Tag Archives: lelaki

[Buku Baru] Matinya Lelaki yang Mencintai Peri | Kumpulan Cerpen

Matinya Lelaki yang Mencintai Peri

Penyunting : Linda Tanjung

Proof Reader : Uda Agus

Desain Sampul : Bayu Hidayat

Tata Letak : Ahmed Ghoseen A.

 

Saat pertama saya diperkenankan membaca naskah-naskah dalam kumpulan ini, saya terkejut dan gembira. Gairah seperti meledak-ledak dalam dada saya. Gagasan-gagasan pada 17 cerita pendek dalam kumpulan ini —kendati tak semuanya baru— begitu menyegarkan saat ditulis dalam sudut pandang baru dan lingkup yang beragam. Luar biasa.

Sebenarnya tidak sekadar menarik membaca gagasan-gagasan ini. Para pencerita memuat pesan-pesan yang akan mendorong setiap orang memilih hal-hal baik dalam hidupnya. Setidaknya, kegembiraan yang saya rasakan tidak berakhir di satu-dua cerita, namun menjadi sepenuhnya oase sampai buku ini tuntas.

Cara para pengarang menuturkan kisahnya juga unik. Beberapa di antaranya bertutur dengan keluguan yang menggemaskan, beberapa lainnya mengungkap pemahaman terhadap polemik hidup tanpa berusaha menggurui. Cara mereka menangkap gejala sosial, mendorong subtansinya, dan memadatkannya ke bentuk gagasan seraya diterakan dengan pas, adalah sebuah pencapaian tertentu yang patut dihargai.

Sebagai orang kesekian yang membaca manuskrip mereka pertama kali, saya merasa diberkati dengan kembalinya ingatan akan masalah-masalah klasik di tengah komunitas kita. Ternyata hal-hal sedemikian itu masih ada dan tiada ia terkikis oleh laju zaman dan perbenturan kebudayaan; tradisi dan modernis.

Katakanlah bahwa kita telah usai melihat dan tidak luput mencermati gejala-gejala itu, namun tetap saja —sangat sukar dipungkiri— gejala sosial yang tampak itu tak ubahnya sebuah fenomena yang menarik: tiada habisnya dan cenderung evolutif. Bukankah “kesegaran” seperti ini yang kita cari-cari?

Kepada para pengarang yang secara terhormat mendapat tempat dalam himpunan kisah ini, saya beri selamat dan berbahagialah. Anda baru saja usai mengetuk pintu dunia fiksi yang sungguh luas. Dunia yang kelak harus Anda jelajahi secara intuitif dan cerdas. Anda sudah mengetuk, dan pintu sudah dibuka. Jangan hanya berdiri di pintu saja, melangkahlah masuk. Mulailah berjalan dan temukan diri Anda terlarung dalam warna-warni yang menakjubkan. (Ilham Q. Moehiddin, Kata Pengantar).

Matinya Lelaki yang Mencintai Peri

Matinya Lelaki yang Mencintai Peri

Yogyakarta: AG Litera, 2014.

187 hal; 13x19cm

Penulis : Fauzia Maghfiroh, Ilham Fauzi, Rizki Ananda Putri, Aa’ Azzam, Melanie Dewata, Lindsay Lov’, Erlang Kelana, Novia Erwida, Kuntum Khaira Ummah, Arinda Shafa, Wahyu Wibowo, Irfan Ibrahim, Resfan Aj, Fitra Rosyadi, Firman Robbani, Linda Tanjung, Uda Agus.

Cetakan Pertama, Desember 2014.

ISBN 978-602-1087-01-5

Harga Rp 45.000,- (di luar ongkos kirim)

Pemesanan : 085274244342 (SMS) / Klik: Inboks


Rubaiyat [XL]: Dar al-Asbab

(rumah segala sebab-akibat)

 

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

keberadaan itu dibentuk oleh

gerak hati dan fikiran.

saat rumi merentangkan konsep kewujudan dan wujud,

descartes mengikutinya dengan cogito ergo sum.

 

saat rumi membuang dualitas,

menerima dua alam satu semesta,

di kemudian hari,

descartes justru membunuh tuhan.

 

bahwa pengetahuan, kegilaan dan peradaban itu hanya perlu

dibentuk lewat ketenangan dan fikiran.

 

bukankah dahulu pagan cukup tenang

menegakkan kayu dan batu, lalu

dengan fikiran mereka bentuk para banat: latta, huza, manat…

dan seketika lahirlah tuhan?

 

bukankah dahulu mereka mendirikan kuburan besar, lalu

dengan tenang mereka merentangkan tangan di bawah matahari, dan lahirlah tuhan?

penyatuan dengan tuhan hanya cukup dengan berjemur,

tubuh mereka adalah kuilnya.

 

aku tak akan bicara panjang padamu tentang tuhan.

sebab walau tuhan kita sama,

tetapi barangkali saja pemahaman kita soal tuhan berbeda.

dengan begitu aku tak perlu terdengar mendikte tuhan.

 

sebab soalnya adalah; benarkah fikiranku berdiri sendiri?

benarkah ketenanganku tak diakibatkan sesuatu yang lain?

rumah sebab-akibat itu sangat besar, bahkan

saat tuhan memulai penciptaan semesta, juga disebabkan suatu alasan

 

: “jika bukan karena dia, Tuhan tidak sudi menciptakan langit dan bumi beserta isinya.”

 

jika seorang anak lelaki berdiri di sisi kaca mobilmu

sambil meminta padamu, tentulah itu ada sebabnya.

jika seorang perempuan cantik kau lihat merayu setiap lelaki

di persimpangan wisonova, tentulah itupun ada sebabnya.

 

adakah seseorang perlu sedikit ketenangan, kemudian berfikir,

bagaimana sebuah negara bisa menyeimbangkan tanggungjawab dan

sekaligus menekan semua kepentingan yang tidak berguna.

sebab ada kalanya manusia lebih penting dari sekadar keuntungan.

 Januari, 2011

 

Carnac Stone, artefak zaman megalitik (sumber foto: geschiedenisenkunst.com)

Rubaiyat ini juga dapat disimak di Oase-Kompas Cyber Media


%d blogger menyukai ini: