segera lari. Jalan setapak itu keras sekali. Karena berjalan sendirian saja, aku berdendang kecil untuk menghibur diri. Mataku tetap awas ke arah jalan. Aku akan langsung menetak kelabang dengan ranting di tanganku ini jika hewan itu kedapatan merintangi jalanku.

Lima menit berikutnya, suara air sungai masuk ke telingaku. Tak jauh lagi. Berjalan turun macam ini memang mudah, apalagi tak ada yang memberati tangan. Kerepotanku akan dimulai saat pulang dengan dua jerigen plastik penuh air —sembari berjalan mendaki, bikin paha terasa membesar dan betis terasa berat jika diangkat.

Semakin dekat jarak dengan sungai, telingaku ikut memerangkap suara tawa teman-temanku. Entah mengapa mereka itu betah berlama-lama di sungai. Itu suara tertawa Sare dan Boang. Suara mereka berdua saling bersahutan sebelum diakhiri dengan tawa panjang.

“Ohoooiii…!” Aku berseru dari sisi sungai.

Sahutan serupa aku terima dari arah hulu. Teman-temanku itu sudah selesai mencuci rupanya. Kini mereka sedang mandi.

“Naiklah, Una!” Seru Boang, “kami semua ada di sini. Para lelaki sedang mencari udang di bawah sana —kemarilah!”

Aku harus berjalan menyusuri sisi sungai sebelum berbelok kecil untuk mendapati teman-temanku. Mereka usai menyusun bebatuan membentuk bendungan kecil untuk tempat berendam. Selain Sare dan Boang, juga ada Epi dan Gea. Mereka melambai-lambai menyambut kedatanganku.

“Bagaimana ina-mu, Una?” Tanya Sare saat aku menaikkan kain sarungku.

“Sudah sehat. Ina sudah turun dari rumah. Mungkin sekarang ina sedang berangin-angin setelah menumbuk jagung di kolong rumah. Panas sekali hari ini.”

Mereka berempat membenarkan ucapanku. Pantas saja mereka sengaja berlama-lama di sungai, sebab tempat ini lebih sejuk daripada di sekitar kampung. Setelah menanggalkan baju dan menaikkan sarung sebatas dada, aku turun perlahan ke bendungan kecil, bergabung dengan mereka. Aku tak mau pasir di dasar sungai naik karena aku melompat turun.

“Orang-orang tambang sudah berdatangan—” Epi mencolek tanganku, “—katanya mereka membawa banyak peralatan. Padahal kampung akan menggelar Montula (upacara beras bambu) tiga hari ke depan.”

Aku mengangguk. Aku tahu kabar itu dari Paman Runtu. Tapi akan ada upacara, yang berarti akan ada pemasukan uang untuk warga —dan itu juga berarti pemasukan dana untuk kampung. Acara itu akan membuat warga sibuk.

Una menanyakan Bonde. Ia memang menyukai kakakku. Bonde saja yang seperti tak peduli saat ada seorang gadis sedang memerhatikannya. Kami berlima berendam sampai nyaris sore. Aku sebenarnya sudah akan pulang, tapi mereka menahanku dan berjanji akan membantuku mengangkat jerigen hingga ke depan rumah. Sampai keriput kulit kami sebab berendam terlalu lama. Setelah matahari bergeser sedikit, kami sudah berkemas untuk pulang ke kampung. Kami masih sempat bercanda sebelum naik ke sisian sungai.

Tiba-tiba dua mobil penuh lumpur masuk lewat jalan utara dan berhenti di pelataran perigi. Pada masing-masing mobil itu menumpang dua lelaki. Seperti mobilnya, tubuh-tubuh mereka kotor berlumpur dan berkeringat.

Begitu mobil berhenti, mereka bergegas turun ke perigi. Kehadiran mereka yang tiba-tiba itu mengejutkan kami yang baru selesai mandi. Kami meneriaki keempat lelaki itu agar mereka keluar dari perigi. Landaian perigi jadi kotor berlumpur saat mereka menyeka tubuh mereka. Tapi para lelaki itu tak hirau. Gea yang jengkel, menyiram salah seorang di antaranya. Lelaki itu diam saja. Ia terus maju, meletakkan kepalanya di bawah solonsa (pipa bambu) perigi, berbasahan sepuas hati.

Kemudian lelaki itu menegakkan tubuh. Puas wajahnya. Ia melepas baju, bertelanjang dada, dan matanya ia edarkan pada kami. Matanya berhenti pada Gea yang tadi menyiraminya. Tiga orang kawan lelaki itu menyusul ikut membasahi kepala.

“Kenapa tak sekalian kau mandikan aku saja?” Tanyanya pelan pada Gea.

Tak sopan —gerutu Gea, membuang muka, lalu merapikan letak kainnya. Jarak perigi dari tobu cukup jauh. Jika hal buruk terjadi, teriakan kami tak akan membuat orang kampung berdatangan.

“Mandilah bersamanya!” timpal seseorang dari empat lelaki itu seraya terkekeh ke arah kami yang mematung cemas.

“Bagaimana—” lelaki itu mengangguk pada Gea, “—mau kau memandikanku?”

“TIDAK!”

Sebuah suara lantang terdengar dari bukit kecil di samping perigi itu. Semua orang berpaling ke asal suara. Di atas sana, berdiri seorang lelaki bertubuh besar, bertelanjang dada dan tak beralas kaki. Di pundaknya ada kompe (keranjang pandan) dan taa’Owu (parang panjang khas orang Moronene).

“Apa ini maksud kalian datang ke mari? Tak traktor saja kalian bawa, tabiat buruk kalian pun ikut pula!” Teriaknya sinis.

Keempat lelaki itu saling pandang. Mereka segera menjauhi perigi, mendekat ke mobil mereka. Tak berkedip, mata mereka mengawasi lelaki besar bersenjata yang baru datang itu. Kami segera mengumpulkan alat mandi dan bergegas ke sisi lain sungai. Kami bersyukur pertolongan datang.

Ngeri dengan ukuran tubuh dan parang panjang lelaki di atas bukit, keempat lelaki itu masuk ke mobil dan selekasnya pergi.

Aku mendongak, mendapati Paman Manek menatapi dua mobil yang bergerak menjauhi perigi. Paman Manek menengok ke bawah. “Lekas selesaikan urusan kalian dan pergi dari sini! Orang perempuan tak baik berlama-lama di perigi. Kampung tak aman sejak orang-orang tambang itu datang,” ujar Paman Manek pada kami semua.

Kami menurut. Bersegera sebelum matahari benar-benar tergelincir di ufuk.

**

PENGALAMAN di sungai itu membuatku tak paham. Paman Manek sebagai Penghulu Keenam —oleh ayahku dan Paman Runtu dibicarakan sebagai penyebab orang-orang tambang datang ke kampung ini. Manek dituduh menolak memberi pendapat di hadapan Dewan Adat dan membuat lima Penghulu lain kesukaran menentukan sikap.

Tapi apa yang aku lihat di sungai itu tak tampak seperti Paman Manek yang dibicarakan ayahku dan Paman Runtu. Ia garang sekali pada tingkah para penambang.

“Sebagai Penghulu Keenam dalam Dewan Adat, Manek harus percaya pada bilangari. Ia tak mau mengambil sikap dan menolak berpendapat karena bilangari tak sedikit pun mengisyaratkan sebaliknya. Para penambang itu datang bukan karena keinginan Manek —melainkan keinginan pemerintah Kabupaten,” Kakek menjelaskan sikap Paman Manek saat kutanyakan.

Mbue, apakah ama-ku tak tahu soal ini?” Tanyaku.

Kakek tersenyum. “Mereka tahu. Ama-mu dan Runtu tahu soal ini. Mereka hanya bingung kenapa Manek meminta kita menyingkir ke hutan —bukan ke kota kecamatan seperti yang dilakukan orang-orang.”

Bilangari telah menunjukkan apa pada Ntama’Ate Manek?”

Untuk pertanyaanku itu, kakek menghembuskan asap tembakaunya kuat-kuat.

**

“KALIAN tak tahu apapun tentang hutan ini. Selain aku, kalian tidak dilahirkan untuk berada di sini!” Teriak kakek dari bagian tergelap hutan.

Suara kakek menggema dan membuat para pengepung kasak-kusuk. Mereka tak bisa melihat posisi kakek. Walau kepungan mereka tak juga longgar, tapi mendengar bicara kakek yang bernada mengancam itu tak urung membuat hati mereka jeri.

Seseorang yang bernama Umang bicara lagi dari pelantang suara yang tersandang di bahunya. “Kami sudah diizinkan berada di areal ini. Kampung dan hutan ini berada dalam penguasaan perusahaan kami. Jadi kami minta kalian keluar dari hutan ini sekarang juga!”

“Jika kami menolak—?!” Tanya kakek.

—Pertanyaan itu tak segera dijawab. Keheningan hadir beberapa saat lamanya di antara orang-orang yang mengepung pondok kami.

“Kami tak akan bertanggung jawab dengan apa yang mungkin terjadi.”

“Begitu?” Nada suara kakek seperti mengejek, “—menurutmu, siapa yang sedang mengepung siapa saat ini?”

Orang-orang yang mengepung pondok kami itu saling pandang.

“Bukankah sudah aku katakan —kalian tidak dilahirkan untuk berada di hutan ini. Hutan ini sudah mengepung kalian semenjak kalian masuk ke dalamnya. Hukum Adat kami tak hanya berlaku di tobu, tapi juga di sini. Hutan ini dalam pemeliharaan Pu’uno Adati. Jadi seharusnya, kepada siapa pun, kamilah yang tak akan bertanggung jawab jika ada hal-hal buruk menimpa diri kalian.”

Ucapan kakek benar-benar serius. Terdengar olehku lebih mirip ultimatum.

Kemudian, kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang mengepung pondok kami. Suara beberapa dari mereka terdengar panik dan menunjuk-nunjuk pada bagian tergelap hutan, ke arah pepohonan yang tampak bergerak-gerak. Mereka seperti panik menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan bahwa tak ada apapun di sekitar mereka saat ini.

Kakek benar —sekarang, siapa yang sedang mengepung siapa.

Orang-orang yang tadinya mengepung pondok kami sesungguhnya tak tahu, bahwa merekalah yang sedang terkepung. Ayah, Paman Runtu dan lusinan lampio’O (pasukan adat), sudah merapatkan kepungan terhadap mereka, begitu mereka memasuki batas hutan ini. Paman Manek bersama lima Penghulu lain mengatur pergerakan orang-orang. Kakek, sebagai Puu’Tobu (kepala kampung), berdiri memimpin.

“Bertindak bijaklah—” kata kakek lagi, “siapapun kalian, sebaiknya tidak melanggar Hukum Adat kami. Pulanglah pada siapapun yang telah menyuruh kalian datang ke mari.”

Kali ini kata-kata kakek lebih tajam. Itu mungkin peringatan terakhir.

Orang-orang yang tadi menyangka telah mengepung pondok kami, mundur perlahan-lahan. Kemudian mereka berkumpul di satu titik, lalu bergerak menyusuri jalan hutan dari mana mereka masuk sebelumnya. Wajah-wajah mereka cemas, sesekali Umang menoleh ke belakang, atau mendongak menatapi kanopi pepohonan yang memayungi hutan ini.

Hari ini, orang-orang telah menghindari pertikaian.

**

PAMAN Manek memang pandai membaca bilangari. Ia tak percaya desas-desus sebelum melihat penanggalan adat kami. Paman Manek percaya, kampung ini tak akan terusik seingin apapun orang yang datang untuk mengubahnya menjadi areal tambang seperti yang sudah mereka lakukan pada dua kampung di tanjung.

Itulah mengapa Paman Manek menolak berpendapat. Sebagai Penghulu Keenam ia berhak tak sepakat dengan lima penghulu lainnya. Paman Manek berpedoman bilangari —dan semenjak orang-orang di Kedatuan Bombana menggunakannya, penanggalan adat itu belum pernah meleset.

Kakek tertawa melihatku mengangguk-angguk mendengar Paman Manek menjelaskan fungsi dan bagaimana bilangari merujuk pada keputusan-keputusan penting dalam Dewan Adat kami. (*)

Molenvliet, Maret 2015

 

Catatan:

Bilangari = sistem almanak kuno peradatan Orang Moronene-Tokotua di Kedatuan/Kemokolean Bombana. Lazim disebut Bilangari To Moronene. Almanak bilangari berdasarkan perhitungan lunar, sistem penanggalan ini menggunakan papan matriks dengan 11 simbol utama dalam sembilan varian. Digunakan sehari-hari oleh orang Moronene hingga kini. Sistem penanggalan ini diciptakan dan dipakai pada tiga protektorat Kedatuan Bombana (Keuwia, Lembopari, dan to’Kotua), sejak abad ke-9. Kedatuan Bombana adalah kerajaan proto melayu tertua di Sulawesi Tenggara.

Takrif:

Sebagai sebuah kekayaan intelektual dan pemegang hak cipta atas cerpen ini, maka cerpen ini dapat saya publish di blog pribadi saya dan akan masuk sebagai salah satu karya dalam kumpulan cerpen saya. Demikian untuk diketahui dan dimaklumi.

Sumber:

Pemenang Cerpen Lahat untuk Nusantara

 


%d blogger menyukai ini: